Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 3 : Yang Tersembunyi



    Matanya membulat sempurna, tatkala seonggok tubuh berlari kencang ke arahnya. Belum sempat dirinya menghindar, tabrakan itu pun terjadi. Ponsel yang sedang digenggam pun terlempar ke jalanan. Sambungan telepon terputus. Sohyun jatuh, tertindih badan kukuh yang baru pertama kali ia rasakan.


     Sang detik berkuasa, lama kedua pasang mata itu bersua pandang. Beradu saling menilai. Timbul gelenyar—muncul perasaan aneh yang menyeruak—bagi keduanya. Lebih-lebih pada Kim Sohyun yang tiba-tiba disesaki rindu menggelegak.


     Sohyun menatap nanar wajah pria di hadapannya. Bibirnya bergetar, terkatup tak lagi sanggup memelesatkan kata. Wajah yang selalu dilihatnya dalam selembar kertas kini terpapar di depannya. Bukan lagi sebuah skesta rekaan tak bernyawa, pria ini nyata ada di dekatnya. Mereka diam, sunyi seolah menemani pertemuan tak terduga hingga menyentuh puluhan detik kemudian.


     Taehyung yang tersadar lebih dulu, memutus jalinan kontak mata mereka. Pria itu berdiri, setelah menindas tubuh wanita yang tak ia ketahui namanya itu.


     "Maafkan aku, Nona. Aku sungguh tidak sengaja." Ia meminta maaf seraya mengulurkan tangan kanannya, berniat membantu Sohyun berdiri. Namun niat baik tak selalu mendapat respons balik, Sohyun tetap diam, membiarkan tangan kosong itu tetap melayang di udara. Gadis itu enggan meraihnya, seakan ia ingin lebih lama, meminta pada waktu agar tetap diam. Meski sekali lagi, itu percuma.


     Taehyung yang melihat kedua preman tadi semakin jauh, memilih berlari mengejar. Membiarkan Sohyun sendiri yang merekam peristiwa hari ini. Laki-laki itu didera khawatir,  bagaimana pun juga ia harus mendapatkan tasnya kembali. Ia tidak rela kehilangan benda berharga yang ia janjikan pada sahabatnya. Taehyung belum tahu, sahabat yang ia rindu menjelma dalam sosok perempuan yang kini menatap tanpa berpaling muka. Sohyun masih terdiam di tempatnya. Cukup lama mata sayunya memperhatikan tiap jengkal lebar kaki Taehyung. Sampai terdengar teriakan dari pemuda itu, yang berbalik melihatnya.


     "Aku minta maaf, Nonaaa!"


     Taehyung berteriak dari kejauhan, sebelum dirinya betul-betul lenyap dari perhatian Sohyun.


      Dia mengulas senyum tipis. Suara berat pria yang ia rindukan menyapa rungunya lagi. Terdengar dewasa, lebih berat. Hari ini, Kamis ke dua di bulan Oktober. Bisakah ia mendengarnya di hari-hari pun bulan-bulan berikutnya? Sohyun segera menggeleng, tak ingin terlalu berandai-andai. Satu hal yang ia yakini, ini bukanlah akhir pertemuan mereka.


     Jalanan lengang tanpa suara, hanya kesiur angin yang beberapa kali melanda, membuat daun-daun kering yang gugur dari ranting pohon terseka.


      Sohyun mengaduh kesakitan ketika bangkit, akan berdiri. Tatapannya ia alihkan pada biang nyeri, tertuju pada luka di lutut dan telapak tangannya yang memar kemerahan. Sebuah luka baru tercipta di sana.


     "Darah!" desisnya, tersenyum kecut.


     Mengembus napas panjang perlahan, netra bulatnya mencari-cari letak ponsel yang sempat terjatuh. Sohyun tahu pasti, ibunya tengah misuh-misuh karena sambungan telepon terputus begitu saja.


     Benda itu rupanya tergeletak di tengah jalan raya. Terlempar jauh dari posisinya saat ini. Mau tidak mau, Sohyun harus mengambilnya. Berusaha berdiri sendiri walau kesusahan kini menimpa. Rintihan kecil sesekali menguar dari bibir tipisnya. Luka yang tak seberapa ternyata bisa membuatnya tersiksa.


     Pelan dan penuh kehatian-hatian, kakinya menyeberangi jalanan. Tinggal beberapa jengkal lagi dirinya sanggup menggapai benda pipih itu. Nahas, lagi-lagi nasib baik tak berpihak padanya. Roda mobil truk bermuatan besi yang melaju kencang telanjur melindasnya,  menghancurkan nya menjadi tiga bagian.


     Sohyun mendengkus, menatap miris ponsel pemberian ibunya telah hancur. Kembali ia melangkah, memungut ponsel yang rusak tak berbentuk lagi sebelum pergi.


    🔔


     Taehyung masih berkutat mengejar dua preman yang tetap belum mau menyerah. Napasnya terpompa, tersengal-sengal. Dilihatnya preman yang dikejarnya menghilang seolah di telan bumi. Menilik tempatnya berada, mustahil mereka bisa kabur dari kejarannya. Taehyung sampai kelimpungan tak habis pikir, namun tak berselang, pandangan pria itu mengarah pada tumpukan drum. Jika menghitung tata letak serta koordinat titik bidang tanah, masih ada cukup ruang kosong, jaraknya kurang dari dua meter. Taehyung mendekat, sangat pelan penuh kewaspadaan.


     "Keluarlah! Aku tahu kalian ada di sana," ujarnya setelah menemukan sepasang kaki bersepatu, menyumbul di sisi drum paling ujung.


     "Lebih baik cepat kalian serahkan tasku. Jika kalian butuh uang, bukan dengan begini caranya." Taehyung mencoba membujuk agar kedua preman itu mau menyerahkan tasnya. Kalau situasi seperti ini, Taehyung merasa dirinyalah sang predator yang tengah memburu mangsanya.


     Drum-drum kosong berjatuhan, menciptakan bunyi berdebum dari dua orang yang memporakporandakan. Taehyung tersenyum miring, mengetahui mereka keluar dengan sendirinya tanpa repot-repot bermain petak umpet.


     Ia maju tiga langkah, berdiri dengan gaya khasnya. Semburat merah padam menyala di kedua wajah preman tersebut.


     "Lawan kita kalau berani!"


     Mereka tak jua menyerah begitu saja, justru menantang nyalang pada Taehyung.


     "Ah, kenapa harus begitu? Aku tidak ingin mencari masalah dengan kalian. Serahkan tasku sekarang dan aku berjanji tidak akan melaporkan kalian berdua ke polisi."


     Meski Taehyung meminta secara baik-baik, tetap saja preman tersebut enggan memenuhi permintaannya. Tampak keduanya telah menyiapkan ancang-ancang. Dengan sangat terpaksa, jika masalah tidak kunjung selesai, ada cara lain; melawan balik.


     Baku hantam tak terhindarkan, kedua belah pihak sama sekali tidak ada yang mau mengalah.


Mereka yang awalnya meremehkan Taehyung, akhirnya menyerah, bertekuk lutut tanda kalah. Kemampuan bela diri yang dimiliki Taehyung jauh lebih hebat. Cukup dengan lima kali pukulan yang dipelesatkan Taehyung, mampu melumpuhkan preman jalanan itu.


     Luka lebam baru tercetak manis di wajah mereka. Taehyung yang melihatnya sampai meringis ngilu melihat hasil ulah dua belah tangan serta kakinya.


"Sudah kubilang, kan? Cepat kembalikan tasnya! Aku juga minta maaf telah memukul kalian, dan terima kasih banyak untuk ini..." Taehyung  memperlihatkan luka beret di siku kirinya. Luka yang sebenarnya ia dapat saat jatuh menabrak Sohyun.


     Dengan defensif, orang yang memegang tas maju seraya melempar tas yang langsung jatuh ke pelukan Taehyung. Setelah itu lari tunggang langgang meninggalkannya sendirian di tempat sepi yang Taehyung sendiri tidak tahu namanya. Seperti bekas penyimpanan minyak yang telah lama mangkrak serta beralih fungsi sebagai pembuangan barang bekas.


      Bergegas Taehyung pergi setelah mendapatkan barangnya. Selama di perjalanan, ia terbayang wajah perempuan yang sempat celaka karenanya. Taehyung kembali memacu gerakan kakinya, berlari ke tempat di mana ia menabrak wanita tadi. Namun terlambat. Saat ia tiba, wanita yang dicari sudah menghilang tanpa jejak. Yang ada, hanyalah sehelai kain merah yang tergeletak tanpa tahu siapa pemiliknya. Sebuah syal rajut berwarna merah.


     "Harusnya tadi aku menolongnya, bukan malah meninggalkan dia di sini!" sesal Taehyung, hatinya mulai diselimuti rasa bersalah. Dia bertekad untuk bisa menemukan wanita itu. Bagaimana pun caranya.


     Pemuda itu melanjutkan lagi jalannya yang sempat tersendat. Sembari membawa syal tersebut, yang Taehyung yakini, milik perempuan itu.


🔔


     Sohyun akhirnya tiba di kediamannya, setelah bersusah payah berjalan dengan kaki pincang. Entah sudah kali keberapa, gadis itu menghela napas, lelah benar-benar telah menjalari tubuhnya yang bermandikan peluh.


     "Nona ..." Jonghoon yang tanpa sengaja baru kembali, menghampiri Sohyun yang masih berdiri dekat gerbang masuk.


     "Anda dari mana saja? Nyonya mencemaskan keadaan Nona," tanyanya panik.


     "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja." Sohyun lekas berlalu, menormalkan langkah kakinya seolah tak terjadi apa-apa. Gadis itu rela menahan sakit agar Jonghoon tidak mengetahuinya, lebih-lebih mengadu pada sang ibu.


     Jonghoon tentu saja tidak akan begitu mudahnya percaya. Apa lagi setelah melihat luka memar di beberapa bagian tubuh Sohyun. Ia mencoba mendekat, memperhatikan sekali lagi lecet yang menimpa kulit Nona mudanya.


     "Apa terjadi sesuatu di jalan?"


     Langkah Sohyun terhenti.


     "Nona terluka?"


     Sohyun tak menoleh ataupun sekadar menjawab dua pertanyaan dari Jonghoon. Ia memilih berjalan lagi seperti biasa, namun sepertinya yang dilakukan Sohyun sia-sia. Gadis itu mengeram memegangi kaki kirinya yang mendadak dihinggapi nyeri.


     "Sohyun ..."


     Tangannya terkepal, kemudian berbalik menatap Jonghoon yang berdiri sejajar di belakangnya. Panggilan yang sudah lama tidak ia dengar dari mulut lelaki baya itu. Ekor matanya melirik tangan Jonghoon yang telah memegang ponsel yang menyala.


     "Ini hanya luka kecil. Aku harap kau tutup mulut. Apa pun yang kau ketahui tentangku ... jangan ceritakan pada Ibu! Berhentilah mengadu padanya."


     Kali ini Sohyun membungkam Jonghoon. Tampak pria itu terdiam sepeninggal Sohyun yang telah memasuki rumah. Telapak tangannya mengepal telepon genggamnya kuat-kuat, membatalkan niatnya yang akan menghubungi Yoon eun.


🔔


    Sesekali rintihan pelan lepas dari bibirnya, manakala kapas berlumur cairan antiseptik itu menyentuh permukaan kulitnya yang terkelupas. Beruntung, darah sudah berhenti mengalir setelah Sohyun menambal dengan perban.


     Dia masih bermenung di atas kasur, setelah memberesi kotak obatnya. Sekarang netranya tengah berorientasi pada buku sketsanya, menampilkan wajah maskulin yang telah selesai ia gambar siang tadi.


    


     "Kim Tae Hyung ... benarkah itu kau?" gumamnya memperhatikan lambat-lambat.


     Lalu tatapannya beralih pada kaki kirinya. Sekilas tidak ada yang berbeda. Kecuali satu hal yang tersembunyi dari balik tempurung lututnya.


     Tangannya menggapai gagang wired intercom kamarnya, yang langsung terhubung pada para pelayan yang kembali bertugas seperti biasa.


     "Eunjung, bisakah kau kemari?" katanya dalam telepon. "Aku butuh bantuanmu."


      Sohyun langsung mengakhiri, meletakkan kembali gagang tersebut ke tempat semula. Tak lama, seseorang yang ia panggil datang. Seorang wanita berpakaian rapi, yang membungkuk sopan di hadapan. Wanita itu masih tertunduk, tak berani menatap balik sang majikan.


   


     Eunjung yang sebenarnya masih ragu, dengan takut-takut memandang wajah Sohyun. Yang tampak teduh disertai senyum tipisnya. Pelan-pelan ia mendekat, pupil matanya melebar tatkala melihat sendiri luka yang terdapat di tubuh Sohyun. Tidak jauh berbeda dari reaksi Jonghoon.


     "Berikan ponselmu!" Sohyun meminta, sedikit menuntut pada Eunjung.


     Wanita itu segera menyerahkan ponselnya dari saku, memberikannya pada Sohyun yang menengadahkan tangan. Eunjung hanya memperhatikan, ketika Sohyun mengetik sesuatu dan tampak menghubungi seseorang.


     "Datanglah ke rumah. Ada sesuatu yang ingin aku pastikan."


     Seperti biasa, Nona Mudanya hanya akan berkacap-cakap dengan singkat. Entah siapa yang ia hubungi sampai harus menggunakan ponsel milik Eunjung. Wanita itu segera menerima kembali ponselnya setelah Sohyun selelai bicara. Ia membungkuk hormat sekali lagi, merasa urusannya selesai. Eunjung pun menarik diri keluar dari kamar yang sudah empat tahun tidak dijejakinya. Ia berbalik akan keluar.


    "Terima kasih, Eunjung."


     Suara pelan Sohyun menggema, menggembok laju kaki Eunjung yang sudah memegang engsel pintu. "Itu sudah jadi tugasku, Nona," Eunjung menyahut. Perasaan senang membuncah memenuhi rongga-rongga hatinya. Ucapan sederhana dari Sohyun yang meluncur tanpa pernah ia sangka sebelumnya.


    Sohyun menarik sudut bibirnya, lagi-lagi ia tersenyum memandangi pintu yang perlahan tertutup rapat.


🔔


     Pandangan Taehyung berbinar, melihat betapa banyaknya makanan yang terhidang di atas meja makan. Hampir semua masakan yang tersedia adalah makanan favoritnya. Meski setibanya di rumah ia disambut dengan berbagai cubitan dahsyat, merelakan sebagian tubuhnya menjadi korban keganasan ibundanya.


     "Ibu memang yang terbaik," Taehyung memberikan dua jempolnya, mengarah pada Ibunya, Nyonya Kim Sewon


     "Ibu tahu kau sangat lapar. Makanlah yang banyak, setelah itu ceritakan apa saja yang terjadi sampai kau terlambat, hingga baru tiba jam segini." Sambil melirik arlojinya.


     Taehyung mengangguk patuh, suap demi suapan memasuki lubang besar kerongkongannya. Berakhir dengan serdawa panjang, tanda pria itu dalam keadaan sangat kekenyangan. Perutnya penuh.


     "Kau terlihat seperti gelandangan yang tidak diberi makan selama berbulan-bulan." Haeyoung yang baru bergabung mengkritik cara makan sang putra bungsu.


     "Ayah tidak tahu saja, tenagaku terkuras karena lari cepat di jalanan. Untung saja aku tidak pingsan dan cepat sampai ke rumah."


    "Maksudnya?"


    "Di perjalanan ada preman gila yang merampok tasku, untunglah aku bisa mendapatkan benda itu lagi."


    Mereka berdua mendengar segala penjelasan Taehyung dengan takzim. Termasuk insiden Taehyung yang menubruk seorang gadis dalam masa pengejaran. Haeyoung dan Sewon kompak menyeru, agar Taehyung bertanggung jawab pada sosok perempuan yang diceritakan, yang langsung mendapat anggukan dari Taehyung.


     "Oh ya! Ayah, Ibu, ke mana Kakak? Dari tadi aku tidak melihatnya, padahal aku sudah memberi tahu padanya, akan pulang hari ini."


     Sewon menghela napas, memandang Taehyung yang dikemeluti rasa penasaran. "kakakmu pergi."


     "Apa? Bagaimana dia bisa pergi, padahal aku sudah memberi tahunya aku akan pulang hari ini." Taehyung yang kecewa, mengeluhkan sikap kakaknya. Seminggu sebelumnya sengaja ia memberi tahu rencana kepulangannya, dan dijanjikan sambutan meriah.


     "Sebenarnya sore tadi Jaehyun masih ada di rumah. Tapi setelah mendapat telepon dari seseorang, dia langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa."


     "Pasti mengurusi pasiennya lagi," dengus Taehyung, memanyunkan bibir. Mengundang gelak tawa kedua orangtuanya.


     🔔


     Seorang lelaki berkemeja biru bergegas keluar dari mobil yang baru dikendarainya. Berjalan cepat menuju salah satu bangunan, sebuah rumah berlantai dua dengan corak klasik kontenporer. Demi memenuhi panggilan seseorang, dirinya bersedia menembus cuaca dingin malam hari. Perasaannya tidak tenang sekarang.


     Sampailah pria itu di depan pintu masuk. Mendekat pada interkom yang terletak di dinding. Ia kemudian berkata, "ini aku, Dokter Kim ..."


     Pintu terbuka, Eunjung yang membukanya. Wanita itu tampak terkejut sekali dengan kehadiran pria yang menyebut dirinya Dokter Kim. Ia segera mengangguk, mempersilakan untuk masuk ke dalam.


     "Di mana anak itu?" Jaehyun bertanya, berkitar melihat sekeliling rumah yang selalu sepi tiap kali dirinya bertandang.


     "Di kamarnya."


     Jaehyun segera menuju kamar yang dimaksud. Namun Eunjung cepat-cepat menahan langkah Jaehyun. "Anda tidak boleh sembarangan masuk ke dalam kamar Nona. Dia akan marah ..."


     "Benarkah dia akan marah?"


     Eunjung mengangguk ragu.


     "Kalaupun dia marah, aku pastikan dia akan menyesal melakukannya padaku."


     Eunjung tidak mampu berkutik mendengar ultimatum Jaehyun. Dengan berat hati, wanita tiga puluh tahunan itu menggiring Jaehyun sebagai rasa sopannya terhadap tamu.


     "Sejak sore tadi, Nona belum keluar dari kamar. Apa terjadi sesuatu padanya, sampai Nona menghubungi Anda—meminta datang malam-malam begini?" Eunjung mulai ingin tahu.


     "Kau sungguh ingin tahu, Hong Eun Jung?"


     Dia kembali mengangguk.


     Jaehyun menggeleng. "Sebaiknya kau kembali pada tugasmu."


     Eunjung yang sudah sangat serius menelinga baik-baik, merengut sebal ke arah Jaehyun yang tidak lain adalah seniornya semasa sekolah atas dulu. Baginya lelaki itu tidak berubah, masih sama menyebalkannya.


     "Baiklah, Pelayan Hong ... aku masuk dahulu, kau kembalilah bekerja, temani Bibi Jo."


     Ia segera masuk ke dalam kamar Sohyun yang tak terkunci. Eunjung mendengkus, sejurus ia akhirnya pergi dari sana. Meski takut, jika dokter muda itu melakukan apa yang ia ancamkan barusan.


🔔


     Sohyun pelan-pelan membuka kelopak matanya yang terpejam, sesaat setelah ditutupnya pintu kamar. Dilihatnya sosok lelaki  jangkung berpakaian formal itu datang, menghampiri dirinya yang tengah bersender pada kepala ranjang.


     "Anda datang lebih cepat dari perkiraanku," katanya tanpa banyak basa-basi.


     "Bukankah seharusnya kau senang? Bukankah kau sendiri yang mengemis memintaku menjadi dokter pribadimu, Nona Muda Kim?"


     Sohyun tersenyum miring. Lantas mengisyaratkan Jaehyun untuk duduk di kursi yang tersedia di dekat tempat tidurnya.


     "Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanyanya tiba-tiba, pasalnya tidak biasanya perempuan 'aneh' itu meneleponnya, apa lagi sampai menggunakan nomor ponsel orang lain.


     Sohyun kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Memperlihatkan kakinya yang hanya dibalut celana pendek.


     "Di sini," ucapnya menunjuk lututnya yang terluka.


     "Seseorang membuatku terjatuh, dia tidak bertanggung jawab dan pergi seenaknya." Sohyun terkekeh membayangkannya, walau sekarang air matanya meluncur deras. "Ini sakit, aku tidak bisa menggerakkannya."


     Jaehyun membolakkan mata, buru-buru memeriksa kaki Sohyun. "Sebenarnya apa yang terjadi, sudah kubilang, kakimu tidak boleh sampai mengalami cedera lagi."


     Pria itu memekik di hadapan Sohyun yang justru tertawa. "Kalau tidak begini, aku tidak akan bertemu dengannya, Dokter Kim ... dia kembali."


     Dahi Jaehyun berlipat, tidak ada waktu memusingkan perkataan membingungkan dari Sohyun. Dengan gerakan kilat, ia membobong tubuh Sohyun keluar.


     "Kita harus melakukan pemeriksaan. Jangan menolak atau aku akan mengatakan yang sebenarnya pada ibumu!" 


     Sohyun diam dalam gendongan Kim Jaehyun. Pasrah dirinya diangkut menuju nerakanya—rumah sakit.