
Matahari telah membenamkan diri di antara lipatan cakrawala. Bergulir, terhimpit semburat kemilauan sang senja. Hujan yang datang berkunjung di penghujung sore berlalu begitu cepat, mentari yang awalnya malu-malu bersembunyi di balik lebat awan kelabu, perlahan memancar sinar sebelum tidur ke peraduannya. Beralih tugas pada bulan dan gemintang menyergap angkasa malam.
Seperti Taehyung yang berubah drastis dari malam-malam sebelumnya. Tak tenang. Dalam kamar pribadinya, pria itu bergerak resah, tak henti mengacau rambutnya yang kian berantakan di atas kasur tempat tidurnya. Sejak kepulangannya mengantar Sohyun pulang, pikirannya menjadi semak, tidak keruan lagi rasanya.
Masih membekas dalam otaknya. Bahkan adegan tak senonoh itu terus berputar; terulang-ulang mengusik relungnya yang berjejal sesal. Ciuman yang tidak seharusnya terjadi, yang tidak sepatutnya ia lakukan pada sahabatnya itu berakhir menyesakkan hatinya sendiri. Adalah sebuah kebodohan mutlak, ketika Taehyung tidak mampu menguasai diri, dan lepas kendali.
Namun di balik semua itu, ada kelumit ketidakpercayaan Taehyung atas aksi timbal balik yang dilakukan Sohyun terhadapnya. Tak pernah menduga kecupan lembut nan singkat itu menyapa bibirnya yang sudah jelas tak siap. Pikirannya mengawang, belum benar-benar bisa memahami situasi yang menjerat mereka.
"Haruskah aku menghubunginya?" Taehyung bermonolog di depan cermin, wajahnya kelihatan kusut sekarang. Taehyung bimbang.
Sejurus lamanya, tangannya menjamah ponsel yang acap kali berdering. Sudah ada enam panggilan yang masuk ke nomornya sejak pulang, dan satu pun belum menunjukkan tanda-tanda jika sahabatnya akan menelepon dirinya. Kalaupun itu benar, Taehyung sudah pasti akan merasakan canggung luar biasa. Tidak akan sanggup merangkai kata untuk membalas omongan Sohyun ujungnya.
"Tidurlah dengan tenang. Anggaplah itu hanya imajinasimu saja, Kim Taehyung. Ya, sekadar imajinasi."
Ia berbangkit, mondar-mandir semakin menggila. Disentuhnya bibirnya yang basah, seolah rasa bibir Sohyun telah melekat dalam mulutnya. Bahkan sengaja Taehyung menanggalkan sikat gigi rutinnya setiap kali mandi. Rasa manis, beraroma min segar merayapi sebagian dinding mulutnya. Ia menyukainya aroma tersebut. Hingga merasa candu. Dan hal itu kian meperjelas yang dilakukan Taehyung sore tadi bukanlah imajinasinya, itu adalah kenyataan. Bukan khayalan.
"Sejak tadi ibu terus memanggilmu—"
Spontan Taehyung menelengkan kepala, kaget melihat wujud sang ibu, tetiba muncul di dalam kamarnya. Berkecek pinggang menyirat penasaran pada dirinya.
Sewon berdiri sejajar di sebelah putra keduanya. memandang wajah tak bersemangat itu melalui pantulan kaca. "Apa yang kau lamunkan?" tanyanya.
"Tidak ada."
Sewon maju selangkah, mengamati sesuatu yang aneh menimpa kulit putih putranya. "Sungguh tidak ada? Kau sedang tidak enak badan ... pipimu memerah."
Taehyung menurunkan tangan ibunya. Sejurus ia berucap, "Ibu ada-ada saja. Sudah aku bilang, tidak ada apa-apa!"
"Kalau tidak ada apa-apanya, kenapa jawabanmu ketus sekali?"
"Bu..."
Sewon tertawa kecil, mendapat kilat sebal dari Taehyung. Lantas merangkul anaknya keluar kamar. "Suara ibu hampir habis memanggilmu untuk turun ke bawah. Makan malam sudah siap sejak tadi."
Taehyung mendeham saja digeret paksa. Siapa tahu dengan begitu, pikiran semrawutnya akan sirna untuk sementara waktu.
🔔
Di lain sisi, yang terpisah jarak dan ruang, pria itu menatap gadis di depannya kelam. Belum ada yang mampu ia ucapkan pada pasiennya yang tampak diam menunggunya bicara. Jaehyun seakan bingung harus memulai dari mana obrolan mereka.
Sohyun terdiam tak beriak di kursi yang biasa ia duduki. Tercenung dengan bibir membiru menahan dingin yang menggerogoti. Baru lima menit yang lalu ia menginjakkan kakinya pada sebuah kafe sekaligus kedai wine di pinggir jalan. Sengaja datang membuat janji dengan Jaehyun. Kini, lelaki jangkung itu sudah ada di hadapannya. Mengamati raut sendunya yang terbebang.
"Aku butuh teman curhat." Pada akhirnya, Sohyunlah yang membuka suara, merasa pertemuan ini adalah atas permintaannya.
"Curhat soal apa?" Jaehyun menanggapinya dingin, sembari menyesap zinfandel di gelasnya. Hanya dua tegukan, tidak lebih, sebelum intens memandang Sohyun yang turut menyeruput teh tawarnya.
"Tadi sore kami berciuman."
Jaehyun memejam mata. Kalimat blak-blakan Sohyun menjadikan darahnya memanas. Ciuman gadis ini bilang?
"Jika tidak ada hubungannya denganku lebih baik cerita yang lain saja," balasnya sedikit acuh tak acuh.
Sohyun tersenyum selintas. Pandangannya mencerah melihat rona murka si pria. "Tentu ada hubungannya. Kau adalah kakaknya, dan aku adalah pasienmu. Aku rasa itu cukup jelas. Dokter punya ikatan di antara kami."
Pria itu terkekeh pelan. Mereguk sekali lagi wine tersebut. "Kau mirip zinfandel putih ini!" ucapnya kemudian. Menuang sisa cairan anggur dalam botol ke dalam gelas kacanya. Lalu meminumnya tanpa ragu.
"Mudah berubah-ubah rasa. Kau sudah lupa apa yang kau katakan kemarin? Bagaimana bisa dua orang seperti kalian saling bersandiwara sebagai sahabat? Sangat lucu."
"Jangan cemburu, apa lagi iri." Sohyun menahan tangan kekar Jaehyun. Mengisyaratkan agar lelaki itu berhenti minum. Karena ia tidak akan mau bertanggung jawab menggotong tubuh besar Jaehyun, kalau-kalau manusia di hadapannya itu mabuk berat.
"Kau benar-benar tidak tahu malu!" Jaehyun mencibir, mengempas tangan Sohyun. "Dasar 'Bunglon', kau pikir siapa kau?" sambungnya makin kasar makian yang ia lontar.
Sohyun tersenyum saja dikatai begitu. Sudah sangat biasa baginya mendapat meriam cerca dari para mulut berbisa. Namun Jaehyun berbeda. Lelaki itu punya kata-kata yang selalu membuatnya terlihat hidup.
Sepintas ia memperhatikan raut hampa di wajah sang dokter, ada sesuatu yang menarik keingintahuannya pada sosok lelaki yang tua delapan tahun di atasnya itu. Kim-Jae-Hyun, ia eja nama pria itu dalam hati. Lamat-lamat ia pandang kelakuannya.
"Rupanya kau mabuk sungguhan. Aku yakin kau sudah minum banyak sebelum kedatanganku kemari," ujar Sohyun, setelah melihat gelagat Jaehyun yang tak biasa.
"Jika iya, memang kenapa? Apa aku tidak boleh minum seperti yang lain?"
Lelaki itu menyahut, sedikit meracau dengan gebrakan kecil pada meja kayu. Tak mengelak bahwasanya ia betul terkontaminasi alkohol yang terdapat di zin delicato miliknya. Kebiasaan minum adalah hal wajar di kalangan orang dewasa.
"Kau seorang dokter, Kim Jaehyun."
"Lalu?"
"Berhentilah minum."
Ia terkikik saja, mengacak rambut Sohyun seperti anak kecil. Menepikan helai panjang yang mengganggu penglihatannya pada wajah tak berekspresi itu. Pasiennya selalu terhanyut dengan kebiasaannya bermuka datar. Tuhan teramat kejam mempertemukan dirinya pada perempuan tak berhati tersebut. Sangat jahat menimpakan rasa cinta yang hanya akan membuatnya sakit saja.
Jaehyun bahkan berharap dalam ocehannya, agar Tuhan segera mencabut nyawa Sohyun, supaya tidak ada seorang pun yang dapat memiliki gadis itu. Termasuk Taehyung. Pria itu tanpa malu, mengatakan betapa egoisnnya Sohyun hari ini, tak ada perasaan bersalah akan sakit hatinya disebabkan wanita itu.
Sohyun tertegun. Selama setengah jam ia habiskan hanya untuk memperhatikan tingkah Jaehyun yang sedang dilanda mabuk. Ia pasang telinganya lebar-lebar, dengan sangat baik, begitu presisi mendengar segala perkataan yang keluar dari Jaehyun, tidak ada satu kata pun terlewat-terekam jelas dalam ingatannya berikut segala umpatan yang ia terima.
"Kau menyuruhku untuk menjauhi minuman beralkohol, tapi kau justru memamerkannya tepat di depan mataku." Ia berujar lirih. Menopang dagu, memandangi wajah merah yang tergeletak di atas meja.
"Aku tidak peduli." Jaehyun kemudian bangkit setelah mengucapkannya. Mengeluarkan pecahan uang kertas bergambar cendekiawan bernama Yi Hwang di meja. Pria itu berjalan pelan, berniat akan keluar dari kedai.
Seutas senyum menghinggap di wajah Sohyun. Melirik selembar uang. 1000 Won yang diberikan Jaehyun tidak bisa dibilang cukup untuk membayar teh apa lagi dua botol winenya. Maka ia ikut berdiri, menggeledah tas bututnya, mengambil sepuluh lembar lima puluh ribuan sekaligus.
Ia berjalan pelan, mengikuti langkah gontai Jaehyun yang tak ia ketahui ke mana arah tujuannya. Ia hanya diam sembari mengawasi gerak-gerik lelaki mabuk itu dari belakang.
Dipandangnya arloji putih di tangan, melihat jarum jam terus berputar. Nyaris pukul sembilan malam.
Serbuan klakson kendaraan menerpa gendang rungunya. Sohyun mendongak, melenguh sejenak. Tampak Jaehyun menyeberang jalan tanpa melihat panduan lampu lalu lintas. Segera ia mempercepat langkahnya, menghampiri Jaehyun yang malah makin menjadi dengan racauannya. Berkiblat pada lagu lagu Led Zeppelin, Jaehyun bernyanyi menyerupai orang gila di tengah jalan. Pria itu bisa saja akan ditimpuki barang, jika terus berkelakar sepanjang jalan yang ia lalui.
Sohyun telah memegang lengan Jaehyun. Nyaris tumbang tubuh pria itu menyapa aspal licin yang masih basah.
"Aku bisa menabrakkan diri saat ini juga, jika kau benar ingin melihat malaikat maut mencabut nyawaku."
Jaehyun memandangi wajah tenang perempuan yang menyangga berat badannya. Melihat keberanian yang terpancar tanpa ada rasa takut melintasi ekspresi Sohyun.
"Aku tak bisa," dia berkata, "Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."
Refleks Jaehyun mendekap erat Sohyun. Menenggelamkan wajah mungil itu dalam dadanya yang bergemuruh. Ia ingin Sohyun dapat mendengarnya, menelinga detakan jantungnya yang mencepat ketika wanita itu berada dekat bersamanya.
🔔
Sementara di sana, kedua tubuh yang lekat membeku perlahan meregang ketika Jaehyun berselonjoran di aspal, berdaham hendak muntah.
Sohyun awalnya tak berniat peduli. Namun melihat itu membuat hati nuraninya tergugah. Pelan ia menepuk punggung Jaehyun usai menyeretnya ke pinggir jalan. Karena sejak tadi tingkah mereka yang berdiri di tengah lalu lalang kendaraan membuat sebagian mengklakson gaduh.
"Sohyun..."
Seseorang memanggil namanya. Suara berat seorang pria yang tak asing lagi dalam indranya. Sempat Sohyun membulatkan mata lantaran terkejut. Sesaat ia diam, mengatur napas seraya berbalik badan menghadap Taehyung.
Pria itu berjalan mendekat ke arahnya, menarik tubuh sang kakak yang mulai sempoyongan di tengah ketidaksadarannya.
"Kau ikutkah semobil denganku," katanya kepada Sohyun. Sedangkan, Jaehyun sudah beralih tangan padanya.
Tak banyak yang bisa dikatakan Taehyung, meski sekarang ini ada begitu banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya. Tentang kedekatan dua manusia yang sama-sama berarti dalam hidupnya. Sohyun dan kakak laki-lakinya, Kim Jaehyun.
Taehyung menidurkan Jaehyun di jok tengah dalam mobilnya. Sohyun masih menunggu di luar, meragu untuk ikut ataukah meminta izin pulang sendirian.
"Kau duduklah di depan. Sekalian ... ada yang ingin aku tanyakan."
Dia mengangguk setelahnya. Sohyun berasumsi jika Taehyung mulai terhinggap penasaran akan dirinya dan Jaehyun. Maka ia segera masuk sesaat dibukanya pintu depan mobil. Taehyung menutupnya, berlari kecil ke sisi kiri untuk mengemudikan mobilnya. Entah akan dibawa ke mana.
🔔
Lima belas menit berjalan tanpa suara ketiga makhluk di dalamnya, wajar saja Jaehyun telah jatuh terlelap dengan kantuknya, namun beda hal dengan sepasang manusia yang duduk berdampingan itu. Taehyung terlihat fokus menatap jalanan yang dilalui. Sohyun jangan ditanya, perempuan itu terlihat diam, walau kenyataannya otaknya tengah mengawang ke berbagai sudut benaknya yang tak mau diam memikirkan apa saja yang melintas. Setiap waktu, di tiap hela napasnya, otaknya yang rumit bekerja keras, tanpa mengenal waktu.
Di depan rumah sakit SeonGyu. Sohyun sempat melirik Taehyung, yang akan memutar setir ke arah basement rumah sakit.
"Dia akan terkena sanksi bila kau membawanya ke sana dalam kondisi mabuk."
Mendengar itu, Taehyung segera menepikan mobil di bahu jalan. Ia menatap Jaehyun yang mendengkur di belakang sana, sebelum mengarahkan pandang pada Sohyun yang menatap lurus ke depan.
"Dia kakakku, Kim Jae Hyun, seorang dokter."
Sohyun tidak akan berpura-pura terkejut seakan ini pertama kali ia mengetahui status Jaehyun. Gadis itu menanggapinya dengan senyum di bibirnya. Taehyung mengangguk, paham bila Sohyun sudah mengetahuinya.
"Akan lebih aman membawanya pulang ke rumah." Sohyun berujar lagi.
"Ya. Kau benar, Sohyun."
Mobil melesing lagi, Taehyung segera memutar arah, meninggalkan area rumah sakit ke kediamannya.
🔔
Begitu tiba di rumah, Taehyung lekas membopong tubuh Jaehyun ke dalam kamar. Sementara Sohyun ia suruh menunggu di dalam mobil. Berhubung ini hampir tengah malam, ia tidak ingin kalau sampai kedua orang tuanya mengetahui kakaknya pulang dengan keadaan seperti ini.
Suasana rumah yang terbilang remang, mempersulit langkah kaki Taehyung menuju kamar Jaehyun. Beruntung letaknya yang berada di lantai dasar, membuatnya tak perlu kepayahan menggendong tubuh besar Jaehyun menaiki janjang.
Dibaringkannya Jaehyun di atas kasur, melepas kaus kaki, sepatu, hingga mantel tebal yang menggelung. Bersegera ia menyelimuti Jaehyun.
"Kau hutang penjelasan padaku!" katanya memandang lekat wajah damai Jaehyun. Kemudian pergi dari sana untuk menemui Sohyun yang masih menunggu di luar.
Pria itu mengembus napas lega, sahabatnya tak pergi dan masih setia di dalam sana. Kedua tangan Sohyun bergesekan, menggosok-gosokkan telapak tangan lalu menempelkannya di kedua sisi pipi. Sohyun kedinginan.
Taehyung kembali. Duduk di samping Sohyun yang memandang dirinya berbeda.
"Kenapa melihat wajahku seperti itu? Jangan lama-lama, nanti kau bisa terpesona padaku."
Sohyun menggeleng, ketika Taehyung mulai berkelakar lagi. "Karena aku, kau jadi harus mengantarku pulang."
"Hei, Kim Sohyun!"
"Nada bicaramu berubah."
Taehyung terkekeh mendengar komentar Sohyun. "Aku hanya sedang flu. Cuaca akhir-akhir suka sekali berubah-ubah, tidak peduli musimnya apa, panas dan hujan pun bisa datang semaunya."
"Uhuk... uhuk.... Bahkan sekarang pun aku mulai batuk," imbuhnya terbatuk-batuk.
"Itu bukan batuk sungguhan. Tapi lebih tepat disebut batuk yang disengaja."
Lelaki itu manggut-manggut tak semangat. Ia tak pandai dalam berakting. Baru memulai dan ia sudah ketahuan, itu memalukan baginya.
"Katakan apa yang mesti dikatakan."
Ia bersegera memandang Sohyun.
"Aku tahu, Tae... kau pasti penasaran apa hubunganku dengan Jaehyun."
"Kau benar," dengus Taehyung. Niatnya urung ketika ingin membunyikan starter. Dipandangnya wajah perempuan yang menunggunya untuk bicara. Pantaskah ia menanyakan apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi? Ia khawatir bahkan takut menggayuti dirinya, apabila pertanyaan bersifat sensitif.
"Aku akan menunggumu. Tidak akan memaksamu untuk bicara kalau itu berat untukmu mengemukakannya padaku."
"Hufft..." menghela napas panjang. "Kau ada hubungan apa dengan kakakku?" tanyanya sangat hati-hati. kelebat pelukan itu lagi-lagi muncul tanpa diminta dalam benak Taehyung.
"Kami bertemu tanpa sengaja. Pertemuan yang bahkan tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku," Sohyun membalas pertanyaannya dengan tenang. Mengamati rona ketidakpuasan Taehyung. Tampak pria itu tersenyum kecut.
"Di rumah sakit."
"Hanya seperti itu. Tidak lebih, kan?"
"Memangnya kau ingin kisah pertemuan kami seperti apa?"
Pria itu diam. Tak berkutik. Tidak mungkin juga baginya mengatakan, jika sebenarnya ia cemburu melihat kedekatan Sohyun yang sekilas seperti sepasang muda-mudi yang memadu kasih. Taehyung tak ingin berpikir macam-macam, terlalu jauh akan peristiwa hari ini. Bisa saja, sewaktu sang sahabat sakit, tanpa sengaja kakaknya membantunya di rumah sakit. Tinggal menunggu penjelasan dari Jaehyun. Ia ingin dengar, jawaban seperti apa yang akan diberikan kakaknya itu. Meski Sohyun telah mengatakan dengan gamblang, tetap ada yang mengganjal dalam lubuk hatinya.
"Ini sudah sangat malam. Ah, aku hampir lupa sedang bersamamu. Ibumu pasti akan marah, membawa anak gadisnya pergi di tengah malam seperti ini." Taehyung menepuk jidat. Lalu segera masang sabuk pengamannya.
Sohyun tersenyum sekilas. Ia pergi tanpa seizin Yoon eun. Sudah bisa ia pastikan, wanita itu akan marah-marah lagi padanya, lebih buruk lagi, ia benar-benar akan terkurung lebih lama dibanding beberapa waktu lalu. Sohyun memang tidak akan pernah ambil peduli. Hanya saja, memikirkan Taehyung, membuatnya harus berhati-hati.
"Kau sudah siap? Ayo kita berangkat!"
Mobil menderum halus. Berjalan keluar dari halaman luas nan sepi milik keluarga Kim.