Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 7 : Andai Kata



     Sepekan terlewat dengan sendirinya. Begitulah sang waktu yang akan terus berjalan maju, tak melambat atau sengaja dibuat cepat. Hari ini, langit terbentang, datang bersama mentari hangat. Surya menyinar pada berjuta makhluk di bawah kuasa-Nya. Dedaunan pohon maple di sekitaran rumah mulai berguguran, melayang tersibak angin tenang, kemudian jatuh membubuhi lantai bumi yang tak kentara lagi warna tanahnya.


     Gadis berwajah tenteram itu masih terduduk di kursi, menghadapkan diri pada jendela yang sedikit berdebu gordennya. Serasa sangat lama tak mendiami kamar yang hampir-hampir tidak terjamah tangan asing, selain dirinya. Ia semakin maju, menyibak tirai jendela kamar yang seketika tersinari baskara.


     "Musim gugur," katanya lirih.


     Dibukanya jendela kayu tersebut, menganjurkan tangan ingin merasakan helai daun yang terjun dari muara ranting pohon yang berdiri kokoh dekat pada dinding kamarnya. Selembar menimpa telapak tangan yang merah, daun kuning kecokelatan yang terlihat kering—sangat rapuh.


    Memandang lekat-lekat, bibirnya tergerak tipis. "Masihkah kau menungguku di sana?" Sohyun bertanya-tanya. Sejurus kemudian, ia alihkan obsidiannya pada sketsa wajah pria yang telah dibungkusnya dalam pigura. Terpajang rapi di sudut tembok.


    


     "Ayo kita bertemu. Aku tidak sabar untuk berjumpa denganmu."


     Perkataannya berakhir. Sohyun bangkit dari kursi rodanya. Menggerakkan kedua kakinya yang kebas, akibat terbaring tak sadarkan diri berhari-hari. Kini dirinya sudah ada di rumah, yang baru diinjaknya beberapa menit usai pulang dari 'nerakanya'---rumah sakit.


     Jika bukan karena Yoon eun akan pulang hari ini, Jaehyun, dokter cerewetnya itu pastilah akan tetap menahannya di rumah sakit lebih lama lagi. Setidaknya Sohyun bersyukur, dapat terbebas dari  kongkongan tempat terkutuk yang memjemukan hidupnya selama ini.


🔔


     Jonghoon yang tengah mengangkut barang keperluan Sohyun selama di rumah sakit ke dalam rumah, dikejutkan anak majikannya yang telah berpakaian rapi, tampil sangat anggun. Lekas ia menaruh tas berisi pakaian itu di atas meja, berjalan cepat mendekati Sohyun yang santai mengabsen anak tangga.


     "Anda mau pergi ke mana?" Bertanyalah Jonghoon. Tampak Nona Mudanya itu mengenakan pakaian kasualnya, dengan balutan sweater rajut dan sebuah biola sopran menggantung di tangan kanannya.


     "Menurutmu aku terlihat mau ke mana, Paman?" Sohyun balik bertanya.


     Pria dewasa itu menunduk sesaat, mengetahui kebebalannya. Jonghoon sampai menelan ludah bulat-bulat. Tas selempang butut berisi buku dan alat musik, sudah cukup sebagai penjelas, Nonanya akan pergi ke kampus.


     "Maaf."


     Sohyun tidak menjawab, memandang pria yang semakin bertambah kerutan di wajahnya. Baginya terlampau biasa bila melihat Jonghoon yang menaruh khawatir berlebih. Persis seperti Yoon eun. Ia kembali meneruskan jalannya, menuju muka pintu. Berharap setelah ini Jonghoon lekas membawa barang-barangnya di depan pintu kamar dan tak bertanya lebih.


     "Tunggu, Nona!"


     Sayangnya tak semudah itu, Jonghoon melontarkan tanya sekali lagi padanya. Sohyun berhenti berjalan.


     "Anda baru saja pulang dari rumah sakit. Apa tidak sebaiknya, Anda beristirahat sejenak?"


     Ia menghela napas panjang mendengar suara penuh kehatian-hatian milik Choi Jonghoon. Tanpa berbalik arah, Sohyun berujar, "Aku sudah beristirahat sangat lama. Cukup lama, Paman Choi."


     "Ya sudah, biar saya antar. Kebetulan saya tidak ada jadwal, Pagi ini saya kosong."


     Dan sekali lagi, seakan belum menyerah dan pasrah, Jonghoon menawarkan diri, datang di depan Sohyun yang memandanginya tak terbaca.


     "Rapikan pakaianmu dulu, Paman. Aku menunggu di teras."


     Setelah itu dan hanya itu, Sohyun berjalan lagi, mengabaikan Jonghoon yang mengelus dada, menghadapi fiil seorang Kim So Hyun.


     Maka bersegeralah laki-laki itu mengangkat tas yang masih teronggok lesu di atas meja. Membawanya ke depan pintu kamar Sohyun.


🔔


     Sedari tadi pagi, semenjak kedatangan Taehyung di ruang kerja sang ayah, lelaki itu terus memggeleng tiada habis pikir dengan tumpukan berkas pun arsip di depannya. Decakannya bertubi, seperti sempritan cempreng mengangkasa dari arangnya. Sulit dipercaya bahwa ia harus mempelajari dokumen penting yang jumlahnya berkali-kali lipat dari tugas skripsinya sewaktu kuliah.


     "Maksud Ayah apa? Aku tidak bisa!" protesnya, menolak titah Haeyoung.


     "Tidak bisa atau tidak mau?" Ayahnya menyahut.


     "Dua-duanya!" balas Taehyung singkat.


     "Pokoknya keputusan ayah, bulat. Malam ini kau harus datang sendiri menemui klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita. Bukankah sedari awal kau sudah setuju untuk menggantikan Ayah? Jadi terimalah nasibmu, Tae!"


     Wajah kusam tampak menyelimuti Taehyung. Tidak ada alasan untuk menolak jika Haeyoung telah berbicara seperti ini. Dengan hati berat, diangkutlah benda berbahan kertas itu dalam gendongan tangannya, nyaris menutup wajahnya yang hilang pandang.


     Dua jam cukup baginya berada di ruangan kerja bergaya klasik Romawi ini. Di mana busur atapnya lengkung, mengadopsi gaya Corinthian Yunani yang dipadu padankan dengan gaya Tuscan. Sudutnya terdapat tiang besar di sekat rak-rak buku yang difungsikan sebagai ruang baca perpustakaan. Haeyong si pengoleksi buku atau sang maniak buku, itulah sebutan yang tersemat dari Taehyung untuk ayahnya yang kebetulan dianugerahi otak kelewat cerdas, namun masih sering ceroboh dan adakalanya bertingkah jenaka.


     Pantatnya terangkat dari kursi. Sedang tangannya disibukkan dengan posisi mengapit berkas yang disortir Haeyoung untuk dipelajarinya dalam-dalam.


     Haeyoung sekilas memperhatikan putranya. Bocah kecil yang awalnya merengek-rengek telah beranjak dewasa. Bahkan Haeyoung sendiri lupa, ke mana putra bungsunya yang mengiba-iba menangisi kepindahannya dahulu, hanya karena merasa dipisah paksa dengan sahabat yang tak pernah seujung kuku pun ia lihat penampakannya.


     "Kau masih belum menemukannya?" Suara Haeyoung menghentikan gerakan kaki Taehyung.


     "Siapa?" Taehyung menyahut, padahal ia tahu siapa yang dimaksud ayahnya.


     "Siapa lagi?"


     Dia mendengkus, menaikkan lagi barang yang hampir melorot agar tak jatuh, berserakan seperti beberapa waktu lalu. Taehyung berdeham sebelum menjawab pertanyaan Haeyoung.


     "Belum."


     "Setiap hari kau mendatangi bukit. ayah harap kau segera berhenti mencarinya. Dia tidak akan menemuimu."


     Benar saja, berkas yang dipegangnya hati-hati itu bercecer di lantai. Taehyung menoleh, memandang tidak setuju.


     "Aku yakin dia akan datang. Aku akan pergi ke rumahnya lagi, besok!" tegasnya penuh tekad.


     Haeyoung terdiam sejenak. Ekspresi serius, dibalut emosi menggebu-gebu telah dipertontonkan Taehyung secara cuma-cuma di depan mukanya.


     Sejurus lamanya, Haeyoung terpatri di tempat. Sebelum dirinya berangsur bangkit ke hadapan Taehyung, menepuk lantak, bahu lebar putra bungsunya yang sudah pasti terheran akan perubahan tingkah perangainya.


     "Ayah suka semangatmu. Jangan menyerah," katanya terkekeh geli. "Anggap saja, ayah sedang mengetesmu. Hasilnya lumayan."


     Taehyung tersenyum jengkel. "Ayah hampir saja membuat jantungku melompat."


     Alhasil, jawabannya kembali jadi pemicu gelak tawa Haeyoung bertambah-tambah.


     Setelah bercengkerama lama, Taehyung keluar dari sana. Membawa barangnya dalam sekotak dus karton.


     Dia berbaring di atas peraduannya. Berguling resah di atas kasur empuk berseprai cokelat muda. Tangannya bergerak aktif, memijit dahi—Taehyung merasa pusing, memikirkan pelbagai cara agar segera bersua dengan Sohyun, sahabat yang sudah sangat-sangat ia rindu.


     Kemarin, tepatnya dua hari setelah kepulangannya. Taehyung menyambangi tempatnya dahulu menghabiskan waktu bersama sahabat masa kecilnya. Bukit yang menyimpan jutaan kenangan.


     Setibanya di sana, ia sempat dibuat terpukau mendapati taman itu masih sama ketika ia tinggalkan terakhir kali. Bahkan lebih terawat karena banyak ditumbuhi tanaman bebungaan. Didominasi tanaman lavender, hampir-hampir di sekitaran bukit dikatakannya sebagai padang keunguan. Ayunan kayu di bawah pohon oak, rumah pohon, pintu ajaib, dan ... Di antara itu semua hanya ada satu benda yang tetap dibiarkan teronggok bak sampah. Bangku yang tampak reyot nan lapuk layu. Dilekati arau bercendawan.


     Taehyung bermenung di sana cukup lama, menyentuh papan kayu seperti bekas dirusak. Mungkinkah Sohyun yang melakukannya?


     "Apa kau marah padaku? Maaf ini salahku pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa ...," tuturnya begitu lirih.


 


   Ia memandang benda itu, sebuah lonceng kembar yang selalu disimpannya. Dibawanya ke manapun ia singgah. Satu pengharapan terbesar Taehyung , ia ingin memberikannya pada Sohyun—menepati janjinya—tak peduli Sohyun akan memberi penghukuman padanya atau justru ... Taehyung tidak sanggup membayangkan, apabila sahabatnya itu akan menjauh.


🔔


     Mobil berhenti di kelokan terakhir sebelum menyisir jalanan Universitas Gangwon yang bersisakan jarak 200 meter dari posisinya saat ini. Sohyun segera turun, menenteng barang bawaannya. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih pada Jonghoon yang mengantarnya berangkat dengan selamat.


     Sudah lumrah bagi Jonghoon yang beberapa tahun belakangan setia mengantar jemput majikannya itu. Di depan bangunan tua tak terpakai, di sinilah ia biasa membunyi-hentikan lesingan mobil yang dikendarainya. Nona Mudanya yang keras kepala, acap kali memintanya berada di sini, menunggui sang majikan menyusuri trotoar sampai ke tempatnya.


     Desas-desus yang tanpa sengaja ia dengar menyebutkan, bila majikannya itu menyembunyikan segala macam identitas yang berhubungan dengan keluarganya. Itulah salah satu sebab, tak seorang pun tahu, baik latar belakang keluarga serta alamat tinggalnya.


     Jonghoon terus memperhatikan Sohyun dari dalam mobil, memastikan perempuan itu baik-baik saja sebelum tertelan di persimpangan jalan.


🔔


     Beberapa pasang mata menjurus padanya. Pada raga bernyawa yang bergerak lampai dengan tatapan tenangnya. Sohyun sampai di tempat tujuannya, menimba ilmu. Sebuah universitas swasta yang dikelola SanAng Company, anak perusahaan yang kebetulan ada di bawah naungan So Hang Group, yang kini beralih kuasa di tangan ibunya, Yoon eun.


     Sepanjang jalan yang dilaluinya, tak sedikit pula yang gemar berkasuk-kusuk perihal kedatangan Sohyun. Tak jauh berbeda di rumah sakit, mereka yang umumnya tak menyukai atau sekadar mendengar rumor tentang Sohyun berbisik tak sedap, dan sudah pasti Sohyun tidak akan pernah mau ambil peduli. Ia tetap lurus pada jalan yang ditempuh, tidak akan goyah walau aral mendatanginya.


     Dari seberang gedung auditorium, Yeri semringah, tak malu melambaikan tangan seraya bersijengket menghampiri temannya yang populer lagi misterius itu.


     "Sohyun!" Yeri menyeru senang, mencangkum tubuh Sohyun yang tersenyum tipis dimainkan Yeri seperti boneka.


     "Kau ke mana saja? Selalu begitu," dengusnya tambah erat mengalungkan lengan di leher janjang Sohyun.


     "Tidak ke mana-mana."


     "Kalau tidak ke mana-mana, kenapa kau melewatkan lima mata kuliah?" 


     Tidakkah kau tahu mereka ...." Yeri melirik sekumpulan anak-anak yang berdiri  tak jauh dari posisi mereka berada. " ... terus saja membuat darahku mendidih naik!"


     Sohyun tersenyum tipis saja. Satu setengah tahun belajar di sini, sejak kemunculannya, orang-orang menjadi sibuk mengomentari tiap jengkal yang ada di dirinya. Risih sudah pasti dan Sohyun, sekali lagi ia hanya akan anggap itu ujian hidup yang perlu ia lalui.


     "Tidak apa, Yeri. Sudah biasa."


     "Hufft..."


     Yeri lantas mengeret Sohyun ke kantin kampus, berhubung kelas akan dimulai siang nanti. keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Yeri tengah mengerjakan tugas yang diberikan dekan, sejak didudukkan pantatnya di atas kursi. Ia benar-benar lupa tugas harus dikumpulkan hari ini. Masih mujur, Sohyun mengingatkan dirinya. Entah apa jadinya, Yeri mungkin akan mendapat hukuman atau sanksi yang berpengaruh pada nilainya.


     Sedangkan Sohyun, dia tidak perlu khawatir karena tugas sudah dikerjakan jauh-jauh hari dan kini ia tengah asyik membaca sebuah novel horor, karangan Peter Straub 'A dark matter'.


     "Boleh aku bergabung?" Datanglah Jungkook, yang entah sejak kapan ada di belakang mereka berdua. Kepalanya telah menyembul, menganjur senyum manis terarah pada Sohyun yang memandanginya balik. Tanpa menunggu persetujuan, Jungkook mengambil tempat duduk di sebelah Sohyun yang tak lain adalah pacarnya saat ini.


     Yeri yang paham situasi, bersicepat memberesi barang-barangnya di atas meja. Meninggalkan pasangan itu, barangkali ada hal penting yang dibicarakan. Sohyun sekilas memperhatikan, dengan pandangan tak terterka.


     "Akhirnya kau datang. Yeri bilang kau absen beberapa hari berturut dan melewatkan banyak mata kuliah," Jungkook membuka suara.


     "Kau sepertinya sangat senang melihatku kembali," Sohyun bersuara setelah memberikan tanda lipatan kecil di ujung kertas halaman.


     Jungkook tersenyum lebar, "tentu aku sangat senang. Bisa melihat kekasihku yang cantik ini lagi."


     "Sebenarnya kau ke mana saja? Ada sesuatu?"


     Sohyun tak menggeleng ataupun mengangguk. Gadis itu tersenyum tipis kemudian menjawab penuh ketenangan. "Aku terlalu malu menceritakannya padamu."


     "Hei, kenapa harus malu? Kita sudah jadi pasangan kekasih? Apa kau tidak percaya padaku? Sampai sekarang pun, kurasa kau masih belum terbuka padaku. Kadang aku merasa seperti orang asing di matamu."


     Jungkook berpura-pura kesal. Terserah apa kata Sohyun. Ia tidak peduli. Baginya yang terpenting adalah bisa menuntaskan taruhan yang dibikin teman-temannya. Setelah itu, barulah ia bebas dari perempuan tak berhati nurani di depannya itu. Ia sudah cukup lelah berdusta. Sejak menjalin hubungan dengan Sohyun, pandangan orang-orang berubah tentangnya. Sangat tidak mengenakkan hati.


     Sepintas senyum miring terbit di wajah Sohyun. Bola matanya sejak tadi tak jemu memperhatikan gestur milik Jungkook. Sesuatu telah berhasil menarik perhatiannya hingga ia rela menatap lama-lama wajah tampan kekasihnya.


     "Apa ada hal penting yang ingin kaukatakan? Bicaralah. Aku akan mendengarkan."


     Pria itu tampak menggaruk-garuk kepalanya. Bersiap memulai obrolan yang sejak lama ia ingin utarakan. "Besok adalah hari jadi kita yang ke dua bulan," ucapnya yang diangguki Sohyun. Gadis itu betul-betul pendengar yang baik.


     "Aku ingin mengajakmu kencan. Apa kau ada waktu?" sambungnya bertambah gugup.


     Tak perlu lama membuang waktu. Sohyun dengan senang hati menerima ajakannya.


     "Bisa saja. Selalu ada waktu luang jika itu bisa membuatmu senang, Jeon Jung Kook," balas Sohyun.


     "Baguslah kalau begitu. Um... sebentar lagi kelas pertama dimulai, ayo kuantar ke kelasmu."


     Tanpa menjawab Sohyun lekas berdiri dari bangku yang didudukinya, berjalan menuju arah gedung musik. Jungkook hanya mengikuti di belakang tanpa banyak kata. Hubungan mereka tampak bukan seperti pasangan lainnya, Sohyun pun juga tidak ada gairah untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang seusianya. Karena tidak ada gunanya juga melakukannya bersama Jungkook.


🔔


     Di depan cermin besarnya, Taehyung tak henti-hentinya berjibaku dengan seabrek tumpukan pakaian yang porak-parik di atas kasur tidurnya. Hal itu dilakukan sebab malam ini juga, ia harus menemui klien penting sebagai mitra bisnis yang baru. Tentu ia tidak ingin mendapat kesan pertama yang buruk di hari pertamanya memegang jabatan tinggi Hondo Building Group.


     Usai berkutat lama, pilihan Taehyung jatuh pada jas single breasted berwarna hitam raven. Dipadukan kemeja cobalt dan dasi pin-dot bersimpul kecil.


     Satu kata, "Sempurna!"


    "Mari, Kim Taehyung ... ayo kita buktikan pada si penggila bulgogi itu. Kau pasti bisa!" ucapnya bersemangat nan kuat. Ia tujukan pada Haeyoung, ayahnya si penggemar makanan khas tersebut.


🔔


     Tak jauh berbeda dengan Taehyung. Sohyun terlarut pada pigura kecil di depannya. Sketsa wajah Taehyung masih di sana, tergantung tak ada yang mau mengusik. Ditatapnya sekali lagi lebih dalam.


     "Aku akan mengakhirinya malam ini juga."


     Satu kalimat yang lolos dari bibir mungilnya. Kata-kata yang tersirat mencabang makna. Tak ada yang tahu, apa arti perkataan Sohyun. Mungkin saja, setelah ini ia benar akan segera bertemu tanpa menghindar dari Taehyung ataukah ada maksud lain yang hanya dirinyalah yang mampu menelaahnya.