
Kaki-kaki itu tidak berhenti menjelajahi tanah hutan, bergerak tak tentu arah diburu nyalak teriakan berat para begundal yang terus meneror dengan lampu sorot senter di tepian malam. Taehyung enggan melepas tautan tangan Sohyun yang ikut berlari mengimbangi langkahnya yang panjang juga cepat. Wajahnya penuh luka bekas pukulan, usai memberanikan diri melawan. Akibat kalah jumlah, menjadikan Taehyung kalah, ia kewalahan, hingga satu-satunya cara adalah kabur sejauh mungkin dari kejaran orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Entah apa motifnya, hingga Sohyun menjadi buruan. Nasib baik, malam hari ini jatuh pada bulan penuh, mereka menggantungkan diri pada pantulan cahaya di langit untuk menerangi jalan terjal yang mereka lalui.
Sohyun tak banyak merengek ketika tangannya ditarik ke sana kemari, membelah jalanan asing yang belum pernah ia lewati. Ia bersumpah tidak akan melakukan hal semacam itu, di saat jiwa mereka sedang terancam bahaya begini. Gadis itu menaruh percaya pada Taehyung yang akan selalu melindunginya. Ia pun masih sanggup berlari walau sesuatu yang buruk mungkin akan segera menghampirinya—kakinya yang malang—tak lagi sekokoh dahulu.
Suara seseorang; salah satu komplotan yang mengejar mereka, mengatakan bila dirinyalah yang menjadi sasaran. Mereka menginginkan Sohyun. Taehyung bisa saja melepaskannya, membiarkan dirinya diangkut paksa oleh para penjahat tersebut. Sohyun tak akan marah seandainya Taehyung mau melepas dirinya. Ia rela asal Taehyung tak terluka karenanya. Mati sekarang atau nanti, sama saja baginya. Namun sifat kepala batu Taehyung seakan sudah mendarah daging, pria itu bertekad akan melindungi dirinya, apa pun yang terjadi, menjadikan Sohyun dilema.
Tiga puluh menit sudah mereka berlari, merasa telah jauh masuk ke dalam belantara hutan, Taehyung menuntun Sohyun untuk beristirahat sejenak di bawah pohon buraksa besar di dekat aliran sungai. Napas keduanya memburu, deru panas yang menguap di tengah malam, memercik lenguh lelah tak tertahan. Taehyung tak jemu menggenggam jemari dingin Sohyun yang terpejam di sampingnya. Matanya awas melihat ke sekitaran, berjaga-jaga apabila gerombolan bandit itu berjalan mendekat. Senyap tergambar jelas di sana, kesunyian malam hanya diisi suara fauna penghuni hutan, dengan alunan deras sungai yang menerjang bebatuan di bawahnya, ditemani layar cahaya kelip-kelip yang berterbangan.
"Untuk sementara kita di sini, aku janji akan menemukan jalan pulang secepatnya, bersabarlah, Sohyun." Taehyung kian rapat menggenggam telapak tangan sang sahabat.
Sohyun tak menjawab, membuat Taehyung menolehkan kepala ke arahnya. "Sohyun..."
"Tae..., pergilah," potong Sohyun lirih.
"Apa maksudmu dengan menyuruhku pergi?" Taehyung terkejut tak mengerti. Menatap penuh tanda tanya.
Sohyun yang semula menunduk, memberanikan diri menatap raut penasaran Taehyung. Tampak mata lelaki dihadapannya itu tersentak usai melihat wajahnya.
Sinar redup si api-api tak akan mengaburkan pandangan Taehyung. Hatinya tak tenang menyaksikan kulit sahabatnya memucat seputih mayat. Ia genggam tangan Sohyun, meraba muka yang berkeringat dingin itu ngilu.
"Kau sedang sakit?" tanyanya semakin khawatir.
Sohyun ikut mengusap wajah lelaki yang dipenuhi luka karenanya, ia terisak sebelum menjawab pertanyaan Taehyung. "Mereka mengincarku. Aku hanya cukup menyerahkan diri, maka pergilah dari sini."
Taehyung menggeleng cepat, tidak habis pikir dengan ide gila Sohyun. "Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kita akan pergi sama-sama. Kita... kau dan aku akan pulang bersama!"
"Tae..."
"Cepat temukan mereka berdua!"
Sohyun tersenyum penuh arti menatap ke arah Taehyung. Dengan lirih dan begitu hati-hati, ia memohon sekali lagi. "Kau dengar itu, kau bisa mendengar langkah mereka kian dekat. Aku tidak bisa pergi bersamamu, Taehyung," ungkap Sohyun putus asa.
"Kenapa tidak bisa? Ayo! Kita harus pergi sebelum mereka menemukan kita!" Taehyung menarik lengan Sohyun, namun Sohyun melepasnya, secara tak langsung menolak ajakan Taehyung yang mulai panik.
"Pergi dan cari bantuan. GPS di ponselku selalu aku aktifkan, kau bisa mencariku melalui itu. Selamatkan dirimu, Taehyung. Aku janji padamu, aku akan baik-baik saja. Jika aku menurut, mereka tidak akan berbuat buruk padaku. Kali ini saja, kumohon percayalah!"
Taehyung bimbang. Di saat seperti ini ia diharuskan memilih dengan cepat. Ia tak tahu apa alasan Sohyun menolak pergi, apa yang membuat gadis itu bersikeras memintanya pergi? Seandainya saja, andai saja ponselnya tidak mati dan terkendala sinyal, sudah sejak tadi Taehyung akan meminta bantuan, serasa keberuntungan sedang mengejeknya, memerangkap dalam kondisi urgensi.
Semakin lama Taehyung membuat keputusan, semakin dekat pula derap kaki yang mengoyak-ngoyak semak belukar rimba.
"Sohyun, ayo kita segera pergi dari sini!" pujuknya sekali lagi.
"Aku tidak bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak bisa berjalan."
Taehyung membelalakkan mata, ketika Sohyun bersuara lagi. Ia tatap kedua kaki yang membujur kaku di atas akar-akar lebat pepohonan yang mereka duduki. Kaki yang terlihat kejat.
"Aku tidak ingin membebanimu. Daripada kita tertangkap, lebih baik salah satu diantara kita selamat. Kau masih punya kesempatan, Tae, mengertilah."
"Aku..."
"Itu mereka!"
"Mereka di sana!"
"Cepat tangkap!"
Taehyung memicingkan mata ketika cahaya menyilaukan menyiram tubuhnya dan Sohyun. Senter putih itu bergoyang, mengarah pada dirinya yang belum juga mau bergerak, kendati suara tawa terkulum makin mengudara mengalahkan kerik jangkrik.
"Kau harus percaya."
Taehyung terenyuh bersama semakin melemahnya rengkuhan tangannya dari bahu Sohyun yang gemetaran. Kepalanya terangguk walau berat.
Sohyun tersenyum bahagia atas pilihan Taehyung. Laki-laki itu pergi. Berlari sejauh-secepat yang ia bisa. Membawa perasaan pilu melihat keadaannya. Tatapan yang membuat Sohyun lemah dan rapuh yang acap kali menghunjam demikian dalam.
Sohyun sudah siap menerima konsekuensi yang akan ia terima. Lima pria yang kesemuanya menggunakan penutup wajah, memagari dirinya yang telah terkepung serupa mangsa. Hanya perlu menunggu waktu.
🔔
Jaehyun yang merasakan perasaan tak enak sejak tadi, memutuskan keluar rumah. Pria itu beralasan ada pasien yang harus segera dioperasi malam ini juga. Beruntung, Sewon pun Haeyoung tak menaruh curiga, karena bagi mereka adalah hal biasa bagi Jaehyun yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit ketimbang rumah. Kini Jaehyun sibuk mengamati jalanan lengang di depannya, sambil tangan kanannya mencoba menghubungi sang adik yang tak kunjung kembali. Hasilnya nihil, kontak Taehyung tak bisa terhubung walau belasan pesan pun ia kirim.
"Apa yang mereka lakukan sebenarnya?" Jaehyun menggerundel memukul setir saking frustrasinya. Selang sedetik kelebat muncul melintas di depan mobilnya, kakinya refleks menginjak pedal rem, berdecit nyaring.
Napasnya tersekat, jika saja Jaehyun tak sigap, tubuh pria yang berdiri kesilauan di depan kendaraannya itu bisa saja tertabrak—terpental jauh terdorong bodi mobilnya. Ia gegas turun, mendekat pada sosok pria yang kini berjongkok dengan kaki bergetar.
"Apa Anda terluka?" tanyanya menyamai posisi orang tersebut.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa Anda berkeliaran di tengah malam seperti ini?"
Orang yang ditanya itu tak menjawab, justru gelengan kepala kuat yang bisa dilakukan.
"Kakak..."
"Di mana Sohyun?" desaknya.
Taehyung terisak, menangis haru di depan Jaehyun.
"Kim Taehyung! Jawab aku... di mana Sohyun?" Jaehyun semakin dibuat cemas, hingga ia tak sadar telah membentak Taehyung yang masih terpukul.
"Tolong Sohyun, ada orang yang ingin mencelakainya, kumohon... ayo selamatkan dia, Kak!" Taehyung mengatupkan kedua tangannya sambil mengiba di depan Jaehyun.
"Dia memintaku untuk meninggalkannya agar aku bisa mencari bantuan secepatnya. Dia bilang kakinya tak bisa bergerak, aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku mohon, selamatkan dia."
Jaehyun mengacak rambutnya berantakan. "Kenapa kau menuruti permintaan bodohnya? Apa kau tahu dia bisa saja..." Jaehyun tidak sanggup menyelesaikan ucapannya. Sementara Taehyung semakin panik dan ketakutan bila sesuatu yang buruk menimpa Sohyun, dan itu karena kesalahan serta keputusannya.
🔔
Tubuh kurus tak bertenaga itu terempas tanpa daya di atas tumpukan jerami kering dalam sebuah gudang penyimpanan. Tangan serta kakinya terikat pada tali bersimpul mati. Sohyun sudah berusaha keras melepas ikatan yang menjeratnya, namun semua percuma, tali panjang nan tebal itu sulit terbuka meski dirinya telah mengerahkan segala sisa tenaga yang dimiliki.
"Jadi kau orang yang selama ini membocorkan rahasia para petinggi Taebaek? Tidak kupercaya, kau hanyalah anak kecil yang mudah sekali tumbang."
"Nona Kim, Kim So Hyun... kudengar kau adalah seorang psikopat. Tapi kenapa setelah melihatmu secara langsung, kau tidak terlihat menakutkan seperti yang orang-orang bicarakan, atau jangan-jangan, kau sengaja membuat rumor seperti itu agar orang-orang sini menakutimu ya?"
Sohyun yang mendengar segala ujaran kecek dari dua orang di depannya sama sekali tak ada niat memberikan respons. Meski kini dirinya terkepung dan belum bisa melakukan apa-apa, tak akan semudah itu membuatnya dengan mudah memperlihatkan sisi lintuhnya. Ia tetaplah Sohyun yang akan selalu bersikap dingin terhadap orang asing. Bola matanya sama sekali tidak ada memperlihatkan ketakutan, tatapan tajam tersirat menantang, sekaligus mencemoohlah yang ia ciptakan, membingkai wajah pucatnya tanpa kendur. Sohyun tak akan gentar kali ini. Ia hanya cukup bertahan sampai bantuan datang atau mati mengenaskan di tangan para penjahat yang ia ketahui adalah suruhan seseorang.
"Sekarang kita lihat, apa yang bisa kau perbuat?"
Pria botak dengan tato memenuhi batang lehernya maju, sembari memegang kawat panjang yang terhubung pada aliran listrik. Sohyun terpaku di tempatnya, ia tak bergerak mundur atau maju, yang ada tatapannya fokus pada benda yang sudah pasti memiliki tegangan tinggi tersebut.
"Apa yang kau lakukan? Kita hanya perlu menyekapnya di sini, tidak sampai membuatnya terluka."
Satu rekan di sebelahnya memperingati, namun seakan tak acuh. Hong Chan tetap maju dan kini berjongkok sembari menarik dagu Sohyun.
"Ini tidak akan sakit, rasanya hanya seperti digigit semut saja, kau pasti akan menyukai sensasinya."
Sohyun yang semula geming dalam bisunya mendilak jengah. Ditatapnya dalam-dalam binar kekejaman pria berkulit tan itu sebelum berucap sarkastis. "Jika seperti ini... Anda jauh lebih layak disebut psikopat."
Hongchan terbahak-bahak hingga berlinangan air mata. Kawat yang akan diadu dengan kulit putih milik Sohyun pun terpaksa dijeda, hanya karena mendengar ucapan yang terlontar beberapa detik lalu. Tiga pria di belakangnya saja ikut bergidik menyaksikan sang ketua tampil serupa orang gila yang tak malu lagi mempertontonkan sisi iblisnya yang tak jua berhenti dari merakahnya.
"Lakukan saja, Tuan. Aku tahu kau pasti akan sangat menyukai sensasinya, ketika melihatku kesakitan karena ulahmu." Sohyun mulai berulah. Kata-katanya yang menantang itu memicu amarah Hongchan kian membeludak tak terbendung.
Sohyun tidak tahu, dari mana asal keberanian ini muncul, melihat Hongchan, seperti melihat Yoon eun. Hanya beda kelamin saja, namun keduanya sama-sama memiliki jiwa sakit, setidaknya itulah yang kini timbul dalam pikiran nakalnya. Seharusnya ia takut, berteriak meminta tolong atau setidaknya melakukan perlawanan. Sohyun berpikir dirinya tak normal, hanya karena tidak semua hal bisa ia lakukan salayaknya manusia standar. Ia hanya tersenyum sepintas, sebelum mendapat setruman kejut mengalir di tubuhnya yang ringkih. Beberapa berteriak histeris, samar-samar suara pukulan terdengar menyentuhi indra dengarnya yang pelan-pelan terkikis oleh sadarnya yang memudar. Ia jatuh. Menimpa paha seseorang yang sudah panik tak keruan melihatnya.
🔔
Taehyung masih menelusuri hutan dibantu Jaehyun. Langkahnya amat terburu berbekal arah GPS melalui perangkat seluler milik sang kakak. Langkah mereka terhenti kala melihat dua bayangan berkelebat, tampak tergopoh-gopoh berjalan mengikuti aliran sungai. Kecurigaan mereka bertambah saat satu dari dua orang tersebut terlihat membawa sesuatu. Sebuah tubuh yang tak bergerak dalam gendongan. Bersicepat kakinya melompat, menerjang semak belukar yang menghalangi jalan. Jaehyun mencegat sembari mengarahkan tongkat kayu ke depan, di hadapan dua orang yang saling berpandangan penuh kecurigaan.
"Kalian siapa?" Orang itu mundur, semakin erat pegangannya pada kaki yang terjuntai letih di belakang tubuhnya. Seolah takut bila Taehyung pun Jaehyun berniat macam-macam pada mereka bertiga.
Taehyung terpaku tak menjawab pertanyaan itu, yang ada matanya nanar melihat tubuh perempuan yang makin kentara adalah Sohyun. Ia mencoba mendekat, lalu dicegat. Seseorang menghadang. Tak jauh beda, wajah lelaki itu sama belurnya, seperti orang yang baru kena bogem mentah berulang.
"Sohyun..." sebutnya lirih.
Dua orang tadi mengarahkan tatap pada Taehyung bergilir dengan perempuan yang sedikit demi sedikit mendapatkan kesadarannya kembali. Gadis itu sanggup membuka matanya, menyungging senyum ke arah Taehyung yang memandanginya terluka.
"Kau mengenalnya?" Pria yang menggendongnya bertanya dan dibalas anggukan seringan bulu. "Dia sahabatku, Jeon."
Jungkook menghela napas lega, sempat takut apabila orang yang mencegatnya satu komplotan dengan para penjahat yang berhasil ditumbangkannya bersama Yoongi barusan. Yoongi yang kali ini membisu usai melihat wajah Taehyung dari dekat. Laki-laki itu diliputi rasa bersalah atas apa yang menimpa Sohyun dan pria yang menjadi mantan atasan sang ayah. Kalau saja dirinya tak sengaja mendengar obrolan ayahnya dengan orang-orang suruhannya, entah apa yang terjadi pada Sohyun, beruntunglah Jungkook mau membantunya. Sekarang ia bingung harus menjelaskan dari mana, karena Taehyung pasti akan mencari tahu sampai ke akar-akarnya, termasuk sang ayah yang menjadi dalang penculikan ini.
Taehyung lekas menggapai tubuh Sohyun yang lunglai ke dalam dekapannya. Air matanya luruh, haru menggayutinya yang teramat bahagia menemukan Sohyun. Lain hal dengan Jaehyun yang berdiri di sana, ia mulai waswas, mengingat lagi ucapan Taehyung, perihal kaki Sohyun yang bermasalah. Dan benar, gadis itu tumbang, membikin orang-orang disekitarnya terpekik khawatir. Lebih-lebih Taehyung.
Jaehyun mendekat tergesa, sekonyong-konyong dirinya berjongkok memeriksa tubuh gadis yang sudah jadi pasiennya itu. Nadinya lemah, napasnya hampir tak terasa, dan... sesuatu muncul, keluar bersama batuk yang menyerang, menggegar dada.
🔔
Decit suara mobil bergema di depan pintu masuk rumah sakit. Taehyung gegas keluar, membopong tubuh Sohyun yang langsung disambut brankar dorong. Jaehyun bergerak cepat memasang oksigen portabel sementara, seraya memasuki ruang ICU. Taehyung mengikuti dari belakang dengan pikirannya yang masih kalut.
Ia tertegun lama memandangi pintu yang tertutup. Membiarkan para medis memberikan pertolongan pada Sohyun yang tidak terlihat baik-baik saja. Jungkook yang baru tiba bersama Yoongi terengah akibat lari kalang kabut menyusul dua saudara yang sama-sama panik.
Ada hal lain yang mengganggu Taehyung, usai melihat sang kakak memasuki ruangan ICU, semuanya terekam teramat jelas, bagaimana laku Jaehyun dan para tenaga medis yang seolah mengenal betul Sohyun. Satu per satu kejanggalan mengelebat dalam akalnya yang tak mau berhenti mengurai benang kusut di dalam otaknya. Jaehyun seorang dokter spesialis penyakit dalam, apa mungkin Sohyun—
"Maaf..."
Suara pelan, amat lirih mengaburkan konsentrasi Taehyung, ia berbalik menatap Yoongi dengan dahi mengkerut. Menanti apa maksud pernyataan maaf yang baru terucap.
🔔
Yoongi bersimpuh di depan kaki Taehyung yang baru saja menghadiahinya dorongan keras, hingga tubuhnya terantuk bangku tunggu yang diduduki Jungkook. Mata sipitnya dapat melihat murka yang tertanam di wajah Taehyung selepas penjelasan jujurnya perihal keterlibatan Min Jaewoo, yang tak lain ayah kandungnya. Jungkook yang tidak tahan melihat situasi, menepuk bahu temannya, berdiri menatap wajah frustrasi Taehyung.
"Jika kau ingin melampiaskan amarahmu, tolong jangan di sini... aku harap kau juga paham di mana posisi kita sekarang. Lebih baik, urus Tuan Min, ini bukan salah Yoongi, ini salah ayahnya yang tidak terima kau memberhentikannya sepihak. Jadi selesaikan ini tanpa membuat keributan. Setidaknya bersyukurlah, karena dia," diliriknya Yoongi yang tengadah memperhatikannya bicara. "Sohyun berhasil kita selamatkan meski sekarang aku tidak tahu seperti apa kondisinya saat ini."
Lelaki itu berujar sedemikian bijak. Seperti bukan seorang Jeon Jungkook yang biasanya, Yoongi yang amat mengenal ***** bengek seorang Jungkook pun sampai terheran. Taehyung luruh ke lantai, memukuli kepalanya semakin menggila, kemeja putih yang dipakainya meninggalkan jejak darah, sebuah bercak dari Sohyun yang terkapar dalam pangkuannya. Ia tidak akan mengampuni Jaewoo yang sudah berani berbuat kriminal padanya, terlebih Sohyun. Taehyung benar-benar tidak menduga pria baya seperti Tuan Min mengambil langkah sejauh ini.