
Pingsankah aku tadi malam? Pertanyaan itu menyeruak di benak Clara begitu ia mendapati dirinya terbujur di ruang perawatan rumah sakit. Hari sudah pagi. Ia merasa begitu lemah dan ingin memejamkan mata kembali. Ia tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang terjadi setelah langkah-langkah bergegas itu lenyap dari pendengarannya. Hanya potongan-potongan kejadian tak beraturan berkelebat di layar ingatannya, tak ubahnya kepingan-kepingan mozaik yang sulit ditata. Semuanya samar dan kacau.
“Hi, what happened?” sapa Michael yang tiba-tiba muncul di pintu. Laki-laki dari London itu memandangnya dengan wajah menyiratkan kecemasan. Pagi itu ia tampak lebih segar dengan cambang dan jenggot dicukur halus. Ia tampil lebih rapi walau masih menggunakan pakaian yang dikenakan pada hari sebelumnya: celana jins biru dan kaos oblong putih bersablon dengan tulisan “I Love Bali” yang mencolok di bagian dada.
“Hi,” respons Clara lirih. Michael mendekat tanpa melepaskan tatapannya dari wajah kusut wanita muda itu. Aroma segar eude toilette menguar memberi kepastian bahwa laki-laki usia empat puluhan itu baru saja selesai mandi. “She attacked me,” lanjutnya merasa yakin dengan apa yang ia alami tadi malam.
“Siapa?” Michael mengangkat kedua alisnya.
“Wanita yang kita temui tadi malam. Tak lama setelah kamu pergi, ia muncul dan melakukan sesuatu yang membuat saya dikirim ke tempat ini,” Clara menempelkan kedua telapak tangannya di perut sambil meringis menahan rasa sakit yang datang lagi.
“Ia bisa dilaporkan ke polisi.”
“Tak mungkin. Saya tak punya saksi, lagi pula dia bisa menghilang seperti asap.”
“Masa sih?”
“Saya hampir tidak percaya.”
“Ngomong-ngomong, kamu tidak diberi obat?”
“Sudah saya minum, tapi tidak menolong.”
“Saya panggilkan petugas ya?”
Clara menggeleng lemah. “Mereka akan bilang saya tidak apa-apa.”
“Tapi nyatanya kamu menderita.” Michael menarik napas panjang. Ia merasa kasihan sepertinya yang sedang berbaring di depannya adalah adik perempuannya. “Saya tidak tahu harus berbuat apa,” ia bingung.
“Saya juga tidak tahu apa saya bisa ditolong. Rasanya saya akan mati.”
“Jangan berkata begitu,” Michael tampak sedikit panik. “Pasti ada yang bisa dilakukan.”
“Bagaimana kamu tahu saya ada di sini?”
“Ketika sarapan tadi, seseorang memberitahu saya tentang kejadian yang menimpa kamu.”
“Maaf, saya telah merepotkan kamu.”
“Oh, tidak” elak Michael. Setelah sempat diam sejenak ia siap beringsut, “Saya pikir, saya harus bicara dengan seseorang. Tunggu sebentar ya.”
Laki-laki itu menunjukkan perhatian yang begitu besar padanya padahal mereka baru berkenalan tadi malam, secara kebetulan pula. Mereka langsung akrab gara-gara penasaran pada sesuatu yang tidak masuk akal tetapi menarik.
Ia ingat bagaimana mulanya ia terkesima di balkon hotel mengamati malam turun, membuat setiap ruang yang luput dari jangkauan cahaya tampak remang. Bintang-bintang mengerjap di langit bening. Bulan, yang bulatnya belum sempurna, mengambang di langit sebelah timur pada ketinggian matahari jam sembilan dan cahaya lembutnya rebah di permukaan laut. Angin beraroma batu karang bertiup, membuat pohon-pohon kelapa di tepi pantai meliuk-liuk bagaikan sekelompok penari yang tengah mempertontonkan gerakan-gerakan gemulai. Tepat di atas hotel melati tempatnya menginap, tak seberapa tinggi, awan tipis serupa kapas berarak ke barat, perlahan rapuh dan kemudian hilang tak berbekas.
Seperti sebelumnya, ada saja yang membuatnya kagum pada pulau di mana ia sedang berada. Pulau yang, sejak pertama kali ia kunjungi, telah membuatnya selalu ingin kembali saat bebas dari pekerjaan. Ia tidak hanya tersihir oleh alamnya yang permai, namun hal-hal unik yang bisa ia nikmati kapan saja juga membuatnya sangat betah.
Tidak ingin sebenarnya ia beranjak dari balkon tetapi ia harus segera turun agar tidak ketinggalan acara makan malam spesial, sebuah acara yang ia harap akan memberikan pengalaman lain. Waktu memesan kamar, salah seorang petugas front office menanyainya apakah ia berminat mengikuti acara itu.
“Spesialnya apa?” ia metatap wanita itu, ingin tahu.
“Hiburan macam apa?”
“Tari Bali, Nona,” petugas itu mengangkat dan mengembangkan kedua tangannya setinggi bahu dengan siku ditekuk, menggerakkan jemari lentiknya sedemikian rupa, memperagakan satu tari Bali sambil melirikkan mata ke kiri dan kanan dengan cepat. Melihat gerakannya, Clara yakin ia seorang penari.
Tidak bisa tidak, di benaknya seketika muncul bayangan para penari wanita muda dengan gerakan-gerakan gesit nan indah di atas panggung seperti yang pernah ia saksikan di suatu tempat. Ia benar-benar tidak ingin melewatkannya. Karena itu ia putuskan mendaftar.
Orang-orang mengarahkan langkah ke tempat diselenggarakannya acara makan malam, berderet rapi mirip antrean di depan konter restoran siap saji. Kepingan sorga yang lain, katanya dam hati. Tempat itu serta-merta menyita segenap emosinya. Tempat di mana meja-meja berjejer di atas hamparan rumput mutiara dalam tatanan yang elok dipandang. Di sana-sini tumbuh tanaman kamboja, waru dan beberapa tanaman lain yang namanya sangat mungkin tidak diketahui oleh para wisatawan mancanegara seperti dirinya. Sekitar lima puluh meter dari situ terbentang laut yang ombaknya selalu berdebur dalam irama yang khas. Sebentar-sebentar terdengar suara desah air surut mengelus permukaan pasir pantai di belakang hotel.
Clara berdecak kagum ketika berdiri pada antrean menunggu giliran. Aneka masakan yang masing-masing diwadahi pinggan-pinggan baja antikarat terhidang di atas meja panjang yang didandani kain bercorak kotak-kotak hitam putih menyerupai papan catur. Selain nasi putih tampak pula sop ikan tuna, sate udang, cumi goreng dan hidangan laut lainnya. Sayurnya, selain pelecing kangkung yang ia sukai, ada juga kacang panjang yang disantan. Pada meja tersendiri terhidang pula aneka makanan tanpa daging yang disediakan khusus buat para vegetarian.
Tiba-tiba seorang lelaki bule tanggung, mengenakan kaos oblong dan celana pantai, menyerobot di depan Clara tanpa basa-basi.
“Hei, apa yang kamu lakukan?” tegurnya.
Laki-laki itu menoleh sekilas ke belakang dengan air muka menyiratkan keangkuhan sambil berkata, “Saya kira kamu lebih suka melamun daripada ...”
“Sialan! Kamu dari mana sih?”
“Bukan urusanmu,” laki-laki itu merasa tak bersalah.
Clara tidak menyangka ada orang arogan seperti itu di sekitar tempatnya menginap, namun ia berusaha menahan diri. Ya, memang bukan urusannya dari mana pun laki-laki tanggung itu berasal. Mungkin saja ia datang dari negerinya juga. Pernah ia dengar bahwa turis macam begitu konon datang dari tataran bawah sehingga perilakunya pun menunjukkan kelasnya. Dan ia harus mafhum, hal seperti itu sangat mungkin terjadi di lingkungan hotel yang tidak mewah itu.
Keluar dari antrean dengan piring penuh, ia melangkah tertegun-tegun, menimbang-nimbang di mana sebaiknya duduk. Acara itu memang dibuat lain daripada yang lain: mejanya tidak diberi nomor. Ia tidak mau duduk terlalu jauh dari panggung pertunjukan. Ketika ia melihat sebuah meja kosong dengan cahaya redup di bawah sebatang pohon waru, ia bergegas ke sana. Tetapi dalam waktu yang sama seorang pria jangkung dengan air muka ramah, mengenakan kaos oblong putih, juga mengarahkan langkahnya ke situ.
“Kamu mau meja ini?” tanya laki-laki itu ketika mereka sama-sama hendak meletakkan piring.
“Ya,” sahut Clara tanpa melepaskan padangan dari wajah bulat laki-laki itu, “dan kamu?”
“Kalau tidak keberatan…,” tampaknya laki-laki itu ingin Clara berbagi meja dengannya.
“Oh, bukankah meja ini cukup lebar untuk kita?” Clara menukas cepat.
“Tentu saja,” laki-laki itu mulai duduk. “Saya Michael,” ia memperkenalkan diri. “Namamu?”
“Clara. Saya Anna Clara,” wanita berperawakan tomboi itu menggeser kursi yang akan diduduki. “Kamu dari mana?” Ia menunjukkan keingintahuannya dengan sedikit memiringkan kepala sambil tetap mengamati wajah Michael yang dikitari bulu-bulu lebat serupa rambut jagung.
“London, dan kamu?”
“Darwin.”
“Hm, lumayan dekat.”
Clara tersenyum. “Ya, begitulah.”
Seorang pelayan laki-laki muncul mengenakan destar kecoklatan di kepala dan kain endek khas Bali warna oranye. Ia mengucapkan salam dengan ramah lalu meletakkan dua botol plastik berukuran kecil, satunya berisi kecap dan yang lain berisi sambal yang mungkin diperlukan oleh mereka yang bersantap di meja itu. Setelah ia berlalu menuju meja lain mereka mulai bersantap, dan gamelan mulai ditabuh di atas panggung.
Panggungnya sekitar setengah meter lebih tinggi dari permukaan tanah tempat mereka menikmati makan malam. Di bagian belakang panggung tegak gapura berukir khas Bali, candi bentar, yang terbuat dari papan tripleks namun tampak begitu mirip dengan gapura dari batu bata di bawah terpaan cahaya lampu malam itu. Di sebelah kiri berjejer gamelan, alat musik tradisional dengan pahatan-pahatan rumit yang dipoles prada keemasan. Di belakang masing-masing gamelan duduk para penabuh laki-laki dalam seragam busana Bali berwarna merah marun lengkap dengan ikat kepala khas yang disebut udeng.