Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 6 : Selindung Duri



     Detak jarum jam menggemai. Senyapnya ruang berukuran besar itu hanya diisi dua orang yang berpandangan tanpa bisa diterka-terka maksudnya. Bagaikan onggokan bisu yang tersekat dalam buaian nalar.


   Sohyun yang telah kembali ke tempat istirahatnya, menatap Jonghoon yang baru saja menyelesaikan penjelasan yang diminta olehnya. Sorot matanya sedu. Ada begitu banyak yang menggayuti pemikirannya yang terlampau rumit untuk sekadar dimengerti. Gadis itu tak bersuara lagi, membiarkan tetes hujan mengetuk-ngetuk jendela kamar inapnya yang lebih mendominasi. Hujan di luar semakin berlomba turun—tersapu tak tentu arah oleh arakan angin beralih.


     "Semua keputusan berada di tangan Anda, Nona." Suara berat Jonghoon memecah kebisuan.


      Sohyun tersenyum miring, mengetukkan jari seirama bunyi tetes hujan yang menipis perlahan.


     "Sekarang aku sendiri pun bingung. Haruskah aku menemuinya atau justru menghindarinya?" ucapnya kemudian.


     "Apa Nona senang dia kembali?" Jonghoon bertanya sangat hati-hati. Bukan sesuatu yang sulit baginya untuk menebak, terlukis dari senyum tipis yang terlihat di wajah Nona Mudanya yang menjawab lugas.


     "Tentu aku sangat senang."


     Sejenak suasana kembali hening, sudah sepentasnya Jonghoon pergi. Bukankah selalu seperti itu? Tidak akan ada basa-basi di antara supir dan majikan yang sepihak selalu berorientasi pada penjagaan jarak nan semu. Kabar diberhentikannya Eunjung saja sudah menambah kadar kecemasannya pada Sohyun yang gamblang mengakui semuanya. Terkejut sudah pasti. Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua sepertinya? Jonghoon merasa telah menjauh—begitu sangat jauh dari Nonanya. Tidak dan bukan lagi sebagai Ayah pengganti. Anggapan itu tak layak lagi ia bawa, setelah Sohyun mengetahui kongkalikongnya bersama Yoon eun enam tahun lalu.


     Ia bergegas akan pergi, namun urung tatkala  bunyi notifikasi masuk. Tangannya menyauk benda mungil dalam saku. Membaca pesan yang tertera pada layar menyala. Ia melirik Sohyun sebentar, tampak gadis itu mengangguk seakan tahu arti pandanganya.


     "Nyonya menanyakan kondisi Anda. Siang tadi beliau menelepon dan meminta bukti foto," tutur Jonghoon di depan wajah pias Sohyun yang mengembus napas lelah pasrahnya.


     "Begitu ya?" Sohyun mengangguk paham. "Kalau begitu berikan saja fotoku minggu lalu."


     "Tapi, Nona ..."


     "Sekarang kau bersamaku, Choi Jonghoon. Sesekali kau juga perlu mendengarku daripada Nyonyamu itu!"


     Pria itu lekas menunduk takut. Membungkuk sebagai permintaan maaf atas kelancangannya barusan.


     "B—baiklah. Saya permisi dulu, Nona Kim."


     Jonghoon menyegerakan langkah keluar dari hadapan Sohyun. Meski bukan kali pertama, tatapan mata tajam gadis bermarga Kim itu cukup menyentak nyalinya.


     Sohyun tertegun di tempat. Mengingat-ingat wajah gusar Jonghoon. "Apa aku mirip monster? Paman pergi lagi, dia takut padaku, pada topeng yang kukenakan hari ini."


     "Kau sungguh tidak ada sopan-sopannya terhadap orang tua. Apa seperti itu caramu bicara pada yang lebih tua?"


     Suara seseorang yang datang membubarkan suara hatinya. Sohyun melirik sekali lantas fokus pada buku harian yang sejak tadi tertutup di pangkuannya.


     "Menguping pembicaraan orang, bukankah itu lebih terlihat tidak sopan?" Sohyun menyahut tanpa mengalihkan pandang, buku jarinya telah bersiap akan menggores tinta hitam pada lembar kosong.


     "Kau juga sama. Mencuri dengar pembicaraanku bersama Taehyung!"


     Gerakan ringan tangannya terhenti. Sohyun menekan kuat-kuat penanya hingga tembus melubangi halaman berikutnya. Ia mendongak, menatap wajah meremehkan Jaehyun, membalasnya dengan senyum simpul.


     "Sebelum itu ... apa yang kau lakukan di depan ruanganku? Mengintip atau berusaha menarik perhatianku? Sebelum aku, hari ini, dua kali Dokter Kim telah melakukannya."


     "Ck..."Jaehyun berdecak, perlukah ia mengakui kekalahan telaknya pada Kim So Hyun?


     Jaehyun menggeleng cepat, merebut paksa buku harian milik Sohyun—melemparnya asal.


     Sohyun hanya menatapnya biasa. Ia tidak marah, pun tidak sedih. Sohyun hanya merasa ... pria berprofesi dokter itu perlu diajar, apa itu sopan santun yang sebenarnya.


     "Aku bahkan hampir lupa, sudah keberapa kali kau membuang bukuku." Sohyun masih menatap buku yang menggelepai di lantai. Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebatas coretan yang tak memiliki arti. Namun lain halnya bagi Sohyun sendiri, buku itu jauh lebih berharga dari segala macam materi yang ia dapat selama ini.


     Jaehyun terpekur melihat pasien keras kepalanya meratap.


     "Sebelum aku tidak lagi bisa menggerakkan anggota tubuhku, aku ingin melakukannya sesering yang aku bisa."


     "Sohyun ..."


     "Dokter Kim, kenapa harus seperti ini? Kenapa Tuhan memberikannya padaku? Kenapa bukan pada orang yang jahat itu saja? Kenapa harus aku?" Sohyun buru-buru menyeka air matanya yang berjatuhan. Mengulas senyum disertai anggukan lemah. "Aku senang Tuhan mengujiku. Tidak apa-apa, aku akan menerimanya dengan ikhlas."


      Jaehyun segan. Kemudian berjongkok memungut buku yang sempat dilemparnya. Meski sudah berulang kali ia mencoba membaca tulisan tangan Sohyun secara diam-diam, hingga sekarang pun otaknya tak mampu menyentuh apa lagi memahami isinya.


     "Apa orang yang menabrakmu di jalan adalah Taehyung?" Sambil menyerahkan buku harian Sohyun. "Apakah benar gadis kecil yang sering diceritakannya padaku itu adalah kau, Kim So Hyun?" tanyanya lagi, sedikit menuntut balasan.


     "Ya, dia adalah Kim Taehyung. Dia sahabatku yang datang setelah sekian lama pergi," Sohyun menjawab dengan tenangnya.


     Laki-laki itu mendesah. Meraup mukanya yang seketika berubah masai. "Sekarang apa lagi ini, Tuhan?"


     "Bersikaplah biasa saja, jangan beri tahu apa pun pada Taehyung, apa saja yang kau ketahui tentangku dan aku berjanji akan berlaku baik sebagai pasienmu."


     Tawanya menggelegar. Jaehyun lekas mengelus surai panjang Sohyun yang terduduk dengan pandangan jengah. "Sekarang kau berani menawarkan kompromi padaku. Apa adikku itu sangat penting bagimu, Kim Sohyun?"


     "Ya, dia lebih penting dari apa pun di dunia ini."


     "Kau menyukainya?"


     "Ya."


     "Apa kau akan melakukan apa pun demi dirinya?"


     Sohyun akan menjawab, namun Jaehyun buru-buru menyela. "Sebelum menjawab, 'Ya'.... Sebaiknya jauhi dia. Aku tidak bisa membiarkan wanita sepertimu mendekati Taehyung. Aku tidak bisa—tidak akan pernah rela—dia bersamamu."


     Sohyun mengetuk jari, manggut-manggut kecil dengan reaksi spontanitas yang ia dapat dari dokternya itu. "Tidak masalah. Toh pada akhirnya, bukankah aku akan segera pergi dari dunia ini. Memangnya siapa yang akan tahan dengan orang tidak waras seperti aku ini?"


     "Kim So Hyun! Jaga bicaramu ...!" Giginya mengetat, Jaehyun semakin dibuat geram oleh wanita yang tanpa malu sedikit pun mengaku gila.


     "Aku tidak mungkin berselingkuh di belakang pacarku, Dokter Kim," sahut Sohyun lebih santai.


     "Ssstt ..." Jaehyun hanya mampu berdesis jengkel. Sepertinya kedatangan dirinya kemari salah. Sudah cukup kunjungannya hari ini. Di tengah malam yang lengang yang seharusnya dipakai untuk istirahat para pasien, tidak seyogianya ia muncul hanya untuk memekik frustrasi di depan mata tak berperasaan itu. Jaehyun akan pergi dari sana, kendatipun tidak sedikit yang membebani pikirannya pada sosok Sohyun.


     "Omong-omong, kau terlihat lucu kalau sedang cemburu!"


     Jaehyun membalikkan badan, memasang pelototan mata membunuh ke arah Sohyun. "K-kau..."


     "Setidaknya kalau tidak ingin ketahuan, jangan terlalu sering menunjukkannya di depanku." Sohyun bersuara lirih, bersiap menarik ujung selimutnya—akan tidur.


     "Kau benar-benar sok tahu!" tuduh Jaehyun yang terang saja tidak suka.


     "Meski begitu kau tetap tidak bisa berbohong. Akan jauh lebih baik kalau rasa itu Dokter kurangi. Musnah. Aku tidak akan bisa membalasnya ... tidak akan pernah bisa."


      Jaehyun keluar setelah membanting pintu pasiennya. Suara degar keras itu membikin pria yang baru tiba di tempat tujuannya berjengkeng terkejut.


     "Apa yang terjadi di dalam? Apa yang pasienmu lakukan sampai bisa membuatmu seemosi ini?" Taehyung bertanya penasaran. Kepalanya sedikit maju, ingin melihat orang yang sudah membuat rasa ingin tahunya memuncak dari celah pintu yang sedikit terbuka.


     Jaehyun yang melihat gelagat sang adik,  refleks menutup pintu, lebih pelan dibanding tadi. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Bukankah seharusnya kau tidur, Kim Taehyung?"


     "Ini terakhir kalinya aku memergokimu di depan ruangan ini lagi. Jangan sekali-kali kau datang ke tempat yang tidak seharusnya, Taehyung!"


     Sohyun yang tetap terjaga, menelinga obrolan antara kakak-adik itu dalam kebisuan. Suara laki-laki yang ia rindu terdengar lagi masuk ke gendang telinganya.


     Tidak semudah yang ia kira. Sohyun begitu ingin menghampiri sahabatnya itu. Ia ingin mengatakan banyak hal pada Taehyung, segala macam yang dirinya rasa selama kepergian sahabat kecilnya itu.


     Namun urung, ketika melihat lagi kondisinya yang tak memungkinkan. Membayangkan reaksi Taehyung membuat gadis bermata sayu itu takut. Ia tidak akan siap melihat pria itu mengetahui rahasianya. Ia akan menahan walau terasa berat. Menunda sekali lagi atau justru tidak sama sekali.


🔔


     Di luar kelas musik yang sebentar lagi akan segera berakhir. Seorang pria dengan jaket blue jeans-nya tengah menunggu. Matanya yang jeli terus tertuju pada pintu yang tertutup. Sayup-sayup bunyi alat musik pengiring orkestra mengudara. Ia masih berdiri sembari menenteng bungkusan kecil di tangan.


     Tak sia-sia, penantiannya berujung manis tatkala pintu kayu dibuka. Stuart Song, sang pengajar tampak keluar lebih dulu diikuti beberapa anak didiknya.


     Kedua bola matanya mencari-cari, pada sesuatu yang ia nanti. Decakan tertahan muncul, keluar dari bibirnya—pria itu kecewa—orang itu tidak ada.


     "Mau ke mana?" Seseorang bersuara, menahan langkahnya yang akan pergi.


     Ia lantas berbalik, menatap si penanya. "Sohyun," jawabnya singkat.


     "Dia absen lagi. Sebenarnya sudah sejak kemarin." Yang menjawab adalah Yeri.


     "Jangan bohong!"


     "Aku sama sekali tidak membohongimu, Jeon Jungkook. Sohyun memang sudah dua hari tidak masuk, aku juga sudah berusaha menghubunginya, tetap saja nomornya tidak aktif."


     Pria yang dipanggil Yeri, dengan nama Jeon Jungkook itu kegamangan. "Bagaimana ini, aku akan kalah taruhan jika tidak bertemu dengannya dalam seminggu ini."


     Tangannya mengepal, tidak habis pikir apa yang kini mendiami pikiran lelaki yang berstatus kekasih Sohyun itu. Ia sudah berang, pada Jungkook yang tega menjadikan Sohyunnya bahan taruhan.


     Jungkook yang diserang tekanan oleh kata-kata Yeri hanya mengangguk tidak acuh. Ia lantas pergi, benar-benar pergi dari sana meninggalkan Yeri yang kesal bukan main. Seandainya Yeri tahu pasti alamat rumah yang ditinggali Sohyun, bukan hal sulit untuk mengetahui penyebab seringnya gadis itu absen tanpa kabar seperti ini.


🔔


     "Sekarang apa lagi?" Jaehyun menggerutu sambil lalu. Kedua tangannya sibuk menarik-narik baju Taehyung agar cepat keluar dari ruang kerjanya. Sudah waktunya adiknya itu pulang ke rumah, telinganya bengang diberondong berbagai pertanyaan khawatir dari sang Ibu yang menanyai putra bungsunya sejak di telepon pagi tadi.


     "Apa pentingnya buatmu. Lagipula yang kena marah dari Ibu kan aku, jadi berhentilah menyeretku seperti ini," ketus Taehyung yang didera malu karena dilihat orang-orang yang mereka lewati. Percuma, sudah kepalang tanggung berlagak parlente, pakaiannya saja tidak cukup elok dipandang.


     "Salahmu sendiri tidak mau pulang. Ingat, Kim Taehyung ... kau pulang untuk meneruskan bisnis Ayah—"


      "Permisi, Dokter Kim..."


     Dua bersaudara itu kompak menelengkan kepala, menatap seorang suster yang tiba-tiba sudah ada di belakang, membawa kertas yang dirangkum dalam stopmap folio berwarna hijau tua.


     "Ada apa, Perawat Yoo?" Jaehyun bertanya langsung.


     "Ini hasil rekap kesehatan Nona Kim yang baru." Menyerahkan map tersebut pada Jaehyun yang langsung menelaahnya.


      Taehyung memanfaatkan kesempatan dengan kabur dari cekalannya yang lengah. Jaehyun sempat mendengus melihatnya, namun tak akan ada habisnya, ia akan memberinya pelajaran lain kali.


      "Di mana dia sekarang?"


      Perawat Yoo tahu, siapa yang dimaksud pun lekas menjawab, "Nona Kim sedang mengikuti terapi."


      Jaehyun tersenyum lega, tidak perlu susah payah membujuk pasiennya yang satu itu. "Kau kembalilah bertugas dan terima kasih."


     Wanita itu membungkuk sebelum pergi. Jaehyun yang teringat kembali pada Sohyun, bergegas datang ke ruang terapi. Tidak ada salahnya memantau gadis itu sebelum memeriksa pasiennya yang lain, berhubung ini masih jam istirahat.


🔔


     Taehyung berjalan santai melihat-lihat sekeliling di lantai dua rumah sakit SeonGyu. Benar kata Jaehyun, bahwa sekarang seharusnya ia segera pulang sebelum sang ibu menceramahinya habis-habisan, apa lagi matahari telah meninggi. Ada sesuatu yang membuatnya bertahan. Yang Taehyung sendiri pun tak mengetahui penyebabnya. Sebuah perasaan ganjil yang tak asing lagi.


     Sejenak ia berhenti. Ditatapnya lamat-lamat segelintir orang yang melewatinya, lagi-lagi perasaan itu muncul menggayutinya. Taehyung tak mengerti.


     Tak-tak-tak


     Bola matanya berkitar, manakala rungunya mendengar suara yang memukul lantai—berulang-ulang.


     "Kenapa denganku?" Taehyung mulai bertanya-tanya. Biji matanya terus berpendar.


     Tangannya mengacak rambut, saat suara itu telah sirna dari indranya. Bagai kehilangan asa. Ada apa denganmu, Kim Taehyung?!


     Sohyun yang berniat akan keluar selepas terapi, terpaksa mendiam lebih lama di dalam sana. Sedang tangannya masih menggantung di gagang pintu, berat memutarnya. Ia tak mengira Taehyung berdiri di depan pintu yang akan ia seberangi.


     Pria itu tetap celingukan ke segala arah, matanya menyipit memperhatikan. "Sampai kapan kau akan terus berdiri di sana?" tanyanya lirih.


     Lima menit berlalu begitu saja. Sohyun terpaku, antara senang dapat melihat Taehyung dari dekat dan lelah menopang diri dengan kruk yang ia gunakan. Di dalam ruangan telah sepi tanpa penghuni, ia cukup bersyukur untuk itu, tempat persembunyian yang aman menurutnya.


🔔


     Jaehyun mempercepat langkahnya setelah keluar dari dalam lift. Banyaknya orang yang naik-turun ke beberapa lantai membuatnya harus rela antre. Dahinya mengeryit, ditimpa keheranan. Taehyung berdiri di sana, tepat di depan ruangan yang ia tuju.


     "Kupikir kau akan langsung pulang?"


     Taehyung terkejut, kemudian menoleh ke sumber suara di belakangnya. Wajahnya membentuk cengiran, menatap malu ke arah Jaehyun yang berusaha bersikap biasa.


     "Aku juga sebenarnya ingin cepat-cepat pulang, tapi ..."


      "Tapi apa, Kim Taehyung?"


      Taehyung menggerakkan kepala, sebuah gelengan. "Tidak ada. Hanya aku merasa aneh saja sejak di sini."


      Jaehyun membuang napas panjang. "Ibu terus menghubungiku, dia bilang Ayah mencarimu." Sembari menunjukkan catatan panggilan yang masuk ke nomornya.


      "Ya, aku tahu. Aku akan pulang sekarang."


      Mereka mulai melangkah menjauhi ruangan yang ditempati Sohyun. Gadis itu tersenyum disertai ringisan pelan yang lepas dari bibirnya. Dia harus buru-buru keluar, dan tiba di ruangannya.


     Tak-tak-tak


      Netra Taehyung membeliak. Suara yang mengganggu pikirannya datang, terdengar sipongang di rungunya.


      "Kakak dengar itu?" Taehyung menjeda langkahnya.


      "Dengar apa? Di sini sangat berisik." Jaehyun melihat-lihat, tanpa sengaja melihat perempuan bertongkat berjalan berlawan arah dengan mereka.


      "Aku yakin sekali tadi mendengarnya," kekeh Taehyung.


      "Aku tidak mendengar apa yang kau maksud..." Jaehyun mengelak.


      Taehyung yang masih penasaran berbalik arah. Matanya membola ketika melihat seorang perempuan terjatuh setelah tersenggol badan besar seseorang yang lewat. Perempuan yang semula tertunduk itu, mengangkat wajah, dan tepat di detik itu, tatapan merindu itu kembali dipertemukan, Sohyun yang sadar situasi buru-buru berdiri. Menjauh dari sana sebelum Taehyung mengenalinya.


     "Sohyun," lirih Taehyung yang akan mengejar. Namun kalah sigap dengan Jaehyun yang lebih dulu menarik badannya.


     "Cepatlah Taehyung, segeralah pulang."


     Pria itu tak menggubris omongan sang kakak. Pandangannya menyapu, terlebih pada tempat yang menjadi perhatiannya.


     "Ini rumah sakit, tolong setidaknya hargai orang-orang di sini."


     "Kim Taehyung!" bentak Jaehyun, menyadarkan Taehyung yang akan pergi lagi.


     "Sohyun tidak ada di sini. Jangan membuat keributan! Aku tahu kau sangat merindukannya, hingga kau berhalusinasi demikian. Itu hanyalah ilusimu."


     Taehyung berdengu sesaat sebelum kakinya melangkah cepat keluar dari keramaian. Ia yakin yang dilihatnya betul Sohyun. Tidak mungkin yang dilihatnya hanya sebatas ilusi.


     "Maafkan saya atas kekacauan ini. Saya minta maaf telah mengganggu kenyaman Anda sekalian. Mohon pengertiannya."


     Jaehyun membungkuk berkali-kali di depan orang-orang yang hadir. Lalu memutuskan mengejar Sohyun yang ia yakini belum jauh.


🔔


     Sohyun memacu langkah kakinya yang terseok-seok melintasi koridor lantai enam. Suara ketukan tongkatnya memberi sinyal bagi para manusia yang berpapasan supaya menyingkir. Gadis itu tampak tergesa-gesa menuju ruang perawatannya, tanpa didampingi siapa-siapa. Beberapa suster yang mengenalnya tak berani mendekat, mereka sudah dibuat ketakutan lebih dulu karena desas-desus yang disebar orang tak bertanggung jawab bahwa Sohyun 'gila'.


      Sejak peristiwa kecelakaan di atap, penghuni rumah sakit berpikiran bahwa Sohyun memgalami depresi hingga nekat mencoba bunuh diri. Ditambah gangguan psikis setelahnya. Menyalahkan Yoon eun yang tak banyak berkata. Yoon eun diam, membiarkan orang-orang menganggapnya tidak waras tanpa tahu kesalahan yang ia buat.


     "Berhenti!" Suara Jaehyun terdengar.


     Sohyun tetap berjalan, tak mengindahkan titahnya.


     "Aku bilang berhenti, Nona Kim!" tekan Jaehyun, mencekal pergelangan tangan Sohyun yang gemetar memandangi dirinya.


     "Tidak bisakah kau melakukan apa yang aku suruh?" sentak Jaehyun lebih keras.


      Sohyun berusaha keras melepas cekalan kuat itu dari tangannya, hanya perlu beberapa langkah lagi ia sampai di ruangannya.


      "Tidak bisakah kau membiarkan aku sendiri?"


     Perlahan Jaehyun melonggarkan cengkeramannya, hingga tak lagi menyentuh tangan yang sudah berkeringat dingin itu. Melihat Sohyun berbalik, berjalan masuk ke dalam biliknya.


     "Aku sudah membantumu, Taehyung tidak menyadari keberadaanmu ... aku akan menagih janjimu sekarang, jadilah pasien yang menurut!" Jaehyun memekik, tak lagi memedulikan beragam pandangan dari beberapa orang. Termasuk Eunjung yang baru tiba.


     "Kim So Hyun!"


     Sohyun menjelepok—jatuh terduduk sebelum meraih pintu. Jaehyun segera berlalu, mendekati Sohyun yang gemetaran di lantai.


     Jaehyun memangku Sohyun, kilasan panik menghiasi wajahnya yang terlihat cemas.


     "Dokter, tolong aku...."


     "So—"


     Gadis itu pingsan di tempat. Jaehyun dibantu oleh Eunjung lekas membawa tubuh tak berdaya itu ke dalam ruangan Sohyun. Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.