
Jaehyun bergegas keluar ruangan, begitu terburu-buru, tak mengindahkan seruan sekelilingnya. Menanggalkan kesopanan, Jaehyun mengabaikan si kepala teknisi mesin itu menyimpan file MRI tanpa pengawasan darinya. Pria tinggi dengan tatanan rambut pompadour-nya itu menyelonong masuk tanpa etika, ketika pemeriksaan dinyatakan berakhir. Dibubuhi perasaan cemas waswas yang sejak tadi menggelenyar, kaki kanan yang dibungkus sepatu pantofel hitam mengkilapnya itu tak henti mengetuk-ngetuk lantai. Sabar-sabar menanti sang pasien dikeluarkan dari dalam tabung.
Sohyun membuka kedua kelopak mata, sedikit terkejut sosok Jaehyun sudah berada tepat di sebelahnya, berdiri dengan wajah tak bersahabat. Tangannya terulur, melepas headphone yang menutup telinga. Ia hendak beranjak bangkit, namun dicegah oleh tangan Jaehyun. Hingga ia terpaksa berbaring lagi, tentunya dengan pandangannya yang menyiratkan sorot tanya.
"Kenapa kau masih saja membandel?" Jaehyun tanpa ragu menyingkap baju pasien yang dikenakan Sohyun. Merabai perut gadis itu, seperti ingin memastikan sesuatu yang mengganggu jalan pikirannya.
Sohyun menatap Jaehyun tak percaya. Nyalang binar matanya, melihat kelakuan sang dokter.
"Akh..." Sohyun merintih lirih. Digigitnya bibir bawahnya, manakala dua ruas jari tangan Jaehyun menekan perut bagian tengahnya. Rasa nyeri mendadak terpusat pada satu titik yang hampir membuat ledakan sakit tak tertahan. Sohyun geming mendapatkan perlakuan tak mengenakkan itu, lekas menepis jauh-jauh tangan Jaehyun agar enyah segera.
"Kau benar-benar ..." Jaehyun urung meneruskan ucapannya. Yang pasti sekarang ini suasana hatinya amat buruk. Jaehyun mendesah letih. Dan lagi-lagi Sohyunlah yang harus ia salahkan, karena sebab gadis itulah ia sampai frustrasi hingga begini gilanya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang untuk berhenti saja." Sohyun menutupi kembali perutnya, melemparkan tatapan mata memohon pada Jaehyun.
"Berhenti dari hal apa maksudmu?" sergah Jaehyun. "Dengarkan aku baik-baik, Nona Kim! Sampai kapanpun, kau tetap jadi tanggung jawabku!"
Kalimat denotatif nan tegas itu terlontar menderu gebu. Jaehyun tak pernah bisa bersikap biasa, jika menyangkut wanita yang kini mulai bangkit dari pembaringan.
Sohyun menegapkan badan, tanpa berkata-kata sekadar basa-basi, ia berlalu meninggalkan Jaehyun sendirian. Perawat Lee yang baru saja kembali usai memberesi peralatan dibuat kebingungan dengan tingkah laku dokter dan pasien tersebut.
"Sebaiknya Anda menyusul Nona Kim."
Jaehyun mendongak, tampak tak paham maksud perkataan Perawat itu. Layaknya orang linglung yang kehabisan baterai.
"Kau seperti tidak tahu kegemaran Sohyun saja, Kim Jaehyun," ungkap perawat Lee berubah informal.
Pria itu membelalakkan mata lebar-lebar, baru menyadari maksud omongan wanita seperempat abad itu. Kakinya melangkah cepat keluar, mengejar perempuan yang pasti akan berbuat semaunya lagi.
🔔
Dua kilometer ia lalui bersama mobil Maseratinya, sejak ditinggalkan segala aktivitas yang ia cumbui sepanjang pagi hingga petang menjelang. Kaki kanannya terus mengentak pedal gas dengan kecepatan konstan, memilih fokus pada ingar-bingar jalanan panjang penuh derum yang bersahut-sahut tiada jeda memekakkan tiap pasang gendang telinga.
Taehyung benar-benar merasa lelah, meski ia sendiri pun tahu, dia bukan satu-satunya manusia yang lelah menjalani kehidupan yang diisi setumpuk pekerjaan dan pencitraan. Ada banyak hal yang ingin ia lakukan sebelum menua usianya. Setidaknya ada selembar harapan yang pernah ia tulis. Sebuah harapan yang condong pada kebebasannya untuk memilih dan menentukan hidup. Ia tidak mau terbawa arus kehidupan yang kuat, sampai-sampai ia hilang keseimbangan untuk menempatkan diri pada posisi aman. Egoistis memang. Mengadaptasikan diri tidak akan cukup bagi Taehyung yang masih candu untuk membilang berapa persen sisa kebebasannya. Kata-kata Haeyong, sang ayah di telepon membuat pria itu bersungut-sungut selepas bebas dari kejaran tanda tangannya. Perjodohan. Hal yang paling ingin sekali ia hindari, seumur hidupnya. Entah apa yang membuat ayahnya berubah pikiran, bukankah beberapa hari lalu, Haeyoung pernah mengatakan tidak akan memaksa, dan menurut pada keputusannya?
Di tengah kehiruk pikukan akalnya, perhatian Taehyung teralihkan pada bangunan besar di seberang jalan. Sebuah ide solutif mendatanginya secara tiba-tiba. Agaknya benar dewi fortuna sedang berbaik hati padanya. Maka dengan semangat baru, Taehyung memutar arah mobilnya, menuju gedung sembilan lantai yang hendak ia kunjungi di bawah lengkungan langit keabu-abuan.
🔔
"Menginaplah di sini!" Jaehyun mencekal pergelangan tangan Sohyun. Erat, sampai empunya meringis sejemang.
Gadis itu mendengkus, baru tiba di ruang ganti, dokternya langsung meneror dengan kalimat lantang tersebut. Baru kali ini ia bersua pada seorang otoriter semacam Kim Jaehyun.
"Tidakkah itu berlebihan, Dokter Kim?" Sohyun menyahutinya lebih tenang. Mengambil tas yang tergolek di atas laci sembari memegangi perutnya. Gerakannya itu tak luput dari perhatian Jaehyun.
"Kau perlu mendapat perawatan. Analgesik tidak akan bekerja baik, jika kondisimu memburuk seperti ini," papar Jaehyun setengah membuang muka.
"Tapi aku harus segera pulang. Aku hanya ingin pulang."
Pria itu sampai berdesis muak. "Pulang ke mana? Aku tahu kau sudah bosan hidup, tapi bisakah jangan siksa aku karena tak becus menanganimu?"
Sohyun mengulum senyum. Sungguh ia tidak memiliki maksud apa pun dengan ucapannya barusan. Semenjak kehadiran Taehyung, terbesit keinginan untuk menunda kematian yang ia cita-citakan dahulu. Paling tidak ia harus bertahan sebentar, sebelum benar-benar pulang ke tempat kedua orangtuanya berada.
"Meski Dokter bilang analgetik tidak bekerja baik, tapi—paling tidak kandungan opium dalam morfinnya mampu meredakan nyeri yang kautambah hari ini," balas Sohyun santai. Mengingat kelakuan Jaehyun beberapa waktu lalu.
Dada Kim Jaehyun menggelegak kepanasan mendengar kalimat tak terduga. Menusuknya serupa sebilah tombak runcing bermata tajam. Jaehyun tampak hening sesudahnya. Ia pandang sekali lagi wajah yang terlihat tenteram setiap waktu. Sohyun, gadis itu selalu membuatnya merasakan candu di luar batas nalarnya.
"Beri tahu aku kalau hasilnya sudah keluar. Aku hanya tidak ingin menunggu lama-lama di sini." Sohyun pamit. Memasang wajah tak berdosanya di depan masam mukanya Jaehyun yang kedua kalinya ditinggalkan.
"Aku sungguh akan gila karenanya!" Jarinya memberantakkan rambutnya, menjadikan kusut, sekusut erangan kekesalan Jaehyun pada Sohyun.
🔔
Taehyung tiba di tempat tujuannya. Sepasang kakinya terseret jauh membelah koloni manusia yang hilir mudik ke sana kemari, dengan arah tuju yang berbeda-beda. Suasana hati yang terkurung dalam ketidakdayaan perlahan menyusut usai dikuasai rona kalang kabut tak berujung. Kerut-kerut halus, lipatan bahagia tergaris di ujung matanya, melihat pemandangan yang ramainya serupa pasar. Seperti biasa, laki-laki itu, pertama-tama akan mendatangi resepsionis yang saban hari berdiri di balik meja cokelat tinggi bersekat cubicle transparan. Menyapa Ahn Sonhee, wanita tiga puluhan yang semringah melihat kedatangannya.
"Dokter Kim sedang mengurus pasiennya. Kalau kau ingin menemuinya, tunggulah di ruang kerjanya."
Pria itu mengembus napas kecewa. Padahal ia sedang butuh-butuhnya saran sang kakak agar ia bisa lekas terbebas dari ide gila para orangtua yang berniat mengungkungnya dalam jerat tali perjodohan. Sejurus, Taehyung akhirnya mengalah, berjalan gontai menuju lantai lima, di mana ruangan kerja Jaehyun berada. Ia menunggu di depan lift, menantikan pintu baja itu segera terbelah, bergeser ke lain sisi, lalu memasukinya tak sabar. Atensinya mengarah pada angka dan anak panah bergerak turun, kemudian dengan iseng, batinnya membilang nomor.
Enam...
lima...
empat...
tiga...
dua...
Satu!
Denting pintu lift mengudara di lengangnya lantai dasar rumah sakit. Dalam hitungan detik, pendar keterkejutan mengisi dua pasang mata yang tak sengaja bertemu pandang. Dua netra bening itu bersirobok. Taehyung membeku di tempat, persis sama seperti seseorang yang berdiri berseberangan dengannya. Seorang perempuan yang membatu di dalam lift sana.
Pandangan menghanyutkan itu pada akhirnya harus berakhir, ketika beberapa orang menerobos masuk, menyenggol badan kukuh yang dirasa menghalangi jalan. Taehyung tersadar, bukan masuk sesuai tujuan utamanya bertandang menemui kakaknya, melainkan mengeret pergelangan tangan gadis itu, menepikan diri di antara ingar-ingar keramaian.
Taehyung belum membuka suara, begitupun Sohyun yang seolah meragu. Masih syok melihat Taehyung di depan matanya—menjumpainya di tempat yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Lelaki itu membawanya ke taman rumah sakit yang sepi. Tak banyak dijumpai makhluk seukuran mereka di sana, hanya beberapa anak yang diteriaki para dewasa untuk segera masuk atau kembali ke ruangan masing-masing, lantaran terpaan angin yang berembus kencang. Surainya yang digerai pun ikut beterbangan, bahkan dedaunan pohon yang menguning akan jatuh, patah arah, melayang-layang ditiup udara dingin yang melintasi kawasan itu.
"Kau ada urusan apa datang kemari? Apa kau sakit, Hyun?" Kalimat pembuka datang dari Taehyung. Pria itu lantas duduk di atas bangku dan Sohyun mengikuti lakunya. Duduk menghadap hamparan rumput kering sehabis diinjak pijak kaki-kaki mungil, ya, jejak anak-anak tadi. Yang mengomel selama perjalanannya masuk ke dalam gedung rumah sakit di bawah bimbingan suster.
Gadis itu menggeleng kecil. Malah memainkan sepasang kakinya yang berjuntai mengikuti melodi angin yang sesekali menyapu rimbunnya celah pepohonan. "Kalau kau?" Sohyun balik bertanya. Berlagak serupa orang yang tak tahu apa-apa.
"Menemui kakakku."
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Belum."
"Lalu kenapa malah menarikku ke sini? Bukankah tujuanmu datang untuk menemui Dokter Kim?"
Jari telunjuknya yang panjang menggaruk-garuk tengkuknya, Taehyung hanya meringis, memamerkan betapa putih susunan giginya di depan Sohyun yang memaklumi tingkah sang sahabat. Taehyung mendeham sebentar, menetralisir canggung yang melanda.
"Melihatmu di sini membuatku lupa. Aku rasa tak ada salahnya ... mengajakmu mengobrol sebentar, lagipula, kau tahu bagaimana sibuknya Jaehyun sebagai dokter. Pulang ke rumah saja jarang," ungkap Taehyung, sedikit mengeluh di penghujung paparan kalimatnya.
Perempuan di sampingnya manggut-manggut paham. "Ada masalah lagi di kantormu?"
"Aku bingung harus menyebut ini apa..."
Sohyun mengerut dahi. Mata bulatnya sampai menyipit, lebih sipit dari biasanya, menunggu Taehyung mengurai kata-kata ambiguitasnya.
"Aku dijodohkan—dengan seseorang." Ada lenguhan berat di akhir katanya. Taehyung rasa, perjodohan adalah bencana. Sebuah bala yang seketika membuatnya hidupnya makin sukar mengakar.
Sementara Sohyun yang duduk dalam tenangnya, tetap nyaman dengan topeng menawan yang dikenakan. Katakanlah gadis Kim ini tak peduli dengan nasib cintanya, hatinya memang didesain untuk tahan banting akan segala guncangan kabar buruk yang sewaktu-waktu dapat membuat perih pun pedih. Hanya untuk satu ini, gelenyar sakitnya seakan menggigitnya sampai sebuah senyum kecut sepintas tersirat dari wajahnya yang muram.
"Nada bicaramu, seperti seseorang yang kecewa. Kau tidak menyukainya, ya?"
Taehyung yang justru dibuat terkekeh karena nada suara Sohyun terkesan dibuat kekanak-kanakan. Sisi lain, sesuatu yang langka dilakukan Sohyun, mungkin saja, bisa jadi tingkahnya ini mampu mengubah persepsi orang-orang tentangnya. Ia bercanda seadanya. Sebisanya.
"Aku menyukainya sebagai rekan bisnis. Tidak lebih dari itu."
"Kim Taehyung..."
Pria itu lekas menoleh, ketika namanya disebut.
"Kalau seandainya orang itu adalah jodohmu, apa kau akan tetap menolak perjodohan itu?"
Pertanyaan andaian keluar dari bibir pucatnya. Sohyun barangkali tengah dirundung bingung ingin mengucapkan apa. Hanya saja, sejak mendengar kata perjodohan memaksa otaknya bekerja keras tentang berbagai spekulasi yang tetiba muncul.
"Aku tidak yakin. Dan lagi, aku tak memiliki rasa apa pun terhadapnya. Jadi bagaimana mungkin kami berjodoh. Kau ini ada-ada saja," jelas pemuda itu, menyentuhi rambut yang tak jua berhenti mencecah wajah. Kelima jari tangan kanannya tergerak, menyapu, dan menepikannya ke belakang daun telinga yang memerah milik Sohyun.
"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi, kenapa kau bisa ada di rumah sakit?" Taehyung mengalihkan topik.
Sohyun terdiam sesaat, mungkin mencoba mencari alasan. Sebelum mulutnya mulai menelurkan suara yang cukup meyakinkan untuk dipercaya. "Aku baru selesai memeriksakan diri ke dokter, sesuai saran Ibuku."
"Ada masalah dengan kesehatanmu?" Belum apa-apa Taehyung sudah mulai panik.
Sohyun menggeleng, "Biasa. Hanya check-up rutin."
"Kau hampir membuatku jantungan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku tidak bisa melihatmu sakit." Lengannya menarik bahu Sohyun, menjejakkan usapan lembut pada punggung perempuan yang kian ringkih dalam tegaknya. Wajahnya tengadah, pirsa pada keindahan sekitar.
Untuk beberapa saat, Sohyun semakin jauh tenggelam dalam pelik pemikirannya. Tentu ada harga yang harus ia bayar atas kebohongan yang tercipta melalui lisan pendustanya. Saban kali ia memikirkan ini, betapa besar dosanya semasa hidup. Ia ingin pergi dengan tenang, namun membawa banyak kesalahan membuatnya terenyuh semakin dalam.
Taehyung yang semula asyik memandangi daun-daun yang berguguran di musim semi, menelengkan kepala, merasa tak ada sahutan dari gadis di sampingnya. Sohyun tertunduk, melipat kedua tangannya di atas perut.
"Aku rasa, Dokter Kim sudah selesai. Kau tidak ingin membuatnya menunggu lama, bukan?" Sohyun bersuara lagi, mengurungkan niat Taehyung yang hendak bertanya.
"Ah, kau benar, Hyun. Ini sudah mau menjelang malam," tutur Taehyung, seraya memperhatikan langit teja di ufuk barat.
"Kau pasti mau pulang... perlu aku antar?" Ia menawarkan tumpangan yang disambut gelengan kecil.
"Aku bisa pulang sendiri. Lebih baik segeralah temui, kakakmu." Sohyun menolak secara halus.
"Sungguh tidak apa-apa?"
"Ya."
Selepas itu, perjumpaan tak terancana mereka berakhir. Cukup sesaat singgah di tempat ini. Taman yang kian menyepi di malam hari. Sohyun teringat senyum polos Taehyung, masih membayangkan ketika punggung lebar lelaki itu pelan-pelan menjauh dari atensinya. Benar-benar memudar dalam pandangannya yang kuyu.
Sohyun merasa bersalah. Dirinya siap Menerima hukuman dari Tuhan, atas kesalahannya membohongi banyak orang akan perasaannya yang terselimuti kabut. Buram tak jelas, hingga mampu mengakali penglihatan Taehyung, pria yang singgah, menempati kepingan hatinya yang rapuh.
🔔
Jaehyun bermenung di atas sofanya, pandangannya tertumbuk pada sang adik, Kim Taehyung yang untuk sekian kali, tertidur lenyap acap kali berkunjung menemuinya. Ia sudah mendengar kabar perjodohan adiknya dengan putri bungsu pengusaha kaya dari Tiongkok dari mulut Taehyung sendiri, dan ia pun semakin yakin, Sohyun tahu, karena sejak tadi, Jaehyun mengamati interaksi dua orang itu selama di taman rumah sakit.
Kekacauan hatinya sebegitu diperparah dengan hasil MRI yang baru masuk. Jaehyun menerimanya pukul delapan malam tadi, usai makan malam bersama rekan sejawatnya ditemani Taehyung yang ingin mengenal dokter seangkatan dirinya. Matanya jeli, berpresisi berulang kali mengamati hasil tersebut lewat komputer jinjingnya, berharap diagnosanya dapat berubah. Nihil. Semua tetap sama—sesuatu yang ia takutkan benar-benar terjadi.