
*Aku terkurung bertahun-tahun setelah kepergianmu. Duniaku serasa direnggut paksa saat itu juga, ketika kedua orangtuaku meregang nyawa setibanya di rumah. Apa yang saat itu kulakukan? Tidak ada, hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat banyak. Hanya seorang anak berusia enam tahun, yang belum mengerti apa-apa tentang dunia dan kenyataan. Sendirian.
Paman Choi, hanya Paman Choi yang menemaniku sebelum wanita itu datang. Pengasuhku yang baru muncul seminggu setelah kremasi Ayah dan Ibu. Dia memperlakukanku seperti seekor induk ayam, dan aku itik kecil yang tanpa sadar menuruti perkataannya. Mirip pengekor. Seperti seorang anak yang terlahir kembali, dia mengambil semua peran sebagai orangtua bagiku. Membesarkan aku selayaknya anak kandung. Aku mulai bergantung padanya, semakin hari, semakin aku takut menjauh darinya.
Sampai suatu ketika, kebenaran yang tersembunyi, pelan-pelan terkuak. Percakapan dua orang yang paling aku percayai, ternyata menyimpan rahasia besar dariku. Ibu sekaligus pengasuhku, ikut andil dalam penghilangan nyawa orangtuaku.
Balas dendam.
Motif di balik peristiwa kelam itu. Dia tidak terima putrinya meninggal karena kecelakaan yang disebabkan Ayahku.
Ketika dia tahu aku mendengar kebenaran itu, sifat aslinya pun muncul. Kepribadian yang bahkan tak pernah kupikirkan ada di dirinya. Benar-benar sangat berbeda— menjadi orang lain—terasa asing dan aku ingin lari sejauh mungkin.
Semua bekas luka yang ada di tubuhku sekarang, semua itu selalu membuatku sakit tiap kali melihatnya. Tidak peduli seberapa banyak tulangku yang patah dan pendarahan yang terjadi berulang kali, tidak bisa menyembuhkan paranoia yang melekat dalam otakku. Aku hidup dalam ketakutan. Dan terus bersembunyi dengan sikap apatisku.
Masa remajaku, kuhabiskan di dalam rumah. Bertambah terpenjara kala satu per satu penyakit menyerang dan mulai menggerogoti tubuhku. Ada saat di mana aku ingin mati, Ibu mendengarnya, aku masih ingat tawanya pecah kala aku mengucapkannya dengan takut-takut. Wanita itu mengiyakan, mengabulkan permintaanku tanpa banyak pikir. Dalam kondisi mabuk, di saat malam sebelum hari ulang tahunku, peristiwa buruk itu terjadi. Dia mendorongku dari atap rumah sakit. Aku masih bisa melihat senyum senangnya, tidak ada penyesalan, karena memang aku yang menginginkan kematian itu terjadi. Tapi ternyata salah, aku tidak mati.
Aku masih hidup setelahnya, setelah mengalami koma. Semenjak aku bangun, aku berubah. Memasang topeng dan berusaha kuat untuk membalas perbuatannya. Aku tak bisa menjebloskannya ke penjara meski aku ingin. Seseorang menggantikan dirinya dan mengakui kejahatan yang bahkan tak pernah diperbuat*.
Suara perempuan itu terus mengiang-ngiang sepanjang malam, hingga matahari bergerak merayap naik. Pengakuan Sohyun menggempur pertahanan Taehyung. Lelaki itu tak kuasa menahan kepedihan, menangis sejadi-jadinya di hadapan Sohyun yang sama sakitnya bila harus mengenang kehidupannya tanpa adanya Taehyung. Hanya dapat memberi pelukan erat tak sanggup berkomentar. Kata andai berulang kali terucap dari bibirnya, andai saja dirinya tak pergi, sahabat sekaligus pemilik hatinya itu tidak akan terluka sendiri, menghadapi semuanya seorang diri. Harusnya, seharusnya ia tidak pergi.
Tawa miris dan ringis ketidakkeruan berpadan tangis. Siapa yang akan tahan, melihat perempuan yang ia ingin selalu lindungi justru terluka teramat dalam.
"Taehyung!"
Terkesiap. Pria itu menegakkan badan di atas kursinya, meneleng pada asal suara yang menyerukan namanya. Tangis yang menyesakkan separuh malamnya tersingkap oleh senyum sekadarnya.
"Sejak tadi kau melamun, ya?" Sewon, Ibunya bertanya, menyadari sesuatu yang tak biasa menimpa si bungsu. Bagaimana tidak, Taehyung geming selama di ruang makan. Enggan mengomentari penggalan cerita antara dia dan sang suami yang baru pulang kemarin malam.
Kepala Taehyung menggeleng. Lagi-lagi cuma secuil saja senyum yang ia biarkan menyapa indra penglihatan orangtuanya. Ia senang, ayah serta ibunya menikmati liburannya, namun hatinya yang telanjur diserang duka, tak mampu menyamarkan ronanya. Taehyung memilih diam mendengarkan, sesekali menyahut dengan senyum atau anggukan kepala sesudahnya.
"Aku berangkat." Beranjak Taehyung dari kursi makan, membungkuk hormat sebelum kepergiannya berangkat ke kantor.
"Habiskan dahulu makananmu, ini juga masih sangat pagi, kenapa terburu-buru sekali?" Haeyoung bertanya usai melihat piring putra bungsunya masih penuh, menyisakan roti yang hanya digigit satu kali.
"Aku harus berangkat pagi, untuk menjadi contoh baik para karyawan kita."
Sewon tercenung. Bukan karena alasan Taehyung yang terdengar sebarang. Lebih aneh lagi, manakala menangkap mata sembap Taehyung, sekilas serupa orang yang habis menangis berjam-jam.
"Ibu tahu tujuanmu baik, tapi apa perlu sampai sepagi ini? Setidaknya minumlah susu hangatnya," ucapnya mengingatkan.
Tampak putranya itu duduk ke tempatnya. Menilik segelas susu putih hangat yang memang belum sama sekali direguk. Taehyung menurut, meneguk minumannya tandas.
"Apa kau ada masalah dengan Sohyun?"
Taehyung sampai mendilak tak suka pada pertanyaan sang Ibu. Suasana hatinya sedang carut capainya, dengan menyebut nama Sohyun, sudah menambah gelenyar nyeri untuknya.
"Kalian bertengkar?" timpal Haeyoung.
"Hubungan kami baik ...," ungkap Taehyung menggantung. "Tidak ada masalah. Semua akan baik-baik saja."
Sewon lega, "Syukurlah, Ibu pikir kalian ada masalah. Bagaimanapun, Ibu dan Ayah sudah sangat setuju dengan pilihanmu. Cepatlah lamar Sohyun dan persunting dia."
Taehyung semakin ingin bergegas kabur dari hadapan orangtuanya, ini berat ketika ucapan tak sesuai realita. Ia juga ingin melakukannya, menikahi wanita yang disayangi, menjadikan Sohyun sepenuhnya miliknya. Namun apa itu mungkin? Kala wanita itu terang-terangan menolak.
"Ayah hampir lupa, siang ini kau datanglah ke Sokcho, di sana ada pemeran desain baru, beberapa perusahaan properti banyak yang ikut andil. Ayah harap kau mau datang bersama beberapa tim desain yang ikut memamerkan maket mereka."
Rencana mendadak. Baginya tak ada yang lebih menyebalkan ketika agendanya bertambah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Taehyung menghela napas panjang, menatap Ayahnya tidak percaya.
"Apa harus?"
"Kau keberatan?"
"Tidak, aku akan ke sana."
Pada akhirnya, itulah keputusan yang ia ambil. Datang ke Sokcho, guna menghindari Sohyun untuk sesaat. Taehyung berasa tak ada muka bila berhadapan dengan Sohyun untuk sementara waktu.
🔔
Tangannya mengambang di udara. Ragu-ragu dan takut membuka pintu mobil. Sejak tiga puluh menit lalu, tepatnya, pria itu menunggu di dalam mobilnya, dekat gerbang masuk universitas Gangwon. Taehyung memang meninggalkan kediamannya pagi-pagi sekali, bukan ke kantor sesuai ucapan tempo pagi di depan orangtuanya. Taehyung siap menerima konsekuensi atas kebohongannya, betapa besar dosanya, harap Tuhan menghukumnya yang tak jua mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Sohyun.
Matanya yang kuyu menyipit penuh pendar rindu. Sohyun yang ditunggunya tampak berjalan tertatih menggunakan dua tongkat yang mengapit di dua sisi tubuhnya. Sepasang krug tegak yang membantunya berjalan selepas keluar dari mobil yang mengantarnya. Taehyung mendesah, ingin hati menghampiri gadis malang itu. Tapi sesuatu terus menyeruak, membebani langkahnya, sekadar mendekati Sohyun sekarang.
Kedua kepalan tangannya meremas bundaran setir. Dari balik kaca, dapat dilihat, perempuan yang senantiasa diperhatikannya itu terjatuh akibat ulah beberapa orang yang tetiba datang merundung. Taehyung membeku di ambang kegetiran hatinya sendiri.
Tatapan tidak suka dan kata cemoohan, aku mendapatkannya setiap kali bertemu orang. Kau tahu julukan apa yang aku dapatkan ketika masuk di universitas pertama kali? Monster Psikopat.
Lontaran kalimat tak kalah gering, menggeru sampai ke dalam kalbu. "Bagaimana bisa mereka menyebutmu monster dan psikopat?" keluhnya.
Sohyun berdiri dengan susah payah. Taehyung tersenyum samar, antara bangga dan simpati melihat usaha Sohyun. Perlahan, tangan panjangnya terulur, merogoh ponselnya.
"Kau ada di mana?" Kata pertama, basa-basi yang ia ketahui jawabannya. Sudah jelas perempuan itu di depan mata kepalanya.
"Sedang di jalan, menuju gedung latihan. Memangnya ada apa?"
"Sungguh?"
"Kau mulai tidak mempercayaiku?"
Tawa kecil Taehyung keluar, entah disebabkan Sohyun yang lagi-lagi harus di perlakukan tak lazim atau dirinya yang amat pengecut, tidak berani turun untuk menolong gadis itu. Ia cukup mengenal Sohyun, memberinya tatapan kasihan hanya akan membuat perasaan Sohyun makin terluka.
"Aku selalu percaya padamu. Oh, ya, hari ini aku harus ke Sokcho. Kau tidak apa, kan kutinggal sendiri?"
Dari seberang jalan, Taehyung melihat ekspresi kelam di wajah Sohyun. "Aku akan kembali secepatnya, karena aku tidak bisa lama-lama menjauh darimu."
"Aku juga."
Bolehkan Taehyung melompat sekarang, ketika Sohyun secara tak langsung mengakui bahwa dirinya tidak bisa jauh sama sepertinya. Desiran itu kembali datang, menyurutkan rasa gamang.
"Tidak biasanya kau memberi tahuku. Kurasa keberangkatanmu mendesak."
"Ya, ini terlalu tiba-tiba. Padahal aku sudah mempersiapkan waktu agar aku bisa bersamamu."
"Penuhilah tugasmu, buktikan padaku, bahwa direktur Kim adalah seorang profesional."
Taehyung manggut-manggut setuju, berdeham, mengamini. "Aku janji akan melihat penampilanmu lusa nanti."
"Dan aku akan menunggumu."
"Kau berlatih sangat keras akhir-akhir ini, aku yakin, kau pasti mampu mempersembahkan penampilan luar biasamu. Kau sangat berbakat."
"Terima kasih, aku akan jadikan itu motivasi. Kata-katamu ... aku akan mengingatnya."
"Kau hati-hati. Sudah dulu, ya, sepertinya aku harus bersiap-siap."
"Ya, kau juga hati-hati."
Sambungan telepon terputus. Taehyung masih setia memandangi kepergian Sohyun yang menyeret kaki ke dalam gedung universitas. Melihatnya sampai tubuh Sohyun hilang seluruhnya dari pandangannya yang memburam. Laki-laki itu kian rawan, bersama jatuhnya setetes air mata yang sejak tadi mengumpul di pelupuk mata kirinya.
🔔
Semua penghuni gedung teater fokus berlatih untuk pertunjukan musik yang tinggal menghitung hari akan segera diadakan. Tak terkecuali Sohyun yang memang terlihat serius sejak sekembalinya ia masuk kelas kemarin. Dengan daya ingat luar biasa yang dimilikinya, tidak mengharuskan Sohyun bermain keras. Semua lagu yang akan dibawakan pun ia hapal di luar kepala tanpa perlu melihat lembaran partitur, meski Mr. George yang kebetulan menjadi komposer telah mengaransemen beberapa lagu.
Tak ada yang berani mengganggu perempuan itu, termasuk Kim Yeri yang hingga detik ini termangu memperhatikan temannya. Sudah sejak tadi netranya tak lepas menilik segala gestur anggun yang diciptakan Sohyun yang tak mau meninggalkan bangku pianonya. Selalu seperti itu, batinnya kadang menggumam sedemikian herannya melihat perilaku Sohyun.
Waktu istirahat yang hanya lima belas menit berakhir, latihan kembali dilanjutkan dan usai satu setengah jam sesudahnya.
"Kerja bagus. Semua persiapan sudah hampir selesai, besok datanglah lebih awal untuk geladi resik. Sebelum pertunjukan sebenarnya nanti lusa," kata Mr. George, sebelum dirinya meninggalkan ruangan teater kesenian.
Satu per satu, mulai berguguran menghilangkan diri dari sana. sekilas hanya ada beberapa orang yang tersisa, tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Sohyun berdengu, mulai mereganggakan otot jari-jarinya yang lelah, sebelum ia bangkit dari bangkunya, mencari benda yang akan dijadikannya topangan. Entah siapa yang memindahkan tongkatnya, Sohyun terlihat kesulitan meraih krug yang tak tergapai tangan.
"Harusnya kau minta tolong, jika tidak bisa." Seseorang mengambil tongkat, menyerahkan pada Sohyun.
Gadis itu menerimanya dengan senang. "Bahkan tanpa aku harus meminta tolong, seseorang datang dan menolongku."
Orang tersebut mendengus. Yeri membuang pandang ke arah pintu keluar. Sohyun sepintas tersenyum tipis, sedikit paham apa yang ada di dalam pikiran Yeri saat ini. Bukan sesuatu sulit, ia bisa pulang sendiri dan juga, Sohyun sama sekali tak membutuhkan belas kasihan dari siapapun.
"Terima kasih," kata Sohyun setelah mengambil tasnya.
Yeri tetap berdiam, tidak tahu ingin berbuat apa ketika Sohyun mulai melangkah hati-hati menuruni panggung.
"Tunggu dulu!" Yeri berucap ragu-ragu. Volume suaranya yang kecil, rupanya menjangkau indra dengar Sohyun yang tajam.
Sohyun berhenti, membalik badan seperti menunggu sesuatu terucap, menantikan bibir Yeri yang tergigit itu lekas terbuka.
"Maaf, maaf atas kesalahanku kemarin."
Kekehan pelan adalah respons pertama Sohyun. Sinyal terselubung bahwa perempuan itu agaknya terhibur pada pernyataan ke sekian yang pernah Yeri ucap. Maka dimajukannya lagi tongkat panjangnya, melangkah mendekati posisi Yeri yang merunduk. Sohyun berdiri di depan Yeri, mengamati dari dekat, temannya tersedan tak berani menatap.
Yeri diam saja, dua pundaknya geletar naik-turun.
"Aku serius," Sohyun meyakinkan. Tangan kanannya menganjur, leluasa memegang lengan tangan Yeri.
"Apa menurutmu aku tidak serius?"
Sohyun menggeleng sehabis menuntaskan pertanyaan singkat. "Kalau begitu aku pergi saja." Dia mulai bergerak, seperti akan memunggungi.
"Yak, Kim Sohyun!"
Brak
Kedua tongkatnya jatuh kala tubuh Yeri tiba-tiba memeluknya, menggamit jemarinya demikian erat. Sohyun pasrah, membiarkan Yeri terisak haru.
"Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku menangis sejelek ini. Terima kasih sudah menjadi temanku, untuk semua yang kau lakukan diam-diam untukku."
"Aku harap begitu. Menangislah sepuasmu hari ini, hanya hari ini saja," papar Sohyun sendu, karena sejujurnya, ia pun tak yakin dengan janji Yeri jika tahu yang sebenarnya tentang dirinya. Jika hari itu tiba, waktu di mana ia harus melepas rasa lelahnya.
🔔
"Cepatlah masuk ke dalam. Udara di luar sangat dingin, Nona." Jonghoon merapatkan jaket tebalnya untuk dipakaikan Sohyun, sejak keluar dari gerbang universitas, wajah sang nona yang menyerupai pucatnya mayat makin membuat Jonghoon khawatir.
"Besok aku ingin naik bus," beber Sohyun menatap Jonghoon yang mengernyit.
"Bukankah Paman sudah tidak lagi mengantar jemput Ibu?"
Jonghoon membenarkan.
"Maka dari itu pulanglah ke Sangju. Temui anak dan istri Paman."
Jonghoon tertegun menilai arti tatap Sohyun. Hatinya makin terenyuh, tak sangka nonanya mengetahui perihal keluarganya yang selama ini ia tinggal di daerah Sangju.
"Aku dan Ibu sudah berdamai, hubungan kami sekarang membaik. Kini giliran Paman, menyelesaikan permasalahan lalu karena pilihan untuk mengabdi di keluarga ini."
"Apa tidak masalah bagi Nona?" Jonghoon masih memikirkan kondisi Sohyun.
"Aku bisa mengatasinya."
Kalimat itu terucap tanpa keragu-raguan. Jonghoon percaya hingga kepalanya terangguk setuju.
🔔
Senyum tercetak, melekat pada wajah semringah Yoon eun, melihat kepulangan Sohyun. Buru-buru dihampirinya anak perempuan itu dengan girang.
"Kau baru pulang, Nak?" tanyanya membantu melepas tas dan buku tebal yang ada di tangan Sohyun. Mengelus pipi tirus yang makin kurus tak terisi. Yoon eun tampak miris, cepat tertutupi melihat jaket kesayangan Jonghoon tersampir menggelung tubuh Sohyun.
"Jonghoon tidak masuk ke dalam?"
Sohyun menggeleng, "Aku baru saja menyuruhnya pulang ke kampung halamannya. Mungkin dia sedang memberesi barang-barangnya."
"Apa maksudmu, Sohyun?"
"Nanti juga Ibu akan tahu."
Jawaban misterius itu justru membikin Yoon eun makin cemas. Rahasia apa lagi yang tengah disembunyikan Sohyun darinya?
"Kalau begitu aku ke kamar dulu, Ibu ... lebih baik istirahat. Aku tahu Ibu pasti lelah sejak semua pelayan di rumah ini diberhentikan."
. Sohyun mulai berjalan ke atas, berjalan timpang dengan krug setianya. Tak memberi kesempatan pada Yoon eun yang memperhatikannya seraya berisik, "Kau tidak bisa membohongiku, kenapa terus berpura-pura kuat?"
🔔
Tubuh lunglainya seketika luruh ke lantai, begitu pintu kamarnya terkunci rapat. Sohyun berbaring di atas karpet dengan leleh air matanya yang membanjir. Bergerak gelisah sembari gigi-giginya mengetat erat menggigit bibir bawahnya yang memerah mengeluarkan darah. Sakit yang sejam lalu muncul tertumpah bersama erangan kecil sedan. Beberapa botol obatnya menggelinding, telah kosong tanpa ada isi di dalamnya. Sohyun telah lama membuangnya, ketika menonggak puluhan obat yang sama sekali tidak memberikan hasil apa-apa. Rasa sakit yang hampir memgaliri seluruh tubuhnya tetap ada.
"Aku membutuhkanmu, Tae ..."
Seakan Tuhan langsung menjawab harapannya, dalam hitungan detik, ponsel Sohyun kembali berbunyi, sebuah panggilan masuk dari Taehyung.
"Ha—"
"Tae...," potong Sohyun lirih.
"Ada apa?" Dari seberang, suara lelaki itu terdengar bergetar.
"Bisakah kau bernyanyi untukku?" pinta Sohyun. Matanya telah memejam, hanya suara Taehyung yang ingin ia dengar sekarang.
"Kau ingin aku menyanyikan lagu apa?"
Garau, gementar, dan terjeda, Sohyun dapat menerkanya. "Jangan menangis, aku baik, tapi aku sungguh ingin bisa mendengarmu bernyanyi sekarang, aku ingin merekamnya dari sini."
"Aku tidak menangis, suaraku begini karena sedang flu."
"Kalau begitu bernyanyilah, aku tidak akan meminta lagi setelah ini. Aku sudah tidak lagi mengkonsumsi obat tidur, aku butuh nyanyianmu agar tidak selalu terjaga."
Tidak terdengar balasan kata dari Taehyung, Sohyun selintas dapat menelinga bagaimana beratnya tarik serta embusan napas Taehyung.
Satu menit, hening menerpa sebelum samar-samar suara merdu pria itu mengalun, bukan sekadar senandung ala kadarnya, namun bait lirik lagu yang menyentuh.
Kkoccdeuri gadeukhan georie
Oneuldo geudaereul boneyo
Nae ane damgyeojilkka
Yosaebyeok dari jinan gongwone
Jigeum nae gamjeongeul damayo
I noraen geudael hyanghaeyo
Bamhaneul darege bichwojin
Pilleumui sorireul deureoyo
I still wonder wonder beautiful story
Still wonder wonder best part
I still wander wander next story
I want to make you mine
Geu chalnaui siganui geu moseubeul
Nohchin nae maeumi aswiwohae
Huhoega dwae dasi geu chalnaga issgireul
Dalbit jogak hanahana moajomyeongeul Mandeul tenie
Ojewa gateun moseubeuronae ape wajuseyo
I still wonder wonder beautiful story
Still wonder wonder best part
I still wander wander next story
I want to make you mine
Baljaguk namgigo tteonagasimyeon
Jega geu ongil jikilgeyo
Heukbaek sok e namgilgeyo
Lagu berakhir.
Sohyun benar-benar terpejam, menutuplah kedua kelopak matanya usai lagu yang ditujukannya memberi hangat yang menenangkan. Otaknya dapat mengingat-ingat larik demi larik penuh makna tersebut, tanpa lupa merekam lalu menyimpannya.
"Selamat malam, tidurlah yang lelap."
Suara Taehyung bergema lagi. Amat lirih. Sebelum lelaki itu benar-benar akan mengakhiri perbincangan mereka malam ini. Sohyun terlihat menyunggingkan senyum samarnya, bibirnya sulit terbuka, ia lelah hingga tenaganya terkuras.
"I Love You!"
"I love... you, too." Terucap dalam hatinya.