
Tinta hitam terbubuh bebas di atas kertas. Suara kerit ujung pena menguar di dalam ruang yang hampa. Bergerak meliuk-liuk menggores mengikuti barisan rata. Perbukuan jari perempuan itu tak mau berhenti menuliskan apa saja yang ada di dalam lemari otaknya. Buku hariannya nyaris penuh dengan coretan rumit yang tak seorang pun dapat mengartikan bentuknya. Mungkin abstrak, begitu absurd untuk sekadar di cerna akal manusia. Ia menyebutnya seni, seni itu bebas dan lepas. Tidak ada batasan dalam berkreasi, jika ada ... itu bukan seni, namun aturan yang tabu yang sengaja diada-adakan, entah oleh siapa, dia tak mau tahu.
Sudah satu jam lebih berlalu, namun tangan itu tiada lelah menari memegang kalam yang dijadikannya kekasih sang tangan. Baginya yang terbiasa menekan ribuan kali tuts piano dalam satu lagu, tentu mencoret-coretkan lapisan tinta di atas kertas bukan masalah besar. Karena begitulah kesehariannya, jika bukan musik, buku, alat lukis, maka pilihannya jatuh pada peranti tulis dalam tas kulitnya.
Di tengah larutnya gadis itu dalam hanyut karya niskalanya. Derap kaki memijak, mendebuk lantai kelas yang senyap. Seseorang yang selalu menemukannya menyepi di dalam ruang musik. Dia Kim Yeri, temannya. Wanita itu datang, mengambil duduk di sebelah Sohyun yang terfokus pada lembar polos yang baru.
"Akhirnya kau kembali juga."
Pernyataan lega keluar dari Yeri. Bagaimana tidak, Sohyun akhirnya masuk kuliah lagi, setelah empat hari tak memperlihatkan batang hidungnya di kampus. Memang jadwal kuliah mereka bukan harian. Mereka mengambil kuliah pagi, tiga hari dalam seminggu. Dan Yeri hanya bisa bertemu Sohyun bila berada di kampus. Selain itu tidak ada kesempatan lain. Jadi ia teramat bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dengan gadis populer tersebut.
"Apakah kau amat merindukanku?" Sohyun bicara seperti biasanya. Seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Sementara yang ditanya tertunduk dengan wajahnya yang ditimpa keibaan.
"Sebelumnya aku minta maaf," ucapnya pelan. "Maaf karena terlibat taruhan yang dilakukan Jungkook. Aku menyesal, harusnya aku memberi tahumu, bukan ikut menyembunyikannya darimu, Sohyun..."
"Apakah kau amat mencintainya?"
Seketika matanya membulat dihadiahi pertanyaan yang tak disangka-sangka. "Ma...maksudmu apa bertanya seperti itu?" Suaranya memelan, Yeri merasakan darahnya berdesir hebat. Ia lupa bahwa sekarang dirinya sedang berhadapan dengan Sohyun.
Temannya itu dengan mudah mengetahui kebohongannya, maka bukan hal mustahil lagi, apabila Sohyun juga mengetahui rahasianya.
"Tidak perlu dijawab jika itu berat. lagipula aku sudah tahu," tutur Sohyun menutup buku hariannya seraya memberesi alat tulisnya.
"Maafmu aku terima. Tapi—Yeri, ada satu hal yang harus kuberi tahu, aku rasa Jungkook sudah mengatakan sesuatu padamu. Tolong rahasiakan peristiwa yang kauketahui tentang malam itu. Meski kau tidak ada di sana, berusahalah untuk tutup mulut. Termasuk taruhan mereka yang gagal."
Yeri membisu, namun segera mengangguk sesaat dilihatnya senyum ramah Sohyun muncul. Ia masih menyerap apa saja yang baru terlontar dari Sohyun. Perempuan hening itu dengan teramat mudah memaafkan dirinya, kendatipun ia sadari betul, perbuatannya tidak dibenarkan.
"Kau bisa menjaga rahasiaku atau membongkarnya, itu terserah padamu."
Yeri refleks menggeleng cepat. Merasa bahwa Sohyun mengira jika dirinya mulai meragu. Hanya saja Yeri bingung. Lalu bertanya begitu hati-hati. "Apa kau berasal dari keluarga kaya?"
Sohyun melipat kedua tangan di atas meja, tersenyum tipis memandang raut penasaran Yeri. "Apa menurutmu aku terlihat seperti orang berada?" Sohyun bertanya balik. Senyumnya berganti penuh teka-teki.
Sontak Yeri menilai penampilan Sohyun. Sepatu bahkan tas bututnya yang hampir rusak, selama ini adalah penunjang tampilan utama Sohyun. Tidak ada satu pun yang mengetahui identitas asli temannya itu. Memikirkan uang sepuluh juta won saja membuatnya kaget setengah mati. Itu bukan jumlah yang sedikit untuk seorang Sohyun yang bahkan tak pernah terlihat makan di kantin. Orang-orang berpikir bila Sohyun tak memiliki apa-apa. Namun, bukan sesuatu yang tidak mungkin, bisa saja, selama ini perempuan di depannya berpura-pura.
"Yeri..."
Sohyun memanggil namanya. Kontan ia menoleh.
"Benarkah kau ingin tahu siapa aku yang sebenarnya?"
Suara Sohyun yang terdengar tenang namun mematikan itu justru kian menambah gemetar tubuhnya. Yeri sepertinya salah memberikan pertanyaan, hingga dapat memancing Sohyun. Mungkinkah ini akan jadi akhir hidupnya? Di tangan Sohyun yang dikenal psikopat?
🔔
Di dalam penjara yang pengap. Tampak beberapa tahanan tengah duduk menunggu. Berderet bangku penuh oleh sekumpulan narapidana yang telah lama menerungku. Dua, tiga orang sibuk mengobrol, memetak jarak antarmanusia lainnya. Bukan tidak kenal, itu lebih baik ketimbang terjadi kerusuhan jika mereka diberi akses bertegur amarah.
Di antara belasan narapidana, tinggal sesosok pria yang berdiri sendiri di kiri bangku yang sebenarnya belum terisi. Masih ada ruang kosong baginya untuk duduk. Jika saja tatapan membunuh dari dua, tiga orang yang berbincang itu tak mengutuk tajam padanya.
"Sekarang giliranmu!"
Gelegar tegas petugas penjaga pada sosok pria setengah baya yang sedari tadi berdiri di pojok. Dialah pria yang semenjak tadi diam, mengamati pintu yang tertutup itu dengan wajah dingin.
Pria itu melangkah angkuh dengan tatapan sinisnya, sengaja ia arahkan pada sekumpulan orang yang sedang menatapnya tidak suka, lebih tepatnya para narapidana yang sejak awal berkasak-kusuk.
"Lihat bagaimana dia memandang kita? Rasanya aku ingin melemparnya ke tong sampah!" komentar salah satu tahanan.
"Kau tidak takut dengannya? dia masuk penjara karena membunuh orang!" timpal teman di sebelahnya, yang lengannya dipenuhi tato bergambar naga.
"Anehnya dia tidak pernah melawan saat kita memukulinya," Pria berkepala plontos menimbrung, ia pernah memukuli pria yang tengah dibicarakan mereka.
"Apa untungnya membicarakan orang itu. Lebih baik pikirkan cara untuk kabur dari bui busuk ini! ujar pria bertato membuat rekannya tidak bergeming lagi.
🔔
Iringan musik berpadu padan membentuk keserasian orkestra simfoni. Puluhan murid yang mengikuti kelas musik hari ini tampak serius memainkan alat musik yang mereka pegang sesuai tangga nada yang tertera pada lembaran partitur di depan mereka, tanpa terkecuali Sohyun dan Yeri yang kali duduk terpisah.
Pengajar bertindak sebagai konduktor, berdiri di tengah atas mimbar sambil mengayunkan tongkat kecil di tangan kanannya bak seorang pemimpin orkestra profesional. Ialah Mr. George, seorang berdarah Amerika-Austria yang menetap di kota Taebaek, khusus untuk mengajar di universitas Gangwon. Dirinya jugalah yang bertugas sebagai komposer utama orkestra Sibellion yang dipimpinnya.
"Stop!" ujarnya setengah berteriak.
Seketika alunan musik terputus. Ruangan aula berubah hening. Semua yang memainkan alat musik menghentikan permainan mereka. Seolah tahu apa yang jadi dasar, sebab utama diberhentikannya melodi klasik tersebut. Kim-So-Hyun. Wanita yang tergugu di kursinya. Tanpa ekspresi, Sohyun segera maju ke depan, menuju Mr. George yang mengetuk-ngetukkan sepatu pantofelnya ke lantai. Menunggunya dengan rona serius di wajah maskulinnya.
"I feel sorry, Sir...," katanya meminta maaf.
"Focus, Sohyun! Why can you play the wrong tone? I know you are very talented in music, in this class you always excel ... compared to your friends. But remember, I don't want our show to fail. End of the year, I want everything works perfectly!"
Sohyun mengangguk mendengar kalimat tegas dari pembimbingnya yang terbilang perfeksionis. "I will not repeat, this my last time!" ujar Sohyun meyakinkan. Menatap yakin pada Mr. George.
"Place your cello and play the piano! You will replace Chanwoo's position."
Pria berkacamata yang sejak tadi duduk di depan grand piano, lekas berdiri ketika namanya disebut. Dari balik lensa kacamatanya, binar senang serta senyum miring terlukis menghias bibirnya, memandang Sohyun yang tetap berdiri dengan tatapan datar.
Tanpa bersuara Chanwoo berjalan menuju bangku di barisan ke tiga. Tempat yang tadinya diduduki Sohyun kini telah berpindah padanya. Tangannya segera memeluk violoncello, memegang bow yang terlunta-lunta di kaki kanannya. Yeri yang berada di belakangnya berdesus sebal. Bukan rahasia umum lagi, jika pria itu memang sedari awal tak menyukai posisinya sebagai pianis dan menginginkan menjadi cellis. Sekilas Sohyun meliriknya sebentar, kemudian duduk di depan piano hitam itu, bersiap memainkan lagu milik Franz Liszt, berjudul Hungarian Rhapsody no. 2 dengan masih menahan rasa sakit yang membuatnya tak fokus berkonsentrasi sejak tadi.
"We start all over again, raise half the tone and follow the guide!"
Mr. George membalik halaman partiturnya pada halaman sebelumnya. Melirik seluruh anak didiknya sejenak lantas mulai menganyukan tongkatnya ke atas.
Semua kembali fokus pada lagu. Seperti konser sungguhan, aula musik itu bergema, nada-nada menyayat dari denting piano, gesekan biola, biola alto, cello, dobel bass, hingga kontra bass mengalun padu. Alat perkusi, pukul, dan tiup pun tak ingin kalah, menambah nuansa dramatis yang tercipta. Sesekali alat musik timpani diperdengarkan, diikuti liukan suara lembut dari basssoon dan brass.
🔔
Yeri mematung di luar aula musik, sejak dibubarkannya kelas. Obsidian cokelatnya lekat memperhatikan pintu kayu yang terbuka, menunggu seseorang keluar dari dalam sana. Lama menunggu, dirinya yang penasaran mengintip, dilihatnya Mr. George tengah berbincang padat dengan Sohyun, hanya mereka berdua. Setelah latihan orkestra selesai, semua di perbolehkan pergi, kecuali gadis bermarga Kim itu. Entah apa yang dibicarakan, Yeri harap Sohyun tidak mendapat masalah dari pria yang terkenal galak dan tegas itu.
Sejurus lamanya, Mr. George keluar sambil menenteng tas beserta buku-bukunya. Melewati Yeri yang refleks membungkuk begitu saja. Begitulah perangai dari George atau akrabnya Georgie itu. Sebelas dua belas dengan murid kesayangannya, Kim Sohyun yang hari ini tak luput mendapat teguran keras darinya.
Yeri mendengkus sesaat, dan detik berikutnya, menyusul keluarnya sang pengajar, Sohyun berjalan pelan keluar ruang musik. Bersegera kakinya melaju, menghampiri Sohyun yang kelihatan tidak bersemangat. Tangan kirinya tampak memegangi perutnya.
"Apa yang terjadi?" selidiknya di sela perjalanan mereka menyusuri koridor kampus.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Sohyun sambil memperlihatkan senyumannya. "Beliau bilang aku terpilih sebagai pianis dalam pentas orkestra tahun ini," imbuhnya menjelaskan.
"Serius?"
Sohyun mengangguki pertanyaan Yeri. "Chanwoo sepertinya sengaja membuat permainannya tidak berkembang dan menyarankan beliau memilihku. Kebetulan sekali aku juga kurang konsentrasi dan usahanya berhasil sekarang."
Yeri mulai mengerti. Tangannya mengepal kuat jika mengingat-ingat ekspresi mengesalkan Ryu Chan Woo. "Bagus, bukankah dengan menjadi pianis, semua mata akan tertuju padamu?"
"Tapi aku tidak suka jika banyak mata melihat ke arahku."
Gadis itu terdiam, lalu menjawab, "Apa ini alasanmu tidak memberi tahu identitas aslimu?"
Sohyun sepintas tersenyum, kembali meneruskan jalannya. Yeri yang merasa diacuhkan berjalan cepat menyusul Sohyun.
"Kau tak ingin menjawab pertanyaanku?" katanya menghadang langkah Sohyun.
"Aku takut akan ada orang yang mendengarnya." Bola matanya melirik ke sebelah kanan. Merasa ada yang memperhatikan mereka sejak tadi. "Obrolan kita sampai di sini, aku harus pulang lebih awal."
"Tapi—"
"Sampai jumpa."
Sohyun melenggang tanpa memberi kesempatan Yeri berkata-kata.
Gadis itu terduduk di bangku kosong di sampingnya, menatap jauh kepergian Sohyun yang tak juga berubah tingkahnya. Ia masih belum memercayai jika Sohyun adalah putri dari pemilik tempatnya menimba ilmu sekarang. Nyaris semua penduduk Taebaek mengenal siapa Hwang Yoon Eun, namun tak banyak yang tahu kehidupan pribadinya yang dirahasiakan pengusaha itu dari ranah umum. Walau Sohyun terang-terangan, menyatakan bahwa dirinya hanyalah anak angkat.
"Sepertinya Sohyun sudah memaafkanmu."
Kepalanya mendongak, mendapati Jungkook sudah berdiri di dekatnya. Sekarang ia paham, siapa yang dimaksud Sohyun, rupanya benar ada stalker yang membuntuti mereka. Jungkook memang sebaiknya tidak perlu tahu apa-apa tentang Sohyun.
"Aku bertanya padamu, Kim Yeri!" Jungkook menegur.
"Seperti yang kaulihat. Hubungan kami baik-baik saja. Sohyun juga bukan tipe pendendam seperti yang kaupikir. Sohyun jelas berbeda dibanding dirimu, Jeon Jung Kook!"
Pria itu terusik, merasa ucapan Yeri merendahkan martabat dirinya. "Tck! Sekarang kau benar-benar mirip dengan temanmu itu. Nada bicaramu... sungguh membosankan!"
Dan Jungkook pun pergi tanpa mendengar Yeri bicara. Meninggalkan gadis itu sendiri, yang terus memandangnya dengan nanar.
🔔
Netra tajamnya berpresisi, mengoreksi tiap catatan yang masuk ke kotak pesan e-mailnya. Sudah ada puluhan file yang diterima Taehyung hari ini, puluhan tak berarti apa-apa, karena sejatinya dokumen yang perlu ia periksa memilki jumlah tak terhitung dan masih akan terus bertambah di tiap waktu. Sungguh, berat menjadi direktur, imajinasinya yang kelewat tinggi pun pelan-pelan mengabur. tidak ada waktu bagi Taehyung untuk menjadi pesantai. Setengah harinya dihabiskan hanya untuk berkutat di depan meja kerja, selebihnya berkeliling, memimpin rapat, bepergian, atau paling sering menemui klien yang acap kali membuat janji pertemuan.
Dirematnya perbukuan jari yang berasa kaku. Menengadah sembari melendeh di kursi putarnya disertai pipi menggembung. Taehyung mulai jenuh akan rutinitas yang tak ada mau habis. Selintas bayang wajah Sohyun terpatri. Mengambil alih perhatiannya.
Terbebang rindu teramat nelansa Taehyung rasakan. Melupa jika mereka hanyalah sebatas diikat dengan tali persahabatan. Mengandaikan seakan Sohyun adalah kekasih hatinya. Taehyung jadi gila memikirkannya. Itu tidaklah benar. Sejurus, ia mengingat obrolannya bersama sang kakak. Pagi tadi di meja makan, ia dengan hati-hati bertanya pada Jaehyun perihal kejadian malam tadi. Apa yang kiranya membikin kakak laki-lakinya itu sampai mabuk berat di kedai. Taehyung tidak ragu menanyai perihal hubungan Jaehyun dengan sang sahabat, yang tidak kunjung mendapat jawab. Ya, kakaknya itu seperti menghindari obrolannya.
"Permisi!"
Seruan dari luar membuyarkan petualangan Taehyung. Seketika ia diseret untuk kembali ke dunia nyatanya, mendengar suara sekretarisnya mendendang sampai ke rungunya.
"Masuk!" sahutnya, mempersilakan orang itu masuk.
"Ada apa?" tanyanya pada Sangwoo.
"Ada yang ingin bertemu dengan Anda."
"Kalau dia tidak membuat janji sebelumnya, kau boleh menolaknya."
"Dia bilang Anda mengenalnya. Seorang wanita."
"Wanita?" Taehyung membeo. Terkesiap dari kursinya. "Apa dia memberi tahu namanya?"
Sangwoo menggeleng, "Anda temui saja dia di lobi. Ini pertama kalinya saya melihatnya di kantor ini."
Taehyung lekas keluar ruangan. Selama ini belum pernah ada wanita yang datang ke kantornya di jam kerja seperti ini, apa lagi kata Sangwoo, wanita itu mengenalnya. Taehyung mulai berasumsi, jika seseorang itu adalah Sohyun. Hanya Sohyunlah satu-satunya perempuan yang dekat dengannya, tidak ada yang lain.
Saking tidak sabarannya, pria berpangkat direktur utama itu tak segan menerjang banyak manusia yang menghalangi jalannya. Berlari penuh semangat turun ke lantai dasar. Semua disebabkan karena tamu yang datang mendadak tanpa pemberitahuan.
Taehyung tiba di lobi. Beberapa orang yang melewatinya membungkuk sopan padanya. Tak mengindahkan segala sapaan itu, bola matanya sibuk berkitar, mencari-cari sosok wanita yang ingin menemuinya.
"Kim Tae Hyung!"
Badannya membeku ketika suara wanita memanggil namanya.
"Taehyung..."
Merasa tak mendapat respons, si pemanggil berjalan mendekati Taehyung yang memaku, enggan berbalik menatap ke arahnya. Kini mereka saling berhadapan. Terkejut dan kecewa tergambar menyelimuti wajah Taehyung yang meredup dari binarnya. Bukan yang ia harapkan.