Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 14 : Haruskah?



      Lidahnya tak jua bergerak. Taehyung masih didera keterkejutan akan kehadiran wanita yang melempar senyum kemurahan padanya. Kecewa bergelayut menerpa harapannya yang pupus kala itu juga. Dia terlalu berekspektasi tinggi, mengharap kedatangan Sohyun datang bertandang menemuinya.


      Sementara itu, di depan Taehyung, Shen Nan mengamati reaksinya. Jarak mereka yang hanya terpaut tiga meter, membuat wanita dewasa itu dapat jelas melihat raut kaget di rona wajah putih milik Taehyung. Kakinya lekas melangkah, hendak memperdekat jaraknya pada pria pujaan hatinya itu.


     "Kau apa kabar? Maaf membuatmu terkejut karena kedatanganku yang tiba-tiba ini." Shen Nan tertawa kikuk sambil memainkan kukunya yang panjang, guna menetralisir degupan keras di dada.


     Taehyung menggeleng kecil, tidak terlalu mempermasalahkan. Toh ia sedang tidak sibuk karena masuk jam istirahat kerja. Maka setelah pertemuan tak terancana itu, Shen Nan dengan gamblang memintanya menemani makan siang. Beragam alasan yang wanita itu jadikan dalih agar Taehyung tak menolak permintaannya. Hingga lambat laun, pria itu mengiyakan.


Mereka berkunjung ke salah satu restoran di seberang kantor Hondo. Shen Nan yang mengusulkan, katanya ia ingin sekali mencicipi masakan tradisional Korea lagi. Taehyung tak punya pilihan lain selain menurut. Bagaimanapun wanita yang menarik pergelangan tangannya itu masih punya andil besar terhadap proyek pertama yang ditanganinya langsung.


🔔


     Sepuluh menit sudah, sepasang kakinya menelusuri jalanan trotoar sepeninggalnya dari halaman universitas. sepanjang jalan itu pula, Sohyun menikmati beragam-macam tatapan yang ditujukan padanya. Lebih banyak tatapan mengejek dibanding takut yang ia terima. Sohyun merasa itu lebih baik, daripada membuat orang-orang sekitarnya menakuti dirinya yang bahkan tak ada waktu memikirkannya; memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi pada sekelompok kawanan manusia, apabila ia mengambil langkah untuk menanggapi tiap tindak tanduk mereka. Baginya yang selalu menginginkan ketenangan, hal-hal semacam itu hanya akan membuang sia-sia waktu hidupnya.


     Ia berhenti sejenak, matanya menajam fokus mengamati sebuah mobil sedan yang terparkir di tempat biasa; gudang tua yang mengarah ke timur. Di sana, Jonghoon sudah siap sedia di samping pintu depan kemudi, menantikan nona mudanya datang mendekat.


     Jonghoon tidaklah buta melihat bagaimana Sohyun berjalan ke arahnya. Ini bukan kali pertama, bahkan bagi seorang Choi Jonghoon, sudah kerap kali dirinya menyaksikan gelagat serupa itu.


     "Sudah berapa lama Anda menunggu saya di sini?" Bertanyalah Sohyun sesampainya dia di hadapan Jonghoon. Tampak pria itu memasukkan sepuluh jari tangannya ke dalam saku mantel tebalnya, kentara kedinginan.


      "Saya baru sampai beberapa menit lalu, Nona," jawab Jonghoon senormal mungkin.


     "Benarkah?" Sohyun bertanya lagi. Bak pemantik api, ia akan membuat percikan, hanya sedikit percikan untuk memancing api dusta yang baru dinyalakan Jonghoon padanya.


      "I...ya, Nona."


     Sohyun tersenyum setipis biasanya mendengar balasan pria paruh baya itu. Kemudian melangkahkan kakinya memasuki mobil disusul Jonghoon.


     "Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menjemput?" tutur Sohyun setelah mobil melaju. "Apa wanita itu yang menyuruhmu?"


      Jonghoon terdiam lama, mengepal kuat bundaran setir sembari menyorot rupa Sohyun dari kaca tengah. Pria itu kembali menangkap raut sendu dari sang majikan. Jonghoon rupanya belum menemukan kata-kata yang tepat. Haruskah ia jujur pada perempuan yang termangu sendu di belakangnya itu?


      Sohyun bersicepat memalingkan muka ke sisi kiri jendela. Sepertinya tidak ada guna menanyakan sesuatu yang bahkan sudah ia ketahui jawabannya. Jonghoon akan selamanya begitu. Paman tak sedarahnya itu adalah budak paling setia ibunya. Tidak ada yang dapat menandingi loyalitas seperti Choi Jonghoon. Netranya terpaku, mengamati barisan pepohonan yang semakin tertinggal seiring laju cepat mobil yang ditumpanginya. Tidak ada pemandangan yang menarik minatnya, begitu membosankan. Itu sebabnya, mengapa Sohyun lebih senang berjalan kaki—ia merasa hidup hanya dengan merasakan apa saja yang ada di dekatnya. Tanpa diburu sang waktu.


🔔


     Semangkuk samgyetang ludes tak bersisa. Taehyung sampai mereguk salivanya kuat-kuat usai menonton lahapnya pemilik perusahaan XingYu itu menghabiskan menu makan siangnya. Shen Nan yang ditatap ngeri pun hanya bergidik masa bodoh. Anggaplah itu salam perkenalan darinya, sebelum Taehyung resmi menjadi tunangannya beberapa pekan lagi. Ya, pertunangan yang tak pernah disangka-sangka datang. Ayah dan kakak laki-lakinya Wong Xie, kompak menyetujui permintaan gilanya. Entah bagaimana reasi seorang Kim Tae Hyung, seandainya tahu rencana tersebut.


    "Anda sungguh luar biasa menghabiskan sup ayam ginseng dengan porsi sebesar ini." Taehyung memberi pujian, membandingkan mangkuknya yang masih penuh.


     "Ini tidaklah ada apa-apanya. Kautahu, Taehyung... di Hongkong aku pernah mengikuti lomba makan cepat di restoran cepat saji. Bisa kautebak berapa juara yang kuraih kala itu."


     Pria itu tersenyum tawar. Antara kagum dan tak percaya mendengar cerita tentang Shen Nan. Di saat seperti ini pun, sosok sahabatnya terus saja menyeruak memenuhi benak dan batinnya. Ocehan Shen Nan bahkan tak begitu ia turut. Hanya sesekali Taehyung menanggapi dengan anggukan ringan seperlunya.


     "Maaf, sepertinya jam istirahat kantorku sudah habis." Taehyung bersiap akan berdiri sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalam dompet bifold miliknya.


      "Kenapa terburu-buru sekali," cegat Shen Nan. "Kau kan sudah jadi bos. Tidak akan susah bagimu, untuk duduk lebih lama lagi di sini."


     Taehyung terus terang tidak setuju perihal pernyataan Shen Nan. Lebih-lebih bagaimana wanita itu dengan mudah mengatakan hal yang baginya tidak etis. Meski kini statusnya bisa dibilang berkuasa di Hondo, bukan berarti ia bebas keluar masuk kantor seenaknya.


    "Masih banyak pekerjaan yang menantiku. Juga setelah ini ada kunjungan ke divisi keuangan. Aku perlu jadi contoh yang baik untuk para bawahanku, Nona Li.


     Shen Nan menghela napasnya berat. Taehyung rupanya tidak mudah ditaklukkan seperti kebanyakan pria di luaran sana.


     "Baiklah Presdir Kim ... aku mengerti posisimu. Omong-omong aku suka sifat idealismu."


     Taehyung lekas pergi dari sana, usai berpamitan padanya. Shen Nan hanya tersenyum masam, merasa rencananya gagal untuk membawa lelaki itu menemaninya hari ini. Tapi paling tidak, dirinya masih memiliki banyak amunisi di hari-hari berikutnya. Kesempatan selalu ada, jika ia mau memperjuangkannya. Shen Nan tak akan gentar sebelum mendapat apa yang ia mau. Termasuk sosok pria yang baru singgah di hadapannya.


🔔


   Ekspresi senyap, lenyap dari wajahnya ketika menyadari bahwa rute yang dilewati Jonghoon tak sesuai arah pulang ke rumah. Sohyun melengos disertai embusan napas panjang. Jonghoon berdeham sengaja, setelah menilik raut Sohyun yang sudah bisa ditebak, gadis itu tak menyukai tujuannya.


     "Nyonya Hwang menyuruh saya mengantar Anda ke rumah sakit."


     Tidak ada balasan secuil pun dari mulut Sohyun. Jonghoon paham, mungkin benar, suasana hati majikannya sedang buruk-buruknya, seburuk kondisi memprihatinkan yang kini ia lihat. 


     "Apa aku kelihatan seperti orang sakit?" Sohyun bertanya lirih, matanya kini terpejam sambil meremas perutnya yang seakan ingin meledak. Ia hanya sanggup bertahan satu jam, selebihnya inilah dia yang sebenarnya. Rapuh.


     "Lebih baik turuti perintah Nyonya. Semua demi kebaikan Nona sendiri. Saya juga tidak mau melihat Anda tersiksa karena sakit."


      Sudut bibirnya terangkat tipis. Membuka matanya walau selintas guna memandang Jonghoon yang masih fokus memerhatikan jalanan.


     "Paman begitu patuh padanya ... pasti wanita itu sangat berjasa dalam kehidupanmu, sampai semua perkataannya selalu kauturut."


     Pria itu urung menjawab. Ngilu menjalar, serasa digegar oleh pernyataan yang tak mampu dibantah lisan–arangnya. Jonghoon selalu dibuat mati tegang.


     Di saat seperti ini, Sohyun tak akan banyak protes. Menelurkan satu dua patah kata saja ia masih syukuri. Gadis itu mengalah sejenak, membiarkan Jonghoon menambah kecepatan mobil yang tengah dikemudikan.


     Roda kendaraan mobil sedan Rolls-Royce itu berhenti di depan pintu masuk rumah sakit SeonGyu. Mata yang mengejam lama, perlahan terbuka. Sohyun menegakkan badannya, mengambil barang yang sekiranya diperlukan. Hanya sebuah tas selempang yang biasa ia bawa. Sedang violin, dibiarkannya menggeletak tak berdaya di jok belakang.


     "Tidak usah turun, aku bisa buka pintu sendiri," serobot Sohyun, tatkala Jonghoon berniat keluar mobil.


    


      Jonghoon mengangguk, memasang sabuk pengamannya kembali. Matanya sebegitu fokus mengamati Sohyun yang keluar dengan tertatih, berjalan lamban menuju sebelahnya.


    


      Sohyun telah berdiri tepat menghadapnya. Gadis itu tersenyum simpul, seakan rasa sakitnya tak lagi dirasa. "Lebih baik Anda pulang saja. Mungkin aku akan lama di sini," ucapnya.


     "Tidak apa-apa ... saya akan menunggu di luar."


     Sohyun menggelengkan kepala, tidak kesetujuan datang darinya. "Kali ini patuhilah perintahku!" Sohyun berdesis pelan.


     "Tapi, Nona—"


     Kata-kata itu berhasil menambah denyut miris di hati Jonghoon. Sosok yang begitu dingin itu pada akhirnya menyerah pada topengnya. Perhatian kecil, amat sederhana menjadi penghangat batinnya yang beku. Ke manakah Sohyun yang pasif nan apatis?


     Jonghoon terlalu larut dalam awang-gemawang. Hingga sejurus ia dibuat buyar-pudar pemikiran jauhnya, kala jemari telunjuk Sohyun mengetuk kaca spion.


     "Jangan sering-sering melamun."


     Jonghoon yang tertangkap basah, menggeleng cepat. "Maaf."


     "Hati-hati di jalan!" pesan Sohyun disertai senyum ramahnya pada Jonghoon yang bersetia duduk di balik kemudi.


     "Nona juga jaga diri, kalau ada apa-apa, segera hubungi saya. Kalau begitu saya permisi."


     "Em."


   


     Sohyun memandang kepergian mobil tersebut sampai keluar dari area rumah sakit. Sampai Jonghoon sirna dari penglihatannya yang mulai memburam.


🔔


   "Benarkah dia datang kemari? Ya, aku paham. Suruh dia langsung ke ruanganku. Ya. Baiklah."


    Jaehyun memutus obrolannya di telepon. Senyumnya semringah lantaran pasien 'kurang ajarnya' datang berkunjung. Rasanya sudah lama ia tak mengetahui kabar gadis itu, hingga lambat laun perasaan rindu terpupuk begitu melimpah. Sikap yang ditujukan Kim So Hyun, rupanya berhasil menarik perhatiannya. Mungkin juga inilah yang dirasakan Taehyung, sang adik. Jaehyun menghela napas, jika mengingat curhatan Taehyung saban kali ia pulang ke rumah. Aktivitasnya harus terhenti, manakala engsel pintu bergerak, akan dibuka. Dengan gerakan gesit, ia melompat ke kursi kerjanya, membenarkan tata letak pakaiannya yang tampak kusut masai. berusaha Bersikap sewajarnya.


     "Kim So Hyun! Akhirnya kaudatang kemari lagi," Jaehyun tersenyum mendapati Sohyun datang, walau ia sudah mengetahuinya dari resepsionis.


  


     Sohyun menjeda balasan kata untuk Jaehyun. Ia memilih berjalan menuju kursi yang tepat mengarah pada dokternya. Jaehyun terduduk sabar, melihat segala tingkah minimaslis sang pasien.


     "Ibu akan sangat marah padaku kalau aku tidak kunjung datang ke sini," kata Sohyun yang sudah duduk.


     Jaehyun mengangguk. Perbincangannya dengan Yoon eun pagi tadi tak percuma, membuahkan hasil karena nyatanya perempuan itu datang tanpa paksaan. Untuk sesaat saja, Jaehyun tafakur memandangi geliang tak biasa pada gadis di depannya.


     "Kau terlihat tidak sehat," cakapnya memperhatikan wajah perempuan yang tengah duduk dengan tenangnya itu tampak kelihatan pucat.


     Sohyun enggan menjawab, yang ada kini perhatiannya tertarik pada sebingkai foto yang tergeletak di atas meja kerja Jaehyun. Kata pertama yang melintas dalam benaknya adalah 'bahagia', betapa dirinya ikut hanyut menyaksikan senyum terbingkai indah dari dua lelaki bermarga sama itu.


      "Kalian benar-benar mirip."


      Pria yang sedari awal memperhatikan polah Sohyun tersenyum seadanya. "Kami saudara kandung, terlahir dari rahim yang sama, jelas kami amat mirip."


      "Hanya fisik. Sekali pun dokter dan Taehyung kembar, kalian punya perbedaan yang mencolok ketika disandingkan."


       Jaehyun mulai gerah pada arah bicara Sohyun. "Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari? Tolong jangan bahas di luar statusmu sebagai pasienku!"


     Sohyun kembali menjelma menjadi wanita menyebalkan. Setidaknya itulah yang terbesit dalam nalar Jaehyun yang dipaksa mengelana, mengamati perangai seorang gadis yang duduk di seberang mejanya.


  


     Selepas obrolan sengit yang sudah jadi kebiasaannya, Sohyun menurut perintah Jaehyun. Pria bergelar dokter spesialis itu tiada henti mengumpat menghadapi sikap datarnya. Dan di sinilah dia, terdampar hingga ke ruang pemeriksaan yang tak terhitung berapa kali ia masuki.


     "Setelah ini lepaskan bajumu," ujar Jaehyun, sembari tangannya mengecek tiga lembar data yang baru diisi Sohyun sebelumnya.


    Gadis itu tak banyak merespons, karena ia masih harus menelan butiran obat penenang, guna menangkal rasa cemasnya. Sohyun pengidap klaustrofobia. Tanpa diberi tahu, ia sudah paham apa saja yang harus dilakukannya. Cukup menjadi pasien yang patuh dan menurut perkataan sang dokter selama beberapa saat.


     "Apa kau sudah gila? Gantilah pakaianmu di ruangan sebelah!" Jaehyun memekik tatkala Sohyun melepas sesuatu yang menempel di bagian tubuhnya.


     "Dokter berpikir terlalu kotor," Sohyun menyahut santai. "Aku hanya ingin melepas kalungku. Bukankah tidak boleh ada benda berbahan logam dan sejenisnya, Dok?"


     Jaehyun berdengkus sebal. Apa lagi usai mendapat lirikan sinis Sohyun. Wanita itu bergegas ke ruang sebelah untuk menanggalkan pakaiannya, menggantinya dengan baju pasien khusus dari rumah sakit dibantu seorang perawat.


     Seperti biasa, bagi pasien yang akan menjalani pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging), diharuskan mengikuti beberapa tahapan prosedural dan saran ahli. Sohyun telah berganti pakaian, bersiap memasuki tabung besar yang hanya muat seorang saja. Namun sebelum itu, Jaehyun tampak menghampirinya dengan tergesa.


     "Dokter ke mana saja? Kenapa baru muncul?" tanya Sohyun setibanya Jaehyun di depan mukanya. Benar, sejak ia keluar ruang ganti tak dijumpainya lelaki yang hobi mengomel padanya. Dan sekarang, tetiba muncul dengan napas kembang kempis.


    "Untukmu!" Sambil menyerahkan benda yang masih terbungkus plastik. Sohyun lekas menerima tanpa banyak kata, terkecuali terima kasih yang meluncur dari bibir pucat manainya.


    "Aku sudah mengisi beberapa lagu, kau hanya perlu memakainya."


    Sohyun mengangguk sekilas, netranya menilik headphone yang kini berpindah tangan padanya. Ia akan jujur kali ini, bahwa perlakuan Jaehyun membuatnya senang. Dokter muda itu ... walau sering uring-uringan, namun jelas amat perhatian, bukan hanya pada dirinya, serumah sakit ini tahu reputasi seorang Kim Jae Hyun yang gemar beramah tamah terhadap siapapun yang dijumpainya.


     Tak lama setelahnya, perawat Lee datang, mengintruksikan Sohyun agar bersiap-siap. Jaehyun meninggalkan ruangan, membiarkan Sohyun fokus pada pemeriksaan dan beralih menemui seorang teknisi yang biasa memonitor berjalannya proses pencitraan resonansi magnetik. Dari tempat ini, Jaehyun masih bisa melihat gadis itu. Ruangan yang ditempatinya hanya berbataskan jendela kaca bening.


      


      Tubuhnya berbaring di atas meja yang pelan-pelan terdorong masuk ke dalam tabung. Sohyun menatap sekelilingnya yang sempit dan dipenuhi lubang-lubang berdiameter kecil yang diarahkan padanya. Headphone pemberian Jaehyun juga sudah terpasang, menyumbat kedua daun telinganya dari bisingnya deru mesin MRI yang keras itu.  


    Sohyun hanya perlu diam dalam kebisuan. Mengizinkan alat medis itu memindai segala informasi yang ada di dalam tubuhnya selama satu jam ke depan. Termasuk rasa sakit yang menjangkitinya belakangan ini.


    Senandung lagu pertama milik Saybia mengalun, Sohyun memgenali lagu ini, 'the day after tomorrow'  bahkan ia masukkan di daftar putar dalam ponselnya. Entah berapa banyak lagu yang diisikan Jaehyun, dari sembilan lagu, hampir semua adalah lagu-lagu favoritnya. Sekarang pun, Sohyun tengah memejamkan mata, menikmati intro musik dari Creed berjudul 'one last breath'. Petikan gitar Mark Tremonti sang gitaris membuat perasaannya menjadi lebih rileks, membuat Sohyun melupa sejenak akan fobianya di ruangan yang terbatas seperti sekarang. Tidak ada yang memengaruhinya untuk menyukai musik di era 90-an. Di luar instrumen klasik, ia menaruh minat pada musik rock dan sejenis. Sohyun mengagumi Kurt Cobain, namun amat membenci tindakan bodohnya yang mengakhiri hidup secara tragis.


     Kadang tak jarang, gadis itu membandingkan sosok vocalis itu dengan Freddie Mercury. Kebetulan sekali, 'don't stop me now', terputar acak. Ia masih dapat mendengar alunan musik band Queen menusuk rungunya.


     Kedua orang itu sama-sama telah mati. Pergi dari dunia yang fana. Jika dihadapkan pada dua pilihan, dia ingin mati dengan cara apa?


     Bunuh diri atau sekarat karena penyakit?


     Sohyun pernah mencoba bunuh diri. Satu, dua kali, paling tidak ia pernah melakukannya. Menjadikan noda kelam dalam kisah hidupnya. Depresi berat membuatnya kalap kala itu, namun sayang usahanya sia-sia. Ia tetap hidup sampai sekarang, menyisakan penyakit yang menggerogoti organ-organ vitalnya. Jadi bisa dibilang, dirinya pernah berada di posisi Kurt walau tidak bisa disandingkan. Pria itu kalah, lalu menyerah. Sementara dia ... menyerah karena lelah. Ia membenci pikiran piciknya dahulu. Maka dengan membiarkan penyakit yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, Sohyun mencoba mati dengan cara kedua, atau justru takdir lain yang sulit diterka mengubah jalan kematiannya.


     Jaehyun yang mengamati dari ruang seberang membatu di tempatnya. Bola matanya menanar melihat scaning yang perlahan mulai terlihat jelas. Teknisi yang mengoperasikan alat tersebut bahkan menghela napas berat, meski ia tak begitu paham sekadar membaca diagnosis tersebut, melihat banyak sayatan melintang disertai bercak asimetris, membuatnya sedikit mengasumsikan jika kondisinya tidak bisa dikatakan baik.