Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 24 : Ranting Kering



       Tak terhitung berapa jumlah pasang mata yang melabuhkan tatap pada kendaraan roda empat itu. Pada sebuah sedan Bentley Mulsanne, kini menapak di universitas yang mereka kecap. Jungkook yang baru tiba dengan motor sport yang ditungganginya pun ikut tertegun, merasa kenal dengan mobil mewah yang sekarang berhenti di parkiran dekat gedung utama Universitas Gangwon. Yang sukses merebut perhatian para penghuni di sekitar.


       Matanya membuntang manakala seorang pria keluar dari mobil, lengkap dengan setelan jasnya, tengah mengitar ke bagasi, mengeluarkan sesuatu dari sana—sebuah kursi roda. Tidak salah lagi dugaannya, pastilah itu Sohyun. Jungkook membatin sembari memperhatikan. Ia  turun usai mengunci motornya, lalu berjalan menghampiri.


        Sementara itu, kemunculan Sohyun yang tiba-tiba usai menghilang tanpa kabar berhasil mencuri perhatian. Terlebih tatkala Jonghoon membantu Sohyun turun, mengangkat tubuh sang majikan lantas mendudukkannya di atas kursi roda. Hampir-hampir tatapan mata tak percaya mendominasi pendar mata mereka, yang fokus melihat bahwa perempuan yang selalu mereka jadikan bahan gunjingan, datang lagi dengan kondisi tak sama seperti terakhir kali. Sohyun tak masalah, toh dirinya sudah biasa menjadi buah bibir banyak orang. Tak ada gunanya, meladeni orang-orang yang serupa itu. Mulai hari ini, Sohyun juga harus beradaptasi selain dengan pembawaannya yang baru pun bisik-bisik yang kian bertambah nantinya.


          "Tugasmu cukup di sini. Aku bisa sendiri." Suara Sohyun menahan gerakan Jonghoon yang akan mendorong kursi rodanya. Pria itu mengerut dahi, antara bingung dan bersiap akan menolak titah sang majikan.


        "Tapi, Nona ..."


        "Apa Anda tidak dengar ucapannya?"


        Bukan Sohyun, melainkan Jungkook yang mendadak muncul di depan Jonghoon. Lelaki itu berdiri, memasang wajah menantang siap bersitegang.


         "Kau siapa?" Jonghoon bertanya dingin, sekilas melirik ke arah Sohyun, namun sepertinya majikannya itu tidak ada gairah menerjemahkan arti pandangannya yang menuntut jawaban.


        Sohyun yang mulai terganggu karena menjadi objek bagi puluhan mata saat ini, memutuskan pergi.


          "Nona Kim!" seru Jonghoon ingin mengejar. Namun Jungkook yang tak tinggal diam mencegah dengan menarik lengan si sopir pribadi itu.


         "Kau seperti tidak tahu sifatnya saja?" katanya pada Jonghoon. "Biarkan aku yang menjaganya selama di sini. Tugas Anda sudah selesai mengantarnya, sekarang giliranku, Sopir Choi."


          Tepukan di pundak kanan Jonghoon mengakhiri perbincangan mereka. Jungkook lekas berlari mengejar Sohyun yang belum mengecil dari pandangannya. Jonghoon terpaku seorang diri,  mengamati tingkah laku Jungkook yang baru pertama kali ia temui dan mungkin satu-satunya orang yang mengajaknya bicara informal. Ini membuat Jonghoon semakin bingung dan menyerah, saat melihat banyak sorot mata penasaran yang seolah mengincarnya, gegas Jonghoon memasuki mobil, memelesat meninggalkan area universitas.


🔔


          Manik Jungkook berbinar menemukan raga Sohyun. Gadis itu berada lima langkah di depannya, begitu lampai dengan kursi beroda yang dipakai. Kedua kakinya terus mengikuti ke manapun arah yang dituju Sohyun, mengabaikan bagaimana tajamnya sorot membunuh para pembenci yang tak menyukai kehadiran Sohyun. Semakin lama, terhimpit keadaan, menjadikan Jungkook merasa gemas, melihat betapa tidak acuhnya Sohyun terhadap sekeliling yang dianggap benda mati bak batu. Sembari bersiul, Jungkook meraih pegangan belakang kursi roda Sohyun, yang otomatis menghentikan gerak roda yang menyayat lantai.


         Sohyun diam sejemang. Tangannya terangkat dari putaran roda, menatap lurus ke depan. Hanya ada satu orang yang berani melakukannya dan tidak ada gunanya menghadapi Jungkook, ia khatam seperti apa perangai lelaki yang merunduk dekat daun telinganya sekarang. Lelaki itu membisik, "Kenapa tidak menggunakan kursi roda eletrik saja? Itu bukan alat mahal kan, untuk orang kaya sepertimu?"


       "Aku hanya tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Kemampuan motorikku masih baik, jantung dan pernapasanku tak memiliki masalah serius, tidak ada alasan menggunakannya, Jeon."


         Jungkook terkekeh mendengar respons datar keluar dari mulut Sohyun. Jeon, entah mengapa Jungkook tetiba menyukai panggilan tersebut. Sohyun memang wanita yang tak memiliki sopan santun, dengan gampang menyebut marga keluarganya bernada sekaku batu. Baginya bukan perkara mudah menaklukkan perempuan itu. Ia berusaha biasa, Jungkook tak boleh menampilkan raut sendunya selepas tahu apa yang menimpa Sohyun dari hasil pencariannya beberapa hari ke belakang. Miris. Satu kata yang tak cukup merangkum segala pahit hidup yang dialami.


        "Ya, Kim So Hyun memang menyukai yang manual. Aku percaya." Jungkook manggut-manggut setengah menyerah. Sekarang kakinya yang bergerak maju, mendorong kursi roda manual yang ia maksud.


        "Sering-seringlah memanggilku Jeon, aku menyukainya sejak kau melafalkannya di restoran kala itu."  Pria itu berucap tanpa menanggalkan senyum.


         "Kalau seandainya aku tak bisa sesering itu memanggilmu Jeon, apa yang akan kau lakukan?" sahut Sohyun.


          Jungkook berpikir lagi, merasa pertanyaan dari Sohyun adalah teka-teki yang harus ia pecahkan. "Kenapa bertanya seperti itu padaku? Kalau kau merasa berat, itu terserah padamu. Itu hakmu."


         Suka tidak suka, itulah jawaban dari Jungkook. Sahutan yang sama sekali tak mengejutkan. Sohyun rupa-rupanya belum terbiasa dengan perlakuan Jungkook yang bahkan terasa lebih manis, dibandingkan dahulu, kala mereka masih terikat dalam kepura-puraan.


        "Aku yakin bukan karena status yang sudah kau ketahui tentangku. Ada hal lain ... itu mengganggu, sangat."


        Jungkook tak bodoh, memaknai perkataan Sohyun yang menyisakan gelenyar aneh dalam hatinya. "Tidak pernah berubah. Masih Kim Sohyun yang sok tahu!" Kalimatnya sengak berseling ragu.


         Perempuan itu menunduk guna menyembunyikan senyum kecilnya. Semakin hari, bagi Sohyun lelaki yang terus mengoceh di belakangnya itu makin kentara gelagat aslinya. Ia tak begitu mengenal sosok Jungkook, pertemuan yang jarang dan komunikasi yang sengaja dirinya batasi, barangkali memicu kata asing merajut pada hubungan keduanya di masa silam. Tapi hari ini, bisa jadi, Tuhan mempunyai rencana yang tak pernah ia kira datangnya, dia dan Jungkook memulai pengenalan lagi.


        "Omong-omong ... aku tidak melihat teman-temanmu. Ke mana mereka?" Sohyun menyahut tenang.


        "Huh ...," Jungkook mengeret napas letih. "Jimin sibuk dengan pacarnya yang posesif, lalu, Yoongi ... dia mengurus ibunya yang jatuh sakit karena ayahnya ditangkap kepolisian kemarin malam. Mereka lebih tahu siapa yang perlu diprioritaskan dibandingkan aku."


       Sohyun mengangguk paham. Lelaki ekstrovert macam Jungkook tak bisa bertahan dalam sendiri tanpa kegaduhan suara teman karibnya, dan di antara ratusan bahkan ribuan penghuni universitas, mengapa dirinya yang ia hampiri sekarang ini?


        "Kadang-kadang aku penasaran, apa yang ada di dalam kepalamu? Kau nyaris tak pernah berhenti berpikir, itukah yang membuatmu lebih banyak diam?"


        "Ada rahasia yang tak banyak diketahui orang. Bahwa mereka yang diam lebih cerewet. Tahukah kau, Jeon, pertanyaanmu itu membuatku tertarik untuk menjawab penasaranmu, otakku sangat berantakan. Lebih dari sekadar ketidakkeruan, dan aku tidak bisa menghentikannya."


         Dahi Jungkook sampai mengerut dalam. Bukan tak mampu mencerna kalimat Sohyun, hanya ia malas berpikir berat, akhir-akhir ini dirinya sudah lelah mencari tahu informasi mengenai gadis yang sering mendapat gelar monster kampus itu. Belum bisa dikatakan hasil bagus, lantaran tak semuanya bisa ia dapatkan dengan mudah. Tak semudah yang Jungkook pikir. Baginya, Sohyun sangat terampil bersembunyi dan menyembunyikan.


         Tak terasa, ruangan yang dituju Sohyun sudah ada di depan mata. Jungkook berhenti mendorong, beralih menampakkan wujud di depan Sohyun yang tak tahu maksud dan inginnya.


        "Meskipun aku belum terlalu mengenalmu ... aku percaya, kau mampu melewati semuanya. Jangan pedulikan bagaimana mereka yang membenci melihat ke arahmu, yakinlah, Kim So Hyun, kau tidak sendiri."


        Gadis itu tak lekas menjawab. Elusan di puncak kepalanya dari tangan dingin Jungkook menyadarkan rasa terenyuhnya. Dia tak sendiri, apakah Jungkook sungguh akan bersamanya? Sebagai teman yang dikirimkan Tuhan untuk menyemangati jiwanya yang ketar.


       "Jeon Jungkook..." Sohyun mendongak, panggilan lirih yang terpotong, butuh penjelasan.


        "Apa?" Jungkook menyahut, gegas menarik tangannya dari atas kepala Sohyun. Dia tersadar akan apa yang baru diperbuat oleh salah satu anggota tubuhnya.


        "Ayo kita berteman!"


       Membelalak kedua mata Jungkook sekarang juga, ajakan berteman dari Sohyun nyatanya sanggup mengubah air mukanya menjadi acakadut.


        "Tadi kau bilang apa? Berteman? Maksudmu kita?" tanyanya memastikan seraya menunjuk Sohyun dan dirinya.


      Sohyun mengulas senyum, disertai anggukan kecil. Sebuah isyarat pasti akan jawab yang Jungkook nanti.


        Jungkook sendiri masih dirundung rasa tak percaya, setelah apa yang ia dapat di pagi hari ini. Sebuah tawaran pertemanan, dari mantan kekasih yang sempat ia permainkan.


     


       Sementara di depan sana, Sohyun telah menyeret kursi rodanya menjauh, semakin dekat dengan ruang latihan musik. Meninggalkan Jungkook yang masih harus merenungi kalimat yang terucap ke rungunya.


🔔


        Berkali-kali peluh berjatuhan melewati kulit putihnya. Serat napasnya terdengar pendek, lelah mendera Taehyung yang baru selesai dengan pekerjaan barunya. Senyum penuh kelegaan memenuhi mukanya yang bahagia bukan main, usai melihat hasil buah tangannya sendiri. Pria itu berjongkok, bertelanjang dada, seakan datangnya musim dingin belum mampu menghalau gerah yang dirasa. Tatapannya menuju pada satu arah, pada rumah pohon yang berhasil ia ubah bentuk.


        Ada satu hal yang ingin pria itu lakukan sekembalinya ia ke Korea, yaitu, memperbaiki rumah pohon dan mempercantiknya, apa lagi usai melihat sendiri kondisi bangku kayu yang lapuk awal kedatangannya kemari. Tepatnya satu bulan lalu, Taehyung sengaja menyisihkan waktu untuk merancang desain rumah pohon.  Bahkan saking antusiasnya, Taehyung membuatkan maket khusus yang ia pajang di ruang pribadinya, dengan tujuan, agar dirinya bisa selalu mengingat kenangan-kenangan yang ia lalui bersama sang sahabat di taman bukit.


      Selama seminggu, Taehyung sibuk berkutat di taman bukit, entah sepulang dari rumah sakit dan kantor, ia luangkan waktu dua hingga lima jam perhari untuk mencicil kerja. Melakukannya sendiri dengan kedua tangannya.


       "Bertahanlah, Sohyun. Ayo kita isi lebih banyak kenangan di taman bukit. Bersama."


🔔


       Dua jam di dalam kelas musik hari ini, bagi Sohyun amat berbeda. Jika biasanya gadis itu selalu tersisih di tepian ruangan tanpa banyak bicara, kali ini, satu persatu murid yang mulanya apatis terhadapnya mulai mendekat. Entah disebabkan apa, lima hingga tujuh orang berdatangan menanyakan kabarnya selayaknya teman yang lama tidak bertegur sapa. Bahkan Mr. George yang acap kali gemar misuh-misuh dengan segudang kata tegasnya terlihat kalem. Satu pertanyaan muncul dalam benaknya yang tak mau diam, apakah karena kondisinya?


        Sohyun rasa, penampilannya hari ini berjasa besar, membawa dampak yang Sohyun sendiri tak ingin terjadi. Berbeda dengan Yeri, teman pertamanya itu  duduk bersetia di bangkunya. Sejak kedatangannya, belum sejengkal pun kaki teman perempuannya itu bergerak ke arah bangkunya, meski berkali-kali pula Sohyun amati, Yeri kedapatan mencuri pandang ke arahnya. Kelas pun berakhir seperti biasa. Sohyun menjadi mahasiswi yang paling cepat menguasai materi, walau sering absen. Bercokol dengan nilai-nilai nyaris sempurna.


        Tinggal Yeri dan dirinya dalam satu ruang. Berbagi udara yang sama-sama dihirup berat. Sohyun tersenyum tipis, seraya memberesi barang bawaannya. Hal sama yang juga dilakukan Yeri.


        "Kau tidak ingin menanyakan kabarku?"


         Yeri membeku, tangannya melayang di udara, perkataan Sohyun melenyapkan gerakannya.


         "Sebenarnya ... alasan utamaku masuk hari ini, karena seseorang mengadu padaku, jika Kim Yeri mencariku. Namamu Kim Yeri, kan? Atau sudah berubah?"


          Yeri memejamkan mata, tertohok dengan kalimat berbisa  dari Sohyun.


         "Kau ingin aku yang menghampirimu?" Sohyun perlahan menggerakkan kursi rodanya. Mendekat ke arah bangku yang diduduki Yeri.


          "Sekarang aku ada di depanmu. Jangan mencariku lantaran takut posisiku akan diganti. George Purcell pun tidak banyak berkomentar dalam kelas hari ini."


Sohyun menampilkan senyum manisnya, sedikit memperlihatkan susunan gigi putih depannya, namun sepertinya, Yeri masih enggan memandangnya balik.


         "Sohyun..." Yeri menengadah. "Maaf, ampuni aku," ujarnya menyesal.


        Tidak banyak yang diberikan Sohyun dalam merespons pernyataan Yeri. Gadis itu untuk sesaat menyeringai tipis, sebelum isyarat datang darinya.


🔔


      Angin yang berlarian lambat laun menipis seiring tertutupnya pintu kafe seberang universitas. Untuk pertama kalinya bagi Sohyun yang menginjakkan jejak di sebuah bangunan bergaya modern nan minimalis, gadis itu terkesima sesaat. Yeri masih diam di belakang, membantu mendorong kursi rodanya dengan sabar.


         Kedatangan mereka kemari atas permintaan Sohyun sendiri. Dengan lancang, permintaan maaf Yeri dibalas permintaannya yang lain. Salah satunya, mengunjungi kafe yang kebetulan lengang di siang hari.


        "Kau ingin di spot mana?" tanya Yeri, sambil melirik beberapa bangku kosong.


        "Terserah padamu."


        "Baiklah."


       Yeri membawa Sohyun menuju meja tengah. Pusat dari meja yang tersusun melingkar berbentuk bundar. Kursi-kursinya tampak kecil bila ditimpa tubuh orang dewasa. Masing-masing terdiri dari empat kursi silang warna. Mereka duduk berhadapan selepas Yeri menggeser bangku untuk Sohyun.


         "Sohyun, aku—"


         "Kau mau pesan apa?" potong Sohyun, bertanya seraya membaca buku menu di tangannya.


          Dengan berat, Yeri ikut melihat daftar menu. Gadis itu menghela napas, seakan rangkaian makanan minuman yang tersedia belum bisa menarik minatnya. Ia sedang tidak nafsu, bagi Yeri ada hal yang lebih penting. Ia harus segera menyelesaikan salah paham ini pada Sohyun. Buruk, apabila temannya mendengarnya dari orang luar.


         "Jangan terlalu dipikirkan, Kim Yeri," Sohyun berujar lirih. Meletakkan benda yang dipegangnya, lekas menatap manik mata Yeri. Kendati yang ditatap memilih tetap tunduk tengadah.


          "Berhubung aku sudah tahu, jadi sudahilah rasa bersalahmu. Setidaknya aku patut bersyukur, pihak kepolisian tak membuka identitasku. Nyawaku masih aman sekarang."


          "Kenapa semudah itu? Kenapa mudah sekali kau memaafkanku, Hyun?"


          Pertanyaan Yeri mengambang, terjeda sebab langkah kecil seorang pelayan menyambangi meja nomor lima yang mereka duduki. Seorang perempuan berseragam biru tua yang sudah bersiap dangan buku catatan menunya. Matcha green tea latte dan ... segelas air putih, terhidang beberapa saat kemudian di atas meja. Sohyun menikmati minumannya begitu juga Yeri yang sesekali menyeruput teh hangatnya.


          "Bukankah barusan kau sendiri yang mengemis padaku? Maaf. Saat kau mampu mengatakan di depanku, itu adalah bentuk penyesalanmu, bukan?"


          Yeri tergugu. Perempuan itu diam di ambang keraguannya sendiri. Bagaimana dengan begitu mudahnya, Sohyun membaca perasaannya.


         "Atau mungkin aku salah. Tahukah kau, Yeri, bahwa tak satu pun makhluk yang bisa mengetahui pikiran dan hati seseorang? Termasuk diriku." Sohyun berceloteh.


         "Tidakkah kau lelah hidup seperti ini?" tanya Yeri.


         "Apa kau berpikir, yang kulakukan melelahkan?"


          "Dunia perlu tahu siapa dirimu. Aku tidak bisa terus-menerus melihatmu direndahkan. Aku tahu tindakanku salah, maaf sudah membuatmu terluka, karena kecerobohanku, sekarang kau..."


         "Cacat."


         "Sohyun-ah!"


        "Kenapa?"


       Yeri menggila, merasa sia-sia apa yang diperbuat. Perempuan di depannya seakan tak peduli.


         "Kita hidup dengan persepsi masing-masing. Kau tidak dapat memaksakan kehendak, begitu pun pikiran orang lain."


         Yeri bungkam, menyesap lagi latte di cangkirnya dengan tangan gemetar. Sohyun cukup memperhatikan, mengamati segala gerak-gerik tubuh Yeri.


         "Lama-lama kau mirip ibuku." Sohyun tersenyum sepintas, terputus ketika nada getar ponselnya berdering.


         Kernyitan halus melekat di dahinya. Nomor tak dikenal, dan sebuah firasat baru muncul. Sohyun tak menyukai sensasi ini, namun sepertinya mengasyikkan selepas melihat pesan yang baru masuk.


        "Kalau kau memang benar temanku, maka bersikaplah selayaknya teman sungguhan. Aku harus pergi, ada teman baru yang mesti kutemui."


        Sohyun pergi. Benar-benar pergi hingga sirna dalam pandang netranya.


        "Teman baru, katanya?" Yeri menghela napas kuat-kuat sambil menggerundel. Melirik dua lembar uang yang entah sejak kapan terdapat di atas meja.