Back To Bali

Back To Bali
Episode 22



Matahari sudah beranjak melewati titik kulminasi. Sinarnya begitu menyengat namun tidak menyurutkan semangat para penggotong bade untuk menyelesaikan gerakan memutar sebanyak tiga kali di area kuburan. Menara kayu berhiaskan ukiran kertas warna-warni tempat jasad Ayu Ratri dibaringkan terus bergerak lentur, sementara suara gong balaganjur gegap gempita menyemangati para penggotong yang jumlahnya puluhan orang.


Ratusan orang hadir di area kuburan termasuk wisatawan yang tidak punya hubungan famili dengan Ayu Ratri. Clara, Luh dan Gus Lanang juga ada di situ. Mereka berdiri agak jauh, berteduh di bawah pohon pule. Di sekitar area itu banyak tumbuh pepohonan menjulang tinggi yang tampak seperti hutan kota. Sementara jasad Ayu Ratri diturunkan dari bade dan diletakkan di dalam perut lembu besar dari kayu untuk diperabukan, Clara membuka tabloid Niskala yang sempat ia beli di kios di pinggir jalan.


“Tewasnya Ratu Leak,” demikian judul sebuah tulisan yang membuatnya tersentak penasaran. Laporan itu sepertinya terkait dengan upacara perabuan Ayu Ratri walaupun tidak ada menyebut-nyebut nama tokoh yang selama ini menjadi buah bibir itu. Ternyata tidak hanya Clara dan Luh yang menyaksikan pertempuran di Karang Suwung pada malam itu. Buktinya, orang yang menulis laporan itu bisa menuliskan dengan rinci kejadian malam itu sebagaimana yang ia saksikan bersama Luh, bahkan dilengkapi dengan foto walaupun tidak tampak jelas. Ia pikir yang menulis laporan itu pastilah seorang paranormal yang juga bergiat sebagai jurnalis.


Sialan, umpatnya dalam hati. Kalau saja Gus Lanang tidak usil, tentu aku juga bisa memiliki dokumentasi pribadi yang istimewa. Ingin rasanya ia menggugat, namun begitu ia berpaling, ia lihat laki-laki itu sedang menyatukan tangan di depan dada begitu jasad Ayu Ratri mulai diperabukan.


“Selamat jalan Tu Biang, maafkan saya.”


Habis berkata begitu ia lantas berlalu begitu saja seakan Clara dan Luh tidak ada di situ. Clara tidak mengerti mengapa ia mesti minta maaf segala. Jangan-jangan Gus Lanang leak yang lain, yang seharusnya tidak boleh mencelakai sesama. Idiot! Seharusnya aku buat wawancara dengannya, pikir Clara lalu buru-buru menarik lengan Luh dan berteriak, “Tunggu, Gus!”


***


Gus Lanang memang bukan sosok manusia biasa. Ia tak jauh beda dengan Luh. Perjalanan hidupnya diwarnai hal-hal ganjil. Orangnya sederhana, suka menolong dan rendah hati. Di atas semuanya, ia memiliki sesuatu yang membuat Clara penasaran. Wanita Australia itu sangat menyukai sikap pendiamnya. Namun ada satu hal yang baru belakangan ini ia ketahui mengenai laki-laki itu, yakni sikap jahilnya. Clara pun tak luput dari ulahnya yang satu itu. Laki-laki itulah yang bertanggung jawab atas hilangnya foto-foto dan video yang sempat ia buat ketika menyaksikan pertarungan di langit gelap Karang Suwung. Tentu saja dengan cara yang tidak bisa dimengerti orang biasa.


“Saya menyesal,” ia mengaku ketika Clara menyakan hal itu. “Biar saya ganti rugi,” imbuhnya.


Clara tidak bisa marah padanya walaupun ia telah dibuat kecewa. Malah itu menyeretnya selangkah lebih dekat padanya. Ada sesuatu pada dirinya yang menarik Clara lebih dekat, yang pada akhirnya membuat wanita bule itu tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ia mulai jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya penuh teka-teki itu.


Itu memang urusan hati. Clara sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia alami. Ada semacam kekuatan magnet yang mempengaruhi dirinya. Setiap kali berada di dekatnya, ia merasa sangat nyaman. Ada sesuatu yang penuh makna ia rasakan, yang tidak dapat diwakili oleh kata-kata.


Seperti pernah ia lakukan sebelumnya, siang itu ia menyewa mobil dan menyetir sendiri ke Abianpoh. Ia tidak dapat menahan diri untuk dapat segera bercengkrama lagi dengannya. Ia termasuk orang yang pantang menunda keinginan. Namun hasratnya yang menggebu kandas di depan pintu gerbang villa yang ia datangi. Ketika ia turun dari mobil, seorang laki-laki yang tidak ia kenal berdiri tegak menghadang jalannya.


“Bisa saya bantu, Nona?” tanyanya dengan keramahan yang menyembunyikan kecurigaan.


“Maaf, kamu siapa?” Clara balik bertanya.


“Saya orangnya Gus Lanang.”


“Saya mau ketemu, apakah ia ada di dalam sana?”


“Maaf, siapa pun tidak bisa menemuinya.”


“Kenapa?”


“Ia tidak bisa diganggu.”


“Tolong sampaikan, saya Clara.”


“Maaf, tidak bisa.”


Clara sagat kecewa. Kemarahan tiba-tiba merasuki hatinya dan membuat ia lepas kendali. Ia tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak sopan. Ia tinggalkan begitu saja laki-laki itu lantas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu.


Sudah ia putuskan untuk langsung balik ke Denpasar, kembali menempuh jarak hampir seratus kilometer, namun ia berubah pikiran begitu ingat pada Nari. Mendadak ia ingin mampir lagi ke rumahnya. Kebetulan itu hari Minggu. Ia pasti ada di rumah. Dan ia tidak menolak ketika Nari minta ia menginap di rumahnya. Tentu saja Nari harus berbagi kamar dengan Clara karena ia tidak punya kamar khusus untuk tamu. Rumah bantuan Foster Parent’s Plan yang berdiri di situ hanya terdiri dari dua kamar. Kamar yang lain ditempati kedua orantuanya.


Clara tidak pernah membayangkan kalau ia akan pernah tidur berdua dengan Nari di sebuah kamar bersahaja. Kamar yang berdinding batako yang tidak diplester dan berlantai semen kasar. Mereka tidur di atas dipan kayu berkasur kapuk yang ditutup dengan sprai bercorak kembang-kembang yang tampak masih baru. Lama Clara tidak bisa memicingkan mata. Bukan karena kondisi kamarnya, tetapi karena memikirkan Gus Lanang. Walaupun ia telah berusaha menyembunyikan kegelisahannya namun Nari dapat menangkapnya.


“Kakak sedang memikirkan apa?” tanya Nari di antara nyanyian serangga malam di sekitar rumah.


“Bagaimana bisa tidur kalau Kakak gelisah begitu?”


“Maaf, saya telah membuat kamu terganggu.”


“Tidak apa-apa, Kak. Apa yang membuat Kakak begitu gelisah?”


“Gus Lanang,” jawab Clara terus terang.


“Ada apa dengannya?”


“Sebenarnya saya ea ra untuk menemuinya.”


“Terus?”


“Tapi saya tidak bisa.”


“Dia menolak bertemu?”


“Tidak. Penjaga pintu yang menghalangi saya ketemu dia. Katanya Gus Lanang tak bisa diganggu.”


“Mungkin ada hal penting.”


“Mungkin.”


Nari yang semula berbaring telentang di sebelah Clara perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Clara serius.


“Hanya karena tidak bisa bertemu dengannya, Kakak jadi begitu gelisah?”


Clara tidak segera menjawab. Ia merasa perlu memilih cara untuk dapat mengatakannya dengan baik.


“Nari,” ujarnya kemudian, “pernahkah kamu jatuh cinta?”


Nari diam. Tanpa menoleh Clara tahu mata Nari sedang meneliti wajahnya. Dia tidak menjawab tetapi malah balik bertanya, “Kakak mencintainya?”


Clara membisu sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala.


“Kalau ada yang bisa saya bantu…”


“Tidak,” Clara memotong kalimat Nari, “tidak ada yang perlu kamu lakukan.”


“Ya sudah. Bukankah ada hari esok? Kenapa harus memikirkannya sampai tidak tidur?”


“Kamu benar Nari, saya akan coba menemuinya besok.”


“Saya akan berdoa untuk Kakak.”


“Terima kasih.”