Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 1 : Memori Dalam Hujan



     Derap langkah kecil seorang gadis mengisi sunyi yang tercipta. Suara langkah kaki yang menyaruk jalan beraspal itu menemaninya di tengah sepi yang ada. Sudah beratus meter panjang yang ia lalui dengan berjalan pelan, menyusuri jalan berkelok di kawasan perbukitan ini. Tatapannya tenang tak tergoyahkan, lurus tanpa polesan ekspresi di wajah. Bahkan deretan pohon dan semilir angin dingin, tak membuat pemilik tubuh kurus itu menyerah ke tempat yang hendak dituju—sebuah taman di atas bukit—di tengah-tengah hamparan hijau hutan pinus.


     Sebuah biola tampak menggantung di tangan kirinya. Sebuah alat musik yang ia namai 'teman' hidup, teman yang setia, dan tidak mungkin meninggalkan dirinya. Si penyuka musik.


     Pada saat yang bersamaan seorang pria tinggi tegap sedang berjalan santai di sebuah taman. Mata monolid-nya terpejam, merasakan hangat sang pagi menimpa kulit putihnya. Berkali-kali embusan napas keluar, menikmati udara segar nan bersih tempat yang ia sambangi hari ini. Merilekskan diri sejenak dari rutinitas harian yang melelahkan. Kepalanya menengadah, memperhatikan gugusan awan cerah membentang di petak luas, seakan menaungi dirinya yang tengah kepanasan di sela aktivitas olahraga paginya.


    Gadis itu pun tiba di tempat tujuannya, sebuah taman kecil di atas bukit dengan hamparan hijau rerumputan terbasahi embun. Semakin indah, karena dikelilingi pepohonan rindang. Ia terdiam, menjeda sapuan kaki yang menggores sebagian rumput yang telah tumbuh memanjang. matanya berpendar melihat-lihat ke segala penjuru. Senyumnya terbit, meski hanya tampil dalam hitungan sepermili detik. Tidak ada yang berubah. Masih sama.


    Kemudian ia termangu. Biji matanya mengarah pada kursi kayu tua. Benda itu kelihatan reot dan hampir patah. Sisi-sisinya telah termakan rayap, bukan ia tak peduli... perempuan itu hanya ingin terus mengingatnya, memori ketika hujan turun dengan deras. Benda yang selalu ia duduki tiap kali datang, apa pun cuaca yang dihidangkan Tuhan kepada bumi. Perlahan ia mulai mendaratkan tubuhnya, duduk berjuntai. Kakinya mengayun-ayun ringan, begitu pelan. Pandangan gadis itu tidak lagi lurus, sorotnya berbinar ketika langit senja muncul di hadapannya. Sinar jingga kemerahan yang datang menghangatkan jiwanya. Lazuardinya.


     "Bagaimana kabarmu?" ucapnya melihat sang senja yang tetap diam di peraduan.


Butuh beberapa menit, bagi perempuan itu untuk lekas sadar dari tatap mendambanya. Entah apa saja yang ia lamunkan.


     Tangan kanannya terulur kemudian, meraba permukaan kursi kayu sampai terhenti pada benda padat di sebelahnya. Sebuah tempat di mana teman biolanya disimpan.


     Suara biola terdengar di taman sepi itu. Pria tadi mendengar lantunan gesekan biola tersebut, sebuah lagu sederhana yang akrab di rungunya. Dengan jantung berdebar, ia pun berlari. Mencari-cari di mana suara itu berasal, suara yang tidak asing lagi.


    "Stop!" 


     Seketika alunan dari biola itu terhenti. Suasana kembali hening. Dengan napas tersengal akibat berlari, pria tadi memekik menatap seseorang yang masih bertahan memegang alat musik tersebut.


    "I am sorry. At first, I thought the sound of this violin came from my best friend," ungkapnya agak sedikit gugup.


     "It's okay. I understand." Orang tersebut tersenyum ramah pada pria yang sempat berteriak, menghentikan permainan biola klasiknya.


   "Once again, I am sorry. Excuse me!"  Ia membalas senyuman seorang kakek tua dan dibalas anggukan kecil.


Dia pergi dengan raut kecewa.


     Napas letihnya mengudara. Lelaki itu membatu, jatuh tertunduk menatap bayangannya di tanah.


     "Aku pikir itu kau. Lagi pula... tidak mungkin kau ada di sini," gumamnya putus asa. Lantas beranjak pergi dari taman kota Vondelpark yang semakin ramai di datangi orang-orang.


 


🔔


 


    Terdengar nyaring dering ponsel, hingga mengharuskannya menghentikan permainan biola. Tangannya merogoh tas, mencari benda pipih yang terus bergetar, agar segera diangkat sang empunya. Melihat nama yang tertera, seketika membuat ekspresinya mendatar.


    Ponsel menempel di daun telinganya. "Baiklah. Sebentar lagi aku pulang. Jangan khawatirkan aku dan terima kasih."


    Ia mengakhiri sambungan teleponnya dalam waktu sekejap. Terlalu singkat dan tidak ada basa-basi untuk menghargai si penelepon. Seperti itulah dirinya yang dingin, beku, dan terlihat tak berperasaan ... sebab dengan begitu dan hanya itu caranya untuk bertahan.


     Helaan napas beratnya lepas. Wajahnya pun menyendu. "Di mana kau sekarang? Aku benar-benar merindukanmu," lirihnya pelan disertai senyum getir.


     Gadis itu biasa dipanggil Sohyun, lengkapnya Kim So Hyun. Seorang perempuan yang penuh misteri dan sangat tersembunyi. Siapa yang benar-benar mengenalnya? Tak seorang pun tahu. Dia terlalu tertutup, hanya untuk sekadar membuka diri. Seorang noir—gelap dan misterius.


Ia berdiri, bergegas mengemasi barang-barangnya. Pergi dari bukit itu, bukit dengan kenangannya bersama seseorang yang berarti untuknya. Sosok sahabat yang begitu ia nantikan hadirnya.


    Seperti biasa, tanpa melupakan kebiasaan, Sohyun mengarahkan kameranya pada senja yang begitu elok dipandang mata. Langit berhias teja serta arakan awan yang bertumbuk bak anak sapi, menggunggah keinginan Sohyun untuk mengabadikan momen tersebut. Baginya sayang, jika melewatkan saat-saat seperti ini, belum tentu ia bisa melihatnya. Bidikan kamera digitalnya memotret dengan sempurna. Beberapa detik selanjutnya, keluar sebuah gambar dari dalam kamera. Tangannya menganjur, mengambil satu gambar tersebut lantas menyelipkannya di antara ratusan lembar buku harian dari dalam tas. Sebelum bangkit, pergi meninggalkan tempat yang akan segera diselimuti malam kelabu.


 


🔔


 


    Kepalanya mendongak, menatap langit yang dibubuhi bercak awan perak. Semakin siang, cuaca kian menyengat meski tak seekstrem di kala musim panas. Pria itu tersenyum sekilas, setelah puas menatap hamparan angkasa dari atas atap. Teringat lagi pada sang sahabat, yang mengajarkannya untuk menjaga dan menikmati alam. Salah satunya langit yang memayungi. Kedua tangannya terangkat, sejajar dengan garis bahu lurusnya, pria dengan senyum kotaknya itu merentangkan tangan lebar. Bersiap melepas teriakan, sebelum aksinya gagal lantaran interupsi yang tak terduga datang.


     "Taehyung!"


     Mulutnya terkatup saat panggilan itu muncul dari belakang tubuh kokohnya. Pemuda itu mendengkus kesal, kemudian berbalik melihat seseorang yang sebaya dengannya, tergesa-gesa menghampiri.


     "Ada apa?" tanya Taehyung langsung ke inti.  kebingungan kentara dari air mukanya, menatap teman kerja sekaligus kuliahnya di Amsterdam, Kim Nam Joon, yang sering disapa Joonie.


     "Bos memanggilmu ke ruang kerjanya!" Dengan memasang wajah khawatir, Namjoon berujar. Sementara Taehyung hanya ber-Oh saja dengan tatapan santai melenggang pergi dari loteng menuju ke ruang kerja bos yang dimaksud.


     "Hai, kau tidak takut jika dipecat?" Namjoon mengeraskan suara, saat lelaki itu sudah berjalan jauh, namun sama sekali tak dihiraukan oleh Taehyung, ia masih tetap berjalan.


     "Aku tidak akan dipecat, tapi... nanti juga kau akan tahu sendiri. Sudah jangan cemas begitu!" Taehyung setengah berteriak tanpa berbalik arah dan terus berjalan. Namjoon yang merasa bingung tak paham arti ucapan Taehyung hanya mampu menggidikkan bahu. Toh, ia akan tahu alasannya nanti.


 


🔔


 


     Sohyun pulang dalam kondisi basah kuyup. Tidak ada sejengkal pun bagian dari tubuhnya yang tak terkena guyuran air. Cuaca akhir-akhir ini memang sulit ditebak, bahkan kalaupun Sohyun tahu akan turun hujan bahkan badai, ia tetap akan berjalan pulang tanpa mau berteduh. Memberikan izin jutaan butir air menyirami dirinya bagaikan bunga. Ia suka hujan, seorang pluviophile yang teramat mencintai hujan. Meski hujan menjadi saksi bisu, memori tak mengenakkan yang pernah dialaminya di masa lalu.


     Dan sama seperti hari-hari yang lalu, ketika sampai di rumah tempat tinggalnya. Tidak ada siapapun di sana—yang menyambut—mempersilakan dirinya masuk bak putri kerajaan. Suasana tergambar sepi, tanpa tilas suara, ditambah asisten rumah tangga yang libur kerja.


     "Kau sudah pulang?" Seorang perempuan setengah baya menghampiri Sohyun. Membuat langkah kaki perempuan itu berhenti di tengah-tengah anak tangga.


     "Iya. Memangnya tidak lihat?" Sohyun menjawab datar, tanpa menoleh. Tanpa santun sepatutnya.


     "Kau hujan-hujanan lagi?" Orang itu semakin mendekat. Memaksa Sohyun agar menghadap padanya. "Bisakah berhenti bersikap seperti anak kecil, Kim So Hyun!" Menatap tidak percaya, Sohyun pulang dengan pakaian basah.


     Sohyun yang enggan menanggapi, sekilas mengangguk kecil. "Ya."


    


     Wanita itu terkekeh. "Kau sungguh luar biasa. Lebih baik cepat bersihkan badanmu, setelah itu turunlah ke bawah. Kita makan malam."


     Sohyun yang tidak terlalu peduli. Tidak berniat menjawab dan bersiap melanjutkan langkahnya.


     "Setidaknya jawab perkataan Ibu!"


     "Hmmm ..."  Hanya dehaman yang Sohyun perdengarkan, sebagai jawaban yang diminta wanita yang mengaku ibunya. Setelahnya, tidak ada lagi selain pergi. Yoon eun hanya mendengus pasrah melihat tingkah putrinya yang sama sekali tidak berubah. Masih sulit diatur.


     "Sampai kapan, Tuhan?"  batinnya sambil melihat Sohyun yang menaiki tangga menuju kamar. Wanita itu tertunduk sedih, lagi-lagi Yoon eun merasa tak diacuhkan oleh Sohyun.


 


🔔


 


     Taehyung menuju ruang kerja, di mana sang bos berada. Sampai di sana, tampak lelaki dewasa berdarah campuran Korea itu telah duduk manis di kursi kerjanya. Menarik satu kursi, Taehyung gegas duduk.


     "Kau pasti sudah tahu apa tujuanku memanggilmu datang kemari."


     Taehyung mengangguk.


     "Ini gajimu bulan ini, beserta bonus." Ia menyerahkan sebuah amplop putih. "Aku sudah melebihkannya untukmu, tidak akan kurang." Pria itu berbisik, meski hanya ada mereka yang menghuni ruangan tersebut.


     Taehyung menaik turunkan kepala, paham. Tersenyum menggapai gaji hasil jerih payahnya sendiri. "Terima kasih."


     Pria yang terlahir dengan marga Kim itu tergelak, mendengar celotehan lelaki yang tua lima tahun di atasnya. Siapa sangka bos pemilik restoran mewah di kawasan elit Amsterdam itu bersikap layaknya teman akrab.


     "Sudah saatnya aku kembali. Ada seseorang yang menungguku, dan aku harus memenuhi janjiku padanya. Selama lima belas tahun, aku tersiksa karena merindukannya. Bos tahu rasanya? Aku—"


     "Kau menyukainya?"


     Pertanyaan tersebut sontak menimbulkan kerutan dalam di dahi Taehyung. "Hei, Devin Lee!" ujarnya sedikit jengkel.


     "Kau sudah dua puluh enam tahun, Taehyung. Maksudku Perasaan suka terhadap lawan jenis."


     Taehyung tercenung memikirkan perkataan pria yang dipanggilnya Devin Lee tersebut. Bagaimana bisa bosnya mengambil kesimpulan seperti itu? Mana mungkin dirinya menyukai sahabatnya sendiri? Bahkan ia tidak tahu seperti apa rupa perempuan yang pasti telah beranjak dewasa sama seperti dirinya.


     Melihat perubahan mimik muka lawan bicaranya, Devin berinisiasi menyentil dahi Taehyung. Tindakan jailnya berhasil membangunkan Taehyung dari alam lamunannya.


     Pria itu meringis memegangi jidat


, semakin jengkel.


     "Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya bercanda," lerai Devin. "Oh ya, Taehyung, tolong sampaikan salamku pada kakakmu. Temannya ini sangat merindukannya, kalau perlu suruh dia berlibur ke Belanda, aku menunggunya."


    "Kenapa tidak bilang sendiri padanya? Apa perlu aku meneleponnya untukmu?" Taehyung mengambil ponsel dari sakunya.


     Segera Devin menggeleng, menahan pergerakan tangan Taehyung yang akan memencet nomor kontak. "Aku punya kontaknya."


     "Kakakmu itu ... sepertinya sangat menikmati pekerjaannya, sampai-sampai tidak ada waktu untuk mengunjungi adiknya yang malang ini," imbuhnya diselingi candaan. Taehyung tampak tidak terima, matanya memelotot lebar menatap Devin.


     Setelah perbincangan ringan antara pegawai dan atasan, Taehyung bergegas mengemasi barang-barangnya dari loker. Beberapa barang seperti; pakaian ganti, sepatu, buku, hingga alat cukur ada di dalam sana. Senyumnya merekah, tatkaka sebuah benda masih tergantung di pojok sisi loker. Sebuah benda yang menyimpan kenangan di masa lalunya. Pandangannya menggabak seakan Taehyung diseret untuk mengingat peristiwa lampau.


 


🔔


 


     Tawa riang mengalun. Di atas sebuah bukit kecil, terdapat sepasang anak kecil sedang berlarian sembari memainkan gelembung busa. Kaki-kaki kecil itu tak ragu menginjak daratan yang basah—berlumpur, akibat dilanda hujan deras kemarin. Hari libur sekolah, tidak disia-siakan Taehyung. Bocah itu nekat membawa kabur Sohyun hanya untuk mengajaknya bermain di luar. Ke tempat yang tanpa sengaja mereka temukan ketika tersesat di hutan beberapa bulan lalu.


     Berjam-jam dihabiskan dengan bermain, akhirnya salah satu dari mereka menyerah. Sohyun yang kala itu berusia enam tahun, merengek di depan Taehyung yang empat tahun lebih tua darinya. Sebagai sahabat rahasia, Taehyung merasa kasihan. Ia ikut duduk di sebelah Sohyun kecil. Beristirahat sejenak di bawah pohon besar.


    "Hufft ... gelembung sabunku sudah habis!" Sohyun menggerundel, meletakkan botol kosong di bawah kaki bangku.


    Taehyung  yang duduk di sampingnya menoleh, tangan kirinya sibuk memainkan rumput ilalang panjang di sekitar bawah kakinya.


    "Pulang, yuk!" ajak Taehyung, mengulurkan tangan.


     Gadis kecil itu mengangguk senang. Menyambut uluran telapak tangan yang lebih besar darinya itu. Taehyung lantas menggandeng tangan sahabatnya untuk segera pergi dari sana.


     Mereka berjalan beriringan, saling bergandeng tangan. Siapa pun yang melihatnya, akan berpikir mereka adalah sepasang kakak-adik yang menyayangi satu sama lain.


     "Kenapa harus gerimis, sih!" keluh bocah laki-laki itu dengan kesalnya sembari memayungi tubuhnya menggunakan kedua tangan di atas kepala.


     "Kau tidak suka?"  Sohyun kecil bertanya dengan nada polos.


     "Jelas aku tidak suka. Kau tahu, kita baru setengah jalan, kita bisa basah nanti. Apalagi kita sedang jalan kaki, kita bisa dimarahi,"  jawabnya yang semakin kesal.


     "Tapi aku suka gerimis ini!"


     Gadis kecil itu menengadahkan tangan, ada binar terang ketika mata bulatnya bersua pada langit.  Merasakan butiran-butiran kecil nan ringan membasahi permukaan kulitnya. Sensasi yang mampu memgundang adiksi.


     "Kau senang sekali! Eh, kita berteduh dulu."


     Taehyung hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Sohyun dan segera mengajaknya mencari tempat berteduh sementara waktu.


     Mereka berdua berlari kecil saat dirasakan intensitas curah hujan kian menderas. Mereka berhenti ketika menemukan tempat berteduh, sebuah toko barang antik. Pintu terkunci dari dalam, namun masih terdapat tulisan "Buka" yang menggantung di kaca toko. Kurang lebih setengah jam, kedua bocah itu berdiri, meringkuk di depan teras yang atapnya bocor di sana-sini. Sohyun menggigil dengan bibir pucat membiru. Taehyung yang tidak tega, menarik pergelangan tangan sahabatnya. Namun Sohyun menolak.


    "Ada apa? Hujannya telah reda. Kita harus sampai ke rumah sebelum ibumu tahu kau kabur bersamaku. Kau pasti kedinginan, iya kan? Jadi ayo pulang!"


    Sohyun tak menjawab, justru  pandangan anak perempuan itu tertuju pada satu benda di dalam toko hiasan tersebut. Benda kecil yang membuatnya tertarik—hendak memiliki.


    "Kau ingin benda itu?"  Taehyung mengacungkan jari telunjuknya, mengarah ke suatu benda yang menarik perhatian sahabatnya.


    "Aku janji akan membelikannya nanti!"


    Sohyun mengangkat kepalanya yang tertunduk. "Benarkah, Kim Taehyung? janji?"  ucapnya girang sambil memajukan jari kelingkingnya.


    "Iya, aku yang akan membelinya dan hanya boleh aku yang memberikanmu benda itu. Kau harus menunggu sampai aku datang dan memberikannya untukmu. Kalau sudah aku yang akan pasang di taman bukit, pasti Indah!" cerocosnya panjang lebar dengan penuh semangat sembari menerima uluran jari kelingking sahabatnya.


    "Dan aku akan menunggumu memberikannya untukku."


     Di hari berikutnya, sebuah surat sampai ke tangan Sohyun. Senyum bahagianya terbit ketika mengetahui surat itu dikirim oleh Taehyung. Ia tidak dapat menahan rasa senangnya sejak mengambil kertas itu dari kotak pos depan rumah. Gadis manis itu duduk di sofa ruang tengah, bersiap membaca isi surat tersebut.


***Danglah ke atas bukit, aku sudah mendapatkan benda itu untukmu. Aku berjanji akan memberikannya hari ini, jadi tunggu aku!


Sahabat***!


     Senyuman tergambar jelas di wajah gadis kecil itu, tatkala mendapati isi surat dari sahabat satu-satunya saat ini. Kaki lincahnya bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamar, ia harus bersiap-siap sekarang juga, seakan sudah tidak sabar menunggu.


 


🔔


 


     "Nona yakin ingin menunggu sendirian, biar saya antar sekalian untuk memastikan Taehyung sudah datang." Jonghoon yang bekerja sebagai supir pribadi Sohyun, tampak mencemaskan anak majikannya. Pria itu mencoba menawarkan diri.


     "Tidak apa-apa, Paman Choi, saya harus segera menemui Tae. Saya sudah tidak sabar dengan kejutannya!" Sohyun kekeh pada pendiriannya, tidak mau diantar.


     "Yasudah biar paman tunggu di sini saja, jika Nona butuh apa-apa, panggil saya, ya? Nona hati-hati!" pesan Choi Jonghoon.


      Sohyun lantas menuju taman bukit dengan semangat. Setibanya di sana, tempat itu masih kosong, tidak ditemukannya Taehyung, baik di sekitar taman bunga ataupun di rumah pohon. Dengan berat hati, Sohyun turun, memilih menepikan diri ke bangku dekat dengan ayunan. Berkali-kali kepalanya menengok sekitar mencari sahabatnya. Tetap tidak ditemukannya tanda-tanda kemunculan Taehyung.


     Waktu terus berlalu, lebih dari dua jam Sohyun menanti kedatangan Taehyung, ia terus menatap kearah tangga kecil yang menjadi jalan utama menuju bukit. Langit yang tadinya cerah pun berangsur dipenuhi awan kelabu—dan hujan pun mengguyur.


    "Taehyung pasti datang, aku harus tetap di sini. Dia tidak mungkin mengingkari janjinya." Sohyun masih percaya pada Taehyung yang akan datang menemuinya. Berpegang teguh terhadap pendiriannya. Tak memedulikan pakaiannya telah basah serta tubuh yang menggigil.


\-\-\-


    Jonghoon langsung terlonjak kaget mendengar suara petir yang begitu menggelegar, hingga membangunkan tidurnya. Sedetik kemudian ia teringat majikannya yang masih berada di atas bukit. Segera ia keluar mobil dan berlari menghampiri majikannya.


     "Nona! Nona Kim!" Jonghoon berteriak di tengah guyuran hujan deras, mencari di mana keberadaan sang majikan. Pandangannya tertuju pada sosok gadis kecil yang sedang meringkuk kedinginan di bawah pohon. Segera ia menghampiri nona mudanya dan bertanya. "Nona ...,"  panggil Jonghoon sambil menepuk bahu Sohyun dalam kondisi yang telah basah kuyup tersebut.


Sohyun yang semula tertunduk, mengangkat dagu, matanya sembap dan air mata kian meleleh bercampur hujan. Sohyun gegas berhambur memeluk Jonghoon.


     "Saya minta maaf Nona, saya..."


     Belum sempat Jonghoon melanjutkan kata-katanya, Sohyun langsung menangis keras dan mengatakan kalau Taehyung jahat padanya. Jonghoon yang mengerti pun lantas segera membawanya pulang karena hari sudah mulai gelap. Tubuh mungil itu makin gemetaran, menahan isakan tangis sekaligus hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang.


    Sohyun terbaring di jok belakang, diam membisu tanpa daya. Tubuhnya serasa mati rasa. Netranya kian terasa berat, memperhatikan langit yang menggelap, tanpa cahaya, bagaikan momok menakutkan, air matanya meluncur berlinangan, sebelum perlahan-lahan tertutup rapat.