Back To Bali

Back To Bali
Episode 33



Wisnu menarik napas panjang sebelum berucap, “Luh tahu, belakangan ini sering terjadi demo menentang reklamasi Teluk Benoa. Walau saya bukan bagian dari mereka, dalam hati saya mendukung perjuangan semacam itu. Perjuangan untuk menyelamatkan alam. Jangan hanya karena bisa mendatangkan uang banyak dari industri pariwisata kita lantas lupa diri. Lupa pada tragedi yang pernah menimpa. Ingat, bagaimana tragedi Bom Bali yang berseri itu pernah membuat Bali kelimpungan karena begitu bergantung pada pariwisata.


Menjadikan Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia tidaklah salah, namun jangan sampai membabi buta, lupa pada kewajiban menjaga alam.”


“Waduh, serius sekali ini,” tanggap Luh.


“Tidak apa-apa kan, bicara serius sekali-kali?”


“Nggak apa-apa, lanjutkan.”


“Saya tidak tahu apakah ini semacam firasat. Saya rasa peristiwa yang mirip dengan tragedi Bom Bali bisa saja terjadi lagi. Saya berharap ini hanya khayalan saya.”


“Sejak kapan kamu punya kekhawatiran seperti itu?”


“Belum lama. Sepertinya setelah nonton film J.I. Joe.”


“Yang berkisah tentang penghancuran Menara Eiffel dengan senjata biologi?”


“Betul sekali. Mengerikan, bukan?”


“Ah, itu kan hanya film. Fantasi.”


“Jangan salah, kenyataan tak jarang berawal dari fantasi. Pesawat terbang pun tercipta karena fantasi Wright Bersaudara, bukan?”


“Wah, bisa melantur ini.”


“Tidak. Saya hanya ingin menegaskan dasar kekhawatiran saya. Perang nuklir atau semacamnya mungkin terlalu kasar untuk era kita. Tapi, teknologi yang semakin canggih sangat memungkinkan terjadinya perang dalam bentuk yang halus.”


“Misalnya?”


“Pihak tertentu bisa saja menciptakan wabah penyakit berbahaya dengan tingkat penularan berskala global, dengan menyebarkan virus secara diam-diam. Kalau itu terjadi, mobilitas orang pasti terhenti. Tidak ada orang yang bepergian. Terpikir nggak, bagaimana nasib Bali yang terlanjur menggantungkan hidupnya pada pariwisata?”


Luh dan Clara bertukar pandang, tidak bisa membantah kata-kata Wisnu.


“Masuk akal juga,” tanggap Luh. “Sebagai antisipasi, menurutmu langkah apa yang bisa diambil?”


“Jangan bergantung sepenuhnya pada pariwisata. Perhatikan pertanian lebih serius. Kita dikenal sebagai negeri yang berlahan subur, tapi pemerintah kita tak sepenuh hati menangani pertanian. Para petani dibiarkan berkutat dengan nasibnya. Padahal, kita tahu, kalau stok pangan tidak mencukupi, punya uang banyak tidak akan ada artinya.”


“Apa perlu demo untuk mengingatkan pemerintah?”


“Tak perlu buang-buang energi. Tak usah jadi pengemis, mulai saja dari apa yang bisa kita lakukan.”


“Tampaknya kamu sudah siap betul. Apa yang akan kamu lakukan?”


“Seperti kata Clara tadi, kami akan kembali ke desa, jadi petani.”


“Terus, usaha kalian?”


“Saya tidak perlu terlibat langsung, kan sudah ada sistemnya.”


Luh mengacungkan kedua jempol tangannya. “Suamimu memang luar biasa,” ucap Luh sambil berpaling ke arah Clara.


Clara tersenyum sambil mengembangkan kedua tangannya.


Setelah sama-sama menikmati teh yang disuguhkan Clara, mereka mulai membahas masalah kesehatan Wisnu. Luh mengatakan, penyakit Wisnu harus segera ditangani sampai tuntas. Jika tidak, Wisnu bisa mengalami gangguan kejiwaan yang mungkin tidak akan dapat diatasi psikiater.


“Luangkan waktu untuk ke rumah besok,” ia menyarankan. “Tapi, sepertinya besok banyak yang datang. Nanti saya hubungi setelah senggang.”


***


Sudah pukul sepuluh malam ketika Luh memberitahu Clara bahwa sudah tak ada lagi pasien yang datang. Dalam sepuluh menit Clara dan Wisnu sudah menginjakkan kaki di halaman rumahnya. Ada sedikit kejutan mereka rasakan ketika masuk ke ruang prakteknya. Ruangan itu tidak saja terasa lebih lapang tanpa adanya meja kerja yang dulu biasa dipakai Luh, tetapi juga kedap suara. Mereka tahu itu dari bahan plafonnya yang bertekstur bintik-bintik. Luh bilang sengaja dibuat demikian agar tidak mengganggu tetangga, karena ada saja pasien yang berteriak ketika menjalani proses terapi. Kejadian seperti itu sudah tidak asing lagi bagi Clara karena ia sudah mengunjungi sekian banyak orang pintar sebelumnya.


Clara dan Wisnu duduk di atas lantai beralaskan tikar pandan berhadap-hadapan dengan Luh. Mereka berdua diminta tetap santai menghadapi apa pun yang terjadi nanti selama proses terapi, dan membiarkan semuanya berlangsung sebagaimana adanya. Satu hal yang wajib mereka lakukan sebelum mulai adalah berdoa, mohon kepada Dewata agar berkenan memberikan solusi terbaik untuk masalah yang sedang mereka alami. Dengan rendah hati Luh mengingatkan mereka, meskipun ia memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang lain pada umumnya, dia hanyalah alat di tangan Tuhan.


Ketika mereka sudah siap, Luh mengambil sebatang bambu kering serupa tongkat dari altar di depan mereka, setara dengan pipa tiga perempat inci dengan panjang sekitar satu meter. Itu bambu empet, tidak berongga. Ia kemudian minta Wisnu memegang tongkat itu. Begitu benda itu menyentuh tangannya, Wisnu langsung bereaksi. Ia memperdengarkan suara tawa nyaring seakan ia seorang wanita.


“Kamu mau turut campur ya dengan urusan pribadiku?!” bentaknya mengejek.


“Kamu siapa? Berani-beraninya masuk ke sini!” tanggap Luh balik membentak.


“Kalau masih mau hidup, jangan turut campur! Aku sudah bayar mahal untuk bisa membalaskan sakit hatiku.”


“Jangan cari gara-gara. Kamu sakit hati sama siapa?”


“Sama laki-laki yang kawin dengan perempuan di sebelahku ini.”


“Apa salahnya? Mereka saling mencintai.”


“Itu melukaiku!”


“Kenapa melukaimu?”


“Karena ia tidak kawin denganku, padahal ia tahu aku mencintainya.”


“Hanya orang tak tahu diri yang suka memaksakan kehendak.”


“Diam!” Wisnu melemparkan bambu di tangannya dan lantas mencekik leher Luh, membuat Luh sulit bernapas.


Clara panik, tak menyangka Wisnu bisa mendadak beringas seperti itu. Spontan ia bergerak hendak melerai tetapi Luh memberi isyaat agar ia menjauh. Luh berusaha melakukan perlawanan dengan mengarahkan telapak tangan kanannya ke dada Wisnu. Hanya dengan gerakan menghentak tanpa sentuhan, ia berhasil membuat Wisnu melepaskan cekikan dan lantas terhuyung sebelum akhirnya mencium lantai dengan napas tersengal.


“Pergi dari sini! Jika tidak, kamu akan kubuat binasa!” ancam Luh sambil terus mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Wisnu.


Wisnu mengerang-erang kepanasan. Seperti tak kuasa menahan rasa sakit yang teramat sangat, ia mengaduh sejadi-jadinya dan akhirnya minta diampuni. “Aku kapok! Aku kapok!” Setelah itu Wisnu langsung terkulai seperti handuk basah.


“Saya ada di mana ini?” ia menyapukan pandang ke sekitar.


“Kita di rumah Luh, di ruang terapi,” jawab Clara.


“Apa yang terjadi?”


“Kamu mengamuk barusan.”


“Masa sih?”


Luh tersenyum melihat Wisnu kebingungan.


“Wisnu, boleh saya tanya sesuatu?” ucap Luh pelan.


“Kenapa tidak?”


“Apakah kamu pernah berjanji mengawini seseorang?”


Wisnu memalingkan wajah ke arah Clara.


“Jangan khawatir. Katakan saja sejujurnya,” desak Clara.


“Tak pernah, selain sama Clara,” ujar Wisnu.


“Pernah dekat dengan wanita lain sebelum kenal Clara?”


“Sepertinya saya sedang diadili. Ada apa sebenarnya?” Wisnu mulai tampak tak nyaman.


“Tadi ada wanita datang ke sini dan mencekik saya.”


“Ah, yang benar saja.”


“Dia meminjam tubuhmu dan bilang kamu telah menyakitinya.”


“Saya tak mengerti apa yang Luh bicarakan.”


“Wanita itu mencintaimu, tapi kamu malah kawin sama wanita lain.”


Wisnu lama membisu sebelum akhirnya bilang, “Oh, dia pasti Sunari.”


“Siapa Sunari?” tanya Clara.


Wisnu termenung seperti sedang mengumpulkan kepingan kenangan yang tercecer. “Kasihan, kalau saja ia jalani hidupnya dengan benar pasti nasibnya bisa lain,” ungkap Wisnu. Ia lalu menceritakan pengalaman masa lalunya dengan wanita mantan teman kuliahnya.


Menurutnya Sunari cukup menarik secara fisik namun karena salah pergaulan ia jadi urakan. Suka merokok dan sering gonta-ganti pacar. Wisnu bahkan curiga kalau Sunari diam-diam mengunakan obat terlarang. Itulah sebabnya mengapa ia selalu berusaha menjauhi wanita itu.


“Dialah yang menyakitimu.”


“Apa iya?” Mata Wisnu terbeliak.


“Jangan khawatir, dia tak akan mengusikmu lagi.”


“Saya penasaran, Luh. Apa ia membayar orang sekelas Ayu Ratri?” sela Clara.


“Tidak perlu sekelas Ayu Ratri. Itu soal olah energi. Tidak sedikit yang bisa melakukan hal itu. Dengan memperalat energi, ada beberapa penyakit yang bisa dibikin dari jarak jauh.”


“Semacam santet?”


“Betul. Salah satunya croncong polo.”


“Saya pernah dengar itu.”


“Itu penyakit yang menyasar otak. Cara membuatnya tertulis dalam lontar.”


“Yang negatif begitu juga tertulis dalam lontar?”


“Mengetahui cara membuatnya akan memudahkan orang memberikan terapi yang tepat,” kilah Luh sebelum menudingkan telunjuknya ke sudut ruangan di mana teronggok sebuah peti kayu seukuran kulkas satu pintu. “Itu isinya semua lontar warisan kakek saya.”


“Luh membacanya?”


Luh menggeleng pelan. ”Saya masih membutuhkan orang lain untuk memahami isinya. Kemampuan saya membaca huruf Bali belum memadai. Belum lagi bahasanya yang lebih banyak menggunakan bahasa Jawa Kuno. Namun bagaimanapun saya harus belajar.”


“Jika diijinkan, saya ingin ikut belajar.”


“Mengapa tidak? Kembali ke croncong polo, itulah penyakit yang menyerang Wisnu. Makanya saya buru-buru kirim air, biar tak berakibat fatal.”


“Terima kasih, Luh telah membuat Wisnu baik kembali.”


“Sama-sama. Sayangnya...”


“Sayangnya kenapa?” tanggap Clara cemas.


“Coba Clara sempat merekam peristiwa tadi dengan video, pasti bisa jadi alat promosi yang andal buat buku yang sedang ditulis.”


“Wah, sama sekali tak terlintas dalam pikiran saya. Saya hanya ingin Wisnu sehat kembali. Tapi, setidaknya saya bisa menambahkan bab baru.”


“Nah, itu dia. Cepat selesaikan, saya ingin segera baca.”


(TAMAT)