
Angin yang agak kencang bertiup menggiring ombak yang lebih besar ke pantai. Suaranya gemuruh ketika menghantam senderan di sekitar hotel. Angin yang lain kemudian menyapu wajahnya, membuat rambutnya berantakan. Angin yang satu itu bukan angin biasa tetapi angin ****** beliung yang berputar-putar seperti gasing tepat di depannya, membuatnya agak pening. Dengan pandangan agak kabur, tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan terjelma di depannya, seorang wanita yang mirip dengan perempuan yang sebelumnya mereka temui di bawah pohon pandan besar di tepi pantai. Ia berharap ia salah lihat. Ia menggosok-gosok matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas tetapi sosok itu memang dia.
Wanita itu berdiri dengan sikap menantang dan manatapnya tajam. Tidak ada kata-kata keluar dari mulutnya. Ia hanya menudingkan telunjuk kirinya ke arah Clara dan saat itu juga ia terpelanting dari kursi karena tak bisa menahan sakit yang tiba-tiba menjalari perutnya. Rasa sakit yang belum pernah ia alami seumur hidup. Begitu menyiksa sampai keringat dingin membasahi tubuhnya. Dalam keadaan begitu, yang dapat ia lakukan hanya berteriak minta tolong, berkali-kali. Sampai akhirnya, dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar suara langkah-langkah bergegas mendekat.
Ia berhenti melamun ketika Michael muncul lagi di ruangan tempatnya dirawat. Kali ini ia datang bersama seorang laki-laki berkulit gelap. Ia perkenalkan laki-laki itu sebagai Nyoman, seorang sopir taksi. Kepada Clara ia katakan bahwa ia ingin membawanya ke suatu tempat untuk mendapatkan pengobatan alternatif, tetapi untuk itu ia harus keluar dulu dari rumah sakit. Ia bisa saja mengambil keputusan sepihak untuk keluar dari rumah sakit sebelum waktunya, namun ia harus menandatangani surat pernyataan bahwa ia meninggalkan rumah sakit atas permintaan sendiri.
Michael minta pendapatnya.
“Lebih baik bawa saya keluar dari tempat ini,” tanggap Clara.
“Oke,” sambut Michael.
“Tapi, saya akan dibawa ke mana?”
“Ke rumah Luh,” Nyoman menyahut.
“Apakah ia seorang balian?”
“Ya, semacam itu,” jawab Nyoman.
Sepanjang pengalamannya menemui orang-orang yang punya informasi menyangkut seluk-beluk leak, ada satu dua orang yang menjalankan profesi sebagai penyembuh alternatif. Ada sebagai mediator dan ada juga belajar secara khusus lewat guru-guru yang tidak sulit ditemukan di seantero Bali. Yang bertindak sebagai mediator atau balian katakson pada umumnya tidak begitu memahami seluk-beluk penyakit dan penyembuhannya. Mereka hanya menyediakan diri sebagai alat di tangan dewata atau leluhur, namun ada juga yang diperalat makhluk-makhluk halus dari dimensi rendah. Ia sempat diwanti-wanti agar jangan sampai datang pada yang terakhir itu jika tidak mau berurusan dengan hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Ia bersedia dibawa ke tempat Luh karena Nyoman telah meyakinkannya bahwa Luh bukanlah balian dari golongan itu. Walaupun pada awalnya ia menjadi penyembuh karena ada kekuatan gaib yang masuk ke dalam dirinya dan menerima anugerah berupa benda-benda sakral, belakangan ia lebih dikenal sebagai balian putus, penyembuh yang telah menjalani proses belajar dan pemurnian diri lewat tahapan-tahapan rumit sampai akhirnya memiliki kemampuan untuk mengakses dimensi-dimensi yang lebih tinggi.
Jalan menuju rumah Luh tidak begitu ramai. Clara meringkuk di tempat duduk belakang taksi menahan rasa sakit yang hilang muncul. Tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ke rumah Luh. Karena hari masih pagi, rumahnya masih lengang. Kata Nyoman, orang-orang yang membutuhkan bantuan pengobatan dan konsultasi biasanya datang setelah tengah hari.
“Om Swastyastu,” sapa Luh mendahului begitu mereka masuk ke ruang kerjanya.
“Om Swastyastu,” balas Clara dan Nyoman, sementara Michael, karena tidak mengerti, hanya menyatukan telapak tangan di depan dada meniru apa yang mereka lakukan.
“Ada masalah apa?” tanya Luh langsung setelah menyilakan mereka duduk di depan meja kerjanya.
Luh sebaya dengan Clara, mereka sama-sama berusia dua puluh delapan. Luh punya wajah manis dengan leher jenjang dan dada padat yang tentu membuat setiap laki-laki ingin menyuntingnya. Dengan tinggi sekitar seratus enam puluh senti dan kulit terang, ia memiliki pinggul yang sanggup menggoda mata lawan jenis.
“Teman Tuan Michael ini sedang sakit,” kata Nyoman.
“Ya,” imbuh Michael. “Ini Clara, sedang sakit perut.”
“Sakit perut?” respons Luh.
“Bukan sakit perut biasa, tapi sakit perut karena diganggu wanita malam,” Michael menjelaskan sementara Clara duduk membungkuk untuk mengurangi rasa sakit yang muncul lagi.
“Apa yang Anda maksud dengan wanita malam?” Luh menatap Michael.
Clara berusaha menegakkan badan. Ia menceritakan apa yang telah ia alami sampai ia masuk rumah sakit karena penderitaan yang membuatnya merasa seakan segera mati. Luh manggut-manggut sambil memandang lurus ke bola mata wanita itu sebelum akhirnya memejamkan kedua kelopak matanya. Clara dan Michael saling pandang sejenak, menunggu tanggapan Luh.
“Ah, nenek itu lagi,” keluh Luh begitu membuka mata.
“Siapa?” nada suara Nyoman diwarnai keingintahuan yang besar.
“Yang melakukan serangan,” jawab Luh.
“Tapi, katanya yang menyerang itu wanita muda, bukan nenek-nenek,” tanggap Nyoman setengah protes.
Luh tersenyum. “Sebenarnya ia sudah tua, tapi di dunia malam dia bisa jadi wanita muda seperti yang dia inginkan.”
“Kenapa dia menyerang orang asing?” kejar Nyoman.
“Karena dia merasa diganggu.”
“Apakah teman saya bisa dibantu?” sela Michael tak sabar.
Kembali ke tempat duduknya, ia menunjukkan sebuah benda menyerupai liontin kristal gepeng bernuansa coklat keemasan sebesar ibu jari orang dewasa. Tampak ada tempelan serpihan atau irisan daun emas di sekitarnya dan juga sedikit logam lain berwarna keperakan. Ada tujuh jenis kristal warna-warni yang tertata rapi di dalamnya, dicor sedemikian rupa dengan bahan menyerupai resin sehingga kelihatan transparan.
“Bawa ini ke mana pun Anda pergi,” Luh mengangsurkan benda itu pada Clara.
“Apakah ini orgonite?” tanya Clara separuh menebak.
Walaupun orgonite sudah sangat lama ditemukan Dr. Wilhelm Reich, orang yang pernah menjadi asisten di klinik psikoanalisis Freud, Clara baru mengetahuinya belakangan setelah ia tertarik dengan hal-hal berbau mistik. Boleh jadi banyak orang yang belum tahu kalau benda itu secara alami memiliki kekuatan untuk menetralisir energi negatif.
“Meta-orgonite.” Jawab Luh. ”Ini lebih ampuh.”
“Tapi, bagaimana dengan sakit perutnya?” Michael menyela lagi.
“Tunggu sebentar lagi.”
Michael menoleh ke arah Clara sepertinya tidak yakin dengan apa yang dikatakan Luh, namun ia diam saja.
“Berapa saya harus bayar?” tanya Clara setelah menerima benda yang diberikan Luh.
“Tiga ratus ribu,” kata Luh.
Clara mengeluarkan dompet dan mencomot uang rupiah berwarna merah sebanyak empat lembar lalu diletakkannya di atas meja. Luh mengulurkan tangan untuk menjangkau uang itu.
“Tiga ratus ribu saja,” Luh mengembalikan kelebihan seratus ribu.
“Untuk jasa Anda?”
“Itu sukarela dan bisa dimasukkan ke kotak itu.” Luh menunjuk sebuah kotak kayu di dekat pintu yang menyerupai kotak suara pemilu yang ada lobang tipis memanjang di permukaannya. Clara bergeser lalu memasukkan uang yang dikembalikan Luh ke dalam kotak itu.
“Terima kasih,” ucap Luh.
“Sama-sama, saya harap saya bisa sembuh.”
Michael masih tidak bersuara. Ia kelihatan heran dengan apa yang barusan dilakukan Clara. Mungkin ia menganggap temannya itu telah melakukan perbuatan konyol, terlalu royal untuk sesuatu yang manfaatnya ia ragukan.
“Semoga Anda baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, silakan hubungi saya,” Luh mengangsurkan kartu namanya.
Begitu tiba kembali di hotel, Clara sudah tidak merasakan sakit lagi. Michael tidak percaya dengan perubahan fantastis yang dialami temannya. Karena itu ia membiarkan dirinya menunggu beberapa saat sambil mengobrol di resto untuk membuktikan bahwa hal itu hanya berlangsung untuk sementara waktu. Ia curiga Luh telah melakukan sejenis sulap atau tipuan lainnya. Akan tetapi sampai lewat enam puluh menit ia tidak dapat membuktikan keraguannya.
“Ini tidak masuk akal,” gelengnya.
“Tapi nyata,” timpal Clara sembari tersenyum.
“Kamu harus berterima kasih pada Nyoman,” tukas Michael sambil menunjuk sopir taksi yang berdiri di sebelahnya. “Dia yang telah membuat kamu bisa tersenyum kembali,” lanjut Michael.
“Terima kasih, Nyoman. Saya berutang sama kamu.”
“Oh, tidak. Saya hanya menunjukkan tempatnya,” Nyoman merendah.
Ketika sopir taksi itu minta diri, Clara menahannya.
“Sebentar,” pintanya. “Saya kira, saya perlu ketemu lagi dengan Luh. Saya ingin kamu mengantar saya lagi.”
“Dengan senang hati. Kapan?”
“Bagaimana kalau besok?”
“Oke. Saya siap menjemput.”