
Seperti biasa, gadis itu terjaga dari tidur singkatnya pada pukul empat pagi. Telah menegakkan badan, mendahului kicauan burung yang berceloteh sepanjang pagi buta. Tidak ada alasan baginya untuk kembali menggelung badan di atas kasur empuknya. Jika biasanya sebagian banyak orang akan bermalas-malasan di tengah dinginnya angin berembus, itu sama sekali tidak berlaku bagi Sohyun. Ia tetap bangun dan bersegera membersihkan diri sebagai rutinitas. Namun belum sempat kaki putih nan jenjangnya melangkah memasuki kamar mandi, suara pintu berdegar-degar dari luar.
Netranya melirik sekilas pada jam dinding, baru lima menit ia terbangun dan sudah disuguhi kegaduhan di depan pintu kamarnya. Tangannya terkepal, sudut matanya bergerak resah sebelum melangkah mendekati pintu yang dihantam berulang kali. Pukulan bertubi yang dihasilkan dari palu dan paku yang diadu begitu memekakkan telinga. Siapa pun yang mendengarnya, sudah pasti akan terbangun, bisa saja melempar barang ke sumber suara akibat tak ada sopan-sopannya mengganggu ketenangan tidur mereka. Dan Sohyun tidak ada waktu untuk meladeni.
Dirinya merosotkan tubuh ke lantai. Dipandanginya daun pintu yang pasti telah terkunci. Suara itu perlahan menghilang, lenyap dari indranya. Inilah konsekuensi yang ia dapat setelah mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari rumah ini, ia harus terbelenggu sendirian. Di dalam kamarnya yang sepi.
Dari balik pintu, Yoon eun tersenyum puas memandangi hasil kerjanya. Wanita itu rela bangun pagi demi memasang papan kayu melintang di pintu yang selalu ditutup pemiliknya. Yoon eun tidak tenang, semalaman ia tidak nyenyak dalam tidurnya akibat perkataan Sohyun. Ia tidak bisa dan tidak akan pernah mau melepas Sohyun dari kongkongannya. Putrinya itu haruslah tunduk dan patuh padanya, selamanya akan ia buat Sohyun berada di sisinya sebagai ganti putrinya yang telah lama meninggal.
"Aku harus melakukan ini. Kau tak boleh pergi. Jika kau terus berontak dan memaksa, lebih baik kau mati saja."
Dari dalam Sohyun dapat mendengarnya. Walau lirih, indra pendengarannya tak akan salah menangkap tawa Yoon eun yang terkulum. Wanita yang selalu ingin dipanggil Ibu itu tengah tertawa senang berhasil memenjarakan dirinya lagi. Perlahan ia bangkit, karena tidak akan ada habisnya meratapi nasib. Ia melangkah melihat lukisan mendiang ibu serta ayahnya. Dalam pigura besar yang selalu ia sembunyikan dari balik lemari bukunya, di sana kedua wajah orangtuanya berada. Tersenyum hangat.
"Sekarang apa lagi? Kenapa tidak kalian bawa aku bersama kalian saja? Kenapa harus membiarkan aku hidup dengan orang yang menghabisi nyawa kalian?" lirihnya pelan, terbawa arus sendu. Ia iri. Iri melihat senyum keduanya.
Pikirannya mengawang, dalam ingatannya yang pilu, bank data di otaknya masih menyimpan segala peristiwa dahulu. Sohyun masih ingat, bagaimana Yoon eun membakar seluruh benda-benda yang berhubungan dengan ayah dan ibunya. Tidak tanggung-tanggung, sebuah foto yang terisa di dalam lipatan buku hariannya pun tak luput ikut dihanguskan. Gadis itu menangis berhari-hari lamanya. Sebelum memutuskan memindai memori wajah So Ran dan Jang hyuk, ke dalam lukisan yang selalu ia sembunyikan. Ia tidak mau Yoon eun menunu lukisan pun hatinya karena keegoisan ibu angkatnya itu.
🔔
"Kau lihat wajah putra kita, Haeyoung? Sepertinya dia sangat senang, sampai senyumnya tidak luntur-luntur sejak duduk di meja makan."
Haeyong yang mendengar Sewon bicara, menatap putra bungsunya, Taehyung. Ia sama herannya, setelah berhari-hari dilanda kekusam-masaman muka, dilihatnya hari ini semua berbanding terbalik dari hari kemarin.
"Apa karena proyeknya disetujui, jadi kau merasa sesenang ini, Tae?"
Taehyung yang merasa diajak bicara sang ayah, lekas mendongak. "Ya, itu salah satunya."
"Berarti ada hal lain yang membuat adikku satu ini terlihat semringah. Cobalah cerita pada kakakmu ini, apa yang jadi alasanmu sampai wajahmu berbinar seri begini."
Sang adik yang ditanya tampak malu-malu mendapat pertanyaan Jaehyun, kakak lelakinya. Haruskah dirinya ceritakan mengenai pertemuannya dengan Sohyun, sahabatnya?
"Kalau melihat ekspresi lugunya, aku yakin putra kita ini sedang jatuh cinta pada seorang perempuan." Sewon berseloroh sepanjang acara sarapan pagi mereka.
"Biar ayah tebak... pasti Shen Nan, putri dari Tuan Li?"
Air muka Taehyung berubah kecut, memberungut tidak suka dengan tebakan Haeyoung yang baginya salah besar.
Sementara Haeyoung punya alasan tersendiri, setelah tahu rekannya Li Wan An, secara blak-blakan mengatakan di telepon, jika putrinya menyukai Taehyung saat pertama kali bertemu, hingga menawarkan perjodohan untuk anak mereka. Ia setuju saja asal Taehyung tak keberatan dan pastinya saling mencintai. Semua ada di tangan anak-anak mereka, tugas orang adalah mengarahkan.
"Ayolah, Ayah! Apa hubungannya dengan Shen Nan? Aku hanya menganggap dia seperti noona-ku. Yang jelas aku sangat bahagia sekarang, jadi mengertilah untuk tidak menghancurkannya."
Semua yang berada di ruang makan tergelak melihat laku Taehyung. Mereka kembali takzim pada makanan yang terhidang sebelum memulai aktivitas harian mereka.
Jaehyun sedari awal juga tak berhenti menilik suasana hati yang tergambar pada wajah adiknya itu. Ia yakin, bukan tentang bisnis semata melainkan ada hal lain. Sekonyong-konyong wajah Sohyun, sang pasien melintas di benak kepalanya. Jaehyun terpekur, membayangkan seperti apa pertemuan dua sahabat itu. Menyadari itu, membuat nafsu makannya sirna. Ada perasaan tidak rela jika seandainya benar, Taehyung memiliki perasaan khusus kepada Sohyun. Bertambah gelisah, tatkala memorinya mengingat perkataan Sohyun yang terang-terangan mengaku menyukai adiknya.
"Kakak mau ke mana?" tanya Taehyung saat melihat Jaehyun berdiri dari kursi makannya.
"Aku harus berangkat pagi ke rumah sakit. Ibu, Ayah, dan Taehyung... aku pamit!"
Pria jangkung itu berlalu dari meja makan. Tak mau menunggu kata-kata keluar dari mulut ketiga makhluk yang menyatu sebagai keluarganya itu.
Haeyoung berdecak heran, tidak biasanya Jaehyun menyisakan makanan dan pergi begitu saja. Kecuali suasana hatinya tengah memburuk sekarang ini. Ia tidak akan bertanya lebih, mungkin saja ini ada hubungannya dengan pasien keras kepala Jaehyun yang ia ketahui dari beberapa teman dokternya, bahwa putranya itu menaruh rasa berbeda pada salah seorang pasien perempuannya.
"Dia semakin sibuk sejak menjadi dokter spesialis. Hah, anak itu kalau sudah berhubungan dengan keselamatan orang, pasti akan bersikap begitu," Sewon berceloteh setelah menghabiskan suapan terakhirnya.
"Kita berangkat bersama saja."
Taehyung menatap Haeyoung. Tampak terkejut. "Bersama ke kantor?"
Ayahnya mengangguk, "Ya. Karena hari ini adalah pengenalan pimpinan yang baru. Ayah ingin mengenalkanmu secara resmi di depan ribuan karyawan kita."
"Aku mengerti."
Terselip nada tak bersemangat pada suaranya. Bukan lantaran Taehyung tak senang berangkat bersama sang ayah; dengan jabatan yang ia emban sebentar lagi, hanya saja, Taehyung merasa sedikit keberatan, mengingat janjinya yang akan mengunjungi rumah Sohyun sebelum keberangkatannya ke kantor.
"Kau keberatan datang bersama ayah?" Haeyoung bertanya, disebabkan raut wajah Taehyung kembali memasam.
"Sama sekali tidak, Yah."
Dua orang tua itu mengumbar senyum dengan jawaban Taehyung.
Taehyung bersegera menandaskan air minumnya dalam gelas, sebelum mengecek kembali berkas yang ada di dalam tas kerjanya agar tak satu pun yang terlewat.
🔔
Dua hari berlalu, selama itu pula Taehyung disibukkan dengan segudang aktivitas yang mau tak mau harus ia laksanakan. Belum ada lima puluh jam bekerja, Taehyung mengeluhkan banyaknya masalah di beberapa divisi yang rupa-rupanya tak terendus oleh sang ayah selama ini. Setidaknya Taehyung telah mengantungi beberapa nama yang patut dicurigai. Ia tidak ingin disebut berprasangka tanpa adanya bukti. Otaknya berpikir keras guna membenahi laporan yang sengaja dimanipulasi. Untuk itu, beberapa bulan ke depan, selain fokus meningkatkan kualitas kerja, secara diam-diam akan melakukan penyelidikan bersama sekretaris barunnya, Cheon Sang Woo.
Kepalanya menengadah ke langit-langit ruangan kerjanya. Taehyung beberapa kali menghela napas, sebelum terlonjak dari kursi ergonomisnya. Mendadak bayangan wajah Sohyun muncul. Segera tangannya meraih ponsel yang ia matikan sejak kemarin. Mencari satu kontak baru pada daftar nomor telepon.
🔔
Di dalam kamar yang masih terkunci, Sohyun menyibukkan diri dengan gitar resofonik miliknya. Sudah ratusan lembar kertas yang berserakan di atas lantai pualam kamarnya. Gumpalan kertas renyuk yang bertulis larik-larikan kata berbaur bersama kunci nada. Tidak ada yang tahu, sudah berapa lama gadis itu memainkan alat musik tersebut hingga jari-jarinya memerah lecet.
Tangannya sudah memegang sebuah kalam, bersiap menuntaskan bait terakhir yang ingin ia beri tanda nada dasar.
Jemarinya kembali memetik dawai gitar, keenam senar memantulkan resonansi merdu syahdu di tiap nukilan yang ia cipta pada lembar kertas putihnya.
Di tengah rasa damainya, menyenandungkan irama lagu, deringan datang tak terduga. Sohyun berhenti dari kegiatannya, melirik benda mungil yang sudah lama tak disentuhnya. Sebuah ponsel yang baru dibelikan Jonghoon atas permintaannya. Yang mirip dengan pemberian Yoon eun.
Sohyun menyeret kakinya, menggapai barang yang terpental di bawah kolong meja belajar, benda itu tampak dihinggapi serdak.
Mata bulatnya melebar, tatkala nomor ponsel seseorang memanggilnya, di layar sudah ada wajah Taehyung yang tersenyum dengan nama kontak 'Pelindung Sohyun'. Gadis itu termenung, dari mana sahabatnya mendapat nomor ponselnya, sementara ia belum sama sekali membagi tahu Taehyung perihal kontaknya yang terbilang rahasia itu. Atau mungkinkah Taehyung diam-diam menulis kontaknya ketika ia lengah beberapa malam lalu.
Ponselnya terus mendering nyaring. Menuntut sang pemilik agar bersegera menerima panggilan.
"Apa kabarmu, Sohyun?" Suara dari seberang menyapa indranya. Benar, yang menghubunginya adalah Taehyung.
"O, kabarku baik."
"Kau sedang apa?"
Gadis itu tersenyum tipis, sembari meremas kertas ia menjawab pertanyaan Taehyhung. "Membuat lagu."
"Woah, aku tidak mengira kau memiliki bakat sebagai musisi."
"Bukan sesuatu yang spesial."
"Hei, jangan bicara begitu, apa pun bakat yang kaupunya, itu adalah anugerah. Kau tahu, kalimat yang dikatakan dokter Otto, di film Spider-Man? Bakat bukanlah keistimewaan, tapi sebuah karunia. Tuhan memberikan itu padamu dan kau mau mengasahnya."
Sohyun terkekeh mendengar celotehan Taehyung di telepon. Gadis yang biasa datar itu tertawa pelan. "Terima kasih. Aku senang mendengar suaramu. Kau yang cerewet, itu seperti seorang Kim Taehyung yang aku kenal."
"Sahabatmu ini tidak akan pernah berubah."
"Aku percaya itu. Jangan pernah berubah."
Sembari melanjutkan aktivitasnya, Sohyun mulai membuka layar laptop. Jarinya mengetikkan sesuatu di laman pencarian. Sekejap muncullah foto-foto Taehyung di banyak portal berita.
"Minta maaf?" Terdengar seperti berpikir.
"Menyentuh dan mengutak-atik ponsel tanpa seizin pemilik, itu sudah melanggar etika. Minta maaflah!"
Tawa kikuk Taehyung muncul. Pria itu seperti salah tingkah, merasa ketahuan. "Ah, benar. Maafkan aku, Sohyun. Aku bingung harus mengatakannya bagaimana, jadi aku sengaja menyimpan nomor ponselmu agar aku bisa menghubungi tiap saat."
"Jadi kau ada rencana untuk menghubungi setiap waktu?"
"Ya, sebelum aku berkencan dengan wanita, kau akan jadi perempuan yang akan aku telepon. Sesering mungkin."
"Tidakkah terlalu berlebihan? Jika suatu saat kau memiliki kekasih dan akan menjadi pendamping hidupmu, kau akan berpaling dariku. Mungkin setelah itu, kau... lupa untuk memanggilku."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang menjadi kekasihku?"
Tik-tik-tik, Sohyun membiarkan waktu berdetik tanpa suara. Gadis itu sejenak diam, persendiannya lumpuh atas perkataan Taehyung. "Jangan mengatakan hal yang bukan-bukan. Aku bahkan baru saja putus dengan pacarku dan kau langsung menawariku, Taehyung ... mengakulah, kau sedang mengerjaiku saja, kan?"
Taehyung yang sekarang sudah berpindah sisi, memandangi bangunan di sekitaran gedung perkantoran, dari dekat jendela, hanya berdeham senak. Sohyun rupanya menganggap ucapannya tak serius, padahal dalam kalbunya, mengharap jawaban berbeda. Ia menginginkan Sohyun, bahkan sejak kali pertama mata mereka berserobok. Dia seorang lelaki, pria tulen yang dapat menaruh rasa terhadap lawan jenis.
"Taehyung..."
"Ya?" Dirinya terkesiap. Suara dari Sohyun membubar pikirannya yang menyelam dalam.
"Maaf. Hari ini aku tidak bisa menemuimu di taman bukit."
Hampir saja Taehyung lupa pada janji mereka beberapa waktu lalu. Namun, kalimat Sohyun membuatnya dahinya bertambah kerut.
"Kenapa tidak bisa?"
"Aku—"
"Aku apa, Hyun?"
"Ada seekor anak domba yang terjebak di dalam kubangan lumpur. Dia tidak bisa keluar. Aku ingin dia bisa bebas."
Jawaban Sohyun, menjadikan Taehyung kian mengerut dahi sedalam-dalamnya. Mungkinkah ada makna tersembunyi?
"Sohyun, apa terjadi sesuatu padamu?" Ia bertanya, setelah beradu dengan nalarnya.
"Aku baik-baik saja. Kau bekerjalah. Bukankah kau baru saja diangkat menggantikan posisi ayahmu?"
"Dari mana kau tahu?"
Sohyun mengulas senyum, tak jemu-jenuh dirinya pandang ratusan gambar Taehyung yang mengisi layar persegi itu. "Wajahmu muncul di banyak media. Aku sedang melihatmu."
"Jadi sejak tadi kau sedang menonton diriku? Baiklah, Kim Sohyun.... Aku akan bekerja giat hari ini dan seterusnya!"
Suara ceria penuh semangat Taehyung membubuhkan rona berseri Sohyun. Tawa pria itu, berhasil membuatnya lupa sesaat akan dirinya yang kini masih terlingkung dalam kungkungan.
"Sampai bertemu."
"O, sampai bertemu dan semangat!"
Komunikasi mereka terputus. Napas lega keluar, embus letih dan juga kebosanan melanda. Sohyun meletakkan ponselnya yang telah mati. Menutup laptopnya, lantas berjalan pelan, menuju langkan. Lama ia bermenung di sana. Di anjung peranginan yang biasa ia gunakan sebagai tempatnya melukis. Angin deras masih berkesiur, mencecah surai lurusnya.
"Haruskah aku melakukannya?" lirihnya memandang ke bawah. Tepat di bawah lantai kamarnya, bebatuan padas teracung tajam. Seperti moncong yang siap melahapnya hidup-hidup kalau dirinya ingin meloncat dari balkon tempatnya berdiri sekarang ini. Kakinya akan patah—tidak berfungsi—lebih buruknya akan teramputasi.
Peristiwa di rumah sakit membuat ibunya menyuruh orang memasang batuan itu. Ia tersenyum miring, mengetahui Yoon eun yang kadang kala bersikap penuh kasih dan dapat menjadi monster untuknya.
🔔
"Kita lihat, sampai kapan anak itu bertahan di dalam sana?"
Jonghoon yang mendengar nada culas majikannya, memasamkan muka. "Ini sudah dua hari. Tolong, saya mohon bebaskan Nona!"
"Tidak bisa. Tidak semudah itu, Jonghoon. Dia harus mengemis dahulu padaku dan berhenti meminta keluar dari rumah ini!" Yoon eun menolaknya mentah-mentah.
"Kalau dibiarkan, saya takut akan berpengaruh buruk terhadap kondisinya. Kemarin, kemarin Nona ..."
Brak
Bunyi keras menyeruak dari kamar yang mereka awasi.
"Suara apa itu?" Yoon eun bertanya-tanya, lekas melangkahkan kakinya mendekat ke pintu yang masih dilapis palang.
"Nona! Anda mendengar saya?" Jonghoon memekik. Karena tak ada sahutan dari dalam, bersegera ia menghancurkan kayu, mendobrak pintu yang masih terkunci.
"Sohyun!"
Dua orang itu berteriak, melengkinglah suara mereka melihat apa yang baru saja diperbuat anak gadis itu.
"Apa-apaan ini?" Yoon eun cepat-cepat melempar sebuah kapak yang tergenggam di tangan Sohyun. Membuangnya jauh-jauh dari jangkauan.
"Baru saja aku ingin menghancurkan pintu. Kalian sudah membukanya tanpa aku suruh, tapi—terima kasih."
Seakan tidak ada rasa menyesal membuat para orang tua itu khawatir, Sohyun menjawab dengan santai. Yoon eun mengentak lantai tegel yang menunjukkan retak. Wanita itu boleh jadi kesal, ingin mengamuk.
"Bukankah sangat aneh, kalau seorang psikopat tidak memiliki benda-benda tajam untuk menghabisi nyawa para korbannya? Aku ingin menunjukkan bahwa dugaan orang-orang yang mengataiku psikopat itu tidak salah. Aku akan mengalah dan mereka benar, seperti harapan Ibu... agar orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kita percaya tanpa melihat benar tidaknya."
"Kim ...."
Sohyun menyeret kaki, berjalan menghampiri Yoon eun. "Ibu, aku lapar. Sudah dua hari ini aku hanya minum air keran di kamar mandi, jadi aku perlu makan banyak saat ini," katanya memelas.
Yoon eun memandanginya tanpa banyak kata. Wanita itu segera keluar dari kamar putrinya. Sohyun hanya menonton tidak banyak berkomentar, menyisakan Jonghoon yang membatu di belakang tubuhnya.
"Anda baik-baik saja?" Jonghoon bersuara.
"Manusia bisa bertahan tanpa makanan selama dua bulan. Aku tidak akan mati, hanya karena dikurung seperti ini," jawab Sohyun sekenanya.
"Kenapa kau tidak berusaha melawannya, Sohyun?" Pertanyaan meluncur lagi dari belah bibir Jonghoon. Kali ini kata-katanya tak seformal biasanya.
"Kalau pertanyaan itu aku tujukan untukmu, kira-kira kapan kau akan melawannya, Paman Choi?"
"....."
Jonghoon diam. Sohyun menyerang harga dirinya dengan kalimat menusuk.
"Tolong betulkan pintu kamarku. Kalau perlu ganti dengan warna lain, karena aku sudah bosan dengan si 'putih'."
"Putih hanya akan membuat nodaku semakin terlihat."
Sohyun melenggang pergi. Meninggalkan Jonghoon yang terpekur, membawa tanda tanya di benak lelaki baya itu. Putih?