
Benar kata peribahasa, waktu melesat seperti anak panah. Berlari begitu cepat. Tidak terasa masa sekolah akan segera berakhir. Tinggal menjalani flight training. Bila nilai yang kuperoleh tidak kurang dari delapan puluh, maka aku akan segera menerima jadwal terbang sebagai seorang pramugari junior.
Ibu dan Kadek pasti akan senang mendengarnya. Mereka pun akan menikmati konsesi yang diberikan perusahaan: naik pesawat sekali setahun dengan hanya membayar dua puluh lima persen dari harga tiket.
Tak sabar rasanya aku menunggu waktu buat mengabari mereka. Harus kuakui bahwa segala sesuatu itu memang sulit pada mulanya. Kurasakan betul betapa tidak mudah menutupi kegugupan yang timbul saat aku mulai menginjakkan kaki di tangga pesawat. Untung aku diberi kesempatan untuk observasi sebelum dilakukan penilaian. Itu betul-betul kumanfaatkan dengan baik. Kulakukan pengamatan dengan cermat dan aku rajin bertanya pada para senior.
Dari beberapa kali latihan terasa ada kemajuan. Kalau semula tengkukku terasa agak gerah kala berdiri di hadapan puluhan penumpang guna memperagakan cara menggunakan sabuk pengaman, pelampung dan masker oksigen, lama-lama tidak lagi. Perasaan grogi dan tidak percaya diri akhirnya sirna juga. Semuanya jadi biasa begitu status pramugari kusandang.
Aku betul-betul menikmati pekerjaanku. Hari-hari kulalui dengan semangat hidup yang baru. Kini aku sudah punya penghasilan yang bisa membuatku bangga. Betapa bahagia rasanya bisa mandiri. Namun apa yang berhasil kucapai adalah berkat Ibu juga. Berkat doa dan restunya. Aku tidak ingin Ibu membanting tulang lagi dalam usianya yang sudah senja itu. Kukatakan padanya lewat surat, biarlah aku yang menggantikan perannya untuk menghidupi keluarga dan Ibu tidak perlu lagi keluar-masuk pasar untuk berjualan canang sari. Tetapi Ibu punya alasan sendiri kenapa ia tidak mau meninggalkan kegiatan rutinnya.
"Kerja itu persembahan, Nak," tulisnya dalam sepucuk surat. "Semasih tangan dan kaki bisa digerakkan, kita hendaknya tidak berhenti bekerja. Bekerja wajib bagi setiap orang dan kerja tidak selalu berarti menghasilkan uang. Bukankah ada tertulis dalam Bhagawad Gita: Bahkan badan pun tidak bisa dipelihara tanpa kerja."
Aku heran tetapi sekaligus bangga punya Ibu bisa menulis seperti itu. Bisa mengutip seloka kitab suci. Setahuku orang-orang seusia Ibu jarang yang membaca kitab suci. Jangankan Ibu-ibu, teman-temanku seusia saja paling hanya satu dua orang yang pernah menyentuh kitab suci.
"Jangan bebani pikiranmu dengan hal-hal yang tak patut," tulisnya pula. "Ingat siapa dirimu dan dari mana kamu datang. Kamu tak perlu menjadi siapa pun, jadilah dirimu sendiri." Selebihnya adalah aneka nasihat yang sudah begitu sering Ibu jejalkan ke telingaku. Dalam hal tertentu ia memang mirip mendiang Ayah: ceriwis dan suka menggurui.
Aku tahu kalau Ibu mencemaskan diriku. Selain karena aku perempuan, ia sangat paham betapa perubahan situasi dan kondisi bisa berpengaruh besar pada diri seseorang. Semua pesan Ibu kusimpan sebagai bekal dalam menyongsong hari-hari berikutnya.
Kusaksikan sendiri bagaimana perubahan itu terjadi di dekatku. Perubahan drastis yang lebih dikenal dengan sebutan gegar budaya. Ini terjadi pada salah seorang teman yang kebetulan sekamar denganku waktu menjalankan tugas dan menginap di Hongkong. Seperti halnya aku, dia juga berasal dari daerah. Dari gaya bicaranya aku dapat menyimpulkan kalau ia berasal dari keluarga baik-baik, berada dan terpandang. Namun siapa nyana kalau pada hari berikutnya ia berurusan dengan petugas keamanan setempat karena kepergok melakukan perbuatan melanggar hukum. Untung masalah itu bisa segera diselesaikan sehingga keberangkatan balik ke Jakarta tidak terlalu lama tertunda.
Pulang dari bandara kami berdua di dalam mobil antar-jemput. Tujuan kami searah. Ia membisu saja sepanjang perjalanan pulang menuju tempat kos. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Tak tega aku membiarkan dia menyiksa diri seperti itu. Ketika aku masih berusaha mencari-cari bahan obrolan yang kiranya bisa mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba kudengar ia terisak.
"Maafkan saya Mbak, saya telah membuat malu teman-teman," suaranya parau dan tersendat-sendat.
"Sudahlah, setiap orang bisa berbuat salah," aku berusaha menentramkan hatinya.
"Teman-teman pasti marah sama saya."
"Semua sudah berlalu, Ria," kupandangi dia penuh rasa belas kasihan. "Kamu kan sudah janji tidak berbuat begitu lagi. Sungguh, saya tak punya alasan untuk marah sama kamu."
Kulihat ia bergeming, menunduk dalam. Mudah-mudahan ia bisa merenungkan apa yang kumaksud. Tetapi ketika turun ia memandangku dengan cara aneh yang membuatku tak habis pikir, sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Jadwal terbang yang padat membuatku tak sempat lagi memikirkannya. Beragam pengalaman datang silih berganti seiring berlalunya waktu. Suatu siang ketika aku baru tiba dari Makassar, kudapati Reni sedang membaca sambil rebahan di tempat tidur.
"Asyik banget kelihatannya, baca apaan sih?" tanyaku.
"Eh, kamu itu sialan banget deh," gerutunya tak peduli. "Kok bisanya nggak cerita sama aku?"
"Lho, ini soal apa?" tanggapku heran sambil melepaskan koper dari troli.
"Soal temanmu yang bikin masalah di Hongkong," tandasnya.
"Tak usah heran, ini kan era informasi," ocehnya setengah bercanda. "Tak ada gunanya kamu sembunyikan."
"Kamu ini gimana sih, Ren? Sejak peristiwa itu kita kan belum pernah ketemu, kecuali sekarang ini."
"Apa iya?" Reni mengarahkan pandangnya ke langit-langit kamar, berusaha mengingat-ingat.
"Lagi pula apa bagusnya membesar-besarkan masalah seperti itu? Kayak nggak punya kerjaan aja."
"Bukan membesar-besarkan. Cuma prihatin saja, tindakan seperti itu kan bikin malu kru."
"Terus mau diapain?"
"Ya bukan wewenangku dong buat ngapa-ngapain dia. Aku cuma heran saja, kok sampai nyolong sih?"
"Siapa saja kan bisa khilaf, Ren," kilahku.
"Bukan apa-apa, aku kasihan aja sama dia. Kelihatannya dia ada masalah tuh."
"Biasa. Anak pungut, sih."
"Hei, rupanya kamu tahu lebih banyak dari aku."
"Lha, yang kamu tahu apa saja?"
"Tak banyak. Kalau kusimak dari omongannya, kayaknya dia dari keluarga baik-baik dan berada."
Reni tertawa mendengar penjelasanku.
"Sudah tahu seupil, salah pula," ejeknya. "Eh, kamu tahu nggak, Ria itu anak yatim-piatu yang dibesarkan oleh orangtua angkatnya yang berpenghasilan pas-pasan."
"O ya? Tapi, anaknya cerdas kok. Bahasa Inggrisnya bagus padahal cuma lulusan SMA."
"Cerdas sih bagus, tapi kenapa sampai nyolong? Nafkah pramugari kan nggak tergolong jelek?"
"Kleptomani kali," Nunik, seperti biasanya begitu muncul langsung nimbrung.
Ria mengidap kleptomani? Aku sangat terusik dengan ucapan Nunik dan itu masih tersangkut di benakku ketika aku pergi ke kamar mandi. Betulkah ia mengidap gangguan kejiwaan yang membuatnya suka mencuri?
Aku jadi teringat akan sorot matanya yang ganjil. Adakah itu isyarat bagiku bahwa ia menyesal karena telah menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya dengan bercerita tentang hal yang muluk-muluk padaku?