
Clara tidak terkejut ketika Wisnu muncul di apartemennya malam itu dalam balutan pakaian kasual, kaus merah berkerah dan celana jins biru, kombinasi pakaian yang lumrah dikenakan laki-laki muda di Bali.
“Kita langsung berangkat?” tanya Clara sembari menatap kedua bola matanya yang hitam. Rambutnya yang tercukur rapi membentuk bingkai dengan lekukan yang enak dipandang di sisi kedua pelipisnya sampai ke samping alis matanya yang tebal.
“Ya,” jawabnya, “kita jalan kaki saja.”
Mereka tidak menunggu waktu untuk saling menjajagi satu sama lain. Sambil melangkah bersisian mereka mulai berbincang tentang keadaan sekitar lalu bicara tentang keluarga, tentang pekerjaan dan sesekali saling menatap mengukur kedalaman hati masing-masing.
Begitulah, dalam waktu relatif singkat Clara telah menemukan dirinya semakin akrab dengan Wisnu. Tentu ada semacam kecocokan karena mereka sama-sama berkiprah di bidang hospitaliti.
Clara kagum ketika mengetahui Wisnu seorang chep yang bekerja pada sebuah hotel berkelas. Ia mengaku pernah belajar di salah satu sekolah tinggi pariwisata ternama di Bali sebelum memutuskan untuk mengadu nasib ke luar negeri.
“Saya pernah kerja di Amerika,” tuturnya setelah selesai bersantap. “Kemudian terpikir untuk mengambil kelas chep. Setelah selesai, salah seorang teman mengajak saya berkerja di kota ini.”
Wisnu tidak bertato seperti kebanyakan laki-laki Bali yang ia kenal. Mungkin ia tidak suka atau tahu bahwa ia sudah cukup keren tampil apa adanya dengan tubuh setinggi sekitar seratus tujuh puluh. Lengannya yang berotot mengingatkan Clara pada salah seorang teman SMA-nya yang gemar bermain basket. Kulitnya tak segelap kulit sebagian besar teman laki-lakinya di Bali, apalagi yang suka berselancar.
Sesuatu yang mengasyikkan selalu membuat waktu seakan berlari kencang. Sudah pukul sembilan ketika mereka meninggalkan resto.
“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Clara ketika hendak berpisah di depan apartemannya.
“Terima kasih juga untuk bincang-bincang yang menyenangkan. Saya berharap kia akan tetap saling berhubungan.”
“Oke.”
Clara merasakan pertemuannya dengan Wisnu sebagai momen istimewa. Tidak sama dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya yang kebanyakan hanya meninggalkan kesan biasa-biasa saja. Tidakkah kamu terlalu cepat jatuh hati? Jangan-jangan ini hanya sebuah pelarian. Ada suara menyeruak dari dasar hatinya ketika ia mulai berbaring di atas tempat tidur. Cepat atau lambat apa bedanya? Ia mendebat. Yang penting, apakah perasaan itu demikian mendalam atau hanya sekadar mengambang di permukaan? Tidak, ini bukan pelarian.
Tidak ada yang dapat menghalangi waktu berlalu. Clara tidak kuasa melepaskan diri dari penjara kerinduan pada Wisnu. Sempat terpikir olehnya jangan-jangan golongan darah Wisnu O. Menurut buku yang baru selesai ia baca, konon orang yang memiliki golongan darah O memang berkepribadian hangat dan romantis, yang kapan saja bisa menunjukkan kejutan yang mengesankan dan tidak akan mudah untuk dilupakan. Hal lain yang menarik pada dirinya adalah sikap optimistisnya. Namun, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sikap posesif bisa mengacaukan kebahagiaan hidupnya. Jika Clara berani masuk ke dalam hidupnya, ia harus berhati-hati agar tidak sampai membuatnya merasa diduakan.
Tidak ada pekan yang bisa Clara lewati tanpa kontak dengan Wisnu walau hanya lewat gadget. Terpisahkan oleh jarak yang tidak terhingga jauhnya tidak menjadi halangan untuk tetap saling terhubung. Di belahan bumi bagian mana pun ia sedang berada, ia selalu merasa dekat dengan Wisnu di sela kesibukannya bekerja tujuh hari dalam seminggu. Tangannya selalu gatal ingin mengontaknya setiap kali ia hendak turun ke kabinnya di dek satu selepas kerja.
Mula-mula sekadar untuk menuntaskan rasa rindu tetapi lama-lama menyangkut hal-hal yang serius, berbincang tentang cita-cita dan harapan, yang pada akhirnya bermuara pada gagasan untuk menyatukan semuanya dalam sebuah lembaga yang bernama rumah tangga.
Hari itu ada sesuatu yang menyedot perhatiannya saat melenggang di koridor menuju mes kru. Itu bukan yang pertama. Sudah beberapa kali ia memergoki laki-laki jangkung berambut pirang itu bersikap demikian mesra pada wanita Indonesia yang bekerja di kapal yang sama dengannya. Ia pernah berbincang sekali waktu dengan wanita yang berasal dari Bali itu. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk mengobrol lagi dengan dia yang bertugas di bagian tata graha itu. Dan kesempatan itu datang begitu saja. Ia duduk semeja dengannya saat makan malam.
“Maaf, saya tak bermaksud mencampuri urusan pribadimu,” Clara mengawali. “Saya senang melihat keintiman kalian.”
“Tapi saya tidak serius dengannya.” Clara terkejut mendengar responsnya. Ia baru tahu, wanita itu begitu terbuka. “James hanya pelarian buat saya,” tambahnya blak-blakan.
“Masa sih?” Clara tidak menyangka kalau dia mampu memperlakukan keakraban dengan lawan jenis hanya untuk main-main. Hanya sebagai kegiatan iseng.
“Bagaimanapun saya bersyukur bisa bekerja di sini, meski sesungguhnya saya tidak beruntung.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Saya berangkat dengan beban utang.”
“Saya kira kamu tidak sendiri.”
“Saya tahu, tapi mereka mungkin tidak memikul beban seperti saya.”
“Jangan khawatir,” pintasnya, “saya yang ingin bicara. Ingin melepaskan tekanan di hati.”
“Baik. Jika itu akan membuatmu lega, akan saya dengarkan.”
Asih, demikian namanya, mulai bercerita seperti kepada teman dekatnya. Ia hanyalah seorang gadis desa yang terobsesi untuk mengangkat kondisi ekonomi keluarga yang demikian rapuh. Ayah dan bundanya bekerja sebagi petani penggarap. Bisa bekerja di kapal pesiar adalah terobosan yang sebelumnya tidak berani ia ungkapkan kepada siapa pun, kecuali satu orang. Suatu hari ayahnya menyodorkan sejumlah uang kepadanya sebagai bekal agar bisa bekerja di kapal pesiar. Ia pikir itu pasti uang pinjaman, tetapi ayahnya bilang tidak. Belakangan baru ia ketahui bahwa uang itu pemberian teman baiknya sejak kecil, pemilik tanah yang digarap orangtuanya.
Sejak awal Asih sudah berpikir bahwa tidak ada yang gratis di muka bumi ini. Semua ada harganya. Dan pada gilirannya harga itu harus ia bayar. Teman baik ayahnya itu punya seorang anak laki-laki yang diam-diam jatuh hati kepadanya. Sesungguhnya itu bisa menjadi kebahagiaan baginya jika saja ia mencintai laki-laki itu. Sayangnya laki-laki itu bukanlah tipe idealnya. Laki-laki yang suka pesta minuman keras dan hanya mengandalkan rumah kos yang diberikan ayahnya sebagai sumber penghasilan. Tidak ada niatnya untuk bekerja. Jangankan bekerja, pendidikannya saja terbengkalai.
Clara dapat mengerti dilema yang dialami Asih, dan ia prihatin.
“Jika kamu tidak mencintainya, mengapa kamu tidak bilang pada ayahmu?”
“Ayah saya sudah terlanjur menyetujui perjodohan kami tanpa minta pendapat saya.”
“Tapi kamu berhak memilih jalanmu sendiri. Apakah kamu mencintai James dan ia juga mencintaimu?”
“Ia bahkan minta saya menikah dengannya.”
“Mengapa kamu tidak penuhi permintaannya?”
“Cinta saya sudah tergadai.”
“Kamu bisa mengembalikan uang yang pernah kamu terima.”
“Ini soal harga diri orangtua saya.”
“Tapi itu tidak adil. Mengapa kamu korbankan dirimu untuk menanggungnya?”
“Kamu tidak mengerti. Kalau kamu datang ke Bali, jalan-jalanlah ke desa saya dan bergaul dengan warganya.”
Clara tahu kehidupan desa di Bali diwarnai sikap gotong royong yang kental dan tenggang rasa tinggi, tetapi benarkah tatanan masyarakat komunal bisa menyodorkan kerumitan seperti yang dirasakan Asih? Boleh jadi benar untuk sebagian kecil yang hidup di tempat terpencil. Bagi Clara tidak ada yang lebih membahagiakan daripada kembali ke Bali, tempat yang selama ini sudah menjadi rumahnya yang kedua.
Delapan bulan yang tadinya ia pikir akan sangat menyiksa ia lampaui dengan nyaman. Sesuai dengan janjinya, Wisnu membawanya kembali ke Bali dengan tujuan khusus, berkenalan dengan kedua orangtuanya.
Untuk mencapai desanya mereka harus berkendara sekitar dua jam lebih dari bandara, melewati banyak petak-petak sawah dengan teraseringnya yang membuat bibir Clara berdecak kagum. Melintasi jalan menanjak dengan tikungan-tikungan tajam mengingatkannya pada pengalaman berkendara ke Abianpoh. Sementara lembah di kiri dan kanan jalan dihiasi petak-petak tanaman sayur-mayur seperti kubis, sawi, wortel dan lain-lainnya yang tidak ia ketahui namanya. Di bagian lain juga tampak kebun stroberi dengan gundukan-gundukan tanah memanjang yang dinaungi lembaran plastik hitam. Mereka melewati jalan di tepi danau yang banyak dikunjungi wisatawan sebelum akhirnya tiba di rumah orangtua Wisnu.
Seperti tata letak perumahan tradisional Bali pada umumnya, rumah orangtua Wisnu juga dibangun dengan konsep yang sama. Ada bale daja, terletak di sebelah utara pekarangan menghadap ke selatan, yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau tempat tidur. Di bagian tenggara berdiri bangunan setengah terbuka bertiang dua belas yang biasa dipakai menyelenggarakan upacara adat untuk keluarga, namanya bale gede. Di sebelah selatan ada bangunan khusus tempat memasak: dapur. Yang membuat Clara heran, mengapa di bagian barat pekarangan, beberapa jarak di depan dapur, juga dibangun lumbung padahal mata pencaharian orangtua Wisnu petani lahan kering yang menghasilkan sayur-mayur?
“Ini lumbung pajangan,” jawab Wisnu ketika Clara menanyakan hal itu. “Lihat, di atas tidak ada lantai dan pintu, bukan? Kalau lumbung sungguhan harus ada lantai dan pintunya, biar yang punya bisa menyimpan padi di atas sana.”
“Pasti ada fungsi lainnya.”
“Ya. Ibu dan ayah saya kadang duduk-duduk di sini sambil ngobrol di siang hari. Tak jarang juga sebagai tempat menyiapkan sesaji bila ada upacara adat.”
Rumah dalam keadaan kosong. Mereka duduk di balai-balai lumbung. Beberapa bagian halaman rumah tampak berlumut, mungkin karena permukaannya lebih rendah sehingga kelembaban lebih lama bertahan di situ. Di depan dapur tumbuh sebatang pohon kelor setinggi sekitar tiga meter. Daunnya yang menyerupai daun asam, tapi lebih kecil dan halus, tampak rimbun. Di sebelah timur laut, berpagar tembok tersendiri, berdiri pura keluarga yang disebut sanggah. Ada beberapa bangunan serupa candi di dalamnya yang terbuat dari batu hitam. Clara belum tahu apa makna dan fungsi semua bangunan itu. Ia sengaja tidak menanyakannya pada Wisnu karena ia tahu itu membutuhkan penjelasan yang rumit.
“Mereka pasti sedang sibuk di kebun,” jawab Wisnu ketika Clara menanyakan orangtuanya. “Tunggu sebentar ya, biar saya tengok ke belakang.”