Beautiful Goodbye

Beautiful Goodbye
BAB 17 : Pengakuan



   Berdesik lembar cokelat dedaunan tersapu angin, berhelai berjatuhan melayang mencium pemukaan bumi yang ditindih embun rintik pagi. Tanpa terasa musim gugur berada pada puncaknya, ketika presipitasi sering kali terjadi di awal-awal pergantian musim. Suhu yang lebih dominan dingin, menjadikan kedua tangannya bersembunyi di dalam saku besar jaketnya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Sohyun tak sendiri menyusuri jalanan hutan heterogen ini, ada Taehyung di sampingnya. Lelaki yang tampil bersama baju compression yang dibalut kaus longgar itu berjalan di sisi kirinya, tampak maskulin dengan celana training hitam keluaran adidas. Terlihat lebih santai, bila disetarakan dengan jas yang mempunyai kesan formal pun dewasa.


    Sejoli muda lela itu berjalan pelan menuju bukit. Ketika Taehyung bilang bahwa ia ingin mengunjungi Enorty, mata gadis itu berbinar senang, dapat mendatangi taman bukit yang menyimpan banyak hal dalam saksi bisu kisah kehidupan mereka. Hingga kini ada saja yang mampu menarik perhatian Sohyun pada pemuda berhidung bangir itu, termasuk tingkah Taehyung yang tak jarang hiperaktif. Ia tahu, lelaki itu suka berolahraga, otot-ototnya sudah terbentuk dari lekung menonjol, terlihat ketika lelaki itu melompat riang, membuat otot perutnya menyembul di balik rekatnya compression yang dikenakan.


     "Oh, ya, Sohyun..."


     Taehyung menoleh, sempat terkejut menemukan wajah Sohyun begitu dekat. Lekas ia mundur selangkah—salah tingkah.


     "Mengenai Elort, kaulihat di sana...," Taehyung menunjuk gunung paling besar di selatan. "Bentuknya berubah saat terakhir kali kita melihatnya."


      Sohyun mengerti, lalu berkata, "Tiga hari lalu terjadi longsoran, sebagian tanahnya turun menghimpit Egort yang tampak lebih jauh lebih besar sekarang. Kurasa penyebab utamanya adalah penebangan pohon yang dilakukan untuk perluasan lahan Villa Park."


     Taehyung menyipitkan mata, dahinya berlipat ingin Sohyun menjelaskan lebih rinci. "Ada yang sengaja menebang pohon?" tanyanya yang langsung diangguki Sohyun.


 


    "Meski penebangan itu sudah mendapat legalisasi, tapi efeknya buruk untuk lingkungan." Sohyun berhenti melangkah, memusatkan fokus pada wajah pria yang diliputi penasaran.


    "Jin Gak. Kau tentu tahu itu kan, Tae?"


    Kata-kata Sohyun semakin membuat Taehyung berpikir dalam-dalam, setahu dia, Jin Gak adalah salah satu cabang Hondo, anak perusahaan yang berdiri di bawah komando Tuan Min. Jika benar apa yang dikatakan Sohyun, kenapa hingga detik ini tak ada satu pun laporan yang masuk kepadanya. Benarkah tindakan Jin Gak berjalan tanpa sepengetahuannya---sedang tampuk pimpinan telah beralih kuasa padanya?


    "Kau yakin dengan ucapanmu, Sohyun?" Ia ingin memastikan sekali lagi. Jawaban Sohyun tak berubah. Perempuan itu mengangguk penuh keyakinan.


    Meski masih banyak pertanyaan yang membayang di benak Taehyung, ia memutuskan untuk tak bertanya lebih. Baginya, informasi yang diberikan Sohyun, sudah cukup untuk membidik sekali lagi tangan-tangan nakal yang berani bermain-main di belakangnya. Ia akan pikirkan lagi, sekaligus mengumpulkan bukti, sama seperti yang ia lakukan pada Tuan Song usai penyelidikannya bersama sang sekretaris, Cheon Sangwoo.


     Setelah berjalan belasan menit menuju bukit, keduanya tiba di sana, pohon oak yang tinggi nan besar itu telah menggugurkan separuh daunnya. Di bawanya, akar dari pohon berdiameter ratusan senti itu, tenggelam ditimpa dedaunan lebat. Semilir angin dingin bergilir datang, membuat dua tubuh itu pada akhirnya menetap di dalam rumah pohon. Iklim tak dapat terprediksi. Jika pagi tadi udara lembap pun panas, namun baru beberapa jam, suhu berada di titik rendah.


     Di dalamnya Taehyung sesekali melirik perempuan dengan rambut terurai lurus itu, Sohyun begitu fokus membaca buku setebal 700 halaman, karya Salman Rushdie yang baru dibelinya beberapa waktu lalu. Gadis itu sangat menawan di mata Taehyung. Memperhatikan Sohyun yang tengah serius dengan bukunya membuatnya tersenyum sendiri, begitu senang hanya karena bisa sedekat ini dengan sosok sahabat sekaligus pencuri hatinya. Namun, di lain sisi, raut serius milik Sohyun, membuat Taehyung segan mengganggu. Awalnya mereka berbincang seperti biasa, bahkan berjam-jam terlewati dengan mudahnya, hingga dua-duanya serasa kehabisan bahan dan memilih diam, mengistirahatkan diri dari kering kerontangnya kerongkongan.


     "Apa ada yang ingin kau bicarakan?" Tanpa mengalihkan pandangannya pada buku, Sohyun bertanya. Mendapat pertanyaan semacam itu Taehyung kelihatan gugup dan menggeleng cepat.


     Sohyun tak mudah untuk dibohongi. Ekspresi yang ditunjukkan Taehyung tak sejalan dengan perkataannya. Maka, lekaslah Sohyun menutup The Ground Beneath Her Feet-nya Salman Rushdie ke rak buku, ke tempat semula novel itu ia pajang dengan rapi.


     Taehyung yang melihat itu, bertanya tiba-tiba, "Apa kau sudah selesai membaca?" Karena Sohyun menaruh bukunya. Pertanyaan bodoh terlontar, ia rasa. Sohyun bahkan baru sampai di sepuluh halaman pertama, jadi tidak mungkin juga gadis itu sudah menyelesaikan bacaannya yang sudah pasti akan terus bertambah.


     Sohyun geming. Lalu tak lama, ditatapnya manik mata legam Taehyung, yang tetiba kaku tak berdaya ditatap sedemikian dekat. Ia tak bicara pun bergerak—mereka saling mengunci.


🔔


     Mobil yang ditumpanginya mendarat di depan rumah. Yoon eun yang baru tiba, bergegas turun dari mobil ketika Jonghoon turun dari mobil untuk membukakan pintu. Matanya berpendar melihat ke sekitaran, memperhatikan betapa sepinya ruang lingkup rumah besarnya yang kosong. Sekilas atensinya tertuju pada jendela kamar di lantai atas. Jendela dalam keadaan tertutup.


     "Apa dia ada di rumah?" Yoon eun membalikkan tubuhnya menghadap Jonghoon yang ada di belakang tubuhnya.


     "Sejak tadi pagi, Nona Kim belum kembali ke rumah, Nyonya," jawab pria itu jujur.


     Yoon eun mengembus napas beratnya, tak perlu terkejut mendengar ucapan Jonghoon.


     "Mungkin Nona sedang ada di bukit, biasanya dia ... maksud saya Nona Muda selalu menghabiskan waktu di sana."


      Ia mengangguk paham. "Udara sedingin ini tidak baik untuknya," ucapnya manakala angin yang berembus menyingkap mantel yang tengah dikenakannya.


     "Apa perlu saya menjemput Nona sekarang?" Jonghoon menyahut lagi, pria itu tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran akan keadaan Sohyun saat ini.


     Yoon eun berpikir sejenak, tetiba sekelebat bayangan tak mengenakkan tadi pagi berbaur di dalam kemelut pikirannya. Hingga kata-kata tegas penuh emosi meluncur darinya. "Tidak usah, biarkan dia di sana!" larangnya cepat.


     "Tapi, Nyonya... " sanggah Jonghoon, namun tak diindahkan sang majikan, Yoon eun tampak berjalan cepat memasuki rumah. Jonghoon pun tampak lesu, menyadari penuturannya tak ada mendapat hasil.


     Tak jauh dari posisi Jonghoon berdiri, seonggok tubuh terlihat memata-matai, seringaiannya kian lebar usai menyaksikan percakapan dua orang tadi. "Akhirnya hari ini tiba juga, Hwang Yoon eun, aku pastikan kau akan dapat balasannya!" ujarnya menggebu.


🔔


     Kebekuan mereka terhenti. Pada mulanya, dua anak manusia itu tergugu di tempat, sulit sekali membuka mulut guna membuka obrolan. Ada denyutan aneh yang menggelenyar kala dua bola mata mereka bertemu pandang. Taehyung betul-betul tak mampu bebas dari jeratan binar mata perempuan yang kini memunggunginya dalam geming yang hening.


     "Sohyun, apa kau mendengarku?" Taehyung bersuara pelan. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu, sejujurnya ini sangat sulit untuk kukatakan... " sambungnya dengan posisi yang sejak tadi bersandar pada gadis bermarga Kim tersebut, begitu pun sebaliknya dengan saling membelakangi. Tidak ada sahutan dari Sohyun, namun Taehyung tetap melanjutkan kata-katanya. "Entah kenapa setelah kita bertemu lagi, saat aku tak sengaja menubrukmu dan membuatmu terjatuh. Aku terpaku pada tatapan matamu saat itu. Ada perasaan aneh. Berhari-hari aku terus memikirkannya ... aku telah jatuh hati denganmu. Aku tahu selama ini kau hanya menganggap hubungan kita sebatas sahabat, tapi bolehkah lebih dari itu—maksudku menjadi sepasang kekasih." ungkapnya sekali lagi, sementara perempuan yang diajak bicara memilih diam membisu, pandangan mata Sohyun lurus ke depan tanpa adanya kilasan ekspresi.


      "Tidak apa-apa jika kau tidak membalas perasaanku, setidaknya aku sudah cukup lega mengatakan yang sejujurnya padamu." Taehyung tersenyum menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Seakan ada separuh beban yang terangkat dari dua sisi pundaknya, hingga tak membuatnya merasa berat—berselesa. Ia senang, sudah cukup berani mengungkapkan perasaan yang memenuhi hatinya saat ini, terlebih saat bersama Sohyun sedekat begini.


      Kepala Sohyun terangkat setelah menunduk beberapa waktu. Kemudian berbalik menepuk punggung Taehyung yang terkejut. Pria itu menoleh secepat kilat, memandangi raut wajah yang sama seperti biasa ditunjukkan Sohyun di depannya.


     "Ada apa? Kau..."


      Sohyun tidak mendengar pengakuannya. Hal pertama yang dapat disimpulkan oleh Taehyung yang tersenyum paksa. Merasa sia-sia apa yang telanjur dikatakannya barusan. Lekas ia raih satu bulatan yang terhubung pada ponsel pintar Sohyun, mendengar sebuah lagu yang sejak tadi didengar perempuan itu.


     "Sejak kapan kau menyukai lagu ballad?" tanya Taehyung seraya mendengar sebuah lagu.


     "Semenjak aku menyukai musik," jawab Sohyun tersenyum, Taehyung yang melihat itu pun mau tak mau ikut tersenyum sambil mengangguk paham. Entahlah, di saat sekelebat kecewa menghampiri, saat itu juga pudar tatkala melihat senyum khas Sohyun menyapa.


      "Kecintaanmu pada musik benar-benar membuatku kagum," Taehyung bergumam melontar pujian. "Aku tahu dari seseorang, kalau kau sudah mampu membuat lagu... menjadi seorang komposer di usia muda."


     Alisnya bertaut, Sohyun tak menyangka Taehyung tahu satu faktanya yang jarang diketahui khalayak. Karena memang selama ini, ia lebih banyak berkutat dengan nama samaran.


     "Boleh aku tahu, siapa orang itu?" tanyanya kemudian.


      "Kakakku."


      "Awalnya aku kaget, kakak begitu tahu banyak tentangmu, tapi setelah dia menjelaskan kalau temannya ternyata pernah bekerja di rumahmu, aku mulai mengerti."


      Sohyun berdeham paham. Yang dimaksud pastilah Hong Eunjung. Seorang perawat yang selama lima tahun menyamar sebagai pelayan atas permintaan sang ibu.


       Selama lima menit yang berlalu, keduanya hanyut pada alunan merdu. Membiarkan sejenak suara lembut merasuki jiwa mereka yang tak seorang pun tahu. Tak ada yang tahu, apa lagi menebak akan seperti apa alur cerita cinta mereka. Terlalu banyak rahasia yang tersembunyi di balik kata "aku baik-baik saja", "semuanya baik", "tak perlu khawatir", dan 'aku bahagia'. Beberapa kepalsuan yang tersamar dari mulutnya, mengaburkan penglihatan Taehyung pada sosok perempuan yang ia selalu sebut sahabat.


      Menuju penghujung sore. Lazuardi di ufuk barat kian dikikis oleh sengat mentari senja yang bakal tenggelam. Lantas angin yang bertiup bebas menggeser gumpalan-gumpalan awan yang sebagian menutup—berbentuk kubah raksasa yang mengayomi kawasan bukit sepi itu.


      Di sudut rumah pohon, Sohyun bermenung, beberapa kali matanya memeriksa jalannya jarum jam di tangan, sekaligus mencuri pandang pada Taehyung yang mudah sekali tertidur. Siang tadi, antara pukul setengah dua siang, lelaki itu terlelap, melendehkan kepala pada bahunya yang memberat dan berakhir meringkuk dengan bertumpu di atas pahanya. Dan kini, lat empat jam, Sohyun tak jua beranjak pun bergerak demi menjaga lelaki itu tak terbangun dari tidurnya. Alasannya... ia ingin lebih lama memperhatikan teduhnya wajah Taehyung. Bagaimana seorang gadis sepertinya, amat mengagumi tiap pahatan wajah karya Tuhan yang ada di depannya. Ia merunduk lagi, mengamati kulit seputih gading Taehyung, mengagumi bentuk rahang, batang hidung yang tinggi dengan rambut halus alis matanya. Pandangannya terhenti acap kali melihat bibir yang pernah memberikan rasa dan sentuhan padanya. Meski berkali-kali ia berusaha lupa pada ciuman di bawah payung itu, semakin keras usahanya, kian deras bayangan itu menghantui benaknya.


      Hanya perlu menunggu setengah jam saja, petak langit akan lengser dihinggapi gelap. Sohyun tidak tahu sampai kapan Taehyung akan memperpanjang lelap di ribaannya. Ide yang seketika muncul, lekas ia refleksikan, karena baginya sudah amat cukup memandangi lelaki itu berjam-jam.


     Taehyung mengejap mata, masih digayuti kantuk, dipejamkan berkali-kali netranya yang kadung berat guna memperjelas indra penglihatannya. Ia tersenyum tanpa sadar ketika menemukan wajah Sohyun memandangnya lembut, penuh keibuan.


     "Jika caramu membangunkanku seperti ini, aku malah semakin malas untuk membuka mata," katanya merasai rabaan halus di kepalanya, cara Sohyun ini sedikit banyak justru menambah keinginannya untuk tetap berada di dekat Sohyun. Tertidur di pangkuan wanitanya.


       "Jujur saja, ini pertama kalinya aku membangunkanmu lagi setelah sekian lama kita berpisah."


      Taehyung menganggukinya, sambil berkata, "Kau yang paling tahu cara membuatku tetap nyaman di sisimu."


      "Kalau begitu cepat carilah wanita yang mau berkencan denganmu. Dengan begitu, kau akan lebih sering merasakan kenyaman selain dariku," Sohyun menyahut santai. Ucapan yang berbanding terbalik dengan rasa yang terbenam di lubuk hatinya.


      Taehyung yang sempat memejam mata sampai membuntang tak percaya, berangsur bangkit, menatap air muka Sohyun. Berharap apa yang keluar dari mulut Sohyun adalah kebohongan.


      "Aku tidak mau," tolaknya mentah-mentah. Tentu saja, karena wanita yang ia cintai kini adalah Sohyun. Betapa mudah baginya mendapat wanita yang bahkan rela antre demi bisa merebut perhatiannya, tak akan sanggup mengoyak rasanya terhadap sahabat yang dijadikannya cinta dalam angan.


     "Kau tidak mau ... pasti karena sudah ada wanita yang kau sukai," ungkap Sohyun hati-hati. "Tiba-tiba saja aku teringat dengan perempuan yang dijodohkan padamu."


     "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintainya. Aku akan terus membujuk Ayah dan keluarga Li, asal perjodohan ini segera dihentikan." Suara Taehyung menggelegar tegas.


     Sohyun tentu paham apa yang dirasakan Taehyung sekarang. Percuma apabila ia memaksa, karena Taehyung pun sama keras kepalanya seperti dia.


     "Tahukah kau, Kim Taehyung? Tidak selamanya kita bisa bersama seperti ini. Kelak, kita berdua akan memiliki kehidupan masing-masing. Kau pasti tahu bahwa semakin dewasa seseorang, maka makin bertambah pula kesibukannya. Kau atau pun aku pada akhirnya harus memilih demi keberlanjutan hidup. Aku bicara begini tanpa maksud apa-apa, selain membuatmu mengerti ... bahwa kita sebatas sahabat."


    "Sohyun..."


    "Aku tidak sedang memaksamu untuk mencari wanita lain. Karena perasaan tak bisa dipaksa sesuai kehendak, kau lebih tahu itu dibanding aku, Tae..."


      Mulutnya terkatup selama mendengar penuturan Sohyun. Taehyung sadari betul hari ini ia begitu egois. Namun ada sesuatu yang selalu mengganjal di hati kecilnya. Perihal ucapan Sohyun yang kadang membuatnya berpikir jauh.


     "Apa kau ingin balas dendam padaku? Itukah sebabnya kau ingin pergi. Kau tidak ingin kita bersama, meski sebatas sahabat?" sanggahnya tak terima.


     Sohyun yang untuk pertama kali ditatap tajam seperti itu tak mengira dengan respons balik Taehyung. Kali ini ia mengaku salah, sudah membuat sahabatnya hampir naik pitam. "Maafkan aku, Kim Taehyung..."


     Pria itu bergeming, menengadahkan kepala untuk menghindari tatapan mata yang selalu berhasil membuatnya luluh. Taehyung merasakan sesak, ketika menyadari perbuatannya. Napasnya mulai teratur, Taehyung memandangi ekspresi gadis itu, Sohyun bisa menguasai diri lebih baik darinya.


     "Harusnya aku .... Aku yang harus minta maaf, bukan kau, Sohyun."


     Pelukan mendarat di tubuhnya.


     Taehyung tak ada segan merengkuh tubuh Sohyun dalam pelukannya. Memaksa gadis itu tetap tinggal di sisinya, selama mungkin.