Back To Bali

Back To Bali
Episode 14



Karena dokter berkesimpulan aku tidak apa-apa, maka aku diizinkan meninggalkan rumah sakit. Tetapi aku tidak langsung balik ke Jakarta. Ibu ragu melepasku pergi.


"Kita ke Ibu Suci dulu," usulnya. "Beliau pasti tahu apa yang sedang kamu alami."


Kuturuti saja apa kata Ibu.


"Masih ingat apa yang saya katakan dulu?" Ibu Suciani langsung menodongku dengan pertanyaan begitu aku selesai menuturkan pengalamanku. "Bahwa Luh akan mengalami pemurnian diri seketika karena suatu hal yang tak Luh pahami?"


Aku mengangguk tanpa kata-kata.


"Kini Luh datang dalam keadaan seperti itu. Luh kini punya kemampuan istimewa, tapi tampaknya Luh tidak suka. Saya paham kalau Luh merasa tidak nyaman, sebab Luh belum tahu apa manfaatnya itu."


"Saya hanya ingin jadi orang biasa," tanggapku perlahan.


"Saya mengerti, Luh masih begitu muda dan sangat kuatir kehilangan masa mudamu. Tapi, jangan katakan bahwa Luh bahagia dengan pekerjaanmu sekarang. Saya tahu Luh banyak uang, tapi batinmu nelangsa. Sebenarnya sudah lama Luh pertanyakan hal ini pada dirimu, tapi tak kunjung Luh temukan jawabnya. Kenapa? Karena Luh abaikan panggilan jiwamu yang juga adalah panggilan leluhurmu. Luh hanya terobsesi oleh keadaan keluarga dan Luh pikir hanya uang yang dapat menolong. Apa betul yang saya katakan?"


Perlahan aku kembali menganggukkan kepala dengan mulut tetap terkunci.


"Sekarang terserah Luh saja. Luh datang ke sini buat minta petunjuk, dan itu sudah saya berikan."


"Saya bingung, tak tahu harus melakukan apa?"


"Datang saja ke sini kapan pun Luh merasa siap. Saya siap membantu.”


***


“Gila! Kamu berhenti kerja untuk jadi balian?" Reni tak habis pikir manakala kuberitahu mengenai keputusan yang telah kuambil.


"Tidak, Ren," gelengku. "Kamu tahu, Ibu sudah kian renta. Aku tak ingin ia habiskan sisa hidupnya dalam kesepian. Aku harus merawatnya."


"Kalau itu sebabnya aku dapat mengerti. Bagaimanapun aku tak punya alasan untuk menahanmu, kendati sebenarnya berat bagiku untuk berpisah."


"Kita tidak berpisah, Ren. Kita pasti akan sering ketemu lagi. Kuharap kamu dan teman-teman nanti sudi mampir ke restoku bila kebetulan ada jadwal terbang ke Denpasar."


"Apa? Kamu punya resto? Sejak kapan? Kok nggak bilang-bilang sih?" Reni mencecarku dengan pertanyaan sambil menggoyang-goyang pundakku.


"Ini baru rencana kok," sahutku kalem.


"Tapi, kelihatannya sudah oke banget. Pasti sudah sejak lama kamu punya rencana ini ya. Lagi pula kamu kan memang pintar masak, sampai-sampai tiap Hari Raya Galungan kamu dipesan jadi kokinya bazar muda-mudi di banjar. Iya kan?"


"Memang. Untuk bisa mandiri kupikir sebaiknya mulai dari apa yang kumiliki. Apa yang bisa kulakukan. Di samping itu, dengan buka usaha sendiri di dekat rumah, kuharap bisa mencurahkan banyak perhatian pada Ibu sementara kegiatanku berguru pada Ibu Suci juga kuharap berjalan lancar."


Reni menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak kagum. "Betul-getul gagasan yang hebat. Kamu akan jadi bos, Luh!"


"Bukan itu yang jadi tujuanku. Yang penting bagiku bagaimana aku bisa survive. Itu saja".


Aku sangat terkesan dengan proses pembangunan restoku yang di luar dugaan. Arsitekturnya unik, merupakan perpaduan antara arsitektur Bali yang kaya ornamen dengan arsitektur Spanyol dengan tiang-tiang ramnya yang khas. Tetapi sebagian besar bahannya terdiri dari bambu hitam, berdiri di antara pesawahan yang masih produktif di tepi jalan bebas hambatan yang menghubungkan Sanur dengan Bandara Internasional Ngurah Rai. Tanah yang luasnya lima ratus meter persegi itu kusewa selama lima tahun.


Semula kukira aku akan mengeluarkan begitu banyak uang untuk membiayai pembangunannya. Tetapi Kadek, adik semata wayangku yang lagi kuliah di Fakultas Teknik mengambil-alih urusan penyiapan bangunan dengan segala fasilitasnya. Ia kerahkan teman-teman dekatnya yang merupakan aktivis muda-mudi desa. Karena mereka semua menolak menerima bayaran, maka biaya yang harus kukeluarkan bisa dihemat. Tetapi aku sempat mengeluh mengenai hal ini.


"Kamu tidak boleh begitu, Dek," kataku mengingatkan. "Kita harus belajar bersikap profesional. Jerih payah orang jangan sampai tidak dihargai sama sekali. Kita kan sedang merintis bisnis."


“Sudah saya katakan itu pada mereka," jawab Kadek. "Mereka bilang, Luh juga tak pernah menerima bayaran ketika turut terlibat siang-malam dalam kegiatan bazar muda-mudi."


"Tapi itu kan untuk kepentingan organisasi, bukan pribadi."


"Mereka tak peduli. Bagi mereka, ikut terlibat dalam pembangunan resto ini merupakan kesempatan baik untuk membalas kebaikan Luh. Itu kata mereka."


Aku membisu. Tak kusangka mereka begitu baik walaupun terkadang tampak urakan. Mungkin dengan begitu mereka ingin menunjukkan bahwa sikap gotong-royong itu masih ada walaupun zaman sudah demikian modern. Tetapi, aku tetap merasa tidak nyaman kalau bisnisku ditopang oleh kegiatan gotong-royong.


Maka atas inisiatifku sendiri, kepada semua yang terlibat dalam pembangunan resto kuberikan hadiah arloji bermerek yang kupesan pada Reni saat ia ada jadwal terbang ke Abu Dhabi. Puas rasanya melihat mereka bangga dengan hadiah yang kuberikan, walaupun mungkin tak cukup untuk menebus jerih payah mereka.


Aku sangat bersyukur karena semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Pelanggan restoku cukup banyak, Ibu terawat dengan baik dan kegiatanku menimba ilmu pada Ibu Suciani semakin menampakkan kemajuan.


Dalam waktu yang relatif singkat, aku telah diberi kepercayaan untuk ikut menangani pasien-pasiennya. Ada kepuasan tersendiri kurasakan bila bisa membantu membebaskan orang dari penderitaannya. Ni membuatku semakin betah menekuni dunia yang tadinya kuanggap sangat asing.


Suatu malam ketika pasien terakhir baru saja pulang, Ibu Suciani duduk di dekatku dan berkata, "Kemajuan yang kamu alami sangat pesat, Luh. Saya hampir tak percaya melihat semua ini. Baru satu tahun kamu telah mampu mencapai tingkat ini. Luar biasa! Dulu, saya baru bisa mencapainya setelah bekerja keras selama tiga tahun."


"Ibu jangan memuji saya seperti itu, nanti saya besar kepala," sahutku.


"Saya katakan apa adanya."


"Tidakkah semua ini karena kakek saya?"


"Tidak," jawab Ibu Suciani tegas. "Tapi ia memang selalu memantaumu. Kamu sendiri pasti dapat merasakan."


"Saya tidak tahu harus bilang apa sama Ibu yang telah bersusah-payah menuntun saya."


"Takdir yang menuntun. Luh sudah bawa bekal dari kehidupan masa lalu. Saya cuma bertindak sebagai pemicu," jelasnya. "Itulah sebabnya mengapa Luh mengalami kemajuan yang begitu pesat setelah saya inisiasi."


Aku manggut-manggut.


"Luh," suara Ibu Suciani terdengar pelan dan berat. "Sebenarnya ada hal penting yang hendak saya katakan. Tapi hari sudah larut malam."


"Apa itu? Katakanlah sekarang," tanggapku dengan keingintahuan yang sangat besar.


Udara mulai terasa dingin. Di kejauhan sesekali terdengar gonggongan anjing menyela keriuhan suara serangga. Pohon mangga yang tumbuh di halaman sebentar-sebentar bergoyang ditiup angin lalu.


"Mengenai apa ya?" kutatap mata Ibu Suciani.


Aneh, seperti sebelumnya aku tak melihat apa-apa di matanya. Tak ada gambar yang bergerak. Tak ada bayangan apa pun. Tidak seperti kalau aku menatap mata orang lain yang lantas kulihat perjalanan masa lalunya. Apakah karena Ibu Suciani seorang guru spiritual yang mampu menutup layar yang seharusnya bisa kulihat?


"Hilangkan keraguanmu, hapus rasa rendah diri. Tatap mata Ibu sekali lagi dengan penuh keyakinan," katanya seperti bisa membaca pikiranku.


Kulakukan seperti yang ia minta dan aku segera melihat sesuatu di matanya. Ada seorang lelaki muda tampan yang sepertinya pernah kukenal tetapi aku tak dapat memastikan siapa dia.


"Lelaki itu sangat dekat dengan Ibu," cetusku.


Ibu Suciani tersenyum tetapi tampak getir.


"Luh benar," katanya. "Kami saling mencintai, tapi itu sudah lama berlalu. Kami berpisah karena satu hal."


Dua ekor kelelawar tiba-tiba melintas di dekat pohon mangga di halaman. Mereka berkejar-kejaran. Suara kepak sayap mereka memecah keheningan malam.


"Kenapa, Ibu? Ada masalah apa?"


"Saya terlalu mencintainya. Saya tak rela ia kehilangan masa depannya," suara Ibu Suciani terdengar parau. "Saya tak ingin ia terseret ke dalam lingkaran nasib saya yang tidak beruntung."


"Saya tidak mengerti maksud Ibu."


"Luh, orang yang saling mencintai pasti kelak akan menikah dan menginginkan sebuah keluarga yang bahagia. Karena saya tak mungkin memberikan itu, saya minta berpisah secara baik-baik."


"Apa maksud Ibu?"


Lama Ibu Suciani membisu sebelum akhirnya menjawab lirih, "Saya mengidap kista. Luh pasti tahu apa risiko yang harus ditanggung wanita yang menderita penyakit itu."


Aku mengangguk mafhum. "Kenapa Ibu minta berpisah? Apa ia keberatan menerima keadaan Ibu seperti itu? Kanapa tidak mencoba melakukan sesuatu untuk menyembuhkan penyakit itu?"


"Bukan penyembuhannya yang jadi masalah, Luh. Tapi dampak penyembuhan itu sendiri, seperti yang telah saya katakan tadi. Saya tak mungkin bisa memberinya keturunan. Bagi saya perkawinan tak ada artinya tanpa keturunan."


"Bukankah anak bisa diadopsi?"


"Iya, tapi bukan itu yang saya inginkan."


"Dan ia setuju?"


"Tidak. Ia bahkan mati-matian menolak ide itu. Memang berat rasanya menerima kenyataan itu. Tapi itu harus terjadi, karena saya tak ingin ada penyesalan di belakang hari."


"Apa Ibu pikir itu adil?"


"Memang tidak. Tapi saya tahu, dengan begitu saya telah melakukan yang terbaik. Tak mudah, memang. Karenanya saya putuskan untuk pergi jauh sehingga ia bisa berpikir jernih. Dan apa yang saya lakukan ternyata tidak meleset. Begitu kembali, saya dapati ia telah kawin dan punya anak."


"Kalau saya jadi Ibu, saya tak akan kembali."


“Luh, sejauh apa pun kita pergi, pada akhirnya kita akan pulang ke rumah. Semua yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Mekanisme alam bekerja dengan sangat rapi tanpa sepengetahuan kita. Kalau semua itu tidak terjadi, tak akan ada saya seperti sekarang ini dan percakapan ini pun tidak akan pernah berlangsung.”


"Di mana sekarang mereka berada, Ibu? Kalau saya boleh tahu?"


Ibu Suciani tertegun sejenak, lalu membenahi sikap duduknya.


"Harap jangan kaget, anaknya sekarang sedang duduk di dekat saya."


Aku terbelalak, memandang tajam ke wajah Ibu Suciani. "Ibu jangan bergurau, bukankah tak ada siapa-siapa di sini kecuali saya?"


"Luh tidak percaya kalau saya bilang anak itu tak lain dari dirimu?"


Aku tercekat. Tak dapat kugambarkan bagaimana sebenarnya perasaanku. Rasa senang dan sedih bercampur jadi satu, mengaduk-aduk ruang emosiku. Lidahku pun jadi kelu, tak mampu mengucap sepatah kata pun. Kudapati kemudian pipiku basah.


"Jadi, laki-laki itu ayah saya?" kataku kemudian setelah dapat menguasai diri.


"Ya, itulah sebabnya kenapa saya ingin memandangmu terus ketika Luh datang menemui saya untuk pertama kali."


"Maafkan ayah saya, Ibu."


"Tak ada yang perlu dimaafkan, ia tidak bersalah. Ia laki-laki paling baik yang pernah saya kenal. Sayang, ia terlalu cepat pergi."


Walaupun kami sama-sama wanita, tak sepenuhnya dapat kupahami jalan pikiran Ibu Suciani. Ia bilang sangat sayang padaku, tetapi di lain pihak ia membuat keputusan yang menurutku tidak sejalan dengan apa yang diucapkannya. Tiba-tiba ia minta aku melakukan pelayanan untuk membantu sesama di rumahku sendiri. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan?


"Kamu lihat sendiri, bukan?" kilahnya memberi alasan. "Rumah ini sudah tidak memadai lagi buat menampung mereka semua."


"Tapi…"


"Hilangkan kesangsianmu," potong Ibu Suciani seakan tahu apa yang hendak kukatakan. "Kalau ada kesulitan pasti saya bantu. Saya akan selalu memantau dari sini. Sudah saatnya Luh mandiri. Bukankah ada saatnya bayi berhenti menyusu pada ibunya?"


Aku manggut-manggut. "Kalau begitu, baiklah. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dan kebaikan Ibu. Saya tidak tahu bagaimana harus membalasnya."


"Ah, kenapa Luh bicara begitu? Untuk apa kita dilahirkan kalau bukan untuk saling melayani dan membantu sesama? Tapi, kamu harus ingat satu hal, kamu tak perlu cerita apa-apa kepada ibumu mengenai yang barusan saya beritahu."


"Apa Ibu pikir dia tak tahu apa-apa tentang hal itu?"


"Yang saya inginkan, jangan mengungkit-ungkit masa lalu. Itu saja. Luh paham?"


Aku mengangguk patuh.