Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 27 : Di Bawah Langit



          Janji terpenuhi. Sore berulang kali menjadi saksi pertemuan mereka yang diam-diam saling merindu. Seperti hari ini, sebuah pertemuan yang terucap kemarin dihadiahi, "Hai! Apa kabar?" sembari gestur kaku malu-malu membayangi kata sapaan.


         Ditemukan pada Taehyung, rona merah bersemburat di wajah putihnya, bukan sisa-sisa efek dari anggur yang semalam ditenggaknya, namun bentuk kecanggungan, kala pintu kayu berderit, terbuka dari dalam, oleh wanita yang sangat dinantikan hadirnya.


        Arbei, aroma tersebut melintasi udara, menyusup indra penghidunya, ketika tubuh gadis itu muncul di hadapan Taehyung. Harum manis yang dibawa Sohyun membawa nuansa magis. 'Tuk otakknya yang belum terkoneksi merangkai kata. Jadi, di lidahnya yang gagap itu, kata standar melayang sedikit terbata, "Hai, apa kabar?"


        "Kabarku selalu baik." Dijawab Sohyun yang tambah semringah saban kali menatap wajah pria dewasa itu.


       Tiga kata. Sebentuk jawab dari Sohyun cukup memberi daya baginya untuk kian memperlebar bingkai senyum kotak di wajahnya. "Aku tidak datang terlambat, kan?" Netranya melirik jam tangan Rolex miliknya. Sohyun yang ditanya pun menggeleng. Embusan lega mengetahui waktu berjalan melambat, pikir Taehyung.


        "Aku tahu kau sangat sibuk. Tidak masalah kalau kau datang telat. Aku pasti akan menunggu tanpa protes."


       "Ya ampun, kenapa sahabatku ini sangat pengertian? Aku jadi merasa tidak enak."


        Gadis di depannya terkekeh, menepikan pandang pada wajah berserinya, menuju Taehyung yang tak lekang dari atensi utama Sohyun. Namun tak bertahan lama, manakala pria itu mempertajam penglihatannya. Taehyung bermenung sebentar, melihat Sohyun. Mengamati sesuatu yang mengusik rasa ingin tahunya. Biji matanya fokus menilai Sohyun, "Kau kurang tidur. Apa kau baru saja menangis? Lalu apa yang terjadi dengan kulitmu?"


       Perkataan Taehyung laksana kepingan bom brisan yang meledaki jantungnya. Sohyun terkejut, namun tak begitu kentara. Sepandai Itulah Sohyun dalam mengurung gambaran suasana hatinya. Pastilah karena lingkaran hitam disekitar mata dan warna kulitnya, hingga Taehyung bertanya demikian penasaran.


       "Bukan itu, mungkin efek darah yang berkumpul di sekitaran mata. Apalagi kulitku tipis."


       Kepala Taehyung manggut-manggut paham. Tadinya ia pun sempat khawatir bila Sohyun mengalami hiperpigmentasi. Semoga salah, bisa saja ruam dan kulit Sohyun yang tampak sedikit menguning bukan pertanda buruk. Taehyung membisu, pada pemikiran sesatnya, tidak mungkin Sohyun baik-baik saja dengan warna kulitnya yang sekarang.


        Sirosis itu?


       Dadanya seketika terimpit sesak senak. Dipandanginya sekali lagi lebih berani, Sohyun ikut menatapnya seakan tahu arti tatap kecemasan dirinya sekarang ini.


        "Semua akan baik-baik saja."


         "Semua akan baik-baik saja."


          Sohyun mengulanginya. Mengulang sekali lagi, bukan hanya untuk Taehyung yang mulai meragu, akan tetapi juga bagi dirinya yang dijangkiti asa yang perlahan pupus. "Semua akan baik-baik saja."


🔔


        Jalanan setapak menuju bukit penuh dengan tumpukan salju. Deretan pepohonan pinus di sisi kanan-kiri jalan pucat membeku akibat suhu dingin. Pucuk-pucuknya dihinggap percik es, membentuk kristal tajam siap patah tersapu angin.


        Berbekal mantel tebal, Mereka menyusuri tiap-tiap jengkal tapak jalanan. Langit kali ini biru. Petak luas tak pernah lelah membentang mengisi batas kaki langit. Nah, langit dan bumi dibatasi cakrawala. Sohyun dapat melihat garis horizon dari punggung Taehyung yang memaksanya untuk digendong lelaki itu. Menyaksikan Elort membaik meski patahan longsoran dulu masih membekas menindih Egort di bawahnya. Sejak tiba di kawasan hutan, Taehyung lagi-lagi bersenandung kecil, mengisi ruang kosong obrolan mereka, kadang sebuah siulan, hanya sekadar alunan nananaaa... diperdengarkan, mengalun dan harmoni pun tercipta, kala sayup sepoi angin berkesiur lembut, menyusup batang-batang pohon tua termakan rayap ataupun mikroorganisme mungil tak kasatmata.


     


         Suara pria itu merdu, berat dan khas. Tidak tinggi ataupun terlalu rendah. Dalam musik, mungkin Sohyun akan mengklasifikasikannya ke dalam nada A, di antara bass dan tenor, ia sebut itu bariton, suara dalam yang meninabobokan.


          "Taehyung, apa aku berat?" tanyanya selepas Taehyung berhenti dari senandungnya.


          "Tidak. Kau sangat ringan, dan aku sama sekali tak keberatan."


        "Sungguh? Aku bisa jalan sendiri, kau tahu, aku sudah mulai bisa menggerakkan kakiku," aku Sohyun menegakkan badan.


        "Tidak boleh!" Taehyung berseru, kedua kaitan tangannya makin erat mendekap sepasang kaki berjuntai di belakang biritnya. "Kau tetap berada di punggungku. Kau tidak bisa berjalan karenaku, jadi biarkan aku menebusnya seharian ini!"


       Betapa keras intonasi suara lelaki itu, seakan takut, Sohyun betulan turun dari gendongannya. Entah berapa oktaf, Sohyun mengkerut namun masih sanggup tersenyum samar di balik mantel panjang hitam yang dikenakan Taehyung.


        "Aku bercanda." Sohyun menyudahi, tangan kanannya terharak-harak, mengusap pipi Taehyung yang tengah menggembung.


         Taehyung menghela napas panjang, ia tak tahu bagaimana mendefinisikan perasaannya sekarang ini. Berhubung Sohyun hampir membuatnya serangan jantung karena ulah nakalnya, Taehyung yang kali ini sedang kumat keisengannya, memulai ulah.


        "Woah, kau berani-beraninya berbuat begitu padaku, baik ... baiklah, rasakan ini!"


      "Aaa!"


      Spontan Sohyun berteriak,  saat tiba-tiba Taehyung memutar badan. Taehyung bahkan tak sungkan berotasi sembari mengentak Sohyun di belakang bahunya. Membuat gadis tenang itu tertawa memohon. Memohon pada Taehyung agar lekas berhenti dari aksi jailnya.


       Sohyun tertawa. Tawa yang langka.


        " Ayolah, Tae! Kumohon hentikan ... aku tidak kuat," ronta Sohyun, sampai-sampai air matanya berlinangan.


         Taehyung merasakan desiran aneh. Hanya karena tawa renyah Sohyun menggema meletup-letup di dekat daun telinganya. Lagi-lagi ia pun tak ada gambaran, cara untuk menjelaskan ruang hatinya yang terisi asak kepenuhan. Membuncah dan ingin meledak bersamaan tawa lepas mereka yang tak miliki ujung.


         Inilah yang ingin Taehyung buat untuk Sohyun. Mengembalikan tawa yang sempat sirna. Tak apa bila tawa itu hanya sekadar aksi lucu yang dibuatnya, esok, ia berharap gadis itu bisa tertawa lebih lebar karena bahagia dan ia akan melihatnya.


   


🔔


       Tangga bebatuan mulai terlihat. Dua pasang mata almond itu menatapnya riang, usai perjalanan kaki yang melelahkan, bagi Taehyung yang bertahan setengah jam, menahan berat Sohyun di punggungnya. Meski lelaki itu sama sekali tak mengeluarkan keluhan, Sohyun tahu bahwa Taehyung mulai kelelahan, apalagi jalanan menuju bukit berupa jalanan tanjakan yang mengharuskannya mengerahkan tenaga dua kali lipat.


       "Kau pasti lelah sekali. Maaf membebanimu."


       Seketika Taehyung berhenti melangkah. Pria itu terdiam lama, mengerti kesah Sohyun. Kepalanya yang bebas begerak itupun menoleh, mengedip jenaka disertai senyum liar. "Hei, tidak usah berkata seperti itu. Kau bukanlah beban, tidak perlu ada kata maaf, kau sama sekali tak melakukan kesalahan apa pun."


        Sejenak ia menjeda ucap lisannya. Menghela napas sekian dalam, sebelum menurunkan Sohyun yang bermenung. Mungkin memikirkan kata-katanya atau ... entah suatu hal yang Taehyung sendiri tak tahu jawabnya.


        Gadis itu menurut. Sohyun berdiri tegak, menjadikan lengan kekar Taehyung sanggaan kuat baginya untuk berdiri sejajar.


         "Lebih baik sekarang tutup matamu." Taehyung mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, mengibaskannya pelan di depan Sohyun yang mengernyit dahi.


        "Tutup mata?" Kalimat Sohyun lebih seperti bertanya sekaligus terkejut. Sehelai kain panjang berwarna merah itu terhampar di depannya, sedang dibuai angin yang beriak.


        "Iya! Nah, menurutlah apa kataku." Taehyung bergeser ke belakang tubuh Sohyun, bari menghidu aroma manis dari arbei yang mengeluarkan wangi. "Karena kejutannya akan segera kau lihat sebentar lagi," ungkapnya lagi.


        Sohyun menurut, tak ada alasan baginya membantah, ketika helai kain tersebut membungkus penglihatannya dari ambal buana.


         Deg


         ... dan dalam per sekian detik, badan Sohyun telah terangkat, berada di dekapan Taehyung. Pria itu membopong Sohyun di depan, memaksa tangan perempuan itu agar berpegangan pada batang lehernya.


         "Apa tidak berlebihan seperti ini?" cicit Sohyun, bulu romanya meremang menelinga detakan jantung Taehyung. Debaran yang mendentum keras di dalam dada sana.


       "Biarkan aku melakukannya untuk calon istriku."


       "Eh?"


        Pria itu terkikih, mengantukkan kepalanya agar Sohyun gegas menghilangkan kerutan di dahinya. Ia tahu gadis itu bingung. Tapi, sungguh ia tak bercanda dengan ucapannya. "Bukankah kita sudah menikah? Ya, walau hanya pura-pura."


        Sohyun terangguk. Ada yang salah, namun juga benar. Baginya, Taehyung tak pernah seperti ini, tidak semestinya. Semua cara-cara Taehyung, membuat mereka betul-betul terlihat seperti pasangan. Benaknya kini leluasa berpikir. Memikirkan tingkah Taehyung yang berbeda dibanding terakhir kali perjumpaan mereka malam lalu.


        "Sekarang angkat kepalamu," titah Taehyung, untuk kedua kalinya membenturkan dahi. Kali ini agar Sohyun berhenti sejenak dari rutinitas berpikirnya yang rumit.


         Pelan-pelan sepasang kaki pemuda itu melangkah naik. Mengabsen anak tangga yang selalu dilalui tiap kunjungannya datang ke taman bukit—Enorty.


 


       Sohyun mengalungkan lengan, seakan takut bila terjatuh, apabila tak membantu Taehyung menjaga keseimbangan. Mungkin tangga yang dipijak tidak terlalu banyak, namun menilik dasaran bukit, yang dibawahnya teracung bebatuan dan sisi-sisinya menjuntang jurang, membuat Sohyun waswas. Ia memang sudah siap mati, kapanpun itu, akan tetapi bukan bersama Taehyung.


        Sohyun dapat merasakan perubahan gerak kaki Taehyung. Lutut lelaki itu tidak lagi menyiku, beralih lurus. Mereka sudah melewati tangga, namun kenapa Taehyung tak juga berhenti, batinnya sampai membilang, berapa langkah kaki Taehyung sekarang dari ujung tangga.


        Lima puluh langkah.


        Itu pertanda, Taehyung sudah mendekati rumah pohon, tiga langkah lagi, Taehyung pasti akan berhenti ... dan benar.


       


        "Aku harap kau akan suka!" Taehyung berseru spontan. Lalu menurunkan Sohyun dan memposisikan gadis itu di depan dadanya. Sekilas terlihat memeluk— memberi kehangatan di antara serbuan angin—dan Taehyung ingin lebih dekat.


        "Apa aku boleh membukanya sekarang?"


       "Tunggu aba-aba dariku."


        Aba-aba hanya kelumit alasan Taehyung untuk mengulur waktu. Karena yang terjadi sekarang, kedua belahan tangannya tengah merayap, menggapai kain merah yang sebentar lagi akan dibukanya.  Ibu jari dan jari telunjuk menarik simpul tali tersebut.


        Sohyun memejam, belum mau membuka mata, menunggu aba-aba dari Taehyung meski kain telah terangkat menutupi matanya.


 


        "Sampai kapan aku harus menutup mataku?"


        Taehyung tak menyahut. Entah apa yang ada di pikirannya kali ini, Taehyung terpaku menatap rupa Sohyun dari dekat. Rasanya ia ingin dapat selalu memandang wajah itu lama-lama. Melihat betapa damainya muka Sohyun.


      "Taehyung?"


      Pria itu tersadar. Lekas menggenggam tangan kanan Sohyun, lantas menghitung, "Satu, dua, tiga ...."


     Mata indah nan sayu itu terbuka. Terasa pandangan buram, pelan namun pasti, segalanya makin jelas.


     "Bagaimana pendapatmu? Apa kau suka?"


      Bibir Sohyun bak dibungkam di detik ini juga. Gemetar melihat pemandangan yang tersuguh di depan mata. Ia tidak tuli mendengar pertanyaan Taehyung, ia ingin menjawab, sekadar membenarkan dengan berkata, Ya. Tapi rasanya sulit.


       Dia dibuat terbada-bada dalam sekali lihat. Rumah pohonnya yang dahulu mungil, kini tampak dua kali lipat lebih besar. Lebih berwarna.


        "Kau harus melihat interior di dalam rumah pohon," Taehyung membisik lembut ke daun telinganya.


        Kali ini, Sohyun ingin merasakan sendiri, berjalan langsung ke arah rumah pohon yang disulap sedemikian indah oleh kedua tangan Taehyung selama berminggu-minggu itu. Tidak ada lagi tangga kayu yang harus dipanjat untuk naik ke atas , semua terganti dengan jalan miring, 45° di sisi kanan, selebar 50 senti.


 


     Meski harus tertatih, Sohyun tersenyum senang. Bulir air matanya mengalir, eksesif, terharu karena Taehyung menepati janjinya. Lonceng kembar menggema, Sohyun melihatnya, masih tergantung di tempat yang sama. Seolah tanda seruan agar ia lekas datang.


      


🔔


        Taehyung sejak tadi lebih fokus memperhatikan, lambat laun dirinya diserang kantuk dan baru bangun satu jam setelahnya. Menemukan Sohyun masih terjaga dengan aktivitasnya menjadikan dirinya ketar-ketir di sudut ruang tengah.


        Mereka saling berdiam lama. Bukan ihwal buruk. Taehyung tidak berani berucap di saat perempuan di sebelahnya sibuk menyelesaikan sketsa wajah mereka berdua. Dari semua barang yang ia sisipkan di dalam rumah pohon, atensi Sohyun tertuju pada dinding kanvas yang menang sengaja ia pasang dekat ruang pengasoan. Tangan gadis itu terampil, bukan hanya piawai menjinakkan pelbagai alat musik, Tuhan juga menganugerahinya bakat tak kalah luar biasanya. Bahkan Taehyung yang mengambil jurusan arsitektur lanskap, dibuat takjub pada gambar dirinya dan Sohyun yang hampir setengah jadi itu. Canvas wall yang awalnya polos telah penuh dengan ribuan coretan pena.


        "Beristirahatlah sebentar ...," Taehyung berucap lirih.


        Gerakan mengarsir Sohyun terjeda, menengok sebelah kirinya, ke tempat asal suara Taehyung. "Aku tidak bisa," tolaknya


        "Kenapa?"


        "Aku harus menyelesaikannya. Tidak ada waktu."


        "Sohyun!"


       Pena yang dipegangnya jatuh terlunta. Seruan Taehyung mematikan kinerja saraf median Sohyun. Kalian percaya pada firasat? Sohyun mulai merasakannya sejak beberapa waktu lalu, sebuah firasat yang kadung masygul, menggelendot sampai ke hulu hati. Ia lelah.


        "Sejujurnya aku tidak yakin, bisa datang kemari lagi dan menyelesaikan sketsa ini." Suaranya pelan, nyaris serupa bisikan, dan Taehyung mampu mendengarnya.


        "Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Semudah inikah kau menyerah untuk hidup? Apa kehadiranku tidak cukup buatmu untuk bertahan lebih lama?" sahut Taehyung menggetar.


          Sohyun akui dirinya tamak lagi egois. Ia tidak akan sanggup melihat wajah Taehyung yang tampak di depannya. Lelaki itu menangis, lebih banyak disebabkan olehnya. Oleh dirinya yang pasrah tanpa berusaha lebih.


             Taehyung tahu, percakapan semalam bersama sang kakak sedikit banyak membuat hatinya meraung. 'Tidak ada harapan' seakan memupuskan dambaannya dapat hidup bersama Sohyun dalam sebuah ikatan. Seketika asanya menumpul di balik sangat inginnya mengutarakan rasa di hadapan Sohyun.


          "Aku bersalah karena pernah pergi meninggalkanmu. Sekarang aku sudah kembali, aku ingin menebus hari-hari yang belum sempat kita lalui bersama. Kau boleh balas dendam padaku, apa pun akan aku terima, asal kau tidak pergi."


         Perempuan itu geming. Lidahnya kelu.


        "Tatap aku!" Telapak tangan lebar Taehyung meraih dagu Sohyun. "Jangan menunduk, dan lihat mataku ..."


         Sohyun kian menggeletar. Sohyun benar-benar melepas atribut kebohongannya, gadis itu menangis, mengusap air mata yang membuatnya takut dan terluka.


        Taehyung membeku, merasakan tangan dingin yang sedikit gemetaran itu menyeka likuid beningnya. Lelaki itu sama terlukanya. Melihat seseorang yang dicinta ditimpa tangis sedu sedan yang mengerat kuat, bertubi di dalam dadanya yang menyempit.


         "Taehyung ... aku sudah lama ingin mati."


        Kepala Taehyung menggeleng tidak percaya. "Apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi? Apakah hari-harimu begitu sulit? Apa menurutmu aku tidak penting, hanya karena kau anggap hubungan kita sahabat semata?"


       Sohyun terisak. Bagaimana mungkin dirinya sanggup mengatakan rahasianya selama ini, ia sudah lama memendamnya sendiri, tidak akan membaginya dengan siapapun, termasuk Taehyung.


        "Katakan apa yang kau sembunyikan dariku!" Taehyung menuntut penjelasan. "Aku sudah bersabar menunggumu bicara terus terang. Sudah cukup kau menyembunyikan penyakitmu, aku harap kali ini kau bisa lebih terbuka. Kalau terasa sulit bercerita karena aku sahabatmu, maka berbagilah karena aku orang yang kau cintai."


        Sekonyong-konyong kedua  pupil matanya melebar. Sohyun tercengang. Taehyung sudah mengetahuinya, dan bodohnya, ia tak bisa lagi berselindung makin dalam dengan kokonyolan yang ia buat.


        "Katakan karena kau mencintaiku ... berbagilah pada pria yang sudah lama mencintaimu."


          Kata-kata tersebut bukanlah tuntutan, namun sebuah permohonan besar dari Taehyung, berharap Sohyun akan jujur.