Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 2 : Serpihan Waktu



     Netra sendu itu pelan-pelan terbuka, menatap langit-langit kamar yang begitu kontras dengan warna lantai dasar. Sohyun mengembuskan napas seraya memperbaiki posisi duduknya di kursi meja belajar. Sedari tadi, perempuan bermata bulat itu terduduk dengan posisi menengadah,  bersandar pada senderan kursi kayu yang mengerit-ngerit. Tangan dinginnya menyentuh dua sisi pipi yang ternyata sudah basah karena lelehan air mata. Gadis itu menangis. Sebuah tangisan tanpa suara. Telah berulang kali, tak terhitung lagi, Sohyun begini. Dan kegemarannya yang lain, mengunci diri di dalam kamar, menolak siapa pun datang ke kamarnya termasuk sang ibu. Ia sangat tidak suka, jika ada yang masuk ke kamar tanpa seizinnya.


     Perhatian Sohyun langsung mengarah pada secarik kertas. Sebuah surat dari Taehyung yang tersimpan dalam genggam yadnya. Surat yang sengaja ditulis tangan oleh Taehyung, kini memudar dan terlihat amat lusuh berwarna kekuning-kuningan.


     Setetes air mata Sohyun terjun kembali, jatuh menimpa kata Sahabat yang ternoda.


     "Dasar cengeng!" Sohyun menghardik. Menyeka bulir hangat yang terjun dari tepian kelopak matanya kasar.


     Sudah cukup baginya menangisi hal tersebut. Belasan tahun berlalu, penantiannya sama sekali tak membuahkan hasil. Taehyung tetap pergi dan sepertinya tidak akan pernah kembali. Bahkan Sohyun lelah berharap, menunggu lelaki itu membawakan benda itu padanya. Tidak seharusnya dirinya terkurung sendirian, mengharap orang lain akan membebaskan dengan cara menunggu dan menunggu. Taehyung tidak akan pernah bisa membawanya pergi dari sini. Tidak akan pernah bisa.


     Tak lama, suara ketukan pintu dari luar menggema. Sohyun tersenyum asimetris, tahu pasti siapa yang datang ke depan kamarnya saat ini.


     "Ini, ibu!" Yoon eun mengetuk pintu lagi. "Segeralah turun ke bawah, ibu menunggu."


     Dan, suara itu pun menghilang. Ruangan bercat putih itu kembali senyap. Ucapan Yoon eun seketika lenyap, seiring memudarnya suara langkah kakinya yang menjauhi kamar Sohyun.


     "Iya, Bu. Aku segera turun ..." Sohyun membalas perkataan ibunya dengan lirih. Balasan yang dirasa percuma—tidak terdengar—sampai ke rungu Yoon eun. Namun, seperti itulah caranya yang terkadang tidak mampu dimengerti orang-orang.


     Ia berdiri dari kursi, tubuhnya bergetar dengan ringisan tertahan. "Kenapa harus sekarang?" rintihnya berjalan tertatih menuju pintu. Ini bukan waktu yang tepat baginya, untuk Sohyun yang diharuskan memakai topengnya kembali.


🔔


    


     Kakinya bergerak lamban menuruni anak tangga. Seolah Sohyun sengaja memperlama kedatangannya ke ruang makan. Padahal jelas ia tahu, Yoon eun telah menunggu sejak tadi.


     Dari atas tangga yang berjarak enam meter, Sohyun dapat melihat sang ibu duduk, menghadap beberapa macam hidangan di atas meja. Senyumnya muncul setipis kertas, tak kentara. Lalu dengan santainya, ia melenggang tanpa sesal telah membuat Yoon eun menunggu lama.


     "Kenapa kau suka sekali membuat orang menunggu?" cecar Yoon eun.


     Sohyun yang baru akan menarik kursi terdiam sejenak, menatap ibunya. "Bukan hanya Ibu, aku pun juga sedang menunggu."


     "Sampai kapan?" Yoon eun menyahut, ada nada meremehkan dalam suaranya yang terdengar menyindir. Sohyun tidak ambil pusing, memangnya siapa yang akan peduli dengan omongan Yoon eun?


     "Duduklah dan segera makan."


     Sohyun duduk di kursi yang biasa ia tempati. Mengambil jarak, satu bangku yang membatasi dirinya dengan Yoon eun.


     Ia mulai mengambil hidangan yang tersedia. Seperti biasa, Sohyun akan memulai ritualnya, yaitu memandangi makanan di depannya selama satu menit. Hanya untuk melihat kepulan asap putih mengepul. Alasan klise, hanya karena ia tidak terlalu suka menyantap makanan yang masih panas.


    Di sebelahnya, Yoon eun terpaku melihat tingkah anaknya. Sudah biasa dan ia cukup lelah menghadapi serta menegur.


    "Aku tidak suka ada yang memperhatikanku ketika makan, fokuslah pada makanan Ibu saja," ujar Sohyun tanpa melihat Yoon eun. Merasa risih ketika ingin menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


     "Kata-katamu sangat menyakitkan."


     Sohyun menjeda kunyahannya.


 


"Biasanya seorang anak akan senang jika orangtuanya memperhatikan mereka. Bahkan tidak jarang mereka berbuat onar agar mendapat simpati. Tapi kau sepertinya sangat membenciku, sampai tidak senang begitu," Yoon eun mengucap sinis, sembari kedua tangannya memotong\-motong daging dalam piring.


 


     "Mereka siapa yang kau maksud, Bu?" tanya Sohyun tak kalah sinisnya. "Jangan coba-coba!" Ia memperingati.


    


     Yoon eun bungkam, meladeni Sohyun hanya akan membuang tenaga sia-sia. Mereka kembali melanjutkan makan tanpa banyak suara. Sesekali terdapat perubahan ekspresi di wajah wanita baya itu, ketika mencicipi masakan yang dibuatnya. Enak? Yoon eun bahkan tidak yakin masakannya itu pantas ditelan atau tidak. Ia hanyalah wanita karier, yang tidak begitu piawai mengolah makanan. Ia buruk dalam hal memasak.  Berbeda dengan Sohyun yang biasa-biasa saja, seolah lidahnya mati rasa.


     Makan malam selesai. Sohyun bangkit dari kursinya, membawa sendiri bekas alat makannya. Yoon eun mencuri pandang dari tempatnya duduk. Mengamati Sohyun yang mencuci piring di bak cucian, ia terus melihat sampai perempuan bertubuh kurus itu melewati kursinya.


     "Tunggu dulu," katanya menahan langkah Sohyun. "Ada yang ingin ibu bicarakan."


     Sohyun berbalik memandang sejenak ibunya, "katakan saja."


     Yoon eun mengembuskan napas sebelum berbicara. "Besok ada pertemuan di luar kota. Kau tidak apa-apa, kan ibu tinggal sendiri?" Yoon eun harap-harap cemas, sementara Sohyun masih setia dengan muka datarnya.


    "Berapa lama?" Dua kata keluar dari mulut Sohyun sebagai reaksi atas pernyataan sang ibu.


Sohyun akhirnya duduk di kursinya kembali. Memandang penuh penantian.


     "Satu minggu—"


     "Kalau begitu pergilah," sela Sohyun.


     "Kau tidak keberatan ibu pergi?" Yoon eun bertanya lagi, agak berat di lidahnya menanyakan sesuatu yang sudah ia pahami balasannya. Jawaban yang bahkan tidak ia harapkan untuk didengar.


     "Kenapa harus keberatan?"


     "Apa?" Yoon eun terhenyak, mendapat sahutan bernada sarkastis.


     "Ibu pernah pergi selama berbulan-bulan, aku tak masalah. Bahkan jika harus pergi dan tidak pernah kembali, bagiku itu sama saja."


     "Kim So Hyun!" Yoon eun menyeru spontan. Hampir saja perabotan di atas meja tercecer di lantai karena sapuan keras tangannya. Sebelum sorot mata tajam milik Sohyun menusuknya.


     "Kau boleh marah, tapi jangan lampiaskan itu sekarang. Ini sudah malam, Bu. Kau harus istirahat. Jangan menambah pekerjaanmu untuk memberesi kekacauan ini hanya karena meladeni orang tidak waras sepertiku."


    Yoon eun tergelak, "Sohyun, Sohyun ... kau memang anak yang perhatian. Sayang sekali, kau bersikap tak ada sopan santun."


    Gadis itu tersenyum miris. "Memang kapan Ibu punya waktu mengajariku sopan santun?"


  Yoon eun seperti didorong dari ketinggian. Ucapan Sohyun memukul telak harga dirinya. Mematikan niat mencibirnya. Wanita itu terduduk dengan napas menderu-deru. Jika saja, seandainya Sohyun bukan lagi tanggung jawabnya ... Yoon eun sudah sejak dulu membuangnya jauh-jauh.


     "Ibu tidak akan memasakkan makanan untukmu. Jadi belajarlah menelan makanan buatan para pelayan," ujarnya setelah meminimalisasi gebuan amarahnya yang tertahan.


     "Aku tidak bisa," Sohyun menolak.


     "Kau ingin mati lagi?" Tangan Yoon eun terkepal, menatap wajah teduh Sohyun. Bisa-bisanya gadis di depannya itu tersenyum tanpa dosa, tak bersalah.


     Sohyun berdiri, bersiap akan meninggalkan ruang makan. Sebelum pergi, sempat ia menatap wajah Yoon eun seraya berkata, "Kalau tidak ingin melihatku mati kelaparan, maka masakkan sesuatu untukku selama seminggu ke depan. Aku lebih rela makan makanan basi darimu, daripada memuntahkan makanan para pelayan."


     Kemudian dia pergi, tak mengindahkan perkataan Yoon eun yang dibuat frustrasi oleh kelakuannya.


     "Apakah masakan ibu sangat enak? Kenapa kau menyiksaku seperti ini?" keluh Yoon eun melihat kepergian Sohyun yang tak menoleh sedikit pun ke arahnya. "Anak itu benar-benar ...."


🔔


     Pesawat yang bertolak dari Bandara Internasional Schiphol itu mendarat dengan selamat. Berjam-jam dalam pesawat membuat Taehyung merasakan jet lag, walau tidak separah saat pertama kali menetap di negeri kincir angin, Belanda. Hanya merasa lelah dengan perubahan zona waktu. Setidaknya pria itu dapat tersenyum lebar sekarang. Setelah sekian lama, hari ini sepasang kakinya dapat menjejak di tanah kelahirannya lagi.


     


      Ia mulai melangkah, menuruni eskalator otomatis, sesegera mungkin Taehyung ingin pulang. Dia tidak ingin membuang banyak waktu, daripada terus menjadi bahan perhatian, Taehyung segera keluar bandara mencari alat transportasi untuk pulang, yaitu sebuah taksi.


   


      "Tunggu aku, Kim So Hyun!" katanya tak sabar. Tangan kekarnya menggenggam kuat tas punggungnya, di mana benda yang ia janjikan berada.


🔔


     Di dalam sebuah aula besar, berderet-deret bangku terisi penuh oleh pelajar fakultas kesenian jurusan musik. Di antara belasan mahasiswa semester tiga yang mengikuti, ada Sohyun yang duduk di tengah sembari memainkan cello miliknya. Selama kelas musik berlangsung, Sohyun tampak tak bersemangat mengikuti pelatihan yang diajarkan. Tidak seperti biasanya. Perempuan itu tampak kurang fokus hingga melakukan kesalahan walau tak fatal.


     Yeri, teman seangkatannya, yang mungkin paling dekat dengan Sohyun tak luput memperhatikan Sohyun. Segera ia mendekati bangku Sohyun setelah kelas usai, berniat menanyakan keadaaannya.


     "Sedang ada masalah?" tanya Yeri dan hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Sohyun. 


     "Kebetulan kelas sudah selesai, bagaimana kalau kita jalan-jalan atau membeli buku baru?"  usulnya yang lagi-lagi mendapat gelengan.


     Bagi seorang Kim Yeri, bukan sesuatu yang aneh, melihat tanggapan Sohyun yang terkesan seadanya. Meski ia tidak tahu pasti apa yang selama ini menimpa gadis di hadapannya itu, ia tetap berusaha mengerti. Di universitas ini, tidak banyak yang bisa dekat dengan Sohyun, mungkin hanya dirinyalah satu-satunya teman wanita yang Sohyun punya. Entah apa yang menyebabkan Sohyun membatasi diri. Sejak pertama kali memasuki masa perkenalan kampus, Sohyun selalu sendiri, hingga Yeri memutuskan untuk berkenalan dan bisa menjadi yang terdekat selain keluarga Sohyun. Walaupun butuh waktu untuk meruntuhkan dinding pertahanan gadis bermarga Kim itu.


     "Kau melamun?"


     Pertanyaan Sohyun membubarkan ingatan lalu Yeri. Dia tersenyum sekilas lalu duduk di sebelah Sohyun yang sibuk dengan buku sketsanya. Buku kedua setelah diari yang selalu dibawa Sohyun dalam tas.


     "Sepertinya karena gambar ini kau jadi tidak berkonsentrasi."


     Sohyun tersenyum tipis. Tangannya enggan beranjak memberikan sentuhan halus melalui pensil yang dipegangnya. Jemarinya menari-nari dengan gemulai, demi menuntaskan sebuah sketsa wajah yang tampak asing di mata Yeri.


     "Dia tampan sekali, Hyun. Apa itu sketsa sahabatmu?" Yeri mulai ingin tahu.


     "Aku tidak tahu, mungkin seperti ini wajahnya sekarang," balas Sohyun menyudahi kegiatannya. Kali ini ia menatap lawan bicaranya, Yeri.


     "Benarkah dia tampan?" Sohyun bertanya melihat sekali lagi sketsa wajah Taehyung dewasa yang sedang tersenyum.


     Yeri mengangguk setuju. "Benar, bahkan lebih tampan dari pacarmu."


     Sohyun sampai terkekeh pelan. Lantas menutup buku sketsanya. Omongan Yeri membuat Sohyun teringat pada sang kekasih yang sudah dua hari tidak ditemuinya. Bahkan hingga kelas musik yang diikutinya berakhir, pria yang berstatus kekasihnya itu belum ada tanda-tanda akan menunjukkan batang hidungnya.


     "Mungkin dia sedang mengikuti kegiatan di luar. Kau tahu, kan ... jurusan yang diambilnya?"


     Sohyun membuang napasnya panjang, lantas berkata, "Iya. Mungkin saja."


     Yeri tak banyak bicara setelahnya. Tepatnya sesudah melihat pandangan misterius yang ditunjukkan Sohyun dari dua bola matanya.


🔔


     Sebuah taksi berpenumpang melaju konstan. Membelah jalanan raya melewati jalur layang tanpa hambatan. Taehyung yang duduk di jok tengah, tampak melihat-lihat pemandangan kota yang telah lama ia tinggalkan.  Banyak yang berubah, sedikitnya itulah yang ada dalam pikirannya setelah menyaksikan banyaknya gedung-gedung baru yang megah. Menjulang dengan konstruksi simetris nan apik.


     Menyadari kotanya yang lebih modern, hampir serupa dengan kota metropolitan, membuat Taehyung terpikir pada kawasan perbukitan yang sempat dahulu ia kunjungi. "Apa tempat itu masih sama atau telah hilang?"


     Di tengah benaknya yang bertualang mencari-cari jawaban, taksi berjalan tak nyaman. Suaranya mendesing kasar disertai kepulan asap dari depan—tempat mesin kendaraan.


     Taehyung tahu maksudnya.


     Tak lama taksi pun mogok. Berhenti di tengah lalu lalang kendaraan roda empat lainnya. Taehyung mendengkus pasrah.


     "Maaf, sepertinya mesin mobil ini bermasalah," sang sopir berucap penuh penyesalan. Merasa bersalah sekaligus tidak enak pada Taehyung.


     "Tidak apa-apa." Taehyung bergegas turun dari taksi. Menyusul sopir yang sibuk mengutak-atik mesin yang mengepulkan gas hitam pekat.


     Dia melihat dengan saksama, tak begitu paham kondisi mesin tersebut. Terlihat sopir menghubungi seseorang, Taehyung menduga, jika itu adalah petugas bengkel yang mungkin akan membantu memperbaiki kerusakan taksi ini.


     Taehyung akhirnya memilih mencari alternatif lain, setelah sang pengemudi taksi menyerah, menyarankan dirinya untuk menggunakan jasa transportasi lainnya.


     Kini Taehyung sedang berjalan melintasi pedestrian di bahu jalan yang lengang dari bising kendaraan. Ia duduk di halte, sembari menunggu kedatangan bus berikutnya. Matanya sibuk membaca denah yang tercantum pada dinding informasi. Tanpa Taehyung sadari, dua komplotan berpakaian preman tengah mengintai, mengawasi tiap gerak-geriknya.


     Memanfaatkan kecerobohan Taehyung yang membiarkan tas tambunnya tergeletak, dua orang asing itu berlari cepat, menyambar tas ranselnya.


     Taehyung refleks memekik, mengejar para bandit yang berlari kencang, menyelami gang-gang sempit kawasan perumahan padat penduduk. Sesungguhnya ia tidak masalah jika harus kehilangan semua barang-barang yang ia bawa, semua itu tak ada artinya dibandingkan benda berharga yang berada di dalam tas. Ia harus mendapatkannya kembali, demi bisa memenuhi janjinya pada sang sahabat.


🔔


     Sohyun memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya sendirian. Menyusuri jalanan trotoar yang tampak sepi. Kota ini bukanlah kota besar, melainkan sebuah kota kecil yang terletak di dataran tinggi bernama Taebaek. Suasananya bisa dibilang jauh dari kebisingan, hawa sejuk, ditambah panorama alamnya yang masih alami membuatnya terjaga. Embusan angin sepoi, tak jarang menerbangkan rambutnya yang tergerai, termasuk syal merah yang melilit batang lehernya.


     Gadis itu menyukai ketenangan dan ia sudah mendapatkannya selama tinggal di kota ini. Tempat di mana ia lahir—dibesarkan—sampai ia meninggalkan dunia ini, kelak.


     Taebaek sendiri hanya dihuni kurang dari 60.000 jiwa. Meskipun begitu, kota ini cukup maju, sama seperti kota-kota lain di sekelilingnya. Banyak bangunan vertikal pun permanen yang mulai berdiri di pusat pemerintah setempat. Salah satunya Perusahaan batu-bara yang beroperasi kembali, milik seseorang yang teramat dekat dengannya—sang Ibu—Hwang Yoon Eun.


     Tak lama, dering ponsel berdering, sebuah nada panggilan masuk. Suara itu berasal dari gawai milik Sohyun yang tersembunyi di balik lipatan tas selempangnya.


     Tanpa membaca kontak si pemanggil, Sohyun tahu siapa yang menghubungi di tengah perjalanannya pulang seperti ini.


     "Halo ..."


     "Kau ada di mana sekarang? Jonghoon bilang, kau tidak ada di kampus. Segeralah pulang dan minta sopir itu menjemputmu!"


     Dari seberang, intonasi keras dari Yoon eun membombardir rungu Sohyun yang terdiam mendengarkan.


     "Apa Ibu sangat khawatir padaku? Bagaimana kalau seandainya sesuatu menimpaku di jalan?"  Sohyun tidak menjawab, balik bertanya.


     "Bisa-bisanya kau bertanya begitu? Apa ibu terdengar bercanda?"  Dari seberang, Yoon eun sepertinya mulai kesal.


     Sohyun mengulum senyum, seakan ia senang mendengar teriakan frustrasi Yoon eun dalam panggilan kali ini. Terhibur, bisa membuat suasana hati ibunya kian memburuk.


Sohyun bangga dengan itu.


     "Cepatlah pulang!"


     "Baiklah, aku akan ..." 


     Di detik itu juga, Sohyun membulatkan matanya lebar-lebar. Kata-katanya mengantung tatkala sesuatu datang mendekat dengan cepat ke arahnya. Nyaris tak terhindarkan.


     Ponselnya jatuh terlempar ke jalan raya. Sambungan telepon terputus, Yoon eun yang merasa diabaikan kembali menelpon beberapa kali, namun sudah tidak aktif.


"Apa lagi ini? " gumamnya kesal memandangi layar ponsel di tangannya.