
Semenjak kalimat itu dilontarkan, merasuk ke rungunya yang tajam, sejak itu pula Sohyun terdiam lama, tergugu-gugu dengan tatapan yang muskil diartikan. Merenung, menimbang-nimbang, bisa jadi tengah mengawang bagaimana bila ia menolak atau sebaliknya. Sohyun larut, hanyut pada kegiatan berpikirnya yang dalam untuk menentukan sebuah keputusan. Tak mau gegabah, pun grasah-grusuh.
Gadis itu takut menyesal, tapi, bukankah hal lumrah apabila segala sesuatunya memiliki risiko? Kecil atau besar, begitupun atas pilihannya kali ini. Tipikal Konsekuen, Sohyun tak akan menarik kata-katanya, dan berpegang teguh pada sikap yang diambil.
Hatinya akan berkata jujur, dari kalbunya yang tidak mungkin berbohong, bahwa ia senang dan takut di waktu yang bersamaan. Senang karena Taehyung melamarnya, takut, jika ini akan jadi perpisahan yang menyakitkan untuk lelaki yang sama sekali tak memiliki dosa padanya. Melihat wajah ceria yang selalu dibubuhi rona merah, senyum kotak yang khas milik lelaki itu, menjadikan gelenyar ngilu pada perasaannya. Taehyung terlalu baik untuknya yang cacat. Dibanding dirinya, Sohyun lebih mengkhawatirkan pemuda yang tersenyum lembut itu, yang tampak tak sabar menantikan jawaban darinya, tatapan penuh harapan di kedua obsidian cokelat tua Taehyung membuat Sohyun menyerah.
"Aku terima apa pun pilihanmu."
Kalimat berasal dari Taehyung. Pria itu sudah terlihat putus asa, Sohyunnya lamban memberi jawaban yang membuat jantungnya berdebar abnormal sejak tadi. Taehyung pun sudah pasrah jika permintaannya ditolak. Ia mencoba mengerti posisi Sohyun saat ini. Berat sudah pasti. Taehyung menyadari betapa keras egonya selama ini. Tidak patut, sebuah hubungan didasari keterpaksaan. Yang ada, hanya akan menyakiti, membuat satu atau dua belah pihak merasakan pedihnya luka. Mereka akan terluka.
Namun perkiraannya salah. Taehyung terlangah, hampir-hampir arang serta netranya terbuka lebar, kala kedua tangan Sohyun terangkat.
Sohyun mendekapnya.
Menenggelamkan wajah di atas dadanya yang menderu tak keruan.
Gadis itu berucap sedemikian indah di rungunya, "I never know what the future brings. But I know you’re here with me now.
We’ll make it through and I hope you are the one I share my life with."
Apa barusan telinganya salah dengar, baru saja disaksikannya dari mulut Sohyun, menggaungkan penggal lirik lagu yang baru saja dinyanyikannya. Mungkinkah itu jawaban Sohyun? Seandainya ini adalah fragmen dari bagian bunga tidurnya, Taehyung ingin sekali tidak terjaga agar yang didengar bukan sekadar gurauan. Terlalu indah, apabila ia bangun dan mendapati realitas terlalu menyakitkan.
"Kau menerimaku?" Taehyung gagap.
Kepala Sohyun mengangguk. "Hari ini, aku ingin mengakui perasaanku ... aku mencintaimu, Kim Taehyung," aku Sohyun melepas rengkuhannya, menatap wajah merah Taehyung. Wajah pria yang sudah lama memegang kunci hatinya.
"Jadi ayo, kita menikah!"
Kepala Taehyung sampai mengangguk tak sabar. Air matanya luruh, menghidu dalam-dalam aroma tubuh gadis yang baru saja dipinangnya. Taehyung tidak tahu harus berkata apa, untuk mengekspresikan kegembiraan yang melanda. Aksi nekat, dan persiapan yang jauh dari kata sempurna, dapat meluluhkan hati wanitanya.
"Ya, secepatnya kita akan menikah, hari ini juga kita akan menikah!"
Taehyung tak bercanda dengan ucapan yang keluar dari lisannya. Ia benar akan menikahi gadisnya hari ini juga. Ia sudah mempersiapkan banyak hal, bahkan sebelum Sohyun sadar dari komanya. Sudah siap ditolak, bagusnya itu tak terjadi, karena Sohyun menerimanya. Semua karena buku harian Sohyun, yang tertinggal di rumah pohon, diam-diam Taehyung membukanya, membaca pengharapan Sohyun di halaman terakhir, Sohyun ingin menikah. Bersamanya.
***
Yeri masih asyik dengan kameranya, sementara ketiga pemuda yang masih jomlo di usia biologis, juga turut bahagia. Mungkin belum saatnya, Yoongi harus menjadi tulang punggung keluarga, semenjak seluruh aset sang ayah dibekukan lantaran terbukti kedapatan korupsi dana proyek Jin Gak. Jungkook masih santai, tak memusingkan hubungan dengan wanita sejak putus dari Sohyun. Ia fokus pada kesibukan barunya yang kini menjabat ketua organisasi mahasiswa dengan kegiatan amal di tiap minggu. Namun sesuatu sepertinya mengubah pandangan lelaki itu, kala matanya berserobok pada iris cokelat Kim Yeri. Gadis itu terlihat malu-malu, memalingkan muka saat tak sengaja mengarahkan kameranya ke muka Jungkook.
Dan Kim Jaehyun yang sendiri, diam-diam selalu diperhatikan dari jauh oleh Hong Eunjung, teman semasa sekolah menengahnya, menyeringai tipis. Melangkah santai mendekat Eunjung yang berdiri membelakangi.
"Tetaplah di sini," ucapnya memberi titah. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Barangkali ada yang ingin kau sampaikan?"
Eunjung gelagapan diberondong pertanyaan ganjil tersebut. "Bicara tentang apa?"
"Perasaanmu, mungkin."
"Perasaanku yang bagaimana?" Eunjung berpura-pura tidak paham.
"Apakah aku harus meminta bantuan Sohyun ... kalau kau mengakuinya, aku akan mempertimbangkan hubungan kita selanjutnya."
"Jangan membawa nama Nona Sohyun. Apa kau pikir aku tidak punya harga diri? Meskipun benar aku sangat menyukaimu, jangan harap aku mengemis cinta padamu!" Eunjung yang tidak terima, berdecak sebal.
Jaehyun terpingkal-pingkal, tangan kanannya menutup mulut guna mengontrol tawanya yang meledak, sedang satunya menepuk-nepuk bahu Eunjung, "Terima kasih, berkat pengakuanmu, aku tak perlu repot-repot bertanya perihal perasaanmu sekarang."
Damn!
"Itu ..." Eunjung kian terpojok.
"Apa salahnya mencoba."
Eunjung rasa kata-kata itu amat ambigu. "Mencoba?" tanyanya.
"Menjalin hubungan dengan cinta monyetku," celetuk Jaehyun mesem.
"Cinta monyet?"
Wanita itu sampai tertegun, tidak sadar Jaehyun sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk kabur. Eunjung rasa ada yang tidak beres dengan kata cinta monyet Jaehyun.
"Jangan-jangan ...," Eunjung pun membuntang. "Ya, Kim Jaehyun! Kaukah yang mengirim surat alay di lokerku?" Wanita itu memekik, tatkala pikirannya membawa ingatannya dulu di masa senior high school, di mana banyak surat berisi kata-kata puitis tergantung di lokernya dan ternyata pelakunya Jaehyun.
Semua tertawa, melihat tingkah dokter dan perawat itu. Saling berkejaran, tak peduli orang-orang yang menatap keduanya kekanakan. Kepalang tanggung.
Sohyun dapat merasakannya, berada di tengah tawa riang tanpa beban. Alangkah bahagia, jika orang-orang mampu sedikit menepikan susah kesah mereka. Mengambil waktu sesaat untuk tertawa, melepas penat, sejenak melupa. Apakah dirinya mampu melakukan itu?
Kadang Sohyun mengira dirinya seorang eccendentesiast, yang lebih senang hidup dalam kepalsuan seolah semua bukan masalah. Terjerumus dan terbenam dalam lukanya sendiri. Tak jarang memendam perasaannya dan buta untuk mengenali. Tapi, hari ini senyumnya lebih lebar, kekehan kecil dan disambung tawa renyah menguar. Ia tertawa, bukan mentertawai polah mereka yang lucu setengah konyol, dari lubuk hatinya, Sohyun mengakui, ia tertawa sebab bahagia.
🔔
Yoon eun menyeka bulir air matanya yang bergulir, jangan tanyakan bagaimana perasaan wanita itu selepas menyaksikan semuanya. Terlampau pelik tuk menjabarkan adonan rasa yang menetap di hatinya yang terenyuh. Sejak tadi, dirinya dan Woojin bersama orang tua Taehyung memperhatikan interaksi anak-anak mereka dari lorong rumah sakit. Sangat jelas. Mereka berbahagia, namun lain hal dengan Yoon eun ... suasana haru, perasaan takut kehilangan itu muncul dan entah hari ini, air matanya terus-menerus mendesak ingin keluar, seakan akan ada badai di tengah kebahagiaan yang menyelimuti anak muda yang bersuka cita di taman rumah sakit tersebut. Perasaan takut yang sama ketika mendiang putri tunggalnya pergi untuk selamanya.
"Mereka benar-benar serasi," komentar Haeyong yang segera diangguki Sewon yang menimpali, "Semoga semua berjalan baik."
"Ayo, kita ikut bergabung. Api lilinnya harus segera ditiup." Woojin buka suara, menunjuk kue ulang tahun di tangannya sebelum si lilin meleleh.
***
Padam.
Sohyun rasa di antara banyak hari yang pernah ia lewati. Dari ribuan itu, ini adalah yang paling membuatnya berkesan, tatkala penghuni rumah sakit berduyun-duyun mendatangi sekadar menyapa atau mengucapkan selamat. Nalar Sohyun sampai tak sanggup membilang berapa banyak doa serta harapan yang diberikan untuknya. Batinnya merusuh, tiada henti mengucap syukur.
Di belakang Sohyun, sosok lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya itu tersenyum memandangi. Melangkah santai sembari membawakan sebuah bingkisan. Kado yang sengaja Taehyung siapkan jauh-jauh hari untuk Sohyun. Sekotak kecil yang diselimuti kertas kado berwarna analogous kuning cerah.
Taehyung tak perlu menyibukkan diri, membentengi benda tersebut dari pandangan mata Sohyun. Ia sudah yakin, bila Sohyun mengetahuinya tanpa ia beri tahu. Namun, niatnya urung, kembali benda itu dimasukkan ke saku celananya. Menunggu saat yang tepat. Mungkin belum saatnya, dan Sohyun tak akan memaksa.
"Cuaca hari ini sangat bagus," ujar Taehyung berbasa basi, bari menengadahkan kepala ke petak langit yang ditumbuhi awan yang menjamur.
Melihat sekumpulan awan kumulus humilis yang lebih mirip kembang kol, membuat senyum Sohyun timbul. Sejuk. Sohyun tak merasakan dingin yang seringkali menderanya, hangat lantaran sinar matahari melesak di antara celah-celah awan kapas tersebut.
"Kita akan lebih sering melihatnya ketika musim panas tiba nanti."
Sohyun meneleng, setuju pernyataan Taehyung. Walau sejujurnya, dalam ruang kecil di ujung hatinya, Sohyun sendiri merasakan ragu. Ia harus menunggu kedatangan musim panas beberapa bulan lagi, lama untuk dirinya yang hanya diberi sedikit waktu. Sohyun diam-diam tak yakin.
"Gelembung busa," Sohyun berucap lirih, menatap manik sarat pendar penasaran Taehyung. "Biasanya ... dulu, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain gelembung busa di musim panas, tidak peduli seberapa terik hari itu."
Pemaparan Sohyun menjadikan gerak tawa eksresif Taehyung mengembang. "Ah, ya, kau benar. Rasanya sudah lama sekali kita tidak melakukannya—"
"Aku ingin kita melakukannya hari ini."
Pria itu bermenung, menatap wajah mengiba sekaligus asa yang menyerbak. "Kenapa harus hari ini?" Taehyung simpan pertanyaan itu dalam batinnya. Hari ini, berarti tidak ada hari lain lagi.
🔔
Seperti pasangan muda pada umumnya yang selalu menghabiskan waktu bersama, Taehyung dan Sohyun melakukan kencan pertama mereka, mengawalinya dengan sebuah gandengan tangan menyusuri jalan. Bukan ke tempat-tempat yang dijejaki keramaian, ingar-ingar kemewahan, baik di hotel berbintang, apalagi restoran kelas wahid. Melainkan, taman bukit, yang selalu dijadikan tempat favorit, sudah jadi pelepasan lelah spesial bagi keduanya. Bagi mereka, tidak ada satu pun tempat yang dapat menggantikan taman bukit Enorty, sekali pun Tuhan kan merayu dengan bongkahan gunung menjulang yang lebih baik. Kenangan di sini—terlebih di dalam rumah pohon—terlalu berharga.
Sejujurnya Taehyung penasaran, apa yang akan Sohyun lakukan setelah ini. Tidak tidak mungkin hanya sekadar bermain gelembung. Taehyung tak bisa menebak isi pikiran Sohyun dan ia pun lebih tidak suka menduga-duga hal yang tak ia ketahui. Masih menunggu gadisnya bicara, sebelum tiga puluh langkah lagi mereka menaiki tangga. Taehyung bahkan heran, mengapa dirinya jadi segugup ini di saat hubungan keduanya telah diperjelas.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?" Sohyun membuat pertanyaan yang sama persis dalam benak Taehyung. Lelaki itu berpikir serius.
"Menyelesaikan sketsa wajah kita atau mungkin menghabiskan air sabun ini," balas Taehyung sekenanya seraya memperlihatkan sebotol air sabun yang ia bawa. Hanya itu yang terlintas di otaknya. Namun Sohyun justru menggeleng. Jawaban Taehyung salah.
"Lantas apa?"
"Bernostalgia."
Satu kata Sohyun, mematikan langkah kaki panjang Taehyung. Pria itu memandang mata wanitanya dalam-dalam, dan Sohyun tak menghindar, membalas tatapan mata menilai itu lebih tenang sekaligus pilu.
"Aku selalu berharap bisa membuat banyak kenangan yang indah. Siapa tahu, kelak aku bisa mengenangnya dengan senyum lebar, sebab aku melakukan banyak hal yang dijejali kebahagiaan. Saat aku menginjak tangga pertama seperti ini ...," Sohyun memperlihatkannya kaki kanan yang sudah menapak di tangga pertama. "Muncul bayangan diri di waktu lampau, yang pernah terjadi sebelum waktu sekarang. Kita pernah seperti ini."
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, walau sebenarnya aku ingin," Sohyun menarik pergelangan tangan Taehyung. Menaiki tangga dan berakhir di bangku kayu yang menjuru barisan pohon di seberang bukit. Pohon pinus itu tidak lagi membeku ditindih lapisan es. Sekarang tampak segar, masih menyisakan bekas embun dari pagi buta.
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di jalan?" Taehyung bertanya dan Sohyun tersenyum mengangguk. Tentu Sohyun ingat.
"Saat itu aku mengenalimu," jawab Sohyun.
Taehyung menyenget terkejut. "Dan aku tidak sadar, bahwa kau adalah Sohyun yang ingin kutemui," ada sesal di tiap katanya, jika Taehyung mengingat peristiwa tak mengenakan itu, maka lebih condong rasa pandir yang menghantui karena menelantarkan sahabatnya di pinggir jalan, yang nahas dalam kondisi terluka.
"Jika kau tidak pergi, mungkin lonceng kembar kita tidak akan pernah tergantung di rumah pohon."
Atensi keduanya langsung tertuju pada benda kecil yang sesekali bergerak menimbulkan bunyi, kala kesiur bebas udara tiba. Begitu besar keinginannya memiliki lonceng itu.
"Rasanya menenangkan." Menutup mata, Sohyun hirup udara sebanyak-banyaknya. Mengais pasokan udara memenuhi rongga dadanya yang mendadak dilanda nyeri. "Ini sungguh pagi yang hangat," desisnya setengah menahan perih.
Taehyung menengadahkan kepala, menatap langit cerah. Benar kata Sohyun, bahwa hari ini, suhu dingin berganti, tersisih oleh hangat sengatan matahari.
🔔
Tidak lama. Hanya sebentar waktu yang mereka abadikan di taman bukit. Taehyung tak bisa menutup matanya untuk tidur di pangkuan Sohyun seperti biasa. Ia ingin habiskan banyak kesempatan untuk lebih sesering mungkin memandang tubuh perempuannya dan sikapnya itu dibalas senyuman mafhum Sohyun. Permainan gelembung busa berakhir tepat menjelang siang, Sohyun bahagia ketika jari-jari kurusnya dapat meletupkan banyak balon berbentuk bulat bening yang ditiup Taehyung. Serasa deja vu, katanya. Bagaimana dahulu seorang Kim So Hyun kecil melompat, bersijengket, mengangkat tinggi-tinggi badannya untuk bisa memecahkan balon air yang menyerbunya—sebanyak mungkin—sebanyak yang dirinya bisa agar mendapat hadiah bunga forget me not yang diambil langsung Taehyung dari lembah di lereng bukit. Bisa dikatakan, Taehyung adalah bocah pemberani yang tak mengenal takut pada curamnya jurang terjal yang siap melahapnya kapan saja.
Kelumit memori Sohyun membawanya pada nostalgia indah. Kenangannya belum mau bergeser, tak mau terganti meski kenangan-kenangan lainnya silih berganti berdatangan setiap saat. Beragam nostalgia selalu mendapati tempat khusus dalam diri Sohyun. Semuanya termanuskrip di lembaran buku hariannya, yang kali ini masih bersemayam di dalam laci rumah pohon.
"Harusnya kita menyiapkan banyak hal untuk pernikahan kita," tutur Sohyun lembut. Tangannya sepertinya enggan pergi, menyisir surai hitam Taehyung yang cepat sekali memanjang.
Taehyung terdiam sejurus, matanya sedari awal memang fokus melihat Sohyun yang tak henti mengelus rambutnya, sebab permintaannya yang manja.
"Kau ingin kita mempersiapkan apa?" Taehyung menyahut berat. Untuk ukuran keluarga kedua belah pihak, bukan hal sulit menyiapkan pelbagai hal kurang dari sehari.
"Hatimu."
Mematung tak berkata apa-apa. Ada apa? Apa yang akan terjadi dengan hatinya? Taehyung selalu ingin bersikap tak tahu-menahu. Bohong apabila ia tak paham arah bicara Sohyun. Bukan hanya hati, ia juga perlu mempersiapkan mental selepas ini.
"Aku sudah sangat siap, mengucap janji di hadapan Tuhan."
Walau bukan itu, Sohyun tersenyum senang. Mengusap wajah lelah prianya agar tak perlu berpikir macam-macam.
"Terima kasih. Untuk segala yang kau lakukan. Aku bahagia karena kau mau menepati janjimu untuk kembali. Terima kasih sudah membuat rumah pohon yang indah, maaf jika aku tidak bisa sering-sering datang ke sini lagi."
Menganjur tangan Taehyung, bertemu pandang pada mata Sohyun yang melorot memandanginya. Memegang tangan pucat di wajahnya sedih. "Apa maksud ucapanmu? Jangan bicara begitu lagi, suatu saat ... kita akan kemari, sebagai keluarga. Kita dan anak-anak kita kelak."
Gadis itu menangis dalam diam. Air mata yang menggenang, meluncur juga.
Sohyun runtuh di depan Taehyung. Berulang meminta maaf untuk apa saja yang tidak banyak yang bisa ia perbuat.
"Kita akan menikah, sebentar lagi kita bisa saling memiliki secara utuh, aku berjanji akan menjagamu."
Taehyung membuat janji. Janji yang kali ini tidak akan dirinya ingkari. Tidak akan lagi membuat Sohyun menderita dalam penantian. Digenggamnya semakin rapat kait tangan Sohyun, menyalurkan rasa nyaman agar wanitanya juga tak perlu berpikir yang bukan-bukan. Taehyung masih ingin menghabiskan waktu kebersamaan yang belum lama terjalin lebih panjang lagi. Bersama Sohyun.