Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 34 : Selamanya Cinta



       Kehilangan itu mudah, yang susah adalah merelakan. Lebih-lebih orang yang memupuk rasa sekian lama harus pergi dan terpisah jauh, tak tersentuh.


      Kehilangan. Dia sekata, yang mempunyai bercabang makna. Bagi Taehyung, lelaki itu telah menemukan arti lain dari hilang itu sendiri. Tak memungkiri bahwa dirinya bukanlah satu-satunya makhluk yang merasakan kepedihan nestapa sebab perginya separuh jiwa. Meninggalkan—menyisakan beragam rasa juga lara yang berhasil membekas di relung hati terdalamnya. Tidak ada satu pun yang menginginkan perpisahan, pun Taehyung yang kala itu baru saja ingin mengukir kisah cintanya bersama sang kekasih hati.


        Acap kali bayangan senak itu datang, setelah itu mendiam. Hampir-hampir membuatnya larut bersama ratapannya yang tak gegas berhenti, maka hanya air mata yang berbicara. Taehyung yang lebih memilih mengungkung diri, selebihnya membatasi.


        Jangan harap pria itu melupakan Sohyun. Barang sekelumit pun kenyataannya tidak. Fakta, bahwa setiap saat wajah wanita yang merekahkan senyum indahnya di kala embus napas terakhirnya setia membayang di benaknya. Katakanlah dirinya gila. Berapapun banyak mulut yang mengatainya, Taehyung tetap akan menerimanya tanpa bantahan. Gila semenjak ditinggalkan, sebab belum ada yang sanggup membebaskannya dari jerat Sohyun.


      Angka tahun pun terlewati. Begitu banyak perubahan yang terjadi silih berganti, namun sepertinya itu tak berlaku untuk seorang Kim Taehyung. Untuk seorang pria yang masih betah hidup sendiri di usia matangnya. Tiga puluh lima tahun, di umurnya itu, selama sebelas tahun lamanya dirinya masih menjalani harinya tanpa pendamping hidup. Kedua orangtuanya sudah angkat tangan, menyerah menasihati putra bungsunya yang kekeh tak akan menikahi wanita manapun. Taehyung hanya mengakui Sohyun sebagai satu-satunya cinta di hidupnya, hanya Sohyun yang boleh menyandang gelar Nyonya Kim, hanya Kim So Hyunlah istrinya. Begitu tekadnya yang sudah ribuan kali ditekankan ke telinga orang-orang yang berani menanyakan pertanyaan sensitif itu padanya.


      Sang kakak, Jaehyun pun sama putus asanya. Pria berstatus dokter itu pada akhirnya menyerah, sama seperti ayah dan ibunya. Bahkan kehadiran dua buah hatinya sama sekali tak membuat Taehyung berkeinginan untuk hidup berkeluarga. Makin membuat Jaehyun yakin, Kim Sohyun berhasil menempati seluk-beluk hati Taehyung, menjadikan lelaki itu kian mengurung diri bersama kesedihan. Hal yang paling tidak diinginkan olehnya. Bukan perkara mudah, sebab itu ia menyerah.


       Di dalam kamar apartemen pribadinya, seperti hari-hari yang berlalu, yang terjadi bertahun-tahun ke belakang. Pria itu berupaya menarik mimpi yang berusaha kabur, masih ingin bercumbu dengan bunga-bunga tidur yang melenakan kebrutalan realita. Taehyung tetap terlelap walau itu terkesan dipaksakan, mengulur waktu sampai tiga puluh menit berikutnya akibat terlalu buruknya jadwal tidurnya yang kian hari, kian carut capai.


      Andai Sohyun ada di sampingnya ...


  


       andai saja,


       seandainya begitu.


     


      Kelopak matanya masih berat sekadar dibuka, sinar surya pun rasanya belum sanggup mengusik dalam rangka mengumpulkan kesadarannya yang tak beraturan milik salah satu makhluk Tuhan tersebut. Hingga tiga puluh menit waktu berjalan, mengharuskan Taehyung keluar dari zona nyamannya. Menghadapi hari tanpa warna.


      Taehyung akan memaksa, apabila mengedip dan membelalang mata tak mempan ia akan langsung menyeret kedua kaki ke kamar mandi, berdiri di depan wastafel dan mencuci muka puluhan kali. Taehyung sadari betul, buruknya jadwal tidurnya. Pagi hingga sore, habis untuk bekerja, tak jarang memilih lembur sepanjang tengah malam. Pulang pagi dan berharap karena kantuknya, ia bisa mengalami kecelakaan lalu pergi, pergi jauh menyusul wanitanya.


     Alangkah baiknya Tuhan, masih membiarkan nyawanya tetap menempel bersama raganya hingga kini, meski berkali-kali ia bilang bosan hidup, Tuhan tak jua mengerti kefrustrasian yang menjeratnya. Taehyung sering katakan itu dalam keadaan mabuk—pria itu tak sadar, Tuhan mungkin akan melaknatnya yang tak ada syukur sama sekali. Memberinya hidup yang lama sebagai balasan agar ia makin larut pada penderitaan yang ia biarkan menjamur liar.


     "Maafkan aku, Sohyun .... Aku tidak bisa menepati janjiku." Si pemilik suara mulai meracau. "Aku tidak sedang baik-baik saja sekarang. Semua karenamu ... karena aku yang belum bisa melepasmu pergi."


🔔


       Penampilan Taehyung berubah drastis. Jiwa rapuh dan penuh kepedihan, sirna di wajahnya yang kembali menyapa ramah orang-orang yang ditemuinya. Termasuk sekretaris setianya, yang mengabdi sejak masuknya Taehyung sebagai pemimpin Hondo.


       Melenggang masuk ke dalam ruang kerjanya, Taehyung duduk santai di atas kursi, melengak mengamati langit-langit ruangan yang sudah mengalami banyak perubahan, kecuali dirinya---tentunya. Sesekali menghela napas, sisanya mengetuk lututnya dengan jari yang hingga kini masih dihiasi cincin pernikahannya.


        Lelah menerpa, selepas memimpin rapat mingguan selama tiga jam. Rutinitas yang tak akan pernah berakhir untuknya yang masih punya tanggung jawab dengan ratusan ribu karyawannya.


       "Ada undangan istimewa dari pacarmu."


      Taehyung melenge. Mendilak malas pada ucapan pria yang baru datang tanpa permisi. Semakin lama, kian berani sang sekretaris menanggalkan kesopansantunannya di hadapan Taehyung sebagai atasan.


       Sangwoo tak peduli, toh mereka telah saling kenal. Hanya sedikit mengubah sikap mengikuti perangai Taehyung yang bertambah binal; kadang. Lekas ditaruhnya gulungan bertali emas di meja Taehyung. Sebuah undangan dari seseorang yang terus mengaku sebagai kekasih bosnya itu.


        "Luangkanlah sedikit waktumu, kalau kau terus menghindar dan merasa sakit melihatnya, dia pasti akan sedih, Tae."


        Pria itu geming tak bersuara.


        "Kalau tidak ingin datang, biar aku saja yang gantikan. Lumayan, tidak sebarang orang dapat undangan begini tanpa membayar tiket menonton."


        Mendengar itu, Taehyung merespons, seketika berdiri. "Enak saja!" Tangannya menyambar kertas undangan tersebut dari tangan sekretarisnya, menyimpan langsung di saku jas hitamnya.


       Sangwoo mendengkus, sebal.


        "Urusi saja surat wasiatku!"


        Taehyung menyegerakan langkah, pergi. Melenggang abai tanpa mau mendengar suara Sangwoo yang akan mengomel lebih panjang.


        "Memangnya dia mau mati, masih saja memikirkan wasiat." Sangwoo makin terheran pada pola pikir Taehyung. Entah jin apa yang menghinggapi Tuannya, hingga berpikir wasiat di usia sekarang. Meski begitu, Sangwoo tetap menjalankan perintah Taehyung, menghubungi Pengacara kepercayaan keluarga Kim.


🔔


         Dulu, kakinya yang lincah lagi gesit pernah berlari kilat melewati lorong panjang ini. Mengabaikan sekitar demi bisa mencapai bangku penonton—melihat sang wanita akan tampil di depan khalayak. Hanyut pada buaian nada yang dimainkan, sampai-sampai matanya dikhususkan untuk memandang satu raga.


        Kini, yang ada, kakinya mulai letih, sebatas berjalan pelan, Taehyung merasakan sesak pun kerinduan yang mengakar sejak lama, kian bertumbuh, menjalar. Bayangan perempuan anggun yang tersenyum manis ke arahnya terus membayang. Sudah jadi candu.


       Matanya menelusuri tiap-tiap apa yang dilihatnya. Bangunannya masih sama, sedikit renovasi, namun tak sampai mengubah ornamen khasnya, bunga sakura yang mekar.


***


    Pria itu duduk di dekat panggung, pada barisan pertama. Yang diperuntukkan untuk orang-orang istimewa dan para pesohor. Tidak lagi beberapa, namun hampir setengah isi ruangan yang nyaris dipadati manusia refleks menoleh ke arah Taehyung. Memberi senyum, kedapatan mengambil gambarnya, atau bergumam mengagumi ketampanan pria dewasa idaman para wanita itu.


       Dan, seorang Kim Taehyung yang sudah amat terbiasa bersikap cuek. Tak banyak mengindahkan apalagi memberi harapan palsu pada mereka yang menaruh asa padanya. Mustahil.


 


      Lama menanti sampai bangku terisi penuh. Pertunjukan segera dimulai. Tirai raksasa tersingkap perlahan, memperlihatkan sosok perempuan yang tak kalah anggun dengan Sohyunnya.


         Cantik.


         Bukan hanya Taehyung, pria normal sudah pasti akan mengatakan hal sama apabila disuguhi penampilan nyaris sempurna gadis yang kini membungkuk di atas panggung. Memamerkan senyum menawannya melihat banyak orang hadir untuk melihat pertunjukan istimewanya.


         Tampak penonton begitu terpukau dengan bakat seorang balerina remaja yang namanya sedang naik daun. Taehyung tersenyum melihat gadis cantik itu menari dengan indah gemulai. Sesekali mata itu menatap sang balerina dengan perasaan rindu. Dari mata gadis itu, Taehyung selalu merasa jika Sohyun sedang menatapnya.


       Jang Soyoon, gadis kecil dan naif itu telah tumbuh menjadi dambaan orang-orang. Impian, yang dahulu sekadar angan terwujud selepas mendapat penglihatannya. Bukan lagi dunia gelap tanpa warna.


 


       Taehyung enggan berpaling, perhatiannya terpusat pada Soyoon, memperhatikan tiap-tiap gerakan lemah gemulainya. Bagaimana sempurnanya tarian balet itu dibawakan.


***


        Pertunjukan selesai dengan riuh tepuk tangan. Jang Soyoon membungkuk tanda terima kasih, penampilan solonya berjalan lancar tanpa menemui kendala apa pun. Si sanguine itu langsung berlari ke belakang panggung ketika tirai tertutup sempurna. Berjalan cepat ke sana kemari sambil kepalanya celingukan mencari kedua orangtuanya.


       "Ah, itu mereka!" Kaki lincahnya menuntut untuk segera mendekati ayah dan ibunya. Dua pasangan itu benar-benar bahagia bisa menyaksikan pertunjukan luar biasa sang putri tercinta.


       Melesak masuk dalam dekapan orangtuanya, Soyoon cengengesan, hampir jatuh. Beranjak dewasa, rupanya belum juga berubah dari tabiat ceroboh, sangat berbeda jika dibandingkan di atas panggung. Remaja itu nyaris sempurna memperlihatkan lekuk kemolekan tubuhnya.


        Taehyung tersenyum lebar menyaksikan kehangatan keluarga mereka. Mengingatkan dirinya pada dua orangtuanya yang kemarin baru sempat dikunjungi.


         Mata Soyoon yang awas tanpa sengaja melihat siluet laki-laki, tak perlu susah payah memeras otak, ia sudah tahu siapa pemilik bayangan tersebut. Dari aroma parfum saja, Soyoon sudah dapat mengenali.


      "Oppa!"


      Pekikan sopran beroktaf Soyoon mengagetkan Taehyung yang didera lamunan. Taehyung dengan senang hati menyambut remaja itu, merentangkan tangannya lebar-lebar.


       "Kau ke mana saja selama ini, eoh?"


        Semburan Soyoon malah menjadikan tawa Taehyung mengangkasa.


        "Kenapa tertawa? Apa menurutmu lucu? Tahu tidak, kau membuatku hampir gila karena tak menjawab panggilanku. Atau jangan-jangan kau sedang berselingkuh di belakangku. Ayo mengaku!" sungut Soyoon makin jadi.


      Mencubit hidung bangir Soyoon, Taehyung angkat suara, "Anak kecil tahu apa? Oppa sibuk, tidak ada waktu. Kau lihat mataku ini, tidak ada waktu hanya untuk tidur," tunjuknya pada lingkaran hitam di bawah matanya.


       Kedua baya di belakang tubuh Soyoon sampai bingung, tidak habis pikir mendengar celotehan putri mereka. Taehyung menghela napas panjang, tak ada yang berubah, gadis itu masih saja bersikap genit.


       "Berhentilah menatap jijik padaku. Ck ... aku tak serius. Sebagai gantinya aku punya hadiah, anggap saja tanda terima kasih sudah menyempatkan waktu datang melihat penampilanku, Tuan sibuk!"


       "Bolehlah, apa hadiahnya?"


       "Mudah saja, syaratnya tutup mata!"


       Walau tak mengerti apa rencana gadis remaja itu, Taehyung dengan polos menurut saja perkataan Soyoon.


        Cup,


        Cups...


 


     Kelopak matanya terbuka, terkejut. Dapat dilihat senyum jail Soyoon, anak kecil itu berani menciumnya?


       "Dengan begini, matamu yang seksi pasti akan kembali segar. Bagaimana kau bisa membuat banyak wanita berteriak histeris, kalau sehitam ini? Tidurlah dengan nyenyak. Jangan menangis lagi, Kau jangan membuat kakak cantikku sedih di sana. Oke!"


        Taehyung menganggukinya patuh. "Em.... Oppa janji setelah ini akan tidur nyenyak. Aku janji tidak akan menangis lagi!" ucapnya meyakinkan bari menempelkan ibu jarinya pada jempol Soyoon.


      "Kalau kau sangat merindukan Kakak, datanglah dan pandangi aku sesuka hati. Jang Soyoon, tidak kalah cantik dengan Sohyun Eonni!"


     Pendar tatapan rindu selalu menghunjam. Lelaki itu tak lalai memperhatikan bola mata Soyoon dalam-dalam. Di sana, entah kenapa ia selalu merasa gadis itu selalu menatap dirinya.


🔔


      Terkandas Taehyung di lain tempat. Menepi seorang diri, menyepi di depan guci berisi abu sang kekasih. Nama Sohyun masih terukir indah di dalam sana, pun dalam sanubari hati. Lengkap sudah perjalanannya, tiada hari untuk tak mengunjungi tempat penyimpanan abu jenazah milik Sohyun. Hanya untuk mengenang dan merasakan dekat pada Sohyun yang tidak lagi dapat disentuhnya. Lembaran foto dan lonceng tersimpan rapi dari balik kaca transparan itu. Senyum yang dikagumi, terpampang, mengikis kerinduan yang menebal sepanjang hari. Dari waktu ke waktu.


      "Kenapa sulit sekali?" gumamnya, seperti mempertanyakan kepada Sohyun, setengah untuknya. "Aku tidak kuat menahannya," imbuhnya sedu.


       Bola matanya mengitar, mengamati sekeliling. Ada banyak guci yang tersimpan di dalam sana. Yang sudah lama—lebih dulu mendiam sebelum kedatangan sang kekasih di tempat sunyi ini.


       "Mungkinkah kau kesepian di sana?" Taehyung bertanya lagi. Untuk Sohyun sembari menatap langit di luar, dari balik jendela tebal di sisi kirinya.


        "Corona Borealis," ucapnya memperhatikan konstelasi yang tampak dekat  dan jelas. Konyol. Bagi Taehyung, ia merasa lucu, ketika ia mampu menghabiskan waktu hanya untuk menghapal dan mengetahui bentuk sekaligus sejarah tercetusnya pelbagai macam rasi di langit dalam sehari. Sebab Sohyun. Sejak wanitanya mengatakan keinginannya pada malam perpisahan.


       "Aftokráteira, apa kau sedang menungguku?" dengungnya ingin tahu. Matanya berkaca-kaca, Taehyung menatap lagi foto Sohyun. Memandang lambat-lambat. "Ajak aku pergi bersamamu. Ini terlalu menyiksa buatku."


        Pecah sudah tangisnya, tersedu sedan sendirian. Taehyung tak bisa membebaskan diri dari rundung kepiluan. Salahkan dia, jangan Sohyunnya. Ia bodoh, hidup dalam pilihan sulit. Disadari Taehyung, betapa lemah mentalnya kini. Makilah dirinya yang sudah memupuskan segala asa.


       Ini bukan kali pertama pria itu mengucap kalimat demikian. Tak terhitung berapa banyak, seakan itulah susunan silabel yang selalu ia lafalkan saban kali berkunjung kemari. Tiada lagi peduli, baginya dunianya sudah lama mati semenjak wanitanya pergi. Seabrek motivasi tak mampu mengubah hidup Taehyung, ia sudah lama jatuh dalam kubangan kenestapaan, lebih memilih di sana tak berniat beranjak.


        "Baik-baiklah di sana, tunggu aku, Sayang."


        Jeriji panjangnya mengelus permukaan kaca bening itu, menghantarkan kerinduan pada sebingkai foto usang. bibirnya terangkat tipis, menyaksikan senyuman abadi milik Sohyun. Sumpah demi Tuhan, lelaki itu tak sedetik pun melunturkan ingatannya pada bingkai indah senyum mendiang istrinya.


      "Sampai jumpa!"


        Perlahan kakinya mulai menjauh, Taehyung menyegerakan langkah ke mobilnya. Diam beberapa saat sebelum mengayunkan kaki. Taehyung urung memasuki kendaraannya, ia meninggalkan mobil—berjalan kaki—berlainan arah.        


      Dalam pikiran kalut serta pelik, Taehyung menangis. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam benaknya sekarang. Tanpa tujuan, benar-benar hilang arah.


       Menahan dingin yang menusuk,


Taehyung memaksa berjalan di tengah jalanan lengang, kakinya yang gemetaran di atas lapisan salju pun tak membuatnya berhenti dari aksi nekatnya. Pertengahan musim dingin, badai salju dan suhu ekstrem ... sepertinya tak mempan. Hasratnya telah mati. Mati adalah hasratnya yang tertunda. Taehyung pasti sudah gila, ia berteriak di tengah malam yang berkabut. Dingin. Sendiri. Membutakan mata pada segala rambu. Aturan hidupnya berantakan, tidak ingat kapan kali terakhir ia patuhi.


   


      Tingkah konyolnya berhenti kala si pengganggu muncul. Ponselnya mendering, menambah ngilu tulang belulangnya. Menilik nama tertera, Taehyung pun menjawab panggilan tersebut.


       "Kau di mana?"


       "Eoh, Kakak. Aku sedang di jalan," jawabnya setengah linglung.


       "Cepatlah pulang, ada yang ingin kutanyakan."


       "Katakan sekarang saja."


        Terdengar erangan kesal dari sana, dari seorang Kim Jaehyun yang lelah menghadapi sifat Taehyung. Baru akan berucap, beberapa mili detik, sayup lesingan kendaraan menarik kecurigaan Jaehyun.


       "Suara apa itu," Jaehyun meninggikan suaranya cemas.


       "Kakak, aku melihat Sohyun!"


      Taehyung semakin maju, melaju makin jauh. Mengikuti jejak bayangan yang dianggapnya, Sohyun dengan senyum girang.


       "Sudah berapa kali kubilang, Sohyun sudah mati. Berhentilah, Tae!"


       "Aku ingin bersamanya."


       Kim Taehyung berlari lintang pukang, mengejar sesuatu yang menarik akal sehatnya. Terus melangkah ... ke tengah jalan, makin mendekat ....


       "Taehyung, Kim Taehyung!"


        Pria itu telah tuli, gawainya ia biarkan terlunta dalam genggam ringannya, suara teriakan Jaehyun seakan tak terdengar. Semakin hilang bersama meluncurnya truk besar di depannya.


        Bruk


       Brak


        "Jawab aku, Tae!"


       Nihil. Tak ada sahutan setelah bunyi mengerikan itu tiba di telinga Jaehyun.


     


        "Yak, anak bodoh, apa yang terjadi?"


        Taehyung hanya tersenyum, tak memedulikan pekikan frustrasi sang kakak yang bersumber dari telepon genggam berlumuran darah di sampingnya. Langit cerah, seolah mengejeknya di tengah rasa sakit yang menjalar di sekujur badan. Celaka. Taehyung mencelakakan dirinya. Membujur lemah bersama oksigen yang terasa menipis untuk sekadar diraup memenuhi rongga pernapasannya.


        Aku memang bodoh. Kuakui itu sedari dulu. Tak apa. Sungguh tidak apa-apa kau mengataiku karena kebodohan ini. Aku hanya ingin bebas dari rasa menyiksa ini. Rasa sakit yang telah lama menyiksa batinku.


         Mesin kendaraan melesing ribut. Truk yang sempat menghantam tubuh pria di tengah jalan itu bergegas menjauh, sejauh mungkin. Taehyung terkikik miris, betapa menyedihkan dirinya saat ini. Sendirian, tanpa siapapun. Matanya memaku, memandangi gugusan bintang di langit cerah, mungkin sedang mengejek dirinya yang sekarat. Air mata bergulir turun bersama tarikan napas berat yang serasa dicabut  paksa.


        "Sel...lamat ti...tinggal, dun...ia."