Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 29 : Angan Bayan



      Sepanjang perjalanan dari pelbagai kepingan kecil ingatannya, wanita itu lebih murung, cenderung terlihat lisut selepas dari ruang kesadaran diri yang awalnya berkabut, diperjelas hingga tak satu pun tertutup. Semua kilas balik di masa yang berlalu menimbulkan jejak benalu. Yoon eun tak menyana, bahwa alur kehidupannya dilalui dengan cara-cara kotor. Jalan yang bahkan tak pantas disebutnya manusiawi. Terlalu penuh akan noda keburukan, Yoon eun tahu, sadar betul bahwa sampai kapan pun ... semua tidak akan mudah tergerus. Bayang-bayang itu tebersit makin menjadi dan akan selalu dibawanya hingga mati.


       Suatu waktu, pernah sekali dirinya ditarik paksa untuk mundur ke belakang, terlampau jauh melihat entitas diri dalam sebingkai cermin datar. Seperti gejala depresi pada umumnya, sifat agresif, ketakutan, kecemasan hingga kadar emosi yang meluap-luap membebaninya. Hal yang juga pernah dialami Sohyun karena ulahnya. Dia tersiksa, kian bertambah acap kali bipolar yang dimilikinya menguasai, dan cara termudah terkesan instan dilakukannya dengan melampiaskannya pada tubuh anak remaja yang kala itu dibayangi ketakutan setengah mati. Terus berlanjut dan tidak bisa dihentikan.


        Kali ini, nuraninya menang. Yoon eun mengalahkan alter egonya. Memberikan ruang seluas-luasnya untuk dirinya sebagai Hwang Yoon Eun. Sudah berkali-kali, secara diam-diam ia mendatangi bermacam kenalan psikolog, terapis, hingga psikiater. Yang terakhir seorang hipnoterapis berkebangsaan Jerman, tujuannya satu, ingin bebas dan menjalani hidup normal. Ia ingin laik dipanggil Ibu. (Semoga hal ini berhasil).


       Andaikan mungkin, ia diberi kesempatan untuk memperbaiki kecarutmarutan yang ada di masa silam, Yoon eun pastilah akan memgambilnya tanpa banyak pikir, namun angan itu seperti popcorn yang telah mengembang, meletup dalam pemanggang. Tidak mungkin ia dapat kembali. Rasanya mustahil untuk diulang.


       Di belakang sana, sosok Woojin berdiri memperhatikan keheningan istrinya. Tak ribut, membuat bunyi gaduh dengan perkakas rumah tangga seperti yang ia tilik di minggu-minggu ini. Rumah besar yang dipijaknya tampak kosong. Sohyun juga tak menunjukkan wujud. Bergegas Woojin melenggang, menaruh tas kerjanya di atas meja, mendekat pada Yoon eun yang melamun di kursi ruang makan.


        Mendengar suara derap langkah panjang bergerak mendekat, spontan wanita itu memutar badan. Terkejut melihat Woojin sudah ada di depannya.


       "Sejak kapan kau ada sini? Bukankah seharusnya kau pulang sore?" Bertanyalah Yoon eun.


       "Urusanku sudah selesai. Lagi pula aku ingin mengambil cuti setelah ini."


        Yoon eun sampai menyipitkan mata membentuk segaris, pasalnya Woojin masih dalam tahap belajar di perusahaan sebelum menggantikan posisinya dan sekarang tanpa pemberitahuan akan cuti.


Pria itu tertawa terkulum, kerut tawanya timbul mengelili lingkaran mata, ia paham keheranan Yoon eun, lalu tangannya menganjur mendebik bahu istrinya seolah ingin agar Yoon eun tak perlu memikirkan.


        "Menjadi seorang ayah," terang Woojin.


        Yoon eun semakin bungkam melihat rona bahagia di wajah Woojin, raut muka yang selalu ditunjukkannya di depan mendiang putri mereka, Han Yeo Jin. Yang mungkin sudah lama menghilang menghiasi wajah pria itu.


        "Apa dia belum bangun?" Woojin bertanya, melihat-lihat sekeliling yang masih sepi.


         Yoon eun kembali tersadar, lantas menyahut, "Entahlah, sejak semalam Sohyun belum keluar dari kamarnya. Lagi pula sangat tidak mungkin Sohyun belum bangun."


         "Dia melewatkan makan malam lagi?"


         Kepalanya terangguk seadanya. "Sebenarnya aku khawatir. Akhir-akhir ini sikapnya janggal, seperti sengaja ada yang ia tutupi." Kesenduan menyelimuti Yoon eun.


        "Aku akan ke atas, barangkali dia sudah bangun," imbuhnya yang disetujui Woojin.


         Wanita itu lekas melangkah menuju lantai dua, ke tempat putrinya berada. Yoon eun tak menampik, jika sekarang ini dadanya bergemuruh riuh. Di tiap-tiap ayunan kakinya, perasaan mendebarkan menyelubungi jantungnya.


        Semakin memukul keras di dalam sana, kala sepasang kakinya telah memijak lantai depan kamar Sohyun. Tak perlu repot mengetuk apalagi menyentuh gagang pintu. Yoon eun yakin, bila perempuan yang gemar mengurung diri di kamar itu memgetahui kedatangannya.


         "Sohyun, kau dengar Ibu? Keluarlah, ayo kita sarapan bersama?" Kalimat pertama. Kalimat rutin yang biasa ia ucap saban kali mengunjungi sang empunya kamar.


         Tak harus menunggu lama, pintu yang terkunci dari dalam pada akhirnya terbuka setengah, memperlihatkan diri seorang gadis yang tampak berantakan.


        "Sohyun!" Mata Yoon eun berubah kilap menyaksikan penampilan Sohyun dari atas hingga bawah. Ini pertama buatnya. Surai yang selalu tertata rapi itu terlihat kusut, serupa habis dijambaki berkali-kali, beberapa helai menggelayut di pakaian Sohyun yang masai. Tak kalah mengejutkan baginya, saat noda merah mengering membekas di pakaian tersebut.


        Tangan kanannya gemetaran, secara lancang merambati wajah mengenaskan di hadapannya. "Kau terlihat sedang tidak baik. Ibu akan panggil dokter Kim ..."


        Sohyun gelengkan kepalanya, tanda penolakan.


         "Tidak perlu, Bu. Maaf. Aku akan turun sebentar lagi, Ibu sarapan dulu. Aku akan menyusul nanti. Aku sudah lebih baik, hanya butuh bersih-bersih, lalu ke ruang makan." Sohyun pikir, Ibunya akan mengerti pengertiannya, walau ia rangkai kata dalam kalimat yang padat.


         "Kumohon .... Aku hanya tidak ingin Ibu melihatnya." Sohyun menjatuhkan bahunya, begitupun tatapannya yang melorot ke titik terendah. "Tolong jangan menangis di depan pintu kamarku lagi seperti semalam."


         Pupil mata Yoon eun bertambah melebar, air matanya meluap, terjun melewati pipi, menuruni dagu sebelum jatuh bersama rasa sendat di dada. Sohyun mengetahuinya dengan amat mudah, walau susah payah dirinya tahan agar isakannya tak sampai ke rungu Sohyun. Bukankah anak gadisnya itu hebat?


         "Ibu mengerti." Yoon eun mengangguk dibarengi senyum getir. Harusnya ia sadarkan diri, ketika Sohyun memilih berdamai, bukan berarti semua kejahatannya di masa lalu akan terlupakan, tak akan semudah itu dihapuskan. Maka dengan berat hati, terpancar dari geriknya yang lintuh, perlahan ia menjauh.


        Gegas Sohyun menutup lagi pintu kamarnya, memasuki ruang pribadi sekaligus saksi bisunya. Matanya jatuh pada bercak merah gelap di atas lantai, sekilas mirip tumpahan darah. Melangkahkan kakinya, sembari mengusapnya dengan sehelai kain. Menghapuskan sebersih mungkin, berharap tak seorang pun tahu bahwa semalam dan pagi ini, Sohyun memuntahkan banyak darah dari mulutnya.


🔔


       Keluarga.


       Satu kata yang tak mampu Sohyun definisikan secara utuh. Dalam hal sederhana, mungkin keluarga terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak di antara keduanya. Inti dari dasar. Namun baginya, Sohyun rasa tak harus mengikuti pengertian sebaku itu, kendatipun sekarang ini dirinya berada di posisi yang membuatnya dapat merasakan lagi perannya sebagai anak yang kadung dijalar malar rindu. Sejak pertemuannya pada jamuan makan malam keluarga Taehyung, pada malam itu juga dalam hati kecil nan polosnya, ingin merasakan keharmonisan yang hangat di tengah-tengah keluarga Kim.


       Sohyun tak berharap lebih, waktu yang ia lalui kemarin pun bersama Yoon eun dan Woojin sudah banyak membantunya mengorek kenangan masa lalunya. Untuk sejenak, otaknya berusaha keras melompati memori buruk yang ada di dalam benaknya. Digantikan segala momen baik yang dapat diingatnya.


       Woojin yang kali ini menggantikan tugas Jonghoon sebagai sopir sekaligus ayah untuk Sohyun, tampak senang melihat rona cerah yang terdapat di wajah Sohyun, pun Yoon eun yang duduk bersebelahan di sisi kanannya. Wanita itu bahagia melihat senyum khas putrinya muncul, senyum yang sudah lama sekali tak dilihatnya. Senyum yang seharusnya ia jaga agar terus mekar menghiasi wajah Sohyun yang berseri.


      Kendaraan tersebut sampai di halaman gedung utama, tempat di mana konser orkestra akan diselenggarakan. Sohyun turun, kerja kerasnya membuahkan hasil, kini kakinya sudah dapat berjalan normal meski tak seperti dahulu, hanya sebatas berjalan pelan. Yoon eun telah berdiri di sampingnya, mengeratkan genggam tangannya. Woojin menyusul tak kalah takjub melihat banyak pasang mata menujukan arah pandang pada mereka bertiga.


       "Mau sampai kapan kita berdiri di sini?" Woojin angkat suara. "Udaranya sangat dingin, lebih baik cepat kita masuk ke dalam gedung sebelum membeku di luar."


       Sohyun tersenyum, ditambah kekehan kecilnya, perempuan itu ikut menggenggam jemari tangan kiri Woojin. Sehingga posisinya kini diapit oleh dua orang yang sudah mengisi ruang sebagai orangtuanya. Seperti yang sudah-sudah, yang memang seharusnya, Sohyun tak perlu membuang tenaga memikirkan arti tatapan orang-orang yang mereka lewati.


        Semuanya bungkam. Tak percaya bahwa Sohyun bukanlah seperti apa yang selama ini dirumorkan. Waktu lalu, boleh jadi kehadiran Choi Jonghoon hanya sebuah kebetulan, namun melihat Yoon eun pada hari ini, sudah membuktikan bahwa Sohyun adalah putri keluarga Kim yang selama ini disembunyikan atau sengaja bersembunyi.


      "Kakak!"


       Seruan mengaung, suara familier dari seseorang yang tak lagi asing.


        "Eoh, Jang Soyoon!" Sohyun tersenyum lebar. Melangkah pelan menghampiri Soyoon yang berdiri ditemani dua orang tuanya.


        Seakan diam bukan hal wajar, Soyoon berlagak mencari tapak debak sepasang kaki yang ia yakini milik Sohyun. Sempat khawatir, para orang tua akhirnya bernapas lega, tatkala lengan panjang Sohyun berhasil merengkuh tubuh Soyoon yang kegirangan. Girang karena kembali bersua pada seseorang yang membuatnya berubah, bukan hanya untuk dia, pun ayah serta ibu Soyoon yang terlihat datang menemaninya sekarang.


        "Kau kenapa bisa kemari?"


        Gadis kecil itu terkikih padanya—kepada Sohyun yang terkejut; butuh jawaban dan ia ingin segera tahu akan pertanyaan yang baru ia lontar.


         "Kakak pasti kaget sekarang? Aku tahu dari perawat Hong, dia yang memberi tahuku, kalau Kakak akan mengisi orkestra tahun ini. Benar-benar jahat, kenapa tidak beritahu aku? Apa aku tidak penting?!" Soyoon menggerundel dibalas teguran dari Seri, sang ibu, "Soyoon jaga bicaramu!"


        Anak kecil itu bersungut-sungut, walau tahu ucapannya tidak sopan. Lalu menyembunyikan masam mukanya di ceruk Sohyun sambil membisik, "Terima kasih, karenamu, Ayah dan Ibu berubah."


        Sohyun menarik ujung bibirnya, "Itu juga karenamu yang berani jujur."


        "Aku jadi tidak sabar melihat-maksudku, aku tidak sabar lagi mendengarkan pertunjukan Kakak!" Soyoon melepas dekapannya, sekilas terlihat memandangi Sohyun yang larut memandang bola mata dengan tatapan kosong tersebut. Tidak ada warna, hanya abu-abu dengan garis putih.


       Tangan Soyoon terangkat, meraba permukaan kulit wajah Sohyun yang membisu.


       "Bagaimana kau bisa tahu?"


       "Aku kan hebat, meski mataku mengalami disfungsi sejak lahir, aku tetap bisa memanfaakan indra perabaku." Dengan bangganya, Soyoon angkat dua tangannya tinggi-tinggi.


        Bagi Sohyun, gadis kecil di depannya adalah salah satu semangatnya. Meski sedari awal, Sohyun mencoba bersikap biasa dan tak terlalu ingin menampakkan diri, Soyoon rupa-rupanya lebih memilih menggelendot saban kali mereka bertemu tanpa kesengajaan yang direncanakan. Lihatlah, betapa mudahnya seorang Park Soyoon mengembalikan tawa renyah Sohyun yang belakangan teredam. Suatu yang tak pernah diduga, bahwa pertemuan mereka membawa kesan mendalam.


       "Hari ini, mungkin aku tidak bisa menyaksikan dengan mataku, tapi lain kali, aku janji akan menjadi penonton setia Kakak yang akan duduk dibangku barisan depan setelah aku bisa melihat lagi nanti."


         Air matanya jatuh juga ketika celotehan Soyoon mengembalikan kesadaran Sohyun. Apakah mungkin dirinya mampu bertahan selama itu? Atau bisakah Soyoon melihatnya langsung di atas panggung suatu hari kelak? Semakin hari, pesimistis selalu ramai, berduyun-duyun mendatanginya. Sohyun tidak yakin. Dan keyakinannya tersaru pada lontaran kalimat yang lebih bersifat optimis untuk didengar gadis kecil senaif Soyoon.


       "Pasti. Percayalah, akan segera tiba hari itu, tidak akan lama. Aku yakin kau akan bisa melihat warna dunia sebentar lagi."


        Para orang tua mereka mengulas senyum menyaksikan keakraban dua anak manusia itu, lain hal dengan Yoon eun yang memperhatikannya luyu. "Mungkinkah?"


🔔


        "Sedang memikirkan apa?" tanya Yeri, gegas mendudukkan dirinya di sebelah kursi yang tempati Sohyun setibanya di ruang rias.


        "Menurutmu?" Sohyun menyahut, melempar tebakan untuk Yeri jawab.


       Dahinya berlipat, Yeri berpikir lumayan keras menanggapi satu kata tersebut. "Ada orang yang kau tunggu?"


        Tersenyum kecil, Sohyun mengangguk memperhatikan jam tangannya bari menilik sang waktu. "Aku berharap, sangat berharap dia akan datang."


         Melihat rona merah jambu di pipi perempuan itu, Yeri mereka, pastilah orang yang dinantikan Sohyun begitu berarti. Ini pertama kalinya, disaksikan oleh matanya, mendapati aura bahagia membubuh di wajah yang hari ini ceria. Sungguh bukanlah Kim So Hyun yang dikenalnya tiga tahun ini.


          Di tengah banyaknya orang yang melintas, Chanwoo datang mendekati dua anak gadis yang masih mengobrol. Kedua telapak tanganya sibuk memegangi dua gelas kopi instan yang baru di keluarkannya dari mesin minuman. Masih mengepulkan asap putih.


       "Ini untukmu, kau juga." Diserahkan pada Sohyun dan Yeri.


        Yeri yang sejak tadi kedinginan langsung menyesap minuman hangat itu. Disusul Sohyun ... yang kali pertama mencicipi rasa pekat menyentuhi indra perasanya. Tidaklah buruk untuk seorang pemula, Sohyun menelannya, ia ingin merasainya, setidaknya sekali seumur hidup.


        "Bukankah pertunjukan ini terlalu mudah buatmu?"


         Sohyun menoleh, suara Chanwoo mengalihkan atensinya pada gelas kopi yang mulai dingin tersapu angin.


         Lelaki itu menambahkan, "Kau menguasai banyak instrumen alat musik bahkan bisa menandingi kemampuan Mr. George."


         Sohyun anggap itu pujian yang tak perlu.


 


         "Lantas?" Sohyun menyahut, menyisakan kernyitan halus di dahi pemuda 24 tahun itu.


         "Aku melihatmu sangat serius. Aku bahkan sudah meyakini, jika suatu saat kau akan menjadi komposer sekaligus pemain musik terbaik."


         Yeri yang menjadi penonton manggut-manggut setuju.


         "Kalian berdua terlalu berlebihan." Sohyun kembali ke mode cueknya. Ia hargai pernyataan Chanwoo, namun sekali lagi, mungkinkah?


         "Semua kata-katamu tidak salah, kau benar jika pertunjukan ini kecil untukku, tapi di lain hal, ini adalah kesempatan besar dan satu-satunya buatku."


         "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Setidaknya aku sudah berlatih keras, aku tidak akan menyesal kalaupun ini akan jadi terakhir kalinya aku berdiri di atas panggung beriringan orkestra."


         Bagi Chanwoo yang baru pertama kali berbicara langsung di depan Sohyun, lelaki itu berdesus alangkah beruntungnya dia yang dapat mendengar kalimat sepanjang itu keluar dari bibir Sohyun. Dan untuk Yeri, gadis itu terhanyut melihat gelagat ganjil Sohyun. Teman perempuannya itu terlihat berbeda dan semua perkataan Sohyun membuatnya berprasangka.


🔔


         Kim Taehyung terus menginjak pedal gas. Semua fokusnya tercurah pada jalanan panjang. Jalanan lurus yang sebentar lagi akan mengantarkannya pada tujuan akhir. Beberapa jam yang lalu, Taehyung nekat pergi sendiri selepas acara yang dikunjunginya selama dua hari dinyatakan selesai. Meninggalkan rekan sejawatnya. Tak mau menunggu lama-lama, pria itu melaju dengan mobil Maserati kesayangannya. Entahlah, berapa kilometer yang sudah ia lalui, semua menjadi tidak penting ketika ia sadari, perempuan yang ia beri janji tengah menantikan kedatangannya.


        Beruntunglah Taehyung, hari ini jalanan tidaklah seramai seperti di akhir pekan, mobilnya dapat melaju pada kecepatan di atas batas normal. Kesungguhan Taehyung berbuah manis manakala pintu keluar tol semakin dekat, kian jelas di penglihatannya.


          Hanya sebentar, sebentar lagi aku akan sampai! Tunggulah aku, Sohyun-ah!


           Batin Taehyung tak sabar, ya, ia akan segera sampai jika saja ...


BRAK


🔔


          Sohyun berhenti melangkah. Dadanya tetiba sesak, berasa kesulitan untuk meraup udara, sejemang gadis itu geming. Tertunduk dengan wajah mendungnya.


         "Sohyun ..., ayo!" Dari depan Yeri menyeru, memintanya untuk segera memasuki panggung.


        Namun lagi-lagi, sesuatu kembali membuat Sohyun berat melangkahkan kakinya.


        "Yeri-ya!"


       Perempuan yang berdiri lima langkah di depannya menoleh. "Ya?"


       "Apa menurutmu dia akan datang?"


        Yeri terdiam memandangi wajah pucat penuh harap Sohyun, ia tahu, sangat tahu perempuan itu akan menunggu seseorang yang paling dinantikan hadirnya. Sehingga sisi bibirnya naik ke atas, Yeri tersenyum seraya mengangguk sebagai jawaban.


         Sohyun tak banyak bereaksi, kecuali air matanya yang mendadak bergulir hendak jatuh. Rasionya mengatakan dia akan datang, tapi firasat berkata sebaliknya. Tangannya kembali memegang dada yang menggemuruh—terasa sakit.


        "Ayolah, Kim So Hyun!" Suara Yeri makin menuntut.


        Gegas Sohyun berjalan pelan, dia menjadi yang terakhir memasuki panggung yang masih bercahayakan gelap.


         "Jika ini yang terakhir, izinkan aku melihatmu sebentar saja. Hanya sekejap."


         Sohyun mulai memainkan lagu pembuka. Lagu dari zaman klasik milik Franz Joseph Haydn, berjudul sonata in F Major Hob. XVI : 23


        Tiga perpindahan dalam satu lagu ia lakukan dengan baik tanpa cacat. Semua memgagumi ketepatan pun kelincahan jari-jarinya yang bergerak gemulai lampai. Tinggal delapan dari 13 lagu yang dibawakan hari ini, Sohyun akan bertahan sebelum menemukan Taehyung yang tak ada tanda memperlihatkan diri.