Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 18 : Sekali Waktu, Biarkan Air matamu Jatuh



     Ruangan dipenuhi nuansa kelam. Tak ada seberkas cahaya pun yang dirinya izinkan masuk memendar pada kegelapan di dalamnya. Sebuah pengharaman bila seutas sinar merangkak, merayapi kamarnya yang sering diselimuti gelap. Di atas kasur yang basah, disebabkan keringat yang bercucuran dari pori kulitnya yang terbuka, perempuan yang baru mendapat amukan sang ibu semalam, terus bergerak tak tenang. Ia resah dalam pejamnya mata yang tak kunjung terbuka, meski sudah segala usaha keras ia lakukan agar cepat terbebas dari bayangan buruk yang menghantui. Di alam bawah sadarnya, teriakan berang yang terus-menerus digalakkan membuat kecemasannya bertambah pekat, merenggut tawanya makin lenyap.


     *Aku tersesat,


    


     aku hanya ingin pulang,


     kumohon* ...


   


      Tok-tok-tok


      Ketukan panjang menggemai, menyeruak membangunkan tenggelamnya Sohyun di dunia mimpi. Gadis itu tergegau dari tidur, terengah napasnya yang tak teratur, masih berbaring dalam ringkuk kepiluan.


      "Kau sudah bangun?" Suara itu bermuara dari luar pintu yang baru saja diketuk.


      "Keluarlah, aku tidak bisa berlama-lama di rumah pagi ini!"


     "Ibu tahu kau sudah bangun. Kau masih marah padaku?"


     "Berhentilah bersikap kekanakan, Sohyun!"


     Dia kembali memejamkan mata. Menghela napas kuat tanpa menjawab sepatah kata dari luapan bibir garang Yoon eun. Ia sudah lelah dan seperti biasa, ibunya akan melenggang dari depan pintu kamarnya, usai menyapa tak enak di pagi hari. Meromok tubuhnya di atas ranjang tidur, menenggelamkan kepala di antara kedua lengannya yang dilipat—serupa seorang yang tengah selibat—enggan menengok warna luar jagat.


      Kemarin malam, kala dirinya tiba di muka pintu, selepas kepergian Taehyung, Yoon eun tampak murka. Sohyun tahu apa yang akan terjadi jika perbuatannya tidak disukai Yoon eun. Bukan lagi gamparan keras yang membuat wajahnya mati rasa. Bukan pula cacian serta ultimatum tak biasa, ibunya, membawakan sebilah tongkat pemukul berbahan fiber yang dihantam keras ke punggungnya. Rasa perih-pedih telah mengakar dalam dirinya. Menyatu menjadi bagian momok mengerikan untuk Sohyun resapi.


      Selama lima belas menit, ia tetap meringkuk, menggulung setengah badan dengan selimut tebal, sebelum ketukan lain menapak di pintu kamarnya lagi. Ia yakin bukan tangan pejal milik Yoon eun, melainkan seseorang yang akan menyelinap masuk tanpa persetejuan darinya.


      Dialah Bibi Jo, seorang wanita baya yang dipekerjakan di rumah ini sebagai asisten rumah tangga sekaligus pelayan setia yang selalu melayani tanpa diminta olehnya.


      Dengan langkah yang tergopoh, cepat-cepat ia mendekati ranjang Nona mudanya usai membuka pintu tersebut menggunakan kunci duplikat. Cahaya yang sedikit masuk dari celah ventilasi mempermudahnya menemukan gadis yang tak banyak bereaksi di tempatnya memaku diri.


    "Nona... katakan pada saya, apa yang Anda rasakan sekarang? Perlukah saya lakukan sesuatu untuk Nona?" ujarnya khawatir setengah mati. Diperparah sesudah melihat betapa kacau balau rupa Sohyun yang dipenuhi memar di sekujur badan. Jo Seo Jin tak tahu, bahwa sang majikan menerima kekerasan fisik hingga begini. Nyonya Hwang memang memiliki temperamen tinggi, yang tidak pernah ia duga, betapa tega, wanita itu memukuli putri angkatnya tanpa ampun. Ia tak bisa melakukan apa-apa, ketika suara benda keras terus menggema semalam-malaman. Dibenturkan pada daging berbalut tulang nan rapuh milik Sohyun.


     "Kapan Tuhan mengirimkan malaikat maut untuk mencabut nyawaku, Bi?" lirih Sohyun. Tatapan matanya kosong.


     Kepala Bibi Jo gegas menggeleng. "Mohon Nona tak berbicara seperti itu. Nona harus tetap hidup, bukankah masih ada Bibi dan Taehyung? Jangan merasa sendiri, Nona, berbagilah jika tak kuat menahannya sendirian. Anda masih berarti."


     "Bagaimana bisa aku hidup bersama wanita sakit jiwa itu? Apa yang harus aku katakan pada Taehyung jika dia melihat keadaanku yang sebenarnya?"


     Samar, isakan bergetar keluar. Sohyun menangis, memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Seojin yang terus menyemangati. Memberi peluk serta tepukan agar Nonanya lekas tenang. Seojin amat prihatin melihat kondisi perempuan yang semakin kurus tiap harinya. Meski sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, baru kali ini dirinya saksikan Sohyun menangis pilu sampai begini jeri. Tak tahu, apabila dua hari yang ia lewatkan di akhir pekan diisi dengan luka yang berlanjut tiada habis.


     Menunggu tangisan Sohyun reda, Seojin secara hati-hati, menawarkan diri untuk mengobati luka lebam yang mulai biru keunguan. Sohyun tak menolak atau menjawab. Hanya anggukan pelan sekaligus kesetujuan.


      "Astaga!" Seojin membekap mulutnya, menahan air matanya agar tak menderas, sesaat disingkapnya atasan baju yang dipakai Sohyun. Punggung gadis itu dipenuhi lecet—garis melintang yang membuat siapa saja akan miris melihat wujudnya.


      "Nona..."Lidah serta bibirnya kelu. Seojin semakin risau. "Saya akan ambilkan es guna mengompres memarnya. Mohon tunggu."


      Tanpa menunggu jawab, Seojin segera beranjak dari atas kasur. Berjalan cepat keluar dari dalam kamar yang tak sekelam sewaktu pertama kali ia pijaki. Sohyun melirik kepergiannya sekilas dengan embusan napas berat. Berharap semoga wanita itu tak menangisi keadaannya di belakangnya.


        Harapan Sohyun tak sepenuhnya terjadi. Di tangga bawah, Seojin menangis pilu. kedua tangannya tersumpal di depan mulut, berusaha sekuat tenaga agar suara tangisannya tak sampai ke rungu sang majikan. Beruntunglah, rumah sepi. Semua penghuninya pergi, menyisakan dia dan Sohyun yang diam-diam melihat Seojin dari atas tangga. Gadis itu lekas berbalik, memasuki kamarnya lagi, tatapannya kuyu, betapa mudah orang lain memberi empati terhadapnya. Sekali pun Sohyun teramat tidak suka dikasihani.


🔔


     Di ruangan pribadinya, Taehyung terus menatap tajam Tuan Min. Pria lima puluhan itu ia suruh menghadap usai menerima bukti laporan dari Sungwon yang sempat dimintanya kemarin malam. Tak sampai 24 jam, surat kontrak yang dipalsukan perusahaan Jin Gak telah menggeletak lecek di atas meja kerjanya. Intimidasi yang diberikan Taehyung tak main-main, sudah lebih dari dua jam, lelaki itu sengaja menahan Min JaeWoo untuk mengklarifikasi temuan yang tak mungkin dapat disanggah oleh lidah.


     "Ampuni saya, Presdir Kim. Mohon ampun atas kelalaian saya. Ini sama sekali tidak benar, saya juga baru mengetahuinya hari ini!"


      Giginya mengetat kuat. Taehyung tersenyum mengejek mengetahui alibi baru yang dilontarkan Tuan Min. Pelan-pelan ia bangkit dari kursi, melangkah santai sembari menepuk dua sisi bahu seorang yang bisa dikatakan lebih senior darinya. Ia tak akan banyak berbasa-basi lagi, ingin agar permasalahan ini lekas berakhir.


     "Tidak perlu berkelit, Min Jaewoo," bisiknya tak sopan. "Kau tahu tindakanmu tidak hanya merugikan perusahaan, kau juga sudah berani bermain di belakangku. Beruntunglah ada yang memberitahuku, jika tidak, mungkin aku bisa benar-benar berdosa melakukan kesalahan besar dengan mempertahankan orang sepertimu."


      Jaewoo tergagap. Tak ada sepatah kata yang dapat ia bantah. Tidak pernah mengira bahwa Taehyung bisa bersikap keras seperti ini. Melucuti dirinya dengan segala omong besarnya. Selama ini, ia mengira jika putra Haeyoung hanyalah bocah yang belum tahu apa-apa. Namun nyatanya ia harus menelan pil pahit, karena dihadapkan pada keberangan Taehyung yang jarang ditunjukkan.


       🔔


      Gebrakan meja menjadi tanda betapa murkanya Jaewoo yang baru saja mendapat peringatan dari sang atasan. Kedua tangan telah terkepal kuat sejak keluarnya Jaewoo dari ruangan Taehyung. Bawahannya yang berdiri tak jauh darinya sampai bergidik ngeri melihat perangainya.


     "Cari tahu siapa yang sudah berani memberi tahu Taehyung tentang proyek Jin Gak. Akan aku pastikan orang itu akan menyesal sudah membuat perkara denganku!" titahnya masih penuh lecutan memberongsang.


      "Akan saya cari tahu secepatnya, Tuan Min." Pria itu lekas pergi usai membungkuk hormat.


      Jaewoo masih tidak terima dirinya diberhentikan. Kasus yang menimpa temannya, yang tak lain Tuan Song saja masih menyisakan kemarahan, dan kali ini Taehyung sudah bertindak kelewat batas padanya.


      "Tunggu saja pembalasanku, Tuan Muda Kim!"


🔔


     Tangan Bibi Jo dengan ketelatenan menutulkan air hangat pada punggungnya yang ungu. Sohyun terdiam saja, sejak kemarin pun tak ada satu rintihan kesakitan pun yang lolos dari celah bibirnya. Ada yang lebih buruk dari luka yang membelit sekujur tubuhnya, luka mendalam yang tak mudah mendapat obat.         


     Kepercayaannya pada Yoon eun semakin pupus diterjang ombak ketidakadilan. Ia sudah lama menunggu agar ibunya lekas berubah, ia tak ingin hidup dengan kebencian di sisa hidupnya yang tinggal menghitung masa.


       "Sudah selesai, Nona."


       Sohyun mengangguk, menurunkan lagi pakaian longgarnya yang sempat dibuka. Kembali berbaring miring membelakangi tubuh Seojin yang termangu pasrah. Sohyun terus mengurung di dalam kamar, mengabaikan teriakan Yoon eun yang terus meneriaki agar keluar. Tidak hanya mengurung diri, Sohyun sengaja menghukum Yoon eun, membuat wanita itu frustrasi karena kegilaan yang ia ciptakan. Apa pun tujuan Sohyun, Seojin yang tidak tega tak jarang menawarinya untuk makan, jika sang Nona tak mau memakan masakan Yoon eun, paling tidak Sohyun dapat menelan makanan buatannya, namun semua percuma. Sohyun abai.


     "Hari ini cuaca sangat bagus, tidakkah Anda ingin menghirup udara segar di luar. Nyonya Hwang juga sudah berangkat sejak pagi tadi," papar Seojin sambil memberesi baskom berisi air hangat yang mulai mendingin.


     "Aku takut."


     Seojin membelalak, ketika suara lirih itu bergema lagi. Bukan hanya dikarenakan Sohyun bersuara setelah diam sejak kedatangannya, melainkan jawaban atas pertanyaannya.


     "Apa yang Nona takutkan? Saya akan menemani Nona kalau bersedia."


     Sohyun yang awalnya memunggungi Seojin menghadapkan diri disertai tatapan meragu. "Semalam aku mimpi buruk lagi. Itu membuatku sulit tertidur lagi, Bi. Mimpi yang berbeda dan lebih menakutkan."


     Kernyitan halus melekat pada dahi Seojin yang tak mengerti. Ia tahu, jika Sohyun sering sekali mengalami mimpi buruk, itu sudah terjadi sejak lama sekali, bahkan sebelum ia mengabdikan diri di rumah ini. "Boleh saya tahu?" Ia bertanya.


     "Seseorang datang untuk membunuhku."


     Sohyun tersenyum tipis melihat Seojin terbengang. "Tidak perlu terkejut. Bukankah itu hanyalah mimpi? Aku bisa mengatasinya. Tolong jangan beri tahu Ibu, aku tidak mau dia sampai tahu hal sepele seperti ini."


    Seojin mengangguk tanpa sadar, seakan senyuman yang diarahkan padanya mengandung mantra yang mampu membuatnya luluh dan takluk. Ia kemudian pergi meninggalkan Sohyun di dalam kamar. Membiarkan majikannya larut pada imajinasi yang ditorehkan pada sebingkai kanvas.


🔔


     Bang Ah Rok, pria yang ditugaskan untuk mencari tahu perihal pembocor proyek rahasia Jin Gak datang menghadap pada tuannya. Min Jaewoo yang tengah menghidu aroma kopi hitam itu sampai berdesus, meletakkan kembali cangkirnya di atas meja lesehan. Tatapannya tertuju pada Ah Rok yang sudah duduk bersila di depan meja. Memandang ketajaman mata yang jarang diperlihatkan pemuda yang baru muncul setelah dua hari tak ada kabar.


       "Aku harap kau membawa berita bagus. Jika tidak, lebih baik enyah dari hadapanku!"


      Ah Rok tergelak saja. Menepikan pandang pada sekumpulan ikan koi yang berenang memperebutkan pakan yang masih terapung di permukaan kolam. Pendar matanya rupanya lebih tertarik melihat hewan peliharaan Jaewoo ketimbang sang tuan pemilik. Untuk kali kedua, Jaewoo mendesus lagi. Lantas menarik jaket hitam Ah Rok.


    "Cepatlah bicara, jangan membuang waktuku yang berharga hanya untuk melihat wajah memuakkanmu itu!"


     "Tidak perlu sampai seperti ini, Tuan Min." Ah Rok mengempas tangan Jaewoo. Bersiul santai seperti biasanya.


     "Namanya Kim So Hyun," ujar Ah Rok, menyerahkan selembar foto yang ia dapat dari Universitas Gangwon, lebih tepatnya ia curi setelah diberi tahu informan. "Gadis yatim piatu yang misterius. Tidak ada satu pun informasi detail tentangnya. Semua yang berhubungan dengannya seolah ditutupi dari publik. Dia mendapat beasiswa penuh di Gangwon, mengambil jurusan seni musik karena kehebatannya membuat dan memainkan banyak instrumen. Menurut orang dalam, Sohyun aktif mengirim surat ke kejaksaan untuk mengusut pelanggaran hukum di Taebaek. Dia menggunakan nama samaran. Tidak ada yang tahu motif utamanya, dan kasusmu ini pastilah darinya."


     Jaewoo tak semudah itu untuk percaya. Hal yang sulit dicerna, mengetahui orang yang membocorkan rahasia Jin Gak adalah seorang wanita yang sepantaran dengan putra sulungnya.


     "Kali ini percayalah." Ah Rok memainkan foto yang semula ia taruh di meja. "Sohyun... dia adalah sahabat kecil Kim Taehyung."


     Tawa terkulum menguar, Jaewoo tak menyangka Ah Rok membawa kabar menggembirakan untuknya. Kian menarik permainan yang akan segera ia mulai, Jaewoo pun penasaran, apa yang akan terjadi pada Taehyung jika tahu dirinya akan bermain-main dengan sahabatnya. Ia sudah tidak sabar, membuat pria yang sudah menghancurkan reputasinya hancur secepatnya.


     "Aku ingin tahu, siapa orang dalam yang kumaksud... dia sepertinya sangat dekat dengan anak manis ini, apa yang kauberikan padanya hingga mau memberitahu padamu."


     "Anda seperti tak tahu saja, orang-orang miskin, akan mudah luluh jika sudah mencium uang." Ah Rok mulai mencela, lantas berkata santai, "Sohyun hanya memiliki satu teman, sayangnya teman itu justru mengkhianati dirinya."


   


      Kepalanya manggut-manggut mendengarkan. Kembali tangannya meraih  cangkir kopinya yang tak lagi panas, menyeruput penuh nikmat, seraya mendengar segala penjelasan Ah Rok sekali lagi.


🔔


   


  "Ada yang bisa kami bantu?" Seorang resepsionis wanita bertanya pada sosok pria jangkung di depannya. Mata yang tersembunyi di balik kacamata itu terus menilik, mencari tahu wajah yang membuatnya merasa curiga pada pria yang menggunakan masker serta topi itu.


      "Suruh bosmu menemuiku, atau kau antar aku ke ruangannya, karena aku ingin bertemu."


      "Sudah buat janji sebelumnya?"


      "Jangan banyak tanya! Apa kau mau aku hancurkan tempat ini?"


      Si resepsionis mendengus, jengkel mendengar nada yang ketus. Bibirnya mengerucut, berharap pihak pengamanan segera meringkus orang tak tahu adab di depannya sekarang. Dengan hati yang berat, resepsionis muda itu menyambungkam telepon ke sekretaris bos pemegang kuasa So Hang Group. Sedikit bercakap, sebelum anggukan pelan datang darinya.


     Pria yang sudah beruban itu merakah, tak perlu susah payah membuat keonaran hanya untuk menemui wanita yang telah lama tak dijumpainya. Usai diberi tahu letak ruangan yang dituju, lekas ia melangkah ke sana.


🔔


      Semua berkas telah rampung ia selesaikan. Yoon eun yang sudah berjam-jam duduk meratapi layar laptop kerjanya, mendesah lega. Mengurut pangkal hidungnya, sembari menunggu kedatangan tamu yang ingin bertemu. Biasanya, ia akan menerima orang masuk, jika sudah di luar jam kerja, berhubung waktu sudah akan beranjak sore, ia persilakan orang tersebut masuk. Barangkali ada sesuatu penting.


     Ketukan datang memelesat ke indra pendengarannya. Ia yang semula tertunduk langsung mengangkat dagu, mempersilakan si pengetuk pintu agar masuk.


     "Lama tidak bertemu, Sayang!"


     Suara berat pria itu menyapa rungu Yoon eun. Wanita itu tergelohok, cepat-cepat bangkit dari kursi memandangi siapa yang datang ke tempatnya.