Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 8 : Titik Temu



     Sohyun keluar dari gerbang rumah. Menyusuri jalanan sepi yang hanya disinari lampu jalan menuju jalan utama kota. Tak peduli siang pun malam, gadis itu tetap tegak tanpa ada raut jeri pada wajahnya. Ia pergi tanpa memberi tahu orang rumah, Jonghoon telah pergi ke bandara, guna menjemput ibunya yang akan pulang tengah malam nanti. Sementara para pelayan, juga telah ia pulangkan karena akhir pekan.


     Jarak antara rumah dan jalan utama sepanjang lima ratus meter lebih, ia lalui dengan santainya, baginya jarak bukankah alasan bagi Sohyun yang sudah sangat terbiasa, terlatih pada kegelapan malam. Sering kali, dijumpainya pria mabuk yang lewat, bahkan mengancam akan membunuh dan memperkosanya, namun sekali lagi, itu tidak akan pernah menyurutkan nyalinya yang telah kokoh seteguh 'wanli changcheng'.


     Gadis berperangai lembut nan menghanyutkan itu cukup piawai menaklukkan pria hidung belang yang berani berurusan dengannya, hanya perlu menyebut namanya saja, orang-orang sudah berlari tunggang langgang bak dikejar gergasi.


     Kim-So-Hyun. Nama yang indah. Pemberian dari kedua orangtuanya yang telah lama tiada. Nama yang cantik, memiliki makna dalam, namun kini menjadi sangat ditakuti. Sohyun benci disebut psikopat, benci ketika orang-orang menyebutnya monster. Meski begitu, karena sebutan psikopat melekat erat padanya, ia terjauh dari segala kejahatan yang datang, dan konsekuensinya, ia benar-benar tersisih dari dunia ini. Ia ada, namun tak pernah dianggap ada, termasuk ibu angkatnya sendiri. Padahal sekali pun, dirinya tak pernah ada niatan menyakiti apalagi sampai menghabisi nyawa orang lain.


     Sampailah ia di persimpangan jalan, batas antara lokasi bukit dan kawasan perkotaan. Biasanya ia akan duduk di halte bus. Menunggu alat transportasi umum itu membawanya pergi, pengecualian untuk hari ini, hari yang begitu dinantikannya sejak lama bukan hanya dirinya tapi juga Jungkook yang muncul bersama kendaraan pribadi yang ia bawa, sebuah mobil yang lama teronggok di bagasi rumahnya, Sohyun rasa.


     Pria itu tersenyum, menyembulkan kepalanya dari jendela mobil. Benda itu berhenti mendesing, segera turun guna menghampiri sosok perempuan yang duduk menatapnya tak berkedip. Bukan karena Sohyun terpana melihat penampilan kekasihnya yang tak biasa. Ada alasan lain.


     "Maaf, membuatmu lama menunggu," kata Jungkook setelah menghadapkan dirinya di muka Sohyun yang tampak tenang.


     "Tidak masalah. Aku juga baru sampai."


      Jungkook menghela napas lega, "syukurlah!"


     "Mari masuk!" ujarnya mempersilakan.


     Mereka berjalan beriringan, memasuki mobil yang melesing kembali.


     "Harusnya kau memberi tahuku saja, alamat rumahmu... dengan begitu kau tidak perlu berjalan dan menunggu di halte."


     Sohyun yang mulanya memandang jalanan, sekilas menoleh memandang Jungkook, sebelum terpatri lagi pada pohon-pohon yang tertinggal seiring semakin cepatnya laju kendaraan yang ia tumpangi.


     "Aku tidak ingin kau melihat rumahku," Sohyun berucap sekenanya.


     "Mengapa begitu?"


     "Aku takut kau tidak bisa menutup mulutmu setelah melihatnya."


     Jungkook tergelak, menggelengkan kepala merasa lucu dengan jawaban Sohyun. "Kau ini ada-ada saja. Pasti rumahmu..." Ia tak melanjutkan perkataannya, semua orang juga pasti akan berpikir Sohyun berasal dari keluarga miskin. Terpergok meminum air keran, rupanya mampu mengelabui identitasnya.


     "Apa masih lama?" Sohyun mengalihkan obrolan, sudah lima menit mobil berjalan, dan Jungkook belum memberi tahu padanya arah tujuan mereka.


     "Mungkin seperempat jam lagi. Kenapa? Apa kau sudah tidak sabar menunggu kejutanku?"


     Sohyun mengangguk sekali. "Ya. Sangat tidak sabar. Pasti kau menyiapkan banyak hal demi berjalannya acara kita hari ini?"


     "Tidak salah lagi." Jungkook lagi-lagi terkekeh. Merasa menang telak atas Sohyun yang mudah dibodohi.


🔔


     Taehyung bergegas turun dari mobil, memasuki restoran di kawasan elit perhotelan Gangwon. Tak sulit menemukan kliennya, mereka yang duduk di dekat jendela melambaikan tangan seolah mengenali wajahnya. Bersicepat ia melangkah menghampiri meja yang sudah penuh dengan berkas penting.


     "Maafkan saya yang datang terlambat." Taehyung membungkuk di hadapan tiga petinggi perusahaan Shichian dari negeri tirai bambu.


     "Anda sama sekali tidak terlambat. Kami saja yang datang terlalu cepat. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum pertemuan dimulai." Tuan Li Wan An, yang fasih berbahasa Korea, memandang arloji emasnya.


     "Silakan duduk!"


     Taehyung duduk di kursi yang tersedia, membuka map yang telah dipersiapkan dalam tas kerjanya.


     "Tidak ingin memesan sesuatu terlebih dahulu? Anda sungguh mirip dengan Tuan Kim," tawar CEO Xie.


     Taehyung menggaruk-garuk tengkuknya, berasa malu dan canggung. "Ini pertama kalinya saya bertemu dengan klien."


     "Tidak apa-apa. Kau masih sangat muda memimpin Hondo, seperti putriku, Shen Nan juga sudah kubekali banyak hal untuk mengurus perusahaan perbankan."


     Satu-satunya wanita yang ada di antara mereka tersipu namanya disebut sang ayah.


     "Dia memang pemalu bila dengan orang baru, tapi bisa menjadi sangat banyak polah tingkah apabila sudah saling mengenal." CEO Xie, terkekeh pelan. Menunjuk sang adik perempuan yang duduk bersebelahan dengannya. Tampak dari kedua sisi pipi Shen Nan yang memerah. Seolah ia tengah menaruh hati pada sosok lelaki yang baru dijumpainya. Dia Kim Taehyung. Pria yang tengah tersenyum manis menanggapi obrolan ayah dan kakak laki-lakinya.


🔔


     "Benarkah ini tempatnya?" Sohyun bertanya, sesaat usai mobil berhenti bergerak. Dan kini terparkir di halaman luas depan hotel berbintang dé Amoura. Jungkook memgangguk sambil melepas sabuk pengaman yang membelitnya.


     "Kau terkejut, ya? Khusus aku sewa lantai atas untuk makan malam kita berdua."


     Gadis itu memanglah terkejut, karena ini salah satu tempat yang paling ingin ia hindari. Tempat di mana ia dipermalukan ibunya di depan para tamu sewaktu pesta perayaan So Hang Group beberapa tahun lalu. Tak jelas alasan Yoon eun kala itu, tapi mengingat lagi wajah merah padam ibunya karena ia mengaku putrinya sudah membuat hatinya senak. Benar, ia tidak diakui, karena dirinya hanyalah anak pungut.


     "Ayo turun!"


     Sohyun terkesiap, tetiba wajah Jungkook muncul tepat di hadapannya. Pria itu entah sejak kapan sudah berdiri membungkuk di samping pintu mobil yang telah terbuka.


     "Maaf," katanya, seraya melepas sabuknya.


     Berjalanlah mereka berdua ke dalam restoran yang kelihatan lengang. Bukan senyap lantaran tak ada pengunjung, tempat ini memang memiliki kesan eksklusif. Itu sebabnya, Jungkook rela menggelontorkan dana tak sedikit untuk acaranya malam ini.


     Jungkook menariknya melewati banyak meja. Di tengah perjalanan itu pula, sayup-sayup suara bariton pria terdengar sampai ke vestibule telinganya. Sohyun menoleh sebagai respons, matanya membuntang, melihat kehadiran Taehyung di sini. Hanya tiga langkah, jarak mereka dan semakin bertambah jauh seiring melebarnya langkah Jungkook yang membawanya.


🔔


     "Kau kenapa, Sohyun?"


     Suara yang berasal dari Jungkook kembali menganggu konsentrasi Sohyun. Gadis itu menatap Jungkook yang terlihat terheran melihatnya.


     "Tidak apa-apa," balasnya kemudian mengalihkan bola matanya menatap ke sekitaran.


     "Bagaimana pendapatmu tentang tempat ini? Bagus, kan?"


      Sohyun tersenyum tipis sembari mengangguk kecil. Mereka segera duduk di kursi, menunggu kedatangan seorang pelayan.


     "Pilihlah makanan yang kau ingini."


     Tangannya bergerak, membolak-balik daftar menu yang tersedia. Tidak ada yang berbeda dari empat tahun lalu, menunya masih sama, pikir Sohyun. Percuma saja baginya, semenggiurkan apa pun makanan kelas atas ini, tak akan mudah melewati pencernaannya. Hanya ada satu masakan yang bisa ia telan, dan sialnya, itu adalah buatan tangan ibunya.


     Sedetik, muncullah seorang pelayan dari belakang tubuh Jungkook. Seorang wanita yang merunduk memegangi catatan menunya. Sohyun mengenalnya, meski baru sekali bertemu dengan wanita berpapan nama, Ko Hyeri.


     "Astaga!" Buku catatannya melompat, jatuh terlempar karena keterkejutan yang menimpanya. Hyeri, si pegawai pelayan tamu VIP, membelalang melihat kehadiran Sohyun.


     "Anda seperti sedang melihat hantu saja," cerca Sohyun, sedikit membungkukkan badan, guna memungut buku milik Hyeri lantas menyerahkannya pada pelayan yang masih mematung gemetaran melihatnya.


     Jungkook yang tak tahu apa-apa, berdeham keras agar si pelayan menyambut uluran buku milikya.


     Hyeri segera menerimanya, bersiap mencatat pesanan yang akan dikirim ke koki di dapur.


     Jungkook yang sudah menjatuhkan pilihannya, menunjuk makanan paling mahal di restoran ini."


     "Kalau Anda?" Ia tujukan pada Sohyun yang sudah selesai membuka-baca daftar yang ada.


     "Aku pesan ... dua gelas air mineral."


     Hyeri mencoba bersikap sewajarnya. "Maaf, tapi di sini air mineral tidak masuk dalam daftar menu kami," ungkapnya secara halus, seramah-tamah mungkin.


     "Air minum dari keran juga boleh."


     "Apa?!" Bukan hanya Hyeri, Jungkook pun memekik demikian.


     "Tapi ..., Kau tak perlu merasa tidak enak padaku. Aku yang akan membayar makananmu, jadi pesanlah apa yang ingin kau makan."


     Sohyun tetap menggeleng, tidak setuju. Ia menatap Hyeri, sejurus ia berkata, "kalau begitu, air botol di lokermu saja, Ko Hyeri."


     Mata pelayan restoran itu langsung membelalak. Sohyun tidak akan pernah lupa, kepada satu-satunya orang yang menolongnya saat ajudan ibunya mengusirnya dari restoran ini, dulu. Hanya Ko Hyeri saja saat itu, yang bersedia menampungnya semalam di mes karyawan. Memberinya sebotol air dan sebungkus roti cokelat yang nyaris basi.


     "Mo...mohon tunggu sebentar, kami akan segera antarkan pesanannya. Permisi."


     Hyeri bergegas pergi dari sana dengan wajah memucat. Seperti biasa, Sohyun cuma akan melihatnya tanpa banyak mulut.


     "Dan sekarang ... giliranmu, Jeon Jungkook!"


     Jungkook mengernyit tanda kebingungan merajai pikirannya. Apa maksud dari gilirannya?


🔔


     "Kerjasama ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak. Baru-baru ini, pertumbuhan perekonomian Asia Timur sedang bagus-bagusnya, terlepas dari banyaknya tekanan dari luar dan perang mata uang, kami dari Hondo telah menjalin beberapa mitra bisnis di kawawan Benua Biru, dan kami harapkan juga, ini terjadi pada Shichian untuk ke depannya.


     "Jika investasi ini berhasil, maka bukan hanya Shichian saja yang semakin dikenal dunia, beberapa proyek yang sudah kami tangani, contohnya ... dalam kurun waktu sepuluh tahun ke belakang, ada lebih dari puluhan perusahaan minor maupun mayor yang berhasil tembus ke pasar global.


      "Dengan semakin terbukanya peluang yang ada, Hondo sebagai perusahaan kontruksi terkemuka akan melakukan perluasan pembanguan di sektor-sektor pertumbuhan menengah ke atas. Ini bukan tentang seberapa banyak milyaran dollar yang akan didapat, tapi bagaimana kerjasama dua raksasa dari dua negara adidaya ini mampu menciptakan perspektif baru yang selama ini dipandang remeh oleh sebagian perusahaan besar lainnya."


     Tepukan mengangkasa dari tangan-tangan yang sedari tadi memperhatikan cakapnya Taehyung mempresentasikan proposalnya.


     "Woah, Saudara Kim Taehyung ... Anda sungguh hebat. Baru kali ini aku menyaksikan betapa semangatnya anak muda dalam mempersembahkan karyanya." Wan An melontarkan pujiannya. Disusul Wong Xie, "Benar, Anda sungguh luar biasa. Kami sudah putuskan, bahwa Hondo dan Shinchian resmi bekerjasama."


     Taehyung tak mampu menutupi raut kebahagiaannya. Bukan hanya ucapan semata, Wong Xie selaku direkur utama, langsung membubuhkan tanda tangannya sebagai bukti di atas materai.


     Diam-diam, tanpa sepengetahuan Taehyung, Shen Nan, putri dari Wan An, terus menunjukkan ketertarikannya. Hingga ia berbisik pada sang kakak, Wong Xie, agar membantunya dekat dengan Taehyung, berhubung kerjasama antarperusahaan sudah disepakati.


🔔


     Jungkook masih tercenung di tempat duduknya, sedari tadi pikirannya bertualang, menanyakan arti perkataan Sohyun. Bahkan makanan yang dipesannya di atas meja sesuap pun belum tersentuh. Hilang rasa inginnya mengunyah makanan lezat itu. Rasa penasaran secara tiba-tiba menggayutinya. Bahkan ia tidak begitu mengindahkan celotehan Sohyun yang dengan gamblang menceritakan hubungannya bersama ibunya. Sekali lagi, Jungkook tidak menaruh peduli terhadap apa saja yang diucapkan Sohyun.


    Lain halnya dengan Sohyun yang sudah menghabiskan gelas keduanya tanpa sisa. Diletakkannya benda bening tersebut. Memandang heran wajah Jungkook yang tak seperti biasa.


     "Ada yang ingin kau tanyakan?"


     Sudut bibir Jungkook terangkat, pria itu tersenyum kemudian menggeleng perlahan.


     "Katakan saja, barangkali ada yang membebani pikiranmu saat ini. Aku pasti akan mendengarnya."


     Dia terlihat berpikir lama. Menarik ulur napasnya yang serat. "Apa maksud dari perkataanmu tadi, Sohyun? Memangnya kau akan melakukan apa, sampai aku menjadi giliranmu?"


     "Kau sungguh ingin tahu?"


     Jungkook memgangguk cepat, menunggu jawaban keluar dari mulut Sohyun yang tersenyum simpul menatap bola matanya.


     "Kau lihat benda itu?" Sohyun menunjuk jam antik tua yang berdiri di pojok dekat lemari berisikan tabung kaca transparan.


     Jungkook ikut mengarahkan pandangannya, matanya membola, tatkala jarum panjang sudah menyentuh angka sebelas. Kurang lima menit lagi ia harus segera memutuskan Sohyun atau ia akan gagal.


     "Aku tidak menyangka waktu berjalan sangat cepat. Tanpa aku sadari hari ini, sudah dua bulan kita menjalin hubungan. Tahukah kau, Jungkook... kau adalah pria pertama yang dengan berani memintaku menjadi pacarmu? Kau mengatakan tanpa ragu, mengabaikan pandangan orang-orang terhadapmu demi bisa menjadi kekasihku. Aku tersentuh saat itu."


     "Benarkah? Aku merasa sangat beruntung bisa memilikimu. Tapi, Sohyun ada yang harus aku bicarakan.... Kita ..."


     "Kita putus saja."


     Bukan Jungkook, melainkan Sohyun yang mengucapkannya dengan lantang.


     "A...apa katamu?" Jungkook seketika menjadi tergagap. Berharap rungunya salah menelinga.


     "Haruskah kuulangi lagi, bahwa hari ini juga aku mengakhiri hubungan kita, Jeon?" Sohyun memperjelas perkataannya.


     Jungkook menggebrak meja, membuat barang-barang di atasnya bergetar dari posisinya. "Mana bisa begitu? Kau tidak bisa melakukannya semudah itu!" Tangannya menunjuk wajah Sohyun yang tampak santai, tidak terprovokasi.


     "Bukankah itu yang akan kau katakan, Jeon Jungkook?" tantang Sohyun, semakin gencar memojokkan Jungkook dangan kalimat menohoknya.


     "Apa ini rencanamu? Kau menjebakku?"


     Jari telunjuk kembali mengacu di depan mukanya. Sohyun untuk pertama kalinya tertawa sinis, memegang tangan Jungkook, sengaja mengarahkan balik pada si empunya jari.


    "Bagaimana rasanya? Rasanya terkena boomerang sendiri? Kaulah yang pertama melemparnya duluan, jika aku membalikkannya dan kau yang gagal menangkapnya, maka jangan salahkan aku, tapi dirimu sendirilah, Jungkook. Kau yang tidak mampu, ataukah aku yang lebih hebat daripadamu?"


     "Kau berani padaku?" Pria itu mulai mengeram marah. Mencengkeram kuat pergelangan tangan Sohyun yang memutih.


     "Tentu aku berani. Kenapa hanya sendiri, tidak inginkah kaupanggil teman karibmu? Tidak lelahkah mereka bersembunyi di bawah meja sejak tadi? Aku tahu mereka di sini. Taruhan tidak akan terjadi tanpa adanya rekan, bukan? Dan sayangnya, kau telah kalah."


     Merasa kepalang tanggung, dua orang yang memang bersembunyi di bawah meja menyembul. Berdiri dengan kamera yang menyala, habis sudah rencana mereka. Sohyun mengetahuinya sebelum menjadikan wanita itu bahan percobaan mereka.


     🔔


     Pertemuan berjalan lancar. Sesuai harapan dan rencana yang ia susun sejak awal. Seusai acara makan-makan, kliennya dari Tiongkok itu akan segera bertolak ke negaranya. Taehyung lekas membungkukkan badannya berulang di depan mereka.


     "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Terima kasih sudah memberi kesempatan saya dalam mengerjakan proyek ini," tuturnya.


     "Justru kami yang seharusnya berterima kasih padamu, Taehyung," Wong Xie berkelakar, menjabat tangan rekan barunya.


     "Anda bisa saja."


     "Kami pamit dahulu. Sampai jumpa lain waktu. Kalau kau ada waktu, bolehlah sekali-kali mengunjungi China ataupun Hongkong, kebetulan putriku berdomisili di sana." Wan An melirik anak bungsunya, Shen Nan yang terlihat semakin malu-malu.


     "Akan aku usahakan."


     "Kim Tae Hyung ..." Shen Nan mendekat pada Taehyung. Pria itu menunggu apa yang mau dikatakan Shen Nan.


     "Hati-hati di jalan."


     Wong Xie, sang kakak mengembus kecewa. Apakah adiknya itu sangat gugup, sampai mengatakan kalimat standar seperti itu.


     "Ya, itu sudah pasti, Nona. Anda juga, hati-hati di jalan," sahut Taehyung, memberi pesan.


     Wanita itu mengangguk saja. Seluruh tubuhnya jadi gemetar tak keruan hanya karena memandang lelaki macam Taehyung. Salahkan dirinya yang sudah terperangkap lalu jatuh pada pesona lelaki yang lebih muda setahun dengannya itu.


     Pertemuan mereka berakhir dan memutuskan pamit, usai berbincang lama. Taehyung terus memperhatikan keluarga tersebut, sampai keluar dari pintu restoran. Di luar beberapa ajudan yang bertugas menjaga juga sudah disiagakan untuk kepulangan mereka.


     Taehyung menghela napas panjang, sedikit melonggarkan dasi yang membelit nia kemejanya.


     Dari arah lain, Sohyun tampak tergesa-gesa menuruni tangga restoran. Gadis itu berjalan cepat, meninggalkan ruangan atas. Mengabaikan teriakan frustrasi dari Jungkook.


    Sohyun yang sedang tidak fokus, tanpa sengaja menyenggol seseorang yang masih berdiri dekat meja tamu.


    Nyaris ia menjelepok jika saja tangan kukuh itu tak menahan lengannya.


    Taehyung terpaku, menatap lekat bola mata yang pernah dilihatnya beberapa waktu lalu. Senyum bahagia terlukis darinya, mengetahui sosok yang begitu ia rindu dan cari sekarang berada tepat di depan matanya.


     "Sohyun!"