Back To Bali

Back To Bali
Episode 2



Michael yang duduk di depan Clara tampak tergesa-gesa menyelesaikan makannya seakan ia begitu lapar atau mungkin karena ingin menikmati pertunjukan dengan perhatian penuh setelah makan. Beberapa kali ia melemparkan pandang ke arah panggung, tetapi karena belum ada penari yang muncul akhirnya ia berpaling lagi pada gadis Australia itu.


“Kamupernah ke Bali sebelumnya?”


“Sering. Bali sudah hampir seperti halaman belakang rumah saya.”


“Untung saya tidak kehilangan kesempatan untuk berada di sini.”


“Kenapa?”


“Saya baru habis ikut konferensi di Tokyo dan hampir terbujuk ikut seorang teman berkunjung ke tempat lain.”


“Oh, rupanya saya sedang bicara dengan seorang pakar,” sanjung Clara.


“Saya hanya seorang dosen yang menjalankan tugas,” elak Michaelmerendah.


Musik berhenti sejenak seperti memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengobrol lebih akrab. Tabuh berikutnya terdengar begitu dinamis dan membangkitkan rasa riang. Beberapa saat kemudian muncul seorang penari wanita di atas panggung, mempertunjukkan gerakan-gerakan yang lincah dengan kostum yang berhiaskan manik-manik berwarna-warni. Michael terkesima.


“Luar biasa,” pujinya. “Apa kamu bisa menggerakkan mata seperti itu?” Ia manatap Clara.


Clara tersenyum.“Itu pasti membutuhkan latihan intens.”


“Oh, sebaiknya saya bikin foto. Maaf, saya mau ambil tustel sebentar.”


Michael setengah berlari naik ke kamarnya di lantai dua. Terpikir oleh Clara, mungkin juga ia seperti laki-laki itu ketika datang pertama kali ke Bali. Selalu menunjukkan gerakan tergopoh-gopoh begitu menemukan sesuatu yang menarik untuk diabadikan. Akibatnya beberapa dari foto yang ia buat harus dibuang karena hasilnya menggelikan.


Selang beberapa lama Michael kembali dengan napas tersengaldan memperlihatkan wajah yang menyiratkan kebingungan. Di lehernya menggelantung sebuah kamera saku hitam.


“Kamu baik-baik saja?” Clara manatapnya sedemikian rupa karena ia menangkap sesuatu yang ganjil pada air muka Michael.


“Ya,” sahut laki-laki itu. “Tapi saya agak bingung.”


“Kenapa?”


“Saya baru saja melihat sesuatu yang aneh.”


“Aneh seperti apa?”


“Saya ragu mengatakannya, khawatir kamutidak percaya.”


“Katakan saja, apa yang kamu lihat?”


“Sebuah pesawat terbang.”


Clarabangkit dari kursinya. “Bentuknya seperti apa?”


“Seperti pesawat tempur, tidak bersuara.”


“Stealth? Di mana kamu lihat?” Clarajadi begitu antusias.


Michael tampak heran dan balik bertanya, “Kamupernah lihat juga?”


“Saya sedang mengincar pesawat itu.”


Michael memandang Clara tanpa berkedip. “Kamupasti bercanda.”


“Saya serius. Saya punya kepentingan dengan pesawat itu.”


“Oh, saya tidak menyangka kalau kamu...,” ucap Michael curiga.


“Seorang mata-mata?” pintas Clara sambil tersenyum karena melihat ketegangan di wajah Michael. “Apa saya tampak seperti itu?”


“Seorang wanita punya kepentingan dengan pesawat pengintai. Apakah itu bukan sebuah petunjuk?”


“Santai saja, ini tidak seperti yang kamu sangka. Kamu tidak keberatan kan,mengantarkan saya …?”


“Tapi pesawat itu sudah raib.”


“Itu memang bukan pesawat biasa. Di mana raibnya?”


Michael ragu, tetapi kemudian memenuhi permintaan Clara dengan satu syarat. “Baiklah, akan saya tunjukkan,” responsnya. ”Tapi kamu harus katakan apa sebenarnya kepentingan kamudengan pesawat itu.”


Mereka berdua sepakat meninggalkan meja untuk kemudian menyusuri tepi kolam renang dan selanjutnya menuruni undakan yang mengarah ke pantaidi belakang hotel.


“Lewat sini,” ujar Michael minta Clara mengikuti langkahnya berbelok ke kanan lalu mereka mulai menyusuri pantai. “Pesawat itu tadi raibdi sekitar sini,” terusnya.


Mereka sudah berjalan sekitar dua puluh meter dari hotel ketika pandangan mereka tertumbuk pada seorang wanita muda di bawah pohon pandan besar yang tegak di tepi pantai. Sepertinya ada yang diajaknya bercengkrama tetapi mereka tidak dapat mendengar apa pun kecuali suara debur ombak. Karena itu mereka melangkah lebih dekat.


“Maaf jika kamimengganggu,” Clara berbasa-basi.


“Ada apa?” sahut wanita itu ketus.


“Apa kamu melihat pesawat terbang tadi di sekitar sini?” tanyaClara.


“Apa? Pesawat terbang?” tanggap wanita itu sinis.


“Semacam pesawat pengintai.”


“Mana ada pesawat macam itu di tempat seperti ini?”


Clara merasa tidak senang ditanggapi seperti itu. Ia memberi isyarat pada Michael untuk kembali ke hotel sebelum terjadi masalah di antara mereka.


Pertunjukan terus berlangsung. Penari lain sedang beraksi di atas panggung. Michael mengabadikan setiap momen yang dianggapnya menarik dengan kameranya sementara Clara duduk gelisah di kursinya. Ia seperti diliputi getaran energi yang tak dapat ia kenali. Ada bisikan halus menyeruak dari dasar hatinya agar ia waspada namun ia


tidak serta-merta menerjemahkannya sebagai firasat buruk.


Berkali-kali ia melemparkan pandang ke arah pantai, berharap dapat melihat pesawat yang sudah berulang kali diceritakan orang kepadanya. Ia kesal karena tidak pernah mendapat kesempatan melihat dengan matanya sendiri.


Sejauh ini ia hanya mendengar cerita, bahkan dari Michael yang baru pertama kali datang ke Bali.


Awalnya ia meragukan rumor yang tidak masuk akal itu. Rumor yang ia curigai berasal dari orang-orang yang mengalami halusinasi, tetapi karena semakin banyak orang mengaku pernah melihat pesawat dengan ciri-ciri serupa, lama-lama ia mencampakkan keraguannya sebagaimana ia membuang ketidakpercayaannya akan adanya leak pada kehidupan malam di Bali. Sampai kemudian timbul niatnya untuk menulis buku. Ia pikir itu pasti akan menjadi hal menarik bagi mereka yang tinggal di belahan bumi lain di mana jarang ada peristiwa yang tidak masuk akal seperti yang ia alami.


Banyak waktu yang telah  ia habiskan dan  ia telah mengunjungi banyak tempat untuk dapat mewujudkan impiannya. Ditemuinya siapa saja yang bisa memberinya informasi mengenai ilmu hitam itu. Banyak yang telah ia alami. Mulai dari rasa takut, jijik, ngeri dan semacamnya. Beberapa sosok aneh telah pernah ia lihat, sosok yang merupakan siluman leak itu sendiri. Makin tinggi tingkatan ilmu yang dikuasai seseorang biasanya makin aneh dan seram wujud silumannya.


Sebenarnya bahan-bahan yang telah berhasil ia himpun sudah cukup memadai untuk merampungkan bukunya. Tetapi munculnya berita tentang pesawat terbang itu membuatnya tertarik untuk melengkapi bukunya dengan


kisah tentang pesawat itu. Itu pula sebabnya mengapa ia masih bertahan di kursinya meskipun pertunjukan sudah selesai satu jam yang lalu.


“Agaknya kamu masih penasaran,” ucap Michael tak habis pikir. “Apa sebenarnya arti pesawat itu bagi kamu?”


“Pernah dengar tentang leak?” Clara balik bertanya.


“Binatang apa itu?”  Michael mengerutkan kening. “Baru kali ini saya dengar.”


“Itu makhluk siluman, penjelmaan orang yang mempraktekkan ilmu hitam. Dan pesawat itu leak. Saya dengar, hanya satu orang saja yang bisa jadi pesawat terbang seperti yang kamu lihat tadi.”


“Kenapa kamu begitupeduli?”


“Saya sedang menulis buku.”


“Oh, pantas kamubegitu antusias.”


Clara melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas.


“Saya tidak ingin menahan kamu di sini,” ia memberi isyarat agar Michael membiarkan iasendirian.


“Oke, sampai jumpa besok. Selamat malam,” tanggap Michael.


Clara memang gampang akrab dengan siapa saja meskipun baru kenal. Sepertinya pekerjaan yang ia tekuni telah mengondisikan dirinya seperti itu. Memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pelanggan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya.


Michael yang barusan beringsut ke kamarnya memang laki-laki yang sangat disiplin, terbiasa mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan rencana meskipun tidak tertulis di atas kertas. Dari matanya Clara dapat menerka bahwa laki-laki itu sudah mengantuk. Kelihatan sekali ia tidak mau kehilangan jam istirahatnya.


Ia masih belum berniat meninggalkan kursi meskipun malam sudah semakin


larut. Bukan sekali dua ia bisa asyik sendirian. Ia memang gampang tenggelam dalam pikiran-pikirannya dan


melupakan waktu yang terus merangkak seperti ia membiarkan angin laut yang mulai terasa menggerayangi pori-pori di seluruh tubuhnya. Aroma garam yang menusuk hidung juga ia abaikan. Panggung di depannya seperti pulas dalam dekapan sunyi malam. Tak seorang pun tampak di sekitarnya. Mereka pasti sudah pada berkelana di alam mimpi masing-masing.


Ia melemparkan pandang ke noktah-noktah cahaya yang seakan tak bergerak jauh di tengah laut. Sepertinya itu perahu nelayan atau perahu yang disewa orang-orang yang memiliki hobi memancing. Aneh, pikir Clara, Tuhan sudah menganugerahkan siang untuk bekerja dan malam untuk istirahat, tetapi ada saja yang mengingkari dengan melakukan kegiatan di malam hari dan istirahat pada siang hari. Ia tidak bermaksud menuduh siapa-siapa karena ia sendiri kadang begitu, seperti yang ia lakukan malam itu.