
Gus Lanang membawa kedua tamunya masuk dan menyuguhi mereka teh jahe panas sebelum akhirnya bercerita kepada mereka bagaimana ia bisa tinggal di desa itu.
Setelah berhenti jadi pekerja sosial yang ditugaskan di sebuah desa di Bangli, ia sempat bekerja di sebuah hotel di Pantai Candidasa. Suatu ketika ia berkenalan dengan seorang investor asal India yang menawarinya kerja sama. Tadinya Rahul, begitu panggilan investor itu, hendak membangun tempat tetirah namun ia tidak menemukan tempat yang sesuai dengan keinginannya. Akhirnya Gus Lanang mengusulkan agar Rahul membuat villa yang jauh dari keramaian, dan usul itu tidak saja mendapat sambutan baik, tetapi Rahul juga minta Gus Lanang mengatur penanaman pohon senggon pada lahan yang disewanya dari penduduk desa seluas sepuluh hektar. Kini pohon-pohon yang merupakan bahan baku kertas itu menyajikan pemandangan yang mengagumkan di lembah di bawah villa pribadi yang ia jaga.
“Kenapa kamu berhenti jadi pekerja sosial?” tanya Clara.
“Karena agensi memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasama,” jawab Gus Lanang.
“Alasannya?” kejar Clara.
“Karena ada oknum yang tanda-tangannya minta dihargai, padahal mereka tahu kami menjalankan misi kemanusiaan.”
“Sangat menyedihkan. Padahal warga di sini membutuhkan keberadaan agensimu.”
“Saya tahu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Oke, semua sudah berlalu,” pintas Luh.
“Sekarang, katakan kenapa Ibu Suci minta saya menemui Gus?”
“Luh betul-betul tidak tahu?”
”Saya tak akan bertanya kalau sudah tahu.”
Gus Lanang diam sebentar sebelum berkata, “Karena saya teman seperguruannya…”
“Yang termuda dan terbaik,” sergah Luh.
“Nah, Luh sudah tahu, kan?”
“Hanya itu yang saya tahu.”
“Beliau sangat sayang sama Luh, itu sebabnya.”
“Maksudnya?”
“Beliau tak ingin Luh kenapa-kenapa.”
“Dan beliau minta Gus yang turun tangan?”
Setelah lama terdiam menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, baru kemudian Gus Lanang bicara lagi. “Sebenarnya saya enggan mencampuri urusan orang lain. Tapi, karena dia sudah kelewatan, saya merasa bersalah kalau tidak berbuat sesuatu.”
“Jadi?”
“Besok malam, datang saja ke Karang Suwung.”
“Untuk apa?”
“Menurut Luh untuk apa?”
Luh tersenyum penuh arti. “Sudah janjian rupanya.”
“Apakah itu rahasia?” Clara nyeletuk.
***
Masih jadi tanda tanya besar di benak Clara apa yang akan dilakukan Gus Lanang malam itu. Luh juga tidak mau berspekulasi. “Kita lihat saja nanti,” katanya.
Menurut kalender Bali malam itu tilem, kebalikan dari purnama. Bulan tidak akan muncul di langit. Itu adalah malam tergelap yang terjadi sekali dalam sebulan. Tiba-tiba Clara berharap bisa memperoleh kesempatan seperti yang pernah dialami Michael, melihat dengan mata kepala sendiri sebuah pesawat menyerupai Stealth milik Amerika. Dan ia merasa yakin harapan itu pasti akan jadi kenyataan.
Luh menelepon. Clara buru-buru turun menemuinya karena ia mengundang Luh untuk makan malam di tempatnya menginap. Ia mengajak Luh memilih meja di bawah pohon waru, meja di mana ia bertemu pertama kali dengan Michael. Sambil bersantap ia bercerita pada Luh bagaimana laki-laki Inggris itu memberitahunya mengenai pesawat yang tiba-tiba raib sampai mereka sepakat menyusuri pantai dan bertemu dengan wanita yang menyerangnya malam itu.
“Apakah dia berada di tempat itu saat ini?”
Clara melemparkan tanya pada Luh.
“Biarkan itu jadi urusannya,” sahut Luh tak acuh.
Seperti malam itu, para peserta makan malam spesial disuguhi pertunjukan kesenian tradisional. Mereka kebanyakan orang bule. Entah mengapa kegelisahan yang sempat menggasak perasaan Clara saat itu kembali mengganggunya. Tetapi ia tidak berniat mengatakannya pada Luh. Ia pusatkan perhatiannya pada kewajiban untuk memasok nutrisi ke dalam tubuh sambil menikmati kelezatannya.
“Luh tidak suka kuning telur?” tanyanya ketika melihat Luh menyisihkan kuning telur ke sisi piringnya.
Ketika mengambil makanan Clara melihat Luh hanya mengambil nasi sedikit dengan porsi yang setara dengan sayur serombotan ditambah sebutir telur bulat berikut sambal mentah.
“Seharusnya saya meniru pola makan Luh.”
“Mengapa?”
“Saya ini pemakan segala hingga tubuh saya bongsor begini.”
“Yang penting sehat, dan perutmu tidak buncit, kan?”
“Biasa saja sih. Mungkin karena banyak bergerak.”
“Suka olahraga?”
“Sekarang hanya renang. Dulu saya suka basket. Luh sendiri?”
“Saya berlatih yoga.”
“Di mana?”
“Di rumah. Dulu pernah punya guru.”
“Pantas langsing. Kapan-kapan ajari saya ya?”
“Dengan senang hati.”
Desau angin terdengar seperti bisikan aneh di telinga Clara. Jangan-jangan karena terlalu memikirkan teka-teki tentang Gus Lanang, pikirnya. Hampir tengah malam ketika mereka meluncur ke suatu tempat di Karang Suwung dan Luh menepikan mobil ke lahan kosong yang lengang. Suara lolong anjing terdengar melengking di kejauhan, mengingatkan Clara pada peristiwa yang pernah ia alami di suatu tempat. Ia mulai merinding. Pori-pori di sekujur tubuhnya mengeras dilumuri rasa dingin yang ganjil. Luh duduk tanpa suara di belakang setir, mengedarkan pandangan sedemikian rupa seperti menunggu kedatangan seseorang.
“Apakah kamu pikir Gus Lanang serius dengan ucapannya?” tanya Clara hampir berbisik.
Luh menyahut tanpa menoleh, “Apa yang membuat kamu berpikir ia tidak serius?”
“Ia hanya mengatakan kita harus datang ke sini, tapi tidak menjelaskan untuk apa.”
“Bagi saya itu sudah cukup.”
Suasana demikian senyap. Tak ada suara jangkrik, tidak pula suara serangga malam lainnya. Dari pengalaman dan informasi para balian yang pernah Clara temui, ia tahu ada leak yang sedang beraksi di sekitar tempat mereka. Vibrasinya memang sanggup membangunkan bulu kuduk dan membuat segenap serangga bungkam ketakutan. Ia berharap Luh sudi menyetel musik untuk mengurangi ketegangan yang ia rasakan, namun Luh kelihatan begitu serius seperti larut dalam suasana meditatif.
“Lihat,” bisik Luh kemudian. “Ada yang datang.”
Clara menahan napas sejenak. Tidak begitu jauh di depan mereka, di ketinggian, sebuah bola api sebesar bulan yang dibungkus cincin warna biru tiba-tiba muncul entah dari mana. Benda itu bergerak seperti kembang api yang dilemparkan ke udara tetapi tanpa bunga api.
Seperti tidak sabar menunggu, Luh mengetuk-ngetukkan jemari tangannya pada dasbor. Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga, sebuah bola api yang lain. Sulit untuk membedakannya kalau tidak mencermati gerakannya. Yang muncul belakangan gerakannya agak lamban namun memberi kesan lentur. Kedua bola api itu kemudian melakukan gerakan seakan sedang bercanda seperti dua ekor anak anjing. Makin lama gerakan mereka makin cepat, kasar dan patah-patah. Tampak seperti saling menyerang. Tiba-tiba bola api yang datang belakangan terpental dan lenyap. Tidak lama kemudian muncul benda gelap berbingkai cahaya biru yang dalam beberapa detik dapat dikenali oleh Clara sebagai sebuah pesawat. Ya, pesawat siluman, mirip sekali dengan Stealth-A117 milik Amerika yang membuatnya terlonjak girang. Akhirnya ia dapat giliran untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ia segera mengeluarkan kamera dari tas punggungnya. Ia buka pintu mobil dan melompat ke luar dengan tergesa-gesa. Tak peduli pada kakinya yang segera dirubung nyamuk-nyamuk haus darah, ia fokus pada kamera di tangannya, siap membuat video. Namun semangatnya seketika pudar begitu melemparkan pandangan ke depan. Tidak ada pesawat lagi, yang tampak hanya bola api seperti semula.
“Luh, pesawat itu ke mana?” pekiknya ke arah Luh yang tidak melepas pandangan dari pertarungan tengah malam itu.
Luh tertawa. “Namanya juga siluman, suka-suka dialah.”
Dengan hati kesal ia jepret juga beberapa kali kejadian misterius yang berlatar-belakang langit bertabur bintang itu sebelum akhirnya merekamnya juga dengan video kamera.
Seperti sedang menyaksikan video game saja layaknya. Kedua objek itu bergerak-gerak sedemikian rupa seperti sedang bermain-main. Bola api yang muncul belakangan tampak semakin agresif, namun bola api yang muncul pertama tampak demikian lincah menghindari setiap serangan. Menit berikutnya ia dibuat menahan napas, bola api yang muncul belakangan berhasil menabrak bola api yang muncul pertama sampai membuatnya terpental dan lenyap.
“Apa yang terjadi, Luh?” Clara memekik cemas.
“Tenang saja, pertarungan belum berakhir.”
“Itu Gus Lanang?”
“Coba tebak.” Luh tersenyum dalam keremangan.
Sesaat kemudian bola api yang lenyap muncul lagi di udara. Kali ini dengan gerakan-gerakan akrobatik yang membuat bola api yang muncul belakangan kewalahan meladeninya, sampai pada suatu momen di mana bola api pertama melakukan serangan dengan membentur bola api kedua dari atas. Bola api kedua pun meluncur ke bawah seakan benda angkasa yang lepas dari orbitnya. Clara menunggu dengan perasaan berdebar, tetapi bola api itu tidak pernah muncul lagi.
“Yes!” sorak Luh sambil mengepalkan tangan kanannya, sementara matanya masih tertuju pada bola api pertama yang perlahan bergerak menjauh dan akhirnya menghilang.
Suara jangkrik dan serangga malam lainnya tiba-tiba terdengar bersahut-sahutan seperti sedang menikmati sebuah perayaan.
“Sudah selesai,” kata Luh lalu menghidupkan mesin mobil.
Clara belum bisa lepas dari keterpanaan. Masih ada keraguan mengendap di dasar hatinya. Kejadian yang barusan berlangsung sepertinya tidak lebih dari sebuah mimpi, masih sulit diterima akal sehat. Apalagi foto-foto yang ia buat dan juga video sama sekali tidak tersimpan dalam memori kameranya. Ketika ia mengeluh mengenai hal itu, Luh tertawa dan berkata, “Mungkin kameramu kurang canggih.”