
Saat Clara hampir menyelesaikan naskah bukunya, Wisnu mendadak mengalami gangguan kesehatan. Mulanya ia hanya mengeluh sakit kepala yang bisa diatasi dengan menelan pil yang dibeli di apotek, namun lama-lama gejala yang ia rasakan semakin membuatnya tidak nyaman. Ia kehilangan banyak waktu istirahat karena tidak bisa tidur sampai larut malam.
Akibatnya semakin hari ia tampak semakin lemah. Ketika pergi ke dokter yang buka praktek tidak jauh dari rumah, ia hanya diberi obat penghilang rasa sakit dan vitamin.
Karena tidak ada kemajuan, akhirnya ia dirujuk ke rumah sakit. Namun hasil CT Scan menunjukkan tidak ada penyakit apa pun yang bersarang di tubuhnya. Dokter lantas memberinya obat penenang.
Clara penasaran. Keruwetan pikiran macam apakah yang dialami Wisnu sampai ia demikian menderita? Ia mengalami insomnia yang demikian parah sampai tidak bisa tidur sepanjang malam. Apakah ada masalah dengan bisnisnya? Wisnu sama sekali tidak pernah bicara soal itu pada Clara. Memang, sejak awal ia sudah punya komitmen untuk tidak melibatkan Clara secara aktif dalam kegiatan bisnis. Ia ingin Clara fokus mengurus rumah tangga dan membesarkan anak.
“Wisnu, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tidak mau berbagi masalah dengan saya?”
”Jangan bicara begitu, Clara. Tidak ada masalah apa pun yang saya sembunyikan.”
“Lalu kenapa dokter memberimu obat penenang?”
“Mungkin hanya itu yang bisa ia lakukan.”
“Bagaimana kalau konsultasi ke psikiater?” usul Clara.
“Apa kamu pikir saya sakit jiwa?”
Mendengar nada suaranya yang meninggi, Clara diam. Ia jadi merasa bodoh. Saat pikirannya sudah betul-betul buntu, ia teringat Luh. Ia pikir sebaiknya ia bicara dengan Luh mengenai semua itu. Barangkali ia punya solusi. Tetapi, kesalnya, ia tidak bisa dihubungi. Ponselya tidak aktif.
Gejala aneh yang dialami Wisnu semakin menjadi. Setiap malam sebelum tidur ia selalu mengusir Clara dari kamar. Wisnu tidak mau lagi tidur seranjang dengannya. Untungnya, ketika mereka terlibat pertengkaran, Nata sudah nyenyak di kamarnya. Clara tidak mau Nata tahu mengenai ketidakharmonisan yang mulai menggerogoti kebahagiaan perkawinan mereka. Ia juga tidak membiarkan dirinya mengadu kepada orangtuanya. Buat apa mengadu? Hidup bersama Wisnu adalah pilihannya. Dan pilihan yang ia jatuhkan padanya bukan tanpa pertimbangan untuk menerima segala risiko yang mungkin terjadi.
Saat pulang ke desa sekalian mengantar tamu yang hendak meyewa villa, bertambah lagi masalah yang ia hadapi. Tidak membawa serta Wisnu pulang merupakan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Ibu mertuanya tidak saja mendadak menjaga jarak dengannya tetapi juga memaki-maki. Ibu mertua yang semula ia kenal sebagai wanita yang santun dan menyenangkan telah berubah jadi harimau betina yang menakutkan.
“Kamu menantu tak tahu diri! Sudah kamu rampas anak saya, kamu sakiti pula dia.”
Clara kaget sekali melihat sikap mertuanya yang begitu kasar. “Mengapa Meme bicara begitu? Saya tidak menyakiti Wisnu.”
“Akui saja, kamu ingin menguasainya.”
Ya, Tuhan, jerit hati Clara. Mengapa tiba-tiba ada mimpi buruk semacam ini? Apa sebenarnya yang telah terjadi pada keluarga ini? Apakah ada semacam provokator yang menyusup diam-diam tanpa kuketahui? Seperti inikah kehidupan desa yang memiliki alam yang kukagumi? Aku hampir tidak percaya dengan kenyataan yang bertolak belakang ini. Adakah ini karena pengaruh sinetron murahan di layar kaca yang setiap malam mereka tonton dan menghanyutkan mereka dalam hipnosis?
Untung mertuanya yang satu lagi tidak ikut-ikutan begitu. “Jangan bikin malu,” ayah mertuanya berusaha menenangkan istrinya dengan menggiringnya ke kamar. Darinya kemudian Clara tahu bahwa telah terjadi kesalahpahaman.
“Meme termakan gosip,” katanya dengan ketenangan yang menakjubkan.
Clara mulai paham. Ia tidak perlu heran lagi mengapa bisa terjadi perubahan seratus delapan puluh derajat. Rupanya fitnah diam-diam sedang berjangkit memecah belah kerukunan rumah tangga mereka.
Pertanyaannya, mengapa ibu mertuanya yang ia kenal demikian baik bisa mudah terpengaruh? Pasti ada alasan kuat di baliknya.
“Gosip apa, Bapa?” Clara tidak habis pikir.
“Berjanjilah untuk tidak marah.”
“Banyak orang bilang, Clara yang jadi penyebab sakitnya Wisnu.”
“Itu tidak masuk akal. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa berpikir begitu.”
“Mereka mengira Clara bisa ngeleak.”
“Ya Tuhan, saya hanya mau menulis buku.”
“Saya tahu, tapi mereka tidak.”
“Terima kasih, Bapa. Tolong jelaskan pada mereka, saya tidak mungkin berbuat begitu.”
“Sabar, Clara. Ada kalanya hidup mesti dijalani dengan cara yang pahit.”
“Maksud, Bapa?”
“Pernah dengar tentang karma?”
“Sering, tapi belum begitu paham.”
“Nanti juga Clara tahu.”
“Mengapa Bapa tidak mau memberitahu?”
“Bapa takut dibilang menggurui.”
“Jangan begitu Bapa, saya tak pernah berpikir begitu. Kalau Bapa mengajarkan sesuatu kepada saya, Bapa pantas saya anggap guru.”
“Ah, jangan berlebihan.”
“Tidak Bapa, saya siap menerima pelajaran dari Bapa.”
“Begini. Masalah yang terjadi karena alasan yang tidak masuk akal, biasanya kami simpulkan sebagai utang karma yang harus dilunasi. Itu keyakinan kami di sini,” papar mertuanya. “Kita harus tabah. Harus ikhlas menjalani, biar utang itu lunas.”
Clara menganggukkan kepala, dapat memahami maksudnya walaupun sulit untuk menerima kenyataannya. Sama sulitnya dengan mengatasi tekanan emosi yang hendak meledakkan dada. Tidak hanya itu. Pikiran-pikiran yang kehilangan kejernihan pun turut menjejali kepala.
Sambil berkendara sendirian balik ke Denpasar, ia mencoba menenangkan diri, menata napas sambil mengira-ngira apa sebenarnya yang jadi pemicu masalah yang ia alami. Yang pasti gosip itu bisa cepat menyebar karena didukung oleh lingkungan yang kondusif di mana memang ada beberapa wanita di desanya yang suka bergunjing tentang keburukan orang lain seakan mereka telah dilukai atau dirugikan. Ia tahu betul semua itu karena ia sudah cukup sering kumpul-kumpul dengan mereka baik saat ngayah, menyiapkan sesaji untuk sebuah upacara di pura, maupun pada pertemuan-pertemuan lain semacam arisan. Mungkin memang ada di antara mereka yang dengki tetapi Clara yakin sebagian besar tidaklah jahat. Boleh jadi mereka merasa mendapat kepuasan atau semacam hiburan dalam bergunjing untuk menutupi perasaan rendah diri tanpa pernah menyadari akibat buruk yang bisa ditimbulkan pada orang yang digosipkan.
Karma, seperti yang disinggung ayah mertuanya, suka tidak suka, harus ia pertimbangkan kini. Sikap skeptisnya terhadap karma terkait hasil regresi ke masa lalu yang pernah ia lakukan dengan bimbingan seorang hipnoterapis memang beralasan. Seperti kata Luh, yang diakses ketika melakukan regresi ke masa lalu dengan metode hipnoterapi itu adalah alam bawah sadar, tempat bertimbunnya berbagai informasi yang dilimpahkan pusat-pusat kesadaran mulai dari pusat kesadaran fisik yang bernama otak sampai ke pusat-pusat kesadaran lebih tinggi yang non-fisik.
Menurut Luh, alam bawah sadar identik dengan recycle bin pada komputer. Sebagian informasi yang tertampung di dalamnya memang masih ada yang berguna tetapi sebagian lainnya tidak. Mendapatkan hasil yang tidak akurat atau bahkan tidak relevan dalam mengakses bawah sadar tidaklah aneh, sebab ada kemungkinan yang dirujuk informasi sampah. Hasil yang didapat juga bergantung pada keterampilan orang yang melakukan regresi atau orang yang membimbing.
Awalnya Luh hanya menduga-duga kalau Clara pernah lahir di Bali pada kehidupannya sebelum sekarang. Tetapi setelah ia dengan sengaja mengakses pusat kesadaran non-fisik Clara yang menyimpan informasi dari banyak kehidupannya di masa lalu, dugaannya menemukan alasan. Dari pengamatan atas reinkarnasinya terakhir sebelum sekarang, Luh mendapati bahwa Clara adalah anak laki-laki bandel yang tidak bisa menghargai wanita dan sering bertengkar dengan ibunya. Itu sebabnya mengapa kini rohnya mendapat wadah fisik seorang wanita, biar ia belajar menghayati bagaimana rasanya jadi wanita. Rupanya sifat bandelnya di masa lalu masih ia bawa pada kehidupan sekarang, sehingga ia jarang bisa akur dengan ibunya terutama di masa remaja. Ia berselisih paham dalam banyak hal dengan ibunya, dan itu tidak jarang berujung pada pertengkaran yang membuatnya minggat dari rumah walau tidak lama. Kerinduan selalu memanggilnya pulang seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Dengan lapang dada ibunya selalu menerimanya kembali.