
Taehyung menatap sebuah rumah. Satu-satunya bangunan yang berada di atas bukit kecil yang diselimuti rimbunnya pohon-pohon besar di antara bangunan yang ada di sekitarnya, bak kastel yang memiliki arsitektur modern dengan empat tiang penyangga besar di tiap sudutnya.
Jantungnya berdebar kencang, entah disebabkan karena dirinya yang gugup ataukah rasa lain yang kini mendiam. Sudah dua bangunan rumah yang ia datangi, satu yang memang kosong tak berpenghuni dan satunya hanya ditinggali nenek tua bersama cucunya. Tangannya bersiap menekan bel yang terdapat di sisi pagar rumah.
Satu tekanan ringan yang menghasilkan bunyi dencing. Jonghoon yang kebetulan berada di luar pintu utama, mendengarnya. Niatnya yang akan memasukkan barang-barang keperluan Sohyun ke dalam mobil urung saat itu juga. Sesuatu yang langka bila ada tamu yang datang ke rumah majikannya. Sebelumnya tak pernah ada yang mengetahui alamat rumah ini karena letaknya yang terpencil dan terselubungi pepohonan tinggi.
Bergegas ia menghampiri pintu gerbang, memastikan seseorang yang menekan bel untuk ke dua kalinya.
Tubuh Taehyung menegak, saat dirasa gerbang bergeser. Senyumnya mengembang ketika sosok pria baya itu datang. Walau sebenarnya dalam hatinya, Taehyung benar-benar terkejut melihat Jonghoon di hadapannya sekarang.
"Kau siapa?" Jonghoon bertanya menyelidik, menilai tampilan Taehyung yang biasa, sama seperti anak muda kebanyakan.
Sementara Taehyung termangu di tempatnya. Berpresisi jeli memandang sosok lelaki baya yang terheran-heran melihatnya. Taehyung tidak akan salah mengenali wajah yang mulai berkeriput itu. Sedikit uban di rambutnya tak memudarkan ingatan Taehyung.
"Paman! Ini aku."
Dia mengernyit dahi, ketika pemuda di depannya menunjuk dirinya seakan mereka saling kenal lama.
"Paman sungguh tidak ingat? Aku saja masih mengenali wajah paman Choi," Taehyung mendengus kecewa, lantas memangkas jarak, mendekati. Agar Jonghoon dapat menyensor wajahnya yang tak banyak berubah kecuali semakin matang usianya.
Di lain sisi, Jonghoon terpekur. Ia terus menatap Taehyung lambat-lambat. Wajah yang cukup familier untuk diingat, namun sulit baginya untuk mengetahui jati diri pemuda yang sekilas mirip ...? "Kim Tae Hyung?" lirihnya setelah mendapatkan memorinya. Jonghoon terbengong, hampir tak percaya.
Taehyung tersenyum lebar, seraya mengangguk membenarkan tebakan Jonghoon. Tanpa ragu Taehyung memeluk Jonghoon yang masih terdiam syok. Setelah lima belas tahun lamanya, sosok yang begitu dirindukan Nona Mudanya datang.
"Kau sudah kembali?"
"Eoh, aku kembali karena sahabatku. Aku datang kemari sebenarnya untuk menemui ..."
Pemuda itu tak bisa melanjutkan perkataannya. Kalimat yang baru keluar menyadarkan sesuatu dalam benaknya. Wanita bersyal merah, wanita yang ditabraknya ketika mengejar preman di jalan, tatapan mata tak asing yang ia lihat. Mungkinkah gadis itu, Kim So Hyun? Orang yang ia rindu dan nantikan.
"Kenapa diam?" tanya Jonghoon melihat Taehyung justru membeku—terbuai lamunan.
"So...Sohyun di mana?"
Taehyung sekarang didera perasaan beraduk. Bagaimana bisa dirinya sebodoh itu, tidak menyadari bahwa orang yang selama ini dicarinya berada di dekatnya. "Paman! Tolong beri tahu aku, di mana Sohyun sekarang? Apa dia ada di rumah, dia baik-baik saja, kan? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Paman Choi!"
Diberondong berbagai pertanyaan bertubi dari Taehyung sempat membuat Jonghoon goyah. Jelas kentara raut khawatir dari wajah Taehyung yang teramat ingin tahu tentang Nona Mudanya. Tapi, bolehkah ia melakukan sesuatu pada pria yang sudah membuat Nonanya menangis?
🔔
Langkah kakinya terasa berat, tak bertenaga. Laki-laki itu pulang tanpa membawa hasil yang ia harap. Alih-alih bertemu Sohyun, Jonghoon justru bungkam, enggan memberi tahu keberadaan Sohyun. Kecewa, sedih sudah tentu ia rasa. Taehyung berselonjor di sofa menatap langit-langit rumah mewah orang tuanya itu dengan perasaan hampa.
Bukan berarti Taehyung lelah lalu menyerah. Bagaimana pun, ia akan mencari cara agar dapat bertemu sahabatnya. Ia harus menepati janji yang ia buat semasa kecil itu.
Sewon yang melihat putranya dalam kondisi mengkerut bermuka kusut, mempercepat langkahnya menuruni tangga. Datang kemudian duduk di samping sang putra bungsu.
"Dari tampangmu, ibu yakin kau pasti gagal menemui gadis itu. Benar, kan?"
Taehyung berdengkus lagi, menatap Ibunya. Ekspresi merengut plus sebal terukir di wajah maskulinnya. Tawa Sewon sampai pecah menguar di rumah berlantai tiga itu.
"Ibu ..., sepertinya Sohyun marah padaku."
"Kenapa bisa berpikir begitu?"
"Aku telah menyakiti perasaannya dengan pergi tanpa memberi tahu apa-apa. Dan apa Ibu tahu, perempuan bersyal yang kumaksud kemarin? Ternyata dia sohyun, Bu. Bagaimana ini, apa yang harus aku perbuat untuk meminta maaf padanya? Paman Choi tidak mau memberi tahu padaku tentang keberadaan Sohyun. Aku bingung sekarang! Haruskah aku mengendap masuk ke dalam rumahnya?"
Tak segan Sewon memilin daun telinga putranya yang kelewat cerewet kalau sedang panik begini. Usia dua puluh enam tahun, nyatanya tak mampu mengubah sifat asli Taehyung yang terkadang bersikap berlebihan.
"Kau mau menjadi maling sampai harus melakukan hal segila itu?"
Taehyung mengusap kupingnya, menghela napas letih. "Kalau tahu begini, lebih baik aku curhat pada Kakak saja. Tapi kenapa dia sungguh keterlaluan, sudah dari kemarin aku pulang dari luar negeri, tapi dia belum menunjukkan batang hidungnya di depanku!" Sekali lagi Taehyung mencomel panjang lebar.
"Lebih baik temui Kakakmu. Ibu memang tidak ada apa-apanya dibanding Kim Jaehyun!" Sewon berseloroh memandang sinis Taehyung yang meringis tidak enak hati.
"Ah, jadi ceritanya gantian Ibu yang marah padaku. Baiklah, aku akan pergi!" Taehyung bangkit merapikan jaket denimnya yang masai.
"Aku pergi dulu, Ibu baik-baik di rumah. Sebentar lagi juga Ayah pulang. Muah..." Taehyung segera berlari terbirit-birit menjauhi Sewon yang memelotot ke arahnya karena syok. Ciuman sayang dari Taehyung yang sudah lama tak dirasakannya, Sewon geleng-geleng kepala.
"Ada-ada saja kelakuan anak itu."
🔔
*Harusnya kau mati saja!
Kau hanya bisa menyusahkanku!
Hidupku hancur karenamu!
Dasar tidak berguna!
Mati saja kau*!
Sohyun menangis tersedu. Umpatan serta kata-kata kasar terus terucap tiada henti menusuk-nusuk jiwanya yang masih terguncang. Kakinya terus melangkah mundur menjauh, mencoba menghindar sejauh mungkin dari sosok yang berubah menakutkan untuknya, sementara yang dihindarinya justru kian mendekatkan diri dengan sebilah pisau di tangannya.
"Ibu..." Sohyun menggumam lirih, menggelengkan kepala takut-takut. Semua serasa mimpi buruk, ketika menyaksikan Ibunya berubah sedemikian.
"Jangan panggil aku Ibu! Kau bukan putri kandungku, kau hanya pembawa sial! Ingat itu baik-baik!"
Teriakan nyaring wanita itu menyentak nyali Sohyun yang semakin mundur hingga menyentuh pagar pembatas di atas atap rumah sakit. Tawa terkulum Yoon eun semakin menjadi, pandangannya sayu dengan wajah memerah padam, terus ia perlihatkan di depan Sohyun yang telah roboh. Gadis itu merosot, menyilangkan tangan gemetaran. Seakan ia adalah mangsa buruan yang akan segera tercabik.
"Kenapa kau begini?" Suara Sohyun bergetar pilu. Ia sadar dirinya hanyalah anak angkat, tidak lebih dari itu. Kata-kata yang baru saja didengarnya membuat luka baru timbul di hatinya.
"Lebih baik kau susul Ibumu ke neraka sana. Ya, itu lebih baik dari pada melihat wajah memuakkanmu setiap hari. Harusnya aku membunuhmu juga hari itu. Kali ini kau harus mati."
Gadis itu berusaha keras menutup kedua telinganya. Gelengan kepalanya semakin kuat saat Yoon eun menarik baju pasien yang dikenakannya.
"A...apa yang Ibu lak...ku...kan?" rintihnya terbata-bata.
Tanpa belas kasih, Yoon eun yang masih dalam pengaruh minuman beralkohol mendorong tubuh Sohyun setelah menyayat kulit tangan gadis belasan tahun itu. Dia melemparnya dari atas ketinggian. Tubuh yang ringkih tak bertenaga itu terjun bebas dari atap. Sohyun tak mampu berteriak, ia menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tubuhnya jatuh menimpa sebuah mobil yang terparkir di halaman lobi rumah sakit. Suara hantaman keras memicu reaksi orang-orang di sekitaran. Mereka berhambur menuju asal muasal suara, memekik panik melihat seseorang jatuh dari lantai sembilan. Mereka berhamburan keluar, menyeru meminta pertolongan.
Netranya masih terbuka, pelupuk matanya tak berkedip memandang wajah frustrasi Yoon eun yang sepintas terekam samar-samar dalam memori ingatannya. Wajah menyesal sekaligus ketakutan dan kebingungan.
Darah telah mengucur deras, rasa sakit yang mendiam di seluruh bagian tubuhnya tak sebanding dengan rasa sakit yang baru dihadiahkan Yoon eun untuknya. Ini benar-benar mimpi buruk yang sangat nyata untuknya.
"Ibu...," ucapnya lirih sebelum Sohyun kehilangan kesadarannya.
"Nona! Nona, sadarlah!"
Eunjung yang melihat Sohyun bergerak gelisah dalam tidurnya, memanggil-manggil. Tangannya menepuk pipi Sohyun yang berkeringat dingin agar segera terbangun. Nona mudanya tidak henti menggumamkan kata 'Ibu' diiringi isakan tangis sembilu.
"Nona," panggil Eunjung sekali lagi, bahkan cairan bening lolos dari celah matanya.
Sohyun tersentak. Memandang penuh keterkejutan di depan Eunjung yang menggengam jemarinya cemas. Bola matanya bergerak liar mengintai ruang inapnya yang diselubungi cahaya temaram.
"Anda bermimpi buruk?" tanya Eunjung.
Gadis itu masih gemetaran di atas ranjangnya. Memegang dadanya yang berdebar tak normal. Napasnya berderu terengah-engah.
"Apa dada Anda sakit lagi?"
Sohyun menggeleng kecil menyambut pertanyaan yang dilontarkan Eunjung. Senyum mungilnya menyumbul, menatap Eunjung yang terus mengelus punggung tangannya. Sohyun perlahan mulai tenang. Tidak secemas beberapa waktu lalu.
"Refleksmu bagus sebagai seorang perawat."
Eunjung menelan salivanya, berat. Kalimat dari Sohyun membuatnya menunduk lagi. Cepat-cepat menarik diri dari kulit tangan sang majikan.
"Anda bisa saja," balasnya kikuk.
"Sebenarnya sudah lama aku mengetahuinya. Tidak perlu menyusahkan dirimu hanya untuk menjagaku."
"Maksud Nona apa?" Eunjung bertanya lagi.
"Perawat Hong..."
Wanita itu terkejut tatkala sebuah panggilan asing meluncur dari mulut Sohyun. Dua kata yang sudah lama tak didengarnya.
"Awalnya aku berpikir, jika Dokter Lee dipindah tugaskan. Kau juga akan berhenti bekerja di rumahku, tapi ternyata perkiraanku salah, kau tetap berpura-pura menjadi pelayan di rumah. Mengurusi orang sepertiku."
Eunjung menggeleng kuat, mencoba mengelak. "Bu...bukan seperti itu," ujarnya tak yakin.
Tatapan sayu sendu Sohyun semakin menebal menghias wajahnya yang pucat. Wanita yang seharusnya ia panggil kakak itu tampak gelagapan menanggapi pernyataan yang ia buat.
"Sebesar apa pun gaji yang kau terima dari Ibuku, aku akan menggantinya ... jadi bisakah kau berhenti saja, mulai saat ini dan seterusnya?"
Penawaran tak terduga datang dari Sohyun. Eunjung mendesah, mengusap kasar rambutnya yang seketika menjadi berantakan. Bagaimana mungkin Nonanya berpura-pura tidak tahu? Selama bertahun-tahun lamanya dirinya menjadi pelayan rumah yang bahkan jarang dianggap ada. Dan sekarang ... Eunjung tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Sohyun.
"Kenapa Nona bicara begitu? Apa keberadaanku membuat Anda tidak nyaman?"
Sohyun tersenyum miring. Merasa bahwa Eunjung telah salah mengartikan permintaannya. Diraihnya telapak tangan yang mengepal sedari tadi, memberi usapan lembut persis yang dilakukan Eunjung padanya.
"Rawatlah lebih banyak orang. Dibandingkan aku, di luar sana masih banyak yang membutuhkan dirimu. Bukan karena aku sudah tak butuh, tapi ini sudah cukup bagiku. Kau tidak perlu lagi menghangatkan masakan yang ditinggalkan Ibu atau memintaku memperhatikan kondisiku. Semua yang kau lakukan sudah lebih dari yang aku butuhkan selama ini.
"Kau tahu, Hong Eunjung ... ada kalanya aku muak. Merasa jenuh pada diriku sendiri. Aku merasa tidak mampu melakukan banyak hal. Semua orang di rumah, terlebih Ibu, selalu melihatku dengan tatapan kasihan yang paling aku benci."
"Nona, kumohon cabut kembali perkataanmu," pinta Eunjung, tulus memohon.
"Sekarang sudah saatnya kau bebas dan penuhilah janjimu pada keluargamu."
Bibirnya terkatup, Eunjung tak bersuara setelahnya. Kalimat terakhir Sohyun menjadikan dirinya gagap. Teringat akan janjinya pada kedua orangtuanya, bahwa dia akan jadi seorang perawat yang mengabdi pada banyak orang.
"Kita akan lebih sering bertemu setelah ini, di tempat ini, Perawat Hong."
Eunjung mendongak, menatap nanar wajah Sohyun yang tersenyum simpul memandanginya. Eunjung merengkuh tubuh majikannya dengan erat. Memberikan pelukan yang sudah pasti jarang didapatinya dari seorang Ibu.
Jaehyun tercenung di ambang pintu. Tubuhnya kaku di tempat—tangannya menggantung. Pria yang tanpa sengaja ingin mengunjungi pasiennya itu tak mengira akan disuguhi sisi lain Sohyun. Wanita yang diam-diam mengetahui banyak hal di balik wajah datar dan sikap masa bodohnya.
Dari sana ia dapat melihat sedikit, dua orang yang masih saling peluk.
Di tengah pengamatan Jaehyun yang tak beranjak atau minimal mengakhiri aksi tidak sopannya itu, seseorang menepuk punggungnya, menjadikan Jaehyun terkesiap dan refleks membanting tubuh seseorang yang kini meringis memegangi anggota badan yang mendarat kurang mulus di lantai.
"Kau?!" Jari telunjuknya menukik tajam, menunjuk wajah kesakitan sang adik yang masih terduduk di lantai. Jaehyun buru-buru menutup pintu kamar inap Sohyun. Akan sangat memalukan jika dirinya ketahuan mengintip.
"Singkirkan tanganmu." Taehyung menepis lekas berdiri sejajar dengan sang kakak.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Hampir saja aku kena serangan jantung, mengagetkan saja!" Jaehyun menggerutu lantas menarik Taehyung agar jauh-jauh dari ruang rawat pasiennya.
"Siapa yang kau perhatikan di dalam sana?" tanya Taehyung saking penasarannya. Kepalanya menengok ke belakang, ke arah tempat yang jadi perhatian Jaehyun. Walau baru tiba beberapa menit, memperhatikan Jaehyun yang berdiam tak bergerak saja sudah mengundang rasa curiga bagi Taehyung.
"Sstt... Bukan urusanmu." Jaehyun semakin cepat, mengeret tubuh Taehyung pergi dari sana.
🔔
"Jadi secara tidak sadar, kau telah berhasil menemui sahabat kecilmu?"
Taehyung mengangguk-anggukan kepalanya mendengar kesimpulan Jaehyun. Setelah debat—adu mulut bak anak kecil, mereka saling bertukar cerita di ruang kerja Jaehyun.
"Dan sekarang aku harus bisa menaklukkan Paman Choi Jonghoon, supaya dia mau buka mulut dan mengizinkan aku bertemu lagi dengannya," Taehyung menyahut penuh semangat menggebu-gebu.
"Kau bilang siapa tadi?" Jaehyun merasa tidak asing dengan nama seseorang yang baru disebut Taehyung.
Dahi lelaki itu berlipat, terlihat berpikir. "Siapa? Ah, maksudmu Paman Choi?" ucapnya, menebak.
Jaehyun berdengu setelah memastikannya. Choi Jonghoon, termasuk pria yang dekat dengan Sohyun. Bertugas sebagai asisten yang dipekerjakan Nyonya Hwang di rumah, khusus mengawasi putrinya.
"Tadi kau bertanya, setelah aku jawab malah melamun," dengus Taehyung menyenggol lengannya.
"Siapa yang melamun?"
"Kau diam dan pandanganmu tak fokus!"
"Kata siapa. A-aku tidak melamun."
Seseorang tersenyum masam memperhatikan tingkah mereka dari balik pintu. Perlahan ia berbalik arah, memutar kursi roda yang didudukinya meninggalkan ruangan dokter tersebut. Niat hati ingin berkonsultasi, terpaksa batal karena menyaksikan adegan kakak beradik itu.
"Kebetulan yang menarik," lirihnya pelan, sambil terus memacu laju rodanya.
Sohyun berhenti setelah tiba di dalam kamar rawatnya.
"Anda dari mana saja, malam-malam begini?" Seseorang yang baru datang membuka suara. Sohyun tak perlu repot-repot berbalik arah pandang untuk mengetahui identitas pemilik suara berat itu.
"Ada yang harus Paman jelaskan padaku," titahnya tak terbantahkan.
🔔
"Kau tidurlah di sana!" Jaehyun menunjuk kasur lipat yang ada di lantai. "Aku mau mengontrol keadaan pasienku dulu,"pamitnya yang akan bersiap pergi.
Bukannya menurut, Taehyung sengaja mencekal pergelangan tangan Jaehyun—menahannya agar tidak sembarangan pergi.
"Yang benar saja? Bukannya ini waktunya mereka beristirahat? Ah, aku tahu, ini pasti akal-akalanmu saja untuk mengunjungi kamar VVIP 5 itu, bukan?" sergah Taehyung.
Jaehyun membuang napas kesal. Memutus kontak tangan Taehyung dari lengannya. "Pasienku yang satu ini menpunyai insomnia akut. Bahkan aku sendiri tidak yakin dia bisa tidur sampai esok hari."
"Alasan? Bilang saja kau ingin menemui seseorang ... kekasih mungkin!" celetuk Taehyung yang langsung mendapat tatapan angker Jaehyun.
"Jangan mulai. Cepatlah tidur dan pulanglah besok ... atau Ibu akan mengomelimu habis-habisan."
Tanpa mendengar sanggahan Taehyung, dokter muda itu segera melenggang keluar ruangan di tengah malam. Taehyung sampai jengkel, bersungut sebal menatap kepergian Jaehyun.
"Tidak bisa dipercaya," Taehyung berdecak, menyelimuti sekujur badannya hingga atas kepala, terlentang di atas kasur lipat yang dibatasi lemari berisi berkas yang tak tahu isinya. namun seketika dirinya terlonjak. Duduk memperhatikan pintu yang tertutup.
"Haruskah aku menyusulnya?" Bertanya-tanya seraya mengingat lagi ekspresi di wajah Jaehyun. "Ruang VVIP 5 ... aku yakin pasti ada sesuatu di sana!"