
Seseorang pernah menunggu. Setidaknya—paling tidak satu kali, seseorang itu mencumbui penantian panjang berbalut kesetiaan. Semua atas dasar percaya. Gadis itu tahu betul, betapa besar dan berharganya sebuah kepercayaan yang tak sembarang dapat diberikan secara cuma-cuma. Rasa rindunya yang kelam dan mendalam, seringkali membuatnya lelah dalam bilangan almanak yang berotasi sepanjang tahun. Tak mendapati apa yang dinanti, sembari meniti tanpa arti pasti.
Lalu kehidupan yang ia jalani, membekas, kemudian melebur menjadi rangkaian kisah; sekumpulan kejadian yang tak ternyana bilangannya. Memberi sedikit warna pada abu-abunya. Sohyun belajar banyak. Tak menampik dirinya menjadi lebih bijak menghadapi sesuatu yang tak terduga. Di luar impuls, jika mau, kadangkala Sohyun berpikir untuk memverbalkan rangkaian kisah hidupnya pada dunia atau membaginya melalui tulisan yang dimuat dalam bundel buku yang ditulisnya dalam beberapa seri. Biografi, mungkin. Atau fiksi dengan nama samaran yang sebetulnya tengah menceritakan sosoknya di kehidupan nyata. Tanpa tujuan—atau sebenarnya membagi pengalamannya— agar orang-orang dapat mengambil pelajaran dari riwayatnya yang tak seberapa.
Tapi ... sudahlah. Cukup Sohyun dan orang-orang terdekatnya saja. Lagipula sampai detik ini, ia tak merasa penting untuk dikenal banyak orang. Setingkat di atas malu, bagaimana gambaran sisi lain dirinya. Ia masih Kim So Hyun, sosok perempuan melankolia yang lebih senang membuat orang awam penasaran pada runutan kisah hidupnya yang terlampau misterius apabila dipandang lurus. Jalannya berkelok penuh liku onak, masih kontinu guna menemukan akhir. Tertutup mungkin bisa jadi sebutan selanjutnya untuk Sohyun yang terbiasa memendam segalanya sendiri. Tersemat begitu apik untuknya yang menutup segala pintu rahasianya rapat-rapat.
Dan untuk segala gempar mimpi yang ia rahasiakan dalam coretan kalam yang termaktub rapi di tumpukan buku hariannya, impian-impian itu sudah menjadi kenyataan. Satu demi satu.
Sebagai wanita, Sohyun pun pernah bermimpi. Mimpi menjadi wanita yang cantik di pernikahan yang akan datang. Harinya pun jatuh di tanggal ulang tahunnya. Begitu spesial, pikir Sohyun yang sekarang melihat kembaran diri di cermin rias. Untuk sesaat saja, izinkan Sohyun bangga melihat penampilan anggun berselimut gaun pengantin yang dulu sempat dipakainya di butik bersama Taehyung. Masih muat di badan, walau sejujurnya berat badannya menurun drastis.
Namun adakalanya, bimbang menerpa dan Sohyun tak bisa menghindari. Saat di mana Sohyun memikirkan di jalan pulang selepas kencannya bersama Taehyung di bukit—kenyataan bahwa dirinya tak tahu diri—hilang malu sampai berselindung pada muka tembok. Sohyun tercenung. Sedari awal, ia berusaha keras membentengi diri agar tak terlalu memperlihatkan rasa cintanya pada Taehyung. bersikeras meyakinkan diri, bahwa mereka ditakdirkan bersahabat, sebab ia tidak ingin mendatangkan malapetaka di kehidupan Taehyung nantinya.
Tawa cemoohan rasanya akan meledak, Sohyun perlu mentertawai diri, melihat pada wujudnya kini. Dia alpa, hanya manusia biasa, tidak punya otoritas memegang kendali takdir makhluk lain. Sohyun bukanlah Tuhan, ia bertekuk lutut pada garis hidupnya yang mulai rapuh, terseok resah pada jejaknya yang tak menentu.
Sambil menilai diri, bibirnya tergerak—bersuara, "Kesempatan."
Yoon eun menghentikan gerak tangannya, menatap lurus cermin besar itu—melihat ekspresi teduh Sohyun yang baru saja bicara sekata.
"Jangan menatapku seperti itu," tegur Sohyun risih. "Kalau seandainya ini hari terakhirku, apa Ibu akan menangis?" imbuhnya ingin tahu.
Suasana hati Sohyun tak setenang wajah datarnya. Bayak, sampai-sampai riak kesenduannya berangsur menyergap. Pertanyaan konyol. Untuk apa menanyakan hal yang sudah diketahui jawabannya. Yoon eun memalingkan muka ke tepi lain, sudah sangat sesak melihat sang putri yang mulai digerus keputusasaan. Pun dirinya yang raib harapannya.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" tanyanya.
"Hanya firasat."
"Jangan memercayainya."
"Tapi selama ini firasatku tak pernah salah."
Yoon eun mengembusakan napas dengan amat berat, 'tak pernah salah' terlalu berlebihan di telinganya? Ia tak mempermasalahkan, sebab fakta berkata demikian. Dan lagi, tak ada minat berdebat sekarang, karena sudah pasti ia akan kalah. Sudah terlalu sering Sohyun membalikkan kata-katanya dengan sarkastis.
Hening beberapa saat. Mematikan segala aktivitas di ruangan yang mereka huni.
"Semalam aku bermimpi ...," menjeda disertai tarikan napas serat. "Ayah dan Ibu datang ke mimpiku, mereka bilang ingin bersamaku, ya, seperti ingin mengajakku ke suatu tempat."
Yoon eun tetap membisu. Bayangan mendiang Jang hyuk dan So Ran tetiba mendebik ruang kecil memori suramnya. Sangat kelam sampai ulu hatinya tertikam dalam.
Sohyun menambahkan, "Mereka sering datang dengan wajah berseri, tapi yang semalam terasa beda. Ayah bicara, Ibu ... beliau terus memelukku. Meski kau bilang untuk jangan memercayai mimpiku, aku berani bersumpah, kalau yang kurasakan bukan sekadar mimpi semata. Rasanya nyata, dan aku ingin merasakannya lagi."
"Dengan meninggalkanku!" sergah Yoon eun.
Sohyun menganggukinya tanpa perasaan. Bayangkan, betapa kacaunya Yoon eun sekarang. Ketika Yoon eun sudah mulai melunak, memberi perhatian dan menjadikan Sohyun putri kandungnya, tiba-tiba Sohyun ingin pergi semudah itu.
"Apakah sangat sulit bagimu untuk mengubahnya? Mengubah persepsimu."
Kali ini sebuah gelengan. Sohyun tersenyum kecut, ia tak mampu sesumbar lagi. Bagaimana bisa seperti itu, sementara perutnya terasa terbakar bersama ledakan yang mencekik nan melilit. Sohyun berusaha keras berlindung pada kulit wajahnya yang dibuat mati rasa. Entah sampai kapan dirinya bertahan pada topeng meletihkan tersebut.
Gagang pintu bergerak. Dibuka.
Yeri yang baru datang, merasakan atmosfer mendung di wajah dua wanita di depannya. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebelumnya, pastilah sesuatu yang serius, hingga ruangan ini terasa hampa suara.
Perlahan ia melangkah mendekati Sohyun, seraya membawa sebuket bunga untuk Sohyun. Tiga kuntum forget me not ada di antaranya, bersama celocia, daisy, candytuft, dan gaillardia. Sekilas, seperti bukan buket pengantin pada umumnya.
"Semoga kau menyukainya." Yeri menganjurkan tangan, menyerahkan bunga itu untuk Sohyun.
"Seleramu selalu bagus." Menghidu dalam-dalam aroma lembut semerbak bebungaan itu. Sohyun suka.
🔔
Wangi pekat mewarnai udara, kala pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita muncul di baliknya. Bukan arbei yang seringkali dihidunya, sosok perempuan itu, yang begitu memikatnya sedang berjalan, membawa sisa-sisa keharuman oceania yang menenangkan.
Pria itu sabar-sabar menantikan calon pengantinnya berjalan mendekat ke arahnya. Mengagumi keanggunan langkah lampai Sohyun yang mengapitkan tangan kanannya di lengan Han Woojin, sebagai wali, sementara tangan kiri, menggenggam hand bouquet berisi variasi bunga.
Cantik
Taehyung menyungging senyum termanisnya guna menyambut Sohyun. Semakin dekat langkah mengayun mendatangi, kian bertambah pula kinerja detak jantungnya. Ritme tak masuk akal, keterlaluan kerasnya. Dalam hitungan detik, wanita yang dinanti berhenti tepat di depannya. Sejemang Taehyung terpaku, menatap wajah natural Sohyun yang dibendung dengan riasan tipis. Pria itu akui, dirinya terpesona untuk kesekian kali, tak bisa dihitung, Taehyung tak mampu membilang berapa kali dirinya jatuh pada aura calon pengantinnya.
"Jagalah Sohyun," Woojin mengucapkannya lirih, memandang Taehyung yang menghadapnya seraya tersenyum mengiyakan. Tangannya menepuk lengan pria yang sebentar lagi menjadi menantunya, sedih. Bagaimana tidak, Woojin baru saja merasakan betapa bahagianya ia dipanggil ayah. Sohyun bahkan tak jarang memperlihatkan sifat manjanya dan sekarang harus ia lepas. Lebih terasa sulit, seandainya Woojin harus melepas Sohyun untuk waktu lama. Ia tak sanggup membayangkan hidup tanpa Sohyun, takut itu juga telah menghantuinya seperti yang mendera Yoon eun beberapa hari ini, ketakutan akan kehilangan.
***
Tidak banyak yang menghadiri upacara pernikahan kali ini. Hanya ada beberapa, baik dari keluarga Sohyun maupun Taehyung. Bisa dihitung menggunakan jari.
Mereka yang menyaksikan, larut dalam bahagia. Yoon eun makin tak bisa menyembunyikan kesenduannya, perasaannya semakin tersayat entah apa. Kebohongan besar, jika ia tak tahu perihal ucapan Sohyun sebelum anak gadisnya keluar ruangan. Rintih kesakitan itu merajam lubuk hatinya berkala, ia tak bisa tenang melihatnya.
"Aku tahu ini sangat berat." Woojin sudah duduk di sebelahnya, meremas perbukuan jari Yoon eun yang bergerak gelisah. Wanita itu tertunduk menatap basah roknya. Itu jejak air mata.
"Dia sudah jadi putri kita. Tapi aku belum mampu menjadi ibu yang layak untuknya."
Woojin mengerti, paham bagaimana perasaan istrinya. "Sudah kukatakan berapa kali? Jangan menangis di hari bahagianya. Berhentilah, tidak bisakah kau melihat Sohyun sebagai pribadi yang kuat?"
Yoon eun membisu, secepat kilat menghapus bekas likuid di pipi, ketika Sohyun menoleh ke arahnya. Anak perempuannya tersenyum.
***
Taehyung tidak mau berpaling menatap, ada gurat ketidaktenangan manakala netranya melihat wajah pucat berpeluh Sohyun.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Menggeleng Sohyun, "Jangan cemaskan aku. Sebentar saja, sampai acaranya selesai."
Taehyung menyadarinya, Sohyun tak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit di depannya. "Kita bisa menundanya," bisiknya lagi.
Sohyun tersenyum tipis, menolak saran Taehyung. Tatapannya beralih pada sang pendeta, mengisyaratkan bahwa dirinya siap, begitu pun dengan Taehyung. Lelaki itu mengangguk, walau sedang dilanda kalut akut.
🔔
"Saya, Kim Taehyung menerima engkau, Kim So Hyun menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita. Kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Sumpah Taehyung yang tidak ada keraguan dalam pengucapannya. Dilafalkan begitu lancar berlapis kejujuran.
Belum, Taehyung belum lega selepas mengikrarkan janji pernikahan. Di hadapannya masih terdapat Sohyun yang berusaha keras berdiri sejajar, masih menunggu giliran perempuan itu mengucap janji suci seperti yang dilakukannya.
Sohyun tidak dalam kondisi baik, ia dapat merasakannya, rasa sakit yang memancar dari bola mata yang berkaca-kaca itu.
Sesaat sang pendeta berucap, mempersilakan Sohyun mengucapkan janji. Wanita itu bahkan dapat tersenyum, makin bertambah gelenyar mendedar dada Taehyung menyaksikannya.
"Saya ... Kim So hyun...," suaranya bergetar. "Menerima engkau, Kim Taehyung menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, sampai kematian memisahkan kita. Kuucapkan janji setiaku kepadamu."
Meski terbata dengan ringisan kecil, Sohyun dapat menyelesaikannya. Semua orang terdiam haru, pun Taehyung yang tampak nanar menghadap Sohyun yang tak sekalipun lelah melihat ke arahnya. Bangga.
"Dengan ini saya umumkan, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Baik di mata agama dan hukum. Tidak lagi dua melainkan satu."
Raut bahagia terabsen di indra penglihatannya, Sohyun seakan telah menemukan salah satu ujudnya; mengukir beragam kerut tawa di wajah mereka yang telah hadir mewarnai abu-abunya semakin mencerah.
Cincin yang sempat tersimpan di saku Taehyung, kini tersemat di jari manis Sohyun, matanya berlinang melihat cincin perak tersebut melingkar sempurna di jarinya. Giliran Taehyung yang menerima cincin, dengan gementar dan hati-hati, Sohyun meraih tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya untuk dimiliki seutuhnya.
Taehyung menahan tangis, ketika dingin menjalar kala jemarinya bersentuhan pada epidermis putih pucat Sohyun. Tremor yang semakin membuatnya waswas lagi lawas.
"Tersenyumlah, di hari bahagia kita."
Taehyung manggut-manggut tak bersuara, di rengkuhnya badan Sohyun sebelum mendaratkan ciuman di bibir sang istri. Mata keduanya terpejam, sepuluh detik bertahan.
"Terima kasih," Sohyun membisik.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu," ungkap Taehyung memperdalam genggaman tangannya.
🔔
Hanya sebentar.
Bisikan lembut itu kembali terngiang di telinga. Kata Sohyun hanya sebentar, tapi bagi Taehyung pastilah sebaliknya. Malam terasa syahdu, ini hampir tengah dini hari, setelah upacara pemberkatan, Taehyung membawa Sohyun ke taman gereja. Sementara para saksi yang sempat hadir, telah pulang membawa perasaan yang bahkan tidak sanggup direka. Sohyun tumbang, dalam keadaan setengah sadar, meminta untuk diberikan ruang bersama Taehyung. Menghabiskan waktu bersama suaminya sebentar. Sejenak saja.
Di bawah remang cahaya rembulan, terduduklah mereka di bangku, bersebelahan saling mengeratkan pandangan satu sama lain. Tanpa berganti busana dan berselimutkan jas putih yang sempat dipakai Taehyung, Sohyun menggigil menahan dingin. mereka memulai perbincangan yang serasa berat diucap. Rangkaian silabel di dalam otak Taehyung tersendat di lidahnya yang kaku. Tak tahu harus mengucap apa dan bagaimana sementara wanitanya kini sudah dalam tahap mengkhawatirkan.
"Aku ingin menjadi rasi ke delapan puluh sembilan," ratap Sohyun, pandangannya mengarah pada gemintang yang berkelip. Dari tempatnya sekarang, ia bisa menyaksikan rasi cygnus. Konstelasi indah itu menarik atensinya sejak tadi, gugusan bintang yang serupa angsa. Meski ia tak begitu suka dengan legenda di balik tercetusnya rasi cygnus, tapi Sohyun menyukainya. Setidaknya untuk beberapa alasan, dan satu di antara yang ada, adalah malam ini konstelasi itulah yang muncul menghiasi langit malam, yang dekat dan jelas di matanya.
Taehyung yang rupanya enggan melepas pelukannya, mengikuti pandangan Sohyun, sebelum memusatkan fokus hanya pada wajah lelah istrinya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Agar kau bisa memandangiku di langit."
Taehyung bungkam. Senyumnya patah. Tidak mudah mengamini pernyataan serupa itu dari bibir Sohyun.
"Dewa Zeus akan marah. Bagaimana kalau kau hanya akan menjadi satu rasi bintang untukku? Hanya untukku tanpa perlu menjadi salah satu penghuni di langit." Taehyung terlihat memohon. Aku tidak mau kau menjadi yang ke sekian, kau lebih istimewa dibanding kisah mitologi Yunani itu."
Senyum simpul diperlihatkan Sohyun, melesak semakin dalam di dada Taehyung. Pria itu benar, Sohyun menyetujuinya tanpa protes. "Ketahuilah, aku akan bersamamu sampai kapanpun, jadi jangan merasa sendiri meski ragaku tidak lagi di sampingmu kelak."
"Kita baru memulainya, dan kau sudah ingin pergi dariku?"
"Maaf..., harusnya aku bisa lebih bekerja keras lagi untuk sembuh, bukan menyerah seperti sekarang ini."
"Bukan salahmu. Tidak perlu ada maaf." Lengan kukuh Taehyung menyegerakan anjuran, memberikan hangat pada punggung Sohyun.
"Aku bahagia."
"Aku lebih bahagia."
"Aku mencintaimu."
"Aku sangat mencintaimu."
Mungkin, serentetan kata hanya sekadar diucapkan, sebentuk sederhana untuk mengepresikan sesuatu di dalam hati. Namun, masing-masing telah tahu bagaimana curahan rasa yang tak dapat diutarakan sekadar kata pemanis nan menghibur.
Sudah dua puluh menit.
Percakapan itu berasa singkat untuk keduanya. Terlalu sebentar. Sohyun sudah lelah, hanya desisan ringan, juga berat mengimbangi napasnya yang tersengal. Seperti... baru saja menyelesaikan lari jarak jauh yang meletihkan. Sohyun tertunduk makin lunglai.
"Kau lelah?" Taehyung bertanya. Saat deru napas kuat sesekali menerpa lengan yang menggelung tubuh sang istri.
"Apakah aku boleh istirahat?"
Taehyung tak menjawab.
"Aku merasa hari ini begitu panjang dan melelahkan ... aku perlu tidur, mungkin dengan begitu, aku bisa sedikit melupakan sakitku."
"Berjanjilah hanya sebentar, seperti katamu," Taehyung menyahut. Garau menyertai suaranya, seolah berat mengiyakan permohonan Sohyun.
"Apa kau tega melihatku terus begini?" Sohyun kembali berujar, amat lirih.
"Lalu, bagaimana denganku? Apa kau juga tega melihatku sendiri sementara kau tidur?"
"Berjanjilah kau akan baik-baik saja.... Ada atau tanpa adanya aku di sisimu."
Luruh sudah bulir likuid beningnya. Percuma Taehyung menengadah tinggi-tinggi, air matanya tetap jatuh membasahi pipi.
"Maaf, tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Belum bisa melakukan banyak hal untukmu—"
"Aku akan mengizinkanmu tidur!" serobot Taehyung. "Tapi... kumohon bangunlah. Aku akan menemanimu, aku akan di sampingmu sampai kau membuka mata lagi!"
"Tae...," Sohyun memanggil, bertambah sakit di tiap tarikan napasnya yang terputus. "Aku sungguh ingin berhenti."
Taehyung menggeleng, pikirannya kalut kemelut. Mustahil rasanya ia bisa melepas Sohyun. Taehyung masih membutuhkan Sohyun, untuk tetap hidup.
Sohyun mungkin sudah siap, sejak lama kematian terus membayanginya. Mati adalah tujuannya, sebagai pelepas rasa letihnya dengan kehidupan dunia. Apakah setelah ini semuanya benar-benar terputus? Ia tahu bahwa hari ini akan tiba mendatanginya. Maka tidak sepatutnya ia mempertanyakan hal ini. Dua puluh dua (22) angka itu termasuk besar baginya, dibandingkan hidup orang-orang yang hanya bisa menghirup udara sesaat lalu pergi. Seperti bayi yang meninggal dalam kandungan atau mereka yang baru bergerak merasakan kehidupan dunia, anak-anak yang harus berjuang lebih keras darinya dan mereka yang harus tenggelam dalam gelapnya ruangan sempit dalam tanah sebelum dirinya.
"Karena aku percaya, kau mampu."
Kepala Taehyung menggeleng seraya mengeratkan dekapannya, Taehyung merasa belum bisa menerima kata tersebut terujar dari belah bibir Sohyun. Ia ingin melihat wanitanya lekas terbebas dari segala sakit, tanpa harus meninggalkan dirinya. Ia ingin terus bersama, menemani Sohyun seumur hidupnya, asal wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu tak pergi.
Egois. Taehyung memang egosentris memaksa dan tak mau merelakan Sohyun, menolak semua fakta yang ada.
"Buktikan kalau kau mencintaiku ...."
Kata-kata tidak akan cukup tanpa ada pembuktian.
Dilema, nyata kini Kim Taehyung rasakan. Otaknya memutar lagi ingatan yang membawanya pada percakapannya bersama sang kakak, Kim Jaehyun. Obrolan yang berhasil meruntuhkan kokohnya benteng pertahanan diri seorang Taehyung.
Sohyun tak mempunyai banyak harapan, mustahil dia bisa bertahan dengan penyakit sebanyak itu. Komplikasi bahkan peradangan ....
Taehyung tidak sanggup meneruskannya, alangkah jahat kalau dirinya mencoba mempertahankan Sohyun, membuat istrinya tak tenang.
"Tidurlah."
Satu kata yang menggetarkan dada, mengikis udara di sekitar, Taehyung baru saja bilang "tidurlah", untuk Sohyun yang tersenyum tak biasa.
"Akan kutemani sampai kau tertidur," sambungnya mengubah ekspresinya cerah. Secerah binar matanya yang menahan gejolak liar di ujung matanya, jika tidak sedang di sisi Sohyun, pastilah banyak muntahan air mata Taehyung yang akan terbuang.
"Terima kasih ...," terucap lirih.
"Kau sering memintaku menyanyikan lagu, bukan? Aku sudah memikirkan lagunya, pokoknya kau harus tidur pulas setelah ini, jangan menyiksa dirimu."
"Emm."
Pria itu menitikberatkan atensinya pada wajah pucat wanitanya, membelai permukaan kulit yang telah basah oleh keringat dingin. Sohyun memejam, lunglai di atas paha, bersandar letih di dadanya yang bergejolak.
"Kau sudah sangat lelah rupanya."
Lantaran Sohyun hanya menanggapi pertanyaannya sebatas deham.
Taehyung merunduk, memejamkan mata barang sejenak, mengambil napas sebelum senandung lirih keluar dari bibirnya.
Dengar, dengarkan alunan suaraku
Rasa, rasakan dawai getar gitaku
Titik-titik kecil berlomba menggelayut ragu
Membungkus benang pilu senduku
Mungkin tak selalu selamanya
Kita mampu melewati aral semua
Kuyakinkan cinta...
Sayangku tulus apa adanya
Malam 'kan menjadi saksi
Batapa rapuh aku tanpamu, Belahan diri
Bahkan gelap tak sanggup sembunyikan pedih, perih, sedihku
Hatiku mungkin lekas patah, pecah
Hancur, lebur, ajur
Beri sedikit waktu
Hanya sedikit laku
Untukku tuturkan
Kalau kucinta...
Taehyung menghentikan nyanyiannya. Senyumnya bubar saat tubuh Sohyun memberat tak ada daya di dalam dekapannya. Tidak ada senandung indah yang keluar dari mulutnya, melainkan sayatan sedu sedan pria itu. Luka baru yang akan membekas lama.
"Aku bahkan belum menyelesaikan laguku," Taehyung berkata lirih. "Kalau kucinta kau, melebihi diriku sendiri."
Sohyun telah lelap. Bersandar lenyap di dadanya. Wanitanya tidak lagi terjaga, menutup kedua mata indahnya, selamanya.
Dikecupnya wajah Sohyun berulang, memberi pelukan erat sebagai pelepas rasa sesaknya atas perpisahan yang terjadi.
"Selamat ulang tahun. Berbahagialah, kau tidak lagi tersiksa, semoga kau damai bersama Tuhan. Tunggu aku, Sayang. Mohon tunggu aku...," ucapnya bersama tumpahan lara air mata yang menganak sungai. Pria itu terisak sepanjang malam, memeluk tubuh tak bernyawa itu tanpa renggang. Menghirup dalam-dalam wangi tubuh yang akan ia rindukan. Kekasihnya telah pergi. Apa yang mampu ia lakukan setelah ini?
Remuk hati Kim Taehyung, dadanya sakit, beribu tikaman mendera saat wanitanya tak bisa lagi merespons apa yang ia katakan. Telinganya masih ingin mendengar suara lembut Sohyun menghampiri rungunya setiap saat. Tapi, .... Kenyataan berkata lain, semua tidak lagi sama. Sohyun meninggalkan senyumnya, untuk ia tatap, untuk dikenang olehnya. Separuh jiwanya telah melayang jauh. Meninggalkan dirinya sendirian.