
Aku sangat senang bila bisa datang sesekali ke resto dan menyaksikan bagaimana para karyawan bekerja melayani pelanggan yang datang. Rupanya Kadek tak hanya piawai dalam hal merancang bangunan, tetapi manajemen yang ia terapkan pada usaha resto juga membanggakan. Tak sia-sia aku mempercayakan usaha ini padanya.
Yang namanya evaluasi begitu gencar ia lakukan. Apalagi pada saat-saat awal resto beroperasi, hampir setiap malam setelah resto tutup ia mengajak para karyawan duduk bersama guna menampung masukan-masukan dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan. Dari situlah Kadek membawa resto pada keadaan sekarang, menjadi salah satu resto favorit di kota ini.
Padahal, sebelumnya, adik laki-lakiku ini sangat lain. Tingkah urakannya di masa sekolah menengah dulu selalu membuatku kesal. Aku sering putus asa menghadapi kebandelannya. Hampir setiap hari ia terlambat pulang dari sekolah. Aku tahu ia lebih suka duduk-duduk di suatu tempat bersama teman-temannya sambil merokok usai sekolah daripada langsung pulang. Bukan hanya kata-kataku yang dianggap angin lalu tetapi nasihat Ibu juga tak pernah digubrisnya. Lagaknya seperti orang yang sedang dibesarkan di tengah keluarga berada.
Puncak kejengkelanku terjadi ketika aku hendak mengantar Ibu ke dokter sore-sore. Karena ia belum pulang juga aku terpaksa mengunci semua pintu sebelum meninggalkan rumah bersama Ibu. Dengan sepeda motor peninggalan Ayah aku antarkan Ibu ke dokter. Di tengah perjalanan Ibu tiba-tiba berteriak memanggil Kadek. Spontan aku menghentikan motor di tepi jalan.
“Ada apa, Me?”
“Meme lihat Kadek tadi lari sama teman-temannya ke gang itu,” Ibu menudingkan telunjuknya ke mulut gang di seberang jalan. “Sedang apa dia?”
“Meme tidak salah lihat?”
“Tidak Luh, dia Kadek. Meme tak mungkin salah lihat.”
Aku jadi tegang. Jangan-jangan Kadek dan teman-temannya sedang melakukan sesuatu yang diam-diam kucemaskan. Betapa tidak, belakangan ini banyak anak-anak sekolah yang terlibat penggunaan obat terlarang.
“Sudahlah, Me. Biarkan saja, toh ia sudah besar. Semoga ia bisa jaga diri.”
Pulang dari tempat praktek dokter, kubimbing Ibu ke kamar dan membiarkannya duduk di sisi tempat tidur sejenak karena ia bilang lelah berbaring di tempat tidur.
“Obatnya mesti diminum setelah makan. Apa mau makan sekarang?”
“Nanti saja, Meme belum lapar. Kadek kenapa belum pulang juga ya?”
“Sudahlah Meme istirahat saja, tak usah mikirin dia,” ujarku sambil menutup pintu kamarnya.
Aku sudah sampai di depan pintu kamarku ketika muncul niat untuk membuka pintu kamar Kadek terlebih dahulu. Aku tak menyangka jika ia sudah pulang dan bahkan sedang tidur. Aku heran bagaimana ia bisa masuk ke kamarnya padahal pintu kamarnya kukunci? Aku tahu ia tidak pegang kunci serep, karena itu aku curiga jika ia masuk lewat jendela yang sengaja tidak dikunci. Aku tak dapat lagi menahan rasa kesal, karenanya aku sengaja menyeret kursi dengan kasar dan ini berhasil membuatnya terbangun.
“Kamu dari mana saja? Kenapa tiba-tiba ada di kamar? Apa tak tahu kalau Ibu sedang sakit?” aku membombardirnya dengan pertanyaan.
Perlahan ia bangun dan duduk di sisi tempat tidur. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan sambil menunduk. Ia tidak berani memandang wajahku.
“Kamu sudah besar, Dek,” keluhku. “Waktu ke dokter tadi Ibu melihatmu di jalanan. Apa yang kamu lakukan di luar sana sampai hari gini baru pulang?”
Ia menunduk semakin dalam, tak bersuara.
“Kenapa diam saja? Kamu dengar nggak sih?”
Kadek masih menekuk wajahnya.
“Baik. Kalau kamu anggap Luh tak pantas diajak bicara, nggak apa-apa. Luh hanya ingin mengingatkan, ulahmu tadi di jalanan lama-lama akan membunuh Ibu.” Kutahan air mata yang mau tumpah. “Ingat, hanya Ibu yang kita punya, tak ada siapa-siapa lagi.”
Kadek mulai terisak. Karena tak kunjung menyahut juga, kutinggalkan dia dengan perasaan geram. Aku lalu duduk menghadap meja belajar yang menempel ke dinding kamar. Di dinding di hadapanku tergantung dua foto close-up. Yang sebelah kiri foto Mahatma Gandhi dan yang sebelah kanan foto almarhum Ayah berseragam polisi.
Teringat Ayah, aku tak dapat menahan tangis. Sementara itu kudengar ada langkah-langkah mendekat. Aku tahu itu Kadek, namun aku tidak bereaksi. Sudah tidak ada gunanya lagi bicara dengannya.
“Maafkan Kadek, Luh. Kadek janji tak akan berbuat begitu lagi,” terdengar suaranya memelas.
Aku tergerak untuk memutar kepala ke belakang. Kulihat ia berdiri di ambang pintu.
***
Tengah hari adalah saat yang paling sibuk. Sering kali meja sudah habis dipesan sebelum pukul dua belas. Kalau sudah begini resto terasa begitu sempit. Ingin rasanya memperluas bangunan agar tidak ada pelanggan yang kecewa, yang terpaksa mengurungkan niat untuk memanjakan selera. Kadek mengajukan usul agar memanfatkan taman di depan, dengan memasang payung lebar untuk setiap meja. Usul itu langsung kusetujui karena merupakan solusi yang paling pas. Di samping itu, aku tahu betul, memang ada pelanggan yang lebih suka menikmati makan siang di alam terbuka.
Sedang aku mengawasi anak buah bekerja, tiba-tiba kulihat seseorang di luar. Pandangan matanya sibuk menyapu keadaan sekitar. Sosok itu sudah sangat kukenal hingga spontan kuseret langkah ke arahnya.
"Selamat siang, Pak Dokter," sapaku setengah bergurau.
"Hai, selamat siang!" tanggapnya kaget namun senang. "Akhirnya bisa ketemu juga setelah sekian lama."
"Memangnya saya termasuk dalam daftar orang yang sedang dicari?" olokku seraya tersenyum.
"Ya. Setidaknya dalam daftar pribadi saya," balasnya tak mau kalah.
Kami bersalaman lalu memilih meja di dekat pohon kelapa gading di mana angin semilir seperti tak pernah berhenti berhembus. Kusempatkan diri minta maaf untuk lukisannya yang pernah kucurigai sebagai sumber mimpi-mimpi burukku sewaktu masih di Jakarta. Ternyata ia tidak pernah menganggap hal itu sebagai masalah. Ia hanya mengeluh karena sudah beberapa hari gagal menemuiku.
"Kenapa tidak ke rumah saja?" selidikku.
"Sebenarnya saya mau ke sana, kalau tak ketemu juga kali ini."
"Bilang saja memang tak mau ke rumah."
"Ah, Luh bisa saja."
"Soalnya rumah saya kan jelek."
"Idih, kok ngomong begitu sih?”
"Maaf, cuma bercanda. Jangan diambil hati," ujarku buru-buru karena melihat reaksinya yang agak sengit.
Seorang pelayan datang mendekat dan menyodorkan kertas untuk menulis pesanan.
"Ngurah mau minum apa?" tanyaku, siap menulis. Kendati aku sendiri yang memesan, aturan harus tetap jalan, pakai order, agar tidak mengacaukan pekerjaan di bagian penyediaan.
"Es kelapa muda, mau?"
Ia mengangguk. "Mau."
"Makannya pakai apa?"
"Saya ingin coba menu favoritnya."
"Oke. Pepes dan sate languan kalau begitu. Kebetulan saya juga sudah lama tak menikmati yang satu ini."
Pelayan segera ke belakang meneruskan pesanan yang kutulis.
"Luar biasa," ujar Ngurah sambil menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan pengunjung resto yang demikian banyak.
"Tempat ini sudah tak memadai. Tak ada keinginan buka cabang?"
"Jadi, Ngurah sudah tahu tentang resto ini?" aku balik bertanya.
"Itulah gunanya banyak teman."
"Pasti Reni yang ngasih tahu ya?"
"Siapa lagi? Dia sumber informasi terbaik saya sejak dulu. Oh, Luh belum menjawab pertanyaan saya. Tak ingin buka cabang?”
"Keinginan sih ada. Cuma belum siap saja."
"Maksud Luh?"
"Tanahnya sudah ada. Milik sendiri dan masih di jalur jalan ini. Tapi untuk pembangunannya perlu dana yang cukup besar. Saya harus menabung dulu."
"Kenapa tak ambil kredit di bank?"
"Mestinya saya tempuh cara itu. Tapi saya agak alergi dengan yang namanya kredit."
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Cuma belum mau saja."
"Kenapa tidak patungan saja?”
"Patungan dengan siapa?"
"Dengan siapa saja yang kira-kira bisa diajak kerja sama. Seperti Reni dan Wawas."
"Reni dan Wawas? Mereka buat usaha apa?"
"Bungalo di Lovina."
Aku berdecak. "Reni memang tak pernah kehabisan gagasan. Tapi, kenapa ia tak pernah kasih info ya?"
"Mungkin ia mau bikin kejutan. O ya, Luh sudah terima undangan?"
"Undangan apa? Belum tuh."
"Wah, rupanya anak itu betul-betul mau bikin kejutan buat Luh. Minggu depan ia kawin."
"Betulkah?"
"Lihat saja nanti."
Entah mengapa aku jadi gelisah. Mungkin karena surat undangannya yang belum sampai. Atau karena tiba-tiba ada gugatan dari hati kecilku agar aku juga segera memikirkan hal serupa?
Pelayan datang membawa dua biji kelapa muda yang sudah dipotong bagian atasnya yang ke dalamnya masing-masing dicelupkan sebatang sedotan. "Silakan," katanya sambil tersenyum ramah sebelum mengundurkan diri.
"Ngomong-ngomong, kapan Ngurah pulang?" tanyaku.
"Sudah hampir sebulan."
"Sebulan? Kok bisa lama-lama begitu? Lagi cuti ya?"
Ia menggeleng. "Saya sudah jadi pegawai tetap sekarang dan ditugaskan di RSUP sini."
"O ya? Enak benar. Nyogok berapa?"
"Hush!"
Kami tertawa-tawa. Bertemu Ngurah membuatku seperti anak kecil yang menemukan kembali mainannya yang hilang. Kegembiraaan yang kualami tak dapat kusembunyikan. Mungkin kelihatan agak aneh, sebab selama ini yang namanya canda-ria sangat jauh dari keseharianku. Aku tahu anak buah yang sempat menyaksikanku kali ini pasti pada bertanya-tanya dalam hati dan jangan-jangan mereka berpikir yang bukan-bukan.
"Apa Ngurah tahu rencana Reni setelah kawin?" tanyaku setelah meneguk air kelapa lewat sedotan.
"Dia bilang akan keluar dari Rajawali dan mau konsentrasi pada bungalonya," jawab Ngurah sambil memandang lurus ke wajahku.
Ini menurut perasaanku, tak tahu apa memang demikian adanya. Memandang lurus ke matanya sengaja kuhindari karena aku takut mengetahui sesuatu yang tak kuinginkan tentang dirinya. Oh, pertanda apakah ini? Bukankah kekhawatiran semacam itu merupakan indikasi dari rasa simpati? Bahkan mungkin lebih dari itu. Terus terang aku sangat mengagumi dagu dan bibirnya, tempatku selalu melabuhkan pandang bila berhadapan muka. Bibir dan dagu yang selalu mengingatkanku pada wajah Pierce Brosnan.