Back To Bali

Back To Bali
Episode 27



Coffe Shop itu berada di tengah lingkungan Tegal Linggah Villas. Bangunannya bergaya Jawa mirip rumah joglo, berdiri di atas lahan seluas 200 meter persegi. Diberi nama begitu karena awalnya hanya dimaksudkan sebagai tempat bersosialisasi bagi sebagian penyewa villa sambil menikmati kopi. Namun, seiring semakin bertambahnya jumlah unit villa dan beragamnya kebutuhan para penyewa, tempat itu kemudian berubah menjadi semacam resto yang juga menjual cendera mata, perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, dan bahkan pembalut wanita pun tersedia di situ.


Nama Coffe Shop dipertahankan karena setiap hari selalu ada yang duduk-duduk santai di situ sambil menikmati berbagai jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Agaknya yang mambuat lebih asyik adalah mium kopi ditemani jajanan basah khas Bali seperti bendu, pisang rai, laklak dan semacamnya yang ditaburi kelapa parut dan gula merah organik.


“Tempat yang mengagumkan,” kata Nicholas yang menempelkan punggung di sandaran kursi resto. Matanya memandang berkeliling. “Kalian beruntung dapat menangkap peluang yang ada di sini.”


Di seberang jalan selebar delapan meter tampak halaman depan unit villa yang belum lama dibeli Wisnu. Rumput khusus yang ditanam di sekitar pohon canging yang mulai berbunga tumbuh dengan baik, kelihatan seperti karpet berwarna hijau. Pintu halamannya dirancang mirip dengan angkul-angkul, pintu gerbang rumah di pedesaan Bali yang terbuat dari bata mentah, yang di bagian kiri dan kanannya pada ketinggian sekitar satu setengah meter dilengkapi dengan ceruk tempat menaruh sesaji, sebagai sekadar hiasan.


Villa itu memiliki dua kamar tidur berpendingin masing-masing dengan kamar mandi di dalam, sebuah dapur lengkap dengan kompor gas dan penyerap asap, kulkas dua pintu, rak dapur dari kayu dan juga wastapel.


Kendati di dalam villa ada kolam renang pribadi, tetapi kemarin -begitu tiba dari bandara- mereka tergiur untuk mencoba Water Park yang berlokasi di bagian depan kompleks villa. Sarana bermain itu memang bagian dari Tegal Lingah Villas tetapi juga diperuntukkan bagi umum di luar penyewa villa, makanya selalu ramai.


“Wisnu sudah mempelajari segala sesuatunya sebelum membeli unit villa yang kita tempati sekarang,” tanggap Clara. “Sistem bagi hasilnya menarik. Jauh lebih menguntungkan daripada diinvestasikan dalam bentuk deposito atau obligasi.”


“Kemarin ia bilang, kurang lebih dapat 1% sebulan dan gratis perawatan villa,” timpal Alyne yang kemudian menyeruput jus kelapa mudanya.


“Dan gratis tinggal 24 hari pertahun di luar musim ramai,” imbuh Clara. “Kitalah yang pertama kali menikmati itu.”


“Saya tidak pernah menyangka akan punya menantu seperti dia,” Nicholas mengangguk-anggukkan kepalanya.


Siang itu mereka bertiga menikmati ayam betutu, makanan tradisional Bali yang bumbunya cukup pedas.


“Apa semua makana Bali seperti ini?” tanya Alyne lalu menyeka bibirnya dengan tisu.


“Semua rempah-rempah,” sahut Clara.


Tegal Linggah Villas awalnya hanya dibangun satu blok terdiri dari dua puluh villa dengan ukuran seragam. Semua laku terjual dalam waktu reatif singkat dan dibeli oleh para mitra bisnis pengembang. Karena semakin banyak orang yang berminat berinvestasi di sana, Tegal Linggah Villas akhirnya berkembang menjadi lima blok dengan ukuran beragam sesuai dengan permintaan calon investor. Pengelolaannya pun kemudian dipercayakan kepada manjemen hospitaliti berpengalaman yang berkedudukan di Kuta.


***


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Clara dan Wisnu meresmikan ikatan batin yang selama ini berayun di awang-awang. Perjalanan merajut benang asmara kini sampai di terminal yang mereka tuju. Segenap angan dan harapan telah mewujud dalam kenyataan yang tidak saja memberikan kebahagiaan kepada mereka berdua tetapi juga kepada orangtua mereka. Acara masakapan diselenggarakan di rumah orangtua Wisnu disaksikan keluarga besarnya, pemuka adat dan perangkat desa lainnya. Juga kedua orangtua Clara.


Luh tidak hanya datang memenuhi undangan mereka, ia bahkan sudah ikut sibuk beberapa hari sebelum acara puncak. Ada hal lain lagi yang baru diketahui Clara. Kebanyakan keluarga Bali yang menyelenggarakan upacara perkawinan memerlukan orang pintar, seorang balian atau sejenisnya. Orang yang memiliki kemampuan untuk mengamankan jalannya upacara dari gangguan yang tidak kasat mata. Gangguan yang dipercaya bisa membuat mempelai atau keluarga mereka mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, atau paling tidak bisa mengganggu jalannya upacara karena hujan lebat bisa saja tiba-tiba mengguyur sepanjang hari.


Gangguan seperti itu bisa saja dikirim oleh orang tertentu sekadar untuk menguji ilmu yang sedang dipelajari, atau orang yang merasa iri hati dengan memperalat orang yang memiliki kemampuan untuk itu: orang yang menguasai ilmu pengiwan. Kendati mereka merasa aman-aman saja, merasa yakin tidak punya masalah dengan orang lain, mereka tetap saja berjaga-jaga melakukan tindakan pencegahan.


Clara sangat bersyukur punya teman seperti Luh. Wanita yang dikenal sebagai paranormal itu dengan sukarela menyediakan diri mengamankan upacara perkawinan mereka. Tentu saja ia tidak harus tinggal di rumah keluarga Wisnu karena hal itu bisa dia lakukan dari mana saja dengan kemampuan yang dia miliki.


Sebelum acara pernikahan berlangsung, Clara tinggal bersama kedua orangtuanya, Nicholas dan Alyne, di villa yang baru dibeli Wisnu. Lokasinya cukup dekat dari rumah orangtua Wisnu dan juga tidak jauh dari destinasi wisata Danau Bratan dengan bangunan puranya yang seakan mengambang di atas permukaan danau.


Clara bangun pagi-pagi sekali pada hari itu menunggu dijemput mempelai pria untuk kemudian mengikuti upacara pengesahan perkawinan dengan prosesi ritual yang cukup rumit. Mulai dari upacara biakala yaitu upacara pemurnian diri dari energi negatif menggunakan sarana khusus dipimpin oleh seorang pinandita, terus mandi lagi dan dilanjutkan dengan mematut diri dalam busana pengantin Bali dibantu orang-orang salon kecantikan yang disewa keluarga Wisnu.


Ada banyak tahapan yang harus mereka lewati sebelum akhirnya melakukan persembayangan di sanggah. Semua tahapan itu merupakan simbol proses memasuki kehidupan berumah tangga yang lekat dengan budaya agraris. Mereka berdua melakukannya dengan bermain peran seperti mencangkul dan menanam, memarut kelapa serta menanak nasi dengan dandang dilengkapi kukusan yang ditaruh di atas tungku. Ada juga hal yang membuatya geli: alat kelamin pria dan wanita yang dibuat dari sabut kelapa disandingkan sedemikian rupa pada sebatang cabang pohon dadap yang ditancapkan di halaman sanggah sebagai simbol bersatunya aspek maskulin dan feminin.


Setelah ritual panjang itu berakhir, mereka beranjak menuju bale gede untuk mengikuti acara puncak: peresmian perkawinan. Di hadapan ketua adat, kepala dusun dan orangtua mereka, Wisnu duduk bersila dan Clara bersimpuh di sampingnya. Dalam balutan pakaian adat Bali lengkap, mereka tampak bagai raja dan ratu dari negeri antah berantah. Tentu saja itu merupakan pengalaman istimewa yang tidak akan terlupakan dalam hidup mereka.


Sementara itu orang-orang dari keluarga besar Wisnu, kerabat dan juga teman-temannya dengan sabar menungu sambil duduk-duduk santai di kursi yang berderet di bawah tenda sewaan yang dipasang di halaman rumah. Mereka berbincang dengan suara yang dipelankan sambil menikmati minuman dan kue-kue yang disuguhkan agar tidak sampai menganggu acara di bale gede di mana para sesepuh bergantian menyampaikan nasihat kepada kedua mempelai. Setelah melewati semua rentetan ritual yang cukup memakan waktu, akhirnya Clara dan Wisnu menandatangani dokumen perkawinan dengan saksi ketua adat dan kepala dusun. Acara ditutup dengan acara makan siang bersama.