Back To Bali

Back To Bali
Episode 5



Aku tahu suka dan duka adalah warna kehidupan. Tak mungkin memisahkan satu dari yang lainnya, karena tanpa salah satunya hidup akan kehilangan keutuhan dan keindahan tak akan pernah tercipta. Keduanya ibarat warna yang ditorehkan tangan pemilik keberadaan di atas kanvas kehidupan. Itu rwa bhineda, dua hal yang berbeda tetapi selalu bergandeng tangan ibarat siang dan malam, begitu Reni, teman sekampusku pernah bilang.


Mereka yang tumbuh di lingkungan keluarga dan masyarakat tradisional Bali tentu tidak asing dengan istilah itu. Namun tidak sedikit yang tidak peduli. Banyak yang begitu sibuk dengan urusan ritual dan puja setiap hari tanpa merasa perlu menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Banyak yang melakoni semua itu sekadar sebagai kegiatan rutin belaka.Terkadang aku merasa seperti itu juga.


Buyar lamunanku ketika sikut Reni menonjok rusuk kananku. Serentak dengan itu kulihat teman-teman pada berhamburan ke luar ruangan.


“Pada mau ke mana ini?” tanyaku terheran-heran.


“Idih, ke mana aja?” ledek Reni sembari mengemasi buku-bukunya. “Pulang, Pak Sujana sakit,” tandasnya.


Aku bersorak dalam hati walau sesungguhnya rugi. Rugi karena waktu yang kukorbankan tidak mendapat tebusan tambahan ilmu yang kuperlukan. Namun bagaimanapun, malam ini aku jadi punya waktu lebih banyak buat membantu Ibu.


Aku melangkah di samping Reni. Ia tidak tampak tergesa seperti yang lainnya. Begitu santai dengan langkah-langkah pendek yang membuatku penasaran.


“Sepertinya mau hujan, Ren, buruan dikit kenapa sih?”


“Lho, kamu mau pulang juga?”


“Habis, mau ke mana lagi?”


Reni tiba-tiba berhenti melangkah dan dipandanginya aku sedemikian rupa. “Kamu lupa ya, kita kan ada janji sama Wawas?”


“Ya Tuhan, tapi…,” aku tak melanjutkan kalimatku. Bukan apa-apa, aku hanya merasa tak enak mengatakannya. Kemarin aku janji untuk sama-sama menunggu Wawas malam ini. Soalnya aku punya kepentingan juga dalam hal ini.


“Kamu ada acara lain?” suara Reni menyelidik.


“Rematik Ibu kumat, Ren.”


Aku merasa tak perlu berkata banyak padanya. Dengan sepotong kalimat itu saja pasti ia sudah tahu apa yang harus kulakukan sesampainya di rumah, yakni membuat ratusan canang sari, sesaji kecil berbentuk bulat yang kami buat dari janur, pelbagai jenis kembang dan lain-lain. Dari hasil penjualan sesaji inilah kami sekeluarga menopang hidup sejak Ayah meninggal.


“Ya sudah, pulang saja duluan,” kudengar suara Reni penuh nada tulus. “Terjemahannya biar kuantar besok. Salam buat Ibu ya.”


Sudah lewat sepuluh menit dari pukul delapan malam. Di atas mikrolet, aku mulai melayang ke lorong masa lalu. Ah, jika saja Ayah masih hidup, tentu aku tak perlu berpacu dengan waktu seperti ini. Kalau saja Ibu sehat-sehat, tentu aku tak harus mengingkari janji dan membiarkan Reni menunggu Wawas sendirian malam-malam begini. Tetapi tunggu dulu. Bukankah ini bisa menjadi kesempatan baik buat mereka?


Tampaknya Wawas naksir Reni dan Reni pun, menurut hematku, tak akan menolak. Memang, selama ini Reni tampak agak acuh. Itu sudah biasa kupikir, agar tidak terkesan gampangan. Siapa sih yang tidak bakal kesengsem ketemu laki-laki seperti Wawas? Sudah ganteng, pintar, baik hati pula. Lebih dari itu ia sudah punya pekerjaan tetap. Kendati bukan sarjana, ia toh bisa menunjukkan kebolehannya dengan bekerja pada sebuah biro perjalanan yang bonafid di kota pariwisata ini.


Kalau aku boleh jujur, sebenarnya ada secuil perasaan iri tumbuh di hatiku bila menyaksikan bagaimana Wawas memperlakukan Reni. Apa pun yang ia lakukan sepertinya hanya untuk Reni seorang. Jika ia begitu antusias membantu kami, itu tentu karena Reni. Tetapi aku tak boleh membiarkan perasaan seperti ini berkembang di hatiku. Aku patut bersyukur kalau Reni telah menemukan calon pasangan hidup yang ideal.


Aku tahu perasaan negatif ini timbul karena apa yang kudapatkan tak sebagus yang diperoleh Reni. Mardawa tak pernah menunjukkan perhatian yang demikian besar kepadaku. Ia memang seorang calon arsitek yang sangat sibuk karena harus merampungkan kuliah sambil bekerja. Jarang ia punya waktu khusus untukku, kecuali malam Minggu. Itu pun masih banyak bolongnya. Aku sendiri tak mengerti mengapa pilihanku jatuh padanya padahal aku masih bisa memilih yang lain kalau mau.


Aku tak mengerti kriteria apa yang kupakai untuk menetapkan pilihanku. Boleh jadi karena sosoknya mendekati sosok almarhum Ayah. Atau mungkin juga karena kebetulan ia muncul di saat aku membutuhkan pelindung pengganti Ayah, atau… ah, entahlah. Semuanya barangkali sudah digariskan dari atas sana, merupakan bagian dari karma wasana. Seperti halnya kejadian malam itu. Sedikit pun aku tidak menduga kalau itu adalah saat terakhir buat Ayah menemani kami di dunia ini. Tak mungkin kulupakan malam yang berdarah itu.


Aku terbangun karena dikejutkan oleh suara berisik dari luar kamar. Begitu kubuka pintu, kudapati Ayah tengah bergumul dengan seseorang entah siapa. Belakangan baru aku tahu kalau orang itu hendak mencuri di rumah kami. Ayah yang menguasai ilmu bela diri akhirnya berhasil membuat pencuri itu terkapar di halaman rumah dengan sebuah tendangan yang keras ke dadanya. Karena disangka mati, Ayah kemudian mendekat. Saat Ayah berjongkok untuk memeriksa nadinya, tiba-tiba tangan pencuri itu berkelebat menusukkan belati ke arah perut Ayah. Tak ayal lagi, Ayah tersungkur sambil merintih memegangi perutnya. Spontan aku berteriak minta tolong sementara pencuri itu kabur entah ke mana.


Kehilangan Ayah menyebabkan kami menghadapi kenyataan yang amat pahit, yang memaksa kami membanting tulang setiap hari. Tetapi, mengapa aku mesti kuliah segala dan bukannya bekerja saja agar beban Ibu jadi lebih ringan?


Aku tahu pertanyaan ini pasti bisa hadir di benak siapa saja. Tak sedikit yang salah menilai. Aku dicap egois dan tidak realistis. Namun pada akhirnya mereka paham juga setelah kujelaskan, aku melakukannya hanya untuk menyenangkan hati Ibu. Sebenarnya aku ingin bekerja saja, tetapi Ibu keberatan.


“Percuma, Luh,” katanya suatu hari. “Kamu tak mungkin bisa berbuat banyak untuk keluarga kita hanya dengan mengandalkan ijazah SMA. Berapa sih gaji yang bisa kamu harapkan?”


Namun aku tak putus asa. Lamaran demi lamaran terus kutulis. Tentu saja ini kulakukan tanpa sepengetahuan Ibu. Aku sangat mengerti kalau Ibu dendam pada keadaan. Ia terobsesi oleh hal yang satu ini. Jujur saja, aku sendiri sangsi apa kelak bisa berhasil meraih gelar sarjana dengan dukungan dana yang dicukup-cukupkan. Seberapa sih uang pensiunan Ayah yang diterima Ibu sebagai seorang janda pegawai negeri?


“Turun di mana, Gek?”


Teguran sopir mikrolet membuatku tersentak. Aku turun di mana? Kudapati diriku hanya seorang diri di atas mikrolet. Blingsatan aku menengok ke luar jendela untuk mengetahui di mana aku berada.


“Stop! Stop!” pintaku.


Lewat sedikit tidak apa-apa. Aku turun dan menyerahkan ongkos pada sopir dari luar pintu depan sebelah kiri.


“Lho, kamu Luh, kan?” kata sopir yang ternyata mengenaliku. Ia bekas tetanggaku yang kini tinggal di kompleks perumahan BTN di luar kota.


“Ya, eh… Bli Lunga ya?”


“Sudah, uangnya dibawa saja. Lain kali jangan melamun begitu. Sendirian lagi malam-malam begini. Kalau nanti ketemu orang jahat bagaimana?”


“Ya, Bli..., terima kasih.”


Acara jalan kaki praktis bertambah. Tak seberapa memang, paling cuma seratus meter. Sampai di rumah kudapati Ibu sedang berbaring di tempat tidur. Sedih rasanya melihat wanita yang sehari-harinya bekerja keras dan tak mengenal lelah kini tertelentang tak berdaya.


“Ke dokter sekarang ya, Me?” kataku seraya mendekat. Aku berusaha agar jangan sampai menyentuh kakinya, terutama persendian lututnya yang bengkak. Ia akan sangat kesakitan kalau itu sampai tersentuh.


“Sudah malam, besok saja,” sahutnya.


“Obatnya sudah diminum?”


“Baru saja. Kamu pasti lelah ya, Luh?”


“Ada apa, Me?” aku balik bertanya.


Ia menggeleng. “Tidak apa-apa. Tadi Meme sudah membuat canang sari, tapi belum sempat dimasukkan ke keranjang dagangan. Sudahlah, kamu makan saja dulu. Nanti sebelum tidur kamu rapikan ya? Biar besok Meme bisa langsung berangkat ke pasar.”


“Tidak, Me. Besok biar Luh saja yang ke pasar.”


“Apa? Kamu mau gantikan Meme jualan? Apa kamu tidak malu?”


“Kenapa mesti malu. Jualan canang kan bukan pekerjaan hina, Me!”


“Tapi kamu kan mahasiswi, Luh. Tak tega Meme membiarkan kamu lakukan itu.”


“Ah, Meme kok begitu? Tak usah berpikir macam-macam. Yang penting pekerjaan yang saya jalani itu tidak melanggar aturan.”


Ibu diam. Dipandanginya wajahku lekat-lekat. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Lambat-lambat kemudian dua bulatan bening muncul di sudut-sudut matanya. Mungkin ia sedih membayangkan kenyataan di mana anak gadisnya harus turut membanting tulang demi meyelamatkan bahtera keluarga, sesuatu yang mungkin tak pernah terlintas dalam pikirannya.


Kucoba menghibur Ibu dengan meyakinkannya bahwa bekerja seperti itu bukanlah beban bagiku. Mungkin agak menyita waktu belajarku, memang, tetapi bukankah dengan menyelami kehidupan seperti itu juga berarti telah belajar tentang sesuatu yang berharga, yang tak mungkin kudapatkan di bangku kuliah?