Back To Bali

Back To Bali
Episode 7



Kuguyur tubuh dengan bergayung-gayung air. Segar sekali rasanya, mengundang bibirku untuk bersenandung ria, tak peduli entah lagu apa yang kusenandungkan. Mungkin lagu tanpa judul. Ingin rasanya aku berlama-lama di kamar mandi, tetapi belum lagi aku selesai menyabuni seluruh tubuh tiba-tiba ada yang menggedor pintu. Sialan! Ini pasti ulah Kadek, adik laki-lakiku.


"Sabar dikit kenapa, sih?" teriakku kesal.


"Nggak bisa, aku lagi kebelet nih," terdengar sahutan dari luar, suara perempuan.


"Siapa sih?" buru-buru kusiram lagi tubuhku dengan guyuran-guyuran besar lantas kusambar handuk secepat kilat kemudian kulilitkan di tubuh sebelum membuka pintu.


"Siang-siang begini mandi. Memangnya mau ke mana?" sambar orang yang berdiri di depan pintu.


"Ah, kamu rupanya, Ren. Senang amat ngerjain orang," gerutuku. "Saya baru pulang dari pasar."


"Jualan canang sari?"


Aku mengangguk. "Sudah dua hari."


"Capai ya? Tapi, jangan kuatir, tak lama lagi hidupmu akan berubah. Lihat, apa yang kubawa ini?" Reni memperlihatkan sebuah amplop di depan hidungku.


"Wow, surat panggilan?" aku hampir berteriak menyambutnya, tapi kemudian buru-buru Reni kuberi isyarat agar merahasiakan.


Ia mafhum. Tentu saja, sebab dia bukan hanya sekadar teman kuliah bagiku, tetapi sudah seperti saudara. Bukan hanya aku yang merasakan begitu, teman-teman di kampus juga punya penilaian serupa. Karena itulah maka aku tak sungkan mengajaknya masuk ke dapur buat ikut menikmati masakan Ibu. Kami lebih suka menyebutnya makan di dapur sebab antara ruang makan dan ruang dapur tidak terdapat sekat pemisah.


"Aku jadi bingung, Ren," keluhku setelah kerongkonganku tersiram seteguk air putih.


"Aneh, dapat panggilan test kok malah bingung. Kenapa?"


"Kamu kan tahu, Ibu ingin aku jadi sarjana."


"Memangnya kamu sendiri tak ingin?" Reni malah menggodaku.


"Maksudku, jika nanti aku diterima, kuliah tentu harus kutinggalkan. Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku tak ingin ia kecewa."


"Kupikir ia tidak akan kecewa jika kamu gagal jadi sarjana asalkan kamu berhasil dapat pekerjaan seperti yang diharapkannya: dapat gaji yang bagus sehingga kamu bisa membiayai sekolah adikmu."


"Masalahnya, apa Ibu setuju aku jadi pramugari? Kamu tahu kan, kalau aku tak pernah bilang padanya?"


"Santai aja, Luh," Reni berusaha meredam kegundahanku. "Tak usah berpikir terlalu jauh dulu. Test saja belum, lulus juga belum tentu."


"Ngomong-ngomong yang ditest apa saja sih?"


"Nah, betul kan, apa yang ditest saja belum tahu tapi sudah mimpi."


"Sialan! Kamu bikin aku malu."


Kuakui Reni bukan saja lebih pintar tetapi juga lebih lincah. Lebih gesit dalam mendapatkan informasi. Tak ubahnya seorang detektif, ia tak segan-segan menemui caraka dari kantor Rajawali Air agar bisa mengorek informasi yang komplet mengenai perusahaan penerbangan nasional itu. Ia berusaha mencari tahu kepada siapa ia harus berhubungan agar tak terhadang calo yang suka beroperasi secara diam-diam.


"Kamu tahu nggak, Luh," katanya. "Menurutku hanya ada satu hal lagi yang kamu perlukan saat ini."


"Apa itu?"


"Keyakinan," katanya serius seolah-olah selama ini aku alpa akan hal yang satu ini. "Kalau yang satu ini sudah kamu miliki, pekerjaan itu sudah dalam genggaman."


"Apa iya, Nona motivator?” candaku.


"Lihatlah dirimu. Apa kamu pikir dirimu jelek?" Reni menggelengkan kepala dan meneruskan, "Tentu saja tidak. Siapa pun tahu, kamu salah satu dari sekian mahasiswi yang paling menarik di kampus kita. Alismu sudah begitu bagus tanpa dipermak. Lekuk bibirmu mengingatkanku pada bibir sensual Farrah Fawcett, serasi benar dengan hidungmu yang …."


"Huss, jangan ngaco, ah! Kayak kurang kerjaan aja."


"Sst, jangan potong bicaraku. Aku lagi membahas tentang kemungkinanmu," suaranya dimantap-mantapkan. "Tidak usah kuatir, kamu pasti lulus untuk test yang satu ini. Dan untuk bahasa Inggris, harap diingat baik-baik. Aku tak akan mau lagi bersahabat denganmu jika kamu sampai tidak lulus. Malu dong, masak mahasiswi sastra Inggris tak lulus test bahasa Inggris. Nggak lucu, kan? Hahaha..."


Reni memang kocak. Ia tak jarang menyelipkan humor pada saat bicara soal yang serius. Justru itulah salah satu daya tariknya, walaupun secara jujur pernah ia katakan padaku bahwa dari segi wajah aku memang memiliki nilai di atas dia. Dan secara jujur pula kuakui bahwa temanku yang bermata sipit dan punya kulit kuning langsat ini punya kelebihan lain yang tak dapat kutandingi, yakni kecerdasan intelegensia dan juga kecerdasan emosional.


Itulah sebabnya mengapa ia selalu bisa diterima di mana pun ia menempatkan diri. Dalam kelompok diskusi, tak usah diragukan, ia pasti menjadi bintang. Ia begitu piawai memainkan kata-kata dan selalu punya gagasan yang segar sehingga anggota kelompok diskusi jadi sangat menaruh minat.


***


Detak jantungku benar-benar tak terkendali manakala namaku dipanggil. Siapa sih yang tidak grogi menghadapi saat-saat seperti ini? Kutarik napas dalam-dalam sebelum melangkah menuju ruang di mana aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan penguji. Aku berusaha mencamkan kata-kata Reni mengenai keyakinan. Kupompakan berulangkali kata-kata itu pada diriku. Aku harus berhasil! Peluang ini harus dapat kuraih, karena inilah kesempatan emas yang pernah kumiliki dalam hidupku. Maka setiap elahan napas kuisi dengan doa.


Akhirnya aku bersyukur karena berhasil melewati saat-saat yang cukup menegangkan tanpa banyak kesulitan. Memang harus malu jika aku sampai tidak lulus test bahasa Inggris. Apalagi pertanyaan yang diberikan penguji hanya berkisar pada identitas diri, sekelumit pengalaman, keluarga dan semacamnya. Memang ada yang tidak bisa kujawab, yakni nama-nama bandara di beberapa kota di Indonesia, tetapi sang penguji tampaknya maklum.


"Rambut kamu bagus," kudengar kemudian ia memuji rambutku yang panjang dan lebat. "Tak menyesal kalau nanti dipotong?"


"Begitu ya?" bibir wanita setengah baya itu menyunggingkan senyum.


Setelah mengantongi surat pengantar untuk pemeriksaan telinga pada sebuah rumah sakit yang ditunjuk, dengan langkah ringan kemudian kutinggalkan ruang test. Di luar, Reni meyambutku dengan senyum lebar dan pelukan hangat.


"Tak ada kesulitan, kan?" katanya begitu yakin kalau aku dapat mengatasi semuanya dengan baik.


"Sialan, aku tak hafal semua bandara di Indonesia," gerutuku.


"Sama. Tapi, yang penting kamu dapat ini juga, kan?" ia memamerkan surat pengantar seperti yang kudapat.


Kegembiraan kami jadi lengkap manakala mengetahui hasil pemeriksaan. Baik aku maupun Reni tak punya kelainan pada telinga alias sehat-sehat saja. Ini berarti kami harus siap berangkat ke Jakarta untuk digembleng di pusat pendidikan dan pelatihan.


Namun tak mudah bagiku menyampaikan berita ini kepada Ibu. Aku jadi tak bisa tidur memikirkannya. Tak pernah aku merasa begitu risau seperti saat ini. Tak bisa kubayangkan bagaimana marahnya Ibu kalau tahu dirinya kubohongi selama ini. Ada penyesalan tiba-tiba menyergap diriku. Sekecil apa pun kebohongan yang kulakukan terhadap Ibu rasanya terlalu besar untuk dapat dimaafkan. Sebaik apa pun alasan yang ada di baliknya, kebohongan tetaplah tabu untuk dilakukan terhadap orang yang amat kucintai. Ibu adalah cermin diriku.


Membohonginya sama saja dengan menipu diriku sendiri.


Di luar dugaan, Ibu ternyata sangat senang mendengar beritaku dan turut bersyukur karena aku telah memperoleh kesempatan yang sangat bagus untuk berjuang demi masa depan.


"Kalau Luh sudah dapat pekerjaan yang bagus, buat apa merisaukan gelar segala? Bukankah orang mengejar gelar karena ingin mendapatkan pekerjaan yang bagus?" kilah Ibu.


Lain Ibu lain Mardawa. Masalah justru datang dari calon arsitek ini. Entah dari mana ia tahu kalau aku akan segera berangkat ke Jakarta padahal aku belum mengatakan apa-apa padanya mengenai semua ini. Ia tiba-tiba muncul dengan wajah berkerut.


"Kenapa pramugari?" ujarnya tak senang ketika datang malam-malam. "Apa tak ada pekerjaan yang lebih baik? Pikirkan baik-baik. Apa akan Luh tinggalkan begitu saja kuliah yang tak lama lagi akan rampung? Ingat, Ibu sangat mengharapkan Luh jadi sarjana."


Aku terperangah. Bukan karena ia tidak setuju aku meninggalkan bangku kuliah, tetapi pada kalimatnya yang bernada miring terhadap profesi pramugari. Sama sekali tak kusangka kalau ia punya pandangan sepicik itu. Rasa bimbang seketika menyergap diriku, juga amarah. Aku marah pada diriku sendiri yang tidak siap mengantisipasi kenyataan yang harus kuhadapi. Labih dari itu aku sama sekali tak siap mendebatnya. Yang dapat kulakukan hanya menangis dan kuminta ia membiarkan aku sendiri agar bisa memikirkan kembali apa yang telah kuputuskan.


Ingin aku berbagi dengan Reni mengenai hal ini, tetapi begitu ketemu dia di kampus, mulutku seperti terkunci. Entah mengapa, namun aku yakin ia pasti sudah menangkap kegelisahanku sehingga kemudian menyindir.


"Ibu sudah sehat, apa kali ini mau pulang buru-buru juga?"


Aku menggeleng dan memandangnya tanpa ekspresi. Tanpa kata-kata.


"Tak apa-apa, kan, kalau kita makan bakso dulu?"


Tanpa menyahut kuikuti dia melangkah menuju "Pojok Rasa" yang ada di seberang kampus.


"Well, biasanya kamu ngomong kalau ada masalah," ujar Reni kemudian setelah menulis pesanan. "Apa ini termasuk yang tak boleh kutahu?"


"Sama sekali tidak," aku menggeleng.


"Sebenarnya sudah sejak tadi aku mau ngomong, tapi kok sulit sekali. Ini soal keberangkatanku."


"Ada masalah apa?"


"Mardawa," jawabku. "Ia tak setuju aku jadi pramugari."


"Alasannya?"


"Dia menganggap pekerjaan itu tak baik buatku."


"Tak baik dipandang dari sudut mana?"


Pelayan datang mengantarkan dua mangkok bakso.


"Mestinya kamu undang dia ke sini dan ajak makan bakso, atau ke mana saja dan kalian bisa diskusikan semuanya dengan kepala dingin. Betul begitu, Man?"


Pelayan yang tidak mengerti persoalan jadi terperangah. "Apanya, Mbak?"


"Wah, nggak dengar ya? Saya bilang bakso Nyoman makin lama makin kecil saja."


"Apa iya?" si pelayan melongo sejenak, dan begitu sadar bahwa dirinya sedang diolok-olok ia lantas cepat berlalu sambil tersipu. Tak bisa tidak aku jadi tersenyum dibuatnya.


"Nah, begitu dong. Senyum, biar seleraku tak hilang," seloroh Reni.


"Ah, kamu ada-ada saja."


Reni memang teman paling baik yang pernah kumiliki. Ia selalu menaruh perhatian akan apa saja yang kualami. Seperti yang sudah-sudah ia lantas menawarkan solusi.