
Hari masih pagi ketika Michael datang ke kamar Clara. Ia bilang tidak bisa menemaninya ke tempat Luh. Ia ingin memanfaatkan sisa waktunya yang tinggal sehari untuk mengunjungi beberapa objek wisata sekalian mengoleksi cendera mata. Karena itu Clara hanya berangkat dengan Nyoman.
“Nyoman,” ujar Clara dalam perjalanan. “Kata Michael, Nyoman tahu banyak tentang Luh yang pernah jadi pramugari itu. Bagaimana ceritanya ia bisa jadi seorang penyembuh?”
“Sebaiknya kamu tanyakan langsung nanti padanya,” kilah Nyoman, khawatir kalau akan memberikan informasi yang tidak akurat.
Clara pernah mendengar bahwa tidak sedikit orang Bali yang, suka tidak suka, harus menjalani kewajiban sebagai balian, penyembuh alternatif, karena panggilan dari alam niskala, alam tidak nyata. Kalau menolak, biasanya hidup mereka tidak akan tenteram. Bisa menderita penyakit berat yang tak kunjung sembuh.
Luh masih di kamar mandi ketika mereka tiba.
“Maaf, saya membuat kamu menunggu,” sambut Luh ketika Clara masuk ke ruang kerjanya.
Di ruangan itu tercium aroma wangi minyak esensial yang dibakar api lilin pada pantat cawan mungil yang terbuat dari sejenis logam. Alat itu terletak di atas rak kaca di bagian belakang ruangan. Clara memperhatikan lukisan foto, berukuran setara daun jendela ruangan itu, tergantung di dinding belakang ruang kerja Luh. Lukisan foto seorang laki-laki tua berdestar putih dengan wajah memancarkan aura teduh. Di sisi kanan ruangan ada altar kecil di mana terletak beberapa benda yang tak sempat ia perhatikan sebelumnya. Ada semacam tongkat bambu atau rotan kering sepanjang setengah meter dengan diameter sekitar setengah inci. Ada pula jalinan uang kepeng berlobang, berwarna hitam membentuk lingkaran setara alas piring diikat dengan benang kapas sederhana. Selebihnya berjejer beberapa mangkuk keramik dengan hiasan biru pekat.
“Saya yang minta maaf, sudah mengganggu kamu sepagi ini,” Clara melontarkan basa-basi.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?”
“Seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja.”
“Syukurlah.” Luh tersenyum menampakkan lesung pipinya yang manis.
“Tapi, saya penasaran dengan wanita itu,” ucap Clara.
“Lupakan saja,” pintas Luh cepat. “Tidak ada gunanya berurusan dengan dia.”
“Kalau tidak keberatan, saya ingin kamu memberikan sedikit informasi mengenai dia.”
Luh mengernyitkan kening. “Untuk apa?”
“Melengkapi tulisan saya mengenai leak,” jawab Clara tanpa sungkan.
“Saya tidak menyangka kalau kamu seorang penulis.”
“Ini akan jadi buku saya yang pertama.”
Clara merasa Luh tidak akan menolak permintaannya. Mantan pramugari itu memiringkan sedikit kepalanya seakan sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu. Maka Clara cepat-cepat mengeluarkan alat perekam suara dari tas punggungnya lalu menekan tombol untuk menghidupkannya.
“Dulu,” kata Luh mulai bercerita, “tanah tempat hotel itu berdiri, konon milik teman laki-lakinya. Dari semula, tanah itu tak mau dilepas. Saya tak tahu persis bagaimana kelanjutan ceritanya. Yang sangat mengejutkan kemudian, tubuh temannya ditemukan tergantung tak bernyawa di sebuah pohon di pantai itu.
“Sejak itu Ayu Ratri menghilang entah ke mana. Suatu ketika terjadi hal yang sangat aneh pada diri orang yang dulu memaksa teman laki-lakinya menjual tanah. Ia menderita penyakit aneh yang tak kunjung sembuh walaupun sudah lama dirawat di rumah sakit. Ketika orang itu meninggal, banyak yang curiga kalau Ayu Ratri yang jadi penyebab kematiannya. Menurut berita dari mulut ke mulut, Ayu Ratri konon menghilang untuk belajar agar bisa jadi orang sakti.”
“Bisa menjadi leak?”
“Begitulah kira-kira.”
“Terus..?”
“Seperti kita yang pernah belajar di bangku sekolah, tidak semua bisa mencapai tingkat keahlian yang sama. Dan sampai saat ini, hanya Ayu Ratri satu-satunya yang bisa bersiluman jadi pesawat terbang.”
“Jadi, saya telah diserang leak tingkat tinggi? Bisa kamu jelaskan bagaimana tahapan dalam mempelajari ilmu itu?”
“Mana mungkin saya bisa menjelaskan. Saya tak pernah belajar tentang itu.”
“Tapi, kamu bisa menyembuhkan saya. Bagaimana penjelasannya?”
“Jangan khawatir, saya sudah berulang kali ke Bali. Setiap kali datang, saya saya selalu mengosongkan gelas saya,” kata Clara.
“Pembelajar yang baik,” tanggap Luh.
“Masih banyak yang belum saya ketahui, karena itu saya selalu kembali.”
Luh tiba-tiba mengangkat dagunya dan memandang ke luar. “Maaf, agaknya kita harus mengakhiri perbincangan ini,” Luh minta pengertian Clara. ”Orang yang punya janji dengan saya sudah datang.”
“Oh, tidak apa-apa,” sahut Clara maklum.
“Kalau ingin ngobrol lagi, sebaiknya datang malam hari setelah saya selesai dengan pekerjaan saya.”
“Baik. Terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan.”
“Sama-sama.”
***
Luh tidak hanya menarik secara fisik tetapi juga punya hati yang baik. Senyumnya senantiasa menyiratkan keramahan yang tulus. Clara tahu betul, meski setiap pramugari menjalani pendidikan dan pelatihan yang intens, tidak sedikit yang gagal memberikan senyum yang tidak mekanis.
Melihat Luh mengenakan kebaya modifikasi yang membuatnya tampak begitu anggun malam itu, Clara jadi ingin memiliki kebaya yang sama. Kebaya seperti itu, dalam aneka warna, belakangan dikenakan oleh banyak wanita Bali.
Mungkin aku tidak akan tampak seanggun Luh jika mengenakan kebaya, Clara membatin. Aku tahu tubuhku agak bongsor dan lebih pantas menggunakan jins. Ah, kenapa aku harus membandingkan diriku dengannya? Bukankah setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing? Aku seharusnya bersyukur dan bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini. Pekerjaan yang kusukai sebagai manajer restoran di kapal pesiar terkenal dengan penghasilan yang membuatku bisa sering jalan-jalan ke Bali.
Pukul tujuh malam waktu itu. Luh baru saja selesai melayani klien terakhirnya ketika Clara datang. Dia minta waktu untuk ke kamar mandi dan membiarkan Clara menunggu di ruang keluarga yang mirip sebuah perpustakaan. Di ruangan itu ada sebuah rak kayu panjang yang dijejali banyak buku, juga album foto. Di atasnya terpajang beberapa tropi dan juga foto close-up Luh dalam pigura duduk. Sementara pada dinding ruangan yang berwarna putih, selain tertempel jam dinding, tergantung juga dua buah lukisan besar, masing-masing lukisan pasar tradisional dan lukisan ikan koi.
Album foto tentu saja bisa menjadi alat bantu yang baik untuk mengenal lebih jauh pemiliknya. Maka sambil menunggu Luh kembali dari kamar mandi Clara memanfaatkan waktu untuk membuka-buka album foto yang ada sambil duduk pada kursi empuk dengan sandaran berbingkai kayu jati berukir yang terletak di dekat jendela kaca yang berderet sepanjang satu sisi ruangan. Dari sekian banyak foto narsis yang tersimpan dalam album itu, Clara tahu Luh sudah jalan-jalan ke banyak tempat di dunia. Itulah enaknya jadi pramugari, bisa jalan-jalan tanpa harus membayar karena jalan-jalan bisa sambil kerja.
Pada bagian lain Clara melihat beberapa foto Luh bersama teman-temannya dalam kegiatan upacara adat di Bali. Ada foto seorang laki-laki yang sempat mencuri perhatiannya. Laki-laki kekar berkulit agak terang dengan senyumnya yang membuat Clara ingin memandang berlama-lama seakan ia pernah bertemu dengannya.
“Kamu kenal dia?” tanya Luh ketika menghampiri Clara setelah balik dari kamar mandi.
“Saya tidak yakin. Mungkin ia hanya mirip dengan orang yang pernah saya kenal.”
“Namanya Gus Lanang. Ia pernah pacaran dengan salah seorang teman saya,” ujar Luh.
“Pramugari?”
“Teman sekampus, tapi sudah putus.”
“Oh!”
Luh minta Clara menemaninya makan malam sambil meneruskan bincang-bincang di ruang makan. Clara menyambutnya dengan senang hati dan dalam sekejap ia dapati dirinya telah menjadi teman akrab Luh. Setelah ia yakin bahwa Luh sosok yang demikian terbuka dan tidak begitu mementingkan urusan privasi, Clara jadi tidak sungkan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi padanya.
Clara ingin sekali tahu bagaimana Luh beralih dari profesi pramugari ke penyembuh alternatif, yang menurutnya merupakan lompatan sangat jauh. Dari keliling-keliling ke berbagai tempat di dunia menjadi duduk tenang seharian di rumah melayani orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Orang bisa saja menilainya sebagai kemunduran atau malah sebaliknya, tergantung dari sudut mana menilainya.
“Berawal dari sebuah kecelakaan,” ungkap Luh kalem setelah membasahi kerongkongannya dengan seteguk air putih. Matanya tampak sayu, menegaskan kalau ia sedang menerawang peristiwa yang pernah dialaminya di masa lalu.
“Kecelakaan pesawat?”
“Bukan. Akan saya ceritakan nanti setelah selesai makan, oke?”