Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 23 : Kelaikan



      Sohyun tak  mafhum, muskil menerka seperti apakah jalan hidup yang akan ia lalui esok. Pada esok yang buram teraba akal. Bahkan hari ini pun, rasanya sulit mencoba untuk bersikap tegar seperti biasa yang ia perankan. Dari hari ke hari, pelan-pelan mulai terlihat sosoknya yang menyusut dipenuhi luka. Sohyun masih membisu di punggung lebar lelaki itu, membiarkan dirinya dibawa pergi, bari menghidu dalam-dalam campuran aroma bergamot, amber, dan neroli yang melekat di tubuh Taehyung. Sahabatnya itu melihat semuanya; menyaksikan sisi dirinya yang tersembunyi. Taehyung tak mengatakan apa-apa padanya. Sohyun takut membikin kerusuhan di dalam otak pemuda itu, yang ia tahu telah berhasil ia buat rusuh juga berantakan. Menit lalu, tanpa persetejuan lebih dulu,  Taehyung mengangkat paksa tubuhnya dari kursi roda, menggendongnya ke luar ruangan Jaehyun dan kokoh—enggan bicara hingga di detik ini. Tak bisa mengelak, bahwa kini rasa bersalah menggayut dalam hatinya yang sedu.


      Taehyung terus berjalan, langkahnya konstan, menghiraukan bagaimana pasang-pasang bola mata menatap ke arahnya penuh tanda heran, lebih-lebih pada perempuan yang ada di gendongannya itu. Jujur, kacau balau pikirannya. Semua lontaran kata-kata yang didengar menjubeli perasaannya.


      "Kau ingin membawaku ke mana?" Pada akhirnya, Sohyun harus bertanya, lantaran Taehyung berjalan, namun berlawanan arah dari ruangannya dirawat, Taehyung membawanya ke luar—menjauh dari keramaian rumah sakit.


       Pria itu memberhentikan laju kakinya. Melempar senyum kecil sembari melirik wajah kebingungan yang melekat di wajah putih Sohyun. "Ke suatu tempat."


       Walau jawaban yang diberikan Taehyung sama sekali tidak mengendurkan pendar kebingungannya, Sohyun menurut saja. Ia tidak ingin semakin membuat runyam suasana hati lelaki itu. Ia duduk di samping kemudi, mata safirnya mengamati gerak lari tergesa ke sisi kiri, gegas menstarter mobil, menuju suatu tempat yang tak Sohyun ketahui alamatnya.


       Perjalanan cukup menyita waktu. Sekali lagi, Taehyung belum ada niatan memberi tahu perempuan di sebelahnya, perihal arah tuju mereka. Sohyun segan bertanya, namun bohong, karena kini ia mulai diserang penasaran akut. Kuriositas Sohyun bertokok. Baginya perjalanan ini terasa jauh. Satu jam di dalam mobil, selama itu pula, jejeran gedung telah tersisihkan oleh barisan pepohonan lebat. Bukan rute menuju rumahnya di bukit, bukan pula jalanan menanjak ke taman rahasia mereka—semakin jauh dari yang ia kira.


      Barulah beberapa menit kemudian, mereka tiba. Kernyitan Sohyun tetiba muncul membaris rapi di dahinya, melihat penampakan bangunan sederhana di depan mata. Sebuah gereja kecil di pinggiran pemukiman. Kepalanya menoleh ke samping kiri, ditatapnya iris cokelat Taehyung yang dibubuhi pendar menyejukkan. Seolah tahu apa yang kini menjalari pemikirannya akan tujuan Taehyung membawanya kemari.


       Sohyun lekas turun dari mobil dibantu Taehyung yang tak lelah berada di sisinya. Lelaki itu dengan telaten dan amat hati-hati menopang tubuh ringkihnya yang hanya berbalutkan kulit tipis sebagai pembungkus tulang-tulangnya.


       Taehyung membopong Sohyun memasuki gereja yang tampak senyap, letaknya terpencil di bawah lembah pedesaan. Entah dari mana Taehyung mengetahui tempat ini. Untuk seorang Kim Taehyung yang sudah belasan tahun menetap di negeri orang.


       Tak jauh berbeda dengan suasana di luar, dalam gereja tak dijumpai satu makhluk pun, hanya ada berderet-deret bangku panjang menghadap mimbar yang kosong. Sohyun dapat memakluminya, ini hampir tengah malam, waktu utama untuk beristirahat dan Taehyung memanfaatkan kesempatan itu untuk membawanya datang ke sini, meninggalkan Soyoon sendirian dalam penjagaan sang pengasuh pribadi.


      Mereka duduk di lajur bangku paling depan. Berdampingan dengan ketam jari yang saling merapat. Sohyun terenyuh memandang sekelilingnya. Air matanya terjun bebas, dengan getar bibir yang tak sanggup mengucap kata. Linangan cairan bening darinya cukup menjelaskan betapa haru perasaannya sekarang ini.


        "Tidak ada yang mustahil, Sohyun. Kita masih memiliki Tuhan," Taehyung membuka suara, sama seperti yang Sohyun lakukan, oniksnya memperhatikan tanda salib besar di depan mata penuh kesima.


         "Kau tidak boleh menyerah. Aku akan berdoa pada Tuhan sepanjang waktu untuk kesembuhanmu. Di sini aku ingin memberitahumu, jika kau tidak berjuang sendiri," sambungnya kian erat menggenggam jemari tangan Sohyun yang gemetaran.


       Gadis itu semakin sulit menelurkan kata dari mulutnya.  Ia bukan Sohyun yang biasa dilihat, semuanya mengabur, menyisakan dirinya yang merasa malu di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi dirinya yang pongah dengan jejal kepura-puraan. Dia Kim So Hyun yang apa adanya ... tanpa ada topeng buatan yang melapisi kulit datarnya.


        Mata gadis itu rapat terpejam dengan kepalan kedua tangan yang terpaut erat. Hatinya merusuh, debaran jantungnya bertalu sepanjang jalannya doa yang ia dengungkan di dalam gereja. Taehyung memilih menjaga jarak, menjauh dari Sohyun. Memperhatikan gadis itu duduk khidmat dengan aktivitas kerohanian. Tidak tahu apa yang diucapkan Sohyun, Taehyung tak mampu mendengar jelas. Hanya saja, kedua bahu gadis itu bergerak naik-turun, mengindikasikan Sohyun dirundung tangis.


🔔


       Wajahnya mencerah. Sohyun merasakan lega ketika berhasil mengutarakan kelumit kesah di hadapan Tuhan. Mungkin tak semuanya, bibirnya kadung terbungkam saban kali mengingat hari-hari lalunya yang dianggapnya kelabu. Ia pun sadar, bahkan tanpa perlu berbicara panjang-lebar, Tuhannya telah mengerti, melebihi dirinya yang masih rabun mengenal diri.


         "Sudah merasa lebih baik?"


         Sohyun menoleh, menelinga suara berat pria yang berjalan mendekati. Malu-malu kepalanya terangguk sambil tersenyum mengamini. "Terima kasih."


        "Hanya terima kasih saja?" sambut Taehyung jenaka, ia duduk di sebelah perempuan itu. Memperhatikan rona cerah Sohyun.


        "Kau ingin aku menjawab bagaimana?"


        Taehyung mengulum tawa geli, mengulurkan tangan mengusap surai  legam Sohyun. "Cukuplah tersenyum seperti barusan dan jangan menyerah lagi."


         Hela napas panjang Sohyun mengudara lagi. Bersirobok pada manik mata Taehyung yang dibubuhi harap. Kata Taehyung, cukup tersenyum dan jangan menyerah. Apa itu sungguh cukup baginya? Sohyun benar mengulum senyum, lagi dan lagi. Sungguh ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Salah satunya karena Taehyung. Lelaki yang tak menunjukkan sorot kasihan yang ia benci, Taehyung masih memperlakukan dirinya seperti waktu-waktu lalu. Walau tak dapat memungkiri, bagaimana rasa rupa dalam lubuk hati Taehyung sendiri. Mudah bagi seseorang untuk menebak-nebak, tapi, apakah tebakan itu benar sesuai realitas yang ada?


          Tidak ada yang tahu perihal apa-apa saja yang berkelebat dalam benak manusia lainnya, Sohyun akui, ia acap kali menduga dan baru berani berucap dengan nada sumbangnya selepas berpikir lumayan keras, memeras otaknya yang konon dianugerahi IQ di atas rata-rata. Ia tetap tidak tahu, barangkali ... dengan ketidaktahuan itu, ia semakin menjaga diri dari berprasangka.


        "Lain kali, kita akan datang kemari. Bertemu dengan Suster Elizabeth, dan Biarawati Yoo."


        Gadis itu menganggukkan kepala setuju. Taehyung telah bercerita sedikit tentang suster-suster yang tinggal di asrama dekat gereja.


        Taehyung bertemu dengan Suster Elizabeth tanpa sengaja, ketika di rumah sakit beberapa hari lalu. Saat dirinya menangis di atap sendirian, di tengah serbuan angin malam. Wanita baya semuran ibunya mendatanginya, dengan pakaian identitas seorang suster. Memberikan nasihat dan arahan padanya yang dirundung nestapa. Hingga pada akhirnya menganjurkan Taehyung untuk berkunjung ke gereja dan berinisiatif mengajak Sohyun datang kemari.


         "Tae ..." Sohyun memanggil lirih.


         "Ya?" tanggap Taehyung cepat, menantikan susun silabel keluar dari bibir mungil Sohyun.


          Sohyun mengeret napas panjang, air mukanya berubah melas, dengan simpul tangan yang melekat pada permukaan telapak tangan Taehyung. "Bisakah kau antarkan aku ke rumah saja?"


          Wajahnya sampai mengernyit, Taehyung mengharap rungunya salah dengar. Namun Sohyun kembali bersuara, "Aku tidak ingin ke rumah sakit lagi."


🔔


      Tepat pukul dua belas malam, mobil Taehyung mendarat di pekarangan luas rumah orangtuanya. Dari depan muka pintu, Jaehyun menunggu. Kakinya mengentak lantai, memberengut bersandarkan pada tiang kanan utama.


        Pemuda yang sudah lama dinantikan kedatangannya turun dari dalam mobil. Tak lama, Sewon dan Haeyoung muncul dari balik pintu usai mendengar derum kendaraan. Tergopoh menghampiri si bungsu yang mengerut dahi kebingungan.


        "Sebenarnya kau ke mana saja, Taehyung? Kami semua cemas sejak kejadian kemarin, tolong jangan seperti ini. Setidaknya beri kabar." Sewon tak dapat tenang. Sebagai ibu, ia amat khawatir.


         "Bagaimana kalau masih ada orang-orang yang akan berniat jahat padamu? Kau tentu tidak ingin membuat Sohyun sedih, bukan?" ayahnya menimpali.


         Taehyung yang diberondong pertanyaan ibu dan ayahnya tersenyum separuh. Sisanya ada perasaan nyeri menggigit hati kecilnya. Orangtuanya belum memgetahui perihal keadaan Sohyun. Ia dan sang kakak kompak merahasiakannya.


         "Kalian tenang saja, aku sudah memastikan orang-orang yang terlibat dengan kasus kemarin tertangkap. Tadi ... ada urusan mendadak dengan Komisaris Jung."


Keluarga itu sedikit berbincang, sebelum mengistirahatkan diri. Sebab hari telah larut malam, orangtua mereka ke kamar, mungkin untuk tidur, lantaran kecemasan berlebihan mereka, sejak tadi mereka terjaga di ruang tengah, menantikan kepulangan putra kedua mereka.


        Kini, tinggalah Jaehyun dan Taehyung yang saling memandang di kursi yang berseberangan. Pandangan tak bersahabat diberikan Jaehyun yang masih kesal, karena Taehyung membawa lari Sohyun.


         Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Taehyung gegas berinsut dari sofa, mengabaikan kehadiran sang kakak yang memandangilnya jengah.


          "Kau membawanya ke mana? Ingat Taehyung ... Sohyun butuh perawatan—"


         "Kak," sela Taehyung, menghadapkan muka ke arah Jaehyun. "Sohyun akan baik-baik saja."


         Jaehyun jelas tidak mudah percaya begitu saja. Ia amat tahu seperti apa parahnya beberapa penyakit yang sudah lama menggerogoti tubuh Sohyun. Ia berang, seolah Taehyung meremehkan kondisi Sohyun yang sewaktu-waktu dapat kolaps.


           "Apa yang kalian lakukan sebenarnya? Dia tidak sedang baik-baik  saja, Tae. Tidakkah kau tahu, gadis itu tengah sekarat?!" Kedua tangannya menarik nia pakaian Taehyung, mencengkeram kuat hingga renyuk.


          "Aku mungkin tidak tahu seberapa parah kondisinya sekarang ini. Aku bukan dokternya, aku bukan kakak, aku hanyalah sahabat yang percaya bahwa Sohyun masih punya harapan," bisik Taehyung.


         "Apa yang dikatakan Sohyun padamu? Pasti dia berulah lagi, kan? Katakan sesuatu!"


          Taehyung menyeringai tipis. Merenggangkan cekalan tangan Jaehyun dari kerah bajunya. Tatapan mata sang kakak membuat Taehyung senak.


         "Kau memang tidak bisa menyembunyikannya dariku," ujarnya lirih. "Kau menyukai Sohyun?"


         Klausa sember Taehyung seolah mengentar hati Jaehyun.


        "Itu ..." Pria itu mulai gegap.


        "Meski Kakak tak mengatakan apa-apa padaku, aku bisa merasakannya. Tatapanmu berbeda. Beberapa kali aku terus memperhatikannya saban kali kau melihat ke arah Sohyun."


        Jaehyun tertegun di tempat, menatap wajah Taehyung yang tak lagi polos. Seakan ada luka menimpa kulit pipinya yang merah. Taehyung lekas berlalu dari sisi Jaehyun yang tergugu tak mengucap kata. Jaehyun hanya mampu tertunduk lunglai.


🔔


       Aneh. Bagi Sohyun terasa ajaib bisa semeja dengan Yoon eun yang tak mau menanggalkan senyum yang merajut memenuhi muka. Lebih-lebih, pada Han Woojin yang entah sejak kapan tinggal serumah dengan mereka. Sohyun merasa seperti memiliki keluarga sungguhan. Ada seorang ibu, ayah, dan ia kebagian jatah menjadi anak. Menggelikan. Perlukah sekarang ia berperan menjadi putri yang bersikap manis dan penurut?


        Pastilah ada sesuatu yang terjadi antara mereka, sayangnya Sohyun belum berkeinginan untuk mencari tahu. Ia lebih disibukkan dengan kepulan asap makanan berkuah di depannya. Tengah menari-nari akrobatik ditemani angin.


         Kepulangannya semalam dihadiahi raut kejut Yoon eun. Sohyun tak akan melupakannya, melupa pada ekspresi lucu sang ibu yang menbelalang di balik pintu dengan tas besar berisi sandang pakaian. Menjadikan Yoon eun membatalkan niat ke rumah sakit.


           "Apa kau sudah merasa lebih baik?"


          Sohyun mendilak, manakala suara berat Woojin bertanya ramah mendekati akrab. Secara otomatis mengganggu aktivitasnya memandang makanan di atas meja.


        "Aku selalu baik, orang-orang di sekitarku saja yang selalu bertingkah berlebihan."


         Woojin tertawa sumbang, tangannya terangkat dengan batang jari-jari yang menggaruk di belakang kepalanya. Kikuk, ia malu—merasa salah melontarkan pertanyaan. Yoon eun yang duduk di sebelahnya, tak sungkan menyenggol kakinya seraya berkata, "Maklumilah Sohyun, memang seperti itu lagak lagamnya. Kau harus siapkan kesabaran menghadapi sikap Sohyun yang semaunya."


        Sohyun tersenyum tipis, enggan menggubris. Atensinya hanya tertumbu pada makanan yang merengek untuk segera dilahap. Perempuan itu seakan merasa telah lama tak menjejali perutnya dengan makanan. Alhasil, dua orang yang duduk semeja dengannya itu hanya menjadi tak lebih dari penonton. Bagi Yoon eun tidak ada yang lebih membahagiakan melihat Sohyunnya telah kembali. Kendatipun, ia harus menahan diri dengan tingkah menjengkelkan putri angkatnya tersebut. Ia telah membulatkan tekad, untuk memperbaiki hubungannya dengan Sohyun. Mengabaikan raut kebingungan Woojin yang kental membanjiri per inci di sudut wajah pria itu.


🔔


       Ada tiga permintaan dari Sohyun. Seperti anak kecil yang baru saja memenangkan pertaruhan, gadis itu dengan sementang, memberikan penawaran baru untuk Yoon eun. Ia ingin lekas mengakhiri semuanya. Berdamai dengan waktu demi menyembuhkan luka yang ia buat. Woojin telah kembali, dan sampai sekarang pun benaknya belum mau mengambil keputusan mutlak. Sohyun tidak pernah mengira, bahwasanya hari ini datang lebih cepat dari dugaannya.


         Keinginan terdahulunya seakan luruh kemudian sirna mengangkasa. Ia memaafkan Yoon eun. Apalagi, usai mendengar penjelasan Han Woo Jin yang menyelinap ke ruangannya kemarin siang. Sohyun kehilangan kemampuannya untuk mendendam, dirinya sendiri pernah berkata, jika dirinya bukanlah orang baik, karena tidak bisa bersikap sopan di depan orang yang lebih tua daripadanya (Hwang Yoon Eun). Sohyun hanya dapat mentertawai wujudnya sekarang, tidak lebih dari gadis lemah yang sekarat. Tinggal menanti ajal tiba, pikirnya, jika saja Taehyung tak menyemangatinya semalam, mungkin hari ini ia akan merencanakan hal berbeda dengan yang apa dilakukannya kini.


        Permintaan pertama Sohyun cukup sederhana : ia ingin masuk kuliah lagi.


        Berminggu-minggu tak ada kabar, dan melewatkan banyak kelas, sudah cukup membebaninya. Sohyun rindu, merindukan tatapan menghunjam yang ditujukan padanya. Entah dengan sekarang, apa akan sama seperti waktu lalu, ataukah berbeda dengan keadaannya yang sekarang?


        Dari balik jendela kaca mobil, Sohyun duduk damai memandang tiap-tiap apa yang tersuguh di depan mata. Netranya berbinar melihat sekumpulan manusia di luar sana, tengah menikmati salju pertama yang turun. Musim gugurnya telah berakhir.


        Jonghoon yang tak pernah absen memindai gelagat Sohyun tersenyum dalam diamnya. Pria itu dapat menebak, jika suasana hati majikannya tengah baik. Ia mampu melihat pun merasai aura berbeda yang memancar dari Sohyun.


        "Fokuslah pada jalanan dan berhenti memperhatikanku, Paman." Sohyun bersuara tanpa menoleh, sedang tatapannya tenang, mengarah pada sisi jalanan yang mulai memutih berasak.


          Tubuh pria itu sampai menegak tegang, percuma bersikap normal, Jonghoon sadari tindakannya berlebihan. Lebih memalukan lagi, dirinya ketahuan.


         "Maafkan saya, Nona," sesalnya kemudian.


        Dari luar, Sohyun mungkin tampak acuh dan tak santun terhadap lawan bicaranya. Namun Jonghoon lebih tahu siapa Nona Mudanya itu, yang sering kali peduli walau secara sembunyi. Mereka bisu dalam pembahasan pribadi. Hening datang seiring berlalunya waktu, di depan mulai terlihat  bangunan gudang yang biasa dijadikan isyarat, tanda bagi Jonghoon agar berhenti dari tugasnya menyetir. Jonghoon sampai menengok ke belakang, guna melihat Sohyun, perlukah ia berhenti ataukah tetap melanjutkan jalan mengingat kondisi Sohyun yang tak sama seperti minggu-minggu lalu.


        "Kali ini lakukan saja, aku tidak akan marah padamu."


        Seakan-akan mengerti isi kepala Jonghoon, Sohyun memberikan izin yang jarang terucap tanpa keraguan sedikitpun. Ia akan datang sebagai Kim So Hyun, tak peduli bagaimana tatapan mata orang-orang yang sudah pasti bersiap menelanjanginya.