Back To Bali

Back To Bali
Episode 13



Sebuah taman yang indah, pikirku sambil meletakkan pantat di permukaan bangku yang terbuat dari beton. Di atas kepalaku dahan sawo kecik bergoyang-goyang ditiup angin lalu. Ada dua ekor burung sedang bercanda-ria di sana sepertinya sedang menikmati keindahan masa remaja.


Oh, aku juga ada di sini untuk keperluan yang sama. Sebentar lagi Ngurah Andika akan datang. Kucoba menebak-nebak apakah yang akan ia hadiahkan padaku hari ini? Pasti bukan lukisan. Mungkin ia akan datang dengan seikat kembang sebagai ungkapan rasa cintanya padaku. Mungkin juga benda lain, seperti cokelat kesukaanku misalnya. Ah, entahlah, aku tak peduli apa pun yang ia bawa. Kehadirannya di sisiku saja sudah merupakan sebuah hadiah.


Kudengar ranting kering gemeretak seperti terinjak kaki. Aku mendongak mencari wajah Ngurah Andika, namun mataku bersirobok dengan wajah lain. Wajah keriput seorang laki-laki tua berjanggut panjang yang mengenakan pakaian serba putih. Melihat destar putih yang membungkus penuh kepalanya kupikir ia seorang pinandita atau paling tidak sutri, pembantu pinandita di pura.


Aku terhenyak. Ia berjalan tersaruk-saruk dengan sebatang tongkat di tangan kanannya. Semula kukira ia hanya mau numpang lewat tetapi tak tahunya ia mengajakku bicara sepertinya ia sudah mengenalku sebelumnya. Aku merasa aneh. Bahasa yang ia gunakan sama sekali tak dapat kumengerti.


Aku bingung. Sudah kukatakan padanya, aku tak mengerti apa yang ia katakan. Namun ia tak peduli. Ia terus saja nyerocos seakan-akan menghendaki sesuatu dariku. Aku mulai takut. Pelan-pelan kugeser dudukku untuk dapat menjauhinya. Kini kulihat ia mengangkat tongkatnya dan dituding-tudingkannya ke arahku. Nyaliku benar-benar jadi ciut. Apa sih maunya orang tua ini? Apakah ia seorang lelaki penyihir? Oh, jangan-jangan ia ingin mencelakaiku, hendak menyihirku menjadi kodok atau binatang lainnya yang sangat menjijikkan. Betapa ngerinya! Dan ketakutan yang amat sangat akhirnya membuatku berteriak. Dan aku terbangun oleh teriakanku sendiri, sementara itu kudapati Reni tengah memegangi tanganku lalu mencoba menenangkan.


"Kamu mimpi buruk ya?" tanyanya sambil meraih gelas berisi air putih yang tersedia di atas meja mungil yang memisahkan ranjangku dengan ranjangnya. "Minum dulu," pintanya.


"Maaf, telah mengganggu tidurmu," kataku lalu kembali merebahkan diri setelah membasahi kerongkongan dengan seteguk air putih.


"Tak apa-apa. Barangkali kamu terlalu capai, istirahatlah."


Aneh. Mimpi itu ternyata datang lagi pada hari berikutnya dan berikutnya lagi. Aku sangat terganggu dibuatnya. Reni juga tentunya. Dia selalu terbangun kalau aku mengalami mimpi itu sebab aku pasti berteriak lantang.


Aku tahu dia sangat khawatir dengan keadaanku sehingga ia menyarankan agar aku pergi ke tempat praktek seorang psikiater. Namun kupikir itu tidak perlu sebab aku yakin aku tidak mengalami gangguan kejiwaan.


"Jangan keras kepala begitu, Luh. Biar kutemani kamu ke sana," bujuk Reni.


"Aku tidak gila, Ren. Aku hanya mimpi!" sahutku ketus.


"Tapi itu bukan mimpi biasa. Hampir tiap malam kamu histeris. Bahkan siang hari pun kamu alami itu. Kamu tahu itu halusinasi, Luh. Itu pasti karena kamu selalu dikejar rasa takut. Rasa takut yang kamu bawa sejak peristiwa malam itu."


"Dengar, Ren. Ini tak ada hubungannya dengan kejadian itu. Aku ketakutan karena aku didatangi laki-laki tua berpakaian serba putih. Ia bicara padaku tapi aku tak dapat mendengarnya. Sepertinya ia menginginkan sesuatu dariku."


"Orang tua berpakaian serba putih?" Reni mengerutkan dahinya seperti sedang berpikir keras. "Ia pasti orang yang sudah mati. Boleh jadi ia kasihan padamu, karena kamu selalu dirundung nasib buruk."


Aku diam tak menanggapi.


"Kamu tahu, Luh. Dia pasti ingin kamu ikut dia," Reni meneruskan celotehnya.


"Jangan bergurau," sahutku sebal.


"Habis, diajak ke psikiater nggak mau. Apa kamu pikir tak akan buruk akibatnya kalau kamu terus-terusan begitu? Oke, kamu tak mau ke psikiater tak apa-apa. Tapi aku ingin kamu lakukan sesuatu."


Mendadak aku teringat sama lukisan yang diberikan Ngurah Andika. Bukankah aku dilukis dalam pakaian serba putih? Jangan-jangan itu ada hubungannya dengan laki-laki tua itu. Maka kutelepon Ngurah Andika. Kuceritakan padanya apa yang kualami dan kukatakan padanya mengenai kecurigaanku pada lukisan itu.


"Itu cuma lukisan biasa, Luh," katanya sambil tertawa. "Boleh-boleh saja curiga, tapi jangan-jangan kecurigaan itu sendiri justru yang menghadirkan mimpi itu. Bukankah mimpi tercipta dari pikiran-pikiran bawah sadar yang bangkit pada saat sedang tidur?"


"Tapi saya mengalaminya setiap hari, sejak lukisan itu saya pasang."


"Kalau yakin itu penyebabnya, singkirkan saja. Nggak masalah buat saya."


Aku tidak mengerti pertanda apa sebenarnya mimpi itu. Namun aku tidak berhenti untuk mencari tahu. Ketika menginap di Denpasar aku minta izin pada Kapten agar diperbolehkan tidur di rumah.


Kepada Ibu kemudian kuceritakan apa yang kualami. Seperti yang kuduga Ibu cepat tanggap. Malam itu juga ia membawaku ke rumah seorang wanita pintar. Ibu Suci, begitu orang-orang memanggilnya. "Ia satu-satunya paranormal wanita di sini, yang kian banyak saja kliennya," kata Ibu menjelaskan. "Kalau tak datang lebih awal, kita bisa menunggu sampai tengah malam."


Begitu memasuki ruangan tempatnya melayani para pasien, aku merasa sangat nyaman. Vibrasinya benar-benar terasa sejuk. Kesannya jauh beda dibandingkan dengan tempat paranormal umumnya yang pernah kukunjungi. Di sini, kesan magis hampir tak kurasakan. Mungkin karena tak ada asap dupa mengepul, juga tak ada tumpukan sesaji sebagaimana yang kubayangkan sebelumnya.


"Apa yang bisa saya bantu?" ia menyambutku dengan suara lembut setelah kami duduk di hadapannya. Tetapi kulihat matanya menukik penuh selidik ke wajahku.


Ibu segera menuturkan masalah yang kualami. Dan tanpa basa-basi dia lantas mengangkat kedua tangannya sejajar perut. Yang kanan bergerak naik-turun dan yang kiri bergoyang-goyang membentuk lingkaran kecil. Aku memperhatikannya dengan serius, sepertinya dia menggunakan kedua tangannya sebagai media untuk mendeteksi segala sesuatu yang ingin ia ketahui.


"Kamu sehat-sehat saja, Nak," kudengar suaranya pelan. "Tak ada tanda-tanda menderita suatu penyakit. Tentang mimpi itu, seharusnya kamu tak perlu kuatir. Apa kamu tidak mengenalinya?"


Aku menggelengkan kepala tak habis pikir.


"Ia kakekmu."


"Kakeknya?" Ibu menyela cepat. "Pantas saja dia tidak tahu. Dia masih kecil ketika mertua saya itu meninggal."


Ibu Suciani manggut-manggut membenarkan setelah kembali menggerak-gerakkan tangannya. "Ia hanya ingin mengingatkanmu."


“Mengingatkan apa?”


“Mengingatkanmu akan panggilan leluhur.”


“Menjalani hidup seperti yang pernah ia jalani.”


"Menjadi balian?" sambar Ibu tak sabar.


"Dia bahkan akan lebih hebat dari kakeknya."


"Tak mungkin! Itu tak mungkin," sergahku.


"Saya tak tahu apa-apa, tak punya kemampuan macam begitu."


"Kelak akan tiba saatnya. Tak lama lagi menurut penglihatan saya. Kamu akan mengalami pemurnian diri seketika karena suatu hal yang tak kamu pahami."


Kurasa tak ada gunanya mempercayai omong kosong seperti itu. Hanya buang-buang waktu saja. Maka aku dan Ibu segera minta diri dengan perasaan tidak puas.


"Ibu Suciani aneh ya, Me?" kataku begitu kami sampai di rumah.


"Aneh bagaimana?" sahut Ibu.


"Meme tidak perhatikan tadi bagaimana caranya memandang Luh?"


Ibu menggeleng tanpa menggeser tatapannya dari wajahku.


"Sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan tentang diri Luh."


"Ah, itu cuma perasaan Luh saja."


***


Bumi terus berputar mengelilingi matahari, mengganti hari dengan bulan dan bulan dengan tahun. Aku terus bekerja sesuai dengan jadwal, tak kenal libur pada hari Minggu atau hari raya. Entah mengapa mimpi itu tak pernah datang lagi. Sampai kemudian kualami peristiwa itu. Aku terpeleset ketika menuruni anak tangga pesawat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Begitu cepat kejadian itu berlangsung. Aku tak tahu kenapa aku bisa terpeleset dan terguling-guling sampai ke landasan. Hal terakhir yang masih sempat kuingat adalah jarak antara bumi dan langit tampak semakin sempit dan akhirnya menyatu menciptakan kegelapan.


Begitu membuka mata, kudapati diriku terbaring di ruangan yang menyebarkan aroma obat-obatan, yang membuatku segera mengerti di mana aku berada: rumah sakit. Aku merasa ada yang aneh. Ketika kutatap mata paramedis yang berdiri paling dekat denganku, kulihat ada sesuatu bergerak di situ, seperti tayangan televisi saja layaknya. Mula-mula kulihat pesta pernikahan di mana paramedis itu tampak bahagia dengan pasangannya. Namun tak lama kemudian kulihat suasana yang jauh berbeda di mana paramedis itu tampak menangis sedih.


"Kenapa Suster menangis?" tanyaku digelitik rasa ingin tahu yang besar. "Suster sudah menikah, bukan?"


Suster tampak kaget dan memandangku dengan cara yang aneh. Aku tak tahu kenapa dia harus bersikap begitu. Apakah karena dia pikir aku bicara ngawur? Aku jadi tak habis pikir. Kecurigaan mulai merambat ke benakku. Kenapa aku tiba-tiba jadi begini? Jangan-jangan aku sedang memasuki proses untuk menjadi gila. Rasa takut kini menyergapku. Jangan-jangan otakku sudah tak beres lagi karena terbentur tangga pesawat atau landasan bandara.


Seorang laki-laki setengah baya kemudian memasuki ruangan dan mendekat. Melihat stetoskop tergelantung di lehernya, kuyakin ia seorang dokter. Ia mengenakan kacamata minus, sehingga tak menghalangiku buat menatap lurus ke matanya. Aneh! Aku juga melihat sesuatu berkelebat di sana.


"Cantik sekali dia, rambutnya panjang. Kasihan, ia ditabrak mobil ketika menyeberang jalan. Dokter lalu merangkul dan menangisinya."


Dokter yang hendak memeriksaku terhenyak seketika. Ia menatapku dengan seksama. Kulihat ia begitu gugup. Merasa sia-sia menyembunyikan kekagetannya, akhirnya ia berucap, "Apa yang kamu bilang tadi?"


"Ia ditabrak mobil ketika menyeberang jalan. Apakah ia istri Dokter?"


Dokter tertegun, namun kemudian ia tampak berusaha menenangkan diri seakan apa yang tengah dihadapinya bukanlah sesuatu yang asing baginya.


"Kenapa kamu pikir dia istri saya?"


"Karena ia semobil dengan Dokter sebelum menyeberang jalan."


"Bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Saya melihatnya di mata Dokter."


Dokter tampak tegang memandangku. "Siapa sebenarnya kamu?"


Kebimbangan hinggap di kepalaku kini, membuatku langsung bungkam. Siapakah aku? Apa saja yang telah kuucapkan tadi? Jangan-jangan omongan yang keluar dari mulutku terdengar aneh dan tidak masuk akal. Pasti sudah gila aku ini.


"Dokter," kataku kemudian dengan suara serak. "Apakah Dokter pikir saya tidak waras?


Kulihat Dokter menggeleng pelan.


"Jangan bohongi saya, Dokter," aku mulai terisak.


"Tidak. kamu baik-baik saja. Orang yang tidak waras tak mungkin berpikir dan bicara seperti kamu. Cuma saya tak habis pikir bagaimana kamu bisa tahu mengenai masa lalu saya?"


"Saya sendiri tak mengerti, Dokter. Saya tak pernah mengalami ini sebelumnya. Semuanya saya lihat di mata Dokter, seperti tayangan sebuah film."