
Mobil yang dikemudikan Luh meluncur tenang menyusuri jalan by pass menuju Bandara Ngurah Rai. Clara bersandar lunglai di sebelah kiri Luh bagaikan balon kekurangan udara, kehilangan gairah. Semua yang ada di sekitarnya seolah tidak punya arti lagi.
Semua itu karena harapan yang pudar. Harapan untuk dapat berbagi masa depan dengan Gus Lanang yang kandas, tidak mendapatkan tempat berlabuh. Kini ia merasa berubah menjadi orang lain. Adakah dewa atau apa pun namanya yang bertanggung jawab atas semua ini? Ia seakan tidak megenali dirinya lagi. Serentet pertanyaan panjang menggema di hatinya. Ke mana perginya ketegaran yang selama ini kumiliki? Aku tiba-tiba jadi manusia yang kehilangan jatidiri. Begitu perkasakah cinta sampai sanggup menenggelamkanku ke pusaran emosi yang demikian sentimental?
Lingkungan rumah Nari masih berembun ketika Clara melangkahkan kaki menuju villa. Segelas kopi hitam yang disuguhkan Nari bersama ketela rambat kukus memberinya cukup energi di pagi hari. Nari melepasnya dengan tatapan penuh harap agar ia memperoleh apa yang ia dambakan.
Ia tidak bertemu dengan laki-laki yang kemarin menghadang jalannya. Ketika gerbang kayu villa yang tidak terkunci ia kuakkan perlahan, suara yang terdengar agak parau menyambutnya. Manakala ia tujukan pandangan ke arah datangnya suara, ia temukan sosok Gus Lanang yang sedang bangkit dari duduknya di atas lantai yang dilapisi karpet merah. Ia heran melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Ia tampak seperti sedang tidak sehat. Ia mempersilakan Clara duduk dengan gerakan tangan yang begitu lemah.
“Maaf, saya telah membuat kamu kecewa.”
“Tidak mengapa,” sahut Clara yang kemudian duduk di hadapannya. “Apa yang terjadi? Mengapa kamu tampak begitu rapuh?”
Gus Lanang menatap Clara dengan sorot mata redup. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Semangat dan keceriaannya telah padam bagai bara tersiram air.
“Saya tahu mengapa kamu datang,” ucap Gus Lanang pelan, mengabaikan pertanyaan yang diajukan padanya.
Clara tertunduk, merasa gugup. Ia tak perlu menjelaskan apa pun, toh Gus Lanang sudah tahu tanpa ia katakan. Yang ia tunggu adalah tanggapannya. Manakala ia telah menunggu beberapa saat dan tidak mendengar apa yang ia harapkan, ia memberanikan diri mengangkat wajah dan memandang lurus ke mata Gus Lanang.
“Tidak, Clara,” gelengnya.
“Kenapa?”
“Saya sudah terima pesan.”
“Pesan apa?”
Gus Lanang diam sejenak sebelum akhirnya menyahut, “Saya sudah sampai pada ujung siklus.”
“Katakan sesuatu yang dapat saya mengerti,” pinta Clara.
Gus Lanang mengusap dada dengan telapak tangan kanannya. Wajahnya meringis, seperti menahan rasa sakit.
“Kamu tahu bahwa saya pernah mati?” tanyanya.
“Mati suri menurut Suta.”
“Kamu mengenalnya?”
“Saya bahkan tahu kamu masih harus menemuinya.”
“Saya sudah menemuinya.”
“Benarkah?”
“Sebenarnya hidup saya sudah lama berakhir. Namun, karena masih ada tugas yang harus saya selesaikan, maka….”
“Terus?”
“Sekarang tugas saya sudah selesai.”
Luh memperlambat laju mobil dan berhenti untuk mengambil tiket parkir di gerbang bandara. Clara tidak mungkin kompromi dengan waktu untuk menunda perpisahan. Ia tidak dapat menahan emosi sentimentilnya ketika memeluk Luh di depan pintu keberangkatan. Masa libur sudah hampir habis. Ia harus kembali ke Darwin untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum ia berangkat lagi untuk menunaikan tugasnya.
Dengan perasaan enggan ia menyeret koper mendekati pintu ruang keberangkatan.
“Jangan lupa kirim bukunya kalau sudah dicetak,” Luh mengingatkan.
Clara berhenti, berpaling ke arah Luh lalu mengangguk. “Tunggu saja, bye…”
“Bye...,” Luh melambaikan tangan dengan roman muka yang menyiratkan kehilangan.
***
Clara tidak hanya kehilangan Gus Lanang. Semua arsip di dalam laptopnya juga lenyap, termasuk naskah buku yang hendak ia kirim ke penerbit. Ia hampir tidak percaya mengapa bisa mengalami nasib buruk beruntun seperti itu. Apakah itu ada hubungannya dengan karma masa lalu juga? Ia jadi demikian gamang seakan tengah berdiri di bibir tebing.
Sejak berkutat dengan kegiatan menulis buku tentang leak, banyak kejadian ganjil yang membuatnya merasa tidak nyaman. Sepanjang masih bisa ditolerir, ia selalu berusaha berdamai dengan dirinya. Namun kalau sampai mengacaukan rencananya yang sudah siap dieksekusi, ia merasa patut mempertanyakannya dan bahkan mengggugat. Tetapi kepada siapa?
“Hei, kamu di mana, Clara?” respons Luh ketika menerima teleponnya.
“Di rumah, dan sedang kesal.”
“Kenapa?”
“Laptop saya rusak, tak ada data yang bisa diselamatkan.”
“Termasuk naskah buku...?”
“Ya. Itu membuat saya hampir gila.”
“Ya Tuhan! Mungkin kamu tidak berjodoh.”
“Apa maksudmu?”
“Jadi, saya harus bagaimana?”
“Kenapa tidak menulis novel saja?”
“Saya tak pernah menulis fiksi, Luh.”
“Kamu bisa memulainya sekarang.”
“Saya belum tertarik.”
“Kalau begitu, tidak ada jalan lain kecuali kamu datang lagi ke Bali dan lakukan wawancara ulang.”
“Saya harus menunggu berbulan-bulan untuk itu.”
“Kalau tidak siap ya lupakan saja. Siapa tahu ini anugerah tersembunyi.”
“Apa pula itu?”
“Kamu tak pernah baca? Dale Carnegie bilang, sukses kadang datang menyamar sebagai kemalangan untuk menguji.”
“Jadi, saya perlu ijazah lain?”
“Bukan ijazahnya yang penting, tapi kesediaan untuk menghadapi ujiannya.”
“Kamu bicara seperti filsuf.”
Luh tertawa berderai. Clara heran dengan kebiasaan Luh yang bisa tertawa dalam segala keadaan. Ia jadi teringat makna nunas ica pada setiap acara persembahyangan di pura. Secara harfiah, kata itu berarti mohon tertawa. Ya, mohon anugerah pada Dewata agar selalu diberi kesempatan untuk bisa tertawa.
Agaknya itu salah satu resep bahagia orang-orang yang hidup di atas bumi seribu pura itu sehingga jarang kelihatan risau walaupun punya masalah. Bagi mereka seakan tertawalah yang mendatangkan kebahagiaan dan bukannya kebahagiaan yang menyebabkan orang tertawa. Tidak jarang ia melihat acara rapat serius pun bisa diwarnai tawa. Bukan hanya itu, di Ubud bahkan ada kelas meditasi tertawa.
Seandainya ia sempat mengikuti kelas itu, boleh jadi ia tidak perlu uring-uringan. Namun bagaimanapun ia harus belajar mengelola emosi. Ia tahu, menjadi cerdas dalam hal itu bisa memberikan dukungan yang sangat berharga. “Kalau orang lain bisa melakukannya mengapa aku tidak?” katanya dalam hati.
Guna mengendorkan saraf kepalanya yang tegang, setelah mandi sore ia turun dari apartemennya di lantai tiga. Pohon-pohon berdaun rimbun di taman tampak moncer dengan tunas-tunas mudanya. Ia merasa diundang untuk duduk di salah satu bangku kayu di bawahnya. Terbayang di kepalanya betapa asyiknya bersantai di situ sambil menunggu sore berubah ranum.
Selangkah memasuki taman, ia mendadak ingat. Ia ada janji bertemu dengan seseorang malam itu, laki-laki yang wajahnya tampak begitu ceria sepanjang perjalanan Denpasar-Darwin. Air mukanya tampak begitu jernih seakan tidak pernah punya beban dalam hidupnya. Ia duduk persis di sebelahnya yang kebagian tempat di dekat jendela. Laki-laki itu sempat membuatnya merasa malu. Malu karena telah membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan hanya karena sebuah kehilangan. Ketika ia menekuk leher di pojok, laki-laki itu muncul dan spontan menyapa seperti bertemu seorang kawan lama yang dirindukan. Ia tidak bisa menghindar dari keakraban yang ditawarkan senyumnya yang tulus.
“Saya Wisnu,” kata laki-laki itu memperkenalkan diri, tidak sedikit pun menunjukkan kecanggungan.
“Clara,” ia menyebut namanya sembari mengulurkan tangan.
“Senang bisa berkenalan sama kamu,” sambut laki-laki itu. “Mau pulang ke Darwin?”
Clara mengangguk. “Dan kamu?”
“Saya kerja di sana.” Wisnu lantas menyebutkan sebuah hotel tempatnya bekerja. Yang mengejutkan, mungkin ini bisa disebut kebetulan yang tidak mudah terjadi, ia tinggal hanya beberapa blok dari apartemen yang dihuni Clara. “Kamu sering ke Bali?”
tanyanya di ujung cerita singkatnya.
“Ya.”
“Oh, kamu pasti sudah tahu banyak tentang Bali.”
“Bahkan saya punya rencana menulis buku.”
“Buku tentang ...?”
“Leak.”
“Wow. Saya tak bisa bayangkan bagaimana kamu bisa punya rencana luar biasa seperti itu. Apakah kamu seorang kandidat doktor?”
“Bukan,” Clara menggeleng cepat. “Saya hanya seorang awak kapal pesiar yang tertarik dengan keunikan Bali.”
“Sudah sampai di mana prosesnya?”
“Naskahnya sudah siap, tinggal kirim ke penerbit.”
“Wow, selamat ya. Kalau sudah terbit, saya pasti beli dan akan saya rekomendasikan pada teman-teman untuk memiliki buku itu.”
“Benarkah?”
Wisnu menganggukkan kepala sambil mengumbar senyum.
Ketika pesawat mendarat, ia menyatakan keinginannya untuk betemu lagi. “Ada resto baru dekat tempat kita, dan saya dapat undangan besok malam. Saya akan senang jika kamu bisa menemani saya,” pintanya dengan cara yang elok.
Hati kecil Clara bilang, kesempatan ini sebaiknya tidak dibiarkan berlalu.
“Oke, saya akan bergabung. Dan saya sangat senang jika kamu berkenan menjemput.”
Wisnu menyatakan kesediaannya.