
Aku diam, tak tahu harus mengatakan apa. Seandainya benar apa yang dikatakan Reni, apa peduliku? Hubunganku dengan Mardawa memang terancam putus tetapi tak begitu mudah bagiku untuk menyeberang ke lain hati. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada proses yang harus kujalani sebelum aku membuat keputusan baru.
"Aku tahu, kamu sangat menjunjung kesetiaaan," ujar Reni menyanjung. "Jangan salah paham, aku sama sekali tak bermaksud merusak yang telah ada. Tapi, setidaknya kamu bisa menunjukkan sikap bersahabat padanya. Tak ada ruginya punya banyak teman, bukan?"
***
Tak berkedip aku menyaksikan pramugari di depan sana yang tengah memberi pengumuman lewat mikrofon bahwa sebentar lagi pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Anggun sekali dia dengan seragam batiknya yang bernuansa hijau. Gaya bicaranya menarik kendati agak tersendat-sendat saat membaca pengumuman dalam bahasa Inggris.
Kelak aku akan seperti itu. Dan seakan-akan butuh pembenaran aku berpaling pada Reni yang duduk di sampingku. Ternyata dia masih bersandar dengan kedua mata masih terpejam. Wajahnya begitu tenang, tak sedikit pun membersitkan kegelisahan padahal ini juga pengalaman pertama baginya datang ke Jakarta.
"Ren, tegakkan sandaran," aku menepuk pipinya dengan gemas. "Sudah mau mendarat nih."
Ia membuka mata. "Kok cepat sekali?"
"Saat turun nanti, sebaiknya kita tanya mereka," usulku.
"Mereka siapa?"
"Ya mbak-mbak itu."
"Buat apa?" responnya enteng lalu menunjukkan sobekan kertas. "Ini tempat yang akan kita tuju."
"Dapat dari mana?" tanyaku heran.
"Mbak Lanti, pramugari di pesawat ini."
Ya ampun, kalah cepat lagi aku. "Kapan nanyanya? Kok aku tak tahu?"
"Habis, kamu sibuk terus sih," sindirnya.
Sialan, rupanya cukup lama juga aku menangis. "Apa tak sebaiknya ke kantor dulu?"
"Bagusnya langsung cari tempat kos. Kata Mbak Lanti, susah cari tempat kos saat musim penerimaan pramugari begini."
Benar juga. Tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya kalau aku berangkat tanpa Reni. Sore-sore ketika kami telah sepakat untuk menempati sebuah kamar kos berdua tak jauh dari Pusdiklat, kami bersantai sambil melihat-lihat ke jalan raya.
"Lihat, Luh," kata Reni ketika aku beranjak hendak memasukkan pakaian ke dalam lemari. Aku segera mengikuti arah telunjuknya. "Kalau tak ada orang baik seperti Mbak Lanti, kita pasti masih mondar-mandir seperti mereka. Mana sudah hampir malam, badan lemas, belum mandi pula."
Kulihat beberapa orang wanita seusia kami sedang berdiri di depan pintu halaman rumah di seberang jalan. "Kasihan, mereka pasti dari daerah juga, seperti kita. Kalau sampai tak dapat tempat kos bagaimana ya?"
Reni tertawa mendengar pertanyaanku.
"Jakarta ini sangat luas, Luh. Mustahil sampai tak dapat. Pasti dapat, cuma mungkin agak jauh dari Pusdiklat."
"Mestinya perusahaan menyediakan asrama ya?"
"Ya, termasuk makannya juga, biar tak perlu repot mikirin urusan perut, seperti sekarang ini."
"Kenapa nggak tanya Tante Dewi saja?"
"Iya ya?"
"Tapi kuatirnya nanti malah bikin repot dia. Jangan-jangan malah kita diminta makan di sini."
Akhirnya kami sepakat untuk menemui Tante Dewi setelah selesai berbenah-benah. Kebetulan dia dan suaminya tengah santai di depan televisi. Kami berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya diberitahu tentang beberapa tempat makan terdekat dengan kekhasannya masing-masing.
"Pulangnya jangan terlalu malam, Dik," kata Om Jodi, suami Tante Dewi. "Saya tak mau kalian masih di luar rumah setelah pukul sembilan. Ini berlaku untuk semua anak yang kos di sini."
"Ada sanksinya ya, Om?" tanggap Reni setengah bergurau.
"Tentu. Bagi yang keberatan sebaiknya jangan kos di sini. Bukan apa-apa, Dik. Ini kan untuk kepentingan kalian semua. Ini kota besar yang sarat dengan berbagai tindak kriminal. Saya tak ingin terjadi hal-hal yang tak kita inginkan. Semua yang kos di sini kami perlakukan sebagai keluarga. Maka, jangan segan-segan bicara kalau ada masalah. Semuanya saya anggap sama, dari mana pun kalian datang dan apa pun suku atau agama yang kalian anut. Kalau Adik berdua perlu kembang untuk sembahyang, silakan petik sendiri di luar sana. Banyak kok jenisnya, tapi jangan lupa ikut merawat."
Kami berdua sependapat, induk semang seperti inilah yang kami harapkan. Punya kepedulian dan tak melulu memikirkan uang kos. Kami jadi kerasan. Kebetulan teman-teman kos yang jumlahnya belasan berasal dari berbagai daerah di tanah air.
Senang sekali bisa bertukar cerita dengan mereka. Lebih dari itu aku mulai sadar, betapa kaya sebenarnya negeriku, Indonesia. Dan ini mendatangkan perasaan bangga sebagai warga NKRI.
Sementara itu pendidikan dan latihan yang kujalani berjalan lancar. Kami belajar antara lain mengenai seluk-beluk semua jenis pesawat yang dioperasikan perusahaan, juga tentang etika pelayanan dan teknik penyelamatan penumpang bila terjadi keadaan darurat.
Aku baru tahu kalau setiap pramugari baru boleh aktif menjalankan tugas kalau sudah memiliki lisensi untuk pesawat yang digunakan. Karena perusahaan menggunakan beberapa jenis pesawat, maka sejumlah itu pula lisensi yang harus dimiliki seorang pramugari. Seperti halnya SIM, lisensi itu pun wajib diperbarui atau diperpanjang masa berlakunya dalam periode tertentu.
Boleh dikata tak ada masalah yang kualami selama masa sekolah ini walau dominan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Syukurlah penguasaanku atas bahasa asing yang satu ini tidak mengecewakan, sehingga aku tak pernah mengulang pelajaran karena tidak lulus. Aku selalu memperoleh nilai di atas standar, jangan dikata lagi Reni yang otaknya lebih encer.
Namun bergumul dengan pelajaran dalam bahasa asing setiap hari tak pelak mendatangkan kejenuhan, bahkan stres bagi mereka yang penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sehingga muncul ulah yang aneh-aneh di tempat kos. Seperti yang dilakukan Irma, misalnya. Suatu malam ketika aku dan Reni sedang asyik menghafal, ia tiba-tiba muncul di kamar kami dengan penampilan yang membuat kami terheran-heran dan merasa geli. Dandanannya begitu mencolok.
Ia mulai beraksi dengan melontarkan basa-basi seperti layaknya pengamen bus kota lantas menggoyangkan pinggulnya sambil melantunkan sebuah lagu dangdut: "Sungguh terpaksa aku menyanyi….."
"Buset! Sudah gila kamu," teriak Reni tak dapat menahan tawa.
"Saraf! Bukannya belajar, besok kan ada test?" gerutuku sambil melemparnya dengan buku yang sedang kupegang dan tepat mengenai wajahnya.
"Aduh, sialan, ternyata kamu kejam juga," keluhnya sambil menghampiriku yang berselonjor di atas tempat tidur.
"Habis, kayak nggak ada kerjaan saja. Memangnya sudah siap buat test besok?"
"Masa bodoh! Aku lagi puyeng nih. Stres!"
"Baru jadi calon pramugari saja sudah stress, bagaimana kalau jadi presiden?" sambar Reni.
"Emang siapa yang mau jadi presiden?"
tangkis Irma sengit.
"Sudah, sudah, kok malah berantem," leraiku.
"Daripada berantem mendingan cari nasi goreng," celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di pintu, Nunik rupanya, teman sekamar Irma. "Belajar maraton kayak gini kan butuh banyak energi. Yuk, siapa ikut?"
"Gila. Ini kan sudah jam sepuluh, Nik. Mana bisa kita keluar?" tanggap Reni.
"Dasar kuper!" ledek Nunik. "Kalau cuma mau nasi goreng mah, nggak usah pakai keluar segala. Jam-jam begini, tukang nasi goreng kan suka lewat di depan. Tinggal teriak, pesanan akan diantar ke dalam."
"Apa iya?" sambutku penuh minat.
"Ayo, tunggu apa lagi?" Nunik lantas berlari-lari kecil ke luar dan kami semua menyusul.