Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 19 : Onak Beradisi



      "Untuk apa kau datang kemari? Kenapa bisa ... kau bisa bebas berkeliaran di sini!" Yoon eun menunjuk wajah pria itu dangan binar berang. Sementara yang ditatap justru tersenyum miring mendapati bentakan.  Pria seusianya itu mendudukkan diri dengan kaki menyilang penuh kepongahan. Tanpa mengendurkan senyum seringai yang sengaja ia simpan lama untuk sang wanita.


      


      "Kenapa tidak bisa? Aku sudah bebas sekarang. Tidakkah kau senang mendengarnya?"


       Makin jelas raut keterkejutan di wajah Hwang Yoon Eun. "Tidak mungkin. Kau pasti kabur dari penjara. Mustahil kau bisa bebas secepat ini! " Meraih ponselnya yang menggeletak, berniat menelepon pihak berwajib.


      Lelaki itu berdecak sinis. Mencekal pergelangan tangan Yoon eun cukup kuat, menjadikan empunya meringis sakit. Tanpa ada ragu, ia lempar—mengempas ponsel tersebut hingga remuk layarnya. Yoon eun memelotot tanda marah kian meletup dari pangkal hatinya.


       "Tidak cukupkah aku mendekam dua belas tahun di penjara demi dirimu? Atau perlukah aku ingatkan, siapa yang seharusnya ada di balik jeruji besi?"


       Tubuhnya tersentak kala pria di depannya membentak pelak. Yoon eun mulai gemetaran, sampai-sampai persendiannya melemah, merasakan serangan kata-kata tersebut berhasil membikin luruh keangkuhannya.


     "Han Woo Jin ..." Kepalanya menggeleng, melantunkan nama yang telah lama bersemayam di dalam memori kecil ingatannya.


     Woojin tetap geming. merasakan sesak melihat istrinya menangis bersimpuh di depan kakinya. Dia kembali bukan untuk ditangisi seperti ini.


🔔


     Entah sudah ke berapa kali Sohyun memainkan alat tulis yang dipegangnya. Ibu jarinya terus menekan ujung pena bola, membuka-menutup sembari menyaksikan sketsa wajah seseorang yang baru ia gambar. Ingatannya cukup baik, mengingat sesiapa saja yang pernah dilihat oleh matanya, dan Sohyun kali ini mampu mengabadikan melalui coretan hitam putih di atas kertas. Sosok wajah pria dewasa yang mulai berkerut. Sekilas tampak tak terurus dengan tumbuhnya kumis dan jenggot di muka. Seseorang yang pernah ia lihat belasan tahun lalu.


       "Apa yang akan terjadi setelah ini?" Sebuah pertanyaan lepas dari bibir pucatnya. Sohyun sedang menerka-nerka akan seperti apa jalan hidupnya jika Paman yang dahulu sempat menghilang, kini muncul walau sebatas bayangan pada tengah malam lalu.


      "Han Woojin... aku tahu itu kau," ungkapnya setengah berbisik. Sohyun telah tahu apa yang menimpa pria itu, karena Woojinlah ia kesulitan menjebloskan ibunya ke penjara. Akibat pengakuan palsu yang membuat ia dan Woojin sama-sama dalam keadaan terkurung lama. Cukup panjang gadis itu bermenung. Tafakur, melihat betapa lusuhnya penampakan diri Woojin.


     Diletakkan lembar kertas tersebut ke atas meja belajar, lantaran gawai yang selama ini bercumbu dengan laci gelap meneror rungunya. Nada getar yang mampu mengalihkan atensi. Sohyun menggapai benda itu, melihat si pembuat gaduh gawai miliknya.


      Sebuah pesan muncul, dari Kim Taehyung.


     Aku sedang di perjalanan. Sebentar lagi akan sampai, kau bersiaplah.


      Terima kasih, Sohyun.


     Oh ya, berdandanlah yang cantik!


      Senyum hangatnya terbit manakala mendapati isi pesan singkat tersebut terbaca. Ia sama sekali tidak tahu apa yang akan direncanakan lelaki itu. Pilihan kata Taehyung, ceples serupa orang yang akan berkencan. Padahal Sohyun hanya menghadiri undangan makan malam keluarga Taehyung. Sohyun lekas beranjak dari kursi, mendekati meja rias yang sesekali ia kunjungi demi menyamarkan penampilannya.


     "Kau hanya perlu terlihat baik-baik saja, Kim So Hyun. Hanya itu," ucapnya mematut diri di depan kaca rias, lalu meraih bedak dan lipstik, memoleskan pada wajah tirusnya yang selalu pucat lesi, juga menyarukan lebam yang mendiam di dagu kirinya.


      


      Sohyun memilih untuk langsung turun ke bawah. Menunggu di depan muka pintu, sedang pantatnya telah menempeli kursi kayu di teras rumah. Seojin yang sepertinya masih dibayangi perkataan Sohyun pagi tadi pun ikut menemani, khawatir bila ucapan sang majikan benar—perihal orang yang datang untuk mencelakai, lebih-lebih ia mecurigai adanya seseorang yang mengawasi rumah, kala Seojin keluar untuk membeli keperluan dapur siang tadi.


      "Bi ..."


      Seojin lekas menghadap pada panggilan lirih Sohyun. "Ya, Nona?"


      "Jangan beri tahu kejadian kemarin pada Taehyung."


      "Tapi, Nona ... tidakkah ini sudah terlalu jauh? Taehyung juga perlu tahu, bukankah Nona ingin segera lepas dari cengkeraman Nyonya Hwang?"


      "Kau pun juga tahu, risiko apa saja yang akan aku terima jika itu terjadi. Sebelum itu, aku harus mulai membiasakan diri untuk tidak selalu bergantung padanya. Bibi, tahukah kau, sesuatu membuatku ingin lebih lama lagi untuk tetap hidup? Karena Taehyung sudah kembali."


     "Hari ini ada undangan makan malam bersama Keluarga Kim. Aku memikirkan tentang makan malam yang akan kulalui semalaman suntuk. Aku akan mencobanya, Bi, makan malam yang sebenarnya, yang benar, seperti keluarga sungguhan."


     Seojin membeku, dia mengerti ke mana arah bicara Sohyun. Betapa merindunya gadis itu pada kehangatan keluarga yang didamba. Dan untuk pertama kalinya bagi Sohyun memakan masakan orang lain. Ia belum bisa mebayangkan, apakah sang majikan sanggup menelannya atau justru memuntahkan lagi masakan yang akan dihidangkan padanya, sama seperti yang lalu-lalu. Di tengah benaknya yang mengawang, lesing kendaraan terdengar mendekat.


      Sohyun semringah melihat mobil berjenis high SUV putih tiba di depan halaman rumah. Taehyung tampak keluar begitu mesin kendaraan dimatikan. Menghampiri Sohyun yang kini berdiri menunggu datangnya.


     "Hai!" Taehyung menyapa. "Aku tidak terlambat kan?" Sambil melirik jam tangan.


     Sohyun menggeleng. "Masih sore, Tae."


   Pria itu mengeret napas lega. Tidak sia-sia usahanya pulang lebih awal, demi bisa menjemput Sohyun yang akan ia perkenalkan pada keluarganya.


    "Ekhem!" Seojin yang teracuh, membelahak sengaja.


     "Oh, maaf, aku tidak sadar jika ada orang di sini." Taehyung menunduk malu di hadapan Seojin yang terkekeh.


      Seojin tentu tak merasa keberatan. Ia cukup memaklumi hubungan erat dua sahabat yang sempat terpisah lama itu. Maka setelah perbincangan kecil, Taehyung lekas membawa Sohyun menuju rumah kediamannya.


    


🔔


     Kedatangan Sohyun di rumah keluarga Kim di sambut hangat oleh Sewon selaku ibu dari Taehyung, hal yang sama dilakukan Haeyoung yang ikut senang melihat rupa yang mampu membuat Taehyung tiada hari tanpa menceritakan sosok perempuan yang kini duduk semeja dengannya. Alhasil, menjadikan merah di pipi Sohyun yang tersipu dibuatnya. Hal yang barang tentu langka—jarang ditampilkan Sohyun. Percayalah, bahwa Sohyun mulai merasakan nyaman, penyambutan ramah dan kehangatan yang ia terima, menambah kerinduannya pada orangtuanya.


     "Taehyung banyak bercerita tentangmu. Dia seperti seorang yang tengah kasmaran, suka sekali membahas apa saja mengenaimu, Sohyun."


      "Itu benar. Wajahnya yang kusut sepulang dari kantor langsung berubah cerah tiap kali membicarakan dirimu," Haeyoung menimpali ucapan istrinya.


      Sohyun tersenyum senang, lain lagi dengan Taehyung yang mengerucut bibirnya lantaran dijadikan buah bibir candaan ayah serta ibunya.


      "Jangan membuatku malu ..." ia berbisik, seakan mengode pada mereka agar segera berhenti. Namun tanggapan berbeda ditunjukkan orangtuanya, bukannya berhenti, Sewon semakin menggoda putra bungsunya semakin jadi.


       "Tidak harus sejelas itu kan, Bu! Kalian ingin Sohyun mentertawaiku? Bicarakanlah tentang hal lain di depan kekasihku ini!" Taehyung bersungut-sungut, tak sadar pernyataannya membungkam tawa di ruang makan, atmosfer di ruangan itu seketika lengang tanpa suara, termasuk Jaehyun yang baru pulang, pria itu terdiam. Mencerna dalam-dalam maksud kalimat terakhir yang dilontarkan sang adik.


      "Benarkah Sohyun kekasihmu?" Pertanyaan pertama terucap dari Haeyoung.


      Taehyung yang mulanya kelabakan berpikir keras, sebelum anggukan kepala darinya, membenarkan pertanyaan Haeyoung.


      "Karena aku sudah berhubungan dengan Sohyun, mohon Ayah membatalkan perjodohanku dengan putri tuan Li. Aku sangat mencintainya ..." diliriknya gadis di sebelahnya, yang sepertinya lebih syok dibanding yang lain.


      Sohyun memasang senyum manis, menatap manik mata yang memelas padanya. Taehyung betul-betul tahu cara memanfaatkan kondisi.


      "Aku juga ... sangat mencintai Taehyung. Aku merasa terluka, ketika tahu dia akan dijodohkan dengan perempuan lain." Ia gigit bibirnya saat kata-kata yang tak sepenuhnya bohong itu keluar. Sohyun memang terluka. Membayangkan Taehyung berdampingan dengan wanita lain jelas menorehkan perih duka, dan sekarang, secara tiba-tiba, Taehyung menyatakan hal di luar pengharapannya. Haruskah ia bahagia? Atau sebaliknya?


    Sewon menggamit jemari tangan Sohyun seraya berujar, "Kau tenanglah. Perjodohan tidak akan terjadi. Akan lebih baik jika keduanya saling mencintai tanpa ada paksaan. Ayah Taehyung juga pasti akan setuju."


     Lagi-lagi Sohyun tersenyum, ia dapat merasakannya, perasaan tulus seorang ibu. Dan terkutuklah dia yang ikut bersandiwara dalam kebohongan yang baru saja mereka buat.


     Tangannya mengepal kuat, Jaehyun merasakan sebat usai berita yang baru saja menusuk indra pendengarannya. Sulit dipercaya, batinnya mendengus nelangsa.


      Taehyung yang senang bukan kepalang, seketika bangkit dari kursi, memberi kecupan di kedua pipi ayah dan ibunya. Kegembiraannya kian bertambah-tambah kala melihat Jaehyun berdiri  di ambang pintu penyekat antarruang. Pria itu menyeru lantang, memanggil nama Jaehyun yang berlagak seperti biasa—seakan tak terjadi sesuatu yang memporak-perandakan hati.


     "Ayo, bergabung bersama!"


    Jaehyun pasrah diseret paksa Taehyung. Sebuah kebetulan, ia duduk bersebelahan dengan Sohyun yang mengulas senyum ramah ke arahnya.


    "Apa kabar, Dokter Kim," sapa Sohyun.


    "Baik," balas Jaehyun. "Sungguh kejutan besar, kau dan Taehyung mempunyai hubungan sedekat itu."


    Sohyun hanya tersenyum tipis, Taehyung yang duduk tak jauh darinya menyahut, "Jangan coba-coba menggodanya, dia punyaku!"


     Jaehyun melerok sepintas, seperti yang sudah-sudah, ia akan mencadai dengan gurauan seadanya, meski tak cukup guna memagari gering yang menjadi dalam diri.


     "Karena seluruh anggota keluarga sudah hadir, mari mulai acara makan malamnya. Sohyun makanlah yang banyak, aku perhatikan ... tubuhmu tampak kurus."


      Sewon mengambilkan sepotong daldogi panggang ke mangkuknya. Sumpit yang dipegangnya terjepit erat, Sohyun hanya sanggup memandanginya, di saat semua yang ada di meja makan bersiap menyantap hidangan makan malam yang tersedia.


       "Jangan dipaksakan."


      Sohyun terdiam, ketika bisikan Jaehyun menggema. Jaehyun, pria itu mengetahui tentangnya.


      "Aku akan mencoba."


      Jaehyun dengan kesal menyumpal mulutnya dengan bibimbap, mengetahui perkataannya tak diturut Sohyun. Gadis itu terlihat mengambil potongan daging ikan itu dengan tangan bergetar. Beberapa kali ia melirik perempuan yang terapit antara ia dan Taehyung, awal yang meragu, berubah kala gigi-gigi putihnya mulai mencabik daging empuk itu ke dalam mulutnya.


        "Bagaimana, Sohyun? Apa kau suka masakan ini? Haeyoung bertanya antusias.


        "Ya. Aku suka..." jawab Sohyun lirih.


       "Pyeonsu sangat enak dinikmati saat hangat, cobalah!" Giliran Taehyung memberi potongan pangsit berisi ikan untuk Sohyun yang segan menolak. Dia tetap menerimanya demi menghargai pemberian mereka. Meski sekali lagi, rasa mual mulai bergejolak.


       "Permisi ... aku ingin ke toilet."


      Taehyung berhenti mengunyah, melihat ke sisi kanannya. "Mau kuantar?"


     Menggelengkan kepalanya, Sohyun menolak. "Lebih baik telan dulu makananmu, selesaikan makanmu. Kau hanya perlu tunjukkan di mana letaknya, aku bisa sendiri, Tae."


     "Baiklah, Nona Kim. Toilet ada di sebelah sana, kau cukup jalan lurus lalu belok kiri," jelas Taehyung bak tukang penunjuk arah jalan.


      Sohyun bersegera beranjak dari ruang makan, mengikuti instruksi Taehyung yang patuh melanjutkan makan yang sempat terjeda. Jaehyun yang melihat gelagat aneh Sohyun akhirnya menyudahi makan, beralasan ingin istirahat di kamarnya, yang kebetulan melewati toilet.


       Jaehyun mematung ketika suara muntahan terdengar dari dalam. Dugaanya benar. Tangannya buru-buru membuka pintu, namun sial, pintu terkunci. Perasaannya makin tidak keruan, karena gadis itu tak kunjung keluar meski sepuluh menit sudah berlalu.


      "Apa kau baik-baik saja? Jawab pertanyaanku, Kim So Hyun!"


      Hampir saja Jaehyun tertunggang, ketika pintu terbuka mendadak. Beruntunglah ia sempat memundurkan langkah sebelum pintu fiber itu menghantam hidung bangirnya. Sohyun hanya memandanginya sekilas, sebelum melangkah pergi, melihat itu, Jaehyun gapah menarik tangan Sohyun, memaksa perempuan itu menghadapinya.


      "Kenapa kau berpura-pura lagi? Apa kaupikir bisa membohongiku?" semburnya pelan namun menggebu. Jaehyun tentu tidak ingin percakapannya diketahui keluarganya.


      "Aku tidak berpura-pura. Sama sekali tidak ada niatan membohongimu." Sohyun menatap wajah itu setenang biasanya.


     Jaehyun sampai berdecak, membiarkan senyum sinisnya lepas menghias muka masamnya. "Apa katamu? Besok pergilah ke rumah sakit, kita lakukan pemeriksaan lagi, mengecek abdomenmu."


     "Apa kau ingin aku melihat betapa mengerikan organ dalam rongga perutku? Sudah cukup aku melihat banyak sobekan bekas operasi setiap harinya, jika pemeriksaan itu hanya akan mengantarkanku untuk menjadi hewan potong para dokter, aku tidak mau. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengacak-acak tubuhku lagi."


     Sohyun menyegerakan langkah, mengabaikan Jaehyun yang terus berdengkus mengatainya egois. Cepat-cepat ia seka air matanya sebelum menjejakkan kaki ke ruang makan. Semuanya jadi buruk, ketika satu kebohongan baru tercipta.


🔔


     Taehyung tak tahu, apa kiranya yang menjadikan sebab Sohyun bungkam sejak sekembalinya dari toilet. Bahkan Sohyun tak sempat menghabiskan makanannya. Gadis di sampingnya itu hanya meneguk perasan jeruk hangat dan menjawab seperlunya jika ditanya. Bukan hanya dirinya, kedua orangtuanya pun sama herannya. Meski Sohyun terus mengatakan dirinya baik-baik saja, tak akan mampu menutupi raut sendu yang bersarang pada wajahnya.


      Berkali-kali sudah, Taehyung melirik perempuan yang terlihat fokus pada jalanan yang berlalu. Segan merengkuh nyalinya, mengkerutkan keinginannya untuk bertanya. Namun ini sudah berlangsung lama, ia harus segera mengakhiri sebelum kesalah pahaman terpahat jadi.


     "Kau marah, karena aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku?" Taehyung membuka suara, dengan satu pertanyaan yang berkelebat sejak keluarnya mereka dari rumah.


      Sohyun yang terpaku pada jalanan seketika menoleh ke arahnya. "Aku tahu kau ingin menghindari perjodohan itu, tapi, Taehyung ... haruskah kau berbohong pada orangtuamu, bagaimana kalau mereka tahu kita bersandiwara?"


      Taehyung menghela napas panjang, mengerti apa yang menjadi kekhawatiran sahabatnya. "Itu juga yang sedang kupikirkan. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya, agar Shen Nan menyerah mengejarku."


       Sohyun menampakkan senyum siputnya. "Kau berlebihan. Bagaimanapun aku juga seorang wanita, Shen Nan, walau aku belum bertemu dengannya secara langsung, dia pasti amat menyukaimu sampai tinggal di Korea dan membuka cabang di sini."


        "Hyun ..." Taehyung mulai memberengut tak suka.


      Paling tidak, ekspresi kecut Taehyung mampu mengembalikan senyum pun tawa kecil khas Sohyun. Pria itu menyukainya, amat mengagumi tiap ceduk di wajah handainya.


     Mobil masih berjalan pada kecepatan konstan, sabar menyusuri jalan perbukitan. Hanya perlu menempuh kurang dari sepuluh menit, mereka sampai ke tujuan—ke tempat tinggal Sohyun. Awalnya semua berjalanan normal, sebelum mata bugil Sohyun melihat dua kendaraan melintas di depan mobil yang mereka tumpangi. Kecurigaan Sohyun makin bertambah kala mobil jeep yang berada tepat 50 senti di depan sengaja memperlambat laju roda dan terus menutup jalan meski Taehyung beberapa kali membunyikan klakson. Tepat di tikungan terakhir, mobil hitam itu berhenti mendadak, menjadikan Taehyung ikut mengerem hampir menubruk badan belakang kendaraan roda empat di depan. Seseorang turun, dikuti langkah berderap tiga orang lainnya.


     "Siapa mereka?"


     Taehyung bertanya-tanya, waswas pada gerombolan para pria berbaju hitam yang berjalan ke arah mobilnya. Gelagat mencurigakan itu tak pelak membuat Taehyung berasumsi macam-macam, sebelum hal buruk terjadi, bersicepat ia tarik tuas kemudi, untuk memutar arah, nahas, tepat di belakang, mobil jeep lainnya muncul. Posisi mereka terjebak.


      "Apa pun yang terjadi, jangan turun!" tegas Taehyung, ia tujukan pada Sohyun yang jarang sekali menampakkan ekspresi khawatir. Meski dua-duanya sama sekali tidak tahu penyebab mereka dihadang di tengah jalan, tanpa banyak tanya, pastilah orang-orang itu memiliki niat tertentu yang jauh dari kata baik.


     "Cepat keluar!"


      Salah satu yang Taehyung yakini adalah ketuanya mengokang pistol ke depan. Sohyun terus memperhatikan dalam diamnya, menggamit telapak tangan kanan Taehyung, seperti saling memberi nyaman agar tak mudah terintimidasi dalam cemas. Hingga bunyi nyaring suara peluru mengangkasa, menerbangkan burung yang hinggap di pepohonan, berterbangan kalang kabut di temani lolongan hewan liar sekitar. Hanya ada dua pilihan ... lari atau mati.