
Gaun pengantin itu merapat sempurna membalut tubuh mungil Sohyun. Sebuah gaun panjang yang dibubuhi renda-renda rumit di tiap ujung potongan kain sutra berwarna putih. Matanya yang berkaca-kaca tak jemu memandangi pantulan dirinya di dalam ruangan ganti. Sohyun terharu, bagaimana seluruh kaca menjurus padanya. Sejak tadi pun ia diam, hanyut melihat tampilan yang berbeda. Termasuk seorang pelayan yang membantunya memakaikan busana tersebut.
Mula-mulanya, tak sedetik pun ia pernah berpikir akan menepi ke dalam butik ini. Setiap hari di sisa waktu sorenya sepulang dari universitas, Sohyun hanya sanggup melihatnya dari jendela etalase. Gaun yang kini menyatu melilit badannya, sudah terpajang dua minggu lamanya. Sejak pertama kali melihat, selalu bayangan itu muncul. Ia ingin menikah.
Tidak seharusnya ia meminta Taehyung melakukannya hingga sejauh sekarang. Berhenti di depan toko dan mengemis ingin dinikahi walau itu bersifat semu belaka. Tapi, memikirkannya lagi, hanya akan menambah pecah kepalanya yang saat ini mulai dibebani rasa sakit. Mati-matian gadis itu bertahan menopang dirinya sendiri demi terlihat baik-baik saja di depan banyak orang.
"Nona sangat cantik. Cocok sekali mengenakan gaun pengantin ini."
Sohyun tersenyum sepintas. "Benarkah?" tanyanya.
Pelayan itu mengangguki, menarik ritsleting yang menutup setengah punggungnya yang polos. Bahwasanya benar perempuan itu tak ada alasan berbohong dengan ucapannya barusan. Pendar matanya menunjukkan kagum melihat gaun rancangan designer ternama itu serasi dikenakan Sohyun.
"Calon suami Nona pasti akan sama terpesonanya. Mari saya bantu, agar dia dapat melihat penampilan Anda."
Sohyun semakin mengembangkan senyum di bibirnya. Ia tak mungkin salah mendengar. Pelayan itu berpikir Taehyung adalah calon suaminya, perlukah ia jelaskan atau membiarkan saja kesalahpahaman ini berlanjut, sedang ia menikmati saat-saat sekarang, di mana ia bisa berlaku seolah dirinya—mereka adalah pasangan serasi pun sungguhan.
Pelan-pelan tangannya terangkat dari tiang besi pakaian. Sedikit gemetar, karena selama hitungan menit, Sohyun harus menopang diri ketika mengganti pakaian ke gaun panjang. Wanita di sampingnya begitu sabar membantunya untuk kembali ke kursi rodanya yang lama menunggu diduduki pemiliknya. Bersiap keluar menemui pria yang sudah pasti menunggu di luar.
🔔
Sementara di ruang tunggu yang lengang, Taehyung sudah rapi dengan potongan busana prianya. Tirai dibuka, bersama punggungnya yang berbalik seketika. Aura berbeda memancar dari matanya yang berkunang, sama seperti Sohyun yang tak sanggup membelenggu rasa bahagia, lelaki itu terpaku. Mulutnya terbuka, melangkah kecil disertai suara berat yang berhasil ditelurkannya sesaat berikutnya. "Kaukah itu ..., Sohyun?"
"Aku bilang apa? Priamu pasti terpana melihat penampilanmu, Nona!" Pelayan di samping Sohyun berseru senang.
Sohyun maju, meraih jeriji dingin yang menggantung lunglai. Meremas erat sebelum memaksa Taehyung agar segera tersadar dari raut bodohnya.
"Tutuplah mulutmu. Kau tidak malu?" Sohyun bergumam pelan. Terkekeh jika mengingat seperti apa ekspresi Taehyung di detik lalu.
"Kau yang membuatku seperti tadi. Itu salahmu!" sanggah Taehyung kikuk.
Cepat-cepat Taehyung menekuk kaki, bersimpuh menghadap Sohyun. "Kau sudah dewasa, bukan lagi Kim So Hyun kecil yang cengeng."
"Kau juga, sangat luar biasa dan ... tampan!"
Dua-duanya cekikilan. Saling berbisik melempar pujian. Ada kalanya dua orang itu bertingkah kekanakan, namun pada hari ini biarkan menjadi hadiah yang sepatutnya dikenang suatu hari nanti. Dua orang pelayan yang berdiri di sana ikut merasakan senang. Sebuah romansa yang tak jarang diperlihatkan pasangan muda-mudi.
Di tengah-tengah buncahan kagum, Sohyun mengarahkan pandangannya pada tas selempang bututnya, benda itu menggeletak di atas sofa, buru-buru ia raih, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sana. Untuk sesaat matanya memejam.
Satu menit.
Perempuan itu membilang dalam hati. Kepalanya turut berpikir singkat lantas mengguman begitu lirih.
Bisakah untuk hari ini saja, Kau izinkan aku melakukannya, Tuhan?
Kalimat yang hanya diketahui olehnya dan Tuhan yang selalu diajaknya bercengkerama dalam doa. Sohyun sungguh ingin melakukan apa-apa saja—keinginan yang selama ini diterungku oleh dirinya sendiri—sekarang diperlihatkan.
Perlahan ia berbalik, memasang senyum tulus. Taehyung menatapnya senang, menanti kursi rodanya mendekat lagi.
"Aku sudah lama memikirkannya. Tentang permintaanku ... maukah kau melakukannya bersamaku, Taehyung?"
Sesungguhnya, saat Sohyun berkata demikian, Taehyung merasakan perasaan takut yang menggigit relung hatinya. Hingga senyum pahit semili detik timbul, gegas tergantikan dengan senyumnya yang lain, yang lebih ikhlas. "Apa pun, apa pun itu, aku akan lakukan demi dirimu."
Impiannya sangat sederhana. Bukan seorang impulsif, namun kali ini puing-puing impian yang pernah dibuangnya, menyatu. Menikah, dengan tapi.
Di tangan Sohyun sendiri, sebuah kamera mirrorless tergenggam. Ia berharap dapat mengabadikan kesempatan ini sebaik yang ia bisa. Seakan tidak akan ada hari lain baginya untuk dapat mengulang.
"Bisakah kau bantu kami memgambil foto? Aku ingin bisa mengabadikan momen ini," pinta Sohyun.
Awalnya mereka terheran, mengapa Sohyun meminta mengambilkan foto, pertanyaan seperti "bukankah mereka adalah sepasang calon pengantin yang akan menikah? "
Kendati bingung, salah satu dari dua pelayan maju, seorang wanita yang sempat membantu Sohyun. Wanita itu dengan senang hati mengangguk, menerima kamera tersebut. Sebenarnya, ia mengenal Sohyun. Fakta yang ia tutupi. Seringkali ia melihat Sohyun melewati butik tempatnya bekerja. Ia melihat Sohyun berdiri lama di depan butik. Sudah enam kali, enam waktu yang tak pernah sekali pun dipakai Sohyun untuk memasuki butik. Wanita itu awalnya tak acuh. Ia abai, merasa bahwa Sohyun hanyalah perempuan biasa yang tak memiliki apa-apa. Pikiran tersebut pun pada akhirnya luruh, kala Sohyun dijemput Jonghoon dan diperlakukan selayaknya orang yang begitu dihormati.
Sohyun bangkit. Ia berdiri bertumpu pada kakinya yang perlahan dapat merasakan pijakan. Taehyung gemetar, terharu melihat perjuangan perempuan itu. Semakin teriris nadinya, saat kedua telapak tangan Sohyun mencengkeram kuat lengannya yang ikut membantu menahan beban tubuh Sohyun. Ia tahu, gadisnya kesakitan sekarang, dan berpura-pura semua baik. Ini tidak hanya menyiksa diri Sohyun, pria itu turut sakit tanpa luka terlihat.
"Dasar keras kepala!" hardiknya, merengkuh Sohyun ke dalam dekap tubuhnya, ketika pertahanan gadis itu limbung tiba-tiba.
"Kau baru tahu?" Sohyun menyahut, lekas berdiri tegak meski masih bergantung pada kukuhnya raga Taehyung. Bagaimanapun, ia harus terlihat baik tanpa membuat orang sekitarnya curiga.
Kamera tepat mengarah pada manusia lawan jenis itu. Senyum tercetak sempurna, membingkai raut bahagia mereka. Sepuluh jepretan yang amat berharga.
🔔
Taehyung pulang malam. Semakin larut hingga berujung pada pukul dini hari. Kian beruntung mengetahui kedua orangtuanya tengah menghabiskan waktu perayaan pernikahan mereka ke Eropa kemarin pagi. Yang didapatinya ketika tiba di rumah adalah suasana hening. Terasa lengang tanpa bising apa pun di dalamnya. Sepi.
Langkahnya memberat di ujung tangga. Ujung-ujung kakinya yang tersembunyi di dalam sepatu pantofel pun enggan maju. Dihirupnya udara dalam-dalam sebelum mengeret napas kuat-kuat. Taehyung berbalik arah, bukan menaiki tangga, melainkan menuruni tangga ruang bawah tanah.
Lampu menyala terang kala sakelar ditekan jari telunjuk. Jejeran rak berisi banyak minuman anggur tertata sedemikian rapinya. Taehyung melangkah santai, memeriksa botol-botol wine dari pelbagai jenis dan merek yang tersimpan bertahun-tahun lamanya. Keadaannya masih bersih, tak ada serdak seatom pun tersua. Ayahnya begitu memperhatikan ruangan ini, sama seperti koleksi beragam buku di ruang kerja atas.
Taehyung masih melihat-lihat rak penyimpanan minuman anggur koleksi ayahnya, Kim Haeyoung. Wine favoritnya adalah Merlot dan chardonnay. Namun kali ini tangannya yang lesu menunjuk yang lain sembari membatin membaca jenis sampanye yang disusun dalam wine cellar. Dimulai dari Veuve clicquot champagne yang paling terkenal. Disusul Perrier jouet champagne, yang memiliki cita rasa lebih manis. Krug champagne, Crystal, champagne, Dom perignon champagne, dan berakhir pada Bollinger champagne.
Ia ingin merasakan rasa lain menggelitik lidahnya. Pilihannya jatuh pada sampanye berlabel Schramsberg Blanc de Noirs yang disimpan empat tahun lamanya. Semakin lama, katanya semakin memudar rasa aslinya yang kental, terganti oleh rasa daging buah kering yang segar nan lembut.
Taehyung lekas duduk mendekati kursi bar, meletakkan sebotol Bollinger champagne-nya di atas meja. Bersiap akan menenggak minuman berakohol yang sebenarnya telah lama tak mengaliri kerongkongannya. Lebih baik dibandingkan wiski yang mengandung kadar alkohol yang tinggi.
"Rupanya kau masih menjadi peminum yang buruk."
Tubuh Taehyung menegang. Suara berat di belakangnya membuat dirinya terkejut.
Jaehyun yang awalnya terbangun dari tidurnya, mengikuti sang adik. Gelagat aneh Taehyung berhasil memicu Jaehyun urung ke kamarnya, dan memutuskan membuntuti Taehyung sampai ke ruang bawah tanah.
"Sejak kapan Kakak ada di sini?" Taehyung bertanya basa-basi, ekspresinya perlahan normal usai keterkejutan melandanya.
"Sejak kau memasuki wine cellar."
Kepalanya terangguk. Kemudian bersiap menuang lagi minumannya. Jaehyun berdecak sinis, datang mendekat dengan sebotol port wine di tangan. Pria itu duduk di sebelah Taehyung, membuka botol tersebut lantas menuangkan pada gelas timpus miliknya.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu datang ke tempat ini, dan langsung minum."
"Kakak terkejut atau tidak suka?"
"Tidak keduanya."
Sesaat Taehyung dan Jaehyun kompak terdiam. Mereka sama-sama larut pada minumannya masing-masing, Taehyung kali ini mencoba merasai sampanyenya dengan benar. Menghirup aromanya dalam-dalam sebelum menyesap dan menelannya pelan-pelan. Ia dapat merasakannya, campuran Pinot Noir yang begitu dominan dan rasa daging buah di dalamnya.
Jaehyun menyesap minuman yang di produksi di Douro valley itu perlahan. Manis, asam dan sedikit pahit di lidahnya.
"Akhir-akhir ini kau sering pulang malam dan sekarang kau minum, tidak biasanya kau seperti ini jika bukan ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
Taehyung memasamkan muka. "Kakak juga selalu pulang larut, bahkan sering menginap di rumah sakit."
Jaehyun mendengkus mendengar kilahan Taehyung. Berpisah belasan tahun, bukan berarti ia lupa seperti apa perangai adik laki-lakinya itu.
"Apa ada masalah? Kau tampak buruk sekarang. "Diletakkannya gelas kosong Jaehyun di atas meja bar. Pandangannya menyusup masuk melihat rotasi manik hitam Taehyung berkelana. "Bahkan kau lebih terlihat tak sadar."
"Apa sangat jelas?" Taehyung menyahut acuh.
"Ya, ada. Pasti ada sesuatu."
Taehyung mengembuskan napas berkali-kali. Memasukkan cairan itu sekali lagi tanpa berani menatap ke arah sang kakak duduk.
"Soal Sohyun."
Lelaki itu tertegun, sorot matanya meredup, berubah kelam. "Seandainya aku tidak mencintainya, apa menurut Kakak, aku akan bersikap seperti ini juga? Mendatangi ruang bawah tanah hanya untuk minum."
"Kurasa iya. Hubungan kalian yang sahabat lebih erat dari pasangan kekasih. Meski aku belum bisa terima, kau memanfaatkan Sohyun, tapi aku pikir, gadis itu sama sekali tak merasa keberatan."
Benar apa yang disampaikan Jaehyun. Sohyun bahkan tak sampai hati murka padanya, karena menjadikannya kekasih pura-pura di hadapan kedua orangtuanya hingga sejauh ini.
"Dia selalu seperti itu." Taehyung berbisik untuk pemikirannya yang baru saja melayang.
Mereka larut pada minuman lagi. Taehyung menghabiskan lima gelas, sementara Jaehyun tak sampai tiga gelas. Jaehyun sadar bahwa ia bukan peminum andal, jika terus dipaksakan, maka kejadian serupa malam lalu akan terulang. Di mana dirinya mabuk di depan Sohyun dan bertingkah semaunya di tengah jalanan kota. Mata elangnya melirik arloji kulitnya, Jaehyun rasa sudah cukup bincang malam mereka, Taehyung juga perlu menjernihkan pikirannya. Ia bangkit berdiri memberesi gelas dan botolnya.
"Apa kau masih menaruh rasa padanya?"
Jaehyun berhenti bergerak. Nyaris mematung lantaran terkejut. Ia ingin untuk tak menanggapi, namun ada juga yang harus ia akui sekarang juga di depan sang adik. Jaehyun kembali duduk sedianya. Meremas gelas yang akan remuk bila ia terlalu banyak mengeluarkan tenaga, kontradiktif dengan air mukanya yang menunjukkan ketenangan.
"Sejujurnya masih. Seminggu ini aku berusaha keras untuk mengaburkannya. Rupa-rupanya tak semudah yang kukira, aku tetap memikirkan Sohyun."
Taehyung mengerti, menghargai jawaban jujur Jaehyun. Benar, rasa terlalu rumit untuk diabaikan. Seperti benci yang tak membutuhkan banyak sebab, cinta dan rasa kasih muncul tanpa diminta.
"Lalu, apa kau akan mengaku padanya?" ucap Taehyung ingin tahu. Sejatinya ia mengharap kakaknya membalasnya dengan iya. Taehyung juga ingin mengaku sekali lagi akan perasaannya.
"Bahkan tanpa mengaku, anak itu sudah mengetahuinya," Jaehyun bersuara. Suara yang terdengar parau. Ia sudah dewasa, dan tak ada alasan untuk berbohong bahwa Sohyunlah yang membuatnya bisa melupakan kepergian cinta pertamanya. Sohyun adalah obat, gadis itu sudah menjadi penyembuh untuk lukanya di masa lalu. Dan kian menyadari ia tak akan pernah bisa memiliki. "Taehyung, Sohyun tak sebodoh itu. Dia mengetahui banyak hal, termasuk perasaanmu."
Taehyung diam terheran-heran di tempatnya. Alisnya menukik, membentuk spasi.
Jaehyun pun berdiri lagi, menepuk pundak Taehyung. "Hari ini aku sudah putuskan untuk berhenti. Aku rasa percuma, sampai kapan pun, Sohyun tak akan mengubah perasaannya. Dia sudah menetapkan hatinya dan itu bukan aku. Bukan padaku. Dia menyukai seorang pria. Aku rasa dia teramat mencintainya, sampai-sampai melakukan banyak hal untuk orang yang disukainya."
"Kakak tahu siapa orangnya?" Ikut berdiri, air muka Taehyung berubah drastis, mendadak bayangan Jungkook berkelebat dalam benaknya. Terlebih, lelaki itu pernah menjalin hubungan dengan Sohyun dan terlihat beberapa kali mengunjungi rumah sakit.
"Kim Taehyung ..."
Semakin tak sabar menantikan jawab.
"Kau!"
🔔
Gadis itu belum jua beranjak dari meja belajarnya. Dua jam, rupanya tak cukup baginya memandangi foto yang baru saja ia cetak di studio foto pribadinya. Sohyun menyukai hasil tersebut, Sepuluh gambar yang membuatnya menangis menitikkan air mata.
Kantuk pun rasanya segan mendatangi, meski jam dinding di sudut kamarnya sudah menunjuk ke jarum angka satu pagi. Masih ada yang akan ia lakukan, semua begitu terencana, kegiatannya selalu terstruktur sesuai jadwal, dan untuk malam ini, Sohyun tak akan tidur.
Foto-foto itu telah disimpannya dengan baik di dalam lembar album fotonya. Bersama kumpulan foto yang selalu ia abadikan di antara lipatan buku harian.
Masih ada lembaran yang kosong, Sohyun berandai dalam duduk damainya, apabila suatu saat nanti Taehyung yang akan mengisi sisa lembar kosong di halaman-halaman akhir. Dengan foto yang lebih baik dari jepretannya selama ini. Semoga.
Waktu menjadi hal berharga di hidup Sohyun. Sekecil apa pun sisa waktu, baginya adalah kesempatan yang harus ia pergunakan baik-baik. Hari ini dia mampu melewatinya, entah pada besok. Perlahan tangannya membuka laci meja belajarnya, menaruh album foto di dalam sana dan beralih pada butiran obat dalam tabung silinder. Obat tidur yang selalu dikonsumsinya kala kelopak mata tak mau menutup.
"Aku akan berhenti bergantung padamu. Hari ini juga kita akan berpisah," katanya yang seketika itu juga membuang botol tersebut ke tong sampah dan mulai hari ini pula, ia bertekad akan menggunakan malam-malamnya untuk latihan berjalan lagi. Ia harus bisa berjalan normal sebelum pementasan musik diadakan akhir bulan nanti, harus.