
Luh sangat percaya pada karmaphala, hukum sebab akibat yang merupakan bagian dari hukum alam menurut sistem kepercayaan yang dianutnya. Menurutnya, dia dan Clara bisa akrab begitu cepat lantaran ada kaitannya dengan kehidupan mereka di masa lalu, makanya mereka juga begitu kompak membahas rencana perjalanan untuk menemui Gus Lanang. Pun bukan sebuah kebetulan kalau Clara tertarik untuk menulis buku tentang leak. Besar kemungkinannya ia pernah dilahirkan di Pulau Dewata yang sangat ia cintai dan memiliki ikatan karma dengan orang-orang tertentu, sehingga ia terlibat begitu saja dalam beberapa peristiwa seakan mengikuti skenario yang ditulis tangan semesta.
Karena perjalanan yang akan mereka tempuh cukup jauh, pagi-pagi mereka sudah berangkat setelah menyantap sarapan yang disiapkan Luh. Duduk di sebelah kiri Luh, seperti kemarin Clara merasa sangat nyaman. Luh bilang mobil miliknya itu dipesan secara khusus. Boleh jadi mobil dengan warna biru metalik seperti itu hanya dia yang punya.
“Kamu dapat merasakan vibrasinya?” tanya Luh waktu Clara memberi komentar tentang mobilnya.
”Saya merasa nyaman saja,” jawab Clara. Luh tersenyum dan terus mengemudi dengan tenang.
Clara tidak menyangka kalau Luh punya kemampuan menyetir yang baik. Mereka sudah memasuki wilayah Kabupaten Karangasem, kawasan Bali bagian timur, dalam satu jam. Selepas Pantai Candidasa, salah satu destinasi wisata paling menarik di kawasan itu, Luh harus bekerja keras dengan setirnya karena harus melewati banyak tikungan, begitu pula jalan menanjak maupun menurun. Apalagi masih ada sisa lumpur yang sudah kering bekas tanah longsor di beberapa tikungan sebelum melewati jembatan di sebelah barat Desa Bugbug.
Mendekati Amlapura, di persimpangan jalan di Subagan, Clara harus turun unuk bertanya pada seseorang. Mereka tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk bisa sampai ke Abianpoh.
Perubahan drastis telah terjadi di mana-mana di seantero Bali, termasuk wilayah terpencil di bagian timur. Ketika terakhir kali Clara berkunjung ke rumah Nari bersama kedua orangtuanya, jalan setelah persimpangan tempat mereka berhenti masih dikepung lahan tidak produktif bekas muntahan lahar Gunung Agung. Kini bangunan pertokoan dan perkantoran yang berderet di sepanjang kawasan itu membuatnya pangling. Yang kemudian membuatnya bertanya-tanya dalam hati: apakah desa yang sedang mereka tuju sama dengan desa yang pernah ia kunjungi beberapa tahun lalu dengan kedua orangtuanya?
“Sepertinya saya pernah melewati jalan ini,” ujar Clara.
“Apa iya?” Luh tersenyum.
Clara tidak ingat nama desa tempat tinggal Nari, anak asuh orangtuanya yang diangkat lewat Foster Parents’s Plan. Jalan berkelok-kelok yang mereka lewati sepertinya masih sama, hanya saja sekarang kondisinya jauh lebih bagus. Jalan menanjak setelah jembatan di atas sebuah sungai kering di ujung desa, yang juga pernah ia lewati dulu, kini sudah dibeton, membuat mereka tidak harus berjalan kaki atau naik sepeda motor seperti dulu untuk melewatinya.
Ada pengalaman kecil yang masih menyisakan bekas luka bakar di kaki kiri Clara. Dibonceng salah seorang pekerja sosial pada waktu itu adalah pengalaman pertamanya naik motor. Ketika turun dari motor, tidak ada yang memberitahunya kalau ia harus turun ke sebelah kiri. Karena itu ia turun saja sembarangan ke sebelah kanan dan kecerobohannya membuat kaki kirinya terbakar knalpot yang tidak ada sayap pelindungnya. Kedua orangtuanya kaget melihat ia memekik kesakitan, namun orang yang memboncengnya dengan tenang membuka penutup oli motor dan minta ijin mengoleskan oli yang masih hangat ke kulitnya yang berubah kemerahan. Karena takut bisa berakibat buruk, ayahnya sempat melarang orang yang memboncengnya melakukan itu, namun ayahnya akhirnya membiarkan setelah orang itu berhasil meyakinkannya bahwa itu dapat membantu sebelum ia mendapatkan pengobatan.
Luh seakan membawanya terbang melintasi jalan menanjak yang diselimuti kabut tipis. Di kiri dan kanan jalan terbentang kebun dengan buah-buah jagung muda yang menyembul di batangnya yang hijau subur. Sementara di sana-sini tampak pohon-pohon jambu klutuk berbatang kecil kecoklatan namun kokoh. Nari pernah memberinya jambu klutuk berukuran mungil berdaging merah yang dipetiknya sendiri dari pohon. Rasanya manis, beda sekali dengan jambu klutuk berukuran besar yang biasa dibuat jus.
Sampai di tempat yang agak datar, dari beberapa jarak ia melihat anak-anak pada menyeberang jalan di depan sebuah sekolah. Mereka berseragam atasan batik hijau-merah yang dipadupadankan dengan bawahan warna merah hati. Walaupun kondisi sekolah itu lain dengan sekolah yang pernah ia lihat dulu, kini jauh lebih bagus, ia yakin di situlah Nari dulu bersekolah. Clara minta Luh menghentikan mobil dan ia turun untuk bertanya. Ia mendekati seorang bocah perempuan yang hendak menyeberang jalan.
“Hallo,” sapa Clara sambil tersenyum.
“Hallo,” bocah itu memandang tersipu. “Mau ke mana?”
“Saya mau bertanya,” sahut Clara. “Apakah kamu tahu rumahnya Nari?” Ia pikir sebaiknya mampir dulu ke rumah Nari, siapa tahu ia bisa memberi petunjuk ke mana mereka harus pergi untuk bisa sampai ke Abianpoh.
“Nari?” anak sekolah itu mengernyitkan kening sejenak sebelum akhirnya berbalik ke sekolah dan Clara membuntutinya.
“Ya ampun, ini Abianpoh!” pekik Clara dalam hati setelah membaca papan nama sekolah yang terpampang di depannya.
Seorang wanita setengah baya berseragam endek dalam nuansa biru keluar dari sebuah ruangan yang posisinya di ujung. Ia memandang heran ke arah Clara.
“Hallo, ada yang bisa saya bantu?” ia menyapa sambil tersenyum.
“Maaf, tadi saya menanyakan rumah Nari pada anak itu. Apa Ibu tahu?”
Persis ketika kalimat Clara berakhir, seorang laki-laki muda muncul dan berdiri di sebelah wanita setengah baya yang ia ajak bicara. Wanita itu spontan menolehnya dan bertanya, ”Kamu kenal sama Nari, De?”
“Kenal,” jawab guru yang bernama Made sambil menganggukkan kepala. “Mau ke rumah Nari?” Ia mengarahkan pertanyaannya pada Clara.
“Ya. Dulu saya pernah ke rumahnya, tapi saya lupa tempatnya.”
“Saya bisa antarkan ke sana, tapi saat ini pasti dia tidak di rumah.”
“Apa ada sesuatu yang dia lakukan di luar rumah?”
“Dia mengajar.”
“Ya, dia bertugas di Subagan.”
“Subagan? Sebelah mana persimpangan?”
“Sebelah selatan pompa bensin.”
“Oh, saya pasti melewatinya tadi.”
“Ya, Anda pasti melewatinya kalau datang dari arah Candidasa.”
“Oke, sebenarnya saya ke sini untuk menemui orang ini,” ujar Clara sambil menyodorkan sobekan kertas bertuliskan nama orang yang sedang ia cari.
“Gus Lanang?” tanggap laki-laki muda di depannya tanpa menggeser pandangan dari sobekan kertas yang dipegangnya, lalu berkata sambil menudingkan telunjuk ke samping kiri, “Lurus saja dari sini, terus belok kiri setelah ketemu pertigaan. Di situ ada villa. Ia tinggal di situ.”
“Oke, terima kasih banyak. Kami akan langsung ke sana.”
Ya Tuhan, pekik Clara riang dalam hati begitu mengayun langkah meninggalkan sekolah itu. Narti sudah jadi guru. Itu sebuah kejutan baginya. Narti sudah berhasil meraih cita-citanya. Ia ingat, ketika terakhir kali berkunjung ke rumahnya, anak itu pernah bilang ingin menjadi guru biar bisa ikut mencerdaskan warga desanya yang sangat terbelakang dan sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani penggarap.
Naik kembali ke mobil, hatinya dipenuhi rasa takjub. Walaupun hanya mengandalkan kenekadan, perjalanannya dengan Luh untuk menemui Gus Lanang ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan, boleh dikata tanpa rintangan. Terasa seperti sudah diatur entah oleh siapa. Ia menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa mengenai hal itu kepada Luh, karena ia tahu Luh pasti akan menghubung-hubungkannya dengan utang-piutang karma lagi. Sejujurnya, ia belum sepenuhnya bisa menerima hal itu.
Luh menghentikan mobil. Sebuah villa dengan arsitektur tradisional Bali berdiri di hadapan mereka. Dindingnya terbuat dari bata merah yang tertata rapi dan lingkungannya begitu menarik. Ada rumpun bougenvile ungu yang sedang berbunga lebat di sudut halaman. Di sisi lain berderet gladiola dan lily. Sebagian pagar halaman terbuat dari tanaman hias yang biasa dipakai bahan sesaji seperti andong merah dan temen loreng. Kabut tipis membayang di pucuk-pucuk cemara kipas yang tegak di depan villa. Jika bangunan itu disewakan, ingin rasanya Clara menginap barang sehari sambil melewatkan waktu dengan mengobrol bersama Nari yang telah berhasil mengubah impiannya menjadi kenyataan.
Suasana pegunungan yang sejuk membuatnya larut dalam ingatan akan adik angkatnya itu. Seorang perempuan sederhana yang rasanya tidak mungkin bisa meraih cita-citanya yang demikian mulia jika tidak memperoleh uluran tangan dari pihak lain. Ketika pertama kali datang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya, ia hampir menangis. Sulit dipercaya kalau di bawah langit Bali masih ada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang demikian menyedihkan. Tidak pernah ia sangka kalau Pulau Dewata yang ia kagumi masih menyembunyikan kantong-kantong kemiskinan, desa-desa terpencil yang seolah-olah tidak tersentuh oleh jaman. Jaman yang memberi kesempatan untuk menikmati kucuran uang lewat industri pariwisata.
“Itu dia,” ujar Luh menariknya kembali ke alam nyata.
Seorang laki-laki berkulit agak terang muncul dari balik pintu gerbang terbuat dari kayu. Dengan tinggi badan sekitar seratus tujuh puluh, ia tampak seperti seorang atlet. Jenggot dan cambangnya yang tumbuh rapi membuatnya tampak berwibawa, sementara kumisnya yang dicukur tandas memberikan kesan manis dan lembut.
Begitu mereka mendekat, ia segera mengenali Luh dan Clara pun merasa pernah mengenalnya. Ketika ia tersenyum laki-laki itu melemparkan tanya, “Apakah kita pernah bertemu?”
Sebelum Clara menanggapi pertanyaannya, pandangan laki-laki itu hinggap di kaki kirinya yang meninggalkan bekas luka bakar kehitaman, membuatnya kembali ingat akan kejadian itu. Kecerobohan yang membuat kakinya melepuh. Tetapi Clara tidak yakin kalau laki-laki itu yang memboncengnya saat itu.
“Saya kakak asuh Nari,” ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir Clara.
“Guru itu?” Gus Lanang mengernyitkan alis.
“Ya, kenal dengannya?”
“Di desa kecil ini tak ada yang tak saling kenal.”
“Maaf, apakah kamu salah seorang pekerja sosial yang pernah bertugas di desa ini.”
Laki-laki itu menggeleng. “Saya dulu memang pekerja sosial, tapi tugas di tempat lain.”
“O begitu.”
“Saya Gus Lanang.”
“Dan saya Clara.”