Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 30 : Rentan Hati



        Pijar bunyi sirine menggaung laung, meredam suara teriakan dan ketakutan yang menyeruak. Terjun bersama banyak kendaraan polisi yang sigap mengamankan lokasi lakalantas yang baru terjadi tiga puluh menit lalu. Kecelakaan beruntun ini, disebabkan truk tangki air yang oleng, membuat beberapa kendaraan yang mengantre di loket pembayaran keluar jalur dan terguling. Membikin sebagian badan kendaraan rusak ringan hingga berat. Tak terkecuali mobil yang ditumpangi pria itu, seorang pria yang hampir menjadi korban jiwa, apabila ia tak cepat-cepat meloloskan diri dari dalam mobil yang sempat terseret sejauh lima puluh meter.


        Taehyung terduduk lemas di pinggiran jalan. Syok sudah pasti. Lebih-lebih usai melihat bumper belakang mobilnya rusak parah, menjadikannya tak bisa digunakan lagi. Acakadut, itulah gambaran penampilan Taehyung saat ini. Definisi tampan dan berkharisma luntur seketika tatkala pembungkus tubuhnya berubah drastis. Dasinya melonggar, sementara jas hitamnya terkoyak ketika bersentuhan besi mobil yang mencuat ketika dirinya tergesa keluar.


        Sempat bingung, harus dengan apa agar ia bisa sampai ke tempat tujuannya, lantaran tidak ada satu pun yang bisa dimintai tumpangan. Beruntunglah ponselnya tak ikut hancur bersama mobilnya, benda itu terselip di saku jas dan berhasil digunakannya tuk menghubungi Jaehyun yang tengah dalam perjalanan menjemput di lokasinya sekarang.


         Lisannya sudah lelah memberongsang dengan pelbagai gerundelan tak bermutu. Tak banyak berimbas pada kondisi pun situasi. Ia tatap terlambat dari waktu yang seharusnya. Maka dengan kesabaran yang ditahan-tahan, Taehyung menanti sembari berdoa agar Jaehyun tak ikut mengalami hal serupa dirinya.


        Diliriknya sekali lagi jam tangannya, mengetuk-ngetuk batang hidung dalam penantian yang tak kunjung segera usai. Selang beberapa menit, mobil Ford abu-abu yang dikenali Taehyung sampai. Berhenti tepat di depannya yang bergegas bangkit menaiki mobil sang kakak. Baginya tak ada waktu. Ia tak ingin mengulur-ulur waktu, sebab ini menyangkut Sohyun.


         "Kau hampir membuatku takut, jika terjadi hal buruk padamu," sembur Jaehyun melirik Taehyung, bari mengemudikan mobilnya konstan.


         Taehyung mengerti arti kekhawatiran Jaehyun. Tak masalah kalau harus berhadapan dengan segala ocehan sarkastis kakak lelakinya, karena yang paling penting dan utama sekarang adalah Sohyun. Taehyung sadar, dirinya sudah sangat terlambat, ketika matanya bersinggungan pada benda mungil di pergelangan tangan kirinya. Tersisa satu jam, alangkah bersalahnya Taehyung, jika ia justru melewatkan janjinya pada sang sahabat yang telah lama menunggu. Dia harus sampai sebelum acara berakhir, tekadnya.


🔔


        


          Canon In D  versi instrumental, karya Johann Pachelbel menjadi lagu selanjutnya.  Sebuah musik barok, setelah sebelumnya memainkan alunan nada dari zaman Renaisans. Sohyun mengambil jeda sesaat, kepala gadis itu tertunduk di depan grand piano yang menemaninya di atas panggung.  Membiarkan harmoni yang diciptakan alat musik cello dan biola mengalun merdu memdominasi ruangan besar ini.


        Konser simfoni orkestra sudah berjalan mendekati dua jam, dan Taehyung ... pria itu masih bersembunyi dari lingkar tatapnya. Sohyun mencari-cari, paling tidak dapat menemukan bayang samar wajah pria itu di antara sesak ribuan penonton yang hadir. Namun, seujung kuku pun, belum diketemukannya sosok lelaki itu.


         Dalam runduknya kepala, Sohyun meringis bersama rintihan kecil yang tersaru oleh puluhan intrumen. Sadar bahwa banyak pasang mata memperhatikan, berlagaklah Sohyun seakan semua baik—badannya kembali tegak—memasang senyum pun fokus pada ayunan baton Mr. George.


         Sepuluh menit.


         Tanpa terasa berlalu sedemikian cepat. Kembali Sohyun bersiap menyiapkan jerijinya di atas tuts piano, sambil menunggu ayunan tongkat sang konduktor memberi aba-aba. Tepat sebelum baton terangkat, ketika itu juga, orang yang dinanti-nantikannya muncul di barisan belakang bersama Jaehyun. Meski terlampau jauh, tak membuat Sohyun asing dalam mengenal perawakan tubuh lelaki Kim itu. Terlihat Taehyung tersenyum mengangkat dua tangannya terkepal, memberi semangat.


        "Kau pasti bisa, Sohyun. Semangat!"


        Walau suara itu tak sampai ke rungunya, kalah oleh gesekan violin dan klarinet, Sohyun mampu menangkapnya. Serupa bisikan lembut, dan mampu membuatnya lupa pada sakit yang melesak di tubuhnya sejak tadi. Sohyun tersenyum haru, telah menemukan semangatnya, Kim Tae Hyung.


🔔


       Mempertajam penglihatannya, netra sendu Taehyung terpatri hanya pada satu subjek. Seakan bila sedetik ia lalai abai, maka raga perempuan yang diperhatikannya akan melebur—lalu hilang. Yang Taehyung tahu, ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada. lagi, rasa bersalah karena melewatkan satu jam penampilan Sohyun mengharuskannya fokus pada gadis bergaun putih itu tanpa peduli sekitar. Pandangannya terpaku mengamati, segala hal yang ada dalam sosok perempuan yang begitu memukau semua mata lewat kemampuannya berdansa jari dengan si hitam-putih.


        Bibirnya terangkat kian meninggi, kala Sohyun menatapnya, walau sedetik, walau sedikit, senyum penuh hangat dan bahagia itu membekas sampai-sampai Taehyung tak bisa melupa.


        Jaehyun yang duduk di samping Taehyung, dapat melihat serta merasakan betapa besar kebahagiaan yang terpancar dari manik mata yang berkilauan itu. Jika saja dirinya tak belajar untuk merelakan, bisa jadi batinnya kini menjerit perih. Cemburu. Ketidakrelaan untuk mengikhlaskan. Jaehyun mencoba menyakinkan diri bahwa di antara dirinya dan Sohyun, murni antara dokter dan pasien. Berkali-kali Jaehyun tekankan  bahwa sampai kapan pun juga, rasanya tak akan pernah terbalas. Itu sudah cukup untuk membuatnya menyerah.


         Sementara ada dua pria yang sama hanyutnya memperhatikan dirinya, gadis itu tersenyum samar, hanya sedikit senyuman kala lagu berganti ke zaman klasik. Serenade — yang membuatnya ingat pada Franz Schubert, salah satu komposer favoritnya. Ditutupnya kedua kelopak mata yang sudah mulai terasa berat. Sungguh Sohyun akan berteriak, jika saja ruangan ini kosong ... hampa tanpa siapa pun di dalamnya. Namun, pilihan Sohyun adalah larut bersama lagu itu untuk sejenak. Meresapi tiap nada dan harmonisasi alat-alat perkusi dan rayuan string yang menyayat-nyayat kesadarannya yang mulai hilang-timbul.


         Tahukah, bahwa hari ini ia teramat bahagia?


         Semua orang-orang yang dikasihinya berkumpul dalam satu ruang yang tenang. Duduk menikmati persembahan seratusan orang bersama dirinya. Ini luar biasa, Sohyun akan mengingatnya. Sebuah kenangan besar yang tak dapat dilakukan lagi.


         Tak akan ada kata cukup untuk jiwa-jiwa yang masih mengelana bebas. Namun bagi Sohyun, gadis itu rasa sudah. Sudah saatnya, cukup tak perlu menuntut. Ini lagu terakhirnya.


         Gerakan jarinya memelan, seiring samarnya suara gesekan biola yang menyentuh nada terendah. Seiring menghilangnya sayup-sayup paduan suara. Musik pada akhirnya akan berhenti ketika lembar partitur telah habis, mencapai batas kesudahan.


          Berganti riuh ribuan tepukan tangan.


           Semua berdiri.


           Dan ... ia jatuh


           Gelap. Lelap.


🔔


          Taehyung memijit pelipisnya yang dilanda pening bukan main. Matanya basah oleh kucuran air mata, sementara posisinya yang terpuruk di depan ruang UGD membuatnya kefrustrasian. Siapa yang sangka, peristiwa buruk terjadi seusai pertunjukan musik, masih tebersit dalam ingatan seorang Taehyung, bagaimana tubuh Sohyun roboh di atas panggung ketika akan berdiri memberi hormat. Hanya tatapan kosong dan segaris senyuman yang ditinggalkan, sebelum mata bulat perempuan itu memejam sempurna.


       Yoon eun yang berdiri tak jauh hanya bisa menangis, sekarang rasa takut dan kepanikan menjubeli hatinya. Sebab ia pun merasa ikut andil membuat nasib Sohyun sengsara. Sering kalimat menyalahkan diri sendiri dan betapa egosentris dirinya di masa lalu terujar dari mulutnya. Beruntung Woojin terus menemani dan menenangkan, tidak ada yang menginginkan hal buruk terjadi.


        Sewon yang baru tiba menghampiri putranya yang terisak. Miris melihat Taehyung meromok sendirian. Ia dan Haeyoung sudah mengetahui semuanya, dari mulut Jaehyun kemarin. Sungguh kenyataan yang memilukan, mengingat lagi hubungan putranya yang dilanda nestapa.


      "Tenangkan dirimu."


        Taehyung mendongak menatap nanar wajah ibunya. "Bagaimana bisa seperti ini, Bu?" lirihnya merengkuh badan Sewon.


         Wanita itu tak dapat berkata apa-apa. ikut tersedan mendebik punggung Taehyung yang gemetar. Ia sendiri pun masih syok saat mendengar kabar ini. Tak pernah ia lihat sang putra hingga begini sedih, ia pun yakin bahwa Sohyun betul-betul berharga bagi Taehyung.


        "Sohyun akan baik-baik saja. Dia perempuan hebat, dia akan bertahan. Kita semua harus optimis, Sayang."


       Kepalanya mengangguk patah, setengah pikirannya percaya, sisanya adalah keputusasaan yang menjalari otak dan jiwa.


         Tak lama, pintu ruang UGD bergeser, Jaehyun yang pertama keluar dari sana. Matanya langsung menuju pada sang adik yang meringkuk di pelukan ibunya. Inilah yang paling ia takutkan; melihat adiknya terpuruk. Kemudian, tatapannya berotasi melihat Yoon eun yang berlari ke arahnya, sudah dipastikan, meminta penjelasan dan ia harus menyusun variabel kata untuk situasi rumit sekarang ini.


       "Katakanlah sesuatu," desak Yoon eun karena Jaehyun tak segera membuka suara.


        Taehyung ikut mendekat ke arahnya, menunggu kalimat jujur dari Jaehyun yang mendiam.


        "Kakak... tolong katakan ada apa? Bagaimana kondisinya?"


         "Kenapa diam saja?" Sewon angkat suara, menuntut sesuatu keluar dari mulut putra sulungnya.


        Jaehyun menarik napas dalam-dalam. Melepaskan uap udara yang    menggemuruh menahan suaranya. Ditatap satu per satu sorot mata penasaran itu, Jaehyun berucap penuh hati-hati, "Hanya ini yang dapat kulakukan. Apa pun yang terjadi nantinya, aku harap kalian bisa menerima. Sohyun tidak akan bisa bertahan lebih lama, komplikasi yang dialami sudah akut. Operasi tidak akan banyak membantu karena kerusakan sudah menyebar ke organ vital."


🔔


       "Pasti sakit ...," lirihnya sedu melihat lagi respirator yang membungkus mulut Sohyun, membayangkan tube panjang yang masuk ke kerongkongan gadis itu saja sudah membuat Taehyung kasihan. Membilang berapa banyak alat-alat asing yang kini melekat di tubuh kurus tak berdaya itu, makin terkuras oksigen di sekitaran. Sesak dan bertambah sakit.


       "Kau sungguh tidak ingin membuka matamu, eoh? Aku sudah ada di sini, kau tidak mau pergi bersamaku? Kau bilang akan menyelesaikan sketsa wajah kita setelah penampilanmu, kenapa malah tidur di sini? Kalau begitu aku tidak akan mau bernyanyi untukmu lagi!"


        Kedua tangannya terlipat, membenamkkan wajah di lekung tangan menyikunya. Percuma. Sia-sia saja ajakan pun ancaman yang ditumpahkannya. Taehyung malu, maka disembunyikan mukanya yang kusut, sebab tak kuasa menahan isak yang merangkak.


        Tanpa disadari Taehyung, kelopak mata rapat Sohyun bergerak. Suara sedan seseorang, sepertinya menganggu istirahatnya, hingga beberapa kali, telinga menjengit. Netra sayu nan kelam itu pelan-pelan terbuka. Buram sebelum samar berubah terang.


         Gadis itu masih tengadah dengan posisinya, belum mampu menggerakkan tubuhnya secara refleks. Apalagi suaranya yang tak mau keluar, tentu bukan karena Sohyun tidak ingin, sungguh Sohyun mau sekali menyapa pria itu, mengatakan sesuatu agar lelakinya tak perlu menjadi penangis melihat keadaannya.


       "Kau senang melihatku secengeng ini? Apa kau ingin melihatku terpuruk lebih daripada sekarang?" Taehyung makin jeri. Tersedu sedan semakin dalam.


       Dan, tangan yang terlunta lama terangkat. Sohyun berusaha menggapai kepala Taehyung, mengelus surai berantakan sahabatnya untuk lekas berhenti.


         Netra Taehyung tergelohok seketika, kala sebuah usapan lemah menyentuh rambut legamnya. Badannya langsung tegak, memastikan si pemilik tangan rapuh itu bukan halusinasi semata.


        Sohyun memandanginya dengan pandangan mata biuku. Mungkin karena penampilannya yang sekarang tak keruan, belum lagi air mata dan lelehan ingus yang masih menyembul dari lubang hidungnya. Tapi—dibanding itu semua, Taehyung tak peduli. Baginya dapat melihat Sohyun bangun dan sekarang membuka mata sudah sangat membantu melegakan separuh napasnya yang tersendat. Taehyung lega.


       Mulutnya kebas, tak tahu ingin mengucap apa. Haru. Pria itu teramat bahagia. Sampai-sampai salah tingkah, membuat si gadis menaikkan sisi bibirnya.


       "Tu...tunggulah.... Aku akan memanggil dokter," ujarnya terbata, melesak keluar ruangan secepat kilat.


        Sohyun tak banyak bereaksi, hanya segaris senyum misterius yang tampak di wajahnya yang pucat kesi.


       Lalu, atensinya mengarah pada tombol di sebelah kanan ranjang, Sohyun meringis geli, harusnya Taehyung tak perlu repot-repot berlari ke luar ruangan untuk memanggil dokter.


 


       "Tidak berubah."


     


🔔


       Taehyung terus mengekor di belakang tubuh kukuh Jaehyun. Sejengkal pun ia kejar, begitu terburu ke salah satu unit ruangan yang dituju. Mereka sama senangnya, tak menyangka Sohyun akan sadar secepat ini.


       


         "Kau tunggulah di luar," cegah Jaehyun kala Taehyung bersiap masuk.


          Taehyung jelas enggan. Menjadi jengah seolah ia tak penting.


         "Aku dokternya, selain perawat dan petugas medis, tidak ada yang diperbolehkan masuk. Pahami prosedurnya baru layangkan protes."


         Jaehyun gegas menutup pintu, sebelum adiknya merutuk.


         Menghela napas, Taehyung hanya dapat mengelus dada. "Sabar, Tae. Demi Sohyun, tenanglah sekejap."


🔔


           Dingin menjalar di dada, manakala stetoskop menempel di permukaan kulit luarnya. Sohyun tak berkutik. Manut terhadap apa saja yang dilakukan sang dokter. Pun ketika ventilator yang menyiksa dilepas atas permintaannya, diganti dengan oksigen tabung berukuran kecil (nasal kanul).


      Dua suster berhamburan pergi. Meninggalkan sang dokter dan pasien yang saling melempar tatapan kuyu. Di tangan Jaehyun, sekumpulan berkas yang baru dicatat perawat menggetarkan pertahanannya, pria itu lelah, tercetak pada sorot kelamnya memperhatikan Sohyun. Sama persis, ketika diserah tugaskan untuk menangani Sohyun remaja untuk pertama kalinya. Bedanya, Jaehyun merasakan nestapa yang lebih mendalam. Baginya seperti nostalgia yang terulang.


      


       "Ada hal yang ingin kau sampaikan," tuturnya mendekatkan diri di sebelah ranjang Sohyun. Menepikan rambut yang sedikit rumbai. Sentuhan asing yang jarang diberikannya.


         Kepala gadis itu menganggut. Sudah sejak tadi Sohyun ingin bicara, sejak tadi pula ia persiapkan suara agar dapat didengar Jaehyun.


        Mengalunkan suara serupa bisikan itu ke telinga Jaehyun, sambil tersengal Sohyun berujar, "Di antara semua orang, selain Tuhan, Dokter pasti lebih tahu tentang kondisiku sekarang."


        "Lalu kau ingin aku melakukan apa?" sambut Jaehyun tak kalah sedu.


       "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih. Banyak terima kasih untuk Dokter yang sudah berjuang mati-matian untuk menyembuhkan seabrek penyakit yang sudah menyerang tubuhku. Meski baru tiga setengah tahun kita saling mengenal, aku bisa merasakan ketulusan Dokter Kim. Sejujurnya aku rindu, mendengar suaramu yang suka sekali membentak dan marah tiap kali menghadapi sikap egoisku. Tapi, entah akhir-akhir ini ... aku rasa Dokter berubah melunak."


      Laki-laki itu berdecih, membuang muka kalut. "Yak! Apa kau pikir aku sekejam itu? Aku marah karena kau tidak mau mendengar ucapanku, tidakkah kau ingin melihatku menjadi dokter sukses yang bisa membantu kesembuhan pasien?"


     "Penyakitku terlalu parah. Lagi pula aku tidak mau menjadi kelincimu."


       Bahkan saat di ambang masa kematian pun, bisa-bisanya Sohyun melontar kalimat menjengkelkan. Jaehyun mengetukkan jemarinya ke dahi sang gadis, bak seorang kakak terhadap adiknya.


       "Sekarang katakan apa keinginanmu sekarang?"


        Penawaran itu meluncur dari mulut Jaehyun. Sebuah tawaran yang dirasa menggiurkan bagi Sohyun tuk diambil.


       Perlukah?


        Batinnya menimbang-nimbang tawaran tersebut. Tidak ada salahnya mencoba daripada tidak sama sekali. Paling tidak di antara jutaan mimpi yang lama ia rangkai, ada satu hal yang ingin sekali Sohyun lakukan.


          "...."