
Ini hari kedua, terhitung sejak dirinya memasuki rumah sakit yang selalu ramai bagaikan pasar. Berseliweran ke sana kemari dengan wajah pun ekspresi yang berbeda-beda di tiap menit-detiknya. Pemandangan yang lumrah, mengingat banyak orang datang dan pergi. Sedangkan di sudut taman rumah sakit Seongyu, yang jauh dari ingar keramaian ; spot paling lengang, Sohyun duduk bersemuka dengan bukunya—yang ia dapat dari Eunjung tadi pagi. Gadis itu terhanyut oleh buah tangan Erin Morgenstern. The Night Circus, cocok dilahap ketika pikiran mulai jenuh dengan jejal kehidupan realitas di sorenya yang membosankan. Ia merasa terlambat baru membaca novel yang telah terbit 2011 silam.
"Le Cirque des Reves." Ia gumamkan nama sirkus yang berkelana itu pelan sambil menyisir ke halaman berikutnya. Membenamkan diri pada fantasi yang sejenak membuatnya lupa pada kenyataan. Benar-benar mustahil dan tak masuk akal, pikirnya saat disuguhi kisah yang tertambat di halaman pertama. Namun lama-kelamaan, semakin dirinya larut, hingga menghabiskan setengah buku dalam sekali baca, walau sebenarnya ada beberapa yang ingin ia kritik dari plot yang tersaji dalam novel di tangannya.
Tempat ini adalah favoritnya, terpencil dari kemegahan rumah sakit berskala internasional tersebut, sebuah pohon maple berdiri kokoh, disambung sebuah kanopi kecil berbentuk lingkaran dengan bangku model minimalis yang hanya muat dua pantat para pendatang. Jarang sekali ada penghuni rumah sakit yang mau menghabiskan waktu di tempatnya singgah, mereka tahu ini adalah spot yang selalu ia datangi saban kali berkunjung ke rumah sakit. Seolah ini hanya diperuntukkan untuknya, padahal ini jelas disediakan untuk umum. Mereka takut dan Sohyun benci itu. Bukannya tak ada, namun amat sulit menemukan orang yang mempedulikan kehadirannya. Sohyun telah biasa, bila dirinya acap kali tak kasatmata. Kecuali seseorang yang telah lama menyaksikan perempuan itu dari kejauhan. Sosok pria yang akhir-akhir ini getol mengunjungi rumah sakit sepulang kuliah.
"Keluarlah, aku tahu kau di sana!" Sohyun menyeru tanpa beralih pada bacaannya yang menjajaki halaman ke 108. Sejujurnya ia telah tahu sejak awal berada di sini, namun semakin lama, ia mulai risih diperhatikan yang menurutnya lebih mirip ditelanjangi.
Pria yang jelas bukan Taehyung itu berjalan mendekatinya. Berdiri kikuk di belakang tubuhnya. Dia Jungkook. Yang entah sejak kapan semakin ingin tahu apa saja yang menyangkut dengan Sohyun.
Jungkook berdengkus sejemang menata diri. Ini aneh, terasa aneh bila ia berdekat dengan Sohyun yang notabenenya pernah ia jadikan kekasih mainan walau sesaat.
"Hai, Kim Sohyun," sapanya gugup.
Sohyun menutup bukunya, lantas mendongak guna melihat Jungkook yang kini berdiri, tengah menggaruk tengkuknya gelagapan. Memutar kursi rodanya ke samping kanan, agar dapat leluasa melihat ekspresi aneh yang tertampang di muka lelaki itu.
"Jangan menatapku seperti itu!" amuk Jungkook memalingkan muka.
Sohyun yang baru kali pertama mendapat semburan semacam itu hanya terkekeh saja, sebelum mulutnya mengeluarkan suara. "Apa yang membawamu sampai kemari?" ucapnya bertanya.
"Menjenguk teman."
"Benarkah?"
"Kau tidak percaya perkataanku?"
"Iya. Terlalu janggal. Tidakkah kau tahu, akhir-akhir ini ada seseorang yang terus saja membuntutiku? Dan sekarang orang itu menampakkan diri di sini. Kau pasti tahu kan, siapa orang yang kumaksud?"
"Tidak! Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu."
Manggut-manggut kepalanya sesudah mendengar jawaban ketus terlontar dari Jungkook. Tidak ada lagi Jungkook yang berkata manis di depannya, dan inilah sifat asli yang ia suka daripada bersandiwara berbulan-bulan lamanya, Sohyun rasa cukup. Cukup berdialog dengan mantannya itu. Maka dengan bukunya yang masih menuntut untuk lekas dibaca, ia berniat kembali ke ruangannya. Karena tak ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan pria urakan macam Jungkook.
"Kau mau ke mana?" Jungkook bersuara lagi, sesaat setelah Sohyun memutar kursi rodanya.
"Ke dalam. Kehadiranmu mendadak membuatku tidak fokus membaca."
"Kau menyalahkanku? Jadi aku adalah pengganggu menurutmu?" Jungkook tidak terima.
"Tidak. Kau salah paham."
"Lantas apa? Aku belum selesai bicara!" Tangannya yang panjang, meraih pegangan kursi, memaksa agar Sohyun tak ke mana-mana sebelum dirinya selesai menuntaskan niatnya datang sampai ke tempat ini.
Sohyun akhirnya mengalah. ia turuti tutur kata apa yang hendak disampaikan pria itu, sampai menahannya begini. "Sekarang bicaralah. Waktuku tidak banyak, jadi cepatlah katakan ada apa?"
"Yeri mencarimu?"
"Kau tidak pernah masuk kelas seminggu ini, Mr. George juga sering uring-uringan karena kau tak juga memberi kabar. Yeri khawatir posisimu sebagai pianis akan digantikan orang lain sementara pertunjukan akan diadakan dalam waktu dekat."
Sohyun tampak berpikir, bukan tentang pertunjukan orkestra yang akan datang. Melainkan Yeri, teman satu-satunya yang ia punya di universitas. Kecewa. Perasaan yang sekarang ia rasakan. Ia ingin untuk tidak mempercayainya, namun sulit. Yeri mengkhianatinya dengan memberi tahu identitasnya, sampai-sampai banyak penjahat yang mencari dan berakhir di rumah sakit seperti ini. Sohyun tidak berniat menyalahkan, Yeri tak akan semudah itu mengatakan pada sembarang orang jika bukan karena terpaksa.
Jungkook yang merasa diabaikan memberengut, menepuk pundaknya, Sohyun tidak terkejut, hanya menatap sekilas sebelum memacu kursi rodanya lagi.
"Kau benar-benar tidak diajari sopan santun ya? Setidaknya tanggapilah ucapanku barusan, bukan pergi seenaknya!" Ia memekik sambil menahan laju kursi roda itu.
Sohyun pun berhenti, secara terpaksa. "Katakan pada Yeri, besok aku akan masuk kelas seperti biasa."
"Hanya itu?"
Gadis itu mengangguk sekenanya. "Ada lagi yang ingin kau tanyakan padaku?"
Jungkook sebenarnya ragu, dibanding apa yang sempat ia utarakan pada Sohyun, ada hal yang ingin sekali ia ketahui dari mulut Sohyun sendiri. Sejak mendengar percakapan Yoon eun dan lelaki asing yang tak dikenalnya, membuat pikirannya semrawut; kalang kabut.
"Jika memang tidak ada, aku akan pergi ..."
"Tunggu dulu!" Jungkook berseru lagi, kali ini lebih keras nan tegas. Dengan hati-hati, mulutnya bergerak, membentuk partikel kata yang berbunyi, "Apa benar kau pernah jatuh dari atap rumah sakit?"
Sohyun berbalik. "Kau mendengar sesuatu tentangku, Jeon Jungkook?"
"Itu ... itu tidak penting, sekarang jawab, apa itu benar? Apa karena hal itu juga kau tidak bisa berjalan?" Nada bicaranya makin mendesak, ingin tahu.
"Kau pasti tahu sesuatu ... iya, itu benar."
"Karena seseorang mendorongmu?"
Sekarang bukan hanya kehadiran Jungkook, pertanyaan-pertanyaan sensitif itu semakin membuat Sohyun risih dan bersegera ingin pergi.
"Jungkook ... sepertinya kau sudah mulai penasaran tentang kehidupanku," ucapnya mendatar. "Sebaiknya simpan rahasia yang kau ketahui baik-baik. Peristiwa itu sudah lama berlalu, tolong jangan libatkan dirimu semakin jauh. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang."
Tak ada sepatah jawaban yang keluar, Jungkook tertegun dengan semua yang ia dengar. Ia bisa saja membalas lebih sarkastis pada perempuan yang perlahan hilang dari pandanganya jika syok tak menderanya. Tapi lidahnya kelu, Jungkook tak habis pikir, dengan fiil Sohyun.
🔔
Di tengah perjalanannya menuju ruangannya, Sohyun dikejutkan dengan kehadiran Soyoon. Gadis kecil yang pernah ia temui meringkuk di bawah ranjang di ruang pediatrik. Jaraknya hanya sebelas langkah, hanya butuh sebelas langkah baginya untuk menggapai tubuh anak kecil itu. Entah, Sohyun yang biasa acuh tak acuh kini berjalan—memutar kursi rodanya, mendekati Soyoon yang terduduk di depan toilet seorang diri dengan tongkat putihnya.
"Sejak kapan kau berdiri di sini?"
Soyoon terperangah kala suara Sohyun mengusik indra dengarnya. Kakinya sampai melompat kaget, tiba-tiba suara itu menyapanya. "Apa itu kau, Eonni?" tanyanya memastikan, bernada harap. Soyoon takut apa yang barusan ia dengar hanya sebatas imajinasinya saja, akibat terlalu merindukan Sohyun. Hadiah kecil yang dititipkan Tuhan padanya.
"Ini aku, Kim Sohyun."
Gadis kecil itu melompat kegirangan, memukulkan tongkat putihnya guna menemukan Sohyun. Akhirnya dapat bersua dengan Sohyun setelah dua bulan. Ia sempat terheran, ketika tongkatnya membentur benda keras. Serasa tak asing. "Kakak duduk di kursi roda lagi?" katanya menerka.
"Ya."
"Kenapa?"
"Aku lumpuh."
"Apa?" Soyoon berhenti bertanya. Jawaban Sohyun yang terakhir sedikit banyak menambah lebar diameter lubang mulutnya menganga. Ia tak mengerti, dua bulan tak bertemu, tiba-tiba saja Sohyun mengatakan dirinya lumpuh, sedang dulu sosok inspirasinya itu hanya mengalami sedikit masalah, dan masih dapat berjalan kembali.
"Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa berdiri di sini sendirian?" Sohyun mengalihkan pembicaraan, fokus pada pertanyaan pertamanya.
"Aku kabur."
Dahinya mengerut bingung. Soyoon sudah biasa kabur-kaburan, hanya saja ini terasa janggal baginya. "Ada masalah apa lagi?"
Soyoon tak menjawab, justru yang terjadi, isakan mungilnya keluar menciptakan dua garis aliran air mata, menjadikan Sohyun makin yakin ada sesuatu yang menimpa anak itu.
🔔
Harapannya sirna. Kata-kata itu sedikit banyak mengusik relung hati Sohyun. Gadis kecil yang baru saja menangis di hadapannya itu baru saja mengeluh pesimistis padanya—kehilangan asa.
Sama seperti dulu, ketika Soyoon datang ke rumah sakit yang sama, ia meminta masuk ke ruangan Sohyun, memaksa tidur bersama sampai pagi, ketika orangtuanya kembali ke Seoul, meninggalkannya bersama sang pengasuh. Sohyun mengerti perasaan anak itu. Perasaan terkucilkan dan tak dianggap sekitar. Salahkan Sohyun yang pandir, tak pandai mengekspresikan kepeduliannya terhadap gadis naif seperti Soyoon. Dirinya masih kokoh pada pendirian sikapnya yang tenang dan datar.
"Kakak ..." Soyoon memanggilnya.
"Kenapa kau bisa seyakin itu, kalau aku bisa melihat suatu saat nanti?"
Sohyun tersenyum tipis. Pertanyaan menggelitik, pikirnya. "Entahlah, keyakinan itu muncul begitu saja."
"Kakak tidak sedang menghiburku saja, kan? Atau kasihan padaku, karena aku tidak jadi mendapat pendonor kornea mata?" beber Soyoon mengkerut, bergerak lesu di atas ranjang.
"Bukan kedua-duanya," balas Sohyun yang tak pernah lepas memandangi Soyoon yang terbaring di sampingnya.
Sohyun ingin menjadi seorang kakak.
Dahulu sekali, Sohyun pernah bermimpi menjadi kakak yang hebat untuk adik-adiknya. Panggilan dari Soyoon, ia sangat menyukainya. Lalu, ia mengawang, mengingat lagi film terakhir yang ia tonton, My Annoying Brother. Kadang, ia membayangkan bagaimana jika ia berkesempatan menjadi Go Doo Sik di kehidupan nyata, mengurus Doo Young, sang adik. Ia berpikir, adakalanya ia perlu berkomedi dalam panggung opera raksasa rekaan Tuhan. Ia terlampau serius, butuh asupan serotonin yang mampu mengembangbiakkan sisi humor yang ia pendam sendiri. Tapi .... Tidakkah terlalu tiba-tiba? Ia sudah selesai dengan pencarian jati dirinya. Bergelung belasan tahun, hanya untuk mengetahui siapa dirinya dan ingin hidup seperti apa, berikut tujuan-tujuan rumit yang ingin dicapainya.
Tapi... apakah mungkin baginya?
"Jika hari itu tiba, aku berharap Kakaklah orang pertama yang aku lihat."
Sohyun tersenyum sepintas. Serasa dipaksa berhenti berkelana dan hanya fokus pada anak kecil itu, Soyoon berceloteh lagi.
"Kenapa bukan orangtuamu saja?" tanyanya terheran.
"Kakak jauh lebih perhatian dibanding mereka."
"Aku tidak melakukan apa-apa untukmu. Bertemu pun kita baru dua kali, dan kau sudah berani mengatakan aku lebih perhatian dari orangtuamu?" Sohyun menyahut. Sedangkan gadis kecil itu diam, mungkin merasa salah dengan ucapannya.
"Soyoon ...," bisiknya lirih. "Jika kau tidak bisa melihat kebaikan orangtuamu melalui matamu, maka gunakanlah perasaanmu. Meski kau tidak pernah mendengar mereka mengucap sayang, dan bersyukur atas kehadiranmu, kau masih bisa memakai indramu yang lain untuk merasakannya. Mereka menyayangimu dengan cara berbeda. Jika pun tidak, mana mungkin mereka tetap mempertahankan dirimu sampai sekarang?
"Jangan berpikir mereka melakukan itu hanya sebatas formalitas antara orangtua dan anak ... kau berharga untuk ayah serta ibumu. Kau ingat kata-kataku, bahwa siapapun berhak bahagia? Kebahagiaan yang kita angankan, belum tentu searah dengan kebaikan pun sebaliknya."
Mungkin kalimat itu terlalu berat untuk Soyoon mengerti, namun Sohyun tetap akan mengatakan dengan caranya. Terbukti Soyoon termangu, melahap lagi kalimat yang membisik lembut ke telinga kanannya lambat-lambat.
"Mereka tetaplah orangtuamu, Jang Soyoon."
Sohyun mengakhirinya dengan usapan lembut di punggung tangan anak itu. Selayaknya seorang ibu yang teramat menyayangi putrinya. Jujur saja, ia tak pernah berbicara sepanjang ini selain dengan Taehyung, kadang-kadang Sohyun memaki dirinya yang mudah sekali berucap ini dan itu, barangkali ia seolah menggurui dan tampak tak punya hati.
Senyuman Soyoon mengembang. Dia malu. Kenapa amat mudah berprasangka. Dan kian bersyukur bertemu dengan Sohyun.
"Aku akan mengejar cita-citaku menjadi seorang balerina andal. Kakak harus menyaksikanku menari di atas pentas kelak, ya?" Begitu katanya, kala mendapati suasana hatinya kembali membaik. Ia bertambah yakin, bila hari itu akan lekas tiba mendatanginya, ia akan segera melihat dunianya yang diselimuti kegelapan berganti terang.
"Akan aku usahakan jika tidak sedang sibuk," Sohyun menimpali dengan nada khas tak acuhnya. Soyoon tak menyukainya sampai-sampai mengucap penuh paksa. "Pokoknya harus! Memangnya apa pekerjaanmu sampai bilang sibuk segala?" tegas Soyoon.
"Kau tidak lelah bicara terus-menerus?"
"Kau bosan dengan suaraku?"
Sohyun menggeleng. "Tidak, justru aku senang kau bisa secerewet ini. Aku akan menyimpannya, mengingat suara dan rupamu hari ini dengan baik."
Soyoon ber-oh, tak sadar, boleh jadi hari ini adalah kali terakhir pertemuan mereka yang selalu mengobrol di atas ranjang Sohyun sepanjang malam—sebuah makna terselubung.
🔔
Sebuah kantong bergelayut di tangan. Diapit jeriji kokoh Taehyung yang baru saja tiba dan ingin segera mengunjungi Sohyun.
Sejak kemarin, sama seperti Jungkook yang tak mau absen bertandang ke rumah sakit. Lelaki yang tampak santai dengan kaus merah pudarnya berjalan melewati lorong-lorong lantai sembilan.
Senyumnya kian melebar, mengetahui tempat tujuannya telah dekat. Namun sesuatu berhasil menarik perhatian matanya. Seseorang, sosok perempuan tampak berdiri di dekat pintu ruang rawat Sohyun. Gesturnya menunjukkan keraguan.
"Anda siapa?" Taehyung menyempatkan bertanya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.
Wanita itu tertunduk meminta maaf. Merasa apa yang ia lakukan mengundang kecurigaan, lebih-lebih pada Taehyung yang baru sampai dengan lipatan dalam di keningnya.
"Saya pengasuh pribadi Nona Jang."
"Nona Jang siapa?" Taehyung penasaran.
🔔
Pelan-pelan daun pintu bergerak, dibuka dan menutup oleh tangan yang hendak bertamu tersebut. Matanya merotasi ke sekeliling, memperhatikan ruang temaran yang kedap.
Dengan susah payah, akhirnya Sohyun tiba di ruangan sang dokter berada, di waktu istirahat malamnya. Ia memang tidak sopan kali ini, datang malam-malam tanpa sepengetahuan Jaehyun yang sibuk dengan dokumen di tangannya.
"Ini sudah malam, Nona Kim."
Suara Jaehyun menggelegar di dalam sana, dengan mata yang masih fokus pada data-data pasien barunya. Sohyun abai, tetap memaksa masuk—terus memacu laju kursi rodanya. Gadis itu ada di hadapan Jaehyun, memberi tatapan tenang.
"Istirahatlah ke kamarmu. Kau tidak takut namamu makin rusak malam-malam datang kemari, atau kau ingin menguji dengan menggodaku?"
Sohyun mendelik, akan ucapan sampah Jaehyun. "Ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada Dokter Kim."
"Kenapa tidak besok pagi saja?Bukankah aku selalu rutin mengunjungi kamar inapmu?"
Kepalanya menggeleng pelan, tanda penolakan ketidaksetujuan. "Bisa bantu aku bicara dengan dokter Woo?"
Jaehyun mengernyit, mengabaikan kertas yang akan dibacanya. Manatap iris Sohyun lurus. "Untuk apa bicara dengan dokter Woo? Apa matamu bermasalah?"
"Tidak. Sejauh ini mataku baik-baik saja."
"Lantas?"
"Hanya ingin berkonsultasi dengannya, karena tiba-tiba aku ingin mendonorkan organ mataku."
Jaehyun tercengang bengang, memberi sorot tajam ke arah Sohyun.
"Apa kau gila?" kalimat bernada sindiran itu keluar juga. Sohyun telah menduganya jauh-jauh hari.
"Aku hanya butuh persetujuan darimu sebagai dokter yang selama ini menanganiku. Tidak sekarang, Dokter Kim, tunggu sampai waktu kematianku diumumkan."
"Persetan dengan semua katamu!" Jaehyun memberongsang. "Apa karena Jang Soyoon, karena anak kecil itu kau sungguhan ingin mati?"
"Tidakkah ini berlebihan? Dan tolong jangan membawa Soyoon, ini murni keinginananku."
"Kau pasti bisa sembuh ... dan Soyoon akan mendapatkan ganti kornea mata yang baru tanpa harus melaluimu, dia akan bisa melihat lagi."
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan? Kalian berdua .... Kau dan Ibu kenapa harus saling berbohong tentangku? Harusnya dari awal saja, kau jujur jika aku sudah tak ada harapan lagi untuk hidup."
"Sohyun—"
"Aku belum selesai bicara!" sentak Sohyun.
Jaehyun tergugu, sungguh ia berani bertaruh, bila ini untuk pertama kalinya mata kepalanya melihat kemurkaan Sohyun. Tidak ia jumpai tatapan tenang dan datar; Sohyun terlihat frustrasi.
Sama halnya dengan Taehyung yang kaku menbatu di depan pintu kerja kakaknya. Rungunya telah mendengar semua. Mulanya ia bingung, tak menemukan Sohyun di dalam ruangannya, justru yang ada, menemukan bocah perempuan yang digelung selimut di atas kasur Sohyun. Hingga ia dapati perempuan yang dicari berada di dalam sana, tangisnya pecah.