
Pernahkah Kau Berpikir Tentang 'Jika'?
Pertanyaannya, sejak kapan kau memulai untuk memikirkannya? Hari ini ataukah nanti? Mungkin dahulu hingga berlanjut sekarang ini. Apakah cukup sekadar satu jawaban? Atau akan ada tanya-jawab tanpa menunjukkan tanda akan usai? Terlalu banyak tanda tanya (?) Kini kutanya lagi ..., pernahkah kau berpikir tentang 'jika'?
Jika untuk beberapa hal.
'Jika' waktu dapat diulang, jika tidak ada yang namanya pertemuan, jika itu tak pernah terjadi, mencoba memperbaiki susunan yang tak seharusnya menjadi begini di masa mendatang. Tidak untuk mengubah segalanya, hanya ... mengandaikan sesuatu agar tak selamanya kenangan itu berakhir buruk. Walau pada akhirnya, semua tetap sama. Tak akan ada yang berubah dan diubah.
Untuk sebuah kepingan kisah yang pada mulanya terberai. Jika kau atau pun kita mampu sedikit mengubahnya di hari kelabu kala itu. Maukah kau mengulanginya?
Ingatkah kalian pada sosok gadis kecil yang tengah menunggu?
*Dia bosan. Sudah pasti merasakan jengah ketika seseorang yang dinanti tak kunjung datang memperlihatkan daksa. Terkantuk seorang diri di atas bangku kayu seraya mengintip refleksi sekumpulan awan yang kebetulan sedang berberaian. Berjalan terdorong ke mana-mana, sebab belaian sang angin tak beraturan. Musim panas yang cerah. Cocok sekali untuk bermain gelembung busa. Senyum mungilnya seketika timbul bersama ingatan yang baru muncul, membayangkan asyiknya permainan gelembung busa yang dimainkan bersama di tengah musim panas.
"Taehyung pasti datang, aku harus tetap di sini. Dia tidak mungkin mengingkari janjinya." Sohyun masih percaya pada Taehyung yang akan datang menemuinya.
Tidak masalah kalau harus menunggu lama, meski kali ini terasa aneh, tidak biasanya, sahabat laki-lakinya terlambat datang dua jam lamanya. Yang jelas, Sohyun kecil masih berharap dapat melihat barang yang dijanjikan Taehyung, sang sahabat—hadiah di hari istimewa ulang tahunnya—yang pernah dilihatnya di toko pinggiran jalan.
"Sohyun!"
Satu seruan lagi cempreng mengejutkan perempuan yang pada mulanya tertunduk lesu. Gadis kecil itu mengangkat wajah, mengulur senyum lebar, mendapati bocah sepuluh tahun yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakkan batang hidung.
"Tae!" pekiknya riang. Berlari kecil menghampiri Tae-nya.
"Kau lama sekali. Hampir saja aku ingin pulang! Kau beruntung memiliki sahabat penyabar sepertiku," cerocos Sohyun memanyunkan bibir. Sebuah kebiasaan dikala anak gadis sedang dirundung sebal.
Taehyung berdesus, lalu cengengesan. "Maaf... maaf, aku kan perlu izin dulu." Senyum kotak ditambah gigi depan yang baru tumbuh setelah tanggal menghias wajah polosnya.
Sohyun menggeleng tak peduli. "Sejak kapan kau meminta izin?"
Tentulah Sohyun tak akan begitu mudahnya percaya. Taehyung bahkan yang mengajarinya untuk keluar rumah, tak jarang mengajaknya kabur dari pengawasan orangtuanya, sekadar menghabiskan waktu bermain di taman bukit pada sore sepulang sekolah Taehyung.
"Lalu, mana loncengnya? Kau bilang ingin memberikannya padaku?" Sohyun menagih, tangan kanannya menganjur, sudah siap menerima barang yang diinginkannya sejak kemarin.
Yang ditanya justru celingukan seperti maling takut tertangkap basah. Kepalanya meneleng ke samping, mengarahkan atensi pada anak tangga bukit. Jalur utama; satu-satunya cara untuk bisa sampai ke atas bukit.
"Tunggu sebentar," Taehyung berucap seraya menatap pendar bingung pada manik mungil kepunyaan Sohyun.
Tak lama, kilauan asing terperangkap di indra penglihat Sohyun. Pemilik tubuh jangkung yang ditimpa sinar matahari itu datang mendekat. Menatap lurus pada Sohyun. Anak perempuan itu bengong antara bingung sekaligus heran melihat orang asing—yang baru pertama dilihatnya. Yang paling mencolok adalah, wajah anak lelaki yang lebih dewasa itu sekilas mirip Taehyung. Sohyun berasumsi, bahwa sosok tersebut memiliki ikatan darah dengan sahabatnya, Tae.
Taehyung lekas menghampiri sosok laki-laki tersebut. Menggandeng tangan yang lebih besar ukurannya daripadanya, bergerak menuju Sohyun yang tersadar dari pemikiran antah-berantah.
"Kenalkan ... Kakakku, Kim Jaehyun," ucap Taehyung.
Sejemang Sohyun terpaku sebelum berdecak penuh kekaguman menatap perangai lelaki remaja di hadapannya. Benar dugaannya barusan.
"Woah, dia tampan sekali!" Binar senang tatkala penampilan Hyung dari Taehyung menarik perhatiannya.
"Kau berani memujinya di depanku?"
"Memangnya tidak boleh?"
"Tidak boleh!"
"Ingat ya, aku ini calon suamimu. Di masa depan kau akan jadi istriku."
"Aku tidak mau. Suamiku haruslah seorang pria tinggi dan tidak manja."
"Tunggu beberapa tahun lagi, nanti tinggi badanku akan bertambah."
Remaja lima belas tahunan itu menggelengkan kepala. Memdengkus keherahan menyaksikan tingkah sang adik bersama sahabatnya. Jaehyun angkat suara, memperlihatkan mimik muka gemas. "Laki-laki macam apa yang tidak mau mengalah pada perempuan? Hei, Taehyung, kalau kau ingin menikahinya ...," memandang Sohyun, "jangan pernah memaksa!"
Taehyung memelotot tajam, sementara Sohyun terkikik penuh kemenangan, sebab ucapan Jaehyun. Sesal bagi Taehyung, mengajak kakak laki-lakinya ke taman bukit.
Mengerti arti tatap mata tak mengenakkan dari Taehyung, Jaehyun menyahut memperingatkan, "Ingat, kalau bukan karena aku ... hari ini kau sudah dikirim ke Amsterdam. Jadi jagalah sikapmu dan jangan macam-macam. Masukkan matamu, pelototanmu akan membuat bola matamu keluar."
Maka makin jelas raut sebal menjengkelkan milik Taehyung. Bocah itu hanya sanggup mengepal tangan kesal. Sebuah kepalan keras yang tersembunyi di sebelah pahanya.
"Oh, ya ... kau Kim So Hyun, bukan? Kita belum berkenalan, aku Kim Jaehyun."
Sohyun menyambut uluran tangan Jaehyun riang. "Senang bertemu denganmu, Oppa!"
👣
Decing lonceng menggemai ....
Jaehyun remaja tersenyum senang melihat kerutan bahagia di wajah adik-adiknya. Bukan cuma bibir yang meninggi, dua bocah itu tertawa lepas hanya karena suara lonceng yang berkali-kali ia bunyikan melalui tali panjang yang dikaitkan. Sempat dirinya mendebat dengan sang adik, lantaran posisinya yang jauh dari jangkauan tangan Sohyun dan Taehyung. Alhasil, sesuai saran Sohyun, diberikannya temali panjang bekas ikat bundelan buku dongengnya yang memenuhi pojok ruangan rumah pohon.
Tiga jam berjalan tanpa ternyana. Bagi mereka yang belum mengenal seluk-beluk dunia, bukankah bermain adalah hal paling menyenangkan? Terkecuali untuk Jaehyun yang tengah melangkahi tingkatan remaja menuju dewasa.
Raut lelah terpancar dari muka malas mereka bertiga. Membujur dalam keadaan berbaring. Tercenung dalam pemikiran satu sama lain. Mengingat-ingat apa saja yang mereka lalui. Berkejaran disambung serangkaian permainan tradisional melengkapi kisah mereka pada hari itu.
Waktu yang paling berkesan, bisakah diulang di kemudian nanti?
"Aku ucapkan terima kasih banyak pada kalian." Sohyun menarik dua buah tangan yang sengaja ia kaitkan. Menyatu di atas perutnya.
"Besok apakah kita bisa bersama seperti sekarang ini? Sampai kita dewasa kelak," lanjut Taehyung.
"Tentu bisa. Bukankah mulai hari ini kita adalah sahabat? Besok dan seterusnya ... selamanya kita akan bersama!" Jaehyun menyahut semangat.
Taehyung sampai mengerut dahi, melihat antusias spontan Jaehyun. Kakaknya yang terkenal kalem berteriak umpama anak kecil yang baru diberi hadiah. Benar-benar tidak masuk akal. Namun bibirnya terangkat lebar, tidak sia-sia pertemuannya dengan Sohyun membawa sisi positif untuk lelaki macam Jaehyun.
"Kenapa dengan ekspresi wajahmu, Tae?"
Taehyung melengos ke sembarang arah, guna menghindari tatapan curiga Sohyun. "Tidak ada. Hanya ... tiba-tiba perutku terasa lapar," aku Taehyung yang tak sepenuhnya salah. Bocah itu melewatkan sarapan serta makan siangnya hanya demi bisa menemui sahabatnya di taman bukit. Meraung bersama ledakan tangis tak keruan berisiknya, asal dapat menggagalkan rencana orangtuanya yang berencana pindah ke luar negeri.
Beruntung ada Jaehyun yang Ikut-ikutan menangis, mereka kompak serupa pasangan yang tak mau dipisahkan. Saling memeluk hingga rencana keberangkatan ke bandara dibatalkan.
"Ayo berjanji, besok kita akan bertemu di sini lagi!" Sohyun memberi usul. Tanpa aba, menggapai dua jari kelingking besar melingkar di jari mungilnya.
"Curang!"
"Apa kau bilang? Aku curang?!" Sohyun mendelik tak terima, Jaehyun mengatainya curang.
"Besok aku harus masuk sekolah. Cepatlah besar agar kau tahu rasanya jadi pelajar yang harus pulang malam dengan banyak PR setiap harinya." Jaehyun menarik kelingking kanannya, menyisakan jari kecil itu hanya mengapit jeriji Taehyung yang meledeknya diam-diam.
"Oppa, apa sekolah seburuk itu? Kalau iya, lebih baik aku bersekolah di rumah saja," kata Sohyun memaparkan raut menimbangnya.
"Tidak boleh!" larang Taehyung, membikin dua orang di sebelah kirinya menoleh kaget. "Ingat janjimu yang akan satu sekolah denganku. Awas kalau berani melanggarnya!"
Pernyataan Taehyung mendapat desusan Sohyun yang tak suka diancam.
"Jangan dengarkan Taehyung. Dia hanya menggertak saja, dan yang harus kau tahu Sohyun, sekolah tak seburuk yang kau pikir. Semua disesuaikan tingkatan umurnya, lagipula ... Oppa yakin, kau anak yang pintar."
Sohyun tersenyum bangga. Gadis itu senang dan dibuat kagum mendengar ucapan Jaehyun.
"Aku jadi iri pada Taehyung. Kenapa bukan Oppa saja yang jadi kakakku?" rengek Sohyun, menegakkan badan menjadi setengah duduk disambut tatapan mendelik Taehyung.
"Tidak semudah itu."
Jaehyun memijit pelipis, sepertinya ia harus ekstra bersabar jika kedua adiknya berselisih seperti sekarang. Tidak akan ada habisnya apabila tak segera dilerai. Bisa-bisa ia akan menyaksikan pertarungan ganas setelahnya.
"Waktunya pulang, Anak-anak!" Remaja itu berseru, memotong aksi debat mereka sebagai alibi. Jaehyun gegas berdiri menatap pendar mata polos Taehyung, lebih-lebih pada Sohyun, perempuan satu-satunya yang tampak imut dan lucu di usia ke enamnya. Harusnya ia membawa kado sebagai hadiah, bila ia tahu hari ini adalah ulang tahun anak kecil itu. Mungkin lain kali, tidak hari ini, karena remaja itu yakin dengan hari esok. Pada pertemuan yang akan terulang di masa berikutnya.
👣
Sohyun telah duduk manis di dalam jok mobil. Di depan kemudi, Jonghoon terus menyempurnakan senyumnya tatkala mendengar obrolan sang majikan bersama temannya. Sungguh hari yang menyenangkan untuk diingat. Tidak percuma, kegigihan serta semangat mendatangi bukit digantikan tawa riang yang sulit padam.
"Cepatlah pulang, makan yang banyak agar kau bisa tumbuh besar seperti Oppa Jaehyun."
Taehyung mengangguk malas, itu adalah pesan teraneh yang baru didengarnya. Salah besar ia mengenalkan sang kakak pada sahabatnya Sohyun kalau akan begini akhirnya. Telinganya sampai memerah, tak kuasa mendengar segala pujian manis untuk Jaehyun sejak di rumah pohon.
"Aku pulang dulu. Kalian hati-hati di jalan. Dan... sampai jumpa," pamit Sohyun sebelum mobil berjalan menjauh.
Kakak beradik itu terdiam memandangi kepulan asap knalpot yang memudar perlahan. Semakin tak terendus menyadarkan keduanya untuk lekas pulang ke rumah sebelum langit menggelap gulita.
"Terima kasih."
Jaehyun menoleh, memandang penasaran arti kata adiknya.
Taehyung membuang napas lega. "Seandainya kakak tak menolongku, mungkin Sohyun akan membenciku yang tidak akan datang menemuinya."
Bibirnya melengkung, menciptakan senyum lepas. Jaehyun menepuk punggung adiknya dan berucap, "Itulah gunanya saudara, saling melengkapi dan ada ketika dibutuhkan."
Taehyung manggut-manggut mengiyakan. "Oh, aku jadi terharu."
Tercetak sedu di wajahnya. Dan tak perlu waktu lama, Taehyung menyeru, "Ayo kita pulang!" Berubah cerah dalam bilangan detik. Meraih sepeda miliknya sebelum melaju meninggalkan Jaehyun.
"Hei, tunggu!"
Taehyung tak memedulikan teriakan Jaehyun, tubuhnya yang ramping, mengayuh gesit menuruni jalanan bukit. Mengabaikan Jaehyun yang kerepotan dengan sepedanya. Ban yang kempes adalah alasan mengapa remaja itu datang terlambat dan sekarang kejadian serupa harus terulang, di mana kakinya kewalahan mengimbangi laju roda sepeda Taehyung.
Perlukah ia menarik kata-katanya barusan?
Sementara di depan, Taehyung tak hentinya tertawa melihat sang kakak. Untuk kali ini, izinkan Taehyung menjadi adik durhaka, biarkan dirinya bebas balas dendam karena kehadiran Jaehyun membuat perhatian Sohyun terbagi dua.
"Ah, lelahnya ...," keluh Jaehyun menyapu keringat sesampainya di pekarangan. Mengempaskan tubuhnya di atas lantai muka rumah disertai deruan napas kembang kempis. Membayangkan jalanan bukit yang panjang saja sudah menyita pikirannya, dan karena ulah Taehyung, ia harus mengayuh sepeda berkilo-kilo meter. Dua kali lipat lebih berat.
"Ini, ambil!"
Bola matanya melirik Taehyung. Memandang tanpa berniat menerima barang yang terulur di depannya. Tumbler berisi air minum, tepatnya.
"Kau tidak mau, yasudah... biar aku saja yang meminumnya."
"Eh, sebenarnya kau niat tidak memberiku minum?" Jaehyun merebut botol yang hampir tertuang. Dengan cepat, minuman tersebut habis membasahi kerongkongannya yang kering gersang.
"Uh, leganya."
"Dengan meninggalkan aku sendirian dulu. Begitu maksudmu?"
Dan dengan mudahnya, Taehyung membenarkan ucapan Jaehyun. Sontak Jaehyun kembali membuang napas kasar, takut habis sabar menghadapi tingkah adik lelakinya.
👣
Mobil sedan itu berhenti melesing setibanya di depan halaman rumah. Jonghoon terpaku lama memandangi wajah ceria Sohyun, sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti. Gerakan bibirnya tanpa sadar mengikuti lebar senyum yang terpatri.
"Nona bahagia?" tanyanya tersenyum simpul tak berpaling memandangi ekspresi gadis kecil di belakangnya.
"Itu sudah pasti, Paman!"
Pria itu terkekeh, mengangguk paham. "Sering-seringlah," ujarnya sebelum turun dari mobil, membuka pintu untuk Sohyun yang masih tak kuat membuka pintu sendiri. Sohyun memeluk kaki panjang Jonghoon, mendongak setinggi-tingginya untuk melihat raut senang pegawai setia keluarganya itu.
"Sohyun sayang, Paman Choi!"
👣
Ceroboh boleh jadi nama tengah yang paling cocok untuk anak tunggal keluarga Kim itu. Baru saja menginjak lantai ruang tamu, Sohyun sudah tertimpa kemalangan akibat tak hati-hati. Berlari tanpa melihat sekitarnya yang baru saja dikesat. Sohyun tergugu, terduduk diam sembari menyembunyikan memar di lututnya. Ia ingin menangis, namun apa yang akan dikatakan sang ibu nanti. Sohyun sudah besar, tidak boleh menangis. Begitu katanya, guna menguatkan mental anak-anaknya.
"Kau sudah pulang?"
Suara lembut merasuki rungunya. Sohyun menoleh senang, berniat memyambangi pemilik sumber suara tersebut. Namun harus terhenti kala ringis kesakitan mengudara dari mulutnya.
"Ada apa?" Sosok itu berlari tergesa, mendekati Sohyun.
"Kau terluka?"
Sohyun diam.
"Ada yang menyakitimu?"
Sohyun tetap bungkam.
"Tidak salah lagi."
Sohyun merunduk lebih dalam. Malu mengangkat wajah menghadapi wanita di depannya.
"Maafkan aku, Bu."
Mengeret napas, wanita yang dipanggil Sohyun Ibu itu berjongkok, menyejajarkan posisi sama tinggi di depan sang anak. Atensinya tertuju pada luka baru yang entah kali berapa menyambangi tubuh putrinya. Membalik badan, Soran menepuk punggungnya. "Mari kita obati lukamu!" ajaknya agar Sohyun gegas menerima gendongannya.
Sohyun meringis girang, mengalunkan lengan di leher Soran.
Gadis itu diam selama menerima pengobatan. Tak ada teriakan, mungkin saking terbiasa mendapat luka serupa. Hanya tatap kagum sekaligus penasaran yang menggayut di benaknya.
"Kenapa menatap Ibu seperti itu? Ada yang aneh di wajah Ibu?" tanya Soran, selepas mengobati memar Sohyun. Putrinya menggeleng, kini tangan mungil itu menangkup mukanya, sorot mata anak perempuannya membuat wanita itu tertegun.
"Aku sangat menyayangi Ibu dan Ayah. Jangan pergi. Kumohon jangan pernah tinggalkan Sohyun."
Soran makin tercenung. Tetiba air mata Sohyun bergulir, sontak dirinya panik. "Kenapa menangis, apa lukanya bertambah sakit?"
Sohyun kembali menggeleng. Mendekap tubuh Soran dan tersedu sedan di bahu ibunya. Tak ada yang tahu apa yang tengah berkecamuk dalam buah pikir Sohyun kecil. Dia takut, untuk perihal yang tak ia ketahui penyebabnya.
Dari sisi lain, Janghyuk yang baru pulang tersenyum tipis, haru berguguran mengenai lubuk hatinya dalam. Kebahagiaan yang sampai kapanpun tak dapat digantikan oleh apa pun. Keluarga.
👣
Keluarga.
Bagaimana mendeskripsikan satu kata tersebut. Terlalu luas untuk diselami, teramat dalam untuk diarungi. Tapi, akan terasa semakin sulit, jika tidak mencoba mengetahuinya. Kebersamaan, saling mengasihi, mendukung satu dengan lainnya, dan... kata-kata itu terlampau ringkas menjabarkan arti keluarga. Bersama, suka dan duka selamanya. Indah.
"Apa harimu menyenangkan?" Janghyuk bertanya, ia tujukan pada Sohyun.
Sohyun yang sedang belajar memperbaiki cara membaca dan menulis mengangguk tanpa ragu. "Ayah tahu, temanku bertambah satu, selain Taehyung, sekarang aku punya Oppa Jaehyun." Bercerita penuh semangat.
"Woah, baguslah. Ibu senang kau memiliki teman," sahut Soran tak kalah senang.
"Dan Ayah harap kau bisa memilih teman."
"Bukannya bagus, jika Sohyun dikelilingi banyak teman, apalagi jika sudah masuk sekolah dasar tahun depan."
"Kau masih ingat nasihat kami, Nak?"
Sohyun menganggukkan kepala mengerti, "Tidak boleh membeda-bedakan, tapi juga memberi batasan."
"Bagus!" Empat jempol untuk Sohyun.
"Permisi, Tuan, Nyonya."
Ketiganya terdiam, manakala suara akrab seseorang datang. Sohyun langsung berbalik menghadap orang yang berdiri di belakangnya. Menatap senang sang pengasuh akhirnya kembali dari masa cutinya.
"Bibi Hwang!"
Berhambur Sohyun ke pelukan wanita itu, menggelendot manja sampai enggan melepas cekalan tangannya.
"Bagaimana kabar, Nona?"
"Seperti biasa," jawab Sohyun seadanya.
Dahi wanita itu mengeryit, terlihat berpikir. "Pasti ke taman bukit," tebaknya.
Sohyun mengembangkan senyum. Diamnya adalah iya. Hwang Yoon eun, sang pengasuh tampak bahagia melihat Nona Mudanya senang. Bila melihat sekeliling rumah, sudah bisa dipastikan tak akan ada perayaan ulang tahun sang majikan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Peringatan hari kelahiran Sohyun diadakan sederhana tanpa pesta meriah.
"Saya membawa hadiah untuk Nona," Yoon eun berucap serius.
Sohyun mendengarkan baik-baik, menanti dengan sabar hadiah yang dimaksud pengasuhnya.
"Apa itu, Bi?" tanyanya.
Tanpa menunggu waktu lama, hadiah Yoon eun muncul dari balik punggung. Datang tiba-tiba. Sosok perempuan sebaya Sohyun yang tersenyum malu-malu memandanginya.
Jangan tanyakan ekspresi Sohyun, gadis kecil itu sempat terbengong memperhatikan. Menilai penampilan anak itu sebelum seutas senyum simpulnya kembali timbul.
"Han Yeo Jin!"
👣
Teman baru. Tidak tahu sudah berapa kali Sohyun mengungkapkan rasa senangnya, bahwa putri pengasuhnya akan tinggal serumah dengannya. Dan sekarang, mereka disibukkan dengan acara bermain. Tanpa ragu, Sohyun mengajak Yeojin ke kamarnya, melihat koleksi mainan yang membajiri tiap sudut kamar.
"Aku berharap mereka bisa menjadi teman. Senang kau membawa Yeojin kemari," Soran berucap, masih bersetia mengamati kelakuan anak-anak yang super aktif.
Yoon eun menimpali, "Semua juga berkat bantuan kalian. Karenamu dan Janghyuk, Woojin mendapat pekerjaan yang lebih layak, dan aku bahagia sekali karena Yeojin bisa berteman dengan Nona Muda."
"Berapa kali kukatakan, jangan memanggil Sohyun dengan sebutan Nona Muda, ingatlah, bahwa dia juga putrimu. Kau dan aku bukankah sahabat? Sama seperti Sohyun, aku juga akan memperlakukan Han Yeojin seperti putri kandungku juga."
"Mereka akan tumbuh bersama."
Pernyataan terlintas dari Janghyuk yang tak sengaja lewat. "Menjadi wanita cantik dan membaggakan untuk semua orang."
"Itu sudah pasti!"
Mereka menyetujuinya. Larut pada pemandangan membahagiakan di depan sana*.
👣
"Kisah yang indah."
Wanita di sebelahnya menanggapi ucapannya dengan anggukan. Bentuk kesetujuan darinya yang baru selesai menyaksikan kisah yang mereka rangkai.
"Jika kisah kita berdua dahulu berjalan seperti itu, mungkin... mungkin saja akan ada alur yang berbeda untuk mengakhiri kehidupan kita."
Taehyung menyambut tanggapan Sohyun disertai senyuman lembut. "Dulu, aku selalu menyesalkan perbuatanku."
"Tapi semua sudah terjadi. Apa pun itu, Tuhanlah yang paling menentukan akhir kisah tiap-tiap makhluk-Nya," sambung Sohyun.
Pertanyaannya, apakah mungkin jika kisah itu dapat diulang?
Loba. Sohyun maupun Taehyung akan menganggap diri sebagai makhluk serakah, seandainya mengharapkan hal tersebut terjadi. Dunia terlalu rumit dipahami. Namun, ada yang jauh lebih sulit, memahami diri sendiri.
Mereka berdua. Terduduk di atas rerumputan hijau, tepat di atasnya, sebuah pohon besar berdiri kokoh, mengayomi. Memberikan hawa kesejukan. Padang sabana luas membentang sejauh mata memandang. Gemercik air terjun nan jernih menambah nuansa alam. Sungguh indah dan memabukkan. Tempat yang dirasa jauh.
"Tempat ini sangat nyaman," Taehyung kembali bercerita, merebahkan diri di atas pangkuan Sohyun yang mengusap surainya. Menikmati belaian halus tangan lembut Sohyun, terlalu menikmati hingga rasanya ia ingin merasakan perlakuan serupa sepanjang waktu. Matanya memejam sekarang.
"Bersamamu, karenamu."
Sohyun tersipu, dua sisi pipinya merona merah jambu. "Aku mencintaimu."
"Begitupun aku."
**The End\(less\) Love**