Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 16 : Berinaian Luka



     Siang itu, tidak seperti yang sudah-sudah, Sohyun keluar dari bilik toilet dengan keadaan mengenaskan. Baju yang dikenakannya renyuk, kotor, dipenuhi noda-noda makanan yang ia muntahkan dari mulutnya. Seminar tahunan yang diadakan pihak universitas berbuah malapetaka untuknya, Sohyun sukses dijadikan bulan-bulanan orang yang mempergunjingkan dirinya selama ini. Harusnya memang sedari awal, ia tak perlu mengikuti rangkaian acara tersebut, bila tahu akan jadi begini akhirnya. Ia mungkin menyesal, sekelebat rasa kecewa datang ketika tak seorang pun mau mengulurkan tangan. Entah apa jadinya jika Yeri melihat betapa kacau abunya dia sekarang, bisa jadi, teman satu fakultasnya itu akan melabrak dengan seabrek tumpahan emosi sembari menggaung misuh-misuh seperti tahun lalu—dengan kasus berbeda. Beruntunglah, Yeri tak hadir karena harus merawat ayah tirinya yang sedang ditimpa sakit.


     Tapi, bagaimana kalau sampai Ibu tahu?


     Gadis itu tertegun memandangi entitas dirinya yang tampil kusut di depan cermin wastafel. Penampilannya tak bisa dikatakan layak. Sesuatu yang buruk akan terjadi kalau benar Yoon eun mengetahui peristiwa yang menimpanya hari ini. Di balik sifat sewenang-wenang ibunya, Panca indranya tak akan salah merasai perasaan seorang ibu yang tulus menyayanginya. Bukankah ia amat egois kalau hanya fokus pada keburukan sang ibu tanpa melihat sisi baiknya?


      Berbohong ataukah membungkam Jonghoon lagi?


     Tidak keduanya. Bukan kedua pilihan tersebut. Ia bertekad akan mencari jalan lain, asal Yoon eun tak mengetahuinya dari mulut siapapun. Sohyun hanya takut, identitasnya akan terbongkar. Ia mau menjalaninya dengan sewajarnya, tanpa melihat stratanya di lingkungan yang ia tinggali. Lama tubuhnya berstagnasi di dalam sana. Bagai patung, tapi Sohyun bukanlah patung apa lagi arca yang sengaja dipajang cuma-cuma. Ia hanya ingin menikmati kesendiriannya sekaligus mengisi daya usai berjibaku dengan keriuhan satu jam lalu. Acara itu berakhir rusuh disebabkan olehnya. Walau Sohyun sendiri sama sekali tidak memiliki niatan apa pun untuk menghancurkan. Hampir saja ia ambruk ketika banyak moncong tajam mengarah padanya. Perlakuan diskriminasi berlebih untuk orang yang bahkan enggan mencari gara-gara sepertinya.


     Tak lama berselang, seseorang melangkah lebar mendekat padanya. Sepatu Nike hitam dengan pola garis putihnya mengentak lantai toilet yang sebenarnya hanya diperuntukkan kaum hawa, namun lain lagi bagi lelaki itu, sepertinya aturan itu bukan suatu hal yang patut dipermasalahkan. Menurutnya semua tempat sama. Androgini. Menjadikan dia dijuluki 'Si tampan tak punya etika'. Dibuktikan olehnya, siulan riuh rendahnya mengangkasa, menghantar getaran yang ditangkap indra pendengaran Sohyun.


     "Selain bisu, kau ternyata juga bodoh!"


     Sohyun tergugu. Sejemang, secuil senyum tipisnya terbit, mendengar kalimat bernada cacian dari sosok lelaki yang pernah mendebat dengannya beberapa waktu lalu. Dari kaca persegi, Sohyun bisa melihat betapa banyak aura mengejek yang akan segera dilepaskan pria bermarga Jeon itu. Sangat berbanding dengan perlakuannya ketika mereka berhubungan sebagai pasangan kekasih, walau semua sandiwara belaka.


     "Kau terlalu sering berpura-pura. Sampai-sampai kau tidak bisa mengenali dirimu sendiri."


    Sayang kalimat kedua Jungkook belum mampu menggugah keinginan kuat Sohyun untuk meladeni. Gadis dengan fiil penuh rahasia yang tertimbun tanpa celah itu tetap bertendensi pada kebekuannya. Masih ingin mendapat hiburan gratis yang terpampang di depan mata. Kalau tidak begini, baginya tak akan seru.


     "Kau terlihat kampungan. Memuntahkan tenderloin di depan koki terkemuka Korea ..." Jungkook mendilak. "Semua orang mentertawakanmu, Sohyun. Tidakkah kau mengerti!"


     Tanpa melepas pandangannya dari kaca, Sohyun berkata, "Pertama-tama sekali aku katakan padamu, Jeon, aku tidaklah bisu seperti yang kau pikir. Aku mengakui bahwa aku memanglah bodoh, tapi ... aku rasa ada yang lebih bodoh dariku, terbukti ada seorang pria yang terus berakting selayaknya pacar, namun dia tak sadar bahwa wanitanya mengetahui permainan sandiwaranya."


     Sohyun menambahkan, "Kau benar, kalau aku terlampau sering berpura-pura. Bedanya, aku betul-betul amat mengenali diriku dibanding siapapun. Dan ... mengenai betapa kampungannya aku, seenak dan selezat apa pun daging sapi sentuhan tangan chef Baek Jong Won, tidak akan mampu membuatku tertarik menyentuhnya. Sekali pun aku begitu ingin menelannya."


     Jungkook mendadak merakah, walau sebenarnya kata-kata itu mutlak menggugurkan kepercayaan dirinya di depan seorang wanita. Kim Sohyun, untuk kali kedua memperlihatkan sifat arogansi. Persis sama kala malam itu, di mana, Jungkook dipermalukan tanpa hormat dan belas kasih.


     "Sepertinya orang-orang seperti dirimu lebih akrab dengan air keran dan mie instan. Tidak heran, kalau kau hanya memesan dua gelas air ketimbang tenderloin atau kaviar. Seleramu, amat rendahan, Nona Kim!" Jungkook berpura-pura lupa perihal sepuluh juta won. Kalimatnya serasa ingin ia telan kembali.


     Sohyun yang dihunjam sedemikian tajam hanya meringis geli. Ia gegas membalikkan badan, menatap sorot merendahkan milik Jungkook.


     "Terima kasih atas perhatian yang kau beri, Jeon Jungkook," katanya mengulas senyum seperti biasa. Tak ada raut sedih, yang ada senyum simpul merekah dari bibirnya yang pucat.


     Lelaki yang masih berdiri di hadapannya itu mengernyit, dahinya berparut dalam, atas hal ihwal apa Sohyun mengucap demikian. Terima kasih yang tak sepatutnya gadis itu beri pada orang serupa dirinya.


     Jungkook hendak menyangkal, sebab baginya tak perlu Sohyun repot-repot membuang tenaga untuk membalas makian yang baru ia lontarkan. Sejenak lelaki itu terdiam, mengamati air muka tak biasa Sohyun. Gadis itu---Jungkook merasa ada sesuatu yang salah, entah ini berdasar pada penglihatannya ataukah wajah Sohyun yang diliputi likat kesenduan tiba-tiba.


     Sohyun tak perlu menjelaskan apa-apa. Ucapan terima kasihnya, adalah rasa senangnya mendapati Jungkook sedikit menaruh peduli terhadapnya, meski kata-katanya terucap demikian ketus, Sohyun amat memaklumi, karena lelaki yang sempat menjadikan dirinya ajang taruhan itu, memiliki gengsi tinggi.


     "Bicaramu sangat mengerikan," sembur Jungkook untuk terakhir kali. Dia pergi dari toilet wanita dengan perasaan campur aduk, sambil menggerundel betapa tahannya Kim Yeri berteman dengan monster yang ditujukan pada Sohyun.


     Ekor matanya memperhatikan perginya lelaki itu. Susah payah Sohyun bertahan untuk tetap berdiri hingga tubuh lelahnya mengingsar, terduduk di lantai dengan kepalanya yang merunduk. Sohyun memejamkan mata, merasai pelbagai sakit yang menyerang datang. Tak lama, getar nada gawainya mengambil alih kesadarannya yang mulai menyusut. Bangat ia meraih benda tersebut, yang terus bergetar ingin disentuh tangan lembut pemiliknya.


     "Ada apa?" Samar suara seraknya terdengar. Nyaris 180° berbeda ketika suara tenangnya menyambut pendengaran Jungkook.


     "Di mana kau sekarang?" Suara pria dari seberang bertanya.


     "Masih di universitas."


    "Hasilnya sudah keluar, bisakah kau datang kemari."


     "Maaf, aku tidak bisa."


     "Ini menyangkut dirimu, Sohyun..."


      "Hari ini aku sangat sibuk. Lebih baik katakan saja sekarang."


      "Aku serius."


       "Aku juga serius," tengkar Sohyun. "Aku sudah siap mendengarnya. Beri tahu aku sekarang saja."


       "Sirosis."


      Sohyun tak menyahut setelahnya. Satu kata dari Jaehyun membuatnya merenung dalam-dalam. Sirosis bukan hal asing baginya, Sohyun mengenal penyakit itu dari mendiang ibu kandungnya, itu pun hasil curi dengar dari cerita Yoon eun.


    "Kau masih di sana?" Jaehyun bertanya lagi, memastikan keadaan lawan bicaranya yang sudah pasti syok.


     "Aku tutup teleponnya, kita bicarakan lain kali."


     Jari telunjuknya lebih dulu mematikan sambungan telepon sebelum mendapat timpalan dari si penelepon. Sohyun seakan tidak peduli dengan agresi yang mungkin akan ia dapat. Jaehyun sudah sering uring-uringan padanya, jadi bukan masalah besar. Itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan perangai ibu angkatnya ... Hwang Yoon Eun.


     Ibu ... sebentar lagi aku bisa merasakan kesakitanmu. Berbahagialah karena anakmu ini sudah amat lelah bertahan. Ayo kita bertemu, aku merindukan Ibu dan Ayah.


     Perempuan itu membatin sebelum isakan kecil datang menyeruak—epiglotisnya tertahan dengan erangan tatkala muntahan bening kembali keluar dari mulut. Wajah yang pucat lesi serta rasa tak keruan menjajah sebagian tubuhnya yang kadung dijalari gering.


Lama Sohyun bertahan di dalam toilet yang hening. Ia datang ke sini ketika kampus menyisakan separuh penghuninya, hingga malam hadir, meninggalkan tak lebih dari hitungan jari. Pelan-pelan ia bangkit, bertopang pada ujung wastafel. Menyeret dua kaki yang berasa berat tetal.


      Berjalan gontai, Sohyun mendekati pintu keluar. Dengan kondisi seperti ini saja, buruk baginya jika ada yang melihatnya. Daun pintu bergerak, pintu pun terbuka disertai temuan mencengangkan. Sohyun menghela napas berat, mengamati muka terkejut menyelimuti lelaki yang baru saja datang menemuinya. Jungkook yang memundurkan langkah sebab ketahuan olehnya.


     "Berhentilah menatapku seperti itu!" Sohyun bersuara, lantas memaksa sepasang kakinya berjalan sewajarnya melewati badan kokoh yang menghalang jalan. Jungkook refleks bergeser dengan pandangan bertanya-tanya. Laki-laki itu heran.


     "Kim Sohyun!" panggilnya setengah berteriak. "Apa kau ada masalah? Apakah sangat berat? Aku .... Kenapa kau menangis?" imbuhnya bertambah keras.


       "Aku bicara padamu, Sohyun-ah!"


"Dasar wanita itu," Jungkook menggerutu mengetahui Sohyun tak memberi sedikit pun respons. Ditendangnya tong sampah hingga berceceran isinya, sebelum melenggang ingin memberongsang. Padahal Jungkook yakin, telinganya tidak salah mendengar suara tangisan dari dalam.


🔔


      Pagi-pagi buta, Taehyung terbangun dari lelapnya. Sesuatu membuat semangatnya bertambah sekian lipat. Libur kerja, bukan berarti digunakannya untuk bermalas-malasan di atas kasur hingga sang surya menunjukkan diri. Gegas ia turun ke bawah, biasanya pagi-pagi sekali, Sewon, ibunya sudah berkutat di dapur bersama beberapa asisten rumah untuk memasak sarapan. Dan benar dugaannya, Taehyung yang baru berpindah pijakan dari lantai tangga ke lantai dasar rumah, mengalihkan atensi Sewon yang menata makanan di atas meja ruang makan.


     Taehyung menyapa, mengambil duduk di kursi sebelah kanan. Matanya berpendar melihat-lihat hidangan pembuka sebelum memulai aktivitas paginya.


     "Rumah benar-benar terasa sepi. Ayahmu belum juga kembali dari Swiss, kakakmu selalu sibuk di rumah sakit. Kau juga ... hanya di hari minggu saja bisa berada di rumah dan selalu pulang larut."


      Taehyung manggut-manggut seraya meminum susu UHT dalam gelas. Sewon sudah berkali-kali mengeluh perihal betapa kesepiannya ibu dua anak itu di dalam rumah bak istananya. Awal tahun lalu, putra sulungnya, Kim Jaehyun memasuki kepala tiga. Ia sudah lelah menasihati Jaehyun yang tak kunjung mencari istri sementara Taehyung seakan apatis terhadap rencana perjodohan.


    "Kau masih sering bertemu dengannya?" Sewon bersuara.


     Taehyung yang asyik melahap roti isinya mengangkat kepala, menengok kanan-kiri.


     "Ibu bertanya padamu. Tidak ada yang lain di ruangan ini, Tae!" jelas Sewon melihat si bungsu tidak peka.


      "Siapa?"


      "Sahabat perempuanmu."


       "Masih. Memang kenapa?"


       "Sampai sekarang kau belum memperkenalkannya pada ibu," kata Sewon. "Setidaknya pertemukanlah ibu dengannya, ibu sangat ingin melihat rupa sahabatmu itu, Taehyung."


       "Ibu tidak sedang bercanda, kan?"


     Sewon yang dibalas pertanyaan itu melengos. Baginya, Taehyung betul-betul menyebalkan pagi ini. "Berhentilah membuat ibu berang," ujarnya menatap tajam manik mata sang putra.


     Taehyung tergelak di tempat sebelum berdiri, menggeser diri ke sisi sebelahnya, menggelayut pada lengan Sewon. "Aku pastikan Sohyun akan datang ke rumah kita. Tiba-tiba saja aku dapat ide brilian, Bu."


     Sewon mengernyit dahi sejenak. Pandangannya mengarah pada kerlingan penuh maksud Taehyung. Jika sudah begini, pastilah ia akan dibuat mati penasaran. Ide cemerlang apakah, sampai Taehyung tersenyum-senyum serupa gila ****.


     Seusai menyantap setangkup roti guna mengganjal perut, lekas Taehyung pergi keluar, hendak olahraga pagi. Joging di sekitaran taman kota menjadi menu pilihannya, sama seperti yang sering ia lakukan selama tinggal di Amsterdam, berlari pagi saban kali mendapat jatah libur. Kakinya melangkah menjauhi kompleks perumahan elit, kawasan yang selama ini ia tinggali.


     Selama setengah jam, Taehyung habiskan dengan mengelilingi jalan simpang. Namun sejemang lelaki itu berhenti manakala dirinya melewati rute menuju perbukitan. Alhasil niat yang sempat menggelora akan menaklukkan jalanan kota pudar berganti semangat membara mengunjungi rumah sahabatnya.


     Udara pagi nan bersih terus terhirup, oksigen bebas kontaminasi zat berbahaya seakan merambati paru-parunya yang terpompa. Taehyung menyukai tempat ini, sesekali ia bersenandung di jalanan yang di tiap sisi kanan dan kirinya berjajar pohon pinus menjulang tinggi.


🔔


    "Bagaimana, apa dokter Kim sudah memberi tahu hasilnya padamu?" tanya Yoon eun, ia tujukan pada perempuan yang tengah mengaduk-aduk bubur di mangkuk, seperti enggan menelannya.


      Sohyun berdesus, menatap wajah ibunya. "Tuhan telah mengabulkan doaku, Bu."


       Awalnya Yoon eun tampak tak paham. Tapi setelah melihat senyum khas Sohyun, membuat tubuhnya gemetar, doanya... doa yang sempat ia dengar ketika putrinya itu diam-diam berkunjung ke gereja.


      "Apakah itu benar?"


     Pertanyaannya mendapat anggukan Sohyun yang bersiap melahap bubur tawar tersebut. Pagi tadi perempuan itu dengan manja meminta dibuatkan bubur karena akhir-akhir makanan yang masuk lebih sering ia muntahkan. Siapa tahu masakan ibunya itu mampu membuat nafsu makannya membaik. Sohyun juga tak lupa mengucap terima kasih sebagai balasan. Ia menghormati Yoon eun, melebihi batas, walau kadang dirinya sendiri bingung, mengapa ia begitu ketergantungan dengan wanita yang acap kali berbuat tanpa memikirkan perasaannya.


     "Ibu mohon padamu, untuk kali ini saja, jangan menyerah."


     Sohyun tengadah, sendoknya terlantar, karena kini fokusnya tertumbu pada Yoon eun.


     "Apa sekarang Ibu menyesal?" tanyanya ingin tahu. "Tidak perlu, Bu. Yang kau lakukan sudah cukup untuk menjelaskannya. Selama ini ... aku membiarkanmu bukan karena aku sudah tak peduli. Aku sadar, masih membutuhkan jasamu sebagai pengasuhku. Aku juga tak akan meminta, apa lagi merengek seperti orang gila, memohon agar kau bisa mengembalikan nyawa Ayah dan Ibu. Hukuman dariku belumlah berakhir, jadi nikmati saja sampai aku merasa puas."


     Sohyun lekas bangkit dari duduknya. Bubur yang baru sesuap memasuki saluran pencernaannya, terabai di atas meja. Baru dua langkah ia jajak, suara bel yang dibunyikan dari luar muka rumah mengalihkan rotasinya. Tanpa persetejuan dan kata-kata, Sohyun berbalik arah, menuju pintu utama. Yoon eun mendesus lagi dan lagi, melirik kecewa pada makanan yang masih utuh milik Sohyun.


     Sementara itu di luar, Taehyung menunggu. Menantikan pintu berlapis baja itu terbuka dari dalam. Sayup-sayup suara langkah kaki perlahan terdengar kian jelas di telinga. Pertanda jika seseorang mungkin saja akan segera muncul, membukakan pintu untuknya.


    Pintu bergerak, digeser hingga dilihatnya wajah yang selalu ia rindu datang menyapa. Senyum hangat yang khas terasa berbeda jika diberikan pasa seseorang yang ia cinta. Taehyung mengulum senyum, pertama menyapa.


     "Pagi!" katanya tersenyum malu.


      "Pagi. Sebuah kejutan kaudatang tanpa pemberitahuan."


     Pria itu terkikih pelan. Lantas menggandeng tangan dingin Sohyun, seperti ingin meminta sesuatu. Dengan tiba-tiba, didekatkannya kepalanya, membisik lirih di telinga Sohyun.


     Kepala Sohyun terangguk sesudahnya. "Baiklah," jawabnya setuju dengan ajakan Taehyung. Kalau hanya sebatas ke taman bukit, kenapa harus Taehyung berbisik untuk hal yang tidak perlu dirahasiakan.


     "Kurasa sudah lama kita tidak mengunjungi bukit, tiba-tiba aku terpikir untuk datang ke Enorty, bersamamu."


     "Kau benar, Tae." Sohyun kian semringah.


      Diam-diam, dari jendela Yoon eun memperhatikan semuanya. Matanya sedu, memerhatikan betapa bersahabatnya Sohyun dengan lelaki yang pernah mengetuk pintu rumahnya dahulu. Bocah kecil yang kini beranjak dewasa. Yang selalu berkunjung secara sembunyi di luar sepengetahuannya.


      Ia iri. Itu bukan isapan jempol, tatkala senyum berbeda Sohyun bagi pada seseorang yang mungkin lebih berarti dibanding dirinya. Harusnya ia sadar diri, posisinya sekarang tak lebih dari seorang pengasuh yang mengambil alih kekuasaan milik keluarga Kim. Hingga kini pun Yoon eun masih dihantui rasa bersalah, karena dosanya atas keterlibatan kematian kedua orangtua Sohyun.


      Gadis yang tak urung menjulur senyum itu telah berhasil menyiksanya. Air mata mengalir mengamati dua anak manusia yang perlahan pergi dari pandangannya. Yoon eun merasa kalah telak.