
Ketika membersihkan meja sehabis makan malam, rasa nyeri di bagian punggung Clara datang menyamarkan pegal pada panggulnya. Perutnya terasa meregang. Keinginan buang air kecil mendesaknya untuk segera ke kamar kecil. Niti, keponakan Wisnu yang tinggal bersama mereka, berhenti mencuci piring karena melihat kening Clara berkeringat.
“Istirahat saja, Bi. Biar Niti yang bereskan.”
Dengan dengkul kehilangan separuh tenaga Clara melangkah pelan meninggalkan ruang makan. Niti yang belajar di diploma pariwisata sengaja mereka minta tinggal bersama mereka supaya ia tidak mengeluarkan uang indekos. Wayan Nurani, ibunya, adalah kakak perempuan Wisnu yang menikah dengan Anggara, laki-laki dari desa tetangga. Mereka juga menafkahi keluarga dengan bertani seperti orangtua Wisnu. Bedanya, orangtua Wisnu sudah punya lahan sendiri sedangkan Anggara masih menggarap lahan orang lain.
“Sepertinya ia akan datang lebih awal,” ujar Clara ketika melintas di ruang keluarga melewati Wisnu yang tengah membaca buku.
“Mules lagi?”
Clara mengangguk sambil membuka pintu kamar terus masuk ke kamar mandi. Segera ia mengganti celana dalamnya yang dinodai titik merah kecoklatan. Keluar dari kamar mandi ia melihat Wisnu mengangkat tas besar berisi perlengkapan bersalin yang telah ia siapkan sejak kemarin. Di dalamnya ada handuk, sabun, pasta gigi dan pakaian yang akan ia perlukan nanti dalam persalinan, termasuk perlengkapan bayi tentu saja.
“Sudah lengkap, kan?” tanya Wisnu.
Clara mengangguk lemah.
Malam itu Wisnu menyetir mobil dengan sangat hati-hati membawanya ke luar dari kompleks perumahan. Mereka menyusuri jalan lurus ke arah utara, melewati pasar tradisonal yang sudah tutup lalu belok kiri setelah sampai di persimpangan Jl. Raya Puputan. Jalan lebar yang dinaungi pepohonan rindang berjejer rapat di sepanjang tepi kiri dan kanan jalan itu tidak begitu ramai pada pukul delapan malam itu. Monumen Bajra Sandhi yang terpancang bisu di sebelah kanan jalan cepat mereka lewati. Lampu lalu lintas di dua perempatan berikutnya mereka lewati tanpa perlu berhenti terlebih dahulu karena sedang menyala hijau.
Memasuki Jl. Teuku Umar keadaan agak ramai. Clara maklum karena di situ banyak toko dan tempat makan berdiri di sepanjang kiri dan kanan jalan. Dan pada jam-jam seperti itu tentu banyak orang yang makan di luar. Setiba di rumah sakit bersalin Wisnu cepat menyelesaikan urusan pendaftaran. Clara lalu dibimbing masuk ke sebuah ruangan yang walaupun sesungguhnya nyaman tetapi tetap tidak mampu menghalau kecemasannya.
“Pengalaman pertama memang mendebarkan,” celoteh dr. Agung, dokter spesialis kebidanan, setelah selesai melakukan pemeriksaan seakan bisa membaca kecemasan di wajah Clara. Ia sudah rutin memeriksanya pada kesempatan sebelumnya. “Santai saja, baru bukaan satu kok. Persalinan bisa berlangsung satu kali dua puluh empat jam,” lanjutnya.
Dr. Agung mengalungkan stetoskopnya di leher. Sambil beringsut ke luar ruangan diikuti paramedis, ia menyempatkan diri menepuk dengan akrab pundak Wisnu. Suaminya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring mengucapkan terima kasih pada dokter yang dagunya dicukur licin namun membiarkan kumis tumbuh subur di atas kelopak bibirnya.
Siapa pun tahu, setiap awal pasti terasa sulit. Apa yang akan terjadi menghadirkan teka-teki di kepala Clara. Penderitaan seorang wanita serasa mencapai puncaknya pada saat seperti itu. Masa-masa mual dan muntah yang sudah lewat lalu berganti dengan siksaan yang pasti tak pernah dialami kaum laki-laki.
Karena ponselnya ketinggalan, Wisnu minta izin untuk pulang sebentar ketika petugas yang menemani dokter tadi muncul lagi. Selama ia pergi, seorang petugas bernama Ayu menyempatkan diri mengobrol dengan Clara. Rupanya ia juga menyembunyikan kecemasan yang sama. Clara maklum karena, seperti katanya, ia akan segera mengakhiri masa lajangya. Ia banyak bertanya tentang cara Clara menghadapi masalah yang terjadi dalam masa kehamilan dan mendengarkan celotehnya dengan sungguh-sungguh.
Clara melewati malam itu dengan tidur hanya beberapa jam. Menjelang pagi ia dibangunkan oleh rasa nyeri dan pegal yang sudah ia hapal. Yang tak tertahankan adalah kontraksi luar biasa di sekitar perut bagian bawah, membuat Wisnu buru-buru memanggil petugas yang sedang jaga. Tak berapa lama Ayu dan temannya datang tergopoh-gopoh. Dokter Agung muncul beberapa saat kemudian dengan wajah sedikit kusam, mungkin karena tidak cukup istirahat. Didampingi para pembantunya ia segera memimpin persalinan.
Rasa sakit yang datang bergelombang terasa makin naik intensitasnya, membuat Clara tersengal menahannya sementara keringat merembes dari segenap pori-porinya. Ia berkali-kali mengedan mengikuti petunjuk dokter. Ia cekal kuat-kuat tangan Wisnu seakan dengan begitu ia mendapat tenaga tambahan.
Tiba-tiba ia teringat ibunya. Ingin rasanya ia minta maaf. Ia telah begitu sering membuat wanita penyabar itu menelan perasaan kecewa dengan ulahnya yang dulu suka minggat bila bertengkar sengit dengannya.
Kini ia dapat merasakan betapa berat perjuangan yang harus ibunya lewati untuk membuatnya bisa hadir di muka bumi ini.
Setelah melampaui menit-menit yang seakan telah mengantarnya ke depan pintu maut, suara lengking tangis yang ia nanti-nantikan akhirnya pecah. Ia tahu pergulatan antara hidup dan mati sudah lewat. Otot dan dagingnya perlahan mengendur mendambakan relaksasi. Layar hitam pun membentang di depan mata membuatnya terlelap dalam kelelahan yang teramat sangat.
Ketika membuka mata, ia lihat Wisnu mengambil alih bayinya yang sudah bersih dari tangan Ayu. Ia perhatikan bagaimana Wisnu komat-kamit di telinga kanan dan kiri bayi. Mungkin ia sedang membisikkan mantra atau doa tertentu agar kelak ia menjadi manusia ideal, berguna bagi keluarga dan kehidupan orang banyak.
“Terima kasih, Clara,” ucap Wisnu seraya mencium keningnya dengan hangat setelah membaringkan bayi itu di sisinya. Clara tercekat dalam keharuan. Ia merasa begitu dihargai seakan sebentuk kehidupan baru yang hadir dalam hidup Wisnu adalah hadiah paling berarti yang pernah ia terima sepanjang hidupnya.
Wisnu menganggukkan kepala sambil tersenyum.
***
Kehadiran Nata Wijaya di dunia ini menyempurnakan kebahagiaan mereka. Ia memiliki ketampanan seorang laki-laki blasteran yang unik. Rambut kecoklatan dan mata kebiruan. Namun hidung, bibir dan kulitnya mirip punya Wisnu, tidak kebule-bulean. Clara berharap kelak ia tumbuh menjadi laki-laki berbadan tinggi gagah seperti ayahnya.
Dalam masa tumbuh kembangnya mereka sangat memperhatikan kebutuhan nutrisinya. Mereka berupaya sedini mungkin menerapkan pola makan seperti yang dianjurkan ahli gizi. Mereka selalu berusaha membuatnya merasa senang makan di rumah, menjauhkannya dari aneka cemilan miskin nutrisi yang kini banyak dijual di mana-mana, makanan mana lebih banyak mengandalkan perisa makanan dan bahan pewarna buatan untuk menarik selera anak-anak.
Clara memberinya kebebasan untuk menentukan sendiri makanan yang ia inginkan. Ia selalu siap memenuhi keinginan bocah itu bila ia bilang, “Ma, bisa Nata minta dibuatkan sayur jepang campur wortel?” atau “Ma, Nata mau makan nasi pakai kuah.”
Namun mereka berdua tidak membatasi pergaulannya. Ketika mengetahui teman-temannya lebih suka memanggilnya Putu Turis daripada nama sebenarnya, mereka senyum-senyum saja. Yang penting ia sendiri merasa nyaman dengan semua itu.
“Mengapa mereka memanggilmu Putu Turis, Nata?” pancing Clara suatu hari.
“Karena rambutku pirang, Ma,” jawabnya polos.
“Kamu tidak marah?”
“Mengapa marah? Mereka semua baik, Ma. Mereka selalu mengajak Nata ikut bermain.”
Ketika ia mulai masuk sekolah dasar, Wisnu dan Clara tidak terlalu ketat lagi menerapkan aturan padanya. Mereka yakin pola hidup yang dikondisikan sampai ia berusia enam tahun telah tertanam kuat di bawah sadarnya, sehingga mereka tidak perlu cemas seandainya ada sedikit pengaruh negatif masuk dalam lingkungan pergaulannya.
Waktu luang yang dimiliki Clara kemudian membuatnya berpikir untuk kembali menggarap buku yang terbengkalai, yang akhirnya ia sampaikan pada suaminya.
“Wisnu, sekarang saya punya banyak waktu luang. Bagaimana kalau saya tulis kembali buku tentang leak itu?”
“Saya senang kamu masih dibuat gelisah oleh gagasan itu.”
“Kamu setuju?”
“Bahkan berjanji untuk membantu, jika diperlukan.”
“Jadi, kamu akan menemani saya ke mana-mana untuk keperluan wawancara?”
“Itulah gunanya kebebasan waktu. Kita bisa melakukan apa saja seperti yang kita mau.”
“Terima kasih atas dukungan yang tak pernah saya bayangkan.”