Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 21 : Benang Merah



     Masker yang berjam-jam membungkus mulutnya terlepas, terbanting ke rak kotor usai menangani satu pasien yang hampir meregang nyawa di atas ranjang dingin ruang penanganan intensif itu. Jaehyun memijit pelipisnya kuat-kuat, gusar mendera manakala darah segar mengering telah berceceran, menodai blus biru yang dikenakan Sohyun. Darah yang keluar dari mulut yang hampir kehabisan napas bila tak segera dibantu oksigen. Gadis itu kini terbaring damai selepas pemberian obat bius beranestesi. Tampak tenang. Jika sudah begini, tanpa diagnosis medis pun, Jaehyun dapat mengatakan gejala sirosis yang dialami Sohyun kian parah akibat tak mendapat perawatan sejak awal. Entah berapa banyak helaan napas yang keluar, Jaehyun seolah kehabisan cara menghadapi sifat seorang pasien yang sulit sekali ditaklukkan. Dan hanya Sohyun, satu-satunya orang yang membuatnya mengerang saban kali bertatap muka. Urutannya berhenti, memandang beberapa perawat yang membantunya kemudian berkata, "Pindahkan dia ke ruang biasa."


     Eunjung bersama dua perawat lainnya mengangguk serempak. Patuh. Terlebih Eunjung yang miris melihat kondisi mantan majikannya itu. Semakin kurus dengan begitu banyak luka memar. Begitu banyak yang ia lewatkan selepas kepergiannya.


     "Apa ini yang Nona sebut baik-baik saja?"  wanita itu mendesis, menyeka air matanya cepat-cepat.


     Jaehyun lekas keluar, membiarkan mereka mengganti pakaian Sohyun yang lebih steril. Memberi waktu bagi Hong Eunjung mengolok-olok Sohyun yang sudah seperti keluarga baginya.


     Kaki panjangnya melangkah lunglai,  memegang gagang pintu yang sudah pasti akan penuh dengan serbuan pertanyaan, apa lagi Taehyung yang terlihat mematung di depan ruang ICU dengan ratapannya yang penuh penantian.


      "Bagaimana dengan Sohyun? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kenapa kau yang menanganinya? Apa Sohyun Sakit? Aku melihat banyak darah keluar dari mulutnya, dia kesakitan sepanjang perjalanan ... Kakak, jawab pertanyaanku!"


       "Taehyung ..." Jaehyun menghela napas panjang. Lagi dan lagi. Ia belum siap menjawab beragam tanya yang diajukan Taehyung, sang adik. Semua terlalu tiba-tiba, disebabkan peristiwa yang tak pernah sekali pun ia bayangkan.


      "Kenapa hanya namaku? Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku, mengenai Sohyun. Benar. Itu benar, kan?" Taehyung makin mendesak, tak sabar lagi menunggu kalimat penjelas keluar dari mulut Jaehyun.


      Jungkook yang biasa acuh, mulai dihinggapi penasaran. Namun Yoongi yang berada di sebelahnya mencekal pergelangan tangannya, agar tak mencampuri urusan mereka. Cukup mendengarkan, Yoongi tidak ingin menambah masalah lebih besar lagi dengan bagian keluarga Kim itu. Sekali pun Sohyun adalah teman satu universitas mereka, yang tak pernah mendapat tempat selain caci maki.


      "Dokter Kim!"


       Kesemuanya menoleh. Mengarah pada Yoon eun yang baru tiba bersama Woojin. Wanita itu tergesa, melangkah cepat menghampiri Jaehyun. Pikirannya tak tenang, kala mendapat kabar dari pihak rumah sakit menghubunginya tengah malam tadi.


      "Apa yang terjadi padanya? Sohyunku ... dia baik-baik saja, kan?" katanya cemas.


      Jaehyun mengeret napas beratnya lagi, ditatap Taehyung yang tak sabar menunggu saja sudah membuat kadar gusarnya besar, ditambah Yoon eun yang ikut bertanya. Ini benar-benar berat, batinnya bimbang, namun sesuatu perlu ia sampaikan. Sebuah kabar yang tentunya tidak selalu baik.


     "Kita bicarakan di ruangan saya, Nyonya Hwang, ada hal serius yang ingin saya sampaikan tentang kondisi putrimu," putusnya menuntun Yoon eun dan Taehyung yang memaksa ikut.


      "Kau dengar apa yang dikatakan dokter itu? Sohyun putri dari nyonya Hwang?" Yoongi membelalak saking tidak percaya terhadap apa yang baru mampir di indra dengarnya. Sohyun yang selama ini terlihat menyedihkan, anak salah satu jajaran orang terkaya di Korea. Jungkook tentu lebih syok, meski ekspresinya dibuat sedatar mungkin. Baginya, Kim Sohyun benar-benar gadis yang tak biasa.


🔔


      "Kemungkinan Sohyun akan lumpuh."


      Yoon eun maupun Taehyung kompak terkejut karenanya. Jaehyun kembali memperlihatkan hasil rontgen terakhir yang sempat dilakukannya beberapa waktu lalu, yang ia ambil ketika Sohyun tidak bisa menggerakkan kakinya. "Cederanya semakin parah, sementara kemampuan otot bagian bawahnya makin berkurang. Dalam medis kami menyebut ini dengan istilah paraparesis. Kelumpuhan ini memang tidak permanen, masih ada kemungkinan bahwa pasien dapat berjalan seperti sedia kala, tapi saya tidak bisa menjamin jika kejadian ini terulang, buruknya, kedua kakinya bisa saja tak berfungsi total."


       Dua orang yang semula fokus memperhatikan terdiam beku. Yoon eun dan Taehyung sama-sama merasakan sesal. Taehyung tak mengira, karena dirinya yang mengajak Sohyun berlari, membuat Sohyun terancam mengalami kelumpuhan. Sedang Yoon eun, wanita baya itu lebih terpukul, karena ulahnya dulu, kian membuat putrinya semakin menderita. Ia tak pernah tahu, tidak menyangka perbuatannya sampai berakibat sejauh ini. Bayang kesakitan Sohyun saat berkali-kali memukulkan benda keras ke tubuh Sohyun terngiang di kepalanya. Sekarang apa yang akan ia jelaskan pada Woojin, jika pria itu sampai mengetahui kondisi Sohyun yang sebenarnya.


     Ia bangkit, tanpa berkata-kata melenggang pergi dari ruangan Jaehyun yang menatapnya sedih. Bukan karena Yoon eun tak peduli, wanita itu butuh waktu menerima kenyataan dengan timbunan penyesalan yang dalam. Sisi lain Nyonya Hwang.


     "Sekarang tolong jawab pertanyaanku ... apa yang sebenarnya terjadi pada Sohyun? Selama ini kalian berbohong, aku merasa seperti orang bodoh dan tak berguna, bagaimana aku mengaku menjadi sahabatnya, sedangkan aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang keadaannya. Kakak, aku tahu kau tahu sesuatu tentangnya."


      "Baiklah. Aku hanya akan memberi tahu apa saja yang kuketahui, setelah ini, kau bisa merenungkannya baik-baik." Pandangan Jaehyun meredup, betul-betul redup, membikin Taehyung merasakan perasaan takut tak berkesudahan.


🔔


     Larik-larik cahaya menerobos pada celah jendela yang dibiarkan terbuka, embusan angin di musim peralihan menuju ke musim dingin kental makin terasa, tak melulu menang melawan pancaran surya hangat yang menyentuhi kulitnya yang ditimpa hangat mentari pagi. Di atas ranjang pesakitan, gadis itu terbaring lelap dalam tidurnya. Dari sisi ranjang, Yoon eun tak lelah memperhatikan, memfokuskan atensinya pada bekas luka yang pernah diperbuat olehnya.


     "Sampai kapan Ibu memandangiku seperti itu?"


     Yoon eun terperanjat, tiba-tiba suara familier itu terdengar. Sohyunnya masih terpejam di atas pembaringan, dalam keadaan damai, ia pastikan kupingnya tak salah dengar.


     "Kau sudah bangun?" tanyanya menggenggam jeriji yang tergeletak lesu di depannya. Merapat penuh harap.


     Pelan namun pasti Sohyun membuka rekatan kedua kelopak matanya yang berat. Menatap pantul kecemasan dari Yoon eun yang duduk gusar di sebelahnya, beralas kursi. Mendeham sejenak lantas melanjutkan bicara guna menjawab tanya. "Sudah sejak tadi, berhubung aku masih mengantuk, aku melanjutkan tidur."


     Yoon eun berdecak mendengar itu, putrinya tak berubah. Masih saja bersikap menyebalkan. Namun tak lama sejak dua pelopak Sohyun mekar, tidak ada obrolan selang semenit, Yoon eun malah sibuk menangis, menangisi Sohyun yang diam-diam tersenyum miris. Inilah alasannya, alasan Sohyun yang tidak sanggup membenci sosok Yoon eun, meski ia banyak menerima perlakuan yang menyakiti fisik pun psikisnya. Wanita itu amat menyayangi dirinya, seperti seorang ibu kandung yang melindungi anaknya, hanya saja gangguan bipolar kadang kala membuat emosinya tak terkontrol. Membuat Sohyun trauma dan takut. perasaan yang telah lama ia pendam.


     "Apa sekarang Ibu menyesal? Katakan saja, agar aku merasa sedikit senang."


      "Sangat. Ibu sangat menyesal."


      "Satu harapanku, jangan sampai penyesalan Ibu membuat kita semakin jauh. Hubungan kita terlalu banyak renggang. Aku ingin memperbaikinya."


      Yoon eun mengangguk setuju sambil sesekali mengusap air bening yang mengucur melintasi pipi.


      "Aku tidak merasakan apa pun pada kakiku." Sohyun tersenyum masam, menyadari kelumpuhan yang sudah di depan mata. "Aku sudah tahu ini akan terjadi, jadi berhentilah menangis, Bu. Aku tak suka kau jadi selemah ini."


     Bukannya berhenti sesuai lantunan harap Sohyun, Yoon eun kian tersedu sedan. Ia memiliki berjuta alasan, tumpahan air mata, sebanyak apa pun darinya tak akan cukup membayar luka dan lara yang ia buat di masa lalu bahkan sekarang. Ia masih tidak habis pikir dengan tindakan Sohyun, ia sudah mengetahui perihal penyebab sang putri terdampar di rumah sakit. Bodoh. Satu kata yang sulit terucap dari bibirnya yang gemetar sembilu menanggapi kecerobohan yang dibuat Sohyun kemarin malam.


     


     "Kenapa kau masih bisa tersenyum di saat seperti ini? Nyawamu di ujung tanduk dan sekarang kau tidak bisa berjalan normal lagi!" seru Yoon eun yang mendapat tanggapan berbeda.


     "Tahukah Ibu kalau aku lebih senang bila melihatmu marah-marah. Aku lebih terbiasa dengan itu daripada tangisan frustrasimu pagi ini.  Tapi tak apa, lebih baik Ibu menangisiku sekarang, tidak dengan nanti, di hari ketika aku lelah dan ingin berhenti."


     Yoon eun tak setuju. Kepalanya menggeleng kuat, terisak sesak melihat rupa Sohyun. Gadis itu tak memiliki dosa apa-apa padanya, justru ialah yang acap kali menjahati dengan perangai semena-mena. Tak pantas Sohyun memperlakukannya seperti ini.


     Pria itu bermenung di ambang pintu. Sekiranya ia memang tidak sopan, mengintip serta menguping obrolan menyayat dua wanita di dalam sana. Sembap membentuk kantung mata menghitam menghiasi mata kuyunya. Lelaki itu menghabiskan waktu paginya dengan tangis menderu di atap rumah sakit seorang diri. Ia kembali usai menetralkan perasaan yang masih dilanda bencana. Semua terekam jelas, tersimpan rapi dalam kotak otaknya. Terputar semua penjelasan Jaehyun hingga membuat kepalanya pening membayangkan semua yang dialami Sohyun. Walau Taehyung sadari, itu hanya sedikit dari yang dirinya ketahui. Sohyun masih bertahan dengan segala rahasianya, kali ini ia bertekad tak akan membiarkan Sohyun mengurung diri bersama sepi dan rahasia yang ditanggung.


     Sohyun yang merasakan kehadiran Taehyung,  menoleh ke arah pintu, laki-laki itu masih berdiri di sana, dengan kepalanya yang menunduk.


     "Kim Taehyung!" Ia berseru memanggil.


     Taehyung melebarkan pupil matanya, mengarah pandangannya pada Sohyun yang tersenyum seperti hari-hari lalu. Tidak ada beban, tidak sama sekali.


     "Mau sampai kapan kau berdiri di sini?" ucapnya.


    Taehyung menggaruk tengkuk, senyum bocahnya lepas diberi pertanyaan Yoon eun. Lekas melirik Sohyun yang tak berpaling menatap memperhatikan.


     "Tidak perlu dijawab. Masuklah, aku tahu kau pasti sudah tidak sabar menemui anak nakal itu." Yoon eun mempersilakan Taehyung yang gugup kikuk.


      Cukup bagi Yoon eun, bergilir pada Taehyung. Sebab ada hal yang perlu ia beritahu pada suaminya, Woojin yang menunggu penjelasan darinya.


     🔔


     Sejak kedatangannya memasuki ruang perawatan, Taehyung belum membuka suara. Pria itu sejatinya bingung, bahkan merasa malu menghadapi Sohyun yang larut memandanginya. Sama sekali tidak dapat menebak apa yang kini berkeliaran dalam benak Sohyun. Namun begitu, pria itu tak segan merapatkan genggam yad mereka. Memberi sesuatu yang mampu menghangatkan batin. Hal lumrah untuk mereka lakukan, saban kali bertemu melepas rindu.


     Merasa lama mereka terjebak pada suasana ambigu, Sohyun memutus kontak mata. Memainkan jemari panjang Taehyung yang rapat menelusup di ruas jarinya yang tampak mungil.


     "Kenapa?" Taehyung bertanya.


     "Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Sohyun balik bertanya. Tak sulit membaca ekspresi maupun gestur berbeda yang ditampilkan Taehyung sejak datang kemari. Pria itu sudah tahu sesuatu tentangnya, ia tak akan banyak bersandiwara kali ini.


      Taehyung mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandang pada langit-langit ruangan serba putih. "Ada dan itu sangat banyak sekali," balasnya dengan suara berat khas. "Aku takut itu malah akan membebanimu, banyak-banyak istirahatlah ... agar kau bisa cepat sembuh, dan kita bisa bermain bersama."


      Ia kembali memandanginya, melihat betapa luar biasanya wanita yang tak pernah lelah menganjur senyum padanya.


      "Benar kata ibumu. Kenapa kau masih bisa tersenyum sementara kami hampir gila menangisimu, Nona Kim."


      Sohyun terkekeh kecil. Lambat laun makin sirna saja senyumnya berganti raut serius. "Kalau tidak seperti itu, orang-orang akan jauh lebih mudah mengasihaniku. Kau tentu tahu bagaimana rasanya ... dan aku tidak menyukainya."


     Taehyung mengerti. Sungguh sejak dirinya memantapkan hati menengok kamar rawat Sohyun, ia sudah bertekad untuk tak menangis di depan sang sahabat. Namun ia tak pernah mengira, bahwa ini teramat sulit ketika cairan lagi-lagi keluar dari sudut matanya.


      "Menangislah kalau tidak kuat," ujar Sohyun, "menahan tangis hanya akan membuat dadamu sakit. Setidaknya izinkan air matamu jatuh agar tidak memengaruhi kenerja jantungmu."


      Taehyung bersicepat menghapus air mata yang bergulir, menggantinya dengan rona malu sekaligus nyeri melihat wajah Sohyun. "Apa selalu seperti ini caramu menghadapi hidup?"


     "Tidak juga. Tapi aku harus seperti ini agar orang-orang di sekitarku tahu aku baik-baik saja."


      "Ck ... pokoknya apa pun yang terjadi, mulai sekarang kau harus mau berbagi denganku."


      "Haruskah?"


      "Kau sudah terlalu banyak berbohong padaku. Anggaplah itu sebagai caramu untuk menebusnya. Aku ingin kau tidak memendam segalanya sendiri. Aku merasa seperti orang asing, rasanya aku ingin sekali memarahimu sekarang juga, tapi ..."


      "Kau selalu saja cerewet."


      Celotehan Sohyun berakhir dengan suara tawa Taehyung dan Sohyun, gadis itu untuk pertama kalinya kembali memperdengarkan suara tawa yang telah lama terkurung. Menguar dengan bebasnya, dan Taehyung, lelaki itu menjadi yang pertama, dan menjadi satu-satunya.


🔔


      "Aku sudah menunggu lama untuk mendengar kejelasan darimu."


      Yoon eun tengadah memandang biji mata hitam legam Woojin. Menatap lekat wajah yang mulai ditumbuhi oleh garis-garis keriput, tanda makin berusia matang pria yang pernah memadu kasih bersama, sebelum insiden buruk itu terjadi. Merenggang, menjauhkan jarak antarkeduanya.


      Woojin segan menatap lama-lama Yoon eun, baginya hanya akan mengingatkan kekecewaan masa lalu, namun apa boleh buat, kini mereka hanya berdua, guna meluruskan kesalahpahaman di masa silam. Ia marah—pada situasi sulit yang dahulu membuatnya bertindak nekat. Lebih marah lagi, karena Yoon eun tak pernah sekali pun mengunjunginya selama di sel tahanan. Terkurung belasan tahun sudah membuat hatinya mengeras, jika tak ingat cintanya pada wanita yang duduk berseberangan dengannya sekarang, sudah dari dulu pula, ia buka rahasia kelam sang istri.


      "Kenapa tidak dijawab? Apa sangat sulit buatmu?"


      Yoon eun menggeleng.


      "Apa ada yang kau sembunyikan dariku tentang anak itu?" Yang Woojin maksud adalah Sohyun. Anak kecil yang dahulu begitu ceria dan aktif.


      Butuh keberanian agar Yoon eun menjawab pertanyaan tersebut, bibirnya bergetar, "Sohyun lumpuh, itu karenaku."


      Dahi Woojin sampai berkerut panjang. "Karenamu?"


      Ia kepal tangannya kuat, sebelum mendaratkan tatap yakin pada Woojin. "Aku pernah mendorongnya dari atap rumah sakit ... tiga tahun lalu, saat aku mengkonsumsi alkohol berlebih," akunya.


     Jelas pengakuan Yoon eun mendapat sambutan terkejut dari Woojin. Bahkan pria itu sampai terlangah mendengarnya.


      Yoon eun melanjutkan, "Aku tidak bisa menguasai diriku. Aku kalap, saat menerima banyak tekanan, hingga aku menjadikan Sohyun pelampiasan amarahku kala itu. Sohyun terluka parah, dia mengalami trauma setelah siuman dari komanya. Tulang belakangnya bermasalah dan kedua kakinya ikut terimbas. Percayalah padaku, aku sama sekali tidak bermaksud melukai, apa lagi sampai hati membunuhnya."


       Yoon eun berupaya meyakinkan, meraih tangan kekar Woojin untuk percaya kata-katanya. Ia jujur, sangat jujur pada Woojin, meski ada hal yang masih ia rahasiakan.


       "Kau memang tidak pernah punya niat melukainya, sayangnya itu tidak cukup, aku tak bisa membenarkan perbuatanmu yang selama ini berlaku kasar padanya. Ingat Yoon eun, Sohyun  sama seperti putri kita, Yeo Jin. Belajarlah menerima kepergian anak kita, dan jangan buat Sohyun merasakan hal yang sama dengan Yeojin."


      Yoon eun tersentak, bibirnya terkatup tatkala nama mendiang sang putri disebut.


       Jungkook yang diam-diam mendengarkan obrolan mereka tanpa sengaja, terdiam lama di balik pohon besar taman rumah sakit. Lelaki itu terbangun sejak suara ribut-ribut pasangan baya itu terdengar. Ia belum pulang sejak semalam dan tertidur di sana.


      "Ada yang tidak beres," gumamnya masih memperhatikan. Ada beribu tanda tanya mencuat dalam kepalanya yang mulai berpikiran liar. Dan kini pada Sohyunlah, arah tujunya, sesuatu yang perlu ia cari tahu untuk menuntaskan dahaga keingintahuannya.